Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32942 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Astuti; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono, Rosmawati, Novlin N. Liana Pane
Abstrak: Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian.Rematri merupakan kelompok rentan. Selain kondisinya sedang dalam masapertumbuhan juga risiko dari menstruasi yang dialaminya. Padahal rematri adalah calonibu sehingga upaya dini intervensi gizi harus dilakukan. Program suplementasi TTDdilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia serta meningkatkan status besirematri meskipun tidak selalu berhasil karena berbagai faktor. Tujuan penelitian iniuntuk membuktikan dukungan guru sebagai faktor dominan yang berhubungan denganperubahan kadar Hb rematri penerima program. Penelitian ini dilakukan dengan designcrossectional di 2 SMP penerima program di Kota Bekasi dengan sampel 175 rematri.Data perubahan kadar Hb diperoleh dari selisih pengukuran Hb sebelum dan setelahsuplementasi TTD berjalan 10 minggu yang merupakan data sekunder (telah lolos etik).Data lainnya yaitu data dukungan sekolah, karakteristik rematri, pola konsumsi dankarakteristik Ibu diperoleh melalui wawancara pengisian kuisioner. Hasil penelitianmendapatkan bahwa suplementasi TTD efektif meningkatkan kadar Hb rematri (p=0,005). Analisa regresi linear ganda mendapatkan hasil bahwa dukungan gurumerupakan faktor dominan yang berhubungan dengan perubahan kadar Hb. Hal inimembuktikan bahwa penuntasan intervensi gizi spesifik memerlukan upaya sensitif darisektor non kesehatan. Sehingga disarankan meningkatkan kolaborasi lintas sektor dalampelaksanaan program kesehatan khususnya program suplementasi TTD berbasissekolah.Kata kunci: anemia, rematri, suplementasi TTD berbasis sekolah, dukungan guru,perubahan Hb
Anemia remains public health issue that needs attention. Adolescent girls are thevulnerable group. Besides in their growth period condition, also the risk of theirmenstruation. Though adolescent girls are mother candidates, early efforts of nutritionalintervention should be implemented. Iron supplementation program is done to preventand cope with anemia and increase iron status of adolescent girls, although not alwayswork due to various factors. The objective of this study was to prove teacher support asthe dominant factor associated with hemoglobin level changes of adolescent girls in thisprogram. This research was conducted with cross-sectional design in two junior highschools beneficiaries program in Bekasi City with 175 adolescent girls subject. Thechanges of hemoglobin data was obtained from the difference of hemoglobin levelbefore and after measurement by giving iron supplementation for 10 weeks, which weresecondary data (ethics approved). Other data such as school support, characteristics ofadolescent girls, consumption patterns and characteristics of mothers were obtainedthrough interviewing based on questionnaire. The results of the study was Ironsupplementation effectively increased hemoglobin levels of adolescent girls (p = 0.005).Multiple linear regression analysis found that teacher support was the dominant factorassociated with changes in hemoglobin levels. This proves that completion of specificnutritional interventions requires sensitive efforts from the non-health sector. It issuggested to increase cross-sector collaboration in health program implementationespecially school-based Iron supplementation program.Keywords: anemia, adolescent girls, school-based iron supplementation, teacher,hemoglobin.
Read More
T-5197
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhanifah; Pembimbing: Fatmah, Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Kusharisupeni, Iip Syaiful, Masni Asbudin
T-2650
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiam Rifati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Rahmawati
Abstrak: Dismenorea adalah nyeri saat menstruasi yang dapat berupa kram pada perut bagianbawah tengah, nyeri pelvis, kembung, dan mual. Penelitian ini bertujuan mengetahuifaktor-faktor dan faktor dominan yang berhubungan dengan dismenorea pada remaja.Desain studi yang digunakan adalah cross sectional kepada 177 siswi di SMAN 5 Bekasidengan pengukuran antropometri untuk data berat badan dan tinggi badan, dan pengisiankuesioner untuk data usia menarke, aktivitas fisik, kebiasaan sarapan, riwayat dismenoreadi keluarga, lama menstruasi, dan stres. Data dianalisis dengan uji Chi-square, uji bedadua mean, uji korelasi, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan85.9% responden mengalami dismenorea. Terdapat hubungan yang bermakna antaradismenorea dengan kebiasaan sarapan (p = 0.044, OR = 1.3) dan riwayat dismenorea dikeluarga (p = < 0.001, OR = 6.8). Riwayat dismenorea di keluarga merupakan faktordominan yang berhubungan dengan dismenorea karena memiliki OR terbesar. Namun,faktor tersebut tidak dapat diintervensi, sehingga dipilih kebiasaan sarapan sebagai faktoryang dapat diintervensi.Kata kunci: dismenorea, remaja, kebiasaan sarapan, riwayat dismenorea di keluarga.
Dysmenorrhea is defined as menstrual pain that can be felt like cramps in lower middleabdomen, pelvic pain, bloated, and nausea. The aim of this study was to determine factorsand dominant factor associated to dysmenorrhea in adolescents. A cross-sectional studywas conducted among 177 female students in SMAN 5 Bekasi by anthropometrymeasurement for weight and height data, and self-administered questionnaire for age ofmenarche, physical activity, breakfast habits, family history of dysmenorrhea, menstrualduration, and stress data. Data were analyzed using Chi-square, two-mean difference,correlation, and multiple logistic regression analysis. The result showed that 85.9% ofrespondents had dysmenorrhea. Significant associations were found betweendysmenorrhea and breakfast habits (p = 0.044, OR = 1.3), and family history ofdysmenorrhea (p = < 0.001, OR = 6.8). Family history of dysmenorrhea is the dominantfactor because it has the highest OR score. Nonetheless, family history of dysmenorrheacan not be intervened nor changed, so breakfast habits are chosen factor to be intervened.Keywords: dysmenorrhea, adolescents, breakfast habits, family history of dysmenorrhea.
Read More
S-9789
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chuzaemah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih, Fatmah, Itje Aisah, Eti Rohati
Abstrak: Anemia merupakan salah satu masalah gizi, yang perlu mendapat perhatian khusus. Remaja putri termasuk golongan yang rawan menderita anemia karena mengalami mensturasi setiap bulan dan sedang dalam masa petumbuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan efektifitas suplementasi TTD program lama dan baru Kemenkes terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi anemia di Kabupaten Bengkulu Utara. Rancangan penelitian randomized control group pretest dan postest. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok A (19 siswi) diberi suplementasi program lama (satu tablet per minggu dan satu tablet selama haid) dan kelompok B (19 siswi) diberi suplementasi program baru (satu tablet per minggu). Pemberian suplementasi TTD diminum di depan peneliti diberikan selama 8 minggu. Data asupan zat gizi diperoleh dengan kuesioner food recall, lama haid, lama menarche, kebiasaan minum teh atau kopi, pengetahuan tentang anemia dan TTD diperoleh melalui kuesioner berstruktur, kadar Hb awal dan akhir dengan cyanmethemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektifitas perubahan kadar Hb pada kedua kelompok intervensi (p=0.402) dan tidak ada hubungan bermakna antara variabel internal dan eksternal terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi kecuali Hb awal (p=0.001) dengan rata-rata perubahan Hb siswi kelompok A sebesar 1.77 g/dl sedangkan kelompok B sebesar 1.44 g/dl. Kata kunci : zat besi , suplementasi, perubahan hemoglobin, anemia, remaja putri Anemia is one of the nutritional problems, which needs to be highly concerned. Adolescent girls are included to a group which is susceptible to anaemia because of their monthly menstruation and gowth periods. This study aims to investigate difference effectiveness between old and new programs of the ministry iron supplementation in changes hemoglobin level among anemic students in Kabupaten Bengkulu Utara. Design of this study is randomized control group pretest dan posttest.Subjects were randomized into two groups, group A (19 subjects) old program supplementation ( once per week and once per day in menstrual period) and group (B) new program supplementation (once per week). Supplementation of iron tablet was given for a consecutive 8 weeks. Nutrient intake obtained with the food recall questionnaire, days menstruation, menarche, drinking tea or kopi , knowledge anemia and iron tablet through structured questionnaire and level of hemoglobin by cymenthemoglobin. The study shows no difference found in the change of hemoglobin level of the two groups (p=0.402) and internal and external variable were not significantly in the change of hemoglobin level except early hemoglobin with mean hemoglobin change in old program supplementation was 1.77 g/dl while in new program supplementation the change was 1.44 g/dl. Keyword : iron, supplementation, change of hemoglobin level, anemia, adolescent girls
Read More
T-5039
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Fitri Nurisfanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Fajrinayanti
Abstrak:
Anemia defisiensi zat besi merupakan kondisi anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi, yang mengakibatkan kurangnya pasokan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Anemia defisiensi besi memiliki dampak jangka pendek dan panjang, di antaranya menurunkan imunitas tubuh, mengganggu konsentrasi dan fokus, memperbesar risiko kematian saat melahirkan, memperbesar risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, hingga menyebabkan kematian. Dinas Kesehatan Kota Depok 2023 menyatakan bahwa prevalensi anemia remaja putri di Kota Depok adalah sebesar 36,34%, yang tergolong sebagai moderate public health problem menurut WHO. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara faktor-faktor risiko anemia terhadap status anemia remaja putri pada SMA negeri di wilayah Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampelnya dengan metode quota sampling. Total responden penelitian adalah sebanyak 165 orang remaja putri dari kelas 10 dan 11. Data-data pada penelitian ini diambil dengan beberapa cara, di antaranya dengan antropometri, pengukuran kadar hemoglobin dengan Hemocue Hb 201+ System, food recall 2x24 jam, serta pengisian kuesioner. Data kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, hingga multivariat dengan uji regresi logistik berganda. Prevalensi anemia pada penelitian ini didapatkan sebesar 53,3% serta analisis bivariatnya menunjukkan terdapat hubungan antara asupan energi, asupan protein, asupan zat besi, asupan seng, asupan kalsium, konsumsi teh/kopi, siklus menstruasi, lama menstruasi, konsumsi TTD, status gizi, pengetahuan gizi, dan pendapatan orang tua remaja putri terhadap status anemia remaja putri di Kota Depok tahun 2024 (p-value < 0,005). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap status anemia adalah asupan protein (OR = 6,18).

Iron deficiency anemia is a condition caused by a lack of iron, resulting in an insufficient supply of iron necessary for the formation of red blood cells (erythropoiesis). Iron deficiency anemia has both short-term and long-term impacts, including reduced immunity, impaired concentration and focus, increased risk of death during childbirth, higher risk of delivering low birth weight babies, and can even cause death. Depok’s Health Service in 2023 reported that the prevalence of anemia among female adolescents in Depok was 36,34%, categorized as a moderate public health problem according to WHO. The aim of this study was to determine the relationship between risk factors for anemia and anemia status among female adolescents at public high schools in Depok 2024. This study used a cross-sectional design with quota sampling for sample collection. The total number of respondents was 165 female adolescents from grades 10 and 11. Data in this study were collected through various methods, including anthropometry, hemoglobin level measurement with the Hemocue Hb 201+ System, 2x24 hour food recall, and questionnaires. The data were then analyzed using univariate, bivariate analysis with chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression test. The prevalence of anemia found in this study was 53.3%, and bivariate analysis showed a relationship between energy intake, protein intake, iron intake, zinc intake, calcium intake, tea/coffee consumption, menstrual cycle, duration of menstruation, iron supplement consumption, nutritional status, nutritional knowledge, and parents’ income with anemia status among female adolescents in Depok 2024 (p-value < 0.005). Multivariate analysis indicated that the most dominant factor affecting anemia status was protein intake (OR = 6.18).
Read More
S-11661
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Sri Redjeki; Pembimbing: Achmad, H. Engkus Kusdinar; Penguji: Fatmah, Asih Setiarini, Galopong Sianturi, Kusuma Wijayanti
Abstrak:

ABSTRAK

Kebugaran yang rendah berdampak pada penurunan produktivitas kerja dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Tesis ini bertujuan untuk menilai faktor dominan yang berhubungan dengan kebugaran kardiorespiratori melalui tes bangku 3 menit YMCA. Penelitian ini dilakukan pada guru di Yayasan Asih Putera Kota Cimahi pada bulan Maret 2013. Desain penelitian ini menggunakan metode Crosssectional dengan jumlah sampel 80 orang. IMT ditentukan berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan, PLT diukur dengan BIA, aktivitas fisik diketahui melalui pengisian kuesioner Baecke, dan asupan gizi dihitung dengan menggunakan Food record 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan norma tes kebugaran bangku 3 menit YMCA sebanyak 66.2 persen guru tergolong tidak bugar. Uji Chi square menyatakan bahwa variabel umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, IMT, PLT, asupan gizi berupa energi, karbohidrat, protein, lemak, vitamin B1, B2, B6, B12, Mg, Zn, dan Fe memiliki hubungan bermakna dengan kebugaran kardiorespiratori. Analisis Regresi Logistik Ganda menunjukkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kebugaran adalah aktivitas fisik (p<0.005, OR=48.34). Untuk meningkatkan kebugaran guru, disarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik, pengendalian berat badan, pemberian suplemen, serta pembinaan terhadap pedagang makanan.


ABSTRACT

Phisical fitness has impact on the productivity and the body's resistance to disease. This study aims to assess the dominant factor related to fitness measured by cardiorespiratory endurance using YMCA 3-minute step test method. The subjects study was 80 teachers at Yayasan Asih Putera Cimahi in March 2013. This study using Cross-sectional design. BMI is determined by measuring weight and height, percent body fat measured by BIA, physical activity is known through the Baecke questionnaire, and nutrient intake was calculated by using 3 day Food record. The statistical test used was a Chi Square test and Multiple Logistic Regression for multivariate analysis. The results showed that 66.2 percent of the teachers classified as unfit group. Chi square test states that the variables age, sex, physical activity, BMI, PLT, a nutritional intake of energy, carbohydrate, protein, fat, vitamins B1, B2, B6, B12, Mg, Zn, and Fe had a significant association with cardiorespiratory fitness. Multivariate analysis showed that the dominant variable is associated with physical fitness is activity (p<0.005, OR= 48.34). It is suggested that sporting activities to have be done in order to increase the physical activity level, weight control, food supplements, as well as guidance to the food vendors.

Read More
T-3942
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nahsty Raptauli Siahaan; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Rahmawati
S-6930
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syabilila Indraswari; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Triyanti, Anies Irawati, Tiara Luthfie
Abstrak: Kebutuhan zat besi pada remaja meningkat terkait dengan percepatan pertumbuhan, dan kehilangan darah karena menstruasi. Santri remaja putri rentan terkena anemia karena pola hidup pesantren yang jauh dari orang tua serta kegiatan yang cenderung padat sehingga membuat pola makan tidak teratur dan kurangnya asupan zat gizi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara suplementasi tablet Fe mingguan dan suplementasi tablet Fe mingguan ditambah harian saat menstruasi selama 8 minggu. Penelitian ini menggunakan Disain Quasi Eksperimental The Non Equivalent Control Group. Responden penelitian ini sebanyak 38 orang dimana 18 orang menerima suplementasi mingguan dan 20 orang menerima suplementasi mingguan ditambah setiap hari saat menstruasi. Pengukuran data pengetahuan, menstruasi, status gizi, pola konsumsi inhibitor, enhancer dan protein hewani dilakukan sebelum intervensi, data suplementasi diukur setelah intervensi dan data kadar hemoglobin diukur saat sebelum dan sesudah intervensi. Terjadi kenaikan kadar hemoglobin pada kedua kelompok setelah intervensi selama 8 minggu (kelompok 1 p=0,0005, perlakuan 2 p=0,0005). Kenaikan tersebut tidak berbeda antara kelompok perlakuan pertama dan kedua (p=0,797). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa suplementasi 8 minggu dengan tingkat kepatuhan konsumsi yang tinggi sudah cukup untuk menaikkan kadar hemoglobin darah. Selain itu faktor yang mempengaruhi peningkatan hemoglobin darah adalah konsumsi protein hewani, konsumsi inhibitor, konsumsi enhancer, lama menstruasi, pengetahuan, dan jenis program suplementasi tabet besi dimana faktor yang paling dominan adalah konsumsi protein hewani.

Female adolescent student in boarding school are vulnerable in having anemia because pesantren’s life style is full of activicities and the students is far from their parents its causes irregular eating habit and lack of nutrition in their meals. This research compared the differences of haemoglobin level after weekly Fe tablet supplementation and weekly Fe tablet plus daily during menstruation Fe supplementation for 8 weeks. This study uses the Quasi Experimental Design The Non Equivalent Control Group. A total of 38 respondents participaten in this study 18 of them received a weekly Fe tablet Supplementation, 20 other respondents got a Fe tablet weekly plus daily during their  menstruation cycle. There was a significant increase of haemoglobin level in both groups after the intervention for 8 weeks (group 1 p = 0.0005, group 2 p = 0.0005). This increase did not significant between the first and second group (p = 0.797). This study prove that 8 weeks of supplementation of Fe tablets with the high level of obedience in consuming the supplement is adequate in increasing the level of hemoglobin. The factors that can affects the increased number of hemoglobin are consumption of animal protein, consumption of inhibitors, consumption of enhancers, long menstruation cycle, knowledge, and the type of Fe tabet supplementation program.
Read More
T-5850
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive