Ditemukan 38192 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Marisa Rayhani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Renti Mahkota, Sulistyo, Refni Dumesty
Abstrak:
Kematian akibat tuberkulosis (TB) secara global sebanyak lebih dari 95% terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia ikut menyumbang 60% dari keseluruhan kasus TB global (WHO, 2015). Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten termasuk ke dalam lima provinsi dengan estimasi prevalensi TB tertinggi di Indonesia (Riskesdas, 2007 dan 2013). Perlu dibuat model yang mempertimbangkan kondisi lokal spesifik dengan memperhatikan perbedaan lokasi dari aspek geografis, kependudukan, dan kondisi sosial (Eryando, 2007 dan Rahmaniati, 2015). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain potong lintang. Kajian faktor risiko kejadian TB sesuai konsep Model Perilaku Kesehatan oleh Green (1980) dan Kerangka Kerja Faktor Risiko TB oleh WHO (2010) dengan metode Geographically Weighted Regression (GWR) pada 13 kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Hasil penelitian memperlihatkan tiga kelompok faktor risiko dapat menjelaskan kontribusi parameter dalam pemodelan kejadian TB di kedua provinsi sebesar 6%. Model GWR mampu menggambarkan variasi tiga kelompok faktor risiko kejadian TB di kedua provinsi sebesar 96%. Estimasi rata-rata proporsi kejadian TB akan meningkat pada risiko pendidikan rendah, bekerja, dan tersedianya fasilitas kesehatan TB. Status pendidikan menjadi parameter yang bernilai signifikan pada setiap kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota menghasilkan nilai estimasi berbeda yang menunjukkan besaran koefisien kejadian TB yang dipengaruhi oleh setiap perubahan parameternya. Setiap kabupaten/kota di kedua provinsi melalui Dinas Kesehatan perlu menerapkan kebijakan dan intervensi dengan pertimbangan nilai estimasi parameter pada faktor risiko sesuai pemodelan GWR, terutama peningkatan pendidikan dan promosi kesehatan TB. Kata kunci: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberkulosis (TB), Faktor Risiko Deaths from tuberculosis (TB) globally by more than 95% occur in low- and middle-income countries. Indonesia contributes 60% of all global TB cases (WHO, 2015). DKI Jakarta Provinces and Banten Provinces are included in the five provinces with the highest estimated prevalence of TB in Indonesia (Riskesdas, 2007 and 2013). Its need some model to consider the specific local conditions, which is geographical, demographic, and social aspects for appropriate health system improvement by region (Eryando, 2007 and Rahmaniati, 2015). This research is an analytic quantitative research with cross sectional design. Assessment of risk factors for TB incidence according to the Health Behavior Model by Green (1980) and TB Risk Factors Framework by WHO (2010) using Geographically Weighted Regression (GWR) method in 13 districts/cities in DKI Jakarta Province and Banten Province. The results showed three groups of risk factors could explain the contribution of parameters in modeling TB incidence in both provinces by 6%. The GWR model was able to describe the variation of three groups of TB risk factors in both provinces by 96%. The average estimate of the proportion of TB incidence will increase in the risk of low education, work, and the availability of TB health facilities. Educational status becomes a significant parameter in every district/city. Each district/city produces a different estimation value indicating the magnitude of TB incidence coefficients that is affected by each parameter change. Each district/city in both provinces through the Department of Health needs to implement policies and interventions with consideration of parameter estimation values on risk factors according to GWR modeling, especially improving TB education and promotion. Keywords: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberculosis (TB), Risk Factor
Read More
T-4952
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siva Putri Sadinanti; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Inggariwati
Abstrak:
Read More
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta memiliki prevalensi pneumonia balita tertinggi di Pulau Jawa pada tahun 2023, sementara Provinsi Banten dan Jawa Barat merupakan wilayah penyangga dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan karakteristik wilayah yang beragam. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola persebaran kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan pola persebaran kejadian pneumonia pada balita serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial menggunakan Moran’s I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara global kejadian pneumonia pada balita memiliki pola sebaran menyebar dan tidak menunjukkan autokorelasi spasial yang signifikan. Faktor kepadatan penduduk, penggunaan bahan bakar utama untuk memasak berisiko, rumah sehat, penduduk berpendidikan rendah, penduduk miskin, ketersediaan fasilitas kesehatan dan kelengkapan imunisasi dasar menunjukkan pola sebaran mengelompok, sedangkan variabel ibu merokok memiliki pola sebaran menyebar. Meskipun kejadian pneumonia pada balita tidak mengelompok secara global, terdapat wilayah tertentu yang memiliki risiko tinggi berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhinya. Pemerintah diharapkan dapat melakukan upaya preventif yang berdasarkan karakteristik sebaran faktor risiko di masing-masing wilayah untuk meningkatkan efektivitas program penanggulangan pneumonia balita.
Pneumonia remains one of the leading causes of morbidity and mortality among children under five in Indonesia. In 2023, DKI Jakarta had the highest prevalence of childhood pneumonia on Java Island, while Banten and West Java serve as buffer provinces with high population mobility and diverse regional characteristics. These conditions may influence the spatial distribution of pneumonia among children under five. This study aimed to examine the distribution and spatial patterns of childhood pneumonia and the factors influencing its occurrence in DKI Jakarta, Banten, and West Java in 2023. This research employed an ecological study design with a spatial analysis approach using Moran’s I. The results showed that, at the global level, childhood pneumonia exhibited a dispersed spatial pattern and did not demonstrate significant spatial autocorrelation. Population density, the use of high-risk primary cooking fuels, healthy housing conditions, low educational attainment, poverty, the availability of health facilities and complete basic immunization showed clustered spatial patterns, whereas mother who smoked exhibited dispersed patterns. Although childhood pneumonia did not cluster globally, certain areas were identified as having a high risk based on the spatial distribution of influencing factors. It is expected that the government can implement more targeted preventive approaches based on the spatial characteristics of risk factors in each area to improve the effectiveness of childhood pneumonia control programs.
S-12287
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ratu Fathya Tasya Fuadyah; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Chita Septiawati
Abstrak:
Prevalensi stroke mengalami peningkatan pada tahun 2013 di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (16,9%) dan Jawa Timur (16%) dibandingkan tahun 2007 (8,4%; 7,7%). Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan perbandingan determinan utama kejadian stroke di Provinsi DIY dan Jawa Timur pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di Provinsi DIY dan Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukan faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke di Provinsi DIY adalah umur , hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, tingkat pendidikan, dan wilayah tempat tinggal. Sementara itu, faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke di Provinsi Jawa Timur adalah umur, jenis kelamin, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, aktifitas fisik, kebiasaan merokok, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian stroke di Provinsi DIY dan Jawa Timur.
Kata kunci : Stroke, Determinan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur.
Stroke prevalence increased in 2013 in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (16,9%) and Jawa Timur (16%) from 2007 (8,4%; 7,7%). This research was conducted to describe the comparison of the main determinant of stroke between DIY and Jawa Timur in 2013. This research used data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. The design of this study is cross-sectional. The respondents of this research are resident from DIY and Jawa Timur who are qualified from inclusion and exclusion criteria. The results of this research showed that age, hypertension, diabetes mellitus, heart disease, education, and residence associated with stroke in DIY. Meanwhile, factors that have association with stroke in Jawa Timur are age, gender, hypertension, diabetes mellitus, heart disease, physical activity, smoking habit, and education. This research is expected to be a consideration in stroke prevention and control program in DIY and Jawa Timur.
Keywords :Stroke, Determinant, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur.
Read More
Kata kunci : Stroke, Determinan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur.
Stroke prevalence increased in 2013 in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (16,9%) and Jawa Timur (16%) from 2007 (8,4%; 7,7%). This research was conducted to describe the comparison of the main determinant of stroke between DIY and Jawa Timur in 2013. This research used data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. The design of this study is cross-sectional. The respondents of this research are resident from DIY and Jawa Timur who are qualified from inclusion and exclusion criteria. The results of this research showed that age, hypertension, diabetes mellitus, heart disease, education, and residence associated with stroke in DIY. Meanwhile, factors that have association with stroke in Jawa Timur are age, gender, hypertension, diabetes mellitus, heart disease, physical activity, smoking habit, and education. This research is expected to be a consideration in stroke prevention and control program in DIY and Jawa Timur.
Keywords :Stroke, Determinant, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur.
S-8661
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Khumaidi Annaja; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: R. Sutiawan, Rico Kurniawan, Fajar Nugraha, Dede Anwar Musadad
Abstrak:
Read More
Rumah layak huni (RLH) merupakan salah satu determinan sosial kesehatan yang berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mendukung tercapainya derajat kesehatan masyarakat. Meskipun demikian, pada tahun 2025 proporsi rumah tangga yang menempati rumah layak huni di Provinsi Jawa Barat baru mencapai 58,46%, sehingga masih menunjukkan disparitas antarwilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan determinan struktural serta determinan lingkungan dan geografis dengan proporsi rumah layak huni pada tingkat kecamatan di wilayah klaster terpilih Provinsi Jawa Barat tahun 2025 dengan mempertimbangkan heterogenitas spasial. Penelitian menggunakan desain studi ekologi menggunakan data sekunder tahun 2025 dengan unit analisis sebanyak 136 kecamatan yang mencakup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Subang. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan spasial melalui pemodelan Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model GWR menghasilkan nilai R-Square sebesar 0,709 yang menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 70,9% variasi capaian RLH. Variabel yang signifikan pada seluruh kecamatan meliputi proporsi kepala keluarga laki-laki, proporsi kepala keluarga berpendidikan SMA/PT, dan ketinggian wilayah. Sementara itu, rata-rata jumlah anggota keluarga, proporsi keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pokok, dan proporsi keluarga yang memiliki rumah sendiri signifikan pada sebagian besar wilayah, sedangkan rasio ketergantungan, proporsi keluarga yang memiliki aset, dan kepadatan penduduk menunjukkan hubungan yang bersifat lokal dan heterogen antarwilayah. Hasil sintesis spasial menunjukkan adanya variasi kompleksitas determinan antarwilayah, dengan Bandung Raya memiliki pola determinan yang relatif seragam, Kabupaten Sumedang menunjukkan fenomena transisi spasial, dan Kabupaten Subang memiliki kompleksitas determinan yang lebih beragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan antara determinan struktural serta determinan lingkungan dan geografis dengan capaian rumah layak huni bersifat heterogenitas spasial.
Adequate housing (Rumah Layak Huni/RLH) is one of the social determinants of health that plays an important role in reducing the risk of environmentally related diseases, improving physical and mental health, and supporting the achievement of better population health outcomes. However, in 2025, only 58.46% of households in West Java Province occupied adequate housing, indicating persistent disparities across regions. This study aimed to analyze the association between structural determinants and environmental and geographical determinants with the proportion of adequate housing at the sub-district level in selected cluster areas of West Java Province in 2025 while accounting for spatial heterogeneity. This study employed an ecological study design using secondary data from 2025, with 136 sub-districts as the units of analysis, covering the City of Bandung, Cimahi City, Bandung Regency, West Bandung Regency, Sumedang Regency, and Subang Regency. Spatial analysis was conducted using the Geographically Weighted Regression (GWR) model. The results showed that the GWR model achieved an R-squared value of 0.709, indicating that the model explained 70.9% of the variation in adequate housing across the study area. Variables that were significantly associated with adequate housing in all sub-districts included the proportion of male household heads, the proportion of household heads with senior high school or higher education, and elevation. Meanwhile, the average household size, the proportion of households able to meet their basic needs, and the proportion of owner-occupied households were significant in most areas. In contrast, the dependency ratio, the proportion of households owning assets, and population density exhibited spatially varying and heterogeneous relationships across sub-districts. Spatial synthesis further revealed variations in the complexity of determinants across regions, with the Bandung Metropolitan Area showing relatively homogeneous determinant patterns, Sumedang Regency exhibiting a spatial transition pattern, and Subang Regency demonstrating the greatest complexity of determinants. This study concludes that the relationships between structural determinants, environmental and geographical determinants, and adequate housing exhibit spatial heterogeneity.
T-7611
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nafa Shahira Anglila Syaharani; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Read More
Komplikasi kehamilan adalah salah satu penyebab kematian ibu yang dapat berdampak tidak hanya pada kesehatan ibu tetapi juga pada bayi baru lahir. Usia yang terlalu muda (35 tahun) merupakan usia ibu hamil yang berisiko tinggi terhadap komplikasi kehamilan. Banten dan Jawa Barat berkontribusi terhadap tingginya angka wanita yang hamil pada usia risiko tinggi sekaligus juga menduduki peringkat lima tertinggi provinsi dengan persentase komplikasi kehamilan se-Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan berdasarkan usia ibu hamil risiko tinggi di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder dari hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah 777 wanita yang melahirkan anak terakhir lahir hidup dalam kurun waktu lima tahun terakhir yang berusia muda dan tua saat hamil dan bertempat tinggal di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda model prediksi yang distratifikasi berdasarkan usia ibu hamil risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan lebih banyak terjadi pada ibu hamil usia tua di kedua provinsi. Di Provinsi Banten, variabel yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia muda adalah status kehamilan, umur kandungan saat pemeriksaan kehamilan pertama, jumlah pemeriksaan kehamilan, masalah akses perawatan kesehatan ibu, pengambilan keputusan perawatan kesehatan ibu, tingkat pendidikan ibu, dan indeks kekayaan dengan umur kandungan saat pemeriksaan kehamilan pertama dan masalah akses perawatan kesehatan ibu sebagai variabel yang paling berhubungan. Pada ibu hamil usia tua, variabel yang berhubungan secara signifikan adalah status kehamilan dan jumlah pemeriksaan kehamilan dengan jumlah pemeriksaan kehamilan sebagai variabel yang paling berhubungan. Di Provinsi Jawa Barat, variabel yang berhubungan secara signifikan pada ibu hamil usia muda adalah tingkat pendidikan ibu dengan status pekerjaan ibu sebagai variabel yang paling berhubungan. Untuk mencegah komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia risiko tinggi, institusi kesehatan terkait perlu meningkatkan promosi edukasi terkait komplikasi kehamilan dan “4 Terlalu dan 3 Terlambat”; akses layanan kesehatan reproduksi; cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil; serta deteksi komplikasi kehamilan berdasarkan faktor risiko yang berpengaruh signifikan.
Pregnancy complications are one of the causes of maternal death which can affect not only on mother’s health but also on the newborn. Ages that are too young (35 years) are the ages of pregnant women who are at high risk of pregnancy complications. Banten and West Java Province contribute to the high number of women who pregnant at a high-risk maternal age and are also ranked as the fifth highest province with the percentage of pregnancy complications in Indonesia. This study aims to determine the factors associated with pregnancy complications according to high-risk maternal age in the Provinces of Banten and West Java. The research design was cross-sectional using secondary data from 2017 Indonesia Demographic Health Survey (IDHS). The sample of this study was 777 women who gave birth to their last live birth within the last five years who were at young and advanced ages during pregnancy and lived in Banten and West Java Province. Data was analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression stratified by high-risk maternal age. The results showed that pregnancy complications were more common in older pregnant women in both provinces. In Banten Province, the variables associated with pregnancy complications in young age pregnant women are pregnancy status, months pregnant at first received antenatal care, number of received antenatal care, problems accessing maternal health care, maternal health care decision-making, maternal education level, and wealth index with months pregnant at first received antenatal care and problems accessing maternal health care as the most related variables. In advanced age pregnant women, the variables that were significantly related were pregnancy status and number of received antenatal care with number of received antenatal care being the most related variable. In West Java Province, the variable that is significantly related to in young age pregnant women is maternal education level with maternal employment status as the most related variable. To prevent pregnancy complications in pregnant women of high risk age, health institutions need to increase promotion of education related to pregnancy complications and “4 Terlalu dan 3 Terlambat”; access to reproductive health services; coverage of health services for pregnant women; and detection of pregnancy complications based on risk factors that have a significant effect.
S-11415
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Doni Lasut; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Tris Eryando, Martya Rahmaniati Makful, Roy Nusa, Beben Saiful Bahri
Abstrak:
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Di Propinsi Jawa Barat Kabupaten Cianjur merupakan 10 kabupaten yang masih tinggi kejadian diare pada penduduknya. Penelitian ini dengan rancangan cross-sectional dan sumber data sekunder dari Survey Cepat FKM-UI Tahun 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan diare menggunakan analisis regresi linear dan regresi spasial SGWR (Semiparametric Geographically Weigthed Regression). Hasil analisis regresi linear didapatkan kebiasaan BAB menjadi faktor utama dengan dikontrol proporsi SPAL, balita, pendidikan SD, akses air dan jarak ke pencemar. Hasil analisis SGWR didapatkan model GWR global (letak pencemar dan balita) dan model GWR lokal (Kebiasaan BAB dan SPAL). SGWR dengan pembobotan jarak optimal sebesar 3 Km sampai 15 Km mampu memprediksi dengan model yang lebih sesuai untuk tiap area. Kata Kunci : Diare, Regresi, SGWR, GWR
Read More
T-4307
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pelegia Samira Pattdiana Sitompul; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Makful Rahmaniati, Retno Kusuma Dewi
Abstrak:
Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis s dan bivariat dengan menggunakan analisis spasial serta uji korelasi pada variabel untuk mengetahui hubungan faktor yang ada terhadap jumlah kasus baru tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 135 yang merupakan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2015 hingga 2019. Hasil analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan terdapat jumlah keluarga miskin (p-value = 0,000), jumlah puskesmas (p-value = 0,003), jumlah desa siaga (p-value = 0,000), jumlah rumah sakit umum (p-value = 0,007), dan jumlah dokter umum (p-value = 0,038) dimana keenam variabel memiliki p-value dibawah 0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan menunjukkan variabel jumlah dokter umum (0,153) memiliki hubungan yang sangat rendah dan variabel jumlah keluarga miskin (0,306), jumlah puskesmas (-0,236), jumlah desa siaga (-0,283) dan jumlah RSU (-0,210) memiliki hubungan yang rendah terhadap insiden tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat.Program penanggulangan tuberkulosis di Jawa Barat penting untuk dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi jumlah penyakit tuberkulosis kedepannya.
Read More
S-10710
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anita Dwi Astuti; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Verry Adrian
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis spasial proporsi kejadian penyakit diare dengan kepadatan penduduk, pendidikan rendah, depot air minum, tempat pengelolaan pangan, fasilitas kesehatan (puskesmas), dan tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) di DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional karena penelitian dilakukan menggunakan data sekunder yang tersedia di website akses bebas yang meliputi variabel jumlah kejadian diare tahun 2019 untuk setiap kecamatan yang terdiri dari 36 kecamatan, kepadatan penduduk, pendidikan rendah, sumber air minum, tempat pengelolaan pangan, tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan), dan fasilitas kesehatan (puskesmas).
Read More
S-10712
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tika Yuliana; Pembimbing: Besral; Penguji: Evi Martha, Milla Herdayati, Agus Triwinarto, Tiara Luthfie
Abstrak:
Read More
Stunting merupakan pertumbuhan tinggi badan anak yang tidak normal yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terlihat sejak balita usia 24 bulan. Angka prevalensi kasus stunting di Provinsi Banten menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (2021) mencapai 294.862 balita dan masuk lima besar daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi, hubungan, interaksi dan colinearitas ASI eksklusif dengan kejadian stunting dikontrol oleh factor determinan stunting. Disain studi penelitian yaitu cross sectional dengan mengambil data Riskesdas 2018 mengenai stunting dan faktor determinan stunting. Dari hasil penelitian diperoleh kasus stunting di Provinsi Banten pada baduta usia 6-23 bulan sebanyak 29,2%. Baduta yang tidak mendapatkan ASI secara eksklusif 1,2 kali lebih berisiko mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI secara eksklusif setelah dikontrol oleh BBLR, MP-ASI dan panjang badan lahir. Berdasarkan penelitian ini program pemeriksaan kesehatan pra-menikah bekerjasama dengan KUA dan fasilitas kesehatan setempat perlu dilakukan guna mencegah terjadinya BBLR dan panjang badan lahir tidak normal. Serta melakukan penyuluhan berupa praktik pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI pada calon orang tua bayi dan keluarga besar bayi (nenek, kakek, paman, bibi), supaya pengaruh budaya tidak mempengaruhi dalam pemberian ASI eksklusif.
Stunting is an abnormal growth in children's height caused by chronic malnutrition and recurrent infections that have been seen since the age of 24 months. The prevalence rate of stunting cases in Banten Province according to the Indonesian Toddler Nutrition Status Survey (2021) reached 294,862 toddlers and is included in the top five regions with the highest stunting rate in Indonesia. The purpose of this study was to determine the frequency distribution, relationship, interaction and colinearity of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting being controlled by the determinants of stunting. The research study design is cross sectional by taking the 2018 Riskesdas data regarding stunting and the determinants of stunting. From the results of the study, it was found that stunting cases in Banten Province in children aged 6-23 months were 29.2%. Under-fives who are not exclusively breastfed are 1.2 times more at risk of experiencing stunting compared to toddlers who are exclusively breastfed after being controlled by low birth weight, complementary foods, and birth length. Based on this research, a pre-marital health check-up program in collaboration with the Office of Religious Affairs and local health facilities needs to be carried out to prevent low birth weight and abnormal birth length. As well as conducting counseling in the form of the practice of exclusive breastfeeding and complementary foods for prospective baby parents and the baby's extended family (grandmothers, grandparents, uncles, aunts), so that cultural influences do not affect exclusive breastfeeding.
T-6512
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firanda Dessy Syahrani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Rahmadewi
Abstrak:
Tujuan penelitian ini ingin melihat faktor yang berhubungan dengan persalinan sesar di Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data sekunder SDKI 2017. Hasil analisis menunjukan proporsi persalinan sesar di Jakarta mencapai 32.7%. Hasil analisis regresi menunjukan bahwa komplikasi persalinan dan pemeriksa kehamilan merupakan faktor yang berhubungan dengan persalinan melalui metode sesar. Pemeriksa kehamilan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan persalinan melalui metode sesar.
Read More
S-10831
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
