Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37538 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indiarta Solihin; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Besral, Hermawanto, Parulian Sandy Noveria
Abstrak: One of the risks to the nurses' safety and health in the hospital is the needle stick and sharp injuries (NSSI) that can cause injury, disease and even death from blood-borne infections or other body fluids. The incident and reporting of NSSI in RSKO on the nurse has not been properly recorded. This research is quantitative and qualitative research with cross sectional design, researching factors related to NSSI. In quantitative research, data collection was done on 76 respondents in Emergency Installation, Installation Bidadari / HCU, Outpatient Installation and Rehabilitation / Detok. The results showed in the last 1 year, as many as 40 people (52.6 percent) experienced NSSI, the most common cause NSSI fraction vial / ampoule 32.5 percent and 32.5 percent experienced NSSI when break ampoules / vials. There was no significant association between predisposing factors and enabling factors with NSSI. There is significant relation between amplifier factor that is punishment factor with NSSI with p value 0.042. In qualitative research, it is known that Training is the most important predisposing factor / individual related to NSSI. The availability of PPE is the most important factor to be provided by RS to prevent NSSI. The existence of SOP is an important reinforcing factor for NSSI prevention. To prevent NSSI need to regular training and availability of PPE and socialization of SOP. Keywords: Needle stick and sharp injuries, nurses One of the risks to the nurses' safety and health in the hospital is the needle stick and sharp injuries (NSSI) that can cause injury, disease and even death from blood-borne infections or other body fluids. The incident and reporting of NSSI in RSKO on the nurse has not been properly recorded. This research is quantitative and qualitative research with cross sectional design, researching factors related to NSSI. In quantitative research, data collection was done on 76 respondents in Emergency Installation, Installation Bidadari / HCU, Outpatient Installation and Rehabilitation / Detok. The results showed in the last 1 year, as many as 40 people (52.6 percent) experienced NSSI, the most common cause NSSI fraction vial / ampoule 32.5 percent and 32.5 percent experienced NSSI when break ampoules / vials. There was no significant association between predisposing factors and enabling factors with NSSI. There is significant relation between amplifier factor that is punishment factor with NSSI with p value 0.042. In qualitative research, it is known that Training is the most important predisposing factor / individual related to NSSI. The availability of PPE is the most important factor to be provided by RS to prevent NSSI. The existence of SOP is an important reinforcing factor for NSSI prevention. To prevent NSSI need to regular training and availability of PPE and socialization of SOP. Keywords: Needle stick and sharp injuries, nurses
Read More
T-5063
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rany Wulan Agus; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Besral, Atik Rahmat
Abstrak: Perawat dalam melaksanakan penerapan sasaran keselamatan pasien (SKP) dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan sebagai sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran penerapan pasien serta hubungan antara faktor individu, faktor kompleksitas pekerjaan, faktor lingkungan kerja, serta faktor organisasi dan manajemen terhadap penerapan SKP di RSUD dr Slamet Garut. Desain penelitian deskriptif korelatif dengan metode cross sectional, dengan sampel sebanyak 286 perawat.

Hasil penelitian menunjukan gambaran penerapan sasaran keselamatan pasien lebih dari sebagian masih kurang (52,8%). Faktor individu meliputi masa kerja (p=0,000) memiliki hubungan dengan penerapan SKP, sedangkan umur, status kepegawaian pelatihan dan pendidikan tidak. Faktor kompleksitas pekerjaan meliputi serah terima pasien (p=0,000), memiliki hubungan dengan penerapan SKP sedangkan beban kerja dan kerjasama tidak, ketersediaan SOP merupakan variabel komposit.

Faktor lingkungan kerja (P=0,000) memiliki hubungan dengan penerapan SKP. Faktor Organisasi dan Manajemen meliputi supervisi, budaya organisasi dan komunikasi tidak memiliki hubungan dengan penerapan SKP. Faktor yang paling dominan mempengaruhi adalah lingkungan kerja Penelitian ini merekomendasikan perlu dilakukan pengukuran berkala dan Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA) terhadap seluruh area lingkungan kerja. . Kata kunci: Penerapan Keselamatan pasien, perawat, rumah sakit

Implementation of Patient Safety on Nurse was influenced by various factor are related each other as a system. The objective of this research was to decribe of patient safety implemention and relationship between individual factors, work complexity factors, work environment factors, organizational and management factors with patient safety implementation in Hospital dr Slamet Garut. This research design used a descriptive correlative with cross sectional method, the sampels were 286 nurses.

The result showed the picture of patient safety implementation is more than some still lacking (52,8%). The influencing factors of individual factor for patient safety implementation were length of service (p=0,000), meanwile other factors such as age, employment status, training and education were not influential. The influencing factors of complexity factors for patient safety implementation were patient handover (p=0,000), meanwile other factors such as workload and cooperation were not influential, SOP was comfounding variable.


The influencing factors of work environment for patient safety implementation. Factors of organizational and management such a supervision, organization culture and communication were not influencing. The most dominant factors influencing for patient safety was work environment. This research recommend that it require periodic measurements and Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA) of all working area. Keywords: Hospital, Patient Safety Impelementation, nurses
Read More
T-5090
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purnamawati; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Wachyu Sulistiadi; Amila Megraini; Rizal Luthfi, Agnes Ely Krisdarlina
Abstrak: Kepatuhan terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO) merupakan komponenpenting dalam menajemen keselamatan pasien dan merupakan indikator kinerja rumahsakit. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran faktor-faktor yangmempengaruhi kepatuhan perawat IGD dalam pelaksanaan SPO pemasangan infus yangdihubungkan dengan kejadian flebitis di IGD RS Bhayangkara TK I R Said SukanntoJakarta. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional untukmengetahui kepatuhan perawat pada SPO pemasangan infus dan faktor yangmempengaruhi (umur, lama kerja, jenis kelamin, Pendidikan, kepemilikan STR, SIPP,tingkat pengetahuan , motivasi , Pelatihan BTCLS, Sosilaisasi SPO, Pelatihan TerapyIntra Vena, Persepsi Imbalan dan Sumber Daya). Instrumen penelitian menggunakankuesioner, lembar observasi dan wawancara. Analisa data menggunakan univariat,Bivariat , Multivarit dan uji T-Test untuk variabel dependen dengan kejadian flebitis).Hasil uji analisis diperoleh gambaran bahwa kepemilikan STR, SIPP, motivasi, umur,lama kerja, jenis kelamin, pendidikan, sosilaisasi SPO, pelatihan terapy intra vena,persepsi Imbalan dan sumber daya tidak berpengaruh terhadap kepatuhan perawat. Hasilpenelitian menunjukan 50% perawat tidak memiliki STR, 75% perawat tidak memilikiSIPP, rata-rata kepatuhan perawat pada SPO pemasangan infus pada CI95% adalah59,57% s/d 62,13%, faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat IGD adalah pelatihanBTCLS dan tingkat pengetahuan. Dalam penelitian ini diketahui bahwa infus yang dipasang perawat yang tidak patuh pada SPO beresiko 4,37 kali dibandingkan dengan infusyang dipasang sesuai SPO.Kata kunci : IGD, kepatuhan perawat , Standar Prosedur Operasional.
Read More
T-4571
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulanya Hannagracia Mariatheodore Sahelangi; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Adang Bachtiar
T-1995
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusmini; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Peter Patinama, Agustin Kusumayati, Rini Sutjiati
Abstrak:
Sehubungan dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap mutu layanan kesehatan, maka fungsi pelayanzm kesehatan secara bertahap harus terus ditingkatkan. Supervisi keperawatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kctrampilan petugas pelayanan kesehatan khususnya perawat pelaksana Pcrawat yang trampil akan berdampak pada mutu asuhan keperawatan yang diberikan. Supervisi keperawalan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya umur, pendidikan, lamakerja penyelia, pelatihan, sarana dan pmsarana, SOP dan bimbingan, serla perawat pelaksana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran faktor pada penyelia, faktor pada perawat pelaksana, faktor sarana, faktor SOP, faktor bimbingan dan pelaksanaan supervisi keperawatan. Rancangan pcnelitian adalah croxs sectional, dilakukan di ruang rawat inap Rumah sakit dr Cipto Mangunkusumo pada bulan Mei dan Juni 2001. Populasi penelitian semua kepala ruang rawat inap, adapun sampei total populasi yaitu 47 responden. Hasil penelitian rnenunjukl-can bahwa pclaksanaan supervisi keperawatan di mang rawat inap Rumah Sakit dr Cipro Mangunkusumo berjalan tidak efek1i£ Dari sepuluh variabel indepcndcn yang diteliti, hanya satu yang bermakna yaitu variabel bimbingan terdapat hubungan bcrmakna dengan pelaksanaan supervisi keperawatan. Adapun faktor yang paling dominan berhubungan dengan pelaksanaan supervisi keperawatan adalah bimbingan Pcningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan harus dilakukan SCC312 terus menerus, salah satu upaya adalah dcngan mcngefektiikan pelaksanaan supervisi keperawatan. Melalul program pelatihan khusus supcrvisi keperawatan diharapkan kepala mang rawat inap dapat bekerja sesuai fhngsinya sebagai supervisor tingkat tcrbawah.

As the increase of public demand for the quality of health services, the function of health services shall be gradually improved. Nursing supervision is one etfort to improve the skill of health service officers specially the nurse. The qualified nurse will effect to the quality of nursing care. Nursing supervision is influences many factors, such as age, education, experiences, training, intra structure, standard operating procedures, guidance and the nurse itself. The purpose of this research is to gain infomation between factors of experience, nurse, infra structure, standard procedure, and tutorial to which have more influence to the performance of nursing supervision. Research design is carried out by cross sectional the ward in Dr Cipto Mangunkusumo Hospital during May to June 200l. Research population are all head nurse ofthe wards and total samples population are 47 respondent. The result of this research shows that nursing supervision at wards of Dr Cipto Mangunlcusumo hospital was done effectively. From ten of independent variable to be analysed, only one of which is tutorial give a.n effect to perfonnance of nursing supervision. The improvement of the nursing ServiCCS quality Shall be continually carried out by implementing effective nursing supervision. By special training program of the nursing supervision, head of wards are hoped to with comply to their function as the supervisor to their subordinate.
Read More
T-1118
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dadang Sulaeman; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Zulazmi Mamdy, Lukinis Sabri, R.M.C.F Suryo Laksono, Suryono Slamet Imam Santoso
Abstrak:

Pelaksaanaan asuhan keperawatan merupakan standar pelayanan yang harus dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan pelayanan terhadap masyarakat dalam hal ini pasien. Dalam pelaksanaannya khusus pada perawat di Puskesmas masih belum optimal dilaksanakan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan asuhan keperawatan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaannya pada perawat Puskesmas di Kabupaten Sumedang tahun 2002. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik yang menggunakan metode survai dan telaah dokumen dan dilakukan dengan pendekatan potong lintang. Populasi pada penelitian ini adalah perawat puskesmas di Kabupaten Sumedang. Jumlah populasi 274 orang, jumlah sampel 107 orang, cara pengambilan sample dengan sistematik random sampling. Hasil penelitian bivariat menunjukan bahwa (1) Ada hubungan antara variabel individu, meliputi tingkat pendidikan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan, golongan/pangkat dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dan mesa kerja dengan pelaksanaan asuhan keperawatan. (2) Ada hubungan antara variabel psikologis yaitu sikap dengan pelaksanaan asuhan keperawatan. (3) Ada hubungan antara variabel organisasi meliputi pelatihan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan, sarana dan prasarana dengan pelaksanaan asuhan keperawatan. Hasil penelitian multivariat didapatkan bahwa variabel yang berhubungan paling erat dengan pelaksanaan asuhan keperawatan pada perawat puskesmas di Kabupaten Sumedang tahun 2002 adalah variabel psikologis yaitu sikap dengan variabel organisasi yaitu pelatihan. Diantara keduanya mempunyai hubungan yang erat dan model interaksi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sikap dan pelatihan mempunyai tingkat keeratan yang paling kuat dibandingkan dengan pendidikan, golongan/pangkat, sarana & prasarana, dan masa kerja. Mengingat bahwa sikap dan pelatihan mempunyai keeratan hubungan yang paling kuat, disarankan untuk peningkatan pelatihan asuhan keperawatan secara berkesinambungan pada perawat puskesmas di Kabupaten Sumedang dan menanamkan suasana kerja yang mendukung salah satunya dengan meningkatkan sikap perawat dari aspek kognisi, konisi dan apeksi sehingga terlaksananya asuhan keperawatan pada pasien sehingga pelayanan keperawatan menjadi lebih berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya dan pasien pada khususnya.


The Factors Related to Treatment Upbringing Execution at Nurses Puskesmas in Sumedang District, a Study in all Puskesmas in Sumedang District, West Java, year 2002The implementation of upbringing treatment is a standard services that should be conducted by nurses in executiag services to society in this case patiens. In its special execution at nurses in puskesmas hasn't been conducted optimally yet. The aim of this research is to get information about treatment upbringing execution and factors related to execution at nurses in puskesmas, in Sumedang district, year 2002. The kind of research that's used is analytic descriptive research by using survey method and document study and conducted with transversal crosscut approach. The population in this research is puskesmas nurses in Sumedang district, The amount of population is 174 samples (people), and the way of intake samples by systematicly sampling random. The result of bivariat research shows that (1) there is a relationship among individual variables, covering education storey level with treatment upbringing execution and year of services with treatment upbringing execution. (2) there is a relationship among psychological variables that is attitude with treatment upbringing execution. (3) There is arelationship among organizational variables, including training with treatment upbringing execution. The result of multivariate research is known that closet corresponding variables with treatment upbringing execution. At puskesmas nurses in Sumedang district is psychological variables that's attitude with organizational variables, training. Between both have a close relationship and interaction models. From the result of this research can be cloncluded that the relationship between training and attitude have a strongest relationship compared by education, factions/ranks, facilities and basic facilities and a period of work. Considering that attitude ang training have a close relationship, suggested to make training increased at nurses and it gives ondosif condition in puskesmas, so that attitude for treatmen upbringing execution become a better thing.

Read More
T-1444
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emytri; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Dian Ayubi, Pradnya Paramita
Abstrak: Penilaian budaya keselamatan pasien adalah satu elemen dasar dalammeningkatkan upaya keselamatan pasien. Sangat penting untuk menilaibagaimana sikap, persepsi, kompetensi individu dan perilaku orang / kelompoksehingga menentukan komitmen dalam meminimalkan insiden. Penelitian itubertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan budayakeselamatan pasien. Jenis penelitian ini menggunakan metode crossectional padapopulasi seluruh pegawai Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) berjumlah649 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random samplingdengan besar sampel 250 orang responden. Analisis data yang dilakukan adalahanalisa regresi logistik ganda .Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien diRSPON memiliki respon positif 46,8%. dalam kategori budaya kurang kuat.Telah terbukti secara statistic bahwa terdapat hubungan signifikan dengan budayakeselamatan pasien Harapan dan Tindakan Promosi Keselamatan Pasien ,Persepsi Keselamatan Pasien, Komunikasi Terbuka, Pembelajaran Organisasi,Komitmen Manajemen, Umpan balik insiden, Kerjasama didalam unit dankerjasama diantara unit kerja, serta Serah terima dan pergantian shift. Faktor yangdominan berhubungan dengan budaya keselamatan pasien di RSPON tahun 2016adalah faktor pekerjaan yaitu Serah terima dan pergantian shif serta faktororganisasi berupa Manajemen SDM/staffing dan faktor pekerjaan yaitu Kerjasamaantar unit yang secara signifikan memiliki peluang untuk budaya keselamatanpasien yang lebih baik.Disarankan agar RSPON mengembangkan budaya keselamatan pasiendengan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Mmengevaluasiinstrument atau dokumentasi serah terima pasien atau pekerjaan untukkeselamatan pasien. Mengembangkan dan mengevaluasi prosedur informasi padaserah terima.Mengoptimalkan pergantian kerja/shift melalui perubahan shift kerja.Mengidentifikasi model kerja tim antar unit dan meningkatkan koordinasi sertakolaborasi antara unit kerja.Melibatkan staf dan partisipasi aktif dalam evaluasisasaran keselamatan pasien, Melakukan pemutakhiran penilaian beban kerja danpengelolaannya lamanya waktu kerja lebih atau lembur.Kata kunci : Budaya Keselamatan pasien, faktor orang, organisasi, pekerjaan
Patient safety culture assessment are the basic component in the patientsafety improvement program. It is important to assess how attitudes, perceptions,competencies and behaviors of individuals / groups that determine thecommitment to minimize the incident. The study aims to determine patient safetyculture and the factors that influence it. This research used cross sectional methodon the entire population RSPON numbered 649 employees to response. Samplingwith simple random sampling technique and the number of sample in thisresearch is 250 respondents. Data analysis by logistic regression.The results showed that patient safety culture in the category of culture toresponse less well with the positive response of 46.8%. The dominant factoraffecting patient safety culture are job factor that handoff or transition and shift(p = 0.03) and cooperation between working units (p = 0.035), as well asorganizational factors, namely: staffing (p = 004). It is recommended to responseimprove patient safety culture (a) develop instruments handover of patients orwork for the safety of the patient, (b) development and evaluation procedure theinformation on the handover mainly verbal orders and telephones, (c) optimizingthe turn of the job / shift through changes in work shifts a maximum of 3 days andestablish effective communication as well as their supervision in patient safety, (d)identify a model of teamwork between the units and improve the coordination ofteamwork between units.Keywords: Patient Safety Culture, factor person, system, job
Read More
T-4681
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evana Clarentina Kadi; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Baiduri, Mayarni, Mohamad Ihsan Ramdani
Abstrak: Semua aktivitas yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kesehatanmenempatkan tenaga kesehatan pada risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),termasuk perawat. Salah satu kecelakaan yang dapat menimbulkan cedera, penyakitbahkan kematian akibat infeksi yang ditularkan melalui darah adalah kejadian Needle-stick and Sharp Injuries (NSSI). Kejadian NSSI dan faktor-faktor yang berhubungan diRS PMI Bogor pada perawat belum terdata dengan baik. Penelitian ini menggunakanmetode cross sectional dan kuesioner sebagai instrumen dalam mengumpulkan data.Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling,yaitu seluruh perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat Darurat danInstalasi Bedah RS PMI Bogor dengan jumlah responden 216 Orang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kejadian NSSI dalam 1 tahun terakhir adalah 49,5% denganpenyebab tersering adalah terkena pecahan ampul (49,5%) dan pada saat mematahkantutup ampul kaca (48,6%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja,pelatihan, unsafe acts, dan unsafe conditions dengan kejadian NSSI. Terdapathubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian NSSI. Untuk mencegahterjadinya NSSI maka perlu dilakukan peningkatan pengetahuan perawat, pemerataanpromosi pencegahan dan penatalaksanaan kejadian NSSI serta sistem pelaporankecelakaan kerja yang terintegrasi dan diikuti dengan surveilans.Kata kunci:Needle-stick and Sharp Injuries; pengetahuan; perawat
All activities undertaken in providing health care put health workers atOccupational Health and Safety risk, including nurses. One of the accidents that cancause injury, illness and even death from blood-borne infections is Needle Stick andSharp Injuries (NSSI). NSSI incidence and factor associated with NSSI at IndonesianRed Cross Hospital nurses have not been recorded properly. A cross-sectional studywas conducted, using questionnaire as an instrument to collect data. The samplingtechnique in this study used total sampling method, which was all nurses working inInpatient, Emergency and Surgical Installation. A total of 216 nurses were accepted forinclusion. Results showed that the incidence of NSSI in the last 1 year was 49.5%, withthe most common cause was glass ampoule cap (49.5%) and the most frequentlyreported circumstances of NSSI was breaking the glass ampule cap (48.6%). There wasno statistically significant association between experience, training, unsafe acts andunsafe conditions with NSSI. There was statistically significant association betweenknowledge with NSSI. To prevent the occurrence of NSSI it is necessary to increasethe knowledge of nurses, promotion and integrated reporting of occupational accident,followed by surveillance.Key words:Knowledge; Needle-stick and Sharp Injuries; nurse
Read More
T-4694
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktarina; Pebimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dian Ayubi, Puput Oktamianti, Jusuf Sato Kristianto
Abstrak: Kepuasan pasien merupakan salah satu indicator dalam mengukur mutu pelayanan di rumah sakit dan juga sebagai indikator standard suatu rumah sakit. Salah satu cara atau metode yang dianggap cukup objektif dalam mengukur kepuasan pasien adalah Metode Servqual (Service Quality), ada 5 (lima) dimensi mutu untuk mengukur kepuasan pasien yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien di RS PON. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross sectional study. Sampel adalah pasien rawat jalan sebanyak 200 orang, pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Hasil penelitian yaitu nilai rata-rata kepuasan pasien adalah 64%. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara variabel umur dengan p value 0,026, variabel jenis kelamin dengan p value 0,001, variabel pendidikan dengan p value 0,001, variabel cara bayar dengan p value 0,036, variabel pelayanan administrasi dengan p value 0,003, variabel pelayanan perawat dengan p value 0,003, variabel pelayanan dokter dengan p value 0,001 dan variabel penunjang dengan p value 0,001 dengan kepuasan pasien. Karakteristik pasien yang merasa puas dengan pelayanan di instalasi rawat jalan RS. PON adalah pasien yang berumur tua, berjenis kelamin perempuan, pendidikan tinggi,cara bayar BPJS, yang mendapatkan pelayanan administrasi baik, yang mendapatkan pelayanan perawat baik, yang mendapatkan pelayanan dokter baik dan pelayanan penunjang baik. Secara keseluruhan kepuasan pasien di instalasi rawat jalan RS. PON masih rendah karena 90%.
Read More
T-5540
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sucitra Melani; Dian Ayubi; Wachyu Sulistiadi, Pujiyanto, Lemi Kurniawan, Masdelira Siregar
Abstrak: Kelancaran dalam pengajuan dan pembayaran klaim pasien JKN dari dan ke rumah sakit sebagai provider pelayanan kesehatan untuk peserta BPJS Kesehatan merupakan bagian penting dalam pelaksanaan Program JKN. RSUP Persahabatan sebagai salah satu provider dalam pelayanan untuk pasien JKN memiliki angka kunjungan pasien JKN sebesar 95% sehingga sumber pendapatan terbesar didapatkan dari pembayaran klaim pasien JKN. Sampai bulan Agustus 2017, masih terdapat lebih dari 50 Milyar rupiah klaim pasien JKN yang belum dibayar oleh BPJS Kesehatan karena sebagian besar harus dikembalikan ke Rumah Sakit untuk konfirmasi kelengkapan resume medis yang ditulis DPJP. Kelengkapan penulisan resume medis, salah satu tugas pokok DPJP dalam pelayanan kesehatan, sangat mempengaruhi kelancaran pembayaran klaim pasien JKN sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan penulisan resume medis pasien JKN di RSUP Persahabatan. Jenis penelitian ini adalah observasional, dengan pengambilan data secara crossectional. Dilakukan pengisian kuisioner oleh 50 orang DPJP yang dipilih secara acak untuk menjadi sampel penelitian dan dilakukan observasi terhadap kelengkapan 250 buah resume medis bulan layanan Oktober yang telah ditulis oleh DPJP yang menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian ini didapatkan 24% DPJP telah menulis resume dengan lengkap. DPJP yang bekerja di RSUP Persahabatan 70% diantaranya berstatus sebagai PNS dengan 92% memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun dengan 86% diantaranya telah memiliki pengetahuan yang baik mengenai resume medis dan 88% memiliki sikap yang baik mengenai resume medis. Namun hanya 42% DPJP yang memiliki persepsi yang baik mengenai format resume medis yang dipakai saat ini dan hanya 50% yang memiliki persepsi baik mengenai kebijakan Rumah Sakit tentang resume medis. Dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara semua variabel bebas dan variabel terikat. Manajemen rumah sakit disarankan untuk rutin melakukan sosialisasi kepada DPJP mengenai tugas pokok dan fungsinya secara etiko-medikolegal, aturan JKN dan tata cara pengisian rekam medis, melakukan revisi format resume medis manual menjadi e-resume medis, membuat kesepakatan bersama antara Rumah Sakit dan BPJS mengenai standar kelengkapan resume medis yang dibutuhkan dalam klaim serta melakukan review dalam sistem penilaian kinerja pegawai (remunerasi). Kata Kunci : Klaim JKN; Resume Medis; Sikap DPJP, Kebijakan Rumah Sakit Continuity of Nasional Health Care Program (NHC) claims and payment is an important part in the implementation of the NHC Program. Persahabatan Hospital as a providers in service for NHC has visit number around 95% , therefore the biggest source of income come from the NHC claim payment. Until August 2017, there are still more than 50 billion rupiah of unpaid NHC claims by BPJS Kesehatan because claim needs to be returned to the hospital to confirm the completeness of the medical resume written by the doctors. Complete writing of medical resume as one of main duty doctors in health service has a significant affect in continuity of NHC claim payment, therefore the purpose of this research is to know the factors that influence writing completeness of medical resume of NHC patient in Persahabatan Hospital. This research is an observational study, with cross-sectional data taking methode. Questionnaires were conducted by 50 doctors randomly selected as the sample of this study and observed the completeness of 250 October medical resumes which had been written by doctors which became the research sample. The results of this study are 24% of doctors has write a complete resume. 70% of doctors in Persahabatan Hospital work as a civil servant with 92% doctors have work more than 5 years in the hospital. 86% of doctors have good knowledge about medical resume and 88% have good attitude about medical resume. Yet only 42% of doctors has a good perception of the current medical resume format and only 50% have a good perception of hospital policy regarding medical resumes. In this research, there is no relationship between all independent variables and dependent variable. Hospital management is advised to routinely disseminate to doctors on their main duty and function on an ethico-medicolegal basis, disseminate to doctors regarding NHC and how to fill medical records, revise manual medical resume format to e-medical resume and conduct review in employee performance appraisal system. Key Words : Doctor attitude, Hospital regulation, NHC filling,Medical Resume
Read More
T-5102
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive