Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37151 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Christoffel Maranto
Abstrak: Kelelahan merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, termasuk industri transportasi dalam hal ini khususnya pada masinis KRL. Aktivitas yang dilakukan oleh masinis KRL memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja dikarenakan karakteristik pekerjaan dari masinis yang berisiko terpapar oleh faktor fisik (postur janggal), psikososial (usaha, peghargaan, overcommitment, pekerjaan monoton, dukungan social dari rekan kerja, atsan dan keluarga, stres kerja dan shift), dan faktor individu (umur, indeks massa tubuh, status merokok).Penelitian ini dilakukan pada masinis KRL UPT Crew Depok PT. KCI. Desain penelitian yang dilakukan pada penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dangan pendekatan cross sectional. Penelitian sebelumnya terkait kejadian kelelahan kerja meneliti faktor risiko psikososial sedangkan masih sedikit penelitian yang meneliti faktor risiko fisik. Selain itu penelitian terkait kelelahan kerja pada umumnya menggunakan instrumen kuesioner sedangkan dalam penelitian ini selain menggunakan instrumen kuesioner juga melakukan pengukuran secara objektif melalui pengukran Salivary Alpha Amilase (SAA) menggunakan cocorometer sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat stres dan menggunakan aplikasi sleep-2-peak untuk mengukur kelelahan kerja. Hal tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian terkait gambaran kelelahan kerja serta mengalisis hubungan faktor fisik, psikososial, dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada masinis KRL PT. KCI tahun 2018.
Kata kunci: ix Universitas Indonesia Kelelahan, faktor risiko fisik, faktor risiko psikososial, masinis

Fatigue is a common occurrence in many industries, including the transportation industry in this case particularly in electric train drivers. Activities performed by commuter train drivers have the potential to cause fatigue due to job characteristics of train drivers are at risk of exposure to physical factor (awkward posture), psychosocial factores (effort, reward, overcommitment, monotonous work, social support from co-workers, supervisor and family, work related stress and shift), and individual factors (age, body mass index, smoking status). This research was carried out on the train drivers of UPT Crew Depok PT. KCI. The design of this research is quantitative observational with cross sectional approach. Previous studies have linked the incidence of work fatigue to psychosocial risk factors while only few studies have examined physical risk factors. In addition, the study related to work fatigue in general used questionnaire instrument while in this study in addition to using the questionnaire instrument also made an objective measurement through Salivary Alpha Amylase (SAA) using cocorometer as one of the indicators to measure stress levels and using sleep-2-peak applications to measure work related fatigue.This is the the background to conduct research related to the overview of work related fatigue as well as to analyze the relationship of physical factors, psychosocial, and individual factors to work related fatigue in train drivers of PT. KCI 2018.
Key word: Fatigue, physical risk factors, psychosocial risk factors, train drivers
Read More
S-9825
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafi Syukri Baraja; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Broer Rizal, Muhammad Rinaldo
Abstrak:

Distres kerja pada masinis Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan isu penting dalam sistem transportasi massal perkotaan karena berpotensi menurunkan keselamatan operasional, performa kerja, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek disertai tingginya tuntutan operasional, sistem kerja shift, tekanan ketepatan waktu, serta kompleksitas kerja berbasis teknologi diduga meningkatkan paparan bahaya psikososial pada masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko personal dan faktor risiko pekerjaan dengan distres kerja pada masinis KRL PT Kereta Commuter Indonesia wilayah operasi Jabodetabek tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 440 masinis dengan sampel sebanyak 231 responden yang dipilih menggunakan teknik quota accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, meliputi NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, dan IFRC. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan regresi Poisson sederhana untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR), serta multivariat menggunakan modified Poisson regression dengan robust variance pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,2% masinis mengalami distres kerja. Faktor personal seperti usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, masa kerja, dan status kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan distres kerja, sedangkan kelelahan kerja hanya signifikan pada analisis bivariat. Pada faktor pekerjaan, perselisihan di tempat kerja, beban kerja berlebih, beban kerja rendah, kontrol terhadap pekerjaan, dan keamanan pekerjaan berhubungan signifikan secara bivariat dengan distres kerja. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya perselisihan di tempat kerja (p=0,012: Adjusted PR=0,896: 95% CI=0,822–0,976) dan keamanan pekerjaan (p<0,001: Adjusted PR=0,803: 95% CI=0,744–0,866) yang menjadi faktor dominan terhadap distres kerja pada masinis KRL Jabodetabek. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir separuh masinis mengalami distres kerja dan faktor pekerjaan merupakan determinan utama, sehingga diperlukan intervensi berbasis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk mengendalikan bahaya psikososial, memperkuat keamanan pekerjaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif guna meningkatkan keselamatan operasional dan kesejahteraan psikologis masinis. Kata kunci: distres kerja, masinis KRL, bahaya psikososial


 

Work distress among Electric Rail Train (KRL) drivers is an important issue in urban mass transportation systems because it has the potential to reduce operational safety, work performance, and workers’ psychological well-being. The increasing number of KRL passengers in the Greater Jakarta area, accompanied by high operational demands, shift work systems, punctuality pressure, and technology-based work complexity, is suspected to increase psychosocial hazard exposure among train drivers. This study aimed to analyze the relationship between personal risk factors and occupational risk factors with work distress among KRL drivers of PT Kereta Commuter Indonesia in the Greater Jakarta operational area in 2026. This study employed a quantitative design with a descriptive-analytic and cross-sectional approach. The study population consisted of 440 train drivers, with a sample of 231 respondents selected using a quota accidental sampling technique. Data were collected using structured questionnaires, including the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (NIOSH GJSQ), ICAWS, NASA-TLX, JCQ, Job Insecurity Questionnaire, and IFRC. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with simple Poisson regression to obtain the Prevalence Ratio (PR), and multivariate analysis using modified Poisson regression with robust variance at a 95% confidence level. The results showed that 47.2% of train drivers experienced work distress. Personal factors such as age, marital status, educational level, years of service, and health status were not significantly associated with work distress, while work fatigue was only significant in the bivariate analysis. Occupational factors including workplace conflict, excessive workload, low workload, job control, and job security were significantly associated with work distress in the bivariate analysis. However, multivariate analysis revealed that only workplace conflict (p=0.012: Adjusted PR=0.896: 95% CI=0.822–0.976) and job security (p<0.001: Adjusted PR=0.803: 95% CI=0.744–0.866) were dominant factors associated with work distress among KRL drivers in the Greater Jakarta area. This study concludes that nearly half of KRL drivers experienced work distress and that occupational factors were the primary determinants. Therefore, Occupational Health and Safety based interventions are needed to control psychosocial hazards, strengthen job security, and create a supportive work environment in order to improve operational safety and the psychological well-being of train drivers. Keywords: work distress, KRL drivers, psychosocial hazards

 

Read More
T-7512
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Bonardo Prayogo Hasiholan, Riana Ranny Diponegara
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, salah satunya termasuk industri konstruksi. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di industri konstruksi memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja oleh karena karakteristik pekerjaan yang berisiko terpajan berbagai faktor. Selain itu  kelelahan merupakan masalah umum di antara populasi pekerja. Namun, sedikit yang diketahui tentang hubungan antara faktor risiko pekerjaan dan gejala kelelahan. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 pekerja konstruksi di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran menggunakan alat. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, masa kerja, perilaku merokok, status menikah, usaha, penghargaan, overcommitment, postur kerja, suhu, dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok (POR=6.000 (1.558-23.113)), postur kerja (POR=13.000 (2.463–68.604)), usaha (POR=5.296 (1,533-18.299)), penghargaan (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1,325-14.446)), dan kebisingan  (POR=6.333 (1.523-26.341)) dengan kejadian kelelahan kerja. Sedangkan variabel umur, masa kerja, dan status menikah tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja.

Work fatigue is a common occurrence across various industries, including the construction industry. The type of work performed by workers in the construction industry has the potential to cause work fatigue due to the nature of the job, which is at risk of exposure to various factors. Additionally, fatigue is a common issue among the working population. However, little is known about the relationship between work risk factors and fatigue symptoms. The research design of this study was cross-sectional. The aim of this study was to analyze the factors related to work fatigue among construction workers using a quantitative approach. The sample for this study consisted of 50 construction workers at PT XYZ. Data collection was carried out by administering questionnaires to respondents and measuring using tools. The data obtained were then processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the patterns and relationships of each variable. The independent variables in this study included age, length of service, smoking behavior, marital status, effort, appreciation, overcommitment, work posture, temperature, and distractions. The results showed a significant relationship between smoking behavior (POR=6.000 (1.558-23.113)), work posture (POR=13.000 (2.463–68.604)), effort (POR=5.296 (1.533-18.299)), reward (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1.325-14.446)), and distraction (POR=6.333 (1.523-26.341)) with the occurrence of work fatigue. In contrast, the variables of age, length of service, and marital status did not show any relationship with the occurrence of work fatigue.
Read More
T-7172
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M.Yuzar Virza; Pembimbing: Chandra Satrya
S-2654
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisah Suci Yanti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Jonsinton Nainggolan
Abstrak: The tools used in this study are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, the combination of psychosocial questionnaire are Effort Reward Imbalance, COPSOQ, NIOSH Generic Job Stress dan NIOSH Quality of Work Life (QWL) to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation testing to assess work uhrelated stress and fatigue among fire fighters. Fatigue subjective measurement use tools form Sweedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) and Fatigue Assessment Scale (FAS). Physic factors (force, awkward posture and manual handling), psychosocial factors (effort, reward, overcommittment, rolestress, emotional demand, social support and non work related factors) and organisational factors are the independent variables of work related stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result of this study shows that risk factor (neck) has correlation with fatigue (CI 95% 1,75-16,16; OR 5,32), psychosocial factors such emotional demand (CI 95% 1,04-5,78; OR 1,56), rolestress (CI 95% 1,23-4,76; OR 1,52) and family social support (CI 95% 1,27-5,43; OR 2,51) influence stress, organisational factors such type of work (CI 95% 0,05-0,55; OR 0,16), shift work (CI 95% 0,06-0,54; OR 0,18) and status of workers have correlations with stress
Read More
S-9647
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aldi Dwi Putra; Pembimbing: Bambang Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Yunita Rahayuningsih
Abstrak: Manufaktur merupakan salah satu sector industri yang memiliki risiko gangguan otot rangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dari gejala gangguan otot rangka. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018 dengan melibatkan 51 orang operator pada area mixing rubber dan 40 orang pekerja kantor di PT X yang merupakan perusahaan manufaktur komponen kendaraan bermotor. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan instrument pengambilan data berupa kuesioner QEC dan kombinasi kuesioner psikososial. Variabel independent pada penelitian ini yaitu karakteristik individu pekerja (usia, jenis kelamin, IMT, status merokok dan lama kerja), faktor fisik di tempat kerja (force, postur janggal, gerakan berulang, dan coupling) dan faktor psikososial (tuntutan kerja, kendali terhadap pekerjaan, dukungan social, skill discretion, kepuasan kerja, dan stress kerja). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan gejala pada punggung atas, lama kerja dengan gejala pada pergelangan tangan, faktor risiko fifik yang tinggi dengan gejala pada leher, skill discretion dengan gejala pada pergelangan tangan, stress kerja dengan gejala pada bahu dan punggung bawah. Oleh karena itu perlu diadakan pengendalian lebih lanjut mengenai masalah ergonomic pada PT X.
Kata kunci: gejala gangguan otot rangka, manufaktur, ergonomi,faktor fisik, faktor psikososial

Manufacture is one of the industry that has the risk of musculoskeletal disorders. The aim of this research is to analysize the risk factors from the symptoms of disorders of musculoskeletal. This research conducted on March until April 2018 by involving 51 workers on Mixing area and 40 workers on Office Area of X Corporation which is a manufacturing company who made the component of the motor vehicle. This research used Cross Sectional method by using QEC questionnaire and combination of psychosocial questionnaire as the instrument for data collection. The independent variable of this research are the characteristic of workers (age, gender, body mass index, smokimg status, and working time), physical factors on the work place (force, awkward postures, repetitive motion, and coupling) and psychosocial factors (job demands, control of the job, social support, skill discretion, job satisfaction, and work stress). The result of this research shows there is a significant correlation of body mass index with a symptoms on the top of the back, working time and skill direstion with a symptoms of the wrist, high risk of physical factor with a symptom of the neck, and work stress with a symptom of shoulders and the low part of the back. Therefore it needs to be a further control about ergonomic factor at X Corporation.
Keyword: symptoms of musculoskeletal disorder, manufacturing, ergonomic, physical factor, psychosocial factor.
Read More
S-9681
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Adinda Achmad; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, M. Fiki Handriyanto
Abstrak:
Stasiun Manggarai merupakan stasiun paling aktif yang menghubungkan tujuh persimpangan jalur kereta api. Sebelum pandemi, tercatat bahwa Stasiun Manggarai merupakan stasiun tersibuk yang melayani lebih dari 20.000 pengguna setiap harinya (Ditjen Perkeretaapian 2022). Pada Januari 2023, terkonfirmasi bahwa Stasiun Manggarai memiliki 150.000 pengguna transit dan 14.000 pengguna stasiun per harinya (Fransisca, 2023). Jumlah pengguna yang banyak dapat meningkatkan kepadatan sehingga dapat meningkatkan potensi bahaya dan risiko, termasuk bahaya dan risiko kebakaran. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran di Stasiun Transit Manggarai Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek dengan menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan komparasi. Penulis membandingkan hasil penerapan sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran di Stasiun Manggarai dengan standar NFPA 130 dan Code of Practice for Fire Precautions in Rapid Transit Systems 2022. Hasil dari penelitian ini didapatkan dengan wawancara, telaah dokumen, dan observasi langsung pada stasiun. Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa persentase pemenuhan sistem proteksi kebakaran dan keselamatan kebakaran pada Stasiun Manggarai adalah sebesar 84,34% dengan pemenuhan tertinggi pada aspek Fungsi, Reliabilitas, dan Ketersediaan Sistem Komunikasi dan Kontrol dan Persyaratan Kawat dan Kabel sebesar 100% dan pemenuhan terendah pada aspek Sistem Komunikasi Keadaan Darurat sebesar 50%.

Stasiun Manggarai is the most active station. In January 2023, Stasiun Manggarai has 150,000 transit users and 14,000 station users per day (Fransisca, 2023). This large number of users can certainly increase the density – and according to research – density can increase the existing potential hazards and risks, including fire hazards. Therefore, this research was conducted to find out the implementation of fire protection and fire safety system at Stasiun Transit Manggarai Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek using a descriptive observational method with comparative approach. The author compares the results of implementing fire protection and fire safety systems at Manggarai Station with NFPA 130 and Code of Practice for Fire Precautions in Rapid Transit Systems 2022. The results of this study were obtained through interviews, document review, and observation. The research found that the proportion of implementation of fire protection and fire safety systems at the Stasiun Manggarai is 84.34% with the highest fulfillment at the percentage of 100% on Function, Reliability, and Availability of Communication and Control Systems; and Wire and Cable Requirements aspect. The lowest compliance is in the Emergency Communication System aspect with the percentage of 50%.
Read More
S-11285
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sari Budi Ghafara; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Siti Widya Nazhrah, Abdul Kadir
Abstrak: Nama : Indah Sari Budi Ghafara Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul :Analisis Faktor Risiko Kelelahan Pada Masinis PT XYZ Tahun 2023 Pembimbing : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Transportasi umum saat ini menjadi pilihan favorit masyarakat dalam melakukan perpindahan dengan selamat dan efisien. Salah satu transportasi umum pilihan masyarakat Jakarta adalah kereta Mass Rapid Train (MRT). Keselamatan kereta MRT merupakan isu yang penting untuk diperhatikan agar dapat menjaga keselamatan baik masinis maupun penumpang. Dalam pengoperasian kereta MRT, dilakukan oleh seorang masinis. Menurut data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), di tahun 2016 sebanyak 45% kecelakaan disebabkan oleh masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kelelahan pada masinis seperti faktor terkait pekerjaan dan faktor tidak terkait pekerjaan. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Juni 2023 di PT. XYZ. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dalam mengukur kelelahan, dan Sound Level Meter dalam mengukur kebisingan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 67 masinis kereta MRT yang aktif mengoperasikan kereta. Hasil dari data kuesioner dianalisis menggunakan uji statistic chi-square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 41,8% mengalami kelelahan. Dari penelitian ini diketahui bahwa pada faktor risiko terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dengan kelelahan pada masinis. Pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara commuting time, dan kualitas tidur terhadap kelelahan pada masinis.
Name : Indah Sari Budi Ghafara Study Program: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Title : Analysis of Work Fatigue Risk Factors on Train Driver PT XYZ in 2023. Counsellor : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Public transportation is currently people's favorite choice for moving safely and efficiently. One of the public transportation choices for the people of Jakarta is the Mass Rapid Train (MRT). MRT train safety is an important issue to pay attention to maintain the safety of both the driver and the passengers. In operating the MRT train, it is carried out by a train driver. According to data from the National Transportation Safety Commission (KNKT), in 2016 as many as 45% of accidents were caused by train drivers. This study aims to analyze fatigue and factors related to the occurrence of fatigue in train drivers such as work-related factors and non-work related factors. This research was conducted from January to June 2023 at PT XYZ. The tools used in this study were the Fatigue Assessment Scale (FAS) questionnaire to measure fatigue, and the Sound Level Meter to measure noise. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The sample in this study was 67 MRT train drivers who actively operated trains. The results of the questionnaire data were analyzed using the chi-square statistical test. The results of this study showed that 41.8% experienced fatigue. From this study, it is known that on work-related risk factors, there is a significant relationship between work shifts and driver fatigue. In non-work related risk factors, there is a significant relationship between commuting time and sleep quality on driver fatigue.
Read More
S-11551
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliva Andjani; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Moh. Miftah Farid
S-10455
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive