Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38636 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putu Aditya Saputra; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Susi Setiawaty, A. Heri Iswanto
Abstrak: Keterlambatan waktu mulai sebuah operasi elektif dapat mengakibatkan penundaan mulainya operasi berikutnya, mengurangi utilisasi kamar operasi, serta risiko menimbulkan keluhan pasien dan operator. Metode penelitian ini adalah action research, yaitu dengan melakukan observasi untuk mengamati alur proses pelayanan operasi elektif agar diperoleh rekomendasi dan usulan perbaikan dalam upaya mengurangi keterlambatan waktu mulai operasi elektif dan meningkatkan utilitas kamar operasi dengan pendekatan lean thinking dan six sigma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang tidak memberi nilai tambah (non value added) selama proses operasi elektif adalah sebesar 62,92% pada pasien yang menggunakan jaminan asuransi, 59,80% pada pasien umum, dan 52,34% pada pasien rawat inap. Usulan perbaikan dengan menggunakan pendekatan lean thinking dan six sigma menghasilkan perbaikan pada proses pelayanan operasi elektif dengan menurunkan kegiatan non value added secara berturut-turut menjadi 34,62% untuk pasien asuransi, 36,41% untuk pasien umum, serta 14,50% untuk pasien rawat inap.
Kata kunci: waktu mulai operasi, metode lean thinking, six sigma, kegiatan value added, kegiatan non value added

The delayed time of starting an elective operation can cause delay to the next scheduled operation, decrease utilization of an operating room, increase risk of complaint from patients and operator doctors. This study was an action research study by observing to analyzing the current state of elective operating room process and value flow, in purpose to reduce the delayed starting time of elective operation and increasing the utilization of operating room using lean thinking and six sigma approach. The result of this study shows that the non value added activities of elective operation process is 62,92 % for patient who use insurance, 59,80% for the out of pocket patient, and 52,34 % for inpatient category. By the implementation of recommended solution for the operation process able to decrease the non value added activities to 34,62% for patient with insurance, 36,41% for out of pocket patient, and 14,50% for inpatient category.
Keyword: start time of operation, lean thinking and six sigma method, value added, non value added
Read More
B-2004
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triyani Capeg Hadmandho; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Anchadi, Achmad Muthasil
S-7386
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nindya Kusuma Pertiwi; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Suprijanto Rijadi, Surya Fitri
S-6890
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Unggul Widodo; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mieke Savitri, Achmad Zaenudin, Nurillah Devi
Abstrak: Instalasi farmasi berperan penting dalam menentukan pelayanan di rumah sakit.Untuk menunjang pelayanan, RSUD Ciawi menggunakan obat sesuai formulariumnasional yang berisi 1.176 jenis obat dengan nilai investasi sebesar Rp.17.315.126.250,-. RSUD Ciawi telah menjadi provider Jaminan Kesehatan Nasionalsejak tahun 2014 dengan pasien BPJS tahun 2016 mencapai 74,04% dan terus semakinmeningkat. Besarnya investasi yang dikeluarkan untuk obat dan jumlah obat yangbanyak sehingga memerlukan pengendalian perbekalan obat yang akurat di instalasifarmasi agar tercapai efektifitas dan efisiensi persediaan obat. Metode konsumsi yangdigunakan oleh RSUD Ciawi belum dapat memenuhi kebutuhan obat dengan tepat,masih banyak obat yang stock out dan stock over.Penelitian ini adalah penelitian analitik untuk melihat gambaran perencanaankebutuhan obat di RSUD Ciawi, dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Dalampenelitian ini dilakukan wawancara mendalam, observasi, telaah dokumen danpenghitungan analisis ABC pemakaian, ABC investasi dan ABC indeks kritis darikelompok A pemakaian dan kelompok A investasi. Kemudian dilakukan peramalandengan metode moving average periode 4 bulan untuk obat kelompok A analisis ABCindeks kritis tahun 2018 dan dihitung jumlah obat yang harus dipesan (EOQ), frekuensipemesanan, Safety Stock (SS) dan titik pemesanan kembali (ROP).Hasil analisis ABC pemakaian menunjukkan tingginya obat kelompok Cmencapai 990 item (84,18%) merupakan obat-obatan slow moving. Penghitungananalisis ABC indeks kritis kelompok A sebanyak 45 item obat dengan nilai investasisebesar Rp. 5.876.003.324,- kelompok B sebanyak 100 obat dengan nilai investasi Rp.9.147.434.944,-. Tingginya biaya investasi kelompok obat A dan B memerlukanperencanaan dan pengendalian obat dengan penghitungan EOQ, SS dan ROP. Denganmenghitung EOQ akan menghasilkan biaya total terkecil, sehingga efisiensi dapattercapai. RSUD Ciawi diharapkan dapat membuat rencana perbekalan obat denganmenerapkan prinsip efisiensi kendali mutu dan biaya serta memiliki penghitunganjumlah obat yang harus dipesan, Safety stock dan titik kapan dilakukan pemesanankembali.
Kata kunci : Jaminan Kesehatan Nasional, Analisis ABC, EOQ, Safety Stock, ROP,pengendalian obat.
Pharmacy unit has important role to determine service quality in hospital. Forsupporting patients service, Ciawi Region Public Hospital used drugs based on nationalformulatorium which is contain 1.176 kind of drugs with investation value Rp.17.315.126.250,-. Ciawi Region Public Hospital already became National HealthCoverage provider since 2014 with 74,04% the Indonesian National HealthcareInsurance (BPJS) patients and getting increase everyday. The big investation andamount of drugs need to supervise for accurate drugs support and getting effectivity andeficiency. Consumption method which already used by Ciawi Region Public Hospital isnot fulfillt he drugs demand yet, still making drugs stock out and stock over.This is an analytic research to see the description of drugs need planning inCiawi Region Public Hospital, with qualitative and quantitative approach. This researchincluding deep interview, observation, document study and ABC method countinganalysis for drug using, ABC investation method anlysis and ABC critical index methodfrom Grup A (using) and Grup A (investation). The research also doing moving averageforecasting method for 4 months period for Grup A, critical indeks ABC analysis in2018 and counting amount of drugs order (EOQ), order frequency, Safety Stock (SS)and repeat order point (ROP).ABC method counting analysis for drug using showed that Grup C has 990items (84,18%) slow moving type. ABC critical index method from Grup A showed 45items with investation value Rp. 5.876.003.324,- and Grup B has 100 items withinvestation value Rp. 9.147.434.944,-. The Grup A and B investation cost is very highand need to plan and controll with EOQ, SS and ROP counting methods. EOQ willproduce smallest total cost that will give efficient result. Ciawi Region Public Hospitalis expected to make drugs supporting plan with quality controll and cost efficiency. Thehospital also expected for having drugs amount order counting, safety stock and repeatorder point.
Keywords : National Health Coverage, ABC Analysis, EOQ, Safety Stock, ROP, drugscontroll.
Read More
B-1974
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yozzy Rizal Ramadhan; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Anhari Achadi, Syaifuddin Zuhri
S-6680
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mella Syafutri; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Mieke Savitri, Soedarto Soepangat
S-7198
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Mu'tiyah; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Masyitoh, Lendy Delyanto
Abstrak:
Utilisasi kamar operasi merupakan bagian yang penting dalam proses pelayanan di rumah sakit, oleh karena itu kinerja di kamar operasi yang memadai dapat berpengaruh terhadap kualitas mutu pelayanan Rumah Sakit. Keterlambatan pelayanan operasi elektif tentunya akan membuat kualitas mutu pelayanan di kamar operasi menjadi menurun, padahal kamar operasi sebagai salah satu unit di rumah sakit yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu pelayanan secara keseluruhan. Dengan menggunakan metode Lean Six Sigma dengan pendekatan DMAIC penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui alur prosedur pelayanan di kamar operasi RSUD Cilegon, selain itu teridentifikasi value added, non-value added dan waste yang terjadi pada pelayanan di kamar operasi sehingga didapatkan faktor penyebab waste yang terjadi melalui analisis kemudian ditemukan rekomendasi usulan perbaikan yang sesuai dengan masalah yang teridentifikasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data yang didapatkan melalui pengamatan dan pencatatan waktu keterlambatan operasi elektif di RSUD Cilegon, serta menggali informasi secara mendalam dan rinci kepada informan baik informan dalam maupun pasien penerima layanan operasi elektif di RSUD Cilegon dan melakukan telaah dokumen. Dilakukan observasi dan wawancara mendalam terhadap 20 pasien yang menjalani operasi elektif di RSUD Cilegon di shift yang berbeda – beda setiap harinya. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, dan kemudian dilakukan wawancara kepada pasien sehingga didapatkan value perspektif customer sesuai dengan prinsip metode Lean Six Sigma. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mendapat faktor penyebab adanya keterlambatan pelayanan operasi elektif menggunakan fishbone diagram yang dikelompokkan ke dalam kategori Man, Machine, Method, Money dan Environment sehingga penyebab masalah yang teridentifikasi dapat dirumuskan prioritas usulan perbaikan yang sesuai dan perlu dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan di bulan Mei – Juni 2023 didapatkan rata – rata total value added pada proses persiapan hingga pelayanan operasi elektif di RSUD Cilegon yaitu selama 40,8 menit atau sebesar 27,36% dari total waktu yang dihabisakan oleh pasien yang menjalani persiapan hingga dilakukan pembedahan. Sedangkan rata – rata total non-value-added yang didapatkan adalah selama 108,3 menit atau sebanyak 72,64% dari total waktu yang dihabiskan pasien sejak persiapan dan konsultasi hingga pasien mendapatkan pelayanan operasi. Beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya non-value added dan waste yang terjadi adalah kegiatan menunggu pemanggilan dari kamar operasi, keterlambatan dokter operator dan anestesi yang masih melakukan praktik atau menangani pasien lain, serta menunggu jawaban konsul operator atau anestesi. Selain itu kemampuan petugas di kamar operasi yang belum merata juga menyebabkan terjadinya waste, selain itu ketersediaan alat, BHP dan fasilitas pendukung kegiatan operasi elektif yang terbatas turut mendukung adanya waste dan mengakibatkan banyaknya non-value-added yang teridentifikasi sehingga menyebabkan keterlambatan dimulainya operasi elektif. Peneliti mengharapkan strategi perbaikan yang telah diberikan dapat terus diterapkan untuk memperbaiki dan mengeliminasi kegiatan non value added yang terjadi yaitu dengan memberlakukan pengurangan indikator kinerja kepada petugas yang terlambat sehingga akan berdampak pada remunerasi petugas, selain itu diharapkan tersedia penanggung jawab akan jadwal kegiatan operasi sehingga dapat mengingatkan dokter operator maupun anestesi agar datang tepat waktu, penerapan diklat yang mempunyai target tercapainya kompetensi sehingga kompetensi petugas yang diperlukan terpenuhi, dan pengadaaan alat rutin yang dapat dilakukan secara berkala demi mencukupi kebutuhan di pelayanan operasi.

Operating room utilization is an important part of the hospital service process. Therefore, adequate performance in the operating room can affect the quality of hospital services. Delays in elective surgery services will certainly make the quality of service in the operating room decrease, even though the operating room as one of the units in the hospital has a strategic role in improving the overall quality of service. By using the Lean Six Sigma method and the Value Stream Mapping approach, this study aims to find out the flow of service procedures in the Cilegon Hospital operating room, in addition to identifying value added, non-value added and waste that occurs in services in the operating room so that the factors that cause waste are identified. This occurs through analysis which then finds recommendations for improvements that are in accordance with the problems identified. This research is a qualitative research with data collection methods obtained through observing and recording the delay in elective surgery at Cilegon Hospital, as well as digging in-depth and detailed information to informants both inside informants and patients receiving elective surgery services at Cilegon Hospital and conducting a document review. Observations and in-depth interviews were carried out with 20 patients undergoing elective surgery at Cilegon Hospital in different shifts every day. The selection of informants was carried out using a purposive sampling technique, and then conducted interviews with patients in order to obtain a customer perspective value in accordance with the principles of the Lean Six Sigma method. The data obtained is then analyzed to obtain the factors causing the delay in elective operating services using fishbone diagrams which are grouped into the Man, Machine, Method, Money and Environment categories so that the causes of the identified problems can be formulated priority recommendations for improvements that are suitable and need to be carried out. The results of research conducted in May - June 2023 obtained an average total value added in the preparation process to elective surgery services at Cilegon Hospital, namely for 40.8 minutes or 27.36% of the total time spent by patients undergoing preparation to surgery was performed. Meanwhile, the total non-value-added average obtained was 108.3 minutes or as much as 72.64% of the total time spent by patients from preparation and consultation to patients receiving surgical services. Some of the factors that cause non-value added and waste that occur are activities waiting to be called from the operating room, delays in operating doctors or anesthesiologists who are still practicing or treating other patients, and waiting for the operator or anesthesiologist's consult. In addition, the uneven ability of officers in the operating room also causes waste to occur, and the limited availability of tools, consumable part and supporting facilities for elective surgery also supports the presence of waste and results in many non-value-added being identified which causes delays in the beginning of elective operations. . The researcher hopes that the improvement strategies that have been provided can continue to be applied to improve and eliminate non-value-added activities that occur, namely by imposing a reduction in performance indicators for officers who are late so that it will have an impact on employee remuneration. reminding the operator and anesthetist to come on time, implementing training that has the target of achieving competence so that the necessary competence of officers is fulfilled, and procuring routine equipment that can be carried out periodically to meet the needs in operating services.
Read More
B-2396
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Bernadette; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Irene Girsang, Dini Handayani
Abstrak:

Latar Belakang : Waktu tunggu sering kali dijadikan indikator untuk menilai kualitas pelayanan rumah sakit oleh pasien. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah waktu tunggu untuk pemulangan pasien. Data RS Mitra Keluarga Bintaro tahun 2023 menunjukkan rata-rata waktu tunggu pasien adalah 87 menit dengan perbedaan yang cukup signifikan antara pasien dengan penjaminan pribadi (66 menit) dan penjaminan asuransi (121 menit). Data rata-rata waktu tunggu tersebut terhitung sejak dokter memberikan instruksi pulang hingga pasien melakukan billing akhir. Data tersebut belum terhitung hingga pasien meninggalkan ruang rawat inap. Standar pelayanan minimal waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap yang ditetapkan oleh Kemenkes yaitu kurang dari 120 menit. Pencapaian waktu tunggu pasien yang keluar dalam waktu ≤ 2 jam tercatat sebesar 88%, meskipun masih belum memenuhi target korporat yang ditetapkan sebesar 100%.
Metode : Penelitian ini mengadopsi desain operational research yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan total sampel sebanyak 38 pasien yang pulang setelah menjalani rawat inap. Pemilihan sampel didasarkan pada distribusi hari, jam kepulangan, dan jenis metode penjaminan yang telah ditetapkan.
Hasil : Hasil penelitian dengan pendekatan lean six sigma berhasil mengidentifikasi lead time pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro sebesar 5 jam 10 menit 54 detik dimana 69% merupakan kegiatan non value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 3 jam 14 menit 23 detik. Akar masalah dari memanjangnya waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap berada di fase III pada kegiatan menunggu pasien meninggalkan ruang rawat inap. Penerapan lean six sigma dalam proses pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro berhasil mengurangi lead time sebesar 16%, dari 5 jam 10 menit 54 detik menjadi 4 jam 21 menit 25 detik. Pengurangan lead time ini diikuti dengan penurunan waste di seluruh tahapan pemulangan pasien, dengan penurunan waste terbesar terjadi pada fase I, yaitu sebesar 44%, dari 1 jam 3 menit 27 detik menjadi 35 menit 46 detik.
Kesimpulan : Terdapat penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro setelah penerapan lean six sigma. Penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap masih diatas target standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Kemenkes.


Background                : Waiting time is often used as an indicator to assess the quality of hospital services by patients. One aspect of concern is the waiting time for patient discharge. Data from Mitra Keluarga Bintaro Hospital in 2023 showed that the average patient waiting time was 87 minutes with a significant difference between patients with personal guarantees (66 minutes) and insurance guarantees (121 minutes). The average waiting time data is calculated from when the doctor gives instructions to go home until the patient makes the final billing. The data does not include until the patient leaves the inpatient room. The minimum service standard for inpatient discharge waiting time set by the Ministry of Health is less than 120 minutes. The achievement of waiting time for patients who leave within ≤ 2 hours was recorded at 88%, although it still does not meet the corporate target set at 100%. Method                : This study adopted an operational research design that integrates quantitative and qualitative methods. The sampling technique used was simple random sampling, with a total sample of 38 patients who returned home after undergoing inpatient care. Sample selection was based on the distribution of days, hours of discharge, and types of guarantee methods that had been determined. Hasil                        : The results of the study using the lean six sigma approach successfully identified the lead time for inpatient discharge at Mitra Keluarga Bintaro Hospital of 5 hours 10 minutes 54 seconds, where 69% were non-value added activities dominated by waiting type waste of 3 hours 14 minutes 23 seconds. The root of the problem of the long waiting time for inpatient discharge is in phase III in the activity of waiting for the patient to leave the inpatient room. The application of lean six sigma in the inpatient discharge process at Mitra Keluarga Bintaro Hospital successfully reduced the lead time by 16%, from 5 hours 10 minutes 54 seconds to 4 hours 21 minutes 25 seconds. This reduction in lead time was followed by a decrease in waste in all stages of patient discharge, with the largest decrease in waste occurring in phase I, which was 44%, from 1 hour 3 minutes 27 seconds to 35 minutes 46 seconds. Kesimpulan                : There is a decrease in the waiting time for discharge of inpatients at Mitra Keluarga Bintaro Hospital after the implementation of lean six sigma. The decrease in the waiting time for discharge of inpatients is still above the minimum service standard target set by the Ministry of Health.

Read More
B-2507
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Nyoman Ari Wijaya; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Pujiyanto, Heri Iswanto, Muhammad Baharuddin
Abstrak: Pelayanan Farmasi merupakan pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi akan memengaruhi mutu layanan di rumah sakit secara menyeluruh. Demikian juga di RSU Bali Royal, didapatkan waktu tunggu diatas dari standar pelayanan minimal rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi rawat jalan disebabkan belum berjalannya manajemen mutu yang baik di RSU Bali Royal. Peneitian ini akan melihat bagaimana proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean, di tahun 2017 dengan observational action process research, dengan melakukan observasi terhadap 15 pasien dari bulan oktober 2017 sampai dengan Januari 2018 di farmasi rawat jalan RSU Bali Royal, dengan melihat waste yang ada. Ditemukan kegiatan yang bersifat value added sebesar 45,65% dan kegiatan non value added (waste) sebesar 54,28%. Waste yang banyak ditemukan adalah waste waiting dan waste defect. Eliminasi waste yang sudah ditemukan dengan implementasi intervensi antara lain: memindahkan konter kasir, merubah lay out farmasi, membuat loket antara konter farmasi dengan ruang pengerjaan obat mengunci pintu ruang farmasi dan merubah alur layanan farmasi rawat jalan, sehingga kegiatan non value added dapat di eliminasi menjadi 18,28% dan kegiatan value added menjadi 81,72%. Dari segi outcome dapat dilihat adanya perbaikan waktu tunggu, perbaikan kepuasan pelanggan, peningkatan kunjungan dan peningkatan omset di farmasi. Peneitian ini menyimpulkan adanya peningkatan mutu layanan setelah dilakukan perbaikan proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean.
Kata kunci : Mutu; Lean; Farmasi

Pharmaceutical Services is a service that cannot be separated from hospital services. The length of waiting time in the pharmacy will satisfy the overall quality of hospital services. Currently the waiting time in Bali Royal Hospital pharmacy for out patient is still above the standard waiting time, which is not in accordance with the hospital guidelines. The standard waiting time for outpatient pharmacy cannot be achieved due to lack of quality management at RSU Bali Royal. This study will look at how the process of outpatient pharmacy service using lean method, in 2017 with observational action process research, by observing 15 patients from October 2017 to January 2018 at outpatient pharmaceutical RSU Bali Royal, by looking at the waste. It is founded that there are 45.65% value added activities and non-value added activities (vaste) of 54.28%. Most of the wastes that are found are waste waiting and waste defect. Elimination of waste that has been done by the implementation of intervention, among others: moving cashier counters, changing the lay out of pharmacy, making counter between the pharmaceutical counter with space lock pharmaceutical door lock and change in outpatient pharmacy service, so that non value added activities can be eliminated to 18.28% and value added activities to 81.72%. In terms of outcome can be seen the improvement of waiting time, improvement of customer satisfaction, increased visits and increased turnover in pharmacy. This study concludes that there is a significant improvement of service quality after the refinement of outpatient pharmacy service process using lean method.
Keyword : Quality; Lean; Pharmacy
Read More
B-2003
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arini Cyndwiana Prastiwi; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Masyitoh, Pujiyanto, Erwindo Rinaldo, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan harus memenuhi standar pelayanan sesuai dengan Indikator Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan. Salah satu komponen indikator mutu rumah sakit adalah waktu tunggu rawat jalan. Waktu tunggu yaitu waktu yang dibutuhkan mulai saat pasien kontak dengan petugas pendaftaran sampai mendapat pelayanan dokter/dokter spesialis. Menurut PMK No. 129 tahun 2008, Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit untuk waktu tunggu di unit rawat jalan yaitu ≤ 60 menit. RSUI merupakan RS-PTN kelas B yang berlokasi di Kota Depok dan memiliki pelayanan mencapai 30 klinik. Poli penyakit dalam termasuk kedalam Indikator minimal ketersediaan pelayanan di unit rawat jalan yang harus dimiliki oleh rumah sakit dan memiliki jumlah pasien yang cukup besar di RSUI. Berdasarkan studi pendahuluan menggunakan data rekam medik, waktu tunggu di poli tersebut belum memenuhi standar dan sering mendapat laporan keluhan waktu tunggu yang lama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode Lean Six Sigma dengan tahapaan Define, Measure, Analyse, dan Improve. Metode pengambilan data dengan observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Consensus Making Disscusion Group (CDMG). Penghitungan Value Added, Non Value Added, Cycle Time, dan Lead Time didasarkan pada perspektif pasien. Waktu yang dibutuhkan pasien dari mulai pendaftaran sampai bertemu dengan dokter spesialis penyakit dalam belum mencapai standar yang telah ditentukan yaitu rata-rata lead time 149 menit. Pada Value Stream Mapping proses pelayanan terlihat beberapa waste, yaitu Over Processing, Waiting dan Defect dengan akar masalah dibagi menjadi Man, Machine, Methode, dan Environment. Waste waiting terbesar ada di proses menunggu tahapan. Rekomendasi yang dapat diberikan kepada rumah sakit sebagai langkah strategi perbaikan pelayanan di rawat jalan dibagi menjadi jangka pendek, jangka panjang, dan Future State Value Stream Mapping.

Hospitals as health services must have service standards in accordance with the National Health Service Quality Indicators. One component of hospital quality indicators is outpatient waiting time. Waiting time is the time required from the time the patient meets the registration officer until he receives the services of a doctor/specialist. According to PMK No. 129 of 2008, Minimum Hospital Service Standards for waiting time in outpatient units is ≤ 60 minutes. RSUI is a class B PTN Hospital located in Depok City and has services for up to 30 clinics. Internal medicine poly is included in the minimum indicators of service availability in the outpatient unit that must be owned by the hospital and has many patients in RSUI. Based on a preliminary study using medical record data, the waiting time at the poly did not meet the standards and there were often reports of complaints of long waiting times. This research is qualitative research using the Lean Six Sigma method with the Define, Measure, Analyze, and Improve stages. Data collection methods are observation, document review, interviews, and the Consensus Making Discusion Group (CDMG). Calculation of Value Added, Non Value Added, Cycle Time, and Lead Time is based on the patient's perspective. The time needed by patients from registration to meeting with specialists in internal medicine has not reached the predetermined standard, namely the average lead time is 149 minutes. In Value Stream Mapping, the service process shows several wastes, namely Over Processing, Waiting and Defects with the root causes divided into Man, Machine, Method, and Environment. The biggest waste waiting is in the process of waiting for stages. Recommendations that can be given to hospitals as a strategic step to improve outpatient services are divided into short term, long term, and Future State Value Stream Mapping.
Read More
B-2379
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive