Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40452 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Noralisa; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Mularsih Restianingrum, Intan Endang S. Damanik
Abstrak: Angka kematian ibu dikalangan Suku Anak Dalam (SAD) sangat tinggi. Setiap tahun sejakTahun 2012 sampai Tahun 2017 terjadi satu kematian ibu. Penyebab utama adalah perdarahan daninfeksi, penyebab tidak langsung adalah faktor budaya dimana persalinan ditolong oleh dukun beranakdan tempat persalinan di pondok. Tujuan penelitian adalah untuk memotret keselarasan peran bidan dandukun dalam pandangan SAD pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Metode penelitian kualitatifdengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat tiga aktifitas SAD pada masakehamilan, persalinan, dan nifas yaitu cara perawatan diri dan cara mencegah terjadi bahaya kehamilan,persalinan, dan nifas, pemilihan tenaga penolong, serta upacara ritual, hal dominan yang mempengaruhiaktifitas selama kehamilan ,persalinan, dan nifas adalah pengalaman yang lalu, perasaan Saat Ini, anjurandan Pantangan , pusat kekuatan pengambilan Keputusan. SAD menyatakan bahwa bidan hanya memilikiperhatian yang positif dalam memberikan pelayanan kesehatan, sedangkan dukun mampu memberikantiga unsur inti pertolongan. Bidan menyatakan Sulit berkomunikasi dan jarang melakukan interaksidengan SAD, sedangkan dukun mampu berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan SAD. Dukunmenyatakan SAD memiliki kepatuhan terhadap tradisi dalam pemilihan penolong, sedangkan bidanmenjaga jarak dengan SAD. Menurut temenggung SAD akan memilih bidan sebagai penolong, apabiladukun tidak mampu lagi memberikan pertolongan.Kata kunci: peran bidan;peran dukun;Suku Anak Dalam (SAD);kehamilan;persalinan;nifas
view Suku Anak Dalam (SAD) in Pregnancy, Delivery, and Postpartumat Tebo, Jambi 2018Maternal mortality rate among Suku Anak Dalam (SAD) is very high. Every year from 2012to 2017 there is one maternal death. The main cause is bleeding and infection, indirect cause is a culturalfactor where labor is helped by traditional birth attendants (TBA) and place of birth in the lodge. Theobjective of the study was to photograph the harmony of the role of midwives and TBA in the view ofSAD during pregnancy, maternity, and childbirth. Qualitative research method with ethnographyapproach. The results showed that there were three SAD activities during pregnancy, maternity, andchildbirth, namely self-care and how to prevent the occurrence of danger of pregnancy, maternity, andchildbirth, the selection of rescue workers, as well as ritual ceremonies, dominant things that affectactivities during pregnancy, maternity, and childbirth are past experiences, current feelings, suggestionsand abstinences, centers of decision-making power. SAD states that midwives have only positiveattention in providing health services, whereas TBA are able to provide three core elements of relief.Midwives say Difficult to communicate and rarely interact with SAD, while TBA are able tocommunicate and interact well with SAD. TBA claim SAD has adherence to tradition in helper election,while midwife keeps distance with SAD. According to the Chief of SAD the midwife will choose as ahelper, if the TBA is unable to provide help.Keywords: midwife's role;TBA's role; Suku Anak Dalam (SAD); pregnancy; maternity; childbirth.
Read More
T-5435
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Kurniawati; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Artha Prabawa, Asri C. Adisasmita, Wara Pertiwi
Abstrak: Kanker serviks merupakan salah satu kanker paling umum terjadi pada wanita. WHOmemperkirakan akan terjadi peningkatan 25% selama 10 tahun kedepan dari jumlah kematian akibat kankerserviks di seluruh dunia hampir 280.000 pada tahun 2015. Pengetahuan remaja tentang infeksi virus HPVsebagai penyebab kanker serviks dan penyakit menular lainnya masih sangat rendah dibawah 1% menurutSDKI-KRR tahun 2012. Tujuan penelitian menilai pengetahuan tentang kanker serviks dan faktor-faktoryang mempengaruhi pada siswi kelas X dan XI di SMA 3 Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten TeboProvinsi Jambi tahun 2018. Peneliti menggunakan desain studi crossectional dengan melibatkan 172sampel, data dikumpulkan melalui quesioner yang diisi sendiri oleh responden. Hasil penelitianmenunjukkan proporsi pengetahuan remaja tentang kanker serviks adalah 39,5%. Hasil uji bivariatmenunjukkan ada hubungan antara keterpaparan media komunikasi (p=0,002), pendidikan ibu (p=0,049)dan sumber informasi dari guru (p=0,023) dengan pengetahuan tentang kanker serviks. Hasil multivariatmenunjukkan bahwa adanya hubungan keterpaparan media komunikasi dengan pengetahuan tentangkanker serviks (p=0,005) dengan nilai OR 2,750 dan sumber informasi dari guru (p=0,039) dengan nilaiOR 2,200 setelah dikontrol variabel pendidikan ayah, pendidikan ibu, umur dan sumber informasi daritenaga kesehatan. Berdasarkan hal tersebut perlu ditingkatkan komunikasi guru dan murid serta upayapromosi melalui media lebih menarik dan informatif.Kata kunci: Pengetahuan, Kanker serviks, Remaja.
Cervical cancer is one of the most common cancers in women. WHO estimates there will be a 25% increaseover the next 10 years from the number of deaths from cervical cancer worldwide nearly 280,000 by 2015.Adolescent knowledge of HPV viral infection as a cause of cervical cancer and other infectious diseases isstill very low below 1% according to SDKI-KRR 2012. The objective of the study is to assess theknowledge of cervical cancer and the factors that influence the students of class X and XI in SMA 3Kecamatan Tebo Tengah Tebo District Jambi Province in 2018. The researcher uses cross-sectional studydesign involving 172 samples, data collected through questioner filled by respondents. The results showedthe proportion of adolescent knowledge about cervical cancer was 39.5%. The result of bivariate test showsthere is correlation between exposure of communication media (p = 0,002), mother education (p = 0,049)and source of information from teacher (p = 0,023) with knowledge about cervical cancer. The multivariateresult showed that there was a correlation between communication media and knowledge about cervicalcancer (p = 0,005) with OR 2,750 value and teacher information source (p = 0,039) with value of OR 2,200after controlled by education variable of father, mother education, age and source of information of healthworkers. Based on this need to be improved communication of teachers and students as well as promotionalefforts through the media more interesting and informative.Keyword : Knowledge, cervical cancer, Adolescent.
Read More
T-5329
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ii Solihah; Pembimbing: Hadi Pratomo, Iwan Ariawan; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Ubaidillah Syathory
T-2828
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pony Natalia Heryadi; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Luknis Sabri, Evi Martha, Harni Koesno, Lukas C. Hermawan
Abstrak:

Pemanfaatnn jasa dukun bayi untuk menanpni kehamilan dan pelsalinan merupakan salah satu faktor penghambat upaya peningkazan akses pelayanan KIA melalui penempaum bidan di desa. Oleh karma itu perm promosi kcsehatan melalui pendekatan kemitraan bidan di desa dan dukun bayi menjadi sangat panting. Upaya kemitraan telah dilaksanakan di Kabupaten Katingan namun belum pemah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mempemleh informasi yang mendalam mengenai kemitraan bidan di desa dan dukun bayi di Kabupatcn Katingan, hal internal dan ckstemal apa saja yang berkaitan, sem mengidentifikasi hal-hal yang mendukung dan menghambat bemjalannya kemitman. Penelitian dilakukan di enam dcsa di Riga kecamatan di Kabupaten Katingan Propinsi Kalimantan Tcngah yang telah melaksanakan upaya kemitraan, menggunakxm pendekatan kualitatif bemdesain RAP, dengan cara wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Infonnan penelitian adalah bidan di desa yang bemnitra, bidan kooxdinator, kepala Puskesmas, pengelola KIA Dinkcs Kntingan, Ketua [BI Katingan, dukun bayi yang bennilra dan anggota masyarakat (tokoh masyarakat dan kader posyandu). Hasil penclitian menunjukkan bahwa dilihat dari tahap kerjasama dan pembagian perannya, kemitraan bidan di desa dan dukun bayi di Kabupatzn Katingan ada yang sudah baik dan ada yang masih kurang, scrta memiliki kecenderungan hubungan deugan persepsi dukun bayi terhadap manfaat dan hambatan kemitraan, sikap bidan di desa dan duinm bayi daiam bermitra, motivasi dukun bayi, scrta pendekatan personal bidan di dcsa kepada dukun bayi. Pendukung kemitraan bidan di desa dan dukun bayi antara lain persepsi dukun bayi bahwa kemitraan memberikan rasa aman, sikap positif antara bidan dan duknn bayi, kebutuhanakmlrasaanmnyangmemotivasidukunbaydunmkbermiumserta intensitas komunikasi interpersonal bidan dan dukun bayi yang [ebih sexing dan lebih baik. Penghambat kemitraan antara lain pexsepsi dukun bayi yang kelim tentang manfaat kemitraan, keluarga tidak sctuju dukun bayi memanggil bidan di desa kamna alasan biaya dan ada! istiadat, proses persalinan yang terlalu ocpat, sikap negatif antara bidan dan dukun bayi, kebutuhan aktualisasi diri dukun bayi, intcnsitas komunikasi bidan-dukun yang kutang baik, bclum meratanya tenaga bidandi seluruh desa, serza pcndekatan seoara koe1sif7ancaman bidan di desa untuk mengubah perilaku dukun bayi. Masih di temukan mgenerasi dukun bayi dan kcbiaseum langsung memandikan bayi baru lahir, baik olch kcluarga, dukun bayi dan bidan di desa. Dengan demikian perlu dilakukan strategi pemctataan bidan di desa melalui insentif dan supervisi yang ketat khususnya di daerah terpencil, upaya pembinaan kcmitraan yang betkesinambungan, pclatihan komunikasi interpersonal bagi bidan di desa, sosialimi Iamkesnas untuk meaingkatkan persalinan dengan bidan di desa, melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam pembinaan kemitraan, menetapkan sistem pembagian pembayamn antara bidan di desa dan dukun bayi dcngan dana bergulir khususnya bagi kcluarga mislcin, menetapkan pcrtemuan rutin antara bidan di desa dan dukun bayi untuk mengetahui perkembangan kemitraan, Iebih pmaktif dan intcns melakukan pendekatan personal untuk mengubah persepsi dukun bayi tentang perannya saat ANC, persalinan, setelah bayi {ahh' dan nifas, sorta melakukan penyuluhan kepada masyarakat tcntang pencegahan hipotermia dengan menunda memandikan bayi bam Iahir.


Utilization of the Traditional Birth Attendants ('I`BAs] to handle pregnancy and childbirth is one of the factors which barricade etforts to increase access to maternal and health services through the placement of midwives in the villages. Therefore, the role of health promotion through partnership approach is very important. It has been undertaken in Katingan Region, but research to obtain infomation about how depth is partnership between village michvives and TBA in Katingan, to know related internal and external things, and to identify things that support and hinder the flow of partnership has never done. Research was conducted in six villages in three Katingan subdistricts in Central Kalimantan Province, which have been in partnership effort. use qualitative approach and RAP design, with depth interviews and focus group discussions methods to obtain data. Research informants are village midwives who have partnership with TBA, the midwife coordinators, head of public health centers, managers of ruatemal and child health programme of health district in Katingan, chairman of IBI Katiugan, TBAs who have partnership with village midwive, and member ofthe communities (community leaders and or Posyandu cadres). Base on partnership stage and role division, results of research shows that there have been good and less partnership between villages midwives and TBAS in Katingan. It is likely related to 'l'BA?s benefits dan barrier perceptions, attitudes between village midwives and the TBA, TBA?s motivation, and midwives personal approach to the TBAS. 'l'BA?s perception that partnership will give her a safe labor, positive attitudes to each other, TBA?s safety feeling that motivate her to have partnership, and the intensity of interpersonal communication between midwives and TBA which are more olien beside better quality, support the partnership. Wrong TBA?s perception about the benefits of partnership, the lixrnily who do not agree to pick the midwive up because of costs and custom reasons, immediately labor process, negative attitudes and less communication intensity to each other, TBA seltl actualization needs, villages without midwive, coersive approach to change TBA?s behaviour, hind the partnership. 'l'BAs regeneration and the practice of bathe the new hom are still found. Thus, some efforts and strategies like giving more incentives and strict supervision esspesially to village midwife in remote area, sustainable partnership programme, midwives interpersonal communication training, increasing Jamkesmas socialization, involving traditional leaders, community leaders, and religious lwders in partnership activities, setting a payment sharing system to village midwife and TBA i.e revolving iimd system mpecially to poor family, setting a regular meetings between midwives and 'I'BAs to talk about partnership, more proactive and intensely do personal approach to TBA to change her perception about her roles in antenatal care, labor process, and post natal, and develop community education about hypotermia prevention by delay a new born baths, all need to be done.

Read More
T-2981
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Ratnawati; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Rita Damayanti, Dwi Wahyu Balebu, Melyana
Abstrak:
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum di dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun pengobatan hipertensi tersedia, banyak penderita yang tidak sepenuhnya mematuhi pengobatan yang diberikan oleh tenaga medis. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan hipertensi adalah literasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan dalam kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Toili II. Penelitian menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan 152 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan two-stage cluster sampling, dan data dikumpulkan secara primer pada bulan Mei 2025. Variabel independen adalah literasi kesehatan, variabel dependen yaitu kepatuhan pengobatan, serta variabel konfonder meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, dan dukungan sosial. Instrumen yang digunakan MMAS-8 untuk kepatuhan pengobatan, HLS-EU-Q16 untuk literasi kesehatan, dan DUFSSQ untuk dukungan sosial. Analisis data meliputi univariat, bivariat (menggunakan uji Pearson dan t-test independen), serta multivariat dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara literasi kesehatan dan kepatuhan pengobatan (r= 0,156; p= 0,05). Adanya hubungan positif antara literasi kesehatan dan kepatuhan pengobatan. Artinya semakin tinggi tingkat literasi kesehatan seseorang, maka semakin besar pula kecenderungan untuk patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi, namun literasi kesehatan bukan satu-satunya faktor penentu. Puskesmas diharapkan meningkatkan edukasi pasien dan keluarga terkait pentingnya kepatuhan pengobatan jangka panjang melalui penyuluhan yang terjadwal dan strategi komunikasi yang sesuai, terutama bagi lansia dan kelompok berpendidikan rendah. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau kualitatif untuk menggali lebih dalam faktor kepatuhan pengobatan hipertensi.

Hypertension, or high blood pressure, is one of the most common health problems worldwide, including in Indonesia. Although treatment for hypertension is available, many patients do not fully adhere to the prescribed medication regimen. One of the factors influencing medication adherence in hypertensive patients is health literacy. This study aims to examine the relationship between health literacy and medication adherence among hypertensive patients in the working area of Toili II Public Health Center. This research employed a cross-sectional design involving 152 respondents. Sampling was conducted using a two-stage cluster sampling technique, and primary data were collected in May 2025. The independent variable was health literacy, the dependent variable was medication adherence, and the confounding variables included age, sex, education level, and social support. The instruments used were MMAS-8 for medication adherence, HLS-EU-Q16 for health literacy, and DUFSSQ for social support. Data analysis included univariate, bivariate (using Pearson correlation and independent t-test), and multivariate analysis with multiple linear regression. The results showed a significant relationship between health literacy and medication adherence (r = 0.156; p = 0.05). The existence of a positive relationship between health literacy and medication adherence. However, health literacy alone is not the sole determinant. Community health centers (Puskesmas) are expected to enhance patient and family education regarding the importance of long-term treatment adherence through scheduled health counseling and appropriate communication strategies, especially for the elderly and those with low educational backgrounds. Future research is recommended to employ longitudinal or qualitative designs to explore in greater depth the factors influencing hypertension treatment adherence.
Read More
T-7276
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusni Apon; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Gladys Thenny Selintung, Tasripin
T-5318
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Salamiah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Iwan Ariawan, Tri Yunis Miko Wahyono; Flourisa Julian; Yunita Wahyuningrum
Abstrak: Pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi tidak saja terjadi pada tahap awal penggunaan, tapi juga pada tahap penggantian. Penggantian alat kontrasepsi dengan menggunakan metode yang efektif dan efisien (MKJP) dapat mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Akan tetapi, penggantian metode kontrasepsi masih didominasi dari non MKJP ke non MKJP. Belum optimalnya komunikasi, informasi, edukasi (KIE) MKJP oleh provider menjadi salah satu faktor rendahnya penggunaan MKJP. Studi ini bertujuan mengidentifikasi penggantian metode kontrasepsi dari non MKJP ke MKJP serta membuktikan hubungan sumber informasi KB, informed choice, tempat layanan KB dan kunjungan petugas kesehatan/KB dengan penggantian metode kontrasepsi pada WUS di Jawa Timur. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Subyek penelitian adalah WUS yang sebelumnya memiliki riwayat menggunakan non MKJP. Pengambilan sampel menggunakan multi stage cluster PPS sample design dan didapatkan sampel sebanyak 3312 orang. Data dianalisis univariat, bivariat menggunakan uji chi square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Dari total 3312 responden, sebanyak 594 orang (17,9%) yang beralih menggunakan MKJP. Penggantian masih didominasi dari non MKJP ke non MKJP (82,1%). Sumber informasi KB, informed choice dan tempat layanan KB terbukti berhubungan signifikan dengan penggantian metode kontrasepsi setelah dikontrol dengan variabel confounding. WUS yang mendapatkan informasi KB dari dua orang tenaga kesehatan terbukti mendorong untuk beralih menggunakan MKJP. Adanya informed choice juga dapat mendorong WUS beralih menggunakan MKJP serta WUS yang mendapatkan layanan KB dari fasyankes pemerintah lebih mendorong untuk beralih menggunakan MKJP. Untuk membantu meningkatkan peralihan metode kontrasepsi ke MKJP, tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan KB wajib konseling dan memberikan informed choice serta lebih memperkenalkan alat kontrasepsi MKJP sehingga dapat mengambil keputusan penggunaan kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan.
Kata Kunci: Penggantian Metode Kontrasepsi, MKJP, Informed Choice, Provider

Decision making to choose contraception methods occurs not only in the early stages, but also in the switching stage. Switching contraception to Long Acting and Permanent Method (LAPM) that proven effective and efficient method prevent unplanned pregnancy. However, the switching of contraceptive methods was still dominated from non LAPM to non LAPM. Lack of communication, information, education of LAPM by provider might couse the low use of LAPM. This study aims to identify the role of informed choice and family planning services to promote contraception switch from non LAPM to LAPM.. This study uses a quantitative approach with cross sectional design. The sample of this study are women of childbearing age who had been used non LAPM and selected with multistage cluster with total of 3312 participants. Descriptive analyses were conducted to see the proportions of variables, while chi-square tests and logistic regression with a 95% confidence interval were conducted to see the relationship between independent and dependent variable. Out of 3312 respondents, 594 women (17.9%) are switching their contraception method from non LAPM to LAPMs. Most of contraception switch were from non LAPMs to non LAPMs. Sources of family planning information, informed choice and type of health services were significantly related to the replacement of contraceptive methods after controlled with confounding variables. Women whose obtain family planning information from two provider, receive informed choice, and gain family planning service from government health care have higher odds to switch contraception method to LAPMs. To improve the switching of contraceptive methods to LAPMs, provider who perform family planning services are obliged to perform counseling and provide informed choice and introduce more LAPMs, so the client can decide the contraception method as needed.
Key words: Switching Contraceptive Methods, LAPM, Informod Choice, Provider
Read More
T-5464
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galih Prima Arumsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Bambang Wispriyono, Evi Martha, Edward Napitupulu, Mustofa
Abstrak: Tesis ini membahas analisis perilaku pedagang dan produsen dalam penggunaan formalin dalam mie basah dan tahu Propinsi DKI Jakarta Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, desain studi deskriptif, pengumpulan data melalui studi literatur, pengujian Rapid Test Kit, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan, sikap, persepsi tentang formalin; sarana prasarana, metode produksi, ketersediaan pengawet; sanksi, penyuluhan, dukungan sosial, faktor pendapatan, dan strategi komunikasi merupakan faktor yang berperan pada perilaku penggunaan formalin dalam tahu dan mie basah. Penyuluhan dan pembinaan masyarakat, pedagang, produsen masih terbatas. Pengawasan sarana distribusi formalin belum optimal. Peneliti menyarankan pada sejumlah pihak untuk melakukan riset bahan pengawet yang aman, intensifikasi pembinaan pedagang dan produsen serta pemberdayaan konsumen. Kata kunci : perilaku; pedagang; produsen; formalin; pasar
Read More
T-4492
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annesya Yusvita Iskandar; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Yusef Gunawan
Abstrak:
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi konsumsi minuman manis ≥1 kali per hari tertinggi terdapat pada anak usia 5–9 tahun (53%), usia 3–4 tahun (51,4%), dan 10–14 tahun (50,7%). Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua terhadap konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua dalam membatasi konsumsi MBDK pada anak sekolah dasar di SDN X Kabupaten Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi tertutup pada informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan dasar mengenai definisi, jenis, dan dampak MBDK, tetapi pengetahuan mereka terkait label nilai gizi masih kurang. Orang tua juga memiliki sikap tidak mendukung terhadap konsumsi MBDK. Terdapat ragam praktik pencegahan yang dilakukan oleh orang tua seperti nasihat, peringatan tegas, substitusi minuman sehat, hingga pembatasan uang jajan pada anak. Di sisi lain, seluruh informan tidak menerima informasi mengenai MBDK dari sekolah. Oleh karena itu disarankan kepada sekolah untuk menyelenggarakan edukasi rutin kepada orang tua siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka sebagai salah satu upaya pencegahan konsumsi MBDK berlebih pada siswa sekolah dasar.

The 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023) shows that daily consumption of sweetened beverages (≥1 time/day) is highest among children aged 5–9 years (53%), followed by those aged 3–4 years (51.4%) and 10–14 years (50.7%). Previous studies have indicated a link between parental knowledge, attitudes, and practices and children's consumption of sugar-sweetened packaged beverages. This qualitative study aimed to explore parental knowledge, attitudes, and practices in limiting SSBs consumption among elementary students at SDN X Bogor Regency. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation with purposively selected informants. Findings revealed that parents had basic knowledge about the definition, types, and health impacts of SSBs, but limited understanding of nutrition labels. Most parents showed unsupportive attitudes toward SSBs consumption. Preventive practices included giving advice, firm warnings, providing healthier alternatives, and limiting pocket money. However, none of the parents had received SSB-related information from the school. This study suggests that school should implement regular educational programs for parents to improve their knowledge and attitudes, as a preventive strategy against excessive SSB consumption among elementary school children.
Read More
S-11896
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Shinta Rengganis; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Evi Martha, Irwan Panca Wariaseno, Heni Rudiyanti
Abstrak: Temuan penyakit demam tifoid tertinggi di Jawa Tengah berasal dari tiga kabupaten,salah satunya adalah Kabupaten Cilacap. Peningkatan kasus demam tifoid terjadi selamatiga tahun berturut-turut di Puskesmas Kroya I. Salah satu perilaku penyebab penularanpenyakit demam tifoid adalah perilaku cuci tangan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan di Kecamatan Kroya.Penelitian dilakukan di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, menggunakan desain crosssectional dengan jumlah sampel sebanyak 136 anak usia 9-14 tahun. Data dikumpulkanmelalui wawancara dengan pedoman kuesioner yang telah diuji validitas danreliabilitasnya serta dianalisis menggunakan regresi logistik ganda melalui aplikasistastitik. Hasil penelitian menunjukkan 73,5% responden berperilaku cuci tangan kurangbenar. Hasil analisis menunjukkan pengetahuan, sikap, dan dukungan teman berhubungansecara signifikan dengan perilaku cuci tangan. Pengetahuan merupakan variabel dominandalam perilaku cuci tangan pada anak usia 9-14 tahun, responden dengan pengetahuantinggi berpeluang untuk berperilaku cuci tangan baik 11,86 kali dibandingkan respondendengan pengetahuan rendah. Puskesmas diharapkan memperkaya materi penyuluhankepada anak dan orangtua serta lebih memaksimalkan program dokter kecil sebagai peereducator anak.Kata Kunci: Perilaku Cuci Tangan, Anak, Pengetahuan.
Read More
T-5338
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive