Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39008 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wiskan Husein; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Dadan Erwandi, Lydia Hardiani, Tiyas Nurcahyani
T-4916
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astien Setianingrum; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Alwahono, Lana Saria
Abstrak: Manajemen risiko merupakan proses mengelola risiko agar organisasi dapat mencapai tujuan. Dibutuhkan pondasi yang kuat tentang konsep manajemen risiko sebelum menerapkannya. Penelitian ini akan menganalisis manajemen risiko keselamatan pertambangan di PT HPU site PDU, DMI, KMO, dan MGA berdasarkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Wawancara mendalam dilakukan dengan triangulasi sumber yaitu, sumber data dari pengawas tingkat Project Manager, Superintendent, dan Foreman. Hasil wawancara dilakukan analisis konten dan dibandingkan dengan dokumen PT HPU berdasarkan SMKP Minerba dilengkapi referensi lain tentang standar manjemen risiko (ISO 31000:2009, AS/NZS 4360:2004, dan ISO 45001:2018). Berdasarkan analisis konten, didapati bahwa interpretasi pengawas di PT HPU tentang manajemen risiko belum sepenuhnya sesuai dengan standar manajemen risiko karena prosedur perusahaan belum mengakomodir seluruh proses manajemen risiko. Oleh karena itu perlu adanya penyusunan prosedur tentang manajemen risiko yang terintegrasi dengan sistem manajemen keselamatan pertambangan perusahaan dan dipahami oleh setiap lini manajemen.
Read More
T-5694
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alles Sandra Tardeli; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Mersi Abadi
Abstrak:
keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan/atau pemurnian, pengangkutan dan pencucian serta pascatambang, yang pada umumnya dilaksanakan di area yang terpencil (remote area), oleh karena itu kegiatan pertambangan sangat rentan terhadap risiko K3 terutama kecelakaan tambang. Tujuan penelitian ini melakukan kajian analisis gap Human Factors dengan metode HFACS dan Interaksi antar faktor yang berkontribusi terhadap kejadian Kecelakaan Tambang Berakibat Fatal pada tahun 2022. Metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) dikembangkan oleh Wiegmann dan Shapell pada tahun 2003 yang didasarkan pada model swiss cheese, pada penelitian ini akan secara lebih mendalam mengungkap bahwa faktor kontribusi manusia yang tidak muncul secara tiba-tiba atau akibat pelanggaran individual pekerja namun ada kontribusi dari kegagalan pengelolaan organisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain case study terhadap laporan Berita Acara hasil investigasi Kecelakaan Tambang berakibat 8 perusahaan pertambangan mineral dan batubara pada tahun selama periode bulan Januari sampai dengan Desember 2022. Hasil dari penelitian ini terdapat 43 penyebab dari sisi human factors, dengan distribusi terdiri atas skill-based error sebesar 2%, decision error sebesar 14%, perceptual error 2%, exceptional violation 0%, lingkungan fisik 5%, lingkungan teknis 9%, kondisi operator 7%, keterbatasan fisik/mental 0%, kegagalan pengelolaan pekerja 7%, kesiapan personil 2%, supervisi yang tidak memadai 16%, operasi yang tidak sesuai rencana 5%, gagal memperbaiki masalah 0%, pelanggaran kepemimpinan 2% dan proses organisasi sebesar 9%.

Mining activities are a capital-intensive and occupational safety and health (K3) risk-intensive industry, which includes the stages of general investigation, exploration, feasibility studies, construction, mining, processing and/or refining, transportation and washing and post-mining activities, which are generally carried out in remote areas, therefore mining activities are very vulnerable to K3 risks, especially mining accidents. The aim of this research is to study the Human Factors gap analysis using the HFACS method and the interactions between factors that contribute to fatal mining accidents in 2022. The Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) method was developed by Wiegmann and Shapell in 2003 which is based on the model swiss cheese, this research will reveal in more depth that the human contribution factor does not appear suddenly or as a result of individual workers' violations but there is a contribution from failure in organizational management. This research uses a qualitative method with a case study design on the Minutes of Mining Accident Investigation Reports affecting 8 mineral and coal mining companies in the period January to December 2022. The results of this research are 43 causes from the human factors side, with a distribution consisting of on skill-based error of 2%, decision error of 14%, perceptual error of 2%, exceptional violation 0%, physical environment 5%, technical environment 9%, operator condition 7%, physical/mental limitations 0%, worker management failure 7%, personnel readiness 2%, inadequate supervision 16%, operations not according to plan 5%, failure to fix problems 0%, leadership violations 2% and organizational processes 9%.
Read More
T-6916
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhansyah Pratama; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Propana Okionomus Ali, Herna Rosalin Manullang
Abstrak:
Industri pertambangan mineral dan batubara merupakan sektor berisiko tinggi yang masih mencatat kecelakaan fatal meskipun telah memiliki regulasi dan sistem manajemen keselamatan. Investigasi kecelakaan yang terlalu berfokus pada tindakan tidak aman pekerja berisiko mengabaikan faktor laten pada tingkat organisasi, pengawasan, kondisi kerja, dan sistem pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi accident archetypes atau pola kegagalan sistemik berulang pada kecelakaan fatal pertambangan mineral dan batubara di Indonesia melalui pendekatan Human Factors Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI). Penelitian menggunakan desain kualitatif studi multi-kasus berbasis data sekunder berupa laporan investigasi kecelakaan tambang fatal tahun 2025 dari Kementerian ESDM. Dari 44 kasus fatalitas, tujuh kasus di regional Sumatera dan Kalimantan dipilih secara purposive berdasarkan kelengkapan data, keragaman aktivitas operasional, dan kompleksitas sistemik. Analisis dilakukan melalui directed content analysis, coding HFACS-MI, causal pathways, cross-case matrix, causal loop diagram, dan validasi expert judgement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organizational process, inadequate supervision, personnel factors, dan physical/technological environment muncul secara konsisten pada seluruh kasus yang dianalisis. Unsafe acts tidak berdiri sebagai penyebab tunggal, melainkan sebagai manifestasi akhir dari kondisi laten organisasi, pengawasan, kompetensi, dan lingkungan kerja. Penelitian ini mengidentifikasi empat accident archetypes, yaitu Cost-Driven Operational Normalization, Defense-in-Depth Collapse, Competence Illusion in High-Risk Engineering Tasks, dan Reactive Compliance Trap. Temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan kecelakaan fatal perlu bergeser dari event-based intervention menuju structure-based intervention melalui penguatan pengawasan, critical control verification, preventive maintenance, verifikasi kompetensi, dan evaluasi efektivitas prosedur keselamatan di lapangan.

The mineral and coal mining industry is a high-risk sector that continues to experience fatal accidents despite the existence of safety regulations and management systems. Accident investigations that focus primarily on workers’ unsafe acts may overlook latent factors at the organizational, supervisory, working condition, and control-system levels. This study aimed to explore accident archetypes, or recurring patterns of systemic failure, in fatal mineral and coal mining accidents in Indonesia using the Human Factors Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI). This research employed a qualitative multi-case study design based on secondary data from fatal mining accident investigation reports issued by the Ministry of Energy and Mineral Resources in 2025. Of 44 fatal accident cases, seven cases from the Sumatra and Kalimantan regions were purposively selected based on data completeness, operational diversity, and systemic complexity. Data were analyzed using directed content analysis, HFACS-MI coding, causal pathways, cross-case matrix, causal loop diagram, and expert judgement validation. The findings showed that organizational process, inadequate supervision, personnel factors, and physical/technological environment consistently appeared across all analyzed cases. Unsafe acts did not stand as single causes of accidents, but rather as final manifestations of latent organizational conditions, supervision, competence, and work environment. Four accident archetypes were identified: Cost-Driven Operational Normalization, Defense-in-Depth Collapse, Competence Illusion in High-Risk Engineering Tasks, and Reactive Compliance Trap. These findings suggest that fatal accident prevention should shift from event-based intervention toward structure-based intervention by strengthening supervision, critical control verification, preventive maintenance, competence verification, and evaluation of the actual effectiveness of safety procedures in the field.
Read More
T-7588
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herna Rosalin Manullang; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Lana Saria, Lydia Hardiani
Abstrak:
Latar Belakang: The World Health Organization (WHO) telah menetapkan Corona Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi. Untuk mengendalikan penyebaran virus SAR-CoV-2, pemerintah telah membuat berbagai kebijakan. Tempat kerja merupakan salah satu lokasi yang berpotensi menyebabkan penularan virus SAR-COV-2, salah satunya di sektor pertambangan. Di masa pandemi COVID-19, pengelolaan keselamatan pertambangan dihadapkan pada bahaya baru yaitu virus SARS-COV-2 dengan risiko penularan yang sangat cepat, yang memerlukan peningkatan pengelolaan keselamatan pertambangan dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengelolaan keselamatan pertambangan di perusahaan batubara sebelum dan saat pandemi COVID-19. Metode: Menggunakan desain cross sectional, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada perusahaan batubara pada periode Oktober hingga Desember 2021. Sampel sebanyak 35 perusahaan dianalisis dengan menggunakan data kuantitatif yaitu telaah dokumen laporan RKAB 2017 hingga 2021. Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh gambaran pengelolaan keselamatan pertambangan dengan capaian pengelolaan keselamatan pertambangan saat pandemi COVID-19 (2020-2021) lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 (2017-2019 Kesimpulan: Dalam hal ini terbukti pandemi COVID-19 mempengaruhi pengelolaan keselamatan pertambangan, bahkan perusahaan yang tidak melakukan kegiatan penambangan karena kasus terpapar COVID-19.

Background: The World Health Organization (WHO) has declared Corona Disease 2019 (COVID-19) as a pandemic. To control the spread of the SAR-CoV-2 virus, the government has made various policies. The workplace is one of the locations that has the potential to cause the transmission of the SAR-COV-2 virus, one of which is in the mining sector. During the COVID-19 pandemic, mining safety management was faced with a new danger, namely the SARS-COV-2 virus with a very rapid risk of transmission, which required improved management compared to before the COVID-19 pandemic occurred. Objective: This research is aimed to see how mining safety management in coal companies before and during the COVID-19 pandemic. Methods: Using a cross sectional design, with quantitative and qualitative approaches. The study was conducted on coal companies in the period from October to December 2021. A sample of 35 companies was analyzed using quantitative data, namely document review from the 2017 to 2021 RKAB reports. Result: Based on the research that has been done, an overview of mining safety management in the process of mining activities is obtained. Mining safety management achievement data during the COVID-19 (2020-2021) pandemic is lower than before the COVID-19 pandemic (2017-2019 Conclusion: In this case it is proven that the COVID-19 pandemic affects mining safety management, even companies that do not perform mining activities due to cases of being exposed to COVID-19.
Read More
T-6493
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Panji Ario Pramuduno; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Herry Permana
S-8793
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desmantoh; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Aris Raharjo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran iklim keselamatan di PT XY yang merupakan perusahaan jasa pertambangan yang bekerja di area divisi concentrating PT Z. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan semi kuantitatif. Data diambil pada Bulan Oktober ? November 2022 dari area North South, SAG-Mill 1, dan SAGMill 2 dengan kuesioner yang diadaptasi dari NOSACQ-50 yang meliputi 7 variabel iklim keselamatan di tempat kerja. Kemudian, dilakukan wawancara beberapa pekerja sebagai bahan analisis mendalam untuk pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan keseluruhan iklim keselamatan PT XY ada pada angka 3,14 (Cukup Baik). Faktor Prioritas dan komitmen manajemen menunjukkan angka 3,19 (Cukup Baik), Pemberdayaan manajemen keselamatan menunjukkan angka 3,11 (Cukup Baik), Keadilan manajemen keselamatan menunjukkan angka 3,06 (Cukup Baik), Komitmen tenaga kerja terhadap keselamatan menunjukkan angka 3,27 (Cukup Baik), Prioritas keselamatan tenaga kerja dan tidak ditolerirnya bahaya dan risiko menunjukkan angka 3,04 (Cukup Baik), Pembelajaran, komunikasi, dan inovasi menunjukkan angka 3,18 (Cukup Baik), dan Kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan menunjukkan angka 3,16 (Cukup Baik)

This study aims to obtain an overview of the safety climate at PT XY, which is a mining service company working in the area of the PT Z concentrating division. This research uses a cross-sectional study design with a semi quantitative approach. Data was taken in October - November 2022 from the North South, SAG-Mill 1, and SAG-Mill 2 areas using a questionnaire adapted from NOSACQ-50, including 7 climate variables of safety at work. Then, conducted interviews with several workers as material for in-depth analysis for discussion. The results showed that PT XY's overall safety climate was at 3.14 (Good Enough). Management safety priority, commitment, and competence factors show a score of 3.19 (Good Enough), Management safety empowerment shows a score of 3.11 (Good Enough), Management safety justice shows a score of 3.06 (Good Enough), Workers? safety commitment shows a score of 3, 27 (Good Enough), Workers? safety priority and risk non-acceptance is 3.04 (Good Enough), Safety communication, learning, and trust in co-worker safety competence is 3.18 (Good Enough), and Workers? trust in the efficacy of safety systems is indicated 3.16 (Good Enough)
Read More
T-6540
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neneng Churaeroh; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, C. Setyo Rohadi
Abstrak:

Setiap kasus insiden dipicu berbagai faktor penyebab dasar dan penyebab langsung berupa faktor pekerjaan dan faktor pribadi. Mengacu pada teori Heinrich bahwa faktor pribadi adalah 80% penyebab dasar terjadinya insiden, maka faktor pribadi pekerja harus dikelola serius, antara Iain melalui pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran. Untuk mendapatkan gambaran pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran, tesis ini membahas bagaimana melakukan sebuah analisis kebutuhan pelatihan K3 bagi operator dan mekanik di PT. X, sebuah perusahaan pertambangan batubara terbuka. Kasus insiden tertinggi perusahaan ini menimpa operator alat berat dan mekanik. Populasi kedua jabatan ini paling tinggi dibanding jabatan lainnya dengan faktor risiko K3 yang juga paling tinggi. Mayoritas penyebab dasar insiden yang terjadi adalah faktor pribadi yang terkait dengan kurang pengetahun, stres psikologis. dan perilaku. Proses zmalisis kebutuhan pelatihan yang digunakan dalam tesis ini adalah: analisis organisasi, yaitu untuk mengambarkan dukungan organisasi atas penyelenggaraan pelatihan; analisis tugas, yaitu untuk mendapatkan gambaran jenis pelatihan yang dibutuhkan berdasarkan tugas yang dilakukan dan faktor risiko kerjanya; dan analisis personal, yaitu untuk rnendapatkan gambaran kompetensi jabatan yang dimiliiki pekerja. Selanjutnya dilakukan kategorisasi pelatihan K3 berdasarkan tujuan pelatihan. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk dapat lebih mengeksplorasi faktor risiko yang dihadapi operator dan mekanik, dan mengeksplorasi jenis pelatihan K3 yang dibutuhkan kedua jabatan temebut melalui diskusi dengan level manajemen kedua jabatan tensebut dan manajemen yang mengclola pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan. Diskusi yang dilakul-ran borpegang pada ceklis pelatihan yang telah disiapkan peneliti, tujuarmya adalah sebagai pedornan yang mernpennudah proses diskusi. Pada akhirnya, penelitian ini dapat menggambarkan bahwa manajemen PT. X mendulcung penuh pelaksanaan pelatihan, menggambarkan jonis pelatihan yang dibutuhkan, mengetahui bahwa data kornpetensi pckerja belum dimiliki, dan dapat menghasilkan matrik pelatihan K3 bagi operator dan mckanik berdasar faktor risiko kerja yang disusun berdasarkan tujuan pelatihan. Dengan data-data yang ada dalam tesis ini, PT. X diharapkan mempertahankan hal-hal positif yang telah dimiliki dan meningkatkan dokumentasi kompetensi pekerja per individu sehingga program pengembangan per individu Iebih mudah dilaksanakan. Disamping itu, analisis kebutuhan pelatihan K3 dan pelatihan lainnya disarankan untuk dikaji ulang secara berkesinambungan.


Every analysis on any incident is triggered by various factors, either basic causes or direct causes, including occupational and personal ones. According to Heinrich, personal factors contribute 80% of basic causes of incidents. Hence, personal factors of employees should be genuinely managed by, among outliers, providing ejective and ejicient training on occupational health and safety. In order to provide a description on an ejective and ejicient training on occupational health and salty, this thesis will discuss how to analyze requirements of occupational health and safety training for operators and mechanics in PT X an open coal mining company. Most incidents in the company are related to heavy-duty operators and mechanics. Besides having the highest risk in term of occupational health and safety, the two are the most populated positions. The majority of incidents happened because of personal factors, e.g. lack of knowledge, psychological stress, and unsafe behavior. The processes involved in the analysis on training requirements include: organizational analytsis, i.e. describing organizational support for training; task analysis, i.e. desiring types of required training based on tasks performed and their occupational risks; and personal analysis, i.e. describing occupational competency acquired by the workers. Then, classification on occupational health and safety training based on training objectives will follow. This study tales a qualitative approach. The objective is to allow greater exploration on risk factors facing the operators and mechanics, and to explore types of occupational health and safety training needed by the two positions through discussion with management-level personnel of the two positions and the management staffs' responsible fur human resource development. The discussion rowers to the training checklist prepared by researcher, providing guidelines for the discussion. Eventually, this study can illustrate how the management ofP1'f X has been fully supportive to the training, describe the types of training required, show that data on employees competency are not yet available, and generate occupational health and safety training matrix operators and mechanics based on the occupational risk factors as listed in training objectives. It is expected that the data provided in the thesis will allow PII X to maintain positives already found in the company and to improve documentation on competency of each individual employee, which will make programs on individual development better executed. Also. it is recommended that the analysis on occupational health and safety training requirements is continuously revisited.

Read More
T-3010
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adenan; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Doni Hikmat Ramdhan, Roslinormansyah Ridwan
T-3407
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulthan Aliyafiansyah; Pembimbing: Hendra; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Dani Wirahandoko
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan permasalahan serius di industri pertambangan yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelelahan dan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja operator dan mekanik di Site A PT X tahun 2026. Sebanyak 338 responden berpartisipasi, terdiri dari 242 operator dan 96 mekanik. Tingkat kelelahan diukur menggunakan Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Faktor risiko terkait pekerjaan meliputi beban kerja (NASA-TLX), stres kerja (PSS-10), serta karakteristik individu seperti durasi kerja, masa kerja, dan shift kerja. Faktor risiko tidak terkait pekerjaan meliputi usia, status gizi, kualitas tidur (PSQI), kuantitas tidur, waktu perjalanan, konsumsi kafein, aktivitas fisik (IPAQ), dan perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas operator berada pada kategori tidak lelah baik pada kelelahan kronis (76,03%) maupun kelelahan akut (61,98%), dengan pemulihan antar shift yang cukup (81,81%). Pada mekanik, sebagian besar juga berada pada kategori tidak lelah untuk kelelahan kronis (62,5%) dan kelelahan akut (56,25%), namun mayoritas mekanik (60,6%) mengalami pemulihan antar shift yang kurang. Dari faktor risiko terkait pekerjaan, hanya stres kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,043; OR = 0,57). Dari faktor tidak terkait pekerjaan, kualitas tidur berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis pada operator (p = 0,014; OR = 2,24) dan mekanik (p < 0,05; OR = 8,11), serta dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,74). Kuantitas tidur berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,80). Usia berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,006; OR = 0,46), sedangkan konsumsi kafein berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada mekanik (p = 0,042; OR = 0,33). Dengan ini, perusahaan disarankan untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas tidur pekerja melalui pelatihan sleep hygiene, memvalidasi sistem pemantauan kelelahan yang ada (Parrot/DMS) dengan uji kewaspadaan kognitif, menyesuaikan menu katering pada jam kritis shift malam, memberikan variasi minuman saat sidak fatigue, menambah kapasitas hunian di dalam area IUP, serta menyediakan fasilitas olahraga mandiri di area mess untuk mendorong perilaku hidup aktif.

The Occupational fatigue is a serious issue in the mining industry that can reduce productivity and increase the risk of workplace accidents. This study aimed to analyze fatigue levels and associated risk factors among operators and mechanics at Site A PT X in 2026. A total of 338 respondents participated in this study, consisting of 242 operators and 96 mechanics. Fatigue levels were measured using the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Work-related risk factors included workload (NASA-TLX), work stress (PSS-10), and individual characteristics such as work duration, years of service, and shift work. Non-work-related risk factors included age, nutritional status, sleep quality (PSQI), sleep duration, commuting time, caffeine consumption, physical activity (IPAQ), and smoking behavior. The results showed that the majority of operators were classified as non-fatigued in both chronic fatigue (76.03%) and acute fatigue (61.98%), with adequate inter-shift recovery (81.81%). Among mechanics, most were also classified as non-fatigued for chronic fatigue (62.5%) and acute fatigue (56.25%); however, the majority of mechanics (60.6%) experienced insufficient inter-shift recovery. Among work-related risk factors, only work stress showed a significant association with acute fatigue in operators (p = 0.043; OR = 0.57). Among non-work-related factors, sleep quality was significantly associated with chronic fatigue in both operators (p = 0.014; OR = 2.24) and mechanics (p < 0.05; OR = 8.11), as well as with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.74). Sleep duration was significantly associated with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.80). Age was significantly associated with acute fatigue in operators (p = 0.006; OR = 0.46), while caffeine consumption was significantly associated with fatigue recovery in mechanics (p = 0.042; OR = 0.33). Based on these findings, the company is recommended to optimize workers' sleep quality and quantity through sleep hygiene training, validate the existing fatigue monitoring system (Parrot/DMS) with pre-shift cognitive alertness testing, adjust catering menus during critical nightshift hours, diversify beverages provided during fatigue inspections, expand on-site accommodation within the mining concession area, and provide recreational sports facilities in the worker dormitory area to encourage an active lifestyle.
Read More
S-12456
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive