Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35214 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ira Aminah Padang; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Telly Purnama Agus, Nikson Sitorus
Abstrak: Pendahuluan : Indonesia menduduki posisi ketiga dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak. Rata-rata 90% dari yang terinfeksi M.tuberkulosis menimbulkan kekebalan karena imunitas yang baik akan tetapi 10% berkembang menjadi tuberkulosis aktif dalam hitungan beberapa bulan atau tahun setelah terjadi infeksi (WHO, 2018). Diabetes menyerang 382 juta pada tahun 2013 dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 592 juta pada tahun 2035. Ketika diabetes menyebar, itu akan menyebabkan semakin banyak penduduk yang terinfeksi tuberkulosis (Lönnroth, 2014). Prevalensi diabetes mellitus meningkat berdasarkan umur terutama pada populasi di atas 40 tahun yang dikarenakan perkembangan intoleransi glukosa. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui besar risiko diabetes mellitus terhadap kejadian tuberkulosis paru pada penduduk 40-65 tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor contributory (potential confounder) yang juga berhubungan terhadap kejadian tuberkulosis maupun diabetes mellitus.
Metode : Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sebanyak 26.301 Penduduk 40-65 tahun menjadi sampel pada penelitian ini. Data diperoleh dari Mandat Litbangkes RI dan dianalisis menggunakan uji Regresi Logistik.
Hasil : Risiko TB Paru 4,8 kali lebih besar pada penduduk 40-65 tahun yang memiliki riwayat diabetes mellitus dibandingkan dengan tidak memiliki riwyat diabetes mellitus (POR=4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Kesimpulan : Kolaborasi antar layanan termasuk didalamnya skrining (Diabetes Mellitus dan TB Paru) diperlukan untuk mengurangi prevalensi dari kedua penyakit dengan didukung penyusunan peraturan/pedoman standard antar layanan di FKTP serta pertimbangan pemberian profilaksis PP INH pada penderita diabetes mellitus perlu dipertimbangkan

Introduction : Indonesia is the third rank of the highest number cases of tuberculosis. On average 90% of those infected with M and only 10% develop active tuberculosis after infection (WHO, 2018). Diabetes attacked 382 million in 2013 and will be predicted increase to 592 million by 2035. When diabetes spreads, it will cause more people infected tuberculosis (Lönnroth, 2014). The prevalence of diabetes mellitus increases with age, especially in populations over 40 years due to the development of glucose intolerance. Therefore, it is necessary to do research to determine the risk of diabetes mellitus against pulmonary tuberculosis in the population of 40-65 years by considering the contributory factors (potential confounder) which are also related to the prevalence of tuberculosis and diabetes mellitus.
Method: This study used cross-sectional design. Sample were 26,301 respondents of 40- 65 years. Data was obtained from the Indonesian Litbangkes and analyzed using the Logistic Regression.
Result : The risk of pulmonary TB was 4,8 times greater in the population of 40-65 years who had a history of diabetes mellitus compared to not having a diabetes mellitus (POR = 4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Conclusion : Collaboration both health services including screening (Diabetes Mellitus and Pulmonary TB) is needed to reduce the prevalence of both diseases and profilaxis program of PP INH need to be considered
Read More
T-5472
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Nafisah Zahra; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Telly Purnamasari Agus
Abstrak: Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia mengalami peningkatan baik berdasarkan diagnosis dokter ataupun pemeriksaan kadar glukosa darah. Selain itu, DM menyumbang tingkat kematian yang tinggi, morbiditas di semua kelompok umur, serta memberikan pembebanan pada biaya kesehatan. Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang menjadi faktor risiko potensial DM mengalami peningkatan jumlah penderita, penyebab morbiditas orang dewasa, peningkatan angka kematian serta tingginya beban kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asma dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 23.119 sampel yang sesuai dengan kriteria studi. Proporsi kejadian DM tipe 2 sebesar 14,8% dan proporsi kejadian asma sebesar 3,1%. Proporsi DM tipe 2 lebih besar pada penderita asma (16,7%) dibanding dengan bukan penderita asma (14,7%). Jenis kelamin, perilaku merokok, konsumsi alkohol, dan kadar trigliserida memiliki efek modifikasi dengan asma terhadap hubungannya dengan DM tipe 2. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asma tetap tidak berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 setelah dikontrol semua variabel kovariat (PR=1,138; 95% CI: 0,94-1,36; p=0,162). Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk studi mendatang dalam menganalisis hubungan kedua penyakit ini lebih lanjut
Read More
S-10899
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A.H. Mahpudin; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko, Nasrin Kodim, Felly Philipus Senewe, Yuana Wiryawan
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia. WHO melaporkan, di seluruh dunia setiap tahunnya ditemukan tidak kurang dari 8 juta kasus baru. Indonesia diantaranya merupakan negara penyumbang kasus TBC terbesar ketiga setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah kasus TBC di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 627.047 penderita, 281.946 diantaranya termasuk kategori TBC paru BTA positif. TBC paru BTA positif adalah jenis TBC yang sangat menular sehingga apabila tidak dilakukan pengobatan yang adequat dapat menularkan kepada 10-15 penderita baru dalam setahun. Risiko terjadinya penularan akan lebih tinggi pada orang yang dekat dengan sumber penular Kondisi lingkungan, status sosial ekonomi, gaya hidup, genetik dan adanya penyakit lain seperti diabetes, campak dan HIV merupakan faktor risiko yang selama ini diyakini berhubungan dengan kejadian tuberkulosis. Namun penelitian tentang faktor risiko tersebut di Indonesia masih jarang dilakukan. Ketersediaan data sekunder dari Survei Prevalensi TBC Nasional dan Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2004 (Susenas) yang terintegrasi, menarik minat penulis untuk memanfaatkan data ini untuk menganalisis beberapa faktor risiko TBC paru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kondisi lingkungan rumah, faktor sosial ekonomi dan faktor respon biologis terhadap kejadian TBC paru BTA positif pada penduduk dewasa di Indonesia. Penelitian ini memakai rancangan studi kasus kontrol tidak berpadanan, dengan menggunakan perbandingan kasus kontrol 1:4. Sampel penelitian adalah penduduk berumur 15 tahun keatas yang menjadi sampel Susenas 2004 dan dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada Survei prevalensi TBC 2004. Jumlah sampel terpilih sebanyak 380 orang yang terdiri dari 76 kasus dan 304 kontrol. Penduduk yang berdasarkan pemeriksaan sputumnya menunjukan hasil BTA positif ditetapkan sebagai kasus. Sedangkan yang menjadi kontrol adalah penduduk yang sputumnya menunjukkan hasil BTA negatif dan berasal dari wilayah kecamatan yang sama dengan kasus. Kontrol dipilih secara acak. Untuk menguji hipotesis digunakan uji Kai Kuadrat dan untuk melihat derajat hubungan menggunakan nilai Odds Rasio dengan CI 95%. Berdasarkan basil penelitian ditemukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC Pam BTA positif adalah keberadaan sumber kontak serumah OR 3,46 (1,316;9,091) kondisi rumah yang berlantai tanah OR 2,2 (1,135;4,269) dan pendapatan perkapita OR 2,145 (1,249;3,683). Berdasarkan temuan tersebut penulis menyarankan kepada pembuat kebijakan agar melaksanakan program khusus terhadap masyarakat golongan ekonomi rendah, terutama dalam hal program upaya penemuan penderita sedini mungkin, memberikan pengobatan secara cepat guna memutus rantai penularan, melaksanakan program active case finding dan untuk jangka panjang perlu dijalin kerjasama dengan lintas sektor terkait untuk melaksanakan program rumah sehat bagi kalangan masyarakat yang mempunyai status sosial ekonomi rendah.


Tuberculosis (TBC) is still become the word health problem. WHO reported that every year in the word has been founded not less than 8 millions of new cases. Indonesia is the third biggest countries which contribute TB cases after India and China. It is estimated the number of TB cases in Indonesia in the year 2003 was 627.047 infected, 282.946 among it was the category of pulmonary tuberculosis with smear positive. Pulmonary tuberculosis with smear positive is a kind of TB which is very infectious, so it should have adequate treatment, unless it will spread to 10-15 new patients within a year. The people who are close to the source of disease have the high risk to be infected. The environment condition, social economy status, life style, genetic and other disease such as diabetes, measles and HIV are believed has the relation with TB. But research about those risk factors in Indonesia is rarely done. The interest of the writer to analyze same risk factor of pulmonary TB is based on integrated of availability of secondary data from National TB Prevalence Survey (SPTBC) and National Social Economy Survey (Susenas) year 2004. The purpose of this research is to know the relation between the house environment condition, social economy factor and biologic response toward pulmonary TB with smear positive cases for adult in Indonesia. The research is using unmatched case control study, with comparison of 1 : 4 case and control. The sample of this research is the people of 15 years old and above, which was the sample of Susenas 2004 and was examined by sputum smear microscopy in SPTBC 2004 Survey. The number of chosen sample is about 380 person, consisting of 76 cases and 304 controls. The people whose sputum smear positive, decided as a case, but the people from the sputum smear negative decided as control. Control was chosen randomly. To test these hypotheses, chi square is used and to see the relation degrees of Odds Ratio with Cl 95% value is used. The research found that the factors which association with pulmonary TB smear positive is the availability of contact source in one house OR 3, 46 (1,316 ; 9,091), the condition of the house with soil floor OR 2.2 (1,135 ; 4,269) and private income OR 2,145 (1,249 ; 3,683). According to those finding, the writer advise to the policy maker to take special program for the people with low income, especially the program of finding the infected person as soon as possible to heal them with proper treatment. to cut the cycles of infections, to make program of active case finding program and for long term, there should be cooperation between other sector related to activate healthy house program for the people with low income.

Read More
T-2482
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musfardi Rustam; Pembimbing: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo; Erlina Burhan; Penguji: Sudijanto Kamso, Meutia Farida Hatta Swasono, Evi Martha, Tri Yunis Miko, Soewarta Kosen, Hariadi Wibisono
Abstrak:
Peningkatan insidensi kasus Tuberkulosis Resistensi Obat (TB-RO) merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor risiko timbulnya kasus TB-RO adalah tingginya prevalensi DM tipe 2. Prevalensi DM tipe 2 pada pasien TB-RO sangat tinggi yakni berkisar antara 18,8% sampai 23,3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus tipe 2 dengan kejadian TB-RO pada Masyarakat Melayu di Provinsi Riau Tahun 2014-2018. Desain penelitian kuantitatif adalah kasus kontrol pada 251 kasus (TB- RO) dan 502 kontrol (Tuberkulosis Sensitif Obat/TB-SO). Data kuantitatif diperoleh dari data sekunder TB-RO yaitu form 01.TB-RO, Form 03.TB-RO, rekam medis dan e-TB manager. Sedangkan data sekunder TB-SO diperoleh dari form.01 TB-SO, Form.03 TB-SO, rekam medis dan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT). Variabel independen adalah DM Tipe 2, variabel kovariat adalah usia, jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaan, kategori tempat tinggal, status pernikahan, status HIV dan riwayat pengobatan TB sebelumnya. Dalam mendukung penelitian kuantitatif, maka dilakukan penelitian kualitatif pendekatan sejarah hidup (Life History) dengan metode diskusi kelompok kecil (DKK) dan wawancara mendalam (WM). Data kuantitatif dianalisis dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa pada orang yang DM tipe 2 memiliki risiko 2,27 kali (95% CI: 1,58-3,27) untuk mengalami kejadian TB-RO jika dibandingkan dengan pasien yang tidak DM tipe 2 setelah dikontrol variabel pekerjaan, tempat tinggal, status pernikahan dan riwayat pengobatan TB sebelumnya. Hasil penelitian kualitatif untuk memperoleh riwayat kejadian penyakit DM tipe 2 terjadi lebih dahulu dari pada kejadian TB-RO serta melihat faktor resiko sosial budaya yang berpengaruh terhadap terjadinya TB-RO pada masyarakat Melayu di Provinsi Riau. Faktor risiko sosial budaya yang memungkinkan berhubungan dengan TB-RO adalah kebiasaan minum manis, kepatuhan menelan obat TB-RO, Kepatuhan minum obat DM dan masyarakat Melayu Daratan

Increased incidence of drug-resistant tuberculosis (DRTB) is a major public health problem in Indonesia. One of risk factors for the emergence of DRTB case is a high prevalence of type-2 diabetes mellitus (DM). The prevalence of type-2 DM in patients with DRTB is very high, ranging from 18.8% to 23.3%. This study aimed to determine relationship between type-2 DM and the incidence of DRTB in Malay community, Riau Province, in 2014-2018. The quantitative study design was case control in 251 cases (DRTB) and 502 controls (drug-sensitive tuberculosis / DSTB). Quantitative data were obtained from DRTB secondary data, namely Form 01.DRTB, Form 03.DRTB, medical records and electronic TB manager (e-TB manager); while, DSTB secondary data were obtained from DSTB Form.01, DSTB Form.03, medical records and Integrated Tuberculosis Information System. The independent variable was type-2 DM, and the covariate variables were age, sex, education, occupation, residence category, marital status, HIV status and previous TB treatment record. In supporting the quantitative study, qualitative study was conducted with life history approach using a small group discussion method and in-depth interview. Quantitative data were analysed with logistic regression. Quantitative study results showed that peoples with type-2 DM had a 2.27 times risk (95% CI: 1.58-3.27) to experience the incidence of DRTB if compared to peoples without type-2 DM after controlling for occupation, residence, marital status and previous TB treatment record. The results of qualitative study were to obtain a record of the incidence of type-2 DM that occurred earlier than the incidence of DRTB and to examine socio-cultural risk factors affecting the occurrence of DRTB in the Malay community, Riau Province. Possible socio-cultural risk factors associated with DRTB were habits of drinking sweet drinks, adherence to taking DRTB medicine, adherence to taking DM medicine, and the community of Mainland Malay
Read More
D-414
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kalsum Supardi; Pembimbing: Mondastri Korip Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko, Suhardini. Diah Wati Soetojo
Abstrak: Kolaborasi jangka panjang (Subdit TB dengan Dinas PUPNR) mengenai kebijakan dan pemberian (IMB) diperlukan untuk mengurangi pembangunan tanpa didahului studi kelayakan berwawasan lingkungan rumah sehat seperti penerapan (AMDAL), rancangan Plan Of Action/framework dan Kolaborasi layanan di tingkat kader TB yang selanjutnya ke tingkat FKTP semakin diperkuat, serta perlu dipertimbangkan kembali untuk melaksanakan program penemuan active case finding khususnya pada individu yang memiliki lingkungan rumah tidak sehat.
Read More
T-5576
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risa Paradilla Utami; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Suhardini
Abstrak:
Latar belakang: Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis tertinggi kedua di dunia setelah India dengan perkiraan morbiditas sebanyak 969.000 dan mortalitas mencapai 144.000 orang pada tahun 2021. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosiodemografi, faktor perilaku, dan faktor lingkungan rumah terhadap kejadian tuberkulosis paru pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Hasil: Variabel yang ditemukan berhubungan dengan kejadian TB paru adalah usia (OR = 2,107, 95% CI = 1,919-2,314), jenis kelamin (OR = 1,469, 95% CI = 1,371-1,575), status kawin (OR = 1,206, 95% CI = 1,117-1,303), tingkat pendidikan (OR = 1,795, 95% CI = 1,655-1,946), riwayat merokok (OR = 1,194, 95% CI = 1,113-1,281), kebiasaan membuka jendela rumah (OR = 1,160, 95% CI = 1,080-1,246), kondisi ventilasi (OR = 1,266, 95% CI = 1,178-1,360), kondisi pencahayaan (OR = 1,330, 95% CI = 1,241-1,426), jumlah anggota rumah tangga (OR = 1,131, 95% CI = 1,044-1,221), dan daerah tempat tinggal (OR = 1,213, 95% CI = 1,130-1,301). Riwayat konsumsi minuman beralkohol ditemukan sebagai faktor protektif. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik sosiodemografi, faktor perilaku, dan faktor lingkungan rumah dengan kejadian tuberkulosis paru pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia.

Background: Indonesia is a country with the second highest tuberculosis burden in the world after India with an estimated morbidity of 969,000 and mortality reaching 144,000 people in 2021. Objective: This study aims to determine the relationship between sociodemographic characteristics, behavioral factors, and home environmental factors on incidence pulmonary tuberculosis in population aged ≥15 years in Indonesia. Methods: The method used in this study was cross-sectional. Results: The variables found to be associated with the incidence of pulmonary TB were age (OR = 2.107, 95% CI = 1.919-2.314), gender (OR = 1.469, 95% CI = 1.371-1.575), marital status (OR = 1.206, 95 % CI = 1.117-1.303), education level (OR = 1.795, 95% CI = 1.655-1.946), smoking history (OR = 1.194, 95% CI = 1.113-1.281), habit of opening windows (OR = 1.160, 95 % CI = 1.080-1.246), ventilation conditions (OR = 1.266, 95% CI = 1.178-1.360), lighting conditions (OR = 1.330, 95% CI = 1.241-1.426), number of household members (OR = 1.131, 95 % CI = 1.044-1.221), and area of residence (OR = 1.213, 95% CI = 1.130-1.301). History of alcohol consumption was found to be a protective factor. Conclusion: There is a relationship between sociodemographic characteristics, behavioral factors, and home environment factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in people aged ≥15 years in Indonesia.
Read More
S-11282
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kemal Al Fajar; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Naomi, Yoan Hotnida; Fenny Rosnisa Rosalina
T-5155
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riezky Febiola; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Endang Lukitosari, Esti Widiastuti
Abstrak:
Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama masalah kesehatan dan kematian didunia. Prevalensi DM yang terus meningkat tiap tahunnya diperkirakan tahun 2045, terdapat 629 juta orang yang akan menderita diabetes (IDF, 2017). DM melemahkan system kekebelan tubuh dan menyebabkan respon pengobatan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan kejadian DM terhadap kegagalan pengobatan pada pasien TB tahun 2017-2019 di Indonesia. Metode. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi kohort retrospektif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah semua pasien TB Sensitif Obat di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2017-2019 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Cox Regression. Hasil. Sebanyak 107036 pasien TB yang diikutkan dalam analisis dari 1.251.525 pasien TB yang terdaftar pada tahun 2017-21019, terdapat 23388 (21,9%) pasien TB DM. Karakteristik pada sebagain besar pasien TB adalah berusia diantara 15-44 tahun (51,3%), laki-laki 59,8%, tinggal di kabupaten 58,8%, memiliki sputum positif pada saat pemeriksaan awal 64,8%, riwayat pengobatan baru TB 94,09%, HIV negativ (76,2%). Wilayah tempat tinggal, sputum awal pemeriksaan, riwayat pengobatan dan status HIV secara bermakna dikaitkan dengan gagal pengobatan. Pasien TBDM memiliki risiko 1,72 (95% CI; 1,51-1,95) kali untuk mengalami gagal pengobatan daripada pasien TBnonDM. Proporsi gagal pengobatan pasien TBDM disebabkan oleh interaksi DM dengan riwayat pengobatan adalah 50%. Analisis multivariat didapatkan risiko gagal pengobatan pada pasien TB DM ARR 1,83 (95% CI; 1,6-2,09) dibandingkan dengan pasien TB nonDM setelah di kontrol oleh variable jenis kelamin dan sputum. Kesimpulan. DM meningkatkan risiko kegagalan pengobatan pada pasien TB sehingga pengontrolan kadar gula darah selama pengobatan bagi pasien TBDM sangat perlu dilakukan

Tuberculosis is still a major cause of health problems and death in the worldwide. The prevalence of DM which continues to increase each year is estimated to be in 2045, there are 629 million people who will suffer from diabetes. This study aims to assess the association DM on TB treatment failure in TB patients in 2017-2019 in Indonesia. Method. This study was conducted using a retrospective cohort study design. The population and sample of this study were all drug-sensitive TB patients in Indonesia who started treatment in 2017-2019 and registered in the Integrated Tuberculosis Information System (SITT) that met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using Cox Regression. Result. A total of 107036 TB patients were included in the analysis of 1,251,525 TB patients registered in 2017- 21019, of which 23388 (21.9%) TB DM patients. The characteristics of the majority of TB patients are aged 15-44 years (51.3%), male 59.8%, live in the district 58.8%, have positive sputum at the time of initial examination 64.8%, history of treatment new TB 94.09%, HIV negative (76.2%). Region of residence, baseline sputum examination, treatment history and HIV status were significantly associated with treatment failure. TBDM patients had 1.72 (95% CI; 1.51-1.95) times the risk of experiencing treatment failure than TBnonDM patients. The proportion of treatment failure of TBDM patients caused by the interaction of DM with treatment history is 50%. Multivariate analysis showed that the risk of treatment failure in TB DM ARR patients was 1.83 (95% CI; 1.6-2.09) compared with nonDM TB patients after being controlled by gender and sputum variables. Conclusion. DM increases the risk of treatment failure in TB patients so controlling blood sugar levels during treatment for TBDM patients is very necessary

Read More
T-5908
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsi Novitasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10301
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atikah Salsabila; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen, Meilina Farikha
Abstrak:
Tuberkulosis Paru merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan insidens yang meningkat. Merokok diketahui menjadi faktor risiko signifikan dalam perkembangan TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status merokok dengan kejadian TB Paru pada laki-laki usia > 18 tahun di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis multivariat untuk mengontrol variabel kovariat seperti usia, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, status gizi, tempat tinggal, dan diabetes mellitus. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status merokok dan TB paru, individu yang merokok memiliki hubungan protektif terhadap TB dibandingkan yang tidak merokok dengan POR sebesar 0,68 (95% CI: 0,58–0,75). Konsumsi rokok 1–11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,92 (95% CI: 0,76–1,12), sedangkan konsumsi lebih dari 11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,70 (95% CI: 0,53–0,93). Penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki yang merokok selama 1–25 tahun memiliki POR sebesar 0,49 (95% CI: 0,39–0,61) dengan p-value = 0,000. Pada perokok dengan durasi lebih dari 25 tahun, hubungan tidak signifikan secara statistik (p-value = 0,593) dengan POR sebesar 1,07 (95% CI: 0,82–1,40), yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam peluang kejadian TB Paru dibandingkan yang tidak merokok. Analisis menunjukkan hubungan tidak biasa antara merokok dan TB paru, berbeda dari literatur yang umumnya melaporkan peningkatan risiko pada perokok. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti populasi, kualitas data, dan bias informasi, sehingga perlu kehati-hatian dalam interpretasi. Merokok tetap diketahui meningkatkan risiko dan memperburuk progresi TB. 

Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health concern in Indonesia, with an increasing incidence rate. Smoking is recognized as a significant risk factor in the development of pulmonary TB. This study aimed to analyze the relationship between smoking status and the incidence of pulmonary TB among males aged >18 years in Indonesia, using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis to control for covariates such as age, education, occupation, socioeconomic status, nutritional status, residence, and diabetes mellitus. The findings revealed a significant association between smoking status and pulmonary TB. Smokers exhibited a protective relationship against TB compared to non-smokers, with an Adjusted Prevalence Odds Ratio (POR) of 0.68 (95% CI: 0.58–0.75). Smoking 1–11 cigarettes per day had a POR of 0.92 (95% CI: 0.76–1.12), while smoking more than 11 cigarettes per day showed a POR of 0.70 (95% CI: 0.53–0.93). The study also found that males who had smoked for 1–25 years had a POR of 0.49 (95% CI: 0.39–0.61) with a p-value of 0.000. However, for smokers with a duration of more than 25 years, the association was not statistically significant (p-value = 0.593), with a POR of 1.07 (95% CI: 0.82–1.40), indicating no meaningful difference in the likelihood of developing pulmonary TB compared to non-smokers.The analysis revealed an unusual relationship between smoking and pulmonary TB, differing from existing literature, which generally reports an increased risk among smokers. These findings may be influenced by factors such as the study population, data quality, and information bias, warranting caution in interpretation. Despite this, smoking remains a known factor that increases the risk and worsens the progression of TB.
Read More
T-7169
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive