Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31925 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Setiaji, Rahmandhita Rahma; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Mury Kuswari,
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang bertujuan untuk menilai pengaruh pemberian makanan sebelum latihan dengan indeks glikemik berbeda terhadap peningkatan laktat sebagai indikator kelelahan atlet. Data yang dikumpulkan meliputi karateristik responden berdasarkan data demografi (umur), antropometri (berat badan, tinggi badan, IMT, persen lemak tubuh), asupan makan, aktivitas fisik, dan kadar laktat darah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan jenis studi repeated measures design yang melibatkan 1 kelompok subjek berisi 7 orang. Pada perlakuan tahap 1 responden diberikan makanan dengan indeks glikemik rendah 90 menit sebelum latihan, setelah itu ada masa wash out 1 minggu, kemudian tahap kedua diberikan makanan indeks glikemik tinggi 90 menit sebelum latihan. Sebelum makan, 90 menit sesudah makan, dan setelah latihan diukur kadar laktatnya. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara peningkatan kadar laktat pada perlakuan 1 maupun 2 (p> 0,05), namun terdapat kecenderungan peningkatan laktat pada perlakuan 1 cenderung lebih kecil daripada peningkatan laktat pada perlakuan 2. Makanan dengan indeks glikemik rendah dapat dijadikan pilihan sebelum latihan karena terdapat kecenderungan peningkatan laktat menjadi lebih kecil. Diperlukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui efek dari indeks glikemik berbeda yang dapat menunjukan adanya perbedaan bermakna. Kata kunci : Kelelahan, kadar laktat, indeks glikemik, atlet, repeated measures design This research, an experimental study aims to identify the effect of pre-exercise meal that contain a different kind of glycemic index toward the blood lactate level as an indicator of fatigue in athlete. The data collected were age, anthropomethry (weight, height, body mass index, percentage of fat), food intake, physical activity, and blood lactate level. This research using repeated mesuares design involving 1 group of 7 male subject who received two different intervention. In the first stage of intervension respondents were given food with a low glycemic index 90 minutes before exercise, then there was a wash out period in one week, after that in the second stage of intervention respondents were given a high glycemic index food 90 minutes before exercise. There was no significant difference between lactate elevated levels in treatment 1 and 2 (p> 0.05), but there was a tendency that increasement of lactate in treatment 1 to be less than lactate increase in treatment 2. Foods with low glycemic index could be used before exercise because there was a tendency to increase lactate level be smaller than intervention 2. Further research is needed to investigate the effects of different glycemic indexes that may indicate significant differences. Keywords : Fatigue, blood lactate level, glycemic index, athlete, repeated measures design
Read More
S-9514
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rahmah Fitrianti; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Asih Setiarini, Zainal Abidin
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas konsumsi sari kedelai terhadap pemulihan atlet dayung nasional. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental. Responden yang terlibat dalam penelitian ini merupakan 14 orang atlet dayung nasional pria yang berusia 21 ndash; 30 tahun. Seluruh responden dikelompokkan berdasarkan kelompok perlakuan dan kontrol. Responden kelompok perlakuan diberikan minuman pemulihan berupa sari kedelai dengan rasio kandungan karbohidrat dan protein senilai 4,2:1 setelah melakukan latihan endurance, sedangkan kelompok kontrol tidak. Sari kedelai diberikan dalam jumlah 1000 ml. Indikator pemulihan yang diukur adalah kreatin kinase darah dalam satuan U/L terkait dengan pemulihan otot , pada waktu sebelum, setelah, dan 5 jam setelah latihan. Hasil yang didapatkan yaitu, adanya peningkatan kadar kreatin kinase darah kelompok perlakuan 42,29 U/L dan kontrol 64,83 U/L dari pemeriksaan sebelum hingga 5 jam setelah latihan. Meskipun peningkatan kadar kreatin kinase darah pada kelompok perlakuan lebih rendah daripada kontrol, namun perbedaan tersebut tidak bermakna P value > 0,05 . Kesimpulannya adalah efektivitas konsumsi sari kedelai terhadap pemulihan otot pada atlet dayung nasional tidak bermakna secara statistik, namun cenderung berpotensi dalam menurunkan peningkatan kadar kreatin kinase darah setelah latihan.
 

 
ABSTRACT
 
 
This study aims to assess the effectiveness of soy milk in national kayak canoeing athlete rsquo s recovery. Design of this study used quasi experimental. Respondents involved in this study were 14 national kayak canoeing athletes, which aged 21 ndash 30 years. All respondents were grouped by treatment and control group. The treatment group were given recovery beverage in the form of soy milk with ratio of carbohydrate and protein equal as 4,2 1 after endurance exercise, while control group were not. Soy milk was given in 1000 ml. Recovery indicator that measured was blood creatine kinase in U L related to muscle recovery at the time before, after, and 5 hours after exercise. The result showed that there was an increase of creatine kinase level in treatment group 42,29 U L and control 64,83 U L from before exercise examination, up to 5 hours after exercise. Although the elevated blood creatine kinase level in treatment group were lower than the control, they were not significant P value 0,05 . To conclude, effectiveness of soy milk consumption in national kayak canoeing athlete 39 s muscle recovery is not statistically significant, however it tends to be potentially decreases the elevated blood creatine kinase levels after exercise.
Read More
S-9471
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Hisbullah Amrie; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusdianar Achmad, Zaenal Abidin
Abstrak: Kadar laktat darah, yang menjadi indicator kelelahan, akan meningkat pada atlet setelah menjalani latihan apa pun cabang olahraganya. Peningkatan kadar laktat darah akan menyebabkan penurunan performa atlet pada latihan berikutnya atau pun dalam pertandingan. Skripsi ini membahas pengaruh pemberian minuman berkarbohidrat dan berelektrolit terhadap kadar laktat darah pada atlet dayung nasional laki-laki tahun 2013.
 
Desain studi eksperimental pretest-posttest control group design melibatkan 28 atlet dayung nasional laki-laki tahun 2013 yang dibedakan mejadi dua kelompok dengan metode randomisasi (random assignment). Minuman yang diberikan adalah minuman berkarbohidrat dan berelektrolit 6% yang diberikan pada kelompok perlakuan dan minuman berkarbohidrat dan berelektrolit 3% yang diberikan pada kelompok kontrol sebanyak satu liter dengan pemberian 500 ml segera setelah latihan dayung air selesai dan berselang 20 menit setelahnya.
 
Kadar laktat darah diukur dengan alat Lactate Scout ® saat sebelum latihan, setelah latihan, dan 30 menit setelah perlakuan. Terdapat perbedaan bermakna (nilai p < 0.05) terhadap kadar laktat darah setelah perlakuan antara kelompok kontrol (7.11 ± 1.57 mmol/L) dan kelompok perlakuan (5.99 ± 0.94 mmol/L) yang menunjukkan pemberian minuman 6% menurunkan kadar laktat darah lebih besar dibanding minuman 3%. Pemberian minuman berkarbohidrat dan berelektrolit memberikan efek positif dalam menurunkan kadar laktat darah sebagai indicator kelelahan pada jangka pendek.
 

Blood lactate level is the fatigue indicator which will be increasing after exercise in any kind of sport. Increased blood lactate will cause lack of performance in the next exercise or even in competition. This thesis investigated the effect of carbohydrate-electrolyte beverage to blood lactate level in national kayak-canoeing athlete 2013.
 
Pretest-posttest control group design lead 28 male kayak-canoeing athletes into 2 groups which were experiment group and control group by random assignment. The experiment group would consume 6% carbohydrate-electrolyte beverage whereas the control group would consume 3% carbohydrate-electrolyte beverage as follows; 500 ml was consumed exact after finishing water paddling exercise and 20 minutes later 500 ml was consumed.
 
Blood lactate level was measured by Lactate Scout ® before exercise, after exercise, and 30 minutes after last 500 ml beverage was consumed. There was significant difference (p value < 0.05) of after experiment blood lactate level between control group (7.11 ± 1.57 mmol/L) and experiment group (5.99 ± 0.94 mmol/L) which presented the 6% beverage decreased more blood lactate level than the 3% beverage. Carbohydrate-electrolyte beverage had a positive effect to decrease acute blood lactate level as fatigue indicator.
Read More
S-7785
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alexandra Tatgyana Suatan; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Zainal Abidin
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai efek suplementasi BCAA terhadap nilai VO2max pada atlet dayung rowing nasional tahun 2014. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini adalah praeksperimental dengan melibatkan 17 atlet dayung rowing nasional, yang terbagi menjadi 9 atlet dan 8 atlet wanita tahun 2014. Seluruh atlet yang bersedia menjadi responden dan telah dipilah berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dikelompokkan hanya ke dalam satu kelompok yang sama, yaitu kelompok perlakuan. Suplemen yang diberikan adalah suplemen BCAA (brancedchain amino acid). Suplemen diberikan setiap pagi pukul 07.00 WIB dengan dosis 4 kapsul untuk pria dan 3 kapsul untuk wanita dalam satu kali minum. Nilai VO2max atlet diukur dengan menggunakan rowing ergometer pada saat perlakuan belum diberikan, yaitu pada bulan Maret 2014.
 
 
Setelah perlakuan selama 1 bulan, nilai VO2max atlet kembali diukur, yaitu pada bulan April 2014. Terdapat perbedaan bermakna antara nilai VO2max sebelum perlakuan (63,05&lusmn;2,22 ml/kg/menit) dan nilai VO2max setelah perlakuan (54,90&lusmn;3,54 ml/kg/menit) pada atlet pria, sedangkan pada atlet wanita tidak terlihat perbedaan yang bermakna. Perbedaan yang bermakna pada nilai VO2max atlet pria menunjukkan hasil yang negatif karena terjadi penurunan nilai VO2max setelah diberikan perlakuan berupa suplemen BCAA.
 

 
This thesis is discussing about the effect of BCAA supplementation to VO2max value in national rowing athlete, 2014. The study was a quantitive study with preexperimental design conducted in 17 national rowing athletes, nine male athletes and eight female athletes. All athletes have been sorted by inclusion and exclusion criteria then be grouped into only one group, the experimental group. The supplementation was given every morning at 07.00 WIB at dose 4 capsules for men and 3 capsules for women. The VO2max value of the athletes were measured twice, that is before intervention and after intervention.
 
 
The interval of measurement was a month. First measurement (before intervention) be held on March, 2014. The last measurement (after intervention) be held on April 2014. The result was there is a significant association between men's VO2max value before intervention (63,05&lusmn;2,22 ml/kg/min) and VO2max value after intervention (54,90&lusmn;3,54 ml/kg/min), whereas there is no significant assciation between women's VO2max value before intervention and after intervention. The significant difference on men's VO2max value shows a negative result because there was a VO2max value reduction.
Read More
S-8515
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
FAnna itriani; Pembimnbing: Asih Setiarini; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Fatmah Yusron, Zainal Abidin, Indrarti Soekotjo
T-4393
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitria; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusdinar Achmad, Diah Mulyawati Utari, Eny Riangwati Tanzil, Zaenal Abidin
Abstrak:
Latihan panjang akan menguras glikogen otot dan merusak jaringan otot.Peningkatan kadar ureum dan kreatin kinase darah dapat menyebabkan penurunanperforma pada latihan atau pertandingan berikutnya. Tesis ini membahaspengaruh pemberian minuman elektrolit berkarbohidrat terhadap kadar ureumdarah, kreatin kinase darah, dan performa. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimental murni, bersifat single blind dengan rancangan silang pada 10 atletdayung rowing nasional laki-laki di Pelatnas Dayung Pengalengan tahun 2015.Minuman yang diberikan adalah minuman elektrolit dengan jumlah karbohidratsebanyak 1 gr/kgBB pada kelompok perlakuan dan 0,35 gr/kgBB pada kelompokkontrol. Minuman tersebut diberikan segera setelah latihan dan dua jamberikutnya. Pengambilan sampel darah vena dilakukan untuk mengukurpenurunan kadar ureum dan kreatin kinase darah sebelum dan setelah pemberianminuman masing-masing dengan alat COBAS C111 dan Advia 1650/1800. Hasilanalisis membuktikan bahwa penurunan kadar ureum dan kreatin kinase darahlebih tinggi pada kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa minumanelektrolit berkarbohidrat sebanyak 1 gr/kgBB efektif untuk memulihkan kembalisimpanan glikogen otot dan menurunkan kerusakan jaringan otot.Kata kunci: karbohidrat, ureum, kreatin kinase, performa

Long lasting exercise will deplete muscle glycogen and muscle tissuedamage. Increased levels of blood urea and creatine kinase can cause a decrease inperformance at the next exercise or competition. This thesis discusses the effect ofcarbohydrate electrolyte drinks on blood urea levels, blood creatine kinase levels,and performance. This is true experimental study, single blind cross over design in10 rowing men athletes in the National Training Centre Pengalengan 2015.Beverages provided are electrolyte drinks with the amount of carbohydrates asmuch as 1 g/kg body weight in the treatment group and 0,35 g/kg body weight inthe control group. Beverages given immediately after the workout and the nexttwo hours. Venous blood sample was collected to measure the reduction of bloodurea and creatine kinase level before and after drinking beverages using COBASC111 and Advia 1650/1800 respectively. The result show that the reduction ofblood urea and creatine kinase levels is greater in the treatment group. It suggeststhat beverages contain 1 gr/kg body weight carbohydrate is effective to restoremuscle glycogen stores and decrease muscle tissue damage.Keywords : carbohydrates, blood urea, blood creatine kinase
Read More
T-4327
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rodlia; Pembimbing: Trini SUdiarti; Penguji: Diah Mulyawati, Kusharisupeni, Kusindrati Sudibyo, Suharyati
T-4247
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Giacinta Archangela Alexandra; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Fajrinayanti
Abstrak:
Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa kritis dan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Asupan gizi yang tidak optimal pada masa ini dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting. Pemberian MPASI sumber protein hewani perlu diperhatikan karena mengandung asam amino esensial dan mikronutrien dalam jumlah yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemberian MPASI sumber protein hewani dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MPASI sumber protein hewani di Jawa Barat pada tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan sampel sebanyak 463 ibu yang memiliki bayi berusia 6-23 bulan di Jawa Barat. Analisis data dilakukan menggunakan seperangkat komputer. Berdasarkan hasil analisis data, 73% atau 338 bayi mendapatkan MPASI sumber protein hewani. Pekerjaan ibu [OR = 0,624; 95% CI: 0,402-0,971], tingkat pendidikan [OR = 2,45; 95% CI: 1,172-5,126], status ekonomi [OR = 2,3], konsultasi antenatal care [OR = 1,822; 95% CI: 1,045-3,177], jenis kelamin anak [OR = 0,623; 95% CI: 0,410-0,948 ], usia anak [OR = 4,528; 95% CI: 2,929-7,001] berpengaruh signifikan terhadap pemberian MPASI sumber protein hewani. Usia anak merupakan faktor dominan pemberian MPASI sumber protein hewani. Peneliti menyarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai MPASI sumber protein hewani dengan mempertimbangkan aspek lain.

The First Thousand Days of Life is a critical and important period for a child's growth and development. Suboptimal nutritional intake during this period can increase the risk of stunting. The provision of complementary feeding with animal-sourced protein needs to be considered as they contain essential amino acids and high amounts of micronutrients. The aim of this study was to determine the overview of complementary feeding with animal-sourced protein and the factors associated with its provision in West Java in 2017. The research design used was cross-sectional with a sample of 463 mothers who had infants aged 6-23 months in West Java. Data analysis was performed using a computer software package. Based on the results of data analysis, a total of 73% or 338 infants received complementary feeding with animal protein sources. Maternal occupation [OR = 0.624; 95% CI: 0.402-0.971], educational level [OR = 2.45; 95% CI: 1.172-5.126], economic status [OR = 2.3], antenatal care consultation [OR = 1.822; 95% CI: 1.045-3.177], child's gender [OR = 0.623; 95% CI: 0.410-0.948], and child's age [OR = 4.528; 95% CI: 2.929-7.001] significantly influenced the provision of animal-sourced protein complementary food. Child's age was found to be the dominant factor in the provision of animal-sourced protein complementary food. Further research on animal-sourced protein complementary food considering other aspects is recommended by the researcher.
Read More
S-11316
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rayhan Amer Imran; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Fathimah S. Sigit, Mury Kuswari
S-11810
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desy Megawaty; Pembimbing: Yvonne M. Indrawani; Penguji: Triyanti, Asih Setiarini, Ida Ruslita Amir, Iip Syaiful
Abstrak:

Masalah gizi timbul akibat texjadinya kctidakseimbangan energi yang dikonsumsi (asupan) dengan energi yang dikeluarkan (kebutuhan). Masalah kelcurangan dan kelebihan gizi yang 16118415 pada orang dewasa (usia lcbih dad 18 tahun) merupakan masalah penting. Selain mempcngaruhi produktivitas ke1ja juga memiliki risiko terhadap penyakit-penyakit tertentu. Makanan yang dikonsumsi setiap orang akan terefleksi pada status gizi dan hal ini dapat diketahui melalui pengukuran IMT. Dari hasil penelitian di beberapa negara diketahui bahwa proporsi vegetarian yang mengalami masalah gizi lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak vegetarian Di Indonesia khususnya kota Jambi penelitian Indeks Massa Tubuh pada vegetarian dewasa belum pemah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya gambaran umum maupun faktor-faktor yang berhubungan dengan IMT pada vegetarian dcwasa dj Pusdiklat Budhis Putra Maitreya dan Avaloketasvara kota Jambi. Penelitian dengan desain cross seciional ini dilaksanakan pada bulan Januari-Febmari tahun 2008 dengan sampel 51 orang vegetarian dewasa. Untuk mengetahui gambaran umum karaktezistik, asupan energi, konsumsi suplemen, tipe vegetarian, lama menjadi vegetarian di kota Jambi, persentase status gizi kurang, baik, lebih berdasarkan IMT, dan hubungan antara karakteristik responden (usia, jenis kelamin, status perkawinan, stains pekexjaan, pendidikan) dengan IMT, hubungan antara asupan energi dengan IMT, hubungan amara lama menjadi vegetarian dengan IMT, hubungan antara pengetahuan gizi dengan IMT, hubungan status kesehatan dengan IMT pada vegetarian dewasa di pusdiklat Pulra Maitreya dan Avaloketasvara kota Jambi maka dilakukan pengumpulan data dengan wawancara dan pengukuran terhadap berat badan dan tinggi badan. Kemudian data dianalisa melalui tahapan analisis univariat, bivariai dan multivariat. Dari hasil analisis bivariai diketahui bahwa ada hubungan antara jcnis kelamin (OR = 0,3l3), status perkawinan (OR = 0,42l) dan asupan energi (OR = 6,5). Setelah dilakukan analisis multivariat, maka variabel yang berhubungan dengan indeks massa tubuh adalah asupan en¢1'8i setelah dikontrol status perkawinan dan status pcrkawinan setelah dikontnol asupan energi. Variabel paling dominan yang berhubungan dengan IMT adalah asupan energi dengan OR = 8,915. Vegetarian dewasaldi kota Jambi dengan asupan ergi yang tidak baik akan berisiko mengalami 8,9 kali kegemukan setelah dikontrol Status perkawinan. Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan bagi vegetarian agar membatasi asupan energi yang berasal dari lemak agar tidak mengalami kelebihan berai badan atau gemuk tingkat ringan maupun tingkat bemt. Melakukan pemcriksaan rutin indeks masse tubuh untuk mengeiahui status Mempertahankan berat badan normal menurut klasiiikasi indeks massa tubuh.


Nutritional problem are arised due to energy imbalance of intake consumed and energy released. Insuhiciencies and excess nutrition problems that incured in adult (age more than 18 years old) are important problems; They influence productivity and also give risk to such kind of disease. Food consume by people is reflected in nutritional status and it’s can be known by measuring BMI. Studies hom some states showed that proportion of nutritional problem insured in vegetarian more than that in non vegetarian. In Indonesia especially in Jambi, the research of Body Masslndex of adult vegetarian is not available yet. This research was aimed to 'rind description and factors related to BMI of adult vegetarian in Buaams center of sensation an Prime (Pusdiklat) namely Pm Maitreya and Avaloketasvara in Jambi town. Research design was cross sectional. Itis done in January to February in 2008 with 51 samples of adult vegetarians. To find the description of characteristic, energy intake, supplement consumed, vegetarian type, periods of being a vegetarian, percentage of nutritional status (tmderweighg normal and overweight) measured by BMI, and to find relationship between respondent characteristics (age, gender, marriage status, work status, education) and BMI, the relationship between energy intake with BMI, the relationship between periods of being a vegetarian with BMI, relationship between nutritional knowledge with BMI, relationship between health status with BMI in adult vegetarian in Center of Education and Practice of Buddhis Putra Maitreya and Avaloketasvara in Jambi. Data collected by interviewing and measuring body weight and body height. Data was analized by univariate, bivariate and multivariate steps. Bivariate analysis showed that there were relationship between gender (OR = 0,313), marriage status (OR == 0,421) and energy intake (OR = 6,5) with BMI. Multivariat analysis showed that variables that related to energy intake alter it was controlled by marriage status and marriage status was controlled by energy intake. The most dominant variable which is closely related to BMI is energy intake by OR = 8,915. Adult vegetarian with bad energy intake in Center of Education and Practice of Buddhis Putra Maitreya and Avaloketasvarain Jambi, had risk of 8,9 times to be overweight after controlled by marriage status. From result of the study, we recommended vegetarians to restrict energy intake that contain much fat in order In not becoming mild to severe overweight and to do routine examination BMI to know the nutritional status, and to maintain normal body weight according to BMI classification.

Read More
T-2854
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive