Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34464 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahmad Riza`i; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Purnawan Junadi, Ratna Dwi Restuti, Yogi Prabowo
B-1942
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusuma, A.A.N. Jaya
Abstrak: Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap lamanya waktu pelayanan gawat darurat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Sanglah Denpasar tahun 2012, dimana kondisi ini mempunyai potensi untuk terjadinya kejadian yang terjadi kejadian yang tidak diharapkan dan menurunkan kepuasan pasien. Penelitian dilakukan dengan rancangan kuantitatif dan kualitatif. Dilakukan observasi terhadap 450 pasien dalam kurun waktu 14 Januari sampai 19 Januari 2013 dengan pendekatan Constraint Lean Six sigma dicari penyebab, hambatan, pemborosan serta defek pada proses pelayanan pasien gawat darurat. Median waktu pelayanan gawat darurat sebesar 219 menit, penyebab lamanya waktu pelayanan oleh karena itu belum ada panduan praktek klinik kegawatdaruratan, hambatan pada pelayan radiologi, pemborosan terjadi pada waktu tunggu antara penegakkan diagnosis ke tindakan dan antara tindakan ke keputusan untuk keluar dari Instalasi Gawat Darurat. Level kualitas sigma sebesar 2,9 sigma dengan defek sebesar 86.762 DPMO. Diperlukan panduan praktek klinik untuk memandu proses pelayanan gawat darurat agar menjadi efektif, efisien dan aman untuk pasien dan proses bisnis rumah sakit.
Read More
B-1508
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anni Farida Ritonga; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas, Surahman Hakim, Eka Ginanjar
Abstrak: ABSTRAK Nama : Anni Farida Ritonga Program Studi :  Kajian Adminsitrasi Rumah Sakit Judul : Analisis Pelayanan Door To Balloon Time Pada Primary Percutaneous Coronary Intervention Dengan Menggunakan Pendekatan Lean Six Sigma Di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Tahun 2017 Pembimbing :  Prof.dr Amal C. Sjaaf, SKM, Dr.PH Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah memberikan pelayanan Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) sejak tahun 2010 dengan pedoman pada tahun 2017 dari European Society of Cardiology (2012) yang memberikan anjuran door to balloon ≤90 menit untuk tindakan Primary PCI pada pasien STEMI dengan onset ≤ 12 jam. Untuk memenuhi target tersebut Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Unit Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) telah bekerja sama untuk memperbaiki proses pelayanan Primary PCI sejak awal tahun 2017 dengan capaian door to balloon time bulan Januari – Agustus 2017 adalah 203,5 menit. Penelitian ini untuk mengetahui pedoman pelayanan, alur pelayanan, mengidentifikasi kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah (waste), akar masalah panjangnya door to balloon time serta usulan perbaikan pelayanan Primary PCI. Desain penelitian ini adalah analisa kualitatif dengan metode observasi, telaah dokumen, dan wawancara mendalam di IGD dan PJT dengan kerangka acuan DMAI (Define, Measure, Analyse, Improve). Hasil penelitian didapatkan SPO dan PPK terkait pelayanan Primary PCI belum ada, Clinical Pathway Terintegrasi belum ditetapkan, bulan September – Desember 2017 didapatkan capaian door to balloon time dengan median 182 menit, namun tidak dapat dibuat Value Stream Maping (VSM) dikarenakan data dalam rekam medik tidak lengkap. Hasil observasi Februari – April 2018 didapatkan capaian door to balloon time dengan median 126 menit dengan lead time 270,5 menit, cycle time 209,8 menit, waiting time 60,7 menit dengan value added 41,7% dan non value added 58,3%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa alur proses pelayanan pasien STEMI dengan tindakan Primary PCI masih tergolong un-lean dan perhitungan Six Sigma berada di level sigma 2 yang memungkinkan terdapat 308.538 tindakan Primary PCI melebihi door to balloon time ≤ 90 menit dari 1 juta kesempatan. Terdapat 40 waste dan 10 varian diseluruh proses pelayanan, dimana waste yang terbanyak terdapat pada waiting, extra processing dan confusion. Hasil analisis Fishbone didapatkan faktor man dan method adalah yang paling dominan menjadi penyebab keterlambatan pelayanan pasien STEMI dengan tindakan Primary PCI. Dibutuhkan komitmen dari managemen rumah sakit dan dukungan dari seluruh tim yang terlibat dalam pelayanan Primary PCI untuk melakukan perbaikan secara terus menerus dengan pembuatan SPO dan PPK sebagai pedoman pelayanan, managemen rumah sakit membuat sistem yang baik agar pelayanan Primary PCI dapat terlaksana 24 jam, mengurangi dokumentasi rekam medik di IGD, penggantian mesin EKG, pemendekan jalur pemindahan pasien, segera menggunakan Clinical Pathway Terintegrasi Primary PCI serta melakukan evaluasi kualitas pelayanan yaitu mortality dan LOS. Kata kunci: Door to balloon time; Lean Six Sigma; Primary PCI

ABSTRACT Name : Anni Farida Ritonga Study Program : Magister of Hospital Administration Title : Analysis Of Door To Balloon Time On Primary Percutaneous Coronary Intervention With Lean Six Sigma Approach In Dr Cipto Mangunkusumo National Referral Hospital, 2017 Counsellor : Prof. dr Amal C. Sjaaf, SKM, Dr.PH Cipto Mangunkusumo National General Hospital (RSCM) has been providing Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) services since 2010 with a guideline in 2017 from the European Society of Cardiology (2012) which provides a door to balloon ≤90 minutes for PCI Primary Action in STEMI patients with an onset of ≤ 12 hours. To meet the target, Emergency Installation (IGD) and Integrated Heart Service Unit (PJT) have been working together to improve the Primary PCI service process since early 2017 with the achievement of door to balloon time from January to August 2017 is 203.5 minutes. This research is to know the guidance of service, service line, identify activity which do not give added value (waste), root of problem of door to balloon time length and suggestion of service improvement of Primary PCI. This research design is qualitative analysis with observation method, document review, and depth interview at IGD and PJT with DMAI reference frame (Define, Measure, Analyze, Improve). The result of the research shows that SPO and PPK related to Primary PCI service is not yet available, Clinical Pathway Integrated has not been established, September - December 2017 got door to balloon time with median 182 minutes, but can not be made Value Stream Maping (VSM) because data in medical record incomplete. The result of observation from February to April 2018 was achieved by door to balloon time with median 126 minutes with lead time 270,5 minutes, cycle time 209,8 minutes, waiting time 60,7 minutes with value added 41,7% and non value added 58, 3%. This study concludes that the flow of STEMI patient service process with Primary PCI action is still classified un-lean and Six Sigma calculation is at sigma level 2 which enables 308,538 Primary PCI actions beyond the door to balloon time ≤ 90 minutes from 1 million occasions. There are 40 waste and 10 variants throughout the service process, where the most waste is in waiting, extra processing and confusion. Fishbone analysis results obtained man factor and method is the most dominant cause of delay in patient service STEMI with Primary PCI action. It takes commitment from hospital management and support from all team involved in Primary PCI service to make continuous improvement with SPO and KDP as service guidance, hospital management make good system for Primary PCI service can be done 24 hours, reduce documentation medical records at ER, ECG machine replacement, shortening of patient transfer path, immediately using Clinical Pathway Integrated Primary PCI and evaluating service quality that is mortality and LOS. Keywords: Door to balloon time; Lean Six Sigma; Primary PCI
Read More
B-2005
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Kurnia PS; Pembimbing: Suprijanto Rijadi
B-756
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tulus Kurnia Indah; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Rakhmat Hidayat, Nugraharti, Erwien Sri Ujianto
Abstrak:
Latar Belakang: Proses perawatan di rumah sakit didukung oleh berbagai aktivitas operasional diantaranya pengelolaan logistik dan distribusi perbekalan farmasi. Biaya perbekalan kesehatan merupakan pengeluaran terbesar kedua di rumah sakit setelah belanja pegawai, oleh sebab itu pimpinan rumah sakit perlu mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan proses logistik untuk menurunkan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Untuk meningkatan proses logistik diperlukan pemahaman terkait kinerja rantai pasokan yang saat ini berjalan, sehingga melakukan analisa kinerja rantai pasokan merupakan hal mendasar untuk mengatasi kekurangan dalam aktivitas logistik. Tujuan: Studi ini bertujuan melakukan analisa terkait waste yang ada pada proses perencanaan dan pengadaan obat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, kemudian mencari penyebab dan akar masalah timbulnya pemborosan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkumo bulan April-Mei 2024. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan key specialist informan yang terkait dengan kegiatan perencanaan dan pengadaan dan observasi lapangan. Data sekunder diperoleh dari telaah data realisasi pemakaian obat tahun 2022, data usulan perencanaan dari unit kerja dan hasil rekapitulasi instalasi farmasi tahun 2023, data daftar barang dalam kontrak tahun 2023, datapenerimaan dan data pemakaian obat tahun 2023. Tahapan penelitian disusun berdasarkan lean six sigma dari mulai define, measure, analyze dan improve. Hasil: Jenis waste yang terjadi diantaranya penyedia tidak mengirimkan obat terhadap item perencanaan yang telah memiliki kontrak, obat yang dipesan dan dikirim tetapi tidak memiliki realisasi penggunaan, penyedia bersedia mengirimkan obat tetapi tidak mau berkontrak dengan rumah sakit, penyedia tidak bersedia mengirimkan obat dan tidak mau berkontrak dengan rumah sakit dan adanya pengadaan lain di luar jalur kontrak utama. Dari seluruh waste yang ada terjadinya pengadaan di luar jalur kontrak utama merupakan jumlah waste yang paling sering terjadi sehingga menjadi area improvement pada penelitian ini. Penyebab dari pemborosan yang masih dapat dikontrol oleh internal rumah sakit adalah keterlambatan penerbitan kontrak. Akar masalahnya karena tiap unit kerja yang terkait dengan kegiatan perencanaan dan pengadaan menyelesaikan proses kerja tanpa mempertimbangkan waktu penyelesaian proses sesudahnya, sehingga tujuan dari perencanaan dan pengadaan yang berupa penerbitan kontrak sebelum tahun anggaran menjadi tidak terlaksana. Kesimpulan: Dalam proses yang berjalan secara berkelanjutan diperlukan proses kerja yang terintegrasi berdasarkan komitmen setiap anggota rantai agar tujuan proses tersebut dapat tercapai.

Introduction: The hospital care process is supported by various operational activities including logistics management and distribution of pharmaceutical supplies. The cost of health supplies is the second largest expenditure in hospitals after personnel expenditure, therefore hospital leaders need to identify opportunities to improve logistics processes to reduce costs and improve the quality of health services. To improve logistics processes, an understanding of current supply chain performance is required, so analyzing supply chain performance is fundamental to overcoming deficiencies in logistics activities. Objective: This study aims to analyze waste in the drug planning and procurement at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, then looked for the causes and root causes of waste. Method: This research uses qualitative methods with a case study approach. The research location is at RSUPN Dr. Cipto Mangunkumo on April-May 2024. Primary data was obtained through interviews with key specialist informants related to planning and procurement activities and field observations. Secondary data was obtained from a review of drug use in 2022, drug planning proposals from units and results of drug planning recapitulation by pharmaceutical installations in 2023, list of drugs in contracts 2023, drug receive order and drug use in 2023. The research stages were arranged based on lean six sigma method from define, measure, analyze and improve. Results: Types of waste that occur include supplier not sending drugs from planning items that already have a contract, drugs ordered and sent but not having actual use, suppliers willing to send drugs but refusev to contract with the hospital, suppliers refuse to send drugss and refuse to contracts with hospitals and procurements that come from another its main contracts. The procurements that come from another its main contract occurs most frequently, so it is an area of improvement in this research. The cause of waste that can still be internally controlled by the hospital is delays in issuing contracts. The root of the problem is because each unit related to planning and procurement activities completes the process without considering the completion time of the process afterwards, so that the aim of planning and procurement to complete all the procurement contract before end of the year do not achieved. Conclusion: In a process that runs continuously, an integrated work process is needed based on the commitment of each member of the chain so that the process objectives can be achieved.
Read More
B-2469
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septo Sulistio; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Hervita Diatri, Tetyana Madjid
Abstrak:

Latar Belakang: Kepadatan (overcrowding) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan isu global yang berdampak negatif terhadap keselamatan pasien dan kualitas pelayanan. Length of Stay (LOS) atau lama rawat, dengan target ≤4 jam, menjadi indikator kinerja kunci di banyak negara untuk mengatasi masalah ini. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menetapkan target pencapaian LOS ≤4 jam sebesar ≥90% untuk rumah sakit vertikal. Namun, capaian di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) masih sangat rendah, yakni 18% pada triwulan keempat tahun 2023. Sebagai solusi, RSCM mengimplementasikan Ruang Rawat Emergensi (RRE), sebuah unit observasi, untuk memperbaiki alur pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penerapan RRE terhadap pencapaian target LOS ≤4 jam di IGD RSCM.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif kausal-komparatif. Data sekunder dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis elektronik seluruh pasien IGD RSCM. Analisis membandingkan periode sebelum implementasi RRE (1 Januari s.d. 31 Desember 2023) dengan periode setelah implementasi (1 Januari s.d. 31 Desember 2024). Uji statistik yang digunakan meliputi analisis univariat dan bivariat (Uji Mann-Whitney dan Chi-Square) untuk menguji perbedaan antar kelompok.
Hasil: Setelah implementasi RRE, terjadi penurunan signifikan pada median LOS pasien IGD secara keseluruhan, dari 16,36 jam pada tahun 2023 menjadi 8,01 jam pada tahun 2024. Proporsi pasien yang memenuhi target LOS ≤4 jam meningkat dari 17,66% menjadi 26,71%. Pasien zona kuning yang diputuskan rawat di RRE memiliki median LOS IGD yang secara signifikan lebih singkat (6,42 jam) dibandingkan dengan yang dirawat di ruang non-RRE (11,62 jam). Keputusan rawat oleh DPJP Emergensi menunjukkan peluang 1,86 kali lebih tinggi untuk mencapai target LOS ≤4 jam dibandingkan DPJP non-emergensi. Secara finansial, RRE memberikan keuntungan pada kelompok pasien yang dapat dipulangkan.
Kesimpulan: Penerapan RRE terbukti secara signifikan dapat mempersingkat median LOS pasien di IGD dan meningkatkan proporsi pencapaian target LOS ≤4 jam. Meskipun demikian, capaian tersebut masih jauh di bawah target nasional ≥90%. RRE merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi dampak kepadatan IGD dan berpotensi memberikan keuntungan finansial. Peran DPJP Emergensi dalam pengambilan keputusan disposisi pasien sangat krusial untuk optimalisasi alur pelayanan


 

Background: Emergency department (ED) overcrowding is a global issue that negatively impacts patient safety and quality of care. Length of Stay (LOS), with a target of ≤4 hours, has become a key performance indicator in many countries to address this issue. In Indonesia, the Ministry of Health set a target of achieving LOS ≤4 hours of ≥90% for vertical hospitals. However, the achievement at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) is still very low, at 18% in the fourth quarter of 2023. As a solution, RSCM implemented the Emergency Department Observation Room (RRE), an observation unit, to improve patient flow. This study aims to analyze the impact of RRE implementation on achieving the LOS ≤4 hours target in the emergency department of RSCM. Methodology: This study used a causal-comparative quantitative design. Secondary data were collected retrospectively from the electronic medical records of all RSCM emergency department patients. The analysis compared the period before RRE implementation (January 1 to December 31, 2023) with the period after implementation (January 1 to December 31, 2024). Statistical tests used included univariate and bivariate analysis (Mann-Whitney and Chi-Square tests) to test for differences between groups. Results: After RRE implementation, there was a significant decrease in the overall median LOS of emergency department patients, from 16.36 hours in 2023 to 8.01 hours in 2024. The proportion of patients who met the LOS ≤4 hours target increased from 17.66% to 26.71%. Yellow zone patients who were decided to be treated in the RRE had a significantly shorter median ED LOS (6.42 hours) compared to those treated in non-RRE rooms (11.62 hours). Treatment decisions by emergency medicine specialists showed a 1.86 times higher chance of achieving the LOS ≤4 hours target compared to non-emergency medicine specialists. Financially, RRE benefited the group of patients who could be discharged. Conclusion: The implementation of RRE is proven to significantly shorten the median LOS of patients in the ED and increase the proportion of achieving the LOS target of ≤4 hours. However, this achievement is still far below the national target of ≥90%. RRE is an effective strategy to reduce the impact of ED overcrowding and has the potential to provide financial benefits. The role of the Emergency medicine specialists in making patient disposition decisions is crucial for optimizing the flow of care.

 

Read More
B-2525
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Saputera; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Theryoto, Lianingsih Partahusniutojo
Abstrak:
Service time merupakan salah satu indikator mutu pelayanan IGD RS termasuk di IGD RS St. Carolus Summarecon Serpong, dengan pencapaian service time ≤ 3 jam 74,3% dari target > 90% total pasien rawat inap dari IGD. Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan metode kuantitatif dan kualitatif serta teknik probability sampling dalam pengambilan sampel sejumlah 32 pasien IGD. Hasil penelitian dengan pendekatan lean six sigma berhasil mengidentifikasi waste waiting pada tahap transfer pasien IGD ke ruang rawat inap sebagai penyebab akar masalah, menurunkan lead time dari 4 jam 14 menit menjadi 2 jam 39 menit 2 detik (↓ 37,4%) pada tahap post intervensi dan menjadi 2 jam 19 menit 46 detik (↓ 12,1%) pada tahap control; menurunkan aktivitas non value-added dari 1 jam 38 menit 19 detik menjadi 32 menit 22 detik (↓ 67,1%) pada tahap post intervensi dan menjadi 25 menit 23 detik (↓ 21,6%) pada tahap control serta berhasil mengeliminasi waste transport dan menurunkan waktu waste waiting. Kombinasi berbagai tools lean six sigma dalam penelitian ini (heijunka, standardized work, 5 S, Single Exchange Minutes of Dies, dan visual management) mampu menurunkan lead time sebesar 55% pada tahap control, apabila dibandingkan dengan intervensi menggunakan satu tools saja.

Service time is an indicator of the quality of hospital ER services, including at St. Carolus Summarecon Serpong Hospital, by achieving service time ≤ 3 hours 74,3% of the target > 90% of the total inpatients from the ER. This study used an operational research design with quantitative and qualitative methods as well as probability sampling techniques in taking a sample of 32 ER patients. The results of this study using the lean six sigma approach succeeded in identifying waste waiting at the transfer stage of ER patients to the inpatients room as the root cause of the problem, reducing lead time from 4 hours 14 minutes to 2 hours 39 minutes 2 seconds (↓ 37,4%) in the post stage intervention and became 2 hours 19 minutes 46 seconds (↓ 12,1%) in the control stage; reduced non value-added activities from 1 hour 38 minutes 19 seconds to 32 minutes 22 seconds (↓ 67,1%) in the post intervention stage and became 25 minutes 23 seconds in the control stage; succeeded in eliminating transport waste and reduce waste waiting time. The combination of various lean six sigma tools in this study (heijunka, standardized work, Single Exchange Minutes of Dies, and visual management) was able to reduce lead time by 55% in the control stage, compared with intervention using just one tool.
Read More
B-2404
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radi Muharris Mulyana; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Jaslis Ilyas, M. Arza Putra, Winarto
Abstrak:

Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peranan penting dalam penanganan awal trauma berat untuk mencegah kematian maupun kecacatan. IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan sistem “Cipto Code Trauma” sejak 2019 untuk menjamin waktu tanggap trauma berat < 5 menit, meski capaiannya belum memenuhi target. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang menjadi determinan waktu tanggap trauma berat di IGD RSCM, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perbaikan sistem. Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap pasien trauma berat yang berkunjung ke IGD RSCM tahun 2023-2024. Analisis dilakukan terhadap faktor pasien, struktur, dan proses layanan. Dari 124 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, karakteristik pasien terbanyak yaitu usia dewasa, laki-laki, dengan mekanisme kecelakaan lalu lintas, dan memiliki lebih dari 1 jenis cedera. Pasien umumnya datang tanpa Ambulans dan tanpa komunikasi pra-RS. Tanda vital saat datang sebagian besar normal. Pasien terbanyak datang pada malam hari, saat kondisi IGD padat, dengan jumlah tenaga di IGD mencukupi. Hanya 51,6 % pasien menggunakan jaminan. Rerata waktu tanggap trauma berat yaitu 12 menit 42 detik. Didapatkan bahwa faktor usia pasien, transportasi menggunakan Ambulans, frekuensi nadi saat pasien datang, waktu shift pelayanan di IGD, dan jumlah tim yang bertugas berhubungan dengan waktu tanggap pasien trauma berat di IGD RSCM. Waktu tanggap trauma berat tidak berhubungan dengan luaran pasien yaitu kebutuhan perawatan intensif maupun kematian.


 

Emergency Room (ER) plays a significant role in the initial management of severe trauma to prevent morbidity or mortality. Since 2019, ER of Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) have established “Cipto Code Trauma” system to ensure the response time of < 5 minutes, although the target has not yet been achieved. This study is performed to determine factors associated with response time for severe trauma in ER CMH, which could be beneficial for system improvement. This is a retrospective study on severe trauma patients admitted to ER CMH from 2023-2024. Analysis performed towards patient, structure, and process factors. Among the 124 samples fulfilling the inclusion and exclusion criteria, most patients are adults, men, due to traffic injury, and had more than 1 injury. Patients generally came without Ambulance nor prehospital communication. Vital signs were mostly normal. Patients mostly came on the night shift, during a crowded ER, and received by an adequate number of ER staff. Only 51,6 % of patients were covered with insurance. Mean response time was 12 minutes and 42 seconds. Patients’ age, Ambulance transportation, initial heart rate, time of service by shift, and number of personnel are associated with response time for severe trauma in ER CMH. Response time for severe trauma is not associated with the outcome of critical care requirement or mortality.

Read More
B-2523
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tita Maulita Sawitri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Adik Wibowo, Tintin Martini, Mohammad Rifki
Abstrak: Waktu tunggu merupakan salah satu indikator dari pelayanan kesehatan. Peningkatan waktu tunggu di IGD berdampak pada hari perawatan yang lebih lama, meningkatnya mortalitas dan berkurangnya kepuasan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu tunggu pelayanan di Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan metode lean untuk mengetahui pemborosan (waste) di setiap tahap pelayanan. Metode penelitian ini merupakan operational research dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan sumber data primer yang diambil melalui observasi langsung dengan teknik time motion study dan wawancara mendalam. Waktu tunggu di IGD RSU Kabupaten Tangerang adalah 852,92 menit untuk pasien yang dirawat inap dan 564,24 menit untuk pasien yang dirawat jalan. Lamanya waktu pada setiap pelayanan adalah sebagai berikut : waktu pelayanan triase 11, 83 menit, waktu tunggu pemeriksaan dokter IGD 32,25 menit, waktu pemberian obat dan tindakan adalah 22,33 menit, waktu tunggu pemeriksaan laboratorium 106,07 menit, waktu tunggu pemeriksaan radiologi 140,15 menit, waktu tunggu konsultasi dokter spesialis 146,54 menit, waktu tunggu pendaftaran rawat inap 164,8 menit, waktu tunggu masuk rawat inap 58,5 menit, waktu administrasi pasien pulang 89,6 menit. Aktivitas non valued added terbesar adalah pada waktu menunggu konsultasi dokter spesialis. Ditemukan 2 jenis waste yaitu menunggu (93,3%) dan motion (6,7%). Setelah melakukan analisis dengan metode 5 why didapatkan akar masalah adalah pada jumlah tenaga perawat, belum maksimalnya petugas menjalankan tupoksi, aplikasi sistem informasi rumah sakit yang kurang user friendly, tidak standby-nya dokter spesialis serta SPO konsultasi yang belum optimal dijalankan, kurangnya pengalaman klinis dokter IGD, serta ketidaksediaan ruangan rawat. Kesimpulan penelitian ini bahwa waktu tunggu pelayanan pasien di IGD RSU Kabupaten Tangerang melebihi waktu standar (4 jam). Pendekatan dengan lean tepat dilakukan untuk mencari waste dalam aktivitas pelayanan kesehatan agar dapat diperoleh upaya pemecahan masalah untuk memperbaiki waktu tunggu pelayanan di IGD RSU Kabupaten Tangerang.
Waiting time is one indicator of health services. The increase in waiting time in the Emergency Department (ED) has an impact on longer treatment days, increased mortality and reduced patient satisfaction. The purpose of this study was to determine the length of stay for services at the emergency department of the Tangerang General Hospital using lean method to determine waste at each stage of activity. This research method is operational research with qualitative and quantitative approaches, primary data sources taken from direct observation using time motion study techniques and in-depth interviews. The waiting time at the ER at the Tangerang Regency General Hospital is 852.92 minutes for inpatients and 564.24 minutes for outpatients. The length of time for each service is as follows: triage is 11.83 minutes, waiting time for an emergency room doctor examination is 32.25 minutes, drug administration time and action is 22.33 minutes, waiting time for laboratory examination is 106.07 minutes, waiting time for examination radiology 140.15 minutes, waiting time for specialist doctor consultation 146.54 minutes, waiting time for inpatient registration 164.8 minutes, waiting time for inpatient admission 58.5 minutes, patient administration time going home 89.6 minutes. The largest nonvalued added activity is waiting for specialist consultations. Found 2 types of waste, namely waiting (93.3%) and motion (6.7%). After conducting an analysis using the 5 why method, the root of the problem was found in the number of nurses, not yet maximally carrying out tupoksi, hospital information system applications that are less user friendly, specialist doctors are not standby and consultation SOPs are not optimally run, lack of clinical experience of doctors ER, as well as the unavailability of the ward. The conclusion, t the waiting time in the ER at the Tangerang General Hospital exceeds the standard time (4 hours). The lean approach is appropriate to look for waste in health service activities so that problem solving efforts can be obtained to improve service waiting times in the IGD RSU Tangerang Gneral Hospital
Read More
B-2216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Nita Noer; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Umi Aisyiyah
S-8941
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive