Ditemukan 31645 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Imelda; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Masyitoh, Ferdi D. Tiwow, Dini Handayani
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan mengetahui status budaya keselamatan pasien di RS Awal Bros Batam tahun 2016. Konsep yang digunakan adalah konsep budaya keselamatan pasien dari AHRQ (2004) yang diadopsi dari penelitian Puspitasari M. (2009), kemudian untuk perbaikan digunakan konsep keandalan sistem dari Marx D. (2010). Desain penelitian adalah sequential explanatory, menggunakan kuesioner AHRQ yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dilanjutkan dengan FGD untuk merumuskan upaya perbaikan dimensi lemah. Status budaya keselamatan pasien termasuk kategori budaya sedang, rerata persepsi positif 70,82%. Kekuatan terbesar adalah pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan, umpan balik dan komunikasi tentang keselamatan pasien, keterbukaan komunikasi. Dimensi terlemah terutama pada staffing, respon non punitive terhadap kesalahan, serah terima dan transisi. Saran perbaikan dengan mengurangi tugas non core job, program retensi karyawan, hotline service internal, leader lead tracer, pelatihan investigator.
Kata kunci : Budaya keselamatan pasien rumah sakit, keselamatan pasien, budaya keselamatan
This study aims to analys the hospital of patient safety culture of Awal Bros Hospital Batam in 2016. The concept used was the concept of patient safety culture from AHRQ (2004) which is adopted from Puspitasari M. research (2009), then for improvement used the concept of system reliability form Marx D. (2010). The research design was sequential explanatory, used questionnaire from AHRQ which has been translated to Indonesia language, followed by FGD to formulate the weak dimension improvement effort. Patient safety culture status categorized into medium culture, average of positive perception 70,82%. The greatest strengths are in organizational learning and continuous improvement, feedback and communication about patient safety, communication openness. Weaknesses are primarily in staffing, non-punitive responses to errors, handover and transitions must be fixed immediately. Improvement suggestions by reducing non core job assignments, employee retention programs, hotline service internal, leader lead tracer, investigator training.
Keywords: Hospital of patient safety culture, patient safety, safety culture
Read More
Kata kunci : Budaya keselamatan pasien rumah sakit, keselamatan pasien, budaya keselamatan
This study aims to analys the hospital of patient safety culture of Awal Bros Hospital Batam in 2016. The concept used was the concept of patient safety culture from AHRQ (2004) which is adopted from Puspitasari M. research (2009), then for improvement used the concept of system reliability form Marx D. (2010). The research design was sequential explanatory, used questionnaire from AHRQ which has been translated to Indonesia language, followed by FGD to formulate the weak dimension improvement effort. Patient safety culture status categorized into medium culture, average of positive perception 70,82%. The greatest strengths are in organizational learning and continuous improvement, feedback and communication about patient safety, communication openness. Weaknesses are primarily in staffing, non-punitive responses to errors, handover and transitions must be fixed immediately. Improvement suggestions by reducing non core job assignments, employee retention programs, hotline service internal, leader lead tracer, investigator training.
Keywords: Hospital of patient safety culture, patient safety, safety culture
B-1894
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deriani Simatupang; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Melda Suryana, Jocelyn Adrianto
Abstrak:
Geografis merupakan salah satu faktor risiko hipertensi, Daerah kepulauan lebihberisiko terkena hipertensi dibandingkan daerah pegunungan. Kepulauan Seribumerupakan daerah Kabupaten Administrasi dari Provinsi DKI Jakarta Indonesia,yang seluruh daerahnya berupa pulau-pulau kecil. Karakteristik penyakit diKepulauan Seribu mulai mengalami pergeseran dengan didominasi denganpenyakit-penyakit degeneratif. Di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribupenderita hipertensi mengalami peningkatan pada tahun 2012 dengan persentase8.03% menjadi 15,6% pada tahun 2013. Tujuan dari penelitian ini untukmengetahui hubungan kebiasaan konsumsi makanan tinggi garam dengankejadian hipertensi setelah dikontrol dengan variabel confounding (stres, aktivitasfisik, merokok, konsumsi alkohol, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,dan riwayat keluarga) di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu pada tahun 2016. Penelitian ini dilakukan di PulauPanggang dan Pulau Pramuka Kecamatan Kepulauan Seribu Utara pada Februari2016. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, pengumpulan datadilakukan dengan simpel random sampling melalui wawancara dengan kuesionerpada 176 responden yang berumur ≥40 Tahun. Hasil penelitian ini menemukansebanyak 55.1% responden di Kepulauan Panggang dan Pramuka KecamatanKepulauan Seribu Utara pada tahun 2016 menderita hipertensi, pada respondenyang normotensi, 66,7% nya memiliki kebiasaan konsumsi makanan tinggi garamtidak setiap hari dan sebesar 35,2% memiliki kebiasaan konsumsi makanan tinggigaram setiap hari. Hasil regresi logistik menunjukkan hubungan bermakna antarakebiasaan konsumsi makanan tinggi garam dengan kejadian hipertensi setelahdikontrol dengan variabel stres dan aktivitas fisik ( p value =.05, CI= 2,02-10,04).Kebiasaan Konsumsi makanan tinggi garam setiap hari merupakan faktor risikoterjadinya hipertensi, risiko ini meningkat jika tidak melakukan aktifitas fisik danmengalami stres.
Kata Kunci : Hipertensi, Gaya Hidup, Kepulauan, Kepulauan Seribu, KebiasaanKonsumsi Makanan Tinggi Garam
Geographical is one risk factor of hypertension , islands regions exposed to morerisky hypertension compared mountainous regions . Kepulauan Seribuconstituting the district administration of jakarta province of indonesia , whoseentire region in the form of small islands .Characteristic of a disease in KepulauanSeribu began experiencing shift with dominated with degenerative diseases .Inadministrative districts Kepulauan Seribu sufferers of hypertension increased in2012 with the percentage 8.03 % become 15.6 % in 2013 .The purpose of researchis to know the relationship habits of consumption of foods high in salt withhypertension after scene controlled with confounding variables (stress , physicalactivity , smoking , the consumption of alcohol , age , sexes , education , work ,and family history) on the Pulau Panggang and Pulau Pramukan KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu on 2016. The study is done on the PulauPanggang and Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Utara in february 2016. Theresearch uses design cross sectional study, data collection is done with simplerandom sampling through interviews with on 176 the respondents from ≥40 years.The results of this study found some 55.1 % respondents in the Pulau Panggangand Pulau Pramuka in 2016 suffers from hypertension, on respondentsnormotensi, 66,7 % him have a habit of food consumption high salt not every dayof 35,2 % have a habit of food consumption high salt every day. The logisticsregression show the relation between a meaningful food consumption in the highsalt hypertension after controlled variable stress and physical activity ( p value =.05, CI 95% = 2,02-10,04). Habit of food consumption high salt every day is a riskof hypertension, this risk increase if not doing activities physical and stress.
Key word: Hypertension, lifestyle, islands, Kepulauan Seribu, habit of foodconsumption high salt
Read More
Kata Kunci : Hipertensi, Gaya Hidup, Kepulauan, Kepulauan Seribu, KebiasaanKonsumsi Makanan Tinggi Garam
Geographical is one risk factor of hypertension , islands regions exposed to morerisky hypertension compared mountainous regions . Kepulauan Seribuconstituting the district administration of jakarta province of indonesia , whoseentire region in the form of small islands .Characteristic of a disease in KepulauanSeribu began experiencing shift with dominated with degenerative diseases .Inadministrative districts Kepulauan Seribu sufferers of hypertension increased in2012 with the percentage 8.03 % become 15.6 % in 2013 .The purpose of researchis to know the relationship habits of consumption of foods high in salt withhypertension after scene controlled with confounding variables (stress , physicalactivity , smoking , the consumption of alcohol , age , sexes , education , work ,and family history) on the Pulau Panggang and Pulau Pramukan KabupatenAdministrasi Kepulauan Seribu on 2016. The study is done on the PulauPanggang and Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Utara in february 2016. Theresearch uses design cross sectional study, data collection is done with simplerandom sampling through interviews with on 176 the respondents from ≥40 years.The results of this study found some 55.1 % respondents in the Pulau Panggangand Pulau Pramuka in 2016 suffers from hypertension, on respondentsnormotensi, 66,7 % him have a habit of food consumption high salt not every dayof 35,2 % have a habit of food consumption high salt every day. The logisticsregression show the relation between a meaningful food consumption in the highsalt hypertension after controlled variable stress and physical activity ( p value =.05, CI 95% = 2,02-10,04). Habit of food consumption high salt every day is a riskof hypertension, this risk increase if not doing activities physical and stress.
Key word: Hypertension, lifestyle, islands, Kepulauan Seribu, habit of foodconsumption high salt
B-1796
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitrianto; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Puput Oktamianti, Ede Surya Darmawan, Prima Yunika, Indah Rosana
Abstrak:
Pelaporan insiden keselamatan pasien adalah suatu sistem untukmendokumentasikan laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untukpembelajaran. Pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan dasar untukmembangun suatu sistem asuhan pasien yang lebih aman. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui faktor-faktor yang yang berhubungan dengan motivasi perawatmelaporkan insiden keselamatan pasien di RS Awal Bros Panam. Penelitian inimenggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan potong lintang.Sampel adalah seluruh perawat pelaksana yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi yaitu sejumlah 102 perawat. Analisis yang digunakan adalah analisisunivariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besarresponden (62%) memiliki motivasi baik melaporkan insiden keselamatan pasien.Hasil uji Chi-square didapatkan hubungan yang bermakna (ρ < 0,05) antaravariabel persepsi, budaya keselamatan pasien, umpan balik, prosedur pelaporandan transparansi pelaporan dengan motivasi melaporkan insiden keselamatanpasien. Hasil multivariat regresi logistik didapatkan variabel yang berpengaruhterhadap motivasi perawat melaporkan insiden keselamatan pasien adalahpendidikan, prosedur pelaporan dan transparansi pelaporan (r² = 19,9%).Kata kunci : motivasi perawat; pelaporan insiden keselamatan pasien; prosedurpelaporan; transparansi pelaporan.
Read More
B-1767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indera; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Purnawan Junadi, Masyitoh, Ferdy D. Tiwow, Dini Handayani
Abstrak:
Penelitian menggunakan desain sequential explanatory melalui analisis kuantitatif menggunakan kuesioner Survei Farmasi dalam Budaya Keselamatan Pasien dari AHRQ dilanjutkan focus group discussion untuk merumuskan strategi dan kebijakan dalam membangun budaya keselamatan pasien di Instalasi Farmasi RS Santa Elisabeth Batam Kota.
Analisis budaya keselamatan pasien menghasilkan 4 dimensi kategori budaya sedang yang memerlukan perbaikan keselamatan pasien serta 7 dimensi kategori budaya baik yang menjadi kekuatan dalam keselamatan pasien. Pengorganisasian ketenagaan, beban kerja dan pola kerja; konseling pasien; keterbukaan komunikasi; dan respons terhadap kesalahan menjadi kelemahan budaya keselamatan pasien yang menjadi prioritas perbaikan. Tingkat pelaporan kejadian masih rendah dan harus mendapat perbaikan.
Kata kunci: budaya keselamatan pasien, instalasi farmasi
This research uses sequential explanatory design started from quantitative analysis using questionnaire The Pharmacy Survey on Patient Safety Culture (PSOPSC) from AHRQ followed by focus group discussion to formulate strategy to build patient safety culture.
Analysis of patient safety culture resulted in 4 dimensions of moderate cultural categories that require improvement and 7 dimensions of good cultural categories that be strength of the patient safety culture. Staffing, Work Pressure and Pace; Patient counseling; Communication openness; and Response to Mistakes is weakness of the patient safety culture that become priority improvement. Level of incident reporting is still low and need improvement.
Keywords: patient safety culture, pharmacy installation
Read More
Analisis budaya keselamatan pasien menghasilkan 4 dimensi kategori budaya sedang yang memerlukan perbaikan keselamatan pasien serta 7 dimensi kategori budaya baik yang menjadi kekuatan dalam keselamatan pasien. Pengorganisasian ketenagaan, beban kerja dan pola kerja; konseling pasien; keterbukaan komunikasi; dan respons terhadap kesalahan menjadi kelemahan budaya keselamatan pasien yang menjadi prioritas perbaikan. Tingkat pelaporan kejadian masih rendah dan harus mendapat perbaikan.
Kata kunci: budaya keselamatan pasien, instalasi farmasi
This research uses sequential explanatory design started from quantitative analysis using questionnaire The Pharmacy Survey on Patient Safety Culture (PSOPSC) from AHRQ followed by focus group discussion to formulate strategy to build patient safety culture.
Analysis of patient safety culture resulted in 4 dimensions of moderate cultural categories that require improvement and 7 dimensions of good cultural categories that be strength of the patient safety culture. Staffing, Work Pressure and Pace; Patient counseling; Communication openness; and Response to Mistakes is weakness of the patient safety culture that become priority improvement. Level of incident reporting is still low and need improvement.
Keywords: patient safety culture, pharmacy installation
B-1904
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutiara Arcan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Ferdy Dani Tiwow, Mohamad Ihsan Ramdani
Abstrak:
Tesis ini membahas kelayakan dan kesiapan Rumah Sakit (RS) Awal Bros Panam di Pekanbaru menjadi RS Kelas B di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Standar pelayanan, SDM, peralatan dan sarana prasarana yang dimiliki RS saat ini telah melebihi standar RS kelas C. Perubahan sistem pembayaran fasilitas kesehatan menjadi prospective payment dengan Indonesian Case based group (INACBG), menetapkan tarif INACBG RS kelas B lebih tinggi daripada RS kelas C. Desain penelitian adalah operasional (operational research) dengan mengumpulkan data primer dan sekunder dari RS Awal Bros Panam, RS Awal Bros Pekanbaru dan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Cabang Pekanbaru. Tahap pertama penelitian adalah penilaian kelayakan perubahan kelas RS dengan menggunakan standar Permenkes no 56 tahun 2014. Kemudian tahap kedua menilai kesiapan rumah sakit melalui analisis situasi era JKN dengan membandingkan jumlah kasus dan klaim INACBG antara RS Kelas C dan Kelas B. Hasil penelitian menunjukkan RS Awal Bros Panam telah layak dan siap untuk berubah menjadi RS kelas B berdasarkan standar pelayanan, SDM, peralatan dan bangunan serta sarana prasarana. Namun masih tetap harus melengkapi beberapa kekurangan pada standar-standar tersebut. Ruang lingkup analisis situasi masih berfokus pada aspek internal sehingga perlu dipertimbangkan lebih lanjut analisis kondisi eksternal RS seperti kebijakan Pemerintah dan Kebijakan BPJS Cabang Pekanbaru untuk benar-benar memastikan kelayakan dan kesiapan RS. Kata kunci : Rumah sakit, kelayakan dan kesiapan, Rumah sakit kelas C, Rumah sakit kelas B, Jaminan Kesehatan Nasional. This thesis discusses the feasibility and ability of Awal Bros Panam Hospital to become class B hospital by considering National Health Insurance era. The current standard of services, human resources, equipment and infrastructure owned by hospital has exceeded the standard of class C hospital. Changes in payment system with prospective payment known as INACBG, determine INACBG rate for class B Hospital is higher than the class C hospital. This study is an operational research, by collecting primary and secondary data from Awal Bros Panam Hospital, Awal Bros Pekanbaru Hospital and Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Pekanbaru branch. The first stage of the study is by assessing the feasibility of the changes using the regulation from Ministry of Health number 56, 2014. The second stage is by assessing the ability of hospitals through the situational analysis which comparing the number of cases and claims INACBG between Class C hospital and Class B hospital. The results showed Awal Bros Panam hospital has been feasible and able to become class B hospital based on the standard of services, human resources, equipment, buildings, and infrastructure. However there are some standards that still must be completed. The further analysis of external conditions such as the Government and BPJS policies must be considered to ascertain feasibility and ability of Awal Bros Panam Hospital to become class B hospital. Keywords: Hospitals, feasibility and ability, class C Hospital, class B Hospital, the National Health Insurance.
Read More
B-1851
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hilda Muliana; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Purnawan Junadi, Vetty Yulianty Permanasari, Vitrie Winastri, Perima Yunika
Abstrak:
Di Rumah Sakit Awal Bros Batam selama bulan Oktober 2015 sampai bulan September 2016 ditemukan ada kejadian penundaan resep pasien yang berdampak pada kualitas pelayanan rumah sakit dan terjadi back order yang berdampak pada keuangan rumah sakit. Penulis ingin meneliti permasalahan yang terjadi untuk melakukan perbaikan dalam hal pengendalian persediaan farmasi di rumah Sakit Awal Bros Batam untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas pelayanan dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Peneltian ini merupakan penelitian riset operasional untuk menyusun model pengendalian persediaan farmasi. Model pertama, dalam penelitian ini akan dilakukan analisis ABC pemakaian, analisi ABC investasi, dan ABC Indeks kritis, untuk mengetahui persediaan farmasi yang menjadi kelompok A, B dan C. Selanjutnya akan dihitung EOQ dan ROP, serta efisiensi TIC. Dilakukan wawancara mendalam dengan informan. Model kedua, metode Periodic Review System, Order up to level, didalam penelitian ini juga melakukan analisis 10 persediaan tertinggi berdasarkan ABC Investasi dan ABC pemakaian melalui penilaian average inventory, ITOR dan PNP pada rumah sakit Awal Bros Batam selama periode 12 bulan. Pada metode kedua ini diharapkan dapat menghindari terjadinya kelebihan stok farmasi dengan investasi tinggi yang dapat mempengaruhi cash flow rumah sakit. Pengendalian persediaan farmasi di Rumah Sakit Awal Bros Batam masih belum dilakukan dengan optimal, meskipun setiap bulan telah dilakukan analisa ABC Investasi dan menerapkan metode maksimal dan minimal stok yang sederhana. Penelitian ini, menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk Rumah Sakit Awal Bros Batam untuk dapat membantu pihak managemen dalam melakukan perbaikan pengendalian persediaan farmasi dan mengatasi permasalahan stock out di farmasi. Kata kunci : Pengendalian Persediaan,Stock out, analisis ABC, EOQ, ROP, TIC, Periodic Review System, Order up to level, Average inventory, ITOR, PNP Prescription delays at Pharmacy Department services Awal Bros Batam Hospital during the month of October 2015 until September 2016 influences the impact on the quality of hospital services and going on back order ending with financial problems to Awal Bros Batam hospitals. The author wants to identify problems that occur for improving efficiency and effectiveness of services pharmacy inventory control at Awal Bros Batam Hospital and overall improving the quality of hospital services. This study is an operational research study to develop a pharmaceutical inventory control models. The first model, in this study will be made use of ABC analysis, investment analysis ABC, and ABC critical index, to determine pharmaceutical supplies into groups A, B and C. Furthermore, will be calculated EOQ and ROP, as well as the efficiency of TIC. Conducted in-depth interviews with informants. The second model, the method Periodic Review System, Order up to the level, in this study also conducted an analysis 10 largest inventory investment by ABC and ABC average user through the assessment of inventory, ITOR and PNP on Awal Bros Batam hospital over a period of 12 months. In the second method is expected to avoid overstocking pharmaceuticals with high investments that may affect the cash flow of the hospital. Pharmacy inventory control at Awal Bros Batam Hospital has not performed optimally, although every month have made the ABC analysis Investments and apply maximum and minimum stock method is simple. This research, produce policy recommendations for the Awal Bros Batam Hospital to help the management to improve ppharmacy inventory control and solve the problems in the pharmaceutical stock out. Keywords : Inventory Control, Stock Outs, ABC analysis, EOQ, ROP, TIC, Periodic Review System, Order up to Level, Average Inventory, ITOR, PNP
Read More
B-1875
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luvi Christiani; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amal Chalik SjaafVetty Yulianty Permanasari, Dini Handayani, Arif Partono Prasetio
Abstrak:
ABSTRAK Rumah sakit sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan yang paripurna mempunyai kewajiban untuk menjaga mutu layanan yang diberikan. Perawat adalah salah satu ujung tombak pelayanan dan merupakan bagian sumber daya terbesar di rumah sakit. Mutu layanan keperawatan dengan tujuan utama adalah untuk patient safety dapat dipertahankan salah satunya dengan mengendalikan angka turnover. Selama tahun 2015 sampai 2017 didapatkan angka turnover perawat di Rumah Sakit Awal Bros Batam sebesar 15,4%, 14,3%, dan 18,9%. Metode penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Awal Bros Batam ini dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan turnover perawat. Penelitian kuantitatif terhadap seluruh perawat yang sudah keluar sebanyak 79 orang. Penelitian kualitatif terhadap perawat di bagian rawat inap dan critical care dengan informan sebanyak 7 orang. Hasil kuantitif secara statistik univariat menunjukkan perawat yang keluar 77,2% perempuan dan 22,8% laki-laki, 82,3% berusia sampai dengan 30 tahun dan 17,7% berusia lebih dari 30 tahun, tingkat pendidikan diploma III 89,9% dan strata I sebanyak 10,0%, menikah 55,7% dan tidak menikah 44,3 %, asal rekrut 62% berasal dari luar batam dan 38% berasal dari batam, serta masa kerja sampai 5 tahun 81% dan masa kerja diatas 5 tahun 19%. Uji statistic bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan turnover adalah status pernikahan (Asymp. Sig. 0.003) dan daerah asal rekrut (Asymp. Sig. 0.000). Analisis kualitatif dengan wawancara mendalam dan focus group discussion didapatkan faktor lingkungan non-fisik terutama masalah kepemimpinan yang memunculkan dorongan untuk memutuskan keluar dari rumah sakit. Tingkat turnover di Rumah Sakit Awal Bros Batam masih tinggi sampai dengan tahun 2017 dengan faktor status pernikahan dan daerah asal rekrut, lingkungan kerja non fisik, dan kepemimpinan berhubungan dengan turnover. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan Rumah Sakit Awal Bros Batam sebagai salah satu faktor untuk dapat mengendalikan turnover perawat. Kata kunci: turnover; perawat; kepemimpinan ABSTRACT Hospitals as plenary health service providers have an obligation to maintain the quality of services provided. The nurse is one of the spearheads of service and is the largest part of the hospital's resources. The quality of nursing services with the main goal is to maintain patient safety by controlling the turnover rate. During 2015 to 2017 there were 15.4%, 14.3%, and 18.9% turnover rates for nurses at Awal Bros Hospital Batam The method of research conducted at the Awal Bros Hospital Batam with a quantitative and qualitative approach to determine factors related to nurse turnover. Quantitative research for all nurses who had left was 79 people. Qualitative research on nurses in the inpatient and critical care section with informants 7 people. Quantitative results with univariate statistical show nurses who had been turnover were 77.2% women and 22.8% men, 82.3% aged up to 30 years and 17.7% aged over 30 years, diploma level III 89.9 % and strata I 10.1%, married 55.7% and not married 44.3%, 62% of recruits came from outside Batam and 38% came from Batam, as well as working period up to 5 years 81% and working period above 5 years 19%. The bivariate statistical test showed that the factors associated with turnover were marital status (Asymp. Sig. 0.003) and the area of recruitment (Asymp. Sig. 0.000). Qualitative analysis with in-depth interviews and focus group discussions found non-physical environmental factors, especially leadership problems which gave rise to the urge to decide to leave the hospital. The turnover rate in Awal Bros Hospital Batam is still high with factors of marital status and area of recruitment, non-physical environmental factors, especially leadership that are associated with turnover. This can be taken into consideration as the Awal Bros Hospital Batam as a factor to be able to control nurse turnover. Keywords: turnover; nurse; leadership
Read More
B-2047
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Marina Intansari; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Puput Oktamianti, Supriyantoro, Prima Yunika D. Ruswanti
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang pandangan dokter, staf farmasi, dan staf IT di RSAwal Bros Pekanbaru mengenai pelaksanaan penggunaan resep elektronik di RSAwal Bros Pekanbaru. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif denganpendekatan analisis deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode FocusGroup Discussion (FGD), Wawancara Mendalam, dan Observasi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pelaksanaan pembuatan resep elektronik ditentukan darikemauan, kemampuan adaptasi dan sikap dari pengguna sistem tersebut. Komponen utama yang menunjang hal tersebut adalah kemudahan sistem yangdigunakan, kelengkapan informasi yang dibutuhkan, dan kesesuaian denganproses/alur kerja yang berlangsung.
Kata kunci : resep elektronik, e-resep, resep online, pelayanan farmasi, rumahsakit.
Read More
Kata kunci : resep elektronik, e-resep, resep online, pelayanan farmasi, rumahsakit.
B-1772
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irwin Kurniadi; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Yulianti Wulandari, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Penelitian ini didasarkan pada pentingnya optimalisasi pemeliharaan preventif alat kesehatan hulu guna menjamin keselamatan pasien dan efisiensi biaya operasional rumah sakit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas program preventive maintenance (PM) berbasis risiko menggunakan model Fennigkoh-Smith yang dimodifikasi di RS Awal Bros Batam sepanjang tahun 2025 melalui empat dimensi strategis operasional, klinis, finansial dan keberlanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal melalui triangulasi data antara telaah dokumen, observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap sepuluh informan kunci. Hasil: Dimensi operasional menunjukkan tingkat kepatuhan jadwal yang tinggi (>96%) dan angka ketersediaan alat sebesar 99,03%. Namun analisis beban kerja menunjukkan kapasitas produktif teknisi berada pada kondisi kritis dengan rasio WISN sebesar 0,63 yang mengindikasikan bahwa tingkat kepatuhan yang tinggi belum tentu mencerminkan kualitas inspeksi yang optimal apabila tidak diimbangi kecukupan SDM dan waktu pelaksanaan. Dari dimensi klinis kesiapan alat di area kritikal terbukti efektif menunjang keselamatan pasien. Dari dimensi finansial, ditemukan indikasi kuat adanya perlindungan pendapatan meski nilai finansial riil belum dapat dikuantifikasi karena penelitian ini tidak melakukan analisis ekonomi rumah sakit secara khusus. Evaluasi finansial dan keberlanjutan juga mengindikasikan adanya risiko kehilangan potensi kesempatan layanan serta potensi beban belanja modal darurat tidak terencana yang dipicu oleh ketergantungan pada vendor serta hambatan rantai pasok logistik di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa program PM berbasis waktu telah mencapai batas efisiensi maksimalnya secara administratif. Sebagai langkah pengembangan strategis berkelanjutan, rumah sakit disarankan mempercepat integrasi sistem informasi SINTA dan HIS guna mengoptimalkan kapasitas waktu produktif teknisi, serta mempertegas klausul Transfer of Knowledge pada kontrak vendor. Di tingkat makro, direkomendasikan adanya advokasi regulasi untuk menyederhanakan jalur impor suku cadang alat kesehatan kritis di kawasan FTZ guna memangkas durasi downtime dan memberikan kepastian rantai pasok bagi fasilitas kesehatan di kawasan perbatasan yang secara geografis bergantung pada jalur impor internasional.
Background: This study is grounded in the critical need to optimize upstream medical device preventive maintenance in order to ensure patient safety and hospital operational cost efficiency. This study aims to evaluate the effectiveness of a risk-based preventive maintenance (PM) program using a modified Fennigkoh-Smith model at RS Awal Bros Batam throughout 2025, assessed across four strategic dimensions: operational, clinical, financial, and sustainability. A descriptive qualitative method with a single case study design was employed, triangulating data from document review, field observation, and in-depth interviews with ten key informants. Results: Operational dimension findings indicate a high schedule compliance rate (>96%) and a device availability rate of 99.03%. However, workload analysis reveals that technician productive capacity is under critical pressure, with a WISN ratio of 0.63, suggesting that high compliance rates do not necessarily reflect optimal inspection quality when not supported by adequate human resources and sufficient inspection time. The clinical dimension demonstrates that device readiness in critical care areas effectively supports patient safety. The financial dimension identifies strong indications of revenue protection, though actual financial values could not be quantified as this study did not conduct a dedicated hospital economic analysis. Financial and sustainability evaluations also indicate risks of opportunity loss and unplanned capital expenditure shocks, driven by vendor dependency and logistics supply chain constraints within the Batam Free Trade Zone (FTZ). Conclusion: This study concludes that the time-based PM program has reached its maximum administrative efficiency ceiling. As a strategic development pathway, the hospital is advised to accelerate the integration of the SINTA and HIS information systems to optimize technician productive capacity, and to reinforce Transfer of Knowledge clauses in vendor contracts. At the macro level, regulatory advocacy is recommended to simplify the import pathway for critical medical device spare parts within the FTZ, with the aim of reducing device downtime and ensuring supply chain certainty for healthcare facilities in border regions that are geographically dependent on international import routes.
B-2584
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Titis Elvira Nizar; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Putri, Widya; Simatupang, Deriani
B-2193
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
