Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28147 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Silviana T.E. Sihombing; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Popy Yuniar, Victoria Insrawati
Abstrak: Infeksi menular seksual (IMS) merupakan salah satu penyebab penyakit utama di dunia. Perilaku seksual berisiko merupakan faktor risiko terjadinya IMS. Prevalensi sifilis cenderung meningkat pada kelompok Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL). Menurut data STBP 2013 prevalensi sifilis meningkat pada LSL yaitu dari 9% (2011) menjadi 11,3%. Menjual seks merupakan perilaku seks berisiko dalam penularan sifilis pada LSL. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara perilaku seks dengan kejadian sifilis pada LSL. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan data STBP 2015. Analisis deskriptif dan regresi logistik dilakukan pada sampel 1.496 responden. Hasil analisis multivariabel didapatkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku menjual seks dengan kejadian sifilis dengan rasio odds 1,4 (95%EI 1,0-2,1). Kata kunci: Lelaki Suka berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL), sifilis, perilaku seks, STBP Sexually Transmitted Infections (STIs) is one of the leading causes of disease in the world. Risk behavior sex is a risk factor of STIs. The prevalence of syphilis have increased among Men who have Sex with Men. According to IBBS 2013 the prevalence of syphilis among MSM have increased from 9% (2011) to 11,3%. Selling sex is a risk sex behavior in the transmission of syphilis among MSM. This study aims to see the relationship between sex behavior and syphilis among MSM. This study is quantitative study using data of IBBS 2015. Descriptive analysis and logistic regression was performed on a sample 1,496 repondents. The result of multivariable analysis showed there an association between selling sex and syphilis with odds ratio 1.4 (95%CI 1.0-2.1) Keywords: Men who have Sex with Men (MSM), syphilis, sex behavior, IBBS
Read More
S-9576
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dzul Fahmi Afriyanto; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Dien Anshari, Mahanani, Puspitasari Whardani
Abstrak:
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh yang dapat terjadi pada populasi berisiko seperti Lelaki Berhubungan Seks Dengan Lelaki (LSL). Kasus LSL yang terinfeksi HIV/AIDS menempati posisi pertama terbanyak di Kabupaten Gresik dibandingkan dengan populasi berisiko lainnya. Hal ini diperlukan tindakan pencegahan HIV/AIDS pada LSL. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis persepsi LSL dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan disain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dilaksanakan pada bulan April-Mei 2022 pada 8 informan meliputi 6 LSL, seorang staf Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dan seorang staf Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Gresik. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pencegahan HIV/AIDS yang dilakukan LSL adalah penggunaan kondom saat berhubungan seksual, melakukan pemeriksaan VCT, dan melakukan pengobatan ARV bagi LSL HIV (+). Perilaku tersebut dipengaruhi persepsi kerentanan dan persepsi bahaya/kesakitan terhadap HIV/AIDS, persepsi manfaat dan hambatan untuk melakukan perilaku tersebut, memiliki keyakinan dapat melakukan perilaku tersebut, dan adanya isyarat untuk melakukannya yang berasal dari teman dekat, keluarga, pasangan, dan petuhgas kesehatan. Untuk itu, perlu dilakukan pelatihan teori perilaku HBM terhadap petugas puskesmas dan menerapkan pendidikan sebaya kepada komunitas LSL tentang perilaku pencegahan HIV/AIDS.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that infects white blood cells which causes a decrease in immunity that can occur in at-risk populations such as Men Who Have Sex With Men (MSM). MSM cases infected with HIV/AIDS occupy the first position in Gresik Regency compared to other at-risk populations. The purpose of this study was to analyze the perception of MSM in HIV/AIDS prevention in Gresik Regency. This research uses a qualitative approach, with a case study design. Data collection was carried out by in-depth interviews carried out in April-May 2022 with 8 informants including 6 MSM, 1 staff from the Gresik District Health Office, and 1 staff from the Gresik District AIDS Commission. The results showed that HIV/AIDS prevention behaviors carried out by MSM were using condoms during sexual intercourse, conducting VCT examinations, and taking ARV treatment for those who were HIV (+). These behaviors are influenced by perceptions of vulnerability and perceptions of harm/illness to HIV/AIDS, perceptions of the benefits and barriers to performing these behaviors, having the belief that they can perform these behaviors, and the presence of cues to do so from close friends, family, partners, and health workers. Therefore, there is a need for training in the theory of HBM behavior for health workers and applying peer education to the MSM community about HIV/AIDS prevention behavior.
Read More
T-6449
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yati Nurhayati; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Besral, Tri Krianto, Maya Trisiswati, Nurhalina Afriana
Abstrak: Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) adalah laki-laki yangterlibat dalam hubungan seksual dengan laki-laki lain. LSL dilaporkan melakukanseks komersial yang mana diketahui memiliki risiko tinggi terhadap HIV danInfeksi Menular Seks (IMS). Seks komersial merupakan perilaku yang berisikokarena pada perilaku ini kedua pihak baik yang membayar dan menerima bayaranberganti-ganti pasangan tidak tetap, memiliki banyak pasangan seks danmelakukan seks yang tidak aman. Prevalensi seks komersial yang meningkat padaLSL diduga sebagai salah satu penyebab tingginya kejadian HIV/IMS. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui hubungan seks komersial dengan kejadianHIV/IMS di Yogyakarta dan Makassar. Penelitian ini menggunakan desainpotong-lintang dengan jumlah responden 170 LSL di Yogyakarta dan 240 LSL diMakassar yang direkrut oleh Kementerian Kesehatan pada Survei TerpaduBiologis dan Perilaku tahun 2013 dengan metode pengambilan samplingResponden Driven Sampling. LSL yang melakukan seks komersial di Yogyakartadan Makassar sebesar 30.3% dan 54.8% dengan kejadian HIV/IMS 56.6% diYogyakarta dan 5.06% di Makassar. LSL yang melakukan seks komersial diYogyakarta memiliki kemungkinan 11 kali lebih tinggi (95%CI 0.8-140.5) untukmengalami HIV/IMS dibandingkan LSL yang non komersial sedangkan hasil diMakassar tidak dapat disimpulkan karena jumlah kejadian HIV/IMS positif diMakassar sangat kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seks komersialmerupakan faktor risiko kejadian HIV/IMS dan menjadi penyebab tingginyakejadian HIV/IMS di Yogyakarta.
Kata kunci: Seks komersial, HIV, LSL,IMS
Men who have sex with men (MSM) are men who engage in sexual relations withother men. MSM reported commercial sex are known to be at higher risk for HIVand Sexually Transmitted Infections (STIs). Commersial sex is risky behaviorbecause this behavior MSM who paid and get paid having casual partners, mutiplesex partners and unprotected sex. The prevalence of commercial sex increased inMSM were suspected as one of the reason for the increased of incidence ofHIV/STIs. This study aims to determine the commercial sex with the incidence ofHIV/STIs in Yogyakarata and Makassar. A cross-sectional study conduct among170 MSM in Yogyakarta and 240 MSM in Makassar recruited by the Ministry ofHealth on Integrated Biological and Behavioral Survey in 2013 with RespondentDriven Sampling. Commercial sex among MSM in Yogyakarta and Makassar was30.3% and 54.8% with the incidence of HIV/STI 56.6% in Yogyakarta and 5:06%in Makassar. Commercial sex among MSM are 11 times more likely to beinfected HIV/STI (95% CI 0.8-140.5) than noncommercial sex whereas the resultin Makassar are inconclusive because the incidence of HIV/STIs positive inMakassar very low. The study showed that commercial sex is a risk factor for theincidence of HIV/STIs and the cause of the high incidence of HIV/STIs inYogyakarta.
Keywords: Commersial sex, HIV, MSM, STIs
Read More
T-4761
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Zaki Ronaldy; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Arif Rianto
Abstrak:
Kelompok Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) menghadapi hambatan struktural dan stigma yang memengaruhi kemampuan mereka mengakses dan memanfaatkan informasi kesehatan. Literasi kesehatan yang memadai menjadi kunci bagi kelompok ini dalam mengelola pencegahan HIV, termasuk penggunaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) secara konsisten. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran literasi kesehatan dan faktor-faktor yang berasosiasi dengan literasi kesehatan pada kelompok LSL usia 18-24 tahun yang mengakses layanan PrEP melalui Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) di Kabupaten Bogor, dengan mengacu pada model determinan literasi kesehatan Pawlak (2005) dan model literasi kesehatan Sørensen (2012) sebagai kerangka teori. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan total sampling 86 responden. Literasi kesehatan diukur menggunakan HLS-EU-Q16, sementara pengetahuan HIV diukur menggunakan HIV-KQ-18. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk usia serta Mann-Whitney untuk variabel lainnya. Hasil menunjukkan rata-rata skor literasi kesehatan responden sebesar 3,04 (SD = 0,687), berada pada kategori mencukupi. Berdasarkan dimensi, skor tertinggi terdapat pada dimensi fungsional, diikuti interaktif dan kritis. Berdasarkan domain, skor tertinggi pada domain pelayanan kesehatan, diikuti pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Analisis bivariat menunjukkan jumlah sumber informasi kesehatan (p-value = 0,017) dan pengetahuan HIV (p-value = 0,009) berhubungan bermakna secara statistik dengan literasi kesehatan, sementara usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan tidak menunjukkan hubungan bermakna (p-value > 0,05). Peningkatan literasi kesehatan pada LSL muda perlu difokuskan pada perluasan akses terhadap sumber informasi kesehatan yang berkualitas dan beragam, serta penguatan edukasi HIV yang akurat, inklusif, dan bebas stigma melalui program berbasis komunitas.

Men who have sex with men (MSM) face structural barriers and stigma that affect their ability to access and utilize health information. Adequate health literacy is essential for this group in managing HIV prevention, including the consistent use of Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). This study aimed to describe health literacy and identify factors associated with health literacy among MSM aged 18-24 years accessing PrEP services through Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) in Kabupaten Bogor, drawing on Pawlak's (2005) health literacy determinants model and Sørensen's (2012) health literacy model as the theoretical framework. This study employed a cross-sectional design with total sampling of 86 respondents. Health literacy was measured using the HLS-EU-Q16, while HIV knowledge was measured using the HIV-KQ-18. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, applying Spearman Rank correlation for age and the Mann-Whitney test for the remaining variables. Results showed a mean health literacy score of 3.04 (SD = 0.687), categorized as sufficient. By dimension, the highest score was found in the functional dimension, followed by the interactive and critical dimensions. By domain, the highest score was found in the healthcare domain, followed by disease prevention and health promotion. Bivariate analysis showed that the number of health information sources accessed (p-value = 0.017) and HIV knowledge (p-value = 0.009) were statistically significantly associated with health literacy, while age, education level, employment status, and income showed no significant association (p-value > 0.05). Efforts to improve health literacy among young MSM should focus on expanding access to quality and diverse health information sources, as well as strengthening accurate, inclusive, and stigma-free HIV education through community-based programs.
Read More
S-12297
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridia Nindi Zahra Nadiva; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Arip Prianto
Abstrak:
Latar Belakang: Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) merupakan salah satu strategi pencegahan HIV yang efektif apabila digunakan secara konsisten sesuai anjuran. Namun, tingkat kepatuhan penggunaan PrEP pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi tantangan yang dapat memengaruhi efektivitas pencegahan HIV. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada LSL berusia 18–24 tahun di Kabupaten Bogor tahun 2026. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah LifeWindows Information–Motivation–Behavioral Skills ART Adherence Questionnaire (LW-IMB-AAQ) dan Simplified Medication Adherence Questionnaire (SMAQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Sebagian besar responden (70,9%) termasuk dalam kategori tidak patuh dalam mengonsumsi PrEP, sedangkan 29,1% termasuk dalam kategori patuh. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jumlah pasangan seksual (p=0,011), riwayat penggunaan PrEP sebelumnya (p=0,043), dan keterampilan berperilaku (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum PrEP. Kesimpulan: Intervensi untuk meningkatkan keterampilan berperilaku dan pendampingan penggunaan PrEP perlu diperkuat guna meningkatkan kepatuhan minum PrEP pada kelompok LSL. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian serupa pada kelompok LSL di kota atau kabupaten lain untuk mengetahui konsistensi faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum PrEP pada berbagai konteks dan populasi.

Background: Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) is an effective HIV prevention strategy when used consistently as recommended. However, adherence to PrEP among men who have sex with men (MSM) remains a challenge that may affect the effectiveness of HIV prevention efforts. Methods: This study employed a cross-sectional design conducted among MSM aged 18–24 years in Bogor Regency in 2026. A total of 86 respondents were selected using a total sampling technique. The instruments used were the LifeWindows Information–Motivation–Behavioral Skills ART Adherence Questionnaire (LW-IMB-AAQ) and the Simplified Medication Adherence Questionnaire (SMAQ). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The majority of respondents (70.9%) were categorized as non-adherent to PrEP, while 29.1% were categorized as adherent. Bivariate analysis showed that the number of sexual partners (p=0.011), previous PrEP use history (p=0.043), and behavioral skills (p<0.001) were significantly associated with PrEP adherence. Conclusion: Interventions to improve behavioral skills and strengthen support for PrEP use should be enhanced to increase PrEP adherence among MSM. Future research is recommended to be conducted among MSM populations in other cities or districts to examine the consistency of factors associated with PrEP adherence across different contexts and populations.
Read More
S-12307
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferry Febriansyah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Modastri Korib Sudaryo, Iwan Ariawan, Heru Suparno, Nujannah
Abstrak: Perkembangan jumlah kasus infeksi HIV pada kelompok berisiko Lelaki SeksLelaki (LSL) di Kota Bogor semakin mengkhawatirkan setiap tahunnya. Perilakuseksual berisiko pada LSL dipengaruhi oleh berbagai faktor. Model KepercayaanKesehatan sebagai konsep dalam berbagai penelitian kesehatan, telah banyakdilakukan termasuk penelitian tentang perilaku penggunaan kondom sebagaiupaya pencegahan HIV. Meskipun hasilnya sangat beragam, namun nampaksejumlah bukti tentang hubungan yang signifikan antara persepsi berisiko,manfaat dan hambatan serta self efficacy terhadap penggunaan kondom. Tujuanpenelitian untuk mengetahui faktor penentu terbesar perilaku penggunaan kondomdengan konstruksi Model Kepercayaan Kesehatan dibandingkan dengan faktoryang lainnya. Desain studi cross-sectional dengan pengumpulan datamenggunakan teknik respondent driven sampling. Item kuesioner terdiri atas 41pertanyaan berdasarkan konstruksi Model Kepercayaan Kesehatan yang diperolehdari 133 responden. Hasil penelitian uji regresi logistik ganda menunjukanpersepsi berisiko tertular HIV memiliki hubungan dengan perilaku penggunaankondom dibandingkan dengan faktor yang lainnya. Kesimpulan. persepsi berisikotertular HIV memiliki pengaruh yang paling besar terhadap penggunaan kondom,maka program intervensi pencegahan HIV di kalangan lelaki seks lelaki perluditekankan kepada perubahan persepsi diantaranya dapat dilakukan dengankomunikasi interpersonal (peer group discussion).Kata kunci: Model Kepercayaan Kesehatan, Kondom, Lelaki Seks Lelaki, HIV.
The number cases of HIV infection in risk groups Men Who have Sex with Men(MSM) in Bogor increasingly concerned each year. Sexual risk behavior in MSMis influenced by various factors. Health Belief Model as a concept in healthresearch has done many research on behavior including use of condoms as an HIVprevention efforts. Although results have varied, support for significantrelationship between perception risk of HIV, benefits and barriers and selfefficacy of condoms use are apparent. The aim of study is to find determiningfactor of condom use behavior with Health Belief Model construction comparedwith other factors. Cross-sectional method with collecting data using respondentdriven sampling technique. Item questionnaire consisting 41 questions based onthe construction of Health Belief Model obtained from 133 respondents. Theresults of multiple logistic regressions found significant only perception risk ofHIV than other factors. Conclusion. Perception risk of HIV is the biggestdetermines factor of condoms use, therefore interventions program of HIVprevention among MSM should be emphasized to change perception risk of HIVsuggested with interpersonal communication (peer group discussion).Key words: Health Belief Model, Condom, Men who have Sex with Men (MSM),HIV.
Read More
T-4648
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roslina Susilawati; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Besral, Anwar Hassan, Sri Pinantari, Eli Winardi
Abstrak:

Angka HIV meningkat di Indonesia terutama di kalangan LSL, salah satu cara efektif menurunkan infeksi HIV adalah melalui perubahan perilaku dengan meningkatkan pengetahuan tentang HIV-AIDS. Pada data tahun 2007 persentase LSL yang pernah melakukan tes HIV sebanyak 37 % di Jakarta, Medan, Batam, Bandung, Malang dan Surabaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya testing HIV pada LSL dan setelah dianalisis, variabel-variabel yang berhubungan dengan testing HIV pada LSL adalah umur, starus pernikahan, pendidikan, persepsi, pengetahuan, dukungan petugas, keterpaparan informasi. Hasil analisis 34,9% LSL yang melakukan praktik Testing HIV, faktor yang paling berhubungan dengan testing HIV adalah keterpaparan informasi dengan p value 0,000 dan OR= 13,8.


The HIV rates increasing in Indonesia, especially among MSM. One effective way of lowering HIV infection is through a change in behavior by increasing knowledge about HIV-AIDS. In the 2007, the percentage of MSM who had an HIV test as much as 37% in Jakarta, Medan, Batam, Bandung, Malang and Surabaya. The purpose of this study was to determine the factors associated with low HIV testing in MSM and after analysis, the variables associated with HIV testing in MSM were age, infection status of marriage, education, perception, knowledge, support personnel, exposure information. Results of analysis MSM who practice HIV Testing is 34.9% , the most associated factor with HIV testing is exposure information with p value of 0.000 and OR = 13.8.

Read More
T-3784
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Agoes Soelistijani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:
Sampai saat ini penyakit HIV/AIDS semakin berkembang termasuk di Indonesia, hingga akhir Juni 2002 telah mencapai 2950 kasus HIV/AIDS di Indonesia. (Ditjen PPM & PL, 2002). Faktor risiko HIV/AIDS terbanyak adalah hubungan seksual (heteroseksual dan homoseksual). Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, salah satunya adalah KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan kelompok berisiko tinggi termasuk wanita penjaja seks (WPS) yang akhirnya mau merubah sikap dan perilakunya untuk mencegah HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial di Bali tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Surveilans Perilaku (SSP) Infeksi Menular Seksual (IMS) & HIV/AIDS oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK Ul) di Bali meliputi Denpasar, Kuta dan Sanur tahun 2000. Rancangan penelitan adalah cross sectional dengan responden adalah WPS. Variabel yang diamati dan dilihat hubungannya dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial adalah pengetahuan WPS tentang HIV/AIDS, karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS) dan pengalaman menderita gejala IMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS (57,3%) dan berperilaku tidak selalu menggunakan kondom (87,2 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel umur (p=0,725), tingkat pendidikan (p 0,252), dan lama bekerja sebagai WPS (p=0,125) tidak berhubungan bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Pengalaman menderita gejala IMS (p=0,000) dan pengetahuan tentang HIV/AIDS (p),008) menunjukkan hubungan yang bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Responden yang mempunyai pengetahuan baik tentang HIV/ADDS berpeluang 2,923 kali berperilaku selalu menggunakan kondom dibandingkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS. Hasil analisis multivariat rnenunjukkan bahwa variabel umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS dan pengalaman menderita gejala IMS ternyata bukan confounder dalam hubungan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Mengacu pada hasil penelitian di atas, maka saran yang diajukan khususnya untuk pengelola program dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penggunaan kondom melalui KIE dilakukan lebih efektif dan intensif. Perlu pula kerjasama/kemitraan dengan lintas sektor dan lintas program terkait, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan media massa yang kondusif Metode yang efektif digunakan penyuluhan massa, disamping konseling dan melalui kelompok sebaya/seprofesi. Daftar Pustaka : 43 (1980-2002)

Relationship between Knowledge of HIV/AIDS with Female Sex Workers Behavior in Condom Use Commercial Sex, in Bali, in 2000HIV/AIDS has been increasing from time to time, including in Indonesia However, as a fact late of June 2002, exclusive for Indonesia it has reached up to 2.950 cases (Ditjen PPM & PL, 2002). The biggest determinant of its infection is hetero and home sexual relationship. One of the prevention ways done in Indonesia is through Communication, Information and Education program for increasing knowledge of HIV/AIDS to high risk groups, including female sex workers, so that they are aware of the prevention of HIV/AIDS. The objective of this research is to measure relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex, in Bali, in 2000. The data sources are Behavioral Surveilans Survey, infectious sexual disease and HIV/AIDS done by Health Survey Center, University of Indonesia in Bali covering Denpasar, Kuta and Sanur in 2000. Survey design is cross sectional with female sex workers as respondents. The knowledge of HIV/AIDS, social characteristic (age, education, length of period working as a sex workers) and experience of having infectious sexual disease symptoms are variable matters taken in this research. It shows that the most of the respondent have less of knowledge (57,3 %) and seldom using condom (87,2 %). The results of bivariate analysis, where variable matters : age (p = 0,725), education level (p = 0,252) and the length of period working as a sex workers (p-0,008) have not significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The experience of having infectious sexual disease symptoms (p,000) and . knowledge of HIV/AIDS (p=0,008) have significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The risk of the more knowledge respondent of HIV/AIDS might be 2,923 times always using condom compared the less knowledge respondent of HIV/AIDS. The multivariate analysis shows that age, education, length of period working as a sex workers and experience of having infectious sexual disease are not confounder in relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex. Finally this research suggests to defend of HIV/AIDS for program the organizers, through effective and intensive communication, information and education program for increasing knowledge of HIV/AIDS and condom use. Cooperation of a flash program and sector, community organizations, non government organizations, and condusive mass media is highly recommended. Effectively method use mass communication, besides individual conseling and peer group. References : 43 (1980-2002)
Read More
T-1742
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anyta Ekaningsih; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Anshari Dien, Hadi Pratomo, Irwan Panca Wariaseno, Mario Ekariano
Abstrak: Remaja berusia 15-24 di Indonesia pada tahun 2017 tergolong generasi Z (gen Z), memiliki kerentanan melakukan perilaku bermasalah (problem behavior) seperti perilaku seks pranikah. Terjadi peningkatan tren prevalensi perilaku seks pranikah remaja antara tahun 2007 sampai tahun 2017, yaitu berturut-turut 6,6% menjadi 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aspek personal dan lingkungan dengan perilaku seks pranikah remaja. Data untuk penelitian ini bersumber dari data sekunder SDKI KRR 2017 dengan sampel laki-laki dan perempuan yang berusia 15-24 tahun dengan status belum menikah berjumlah 10290 orang.

Hasil regresi logistik ganda menunjukkan bahwa aspek sistem yang paling dominan berhubungan dengan perilaku seks pranikah adalah sikap yaitu remaja yang bersikap positif terhadap seks pranikah berisiko 15,7 kali untuk melakukan seks pranikah dibandingkan remaja yang memiliki sikap negatif setelah dikontrol oleh pencapaian akademik pendidikan, advokasi personal, membicarakan pubertas dan peran teman (OR=15.7; 95%CI: 12.1- 20.2). Diperlukan strategi komunikasi dan intervensi promosi kesehatan remaja berdasarkan klasifikasi generasi menurut era kemajuan teknologi digital
Read More
T-5722
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggela Pradiva Putri; Pembimbing: Kemal N. Siregar, Toha Muhaimin; Penguji: Indang Trihandini, Husein Habsyi
Abstrak: HIV dan AIDS sampai saat ini masih menjadi kasus yang mendapat perhatian di duniadan Indonesia. Diantara kelmpok rentan penularan HIV, LSL merupakan salah satupopulasi kunci penyumbang jumlah kasus baru HIV pada tahun 2015 yaitu 12%. Terdapatberbagai faktor peyebaran HIV pada LSL, salah satunya yaitu penggunaan kondomkonsisten.

Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi hubungan penggunaan kondomdengan pencegahan HIV pada LSL di 6 kota di Indonesia dengan menggunakan dataSurvey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP 2015). Penelitian ini menggunakan studicross-sectional yang dilaksanakan pada Maret-Juni 2018. Populasi pada penelitian iniyaitu LSL yang memiliki pasangan tetap wanita, pria, atau waria. Jumlah sampelsebanyak 773 responden dengan melakukan pembersihan data.

Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hubungan penggunaan kondom dengan status HIV memberikannilai p= 0,059 Terdapat hubungan yang signifikan antara seks anal dengan status HIVdengan nilai p= 0,027. Perlu dilakukan penyuluhan dan intervensi yang lebih agarpemakaian kondom dapat lebih efektif sebagai metode pencegahan HIVKata kunci: AIDS, HIV, LSL, Condom
HIV and AIDS is still a case of attention in the world and Indonesia. Among thevulnerable groups of HIV transmission, MSM is one of the key populations contributingto the number of new HIV cases by 2015 at 12%. There are various factors in the spreadof HIV in MSM, one of which is consistent condom use.

This study aims to identifycondom use relationships with HIV prevention in MSM in 6 cities in Indonesia usingBiological Integrated Survey and Behavioral Survey data (STBP 2015). This study usesa cross-sectional study conducted in March-June 2018. The population in this study isMSM who have a permanent partner of women, men, or waria. The number of samplesis 773 respondents by performing data cleaning.

The results showed that the relationshipof condom use with HIV status gave p value = 0.059 There was a significant correlationbetween anal sex with HIV status with p value = 0,027. More counseling andinterventions are needed to make condom use more effective as a method of HIVprevention.

Keywords: AIDS,HIV, MSM, Condom.
Read More
T-5399
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive