Ditemukan 35985 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rika Yuanita Pratama; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Kemal N. Siregar, Toha Muhaimin, Victoria Indrawati, Husein Habsy
Abstrak:
Salah satu faktor risiko penularan penyakit HIV/AIDS di Indonesia adalah melalui hubungan seks tidak aman. Untuk memutus mata rantai penularan dapat dilakukan dengan pemakaian kondom secara konsisten dan benar pada saat melakukan hubungan seksual. Rendahnya konsistensi penggunaan kondom disebabkan oleh penawaran penggunaan kondom yang dilakukan juga masih rendah. Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan bagian yang berkontribusi didalamnya. Wanita Pekerja Seks Langsung adalah wanita yang memberikan layanan seksual yang tujuan utama transaksinya mempertukarkan pelayanan seksual dengan uang. Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung adalah wanita yang memberikan layanan seksual tapi bukan merupakan sumber utama pendapatan, pelayanan yang diberikan dapat memberikan penghasilan tambahan. Penelitian ini menggunakan data Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015 dengan memilih 2.898 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor individual, interpesonal dan lingkungan struktural dengan menawarkan penggunaan kondom kepada pelanggan pada WPSL dan WPSTL. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ditemukan bahwa WPSTL yang selalu menawarkan penggunaan kondom sebesar 51,6% dan WPSL sebesar 40,3%. Analisis multivariat didapat variabel yang berhubungan dengan menawarkan penggunaan kondom pada WPSL adalah pekerjaan pelanggan, jumlah pelanggan, konsumsi alkohol/NAPZA sebelum berhubungan seks, ketersediaan kondom dan media/sumber infromasi mengenai kondom. Sedangkan pada WPSTL antara lain jumlah pelanggan, pengetahuan mengenai HIV/AIDS dan pencegahannya, kontak dengan petugas penjangkauan dan ketersediaan kondom Disarankan untuk meningkatkan tersedianya kondom di lokasi transaksi seksual dan upaya promotif dan preventif pada WPS dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik WPS.
Kata kunci : Menawarkan, Kondom, WPSL, WPSTL
One of the risk factors of HIV / AIDS transmission in Indonesia is unsafe sex. To disconnect of transmission can be done with the use of condoms consistently and correctly at the time of sexual intercourse. The low consistency of condom use is caused by the condom use offer is also low. Women Sex Workers (WPS) are the contributing parts. Women Live Sex Workers are women who provide sexual services whose main purpose of transactions are to exchange sexual services with money. Indirect Sex Workers Women are women who provide sexual services but are not the main source of income, the services provided can provide additional income. This study uses data of Biological and Behavior Integrated Survey (STBP) in 2015 by selecting 2,898 respondents who meet inclusion and exclusion criteria.
The purpose of this study was to compare individual, interpesonal and structural factors related to offering condom use to customers between WPSL and WPSTL. The study used cross sectional design. The result of the research shows that WPSTL always offer condom usage 51,6% and WPSL 40,3%. Multivariate analysis found that variables associated with offering condom use on WPSL are work of customer, number of customer, consuming alcohol / drug before sex, condom availability, and information/media about condom. While on WPSTL, among others, number of customer, knowledge of HIV / AIDS and prevention, contact with outreach workers and the availability of condoms. It is recommended to increase the availability of condoms in the location of sexual transactions and promotive and preventive efforts on WPS with approaches adapted to the characteristics of WPS.
Keywords: Offering, Condom, WPSL, WPSTL.
Read More
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor individual, interpesonal dan lingkungan struktural dengan menawarkan penggunaan kondom kepada pelanggan pada WPSL dan WPSTL. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ditemukan bahwa WPSTL yang selalu menawarkan penggunaan kondom sebesar 51,6% dan WPSL sebesar 40,3%. Analisis multivariat didapat variabel yang berhubungan dengan menawarkan penggunaan kondom pada WPSL adalah pekerjaan pelanggan, jumlah pelanggan, konsumsi alkohol/NAPZA sebelum berhubungan seks, ketersediaan kondom dan media/sumber infromasi mengenai kondom. Sedangkan pada WPSTL antara lain jumlah pelanggan, pengetahuan mengenai HIV/AIDS dan pencegahannya, kontak dengan petugas penjangkauan dan ketersediaan kondom Disarankan untuk meningkatkan tersedianya kondom di lokasi transaksi seksual dan upaya promotif dan preventif pada WPS dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik WPS.
Kata kunci : Menawarkan, Kondom, WPSL, WPSTL
One of the risk factors of HIV / AIDS transmission in Indonesia is unsafe sex. To disconnect of transmission can be done with the use of condoms consistently and correctly at the time of sexual intercourse. The low consistency of condom use is caused by the condom use offer is also low. Women Sex Workers (WPS) are the contributing parts. Women Live Sex Workers are women who provide sexual services whose main purpose of transactions are to exchange sexual services with money. Indirect Sex Workers Women are women who provide sexual services but are not the main source of income, the services provided can provide additional income. This study uses data of Biological and Behavior Integrated Survey (STBP) in 2015 by selecting 2,898 respondents who meet inclusion and exclusion criteria.
The purpose of this study was to compare individual, interpesonal and structural factors related to offering condom use to customers between WPSL and WPSTL. The study used cross sectional design. The result of the research shows that WPSTL always offer condom usage 51,6% and WPSL 40,3%. Multivariate analysis found that variables associated with offering condom use on WPSL are work of customer, number of customer, consuming alcohol / drug before sex, condom availability, and information/media about condom. While on WPSTL, among others, number of customer, knowledge of HIV / AIDS and prevention, contact with outreach workers and the availability of condoms. It is recommended to increase the availability of condoms in the location of sexual transactions and promotive and preventive efforts on WPS with approaches adapted to the characteristics of WPS.
Keywords: Offering, Condom, WPSL, WPSTL.
T-5115
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kanti Lituhayu; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Moch. Ichwan
Abstrak:
Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan populasi yang beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi HIV/AIDS sampai sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan determinan konsistensi pemakaian kondom untuk mencegah HIV/AIDS pada WPSTL/Pelanggannya. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menggunakan data sekunder Survey Cepat Perilaku DKI Jakarta, jumlah sample adalah 240 responden.
Hasil penelitian ini menemukan dari seluruh variabel pada studi ini faktor yang berhubungan dengan penggunaan kondom yang konsisten adalah : menawarkan kondom (OR= 19,539 95% CI 8,701-43,876), ketersedian kondom ( OR= 0 95% CI 0) dan pasangan seks (OR= 0,110 95% CI 0,057- 0,211).
Penelitian ini merekomendaksikan adanya outlet kondom pada tempat tertentu yang mobile agar WPSTL dapat mengakses dan mendapatkan kondom secara berkala.
Kata kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV), Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (WPSTL), Kondom, Survei Cepat Perilaku (2013)
Female Sex Workers (FSW) is a high-risk population for infection HIV/AIDS until now. This study aims to explore the determinant consistency of condom use to prevent HIV/AIDS in FSW / client. This study used cross sectional study design by using Rapid Behavior Survey among key population at DKI Jakarta with total sample 240 respondents.
This study found of all variables in this study factors associated with consistent condom use is: to offer condoms (OR = 19.539 95% CI 8.701 to 43.876), the availability of condoms (OR = 0. 95% CI 0) and sexual partners (OR = 0.110 95% CI 0.057 to 0.211).
The study recommended to provide condom outlets in certain specific places to give more access for condom to WPSTL regularly.
Keywords: Female Sex Workers Indirect, condoms, HIV/AIDS, Rapid Behavior Survey
Read More
Hasil penelitian ini menemukan dari seluruh variabel pada studi ini faktor yang berhubungan dengan penggunaan kondom yang konsisten adalah : menawarkan kondom (OR= 19,539 95% CI 8,701-43,876), ketersedian kondom ( OR= 0 95% CI 0) dan pasangan seks (OR= 0,110 95% CI 0,057- 0,211).
Penelitian ini merekomendaksikan adanya outlet kondom pada tempat tertentu yang mobile agar WPSTL dapat mengakses dan mendapatkan kondom secara berkala.
Kata kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV), Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (WPSTL), Kondom, Survei Cepat Perilaku (2013)
Female Sex Workers (FSW) is a high-risk population for infection HIV/AIDS until now. This study aims to explore the determinant consistency of condom use to prevent HIV/AIDS in FSW / client. This study used cross sectional study design by using Rapid Behavior Survey among key population at DKI Jakarta with total sample 240 respondents.
This study found of all variables in this study factors associated with consistent condom use is: to offer condoms (OR = 19.539 95% CI 8.701 to 43.876), the availability of condoms (OR = 0. 95% CI 0) and sexual partners (OR = 0.110 95% CI 0.057 to 0.211).
The study recommended to provide condom outlets in certain specific places to give more access for condom to WPSTL regularly.
Keywords: Female Sex Workers Indirect, condoms, HIV/AIDS, Rapid Behavior Survey
S-9272
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lina Fitrianti; Pembimbing: Indang Trihandini; Kemal N. Siregar; Penguji: Toha Muhaimin; Victoria Indrawati, Yuliandi
Abstrak:
ABSTRAK Infeksi menular seksual dapat menimbulkan beban morbiditas dan mortalitas terutama di negara sedang berkembang. Berdasarkan data STBP di Indonesia, kelompok LSL memiliki prevalensi HIV meningkat tajam 2,5 kali dibandingkan hasil STBP sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis jenis pasangan seksual dengan konsistensi penggunaan kondom pada LSL di 6 kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Cross Sectional. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 827 orang. Hasilnya LSL yang mempunyai pasangan waria (44%) paling konsisten dalam menggunakan kondom, LSL yang mempunyai pasangan lakilaki (39,5%) merupakan kelompok LSL yang tidak konsisten dalam penggunaan kondom, dan LSL yang mempunyai pasangan wanita paling banyak yang tidak pernah menggunakan kondom (51,5%). LSL yang mempunyai pasangan laki-laki 8,06 kali lebih konsisten dalam penggunaan kondom dibandingkan pasangan wanita.LSL yang mempunyai pasangan waria 8,58 kali lebih konsisten dalam penggunaan kondom dibandingkan pasangan wanita. Variable confounding pengetahuan, penggunaan pelumas, akses, dan sumber informasi (teman sebaya, konselor, pertunjukan, media social, dan internet) memiliki hubungan yang bermakna terhadap penggunaan kondom secara konsisten. Saran dari penelitian inii yaitu memaksimalkan pelaksanaan program pencegahan HIV yang sudah ada dan penggunaan media massa dan pendekatan yang inovatif. Kata Kunci: LSL, Konsistensi penggunaan kondom ABSTRACT Sexually transmitted infections can cause a burden of morbidity and mortality, especially in developing countries. Based on STBP data in Indonesia, MSM have a HIV prevalence that has risen sharply 2.5 times compared to the previous STBP results. The purpose of this study was to analyze the types of sexual partners with the consistency of condom use in MSM in 6 cities in Indonesia. This study uses the Cross Sectional research method. The number of samples studied was 827 people. The result is MSM who have a transgender partner (44%) are most consistent in using condoms, MSM who have male partners (39.5%) are MSM groups who are inconsistent in condom use, and MSM who have the most female partners who have never use condoms (51.5%). MSM who had male partners 8.06 times were more consistent in condom use than female partners. LSL who have a transgender partner were 8.58 times more consistent in condom use than female partners. Variable confounding knowledge, use of lubricants, access, and sources of information (peers, counselors, shows, social media, and the internet) have a significant relationship to consistent condom use. Suggestions from this research are maximizing the implementation of existing HIV prevention programs and the use of mass media and innovative approaches. Keywords: MSM, Consistency of condom use
Read More
T-5478
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eri Nasution; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, R. Setiawan, Ria Maria Theresa, Fatcha Nuraliyah
Abstrak:
Saat ini transmisi seksual merupakan faktor utama penyebaran penyakitHIV-AIDS di Indonesia. Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan bagian yangberkontribusi didalamnya. Wanita Pekerja Seks Langsung adalah wanita yangmemberikan layanan seksual yang tujuan utama transaksinya mempertukarkanpelayanan seksual dengan uang. Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung adalahwanita yang memberikan layanan seksual tapi bukan merupakan sumber utamapendapatan, pelayanan yang diberikan dapat memberikan penghasilan tambahan.Program promosi pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko telahdilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penularan. Namun hinggasaat ini konsistensi pemakaian kondom pada WPS masih rendah.Penelitian ini menggunakan data hasil Survey Terpadu Biologi danPerilaku (STBP) 2013 dengan memilih 2714 responden yang memenuhi kriteriainklusi dan eksklusi. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan karakteristik,perilaku pemakaian kondom dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan pemakaian kondom. Penelitian menggunakan desain cross sectional.Hasil penelitian ditemukan bahwa konsistensi pemakaian kondom pada WPSL37,7% dan WPSTL sebesar 35.6%, konsistensi untuk semua WPS sebesar 36.9%.WPSL cenderung lebih tua, pendidikan lebih rendah, lebih banyak yang berstatuscerai, lebih lama menjadi WPS, lebih dini memulai hubungan seks, lebih banyakmemiliki riwayat IMS, lebih merasa berisiko, lebih terpapar program, lebh banyakyang punya kondom dan jumlah pelanggan yang lebih banyak dibandingkanWPSTL.Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaian kondom padaWPSL adalah status perkawinan, riwayat IMS, keterpaparan program, dankepemilikan kondom. Faktor yang berhubungan dengan konsistensi pemakaiankondom pada WPSTL adalah status perkawinan, riwayat IMS, pengetahuan HIV,keterpaparan program, kepemilikan kondom dan jumlah pelanggan.Disarankan untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif pada WPSdengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik WPS.
Kata kunci : Konsistensi, kondom, WPSL, WPSTL.
Read More
Kata kunci : Konsistensi, kondom, WPSL, WPSTL.
T-4558
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Basit Sucipto; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih
S-3516
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ririn Febriana Anggraeni; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Muhammad Noor Farid, Ratna Djuwita, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Latar belakang: Hubungan seks yang berisiko menularkan HIV adalah hubunganseks dengan banyak pasangan dan berganti-ganti pasangan yang sebagian besardidominasi dengan hubungan seks komersial, baik pada kelompok heteroseksualmaupun pada kelompok homoseksual atau sejenis. Kelompok yang palingberisiko tertular HIV adalah kelompok homoseksual dan biseksual yang biasadikategorikan sebagai lelaki seks lelaki atau disebut LSL. Di banyak bagianwilayah, HIV di kalangan LSL muncul dengan penularan HIV yang sangat cepat.
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tahu status HIVterhadap penggunaan kondom konsisten pada LSL di Yogyakarta dan Makassardan melihat adakah perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan non RDS terhadap indikator program. Penelitian ini menggunakan data STBP2013.
Hasil: Dari hasil analisis diperoleh bahwa di Yogyakarta ada pengaruh tahu statusHIV terhadap penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 6,6 dan 95% CI2,1-20,9, sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIVdengan penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 1,6 dan 95% CI 0,6 -4,4. Ada perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan nonRDS terhadap indikator program.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh tahu status HIV dengan penggunaan kondomkonsisten pada lelaki yang seks dengan lelaki di Yogyakarta sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIV dengan penggunaankondom konsisten. Terdapat perbedaan hasil analisis dengan menggunakanmetode RDS dan non RDS terhadap indikator program
Kata kunci: LSL, status HIV, kondom konsisten
Introduction : Sex which higher risk of spreading HIV is sex with multiplepartners and change partners that is largely dominated by commercial sex, eitheron the heterosexual and homosexual group, or similar sexual behaviour. Groupsmost at risk of contracting HIV is a group of homosexual and bisexual men arecommonly categorized as men sex with men, or so-called MSM. In many parts ofthe region, HIV among MSM appears with HIV infection very quickly.
Methods: This study aimed to determine the effect knowing their HIV statustoward consistency condom use in MSM in Yogyakarta and Makassar and to seethe differences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.This study uses data IBBS 2013.
Summary: From the results of the analysis showed that in Yogyakarta there wasan effect Yogyakarta of knowing HIV status toward consistency condom use withan OR of 6,6 and 95%CI 2,1-20,9. while in Makassar unclear knowing HIV statustoward consistent condom use with an OR of 1.6 and 95% CI 0,6 - 4,1. There isdifferences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.
Conclusion: There is Influence of knowing HIV Status to consistent Condom usein Yogyakarta while in Makassar unclear knowing HIV status toward consistentcondom use. There is differences between analysis using RDS and non RDS toindicator of program.
Kata kunci: MSM, HIV status, condom consistent
Read More
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tahu status HIVterhadap penggunaan kondom konsisten pada LSL di Yogyakarta dan Makassardan melihat adakah perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan non RDS terhadap indikator program. Penelitian ini menggunakan data STBP2013.
Hasil: Dari hasil analisis diperoleh bahwa di Yogyakarta ada pengaruh tahu statusHIV terhadap penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 6,6 dan 95% CI2,1-20,9, sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIVdengan penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 1,6 dan 95% CI 0,6 -4,4. Ada perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan nonRDS terhadap indikator program.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh tahu status HIV dengan penggunaan kondomkonsisten pada lelaki yang seks dengan lelaki di Yogyakarta sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIV dengan penggunaankondom konsisten. Terdapat perbedaan hasil analisis dengan menggunakanmetode RDS dan non RDS terhadap indikator program
Kata kunci: LSL, status HIV, kondom konsisten
Introduction : Sex which higher risk of spreading HIV is sex with multiplepartners and change partners that is largely dominated by commercial sex, eitheron the heterosexual and homosexual group, or similar sexual behaviour. Groupsmost at risk of contracting HIV is a group of homosexual and bisexual men arecommonly categorized as men sex with men, or so-called MSM. In many parts ofthe region, HIV among MSM appears with HIV infection very quickly.
Methods: This study aimed to determine the effect knowing their HIV statustoward consistency condom use in MSM in Yogyakarta and Makassar and to seethe differences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.This study uses data IBBS 2013.
Summary: From the results of the analysis showed that in Yogyakarta there wasan effect Yogyakarta of knowing HIV status toward consistency condom use withan OR of 6,6 and 95%CI 2,1-20,9. while in Makassar unclear knowing HIV statustoward consistent condom use with an OR of 1.6 and 95% CI 0,6 - 4,1. There isdifferences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.
Conclusion: There is Influence of knowing HIV Status to consistent Condom usein Yogyakarta while in Makassar unclear knowing HIV status toward consistentcondom use. There is differences between analysis using RDS and non RDS toindicator of program.
Kata kunci: MSM, HIV status, condom consistent
T-4406
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhani Syahputra Bukit; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Evi Martha, Dian Ayubi, Dwi Adi Maryandi, Husein Habsyi
T-4142
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kharisma Nurul Fazrianti Rusman; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Kemal N. Siregar, Lovely Daisy, Rahmadewi
Abstrak:
Kehamilan tidak diinginkan yang meliputi kehamilan tidak tepat waktu (mistimed pregnancy) dan tidak dikehendaki (unwanted pregnancy) merupakan salah satu masalah penting dan perlu mendapat perhatian, terutama di negara negara berkembang. Kehamilan tidak diinginkan akan mendorong terjadinya keguguran atau pengguguran (aborsi), stunting, berat badan lahir rendah serta kelahiran prematur. Hal ini tentu juga memberikan dampak meningkatnya risiko untuk kematian ibu dan anak. Penanganan kejadian kehamilan tidak diinginkan tidak hanya memerlukan pengukuran besaran angkanya, tetapi juga pemahaman mengenai faktor-faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada wanita menikah di Indonesia pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder SDKI 2017 menggunakan desain cross-sectional dengan reponden sebanyak 14.713 yang merupakan wanita kawin usia 15-49 tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase kehamilan tidak diinginkan di Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 16%. Variabel yang berhubungan dengan kehamilan tidak diinginkan di Indonesia dalam penelitian ini adalah paritas, penggunaan kontrasepsi, pendidikan ibu, pengetahuan tentang kontrasepsi, pekerjaan suami dan wilayah tempat tinggal. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kehamilan tidak diinginkan di dalam penelitian ini adalah paritas. Diperlukan peningkatan terhadap program perencanaan kehamilan, pendidikan ibu yang harus diperhatikan sehingga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai kehamilan, memperhatikan pekerjaan dari suami yang berpengaruh terhadap kemampuan ekonomi, akses terhadap pelayanan kehamilan, informasi KB dan kespro yang perlu ditingkatkan di berbagai wilayah, serta memberikan perhatian lebih terhadap setiap PUS yang ingin melakukan perencanaan kehamilan dan membatasi kehamilan sehingga perlunya anjuran untuk menggunakan kontrasepsi.
Unwanted pregnancy, which includes mistimed and unwanted pregnancies, is an important problem and needs attention, especially in developing countries. Unwanted pregnancies will lead to miscarriage or abortion, stunting, low birth weight, and premature birth. This case has the effect of increasing the risk for maternal and child mortality. Handling the incidence of unwanted pregnancy requires measuring the magnitude of the number, and understanding the factors that cause it. This study aims to determine the factors that determine the incidence of unwanted pregnancy in married women in Indonesia in 2017. This study uses secondary data from the 2017 IDHS using a crosssectional design with 14,713 respondents who are married women aged 15-49 years. The results of the analysis show that the percentage of unwanted pregnancies in Indonesia in 2017 is 16%. Variables related to unwanted pregnancy in Indonesia in this study were parity, contraceptive use, mother's education, knowledge of contraception, husband's occupation, and area of residence. The most dominant variable associated with an unwanted pregnancy in this study was parity. It is necessary to improve the pregnancy planning program, maternal education that must be considered to increase knowledge and understanding of pregnancy, pay attention to the work of the husband which affects economic ability, access to pregnancy services, family planning, and health care information that needs to be improved in various regions, and give more attention for every EFA who wants to plan a pregnancy and limit pregnancy so that it is necessary to recommend the use of contraception.
Read More
Unwanted pregnancy, which includes mistimed and unwanted pregnancies, is an important problem and needs attention, especially in developing countries. Unwanted pregnancies will lead to miscarriage or abortion, stunting, low birth weight, and premature birth. This case has the effect of increasing the risk for maternal and child mortality. Handling the incidence of unwanted pregnancy requires measuring the magnitude of the number, and understanding the factors that cause it. This study aims to determine the factors that determine the incidence of unwanted pregnancy in married women in Indonesia in 2017. This study uses secondary data from the 2017 IDHS using a crosssectional design with 14,713 respondents who are married women aged 15-49 years. The results of the analysis show that the percentage of unwanted pregnancies in Indonesia in 2017 is 16%. Variables related to unwanted pregnancy in Indonesia in this study were parity, contraceptive use, mother's education, knowledge of contraception, husband's occupation, and area of residence. The most dominant variable associated with an unwanted pregnancy in this study was parity. It is necessary to improve the pregnancy planning program, maternal education that must be considered to increase knowledge and understanding of pregnancy, pay attention to the work of the husband which affects economic ability, access to pregnancy services, family planning, and health care information that needs to be improved in various regions, and give more attention for every EFA who wants to plan a pregnancy and limit pregnancy so that it is necessary to recommend the use of contraception.
T-6192
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widyastuti; Pembimbing: Toha Muhaimin, Adi Sasongko; Penguji: Farida Mutiarawati Tri Agustina, Sigit Priohutomo, Dien Emawati
T-2429
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amalia Dona; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Anwar Hassan, Devi Maryori
S-6519
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
