Ditemukan 31894 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Haryman Utama Suryadinata; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sandi Iljanto, Atik Nurwahyuni, Robby Purnamasidhi, T. Robertus
Abstrak:
Penggunaan antibiotik yang salah atau irasional dapat menyebabkan terjadinya kasus Antibiotic Resistance (ABR). Salah satu proses dalam mengendalikan ABR yaitu dengan melakukan evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik dengan alur Gyssens. Rumah Sakit X saat ini berupaya untuk terus memenuhi standar pelayanan kesehatan yaitu tentang penggunaan antibiotik yang rasional. Metode untuk mengevaluasi rasionalitas yang digunakan adalah dengan metode Gyssens. Kemudian, beberapa hasil yang menarik akan diverifikasi dengan tim pada saat diskusi dilakukan. Sampel yang dikumpulkan sebanyak 307 kali penggunaan antibiotik. Terdapat 7,5% penggunaan antibiotik yang sesuai dengan pedoman dan penggunaan antibiotik terbanyak pada golongan Cephalosporin generasi 3 (Ceftriaxone) dan Beta Lactam (Ampisilin Sulbaktam). Penyebab terjadinya ketidaksesuaian dan dalam penggunaan antibiotik adalah belum adanya standar pedoman penggunaan antibiotik pada seluruh kelompok diagnosa penyakit, beberapa antibiotik tidak tersedia di rumah sakit, beberapa kebijakan dan program belum berjalan maksimal. Dampak tersebut dapat menyebabkan potensi terjadinya resistensi, penurunan efektivitas obat bahkan dapat meningkatkan biaya pengobatan. Beberapa solusi harus segera dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan cost saving dan hal ini dapat berpengaruh terhadap pembelian obat di rumah sakit termasuk pada mengurangi potensi risiko lainnya yang dapat muncul. Hal tersebut memiliki tujuan akhir yang sama yaitu kualitas pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya yang terkendali. Kata Kunci: Antibiotik, Penggunaan Antibiotik, Evaluasi Rasionalitas, Metode Gyssens, Alur Gyssens Irational antibiotics usage could drive into Antibiotics Resistance (ABR) which could be control by doing the evaluation of antbiotic usage. Nowdays, Hospital X is very concern to improve their quality of services by pushing rational usage of antibiotics. This reasearch will evaluate the rationality of antibioic useage with Gyssens algorithm, and cntinue by some discussion with the team for verification the interesting results. The total sample is 307 cases of antibiotic used. There are 7,5% rational cases of antibiotics usage which Cephalosporin 3 generation (Ceftriaxone) and Beta Lactam (Ampicillin Sulbactam) were the most frequent delivered. Those irational antibiotic usage caused by there was no antibiotics used guideline for therapy especially for antibiotics therapy, some kind of antibiotics are not available in hospital and some internal regulations and programs were not working properly which could drive to antibiotics resistance, inefficient of the treatment and also increase the treatment cost. The hospital should do some improvement to prevent the resistance, which could give some benefits such as increase cost saving of the treatment, decrease the purchasing level and minimum risk of potential incident. All of those things just to reach the best quality with the controlled cost of healthy services Keywords : Antibiotics, Antibiotics Usage, Rationality Evaluation, Gyssens Algorithm
Read More
B-1947
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukma Marthia Rahani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Erike A. Suwarsono, Dede Sri Mulyana
Abstrak:
Read More
Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional dipercaya dapat mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan pasien pneumonia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional diduga juga dapat menyebabkan pemanjangan lama hari rawat di rumah sakit sehingga mempengaruhi biaya perawatan pasien pneumonia. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 2%, sedangkan tahun 2013 sebesar 1.8%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerasionalan penggunan antibiotik dengan outcome klinis pasien pneumonia di Rumah Sakit Haji Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik (cross-sectional) kuantitatif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta periode 1 Januari 2019 sampai dengan 31 Desember 2019. Dari 77 sampel yang didapat, sebanyak 37,7% pasien mendapatkan antibiotik secara tepat, 93.5% pasien mendapat dosis antibiotik secara tepat, 85.7% pasien yang mendapat antibiotik dengan durasi yang tepat, dan 98.7% pasien mendapat antibiotik dengan frekuensi yang tepat. Perbaikan klinis yang terjadi ≤ hari kelima sebanyak 88.3% dan lama hari rawat (length of stay) ≤ 5 hari sebanyak 67.5%. Kerasionalan penggunaan antibiotik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap outcome klinis (p value > 0.05) dan lama hari rawat (p value > 0.05).
Appropriate and rational use of antibiotic is believed to prevent the occurrence of resistance to antibiotic also affect the success of the treatment of pneumonia patients. The irrational use of antibiotic is thought to also be able to cause lengthening of the length of stay in the hospital, thereby affecting the cost of treating pneumonia patients. Riskesdas data for 2018 showed an increase in the prevalence of pneumonia based on diagnosis by health professionals by 2%, while in 2013 it was 1.8%. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antibiotic with the clinical outcome of pneumonia patients at the Jakarta Hajj Hospital. This research is a quantitative descriptive-analytic (cross-sectional) study whose data was collected retrospectively using medical records of patients at the Jakarta Hajj Hospital for the period of January 1 2019 to 31 December 2019. Of the 77 samples obtained, 37.7% patients get the right antibiotik, 93.5% of patients get the right dose of antibiotic, 85.7% of patients get antibiotic with the right duration, and 98.7% of patients get antibiotic with the right frequency. Clinical improvement that occurred ≤ fifth day was 88.3% and length of stay ≤ 5 days was 67.5%. The rationality of antibiotik use did not show a significant relationship to clinical outcome (p value > 0.05) and length of stay (p value > 0.05).
Appropriate and rational use of antibiotic is believed to prevent the occurrence of resistance to antibiotic also affect the success of the treatment of pneumonia patients. The irrational use of antibiotic is thought to also be able to cause lengthening of the length of stay in the hospital, thereby affecting the cost of treating pneumonia patients. Riskesdas data for 2018 showed an increase in the prevalence of pneumonia based on diagnosis by health professionals by 2%, while in 2013 it was 1.8%. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antibiotic with the clinical outcome of pneumonia patients at the Jakarta Hajj Hospital. This research is a quantitative descriptive-analytic (cross-sectional) study whose data was collected retrospectively using medical records of patients at the Jakarta Hajj Hospital for the period of January 1 2019 to 31 December 2019. Of the 77 samples obtained, 37.7% patients get the right antibiotik, 93.5% of patients get the right dose of antibiotic, 85.7% of patients get antibiotic with the right duration, and 98.7% of patients get antibiotic with the right frequency. Clinical improvement that occurred ≤ fifth day was 88.3% and length of stay ≤ 5 days was 67.5%. The rationality of antibiotik use did not show a significant relationship to clinical outcome (p value > 0.05) and length of stay (p value > 0.05).
B-2151
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diana Latifa; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Tien AStari, Isti Qomarsih
Abstrak:
Sejak Maret 2015, di Lingkungan PT Rumah Sakit Pelabuhan diimplementasikankebijakan satu pintu dalam pengadaan obat dan alat kesehatan. Namun belum adatools atau evaluasi yang dilakukan bilamana implementasi kebijakan tersebut sudahberhasil ataupun masih ada hal-hal yang perlu dilakukan perbaikan.Penelitian ini menggunakan analisis ABC sebagai tools dalam melakukan evaluasiatas kebijakan satu pintu dalam pembelian obat dan alat kesehatan di Lingkungan PTRumah Sakit Pelabuhan, yaitu dengan data yang diambil dari Rumah Sakit PelabuhanJakarta dan RS Port Medical Center. Dalam penelitian ini akan dilakukan penelitiandengan fokus dan data obat antibiotik dengan menggunakan analisis ABC nilaiinvestasi, analisis ABC nilai pemakaian dan analisis ABC indeks kritis sehingga bisadihasilkan pengelompokkan menjadi kelompok A, kelompok B dan kelompok C.Selain metode kuantitatif, penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif denganmelakukan wawancara untuk cross checking dengan hasil perhitungan kuantitatifyang diperoleh. Selanjutnya untuk kelompok A dihitung Economic Order Quantity(EOQ) dan Re-Order Point (ROP) serta dibandingkan Total Inventory Cost (TIC)-nyadengan TIC versi rumah sakit sehingga bisa diketahui apakah metode atau carapengadaan obat dan alat kesehatan yang sudah dilakukan di lingkungan PT RumahSakit Pelabuhan sudah efisien atau belum.Hasil penelitian memberikan hasil bahwa pengadaaan obat dan alat kesehatankhususnya untuk antibiotik di lingkungan PT Rumah Sakit Pelabuhan perlu untukdiberikan prioritas dan fokus untuk obat antibiotik yang masuk kelompok A karenadari sisi investasi memilki nilai tinggi dan juga tergolong obat yang critical.Perbaikan perlu dilakukan dengan cara mengintegrasikan IT ke dalam bagian yangterkait dengan pengadaan obat dan alat kesehatan seperti bagian gudang, farmasi,keuangan sehingga kondisi stok obat bisa diketahui secara real time supaya efisiendan menghindari fraud.Kata Kunci : Kebijakan Satu Pintu, Analisis ABC, EOQ, ROP, TIC.
Read More
B-1770
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhayati; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anhari Achadi, Judi Januadi Endjun
B-1242
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pusposari Purwoko; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Artha Prabawa, Dwi Edhityasrini Pratikto
Abstrak:
Read More
Rekam medis merupakan berkas yang wajib dimiliki oleh rumah sakit, karena berisi tentang catatan pengobatan pasien di rumah sakit (RS). Saat ini rekam medis di Indonesia telah mengalami perubahan menjadi rekam medis berbasis elektronik dan wajib diimplementasikan paling lambat tanggal 31 Desember 2023. Beberapa RS telah mengembangkan RME namun implementasinya tidak berjalan lancar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi rekam medis elektronik (RME) menggunakan metode Human, Organization dan Technology (HOT)-Fit di Instalasi Rawat Jalan RS AN-NISA Tangerang. Hubungan antara ketiga variabel tersebut akan dianalisis mengenai kaitannya dengan net benefit penggunaan rekam medis elektronik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional melalui survei. Teknik analisis data menggunakan analisis jalur untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil penelitian menggambarkan bahwa ada hubungan antara teknologi RME dengan pengguna RME, ada hubungan antara teknologi RME dengan organisasi RS, ada hubungan antara organisasi RS dengan net benefit RME, ada hubungan tidak langsung antara teknologi RME dengan net benefit RME melalui organisasi RS, dan tidak ada bukti yang cukup kuat untuk membuktikan hubungan antara pengguna RME dengan net benefit RME. Saran dari penelitian ini supaya RS melakukan evaluasi rutin dan melibatkan para pengguna RME dalam pengembangan aplikasi.
Medical records are files that must be owned by hospitals, because they contain records of patient treatment in hospitals. Currently, medical records in Indonesia have changed to electronic-based medical records and must be implemented no later than December 31, 2023. Some hospitals have developed RME but the implementation is not running smoothly. This study aims to evaluate the implementation of electronic medical records (RME) using the Human, Organization and Technology (HOT)-Fit method at the Outpatient Installation of AN-NISA Tangerang Hospital. The relationship between the three variables will be analyzed regarding their relationship with the net benefits of using electronic medical records. This research is a quantitative study with a cross sectional approach through a survey. The data analysis technique uses path analysis to see the relationship between variables. The results illustrate that there is a relationship between RME technology and RME users, there is a relationship between RME technology and hospital organization, there is a relationship between hospital organization and RME net benefits, there is an indirect relationship between RME technology and RME net benefits through hospital organization, and there is no evidence strong enough to prove the relationship between RME users and RME net benefits. The suggestion from this study is for hospitals to conduct regular evaluations and involve RME users in application development.
B-2386
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurkasna Wahyuni; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Purnawan Junadi, Faiq Bahfen, Dumilah Ayunigtyas
B-1214
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulastri; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Nurlayli
S-6987
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Evelina Endang Nurjaman; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Margareth Aryani Santoso, Anhari Achadi
Abstrak:
Read More
Pendahuluan: Peresepan antibiotik pra-pembedahan (profilaksis) merupakan penggunaan antibiotik yang sering dijumpai di rumah sakit dan pengendalian penggunaannya sangat penting namun belum banyak diteliti di Indonesia. Berdasarkan data dari surveillans audit bundles pencegahan Infeksi Daerah Operasi di RS X periode Oktober-Desember 2023, didapatkan kesesuaian jenis antibiotik profilaksis maupun ketepatan waktu pemberian antibiotik profilaksis 30-60 menit sebelum insisi masih di bawah 60%. Metodologi: Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian dan rasionalitas peresepan antibiotik profilaksis serta melakukan evaluasi penyebab ketidaksesuaian. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil: Penelitian ini didapat capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih kurang dari 60%. Dari analisis faktor yang mempengaruhi perilaku didapatkan kapabilitas dan kesempatan sudah baik namun kekhawatiran risiko infeksi dan keluarah hasil operasi mempengaruhi motivasi untuk memberikan antibiotik profilaksis secara bijak. Kesimpulan: Capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih rendah (< 60%) dengan variasi yang tinggi karena belum tersedianya prosedur detail. Ketidakpatuhan tertinggi ditemukan pada kelompok ortopedi terkait indikasi dan durasi pemberian. Meskipun tingkat kepatuhan rendah, tidak ditemukan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada seluruh subjek. Ketidakpatuhan dokter dipicu oleh kekhawatiran terhadap hasil operasi dan skeptisisme atas efektivitas antibiotik lini pertama, yang lebih memprioritaskan keamanan pasien jangka pendek dibandingkan risiko resistensi antimikroba. Oleh karena itu, pimpinan rumah sakit perlu melakukan intervensi secara sistematis dan menerapkan pemantauan menyeluruh untuk meningkatkan peresepan antibiotik profilaksis sesuai standar.
Introduction: The use of presurgical antibiotics is common, but adherence to guideline is low. Improper use can lead to antibiotic resistance. A preliminary study was conducted at Hospital X between October and December 2023. The study found that the correct type of antibiotic and the timing of administration (30-60 minutes before incision) were both below 60% adherence. Research objectives is to analyze the appropriateness and rationality of pre-surgical antibiotics prescriptions and to evaluaste the causes of noncompliance. The research used a mixed-methods approach. Descriptive statistics to analyze prescribing patterns. Semi-structured interviews to understand the reasons behind prescribing practices. Research finding: Adherence to prescribing guidelines for antibiotic prophylaxis was less than 60%. While doctors had the capability and opportunity to prescribe correctly, concerns about infection risk and surgical outcomes influenced their motivation, leading to potentially less judicious use of antibiotics. The study concludes that compliance with prophylactic antibiotic prescribing remains low (< 60%), characterized by significant practice variation due to the absence of detailed procedural guidelines. The lowest compliance was observed within the orthopedic group regarding indications and duration of administration. Despite low adherence, no Surgical Site Infections (SSI) were reported across all subjects. Clinician non-compliance is driven by concerns over surgical outcomes and skepticism regarding the efficacy of first-line antibiotics, prioritizing immediate patient safety over the long-term risk of antimicrobial resistance. Consequently, hospital leadership must implement systematic interventions and comprehensive monitoring to align prophylactic antibiotic prescribing with established standards. Key words: antibiotic prophylaxis, appropriateness, rationality, behaviour
B-2562
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara Bunga Melati Jelita; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Adang Bachtiar, Septiara Putri, Abdul Haris Tri Prasetyo, Tjen Dravinne Winata
Abstrak:
Keterbatasan akan ketersediaan masker N95 di rumah sakit selama pandemi COVID-19 menjadi masalah setiap fasilitas kesehatan dimana kebutuhan yang terus meningkat. Penggunaan kembali masker N95 dengan metode sterilisasi telah diteliti dan sudah diperbolehkan berdasarkan Pedoman Centers for Disease Control (CDC). Beberapa metode sterilisasi dapat dilakukan, sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar tidak menurunkan fungsi dari masker N95. Yang dinilai dari proses sterilisasi adalah efisiensi masker setelah sterilisasi, hingga jumlah pemakaian yang dapat digunakan. Juga parameter kondisi masker N95 setelah sterilisasi, yaitu efisiensi filter pada lapisan masker N95. Dalam pendekatan manajemen rumah sakit dengan menilai dan waktu proses sterilisasi dan berapa banyak siklus sterilisasi yang dapat dilakukan. Hasil dari studi systematic review ini menunjukkan bahwa metode yang paling baik digunakan dalam pendekatan manajemen rumah sakit adalah dry heat, steaming dengan autoclave
Read More
B-2202
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Herman Tuah Sitohang; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Popy Yuniar, Savitri Handayana, Intan Rachmita Sari
Abstrak:
Read More
Implementasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) merupakan bagian dari upaya transformasi digital kesehatan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia. Meskipun implementasi SISRUTE telah diwajibkan bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, evaluasi terhadap efektivitas implementasinya, khususnya pada rumah sakit swasta, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas implementasi SISRUTE di rumah sakit swasta wilayah Jakarta Barat menggunakan pendekatan Human-Organization-Technology Fit (HOT-Fit) Model untuk menganalisis hubungan aspek manusia, organisasi, dan teknologi terhadap manfaat bersih (net benefit) implementasi sistem. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari instrumen HOT-Fit dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). Sebanyak 183 responden dari 17 rumah sakit swasta di wilayah Jakarta Barat memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediksi yang baik dengan nilai R² sebesar 0,730 pada variabel kepuasan pengguna, 0,872 pada penggunaan sistem, dan 0,800 pada manfaat bersih. Dari sembilan hipotesis yang diuji, enam hipotesis diterima dan tiga hipotesis ditolak. Kepuasan pengguna berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem (β=0,415; p<0,001) dan manfaat bersih (β=0,570; p<0,001). Struktur organisasi berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem (β=0,425; p<0,001), lingkungan organisasi berpengaruh positif terhadap manfaat bersih (β=0,378; p<0,001), serta kualitas sistem berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem (β=0,190; p=0,010) dan kepuasan pengguna (β=0,485; p=0,002). Sebaliknya, dukungan manajemen terhadap penggunaan sistem, kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna, dan kualitas layanan terhadap kepuasan pengguna tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi SISRUTE di rumah sakit swasta belum cukup efektif karena masih diperlukan dukungan manajemen dalam meningkatkan penggunaan sisrute dan diperlukan peningkatan kualitas informasi dan kualitas layanan dalam meningkatkan kepuasan pengguna SISRUTE. Kata kunci: SISRUTE, HOT-Fit Model, Evaluasi Sistem Informasi, Rumah Sakit Swasta, SEM-PLS, Kepuasan Pengguna, Manfaat Bersih.
The implementation of the Integrated Referral Information System (SISRUTE) is part of the digital health transformation effort aimed at enhancing the effectiveness and efficiency of the healthcare referral system in Indonesia. Although SISRUTE implementation has been mandated for all healthcare facilities, evaluations regarding the effectiveness of its implementation—particularly in private hospitals—remain limited. This study aims to evaluate the effectiveness of SISRUTE implementation in private hospitals in West Jakarta City using the Human-Organization-Technology Fit (HOT-Fit) model to analyze the relationships between human, organizational, and technological aspects and the net benefits of the system's implementation. A quantitative research with a cross-sectional design was employed. Data were collected via structured questionnaires adapted from the HOT-Fit instrument and analyzed using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). A total of 183 respondents from 17 private hospitals in West Jakarta City met the criteria for the study sample. The results indicate that the model possesses good predictive capability, with R² values of 0.730 for user satisfaction, 0.872 for system use, and 0.800 for net benefits. Of the nine hypotheses tested, six were accepted and three were rejected. User satisfaction had a positive and significant effect on system use (β=0.415; p<0.001) and net benefits (β=0.570; p<0.001). Organizational structure positively influenced system use (β=0.425; p<0.001), organizational environment positively influenced net benefits (β=0.378; p<0.001), and system quality positively influenced system use (β=0.190; p=0.010) and user satisfaction (β=0.485; p=0.002). Conversely, management support for system usage, information quality regarding user satisfaction, and service quality regarding user satisfaction did not show a significant relationships. The study concludes that the implementation of SISRUTE in private hospitals is not yet sufficiently effective; management support is still required to increase system usage, and improvements in information quality and service quality are needed to enhance user satisfaction.
B-2631
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
