Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35590 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hidayati Ahmad; Pembimbing : Milla Herdayati; Penguji: Marta Rahmaniati Makful, Harni Wijiastuti
Abstrak: ABSTRAK
Penelitian dilakukan mengenai Perilaku Pencarian Pengobatan IMS Pada WUS di Wilayah Perkotaan Indonesia berdasarkan Analisis Data SDKI 2012. Responden merupakan WUS menikah maupun pernah menikah yang memiliki gejala terkait IMS. Sumber data yang digunakan ialah data sekunder kuesioner Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Desain Studi Cross-Sectional. Analisis dilakukan secra univariat dan bivariat dengan jumlah sampel 1594 responden. Dari hasil analisis didapatkan : 68,6% responden tidak mencari pengobatan atau melakukan pengobatan non medis, dan pengobatan medis 31,4%. Karakteristik berdasarkan faktor predisposisi: responden berusia 25-49 tahun (83,2%), dengan rata-rata umur 32,48 tahun, berpendidikan menengah (60,9%), memiliki pengetahuan rendah mengenai gejala IMS (96,4%), bekerja (53,5%), status ekonomi berada pada level atas (50,6%), melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia kurang 21 tahun (54%), dan tidak
 
menggunakan kondom saat terakhir kali berhubungan seksual (94,7%). Berdasarkan faktor pemungkin menunjukan 57,5% responden tidak memiliki asuransi kesehatan. Berdasarkan faktor pendukung: responden mengambil keputusan mengenai pemeriksaan kesehatan bersama dengan pasangan 48,3%. Tidak pernah terpapar sumber informasi IMS (69,7%) sumber informasi mengenai IMS terbanyak didapatkan dari teman (30,94%). Analisis hubungan faktor predisposisi menunjukan faktor pendidikan (p-value = 0,006), status ekonomi (p-value = 0,000), penggunaan kondom (p-value = 0,000) terbukti secara statistik memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pencarian pengobatan IMS. pada faktor pemungkin terlihat bahwa
 
kepemilikan asuransi kesehatan terbukti memiliki hubungan dengan perilaku pencarian pengobatan IMS (p-value = 0,013). Sedangkan pada faktor pendukung menunjukan variabel keterpaparan sumber informasi terbukti secara statistik memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pencarian pengobatan IMS (p-value = 0,001). Peningkatan pendidikan, ekonomi, kepemilikan asuransi sangat penting untuk meningkatkan akses pengobatan IMS ke pelayanan kesehatan medis oleh WUS, Selain itu pemberian pengetahuan mengenai gejala IMS dan penggunaan kondom pada WUS dirasa penting untuk meningkatkan kewaspadaan WUS mengenai IMS.
 

 
ABSTRACT
 
Research conducted on STI treatment seeking behavior on Women in reproductive age at Indonesian Urban Areas. As per the analysis of SDKI 2012 Data, this research was conducted on Female in reproductive Age who is or was married have symptoms related to STIs. Data source used is from questionnaires in Indonesia Health Demographic Survey (SDKI) 2012, with Cross-Sectional Design Study,
 
with univariate and bivariat analycist used. The sample used is 1594 Female in reproductive Age that meets sample criteria. From the analysis result, it is found that the proportions of treatment seeking behavior of Women during reproductive age in Indonesian urban area are as: 68.6% did not seek treatment or non medical treatment and 31.4% was seeking medical treatment. Characteristics based on
 
predisposing Factor indicated that the respondents were mostly aged 25 -49 years 83,2% with an average age of 32,48 years, 60,9% respondents were mediumeducated, 99.9% respondent had low knowledge of STI symptoms, 53.5% respondent were working or had a job and 50,6% of the respondent were on the top status of economic level. 54% of the respondent had their first sexual intercourse at age less than 21 years and 94,7% did not use condom during last sexual intercourse with partner. Characteristics based on enabling Factor shows that 57,5% respondents did not have health insurance. Characteristics based on the reinforcing Factor shows that 48.3% respondents make decision about health examination with husband or partner and most of the respondents were never exposed to any source of information on STIs, whereas 30.94% of the respondent obtained the information on STIs from their friends. Analysis of the relationship between predisposing Factor and treatment seeking behavior, the relationships proved statistically are: educational Factor (p-value = 0,006), economic status (p-value = 0,000) and the use of condoms (p-value = 0,000). The result of the relationship analysis between enabling Factor shows that the ownership of health insurance has been proven statistically related to STI treatment seeking behavior (p-value = 0,013). Also based on analysis result of correlation between reinforcing factor with STI treatment seeking behavior, it is seen as the only variable of exposure to the information
 
source of STI. Statistically it is proven that the exposure source have significant relation with treatment seeking behavior of STI (p-value = 0,001). Increased education, economics, insurance ownership is essential to improve access to STI treatment to medical services. In addition, the provision of knowledge about STI symptoms and condom use in is also important to increase awareness of STIs.
Read More
S-9537
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prila Khairunnisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal, Yovsyah, Weni Muniarti, Suparmi
Abstrak: Infeksi menular seksual merupakan pintu masuk terjadinya infeksi HIV. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu di tahun 2013 ditemukan (9%) kasus baru IMS pada remaja perempuan (10-19 tahun), Di Ambon terjadi peningkatan kejadian IMS pada remaja perempuan (15-24 tahun) dari (28,67%) di tahun 2011 menjadi (32,53%) di tahun 2013. Tahun 2018 ditemukan (15%) kasus IMS di RSCM terdiri dari anak berusia (12-22 tahun). Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor yang berhubungan dengan risiko terjadi infeksi menular seksual pada wanita usia subur (15-24 tahun) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel 4.240 wanita usia (15-24 tahun). Data diperoleh dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 dan dianalisis menggunakan analisis multivariat cox regression. Analisis multivariat cox regression menunjukkan bahwa remaja perempuan dengan pengetahuan yang kurang baik memprediksi risiko kejadian IMS pada remaja. Prediktor utama adalah pengetahuan remaja (PR 1,489; p: 0,000, CI 1,243-1,783) yang artinya wanita yang memiliki pengetahuan kurang baik tentang IMS berisiko terkena IMS sebesar 1,489 kali dibanding wanita yang memiliki pengetahuan baik. Menghilangkan stigma seksual adalah tabu dan terbatas pada pasangan sudah menikah serta promosi alat kontrasepsi kondom perlu ditingkatkan sehingga wanita memperoleh informasi tentang dampak dan pencegahan tertular IMS dengan lebih baik.
Sexually transmitted infections are the gateway to HIV infection. Based on the results of previous studies in 2013, new STI cases were found (9%) in adolescent girls (10-19 years). to (32.53%) in 2013. In 2018 it was found (15%) STI cases at RSCM consisted of children aged (12-22 years). This study aims to find factors associated with the risk of sexually transmitted infections in women of childbearing age (15-24 years) in Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of 4,240 women aged (15-24 years). Data were obtained from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey and analyzed using cox regression multivariate analysis. Multivariate cox regression analysis showed that female adolescents with poor knowledge predicted the risk of STIs in adolescents. The main predictor was knowledge of adolescents (PR 1.489; p: 0.000, CI 1.243-1.783) which means that women who have poor knowledge about STIs are at risk of getting STIs by 1.489 times compared to women who have good knowledge. Eliminating sexual stigma is taboo and limited to married couples and the promotion of condom contraception needs to be increased so that women get better information about the impact and prevention of contracting STIs.
Read More
T-6684
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Kurnia Sari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dien Anshari, Nurjannah, Sari Palupi
Abstrak:
Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat terkait reproduksi yang sangat berbahaya, menular dan menyebar luas secara global di berbagai Negara. IMS memiliki dampak yang sangat buruk bagi kesehatan baik pada wanita hamil dan janin maupun wanita yang tidak hamil. Oleh sebab itu pencarian pengobatan yang benar diperlukan guna meminimalkan resiko penularan ibu ke bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor yang berhubungan dengan pencarian pengobatan infeksi menular seksual pada wanita usia subur 15 - 49 tahun di Indonesia berdasarkan data SDKI tahun 2017. Analisis dilakukan secara univariat dan diuji dengan chi square dan regresi logistik ganda dengan jumlah sampel 1963 responden. Hasil dari analisa Proporsi Pencarian Pengobatan IMS pada WUS di Indonesia masih rendah yaitu 30,4 %. Faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobtan IMS di Indonesia hanya pendidikan. Saran bagi pemerintah meningkatkan kebijakan mengenai pengetahuan IMS sesuai tingkat pendidikan

Sexually transmitted infections (STIs) are one of the public health problems related to reproduction that is very dangerous, contagious and widespread globally in various countries. STI has a very bad impact on health both in pregnant women and fetuses and women who are not pregnant. Therefore the search for the right treatment is needed to minimize the risk of mother to baby transmission. This study aims to determine the description of factors associated with seeking treatment for sexually transmitted infections in women of childbearing age 15 - 49 years in Indonesia based on the 2017 IDHS data. The analysis was conducted univariately and tested with chi square and multiple logistic regression with a sample of 1963 respondents. The results of the analysis of the proportion of seeking treatment for STIs among female sex workers in Indonesia are still low 30.4%. The only factor related to the seeking behavior for STI treatment in Indonesia is education. Suggestions for the government to improve policies regarding STI knowledge according to education level
Read More
T-6060
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yustikawati; Pembimbing: Toha Muhaimin, Adi Sasongko
T-2056
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Hannifah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Kartika Anggun Dimar Setio, Arif Rachman Iryawan, Dadi Suhanda
T-7093
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miske Ratnasari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmojo; Penguji: Syahrizal Syarif, Flourisa Juliaan
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komunikasi suami istri , status dan otonomi wanita dengan penggunaan kontrasepsi modern pada pasangan usia subur di daerah perkotaan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional dan pengambilan sampel dengan teknik sampel jenuh. Hasil penelitian dengan chi square test didapatkan ada hubungan antara komunikasi suami istri diskusi 6 bulan terakhir p=0.017, OR=1.283 , diskusi 1 tahun terakhir p=0.043,OR=1.187 , persetujuan KB p=0.000, OR=2.117 , mengetahui jumlah anak yang diinginkan p=0.003,OR=0.664 , status wanita pendidikan p=0.000,OR=0.437 , pekerjaan p=0.000,OR=0.688 , perbedaan usia dengan pasangan p=0.038,OR=0.736 , keterpaparan media p=0.001,OR=0.774 , otonomi wanita sikap pada pemukulan istri p=0.008,OR=0.806 , mendapat izin mencari pengobatan p=0.048, OR=0.842 dengan penggunaan kontrasepsi modern pada pasangan usia subur di daerah perkotaan di Indonesia.
Read More
S-9476
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nitami Yunita Dewi; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Dadan Erwandi, Rahadhini Ayu Setyaningrum
Abstrak: abstrak Infeksi menular seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Pada tahun 2017 jumlah kunjungan di Poli IMS di Puskesmas Kecamatan Matraman adalah 4450 kunjungan pasien perempuan yang diobati adalah hanya 607 kasus. Diperlukan tindakan bersama untuk mencegah dan menanggulangi kejadian IMS tersebut dengan mengetahui latar belakang riwayat pencarian pengobatan IMS. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran riwayat pencarian pengobatan IMS pada pengunjung Poli IMS di Puskesmas Kecamatan Matraman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Informan penelitian ini adalah pengunjung perempuan, termasuk wanita pekerja seks (WPS) dan pengunjung laki-laki yang berobat di Puskesmas Kecamatan Matraman. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan dan informan kunci yaitu Pemegang program IMS (petugas kesehatan), Anggota dan Ketua LSM, dan Keluarga Informan. Selain melakukan wawancara mendalam juga dilakukan telaah dokumen dengan melihat hasil laboratorium dan register. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyaknya pengunjung yang melakukan pengobatan sendiri sebelum datang ke tempat pelayanan kesehatan di Poli IMS Puskesmas Kecamatan Matraman seperti membeli obat antibiotik di apotek, menggunakan sabun sirih, jamu, odol dan sebagainya. Kurangnya informasi, biaya pelayanan kesehatan sudah digratiskan tetapi pengguaan kondom sebagai salah satu metode pencegahan tetap berada di tangan pasangan. Saran bagi informan bahwa pelayanan kesehatan medis adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan informasi dan pengobatan IMS. Kata Kunci : IMS, Pengunjung Klinik IMS, Riwayat Pencarian Pengobatan. Sexually transmitted infections (STIs) is one of the health issues that need attention. By 2017 the number of visits in Poly IMS at the Matraman District Health Center is 4450 visits of female patients treated is only 607 cases. Collective action is required to prevent and cope with such STI events by knowing the background of STI treatment seeking history. This study was conducted to obtain a description of STI treatment search history on IMI Polis visitors at Puskesmas Sub-district of Matraman. This research is a qualitative research using qualitative descriptive research design. Informants of this study were female visitors, including female sex workers (WPS) and male visitors who were treated at Puskesmas Kecamatan Matraman. The data were collected through in-depth interviews with key informants and informants: IMS program holders (Health workers), Members and NGO Leaders, and Family Informants. Besides conducting in-depth interviews, document review is also done by looking at laboratory results and registers. The results showed that there are still many visitors who do their own treatment before coming to health care in Poly IMS Puskesmas Matraman District like buying antibiotic drugs in pharmacies, using betel soap, herbs, toothpaste and so on. Lack of information, the cost of health services has been free but the use of condoms as one method of prevention remains in the hands of the couple. Advice for informants that medical care is the right place to get information and treatment of STIs. Keywords: STIs, IMS Clinic Visitor, Medical Search History.
Read More
S-9864
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rista Yunanda; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Wahyu Septiono, Titeu Herawati, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Kekerasan seksual pada remaja usia 13–17 tahun adalah tindakan seksual terhadap remaja yang berusia dibawah usia hukum dan belum matang secara psikososial, yang terjadi akibat eksploitasi kerentanan, dan tanpa persetujuan yang sah. Pelaporan kekerasan seksual pada remaja semakin meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti determinan kekerasan seksual pada remaja di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori sosio-ekologi. Sumber data menggunakan data SNPHAR tahun 2021. Jumlah sampel sebanyak 4.903 remaja usia 13-17 tahun. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariabel. Temuan hasil penelitian ini menunjukan prevalensi kekerasan seksual di wilayah perkotaan sebesar 6,09% dan di pedesaan sebesar 5,84%. Determinan kekerasan seksual di perkotaan mencakup jenis kelamin (AOR: 2,57 95% CI: 1,69-3,90), sikap terhadap gender (AOR : 1,52 95%CI: 1,02-2,27), pekerjaan (AOR : 1,78 95% CI: 1,12-2,86) dan dukungan keluarga (AOR: 2,68 95%CI : 1,89-3,81). Kemudian, determinan kekerasan seksual di pedesaan mencakup disabilitas (AOR: 2,55 95%CI: 1,22-5,31), jenis kelamin (AOR: 2,35 95%CI: 1,39-3,97), dukungan keluarga (AOR: 2,56 95%CI: 1,78-3,68), pekerjaan (AOR : 1,85 95%CI : 1,13-3,01) dan paparan informasi kesehatan reproduksi (AOR: 0,54 95%CI: 0,31-0,94). Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperlukan pencegahan primer, sekunder dan tersier agar kekerasan seksual pada remaja di Indonesia dapat ditangani.

Sexual violence against adolescents aged 13–17 years is a sexual act against adolescents who are under the legal age and psychosocially immature, which occurs as a result of exploitation of vulnerability and without true consent. Reports of sexual violence against adolescents are increasing every year. This study aims to investigate the determinants of sexual violence against adolescents in urban and rural areas of Indonesia. The study employs a socio-ecological theory. Data sources utilize the 2021 SNPHAR data. The sample size comprises 4,903 adolescents aged 13–17 years. The analyses employed include univariate, bivariate, and multivariable analyses. The findings of this study show that the prevalence of sexual violence in urban areas is 6.09% and in rural areas is 5.84%. Determinants of sexual violence in urban areas include gender (AOR: 2.57, 95% CI: 1.69-3.90), attitudes toward gender (AOR: 1.52, 95% CI: 1.02–2.27), occupation (AOR: 1.78, 95% CI: 1.12–2.86), and family support (AOR: 2.68, 95% CI: 1.89–3.81). Furthermore, determinants of sexual violence in rural areas include disability (AOR: 2.55, 95% CI: 1.22–5.31), gender (AOR: 2.35, 95% CI: 1.39–3.97), family support (AOR: 2.56, 95% CI: 1.78–3.68), occupation (AOR: 1.85, 95% CI: 1.13–3.01), and exposure to reproductive health information (AOR: 0.54, 95% CI: 0.31–0.94). Based on the results of this study, primary, secondary, and tertiary prevention measures are needed to address sexual violence among adolescents in Indonesia.
Read More
T-7243
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyastuti; Pembimbing: Toha Muhaimin, Adi Sasongko; Penguji: Farida Mutiarawati Tri Agustina, Sigit Priohutomo, Dien Emawati
T-2429
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mira Maryani Latifah; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Nia Erviani, Lovely Daisy
Abstrak: Angka Unmet need yang relatif tergolong tinggi yakni sebesar 11 % menunjukkan bahwa pelayanan Keluarga Berencana pada beberapa lapisan masyarakat tidak terpenuhi dan masih terdapat wus yang belum menggunakan kontrasepsi padahal sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Sikap seorang wanita untuk menginginkan, memilih, mempertimbangkan hingga menggunakan alat kontrasepsi atau menjangkau pelayanan keluarga berencana tidak hanya bergantung pada karakteristik individu semata namun juga terkait karakteristik suami atau pasangan. Data SDKI 2017 menyatakan bahwa sebanyak 23 persen pria menyatakan ingin menambah anak dalam waktu 2 tahun. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif desain penelitian potong lintang dengan menggunakan data sekunder survei demografi kesehatan Nasional (SDKI) 2017. Sampel pada penelitian ini sebanyak 32164 wanita usia subur yang berstatus menikah dan telah memiliki anak serta suami wanita usia subur setelah dilakukan pembobotan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square, analisis complex sample, analisis stratifikasi dan cox regressions. Hasil penelitian didapatkan bahwa Preferensi fertilitas suami yang ingin memiliki anak dan tidak memiliki pengetahuan berisiko 1,14 kali lebih besar (CI 95% 1,19-2,55) menyebabkan wanita usia subur tidak menggunakan kontrasepsi.
Unmet Need have relatively high number 11%, indicates that family planning services in several levels of society are not being met and there are still not using contraception even though they do not want to have children anymore. The attitude of a woman to want, choose, consider using contraception or reach out to a family planning service is not only based on individual characteristics but is also related to the characteristics of her husband or partner. The IDHS 2017 data stated that as many as 23 percent of men stated that they wanted to have more children within 2 years. This study is a cross-sectional quantitative study using secondary data from the 2017 National Health Demographic Surveillance (IDHS). The sample in this study were 32164 women of egible age who were married and had children and the husbands. Data analysis was performed by chi-square test, complex sample analysis and cox regression. The results showed that the fertility preference of husbands who wanted to have children and did not have knowledge had a risk of 1.14-1,86 times greater (95% CI 1.19-2.55) causing women of childbearing age not to use contraception
Read More
T-6161
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive