Ditemukan 27866 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dessy Pratiwi; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Mury Kuswari
Abstrak:
Pengukuran VO2max secara langsung merupakan pengukuran terbaik kebugaran kardiorespiratori tetapi metode ini tidak efisien, perlu keakhlian dan ruang laboratorium khusus, serta melelahkan. Pengukuran VO2max submaksimal dinilai lebih mudah, sederhana, tidak melelahkan, dan tanpa risiko. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengukuran lain yang lebih sederhana namun akurat dalam mengukur VO2max dengan Bruce Treadmill Test sebagai acuan. Dilaksanakan pada bulan April 2019 dengan responden 32 mahasiswi tingkat 1 Program Studi S1 Gizi Universitas Indonesia, penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Variabel dependen yang diukur adalah VO2maxBruce, sementara variabel independen meliputi VO2maxQCST, VO2maxRFWTKline, dan VO2maxRFWTDolgener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VO2maxQCST, VO2maxRFWTDolgener, VO2maxRFWTKline berturut-turut memiliki nilai koefisien validitas (-0,15), (0,17) dan (0,19). VO2maxQCST yang tidak valid dapat disebabkan karena ketidaksesuaian tinggi balok kayu dengan panjang tungkai orang Indonesia. Hasil lain, VO2maxRFWTDolgener memiliki selisih rata-rata dengan VO2maxBruce lebih sedikit dibandingkan dengan VO2maxRFWTKline
Read More
S-9948
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wita Nurul Aini; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Santri Fikawati, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
Validitas dan reliabilitas semiquantitative FFQ dalam mengukur asupan kalsium masih banyak menjadi perdebatan karena tidak melakukan pengukuran kuantitatif secara langsung. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui validitas dan reliabilitas pengukuran asupan kalsium menggunakan semiqauntitative FFQ dengan golden standard food weighing. Penelitian ini menggunakan disain studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2018 pada 54 Mahasiswa Gizi Universitas Indonesia yang dipilih dengan simple ramdom sampling. Validitas semiquantitative FFQ dalam mengukur kalsium dibandingkan dengan food weighing yang dilakukan selama dua hari, dan reliabilitas ditentukan dengan membandingkan asupan kalsium dua kali pengukuran menggunakan semiquantitative FFQ. Median asupan kalsium mahasiswa gizi Universits Indonesia berdasarkan semiquantitative FFQ (median±SD) adalah 537±407,5 mg/hari. Sedangkan median asupan kalsium dari dua hari food weighing adalah 569±375,6 mg/hari. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan kalsium dari kedua metode (P>0,05). koefisien korelasi asupan kalsium kedua metode sebesar r=0,42 dengan korelasi yang signifikan (P=0,001). Analisis surrogate category menunjukan bahwa semiquantitative FFQ dapat membedakan asupan kalsium pada berbagai tingkat kuartil asupan (ANOVA, P80% mulai dari cutoff asupan 800mg/hari. Namun spesifisitas dan negative predictive value tetap <80% dari keempat cutoff yang digunakan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan kalsium semiquantitative FFQ pada dua kali pengukuran P(<0,05). Namun korelasi antar dua pengukuran cukup tinggi, yaitu r=0,74 dengan korelasi yang signifikan (P<0,05). Semiquantitative FFQ valid dan reliabel dalam mengukur asupan kalsium mahasiswa gizi Universitas Indonesia dengan karakteristik perempuan, usia dewasa muda dan ekonomi yang beragam. Metode ini baik untuk menemukan individu dengan asupan yang kurang untuk mendapatkan intervensi maupun mengevaluasi program intervensi.
Kata Kunci : asupan kalsium, food weighing, reliabilitas, semiquantitative FFQ, validitas.
Read More
Kata Kunci : asupan kalsium, food weighing, reliabilitas, semiquantitative FFQ, validitas.
S-9830
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Atika Fajria; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Dyah Santi Puspitasari
Abstrak:
pengukuran tekanan darah menggunakan mercury sphygmomanometer memiliki keterbatasan antara lain hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih serta harga alat yang cenderung mahal sehingga dibutuhkan pengukuran alternatif lainnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas pengukuran antropometri berupa imt, lingkar pinggang, dan rlpt terhadap tekanan darah. penelitian ini berlangsung pada bulan februari hingga juli 2017. desain yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 89 laki-laki dan 77 perempuan yang diambil menggunakan teknik systematic random sampling pada pegawai ipsk lipi jakarta. uji korelasi dan roc dilakukan untuk mengetahui pengukuran terbaik sebagai alternatif pengukuran tekanan darah. hasil penelitian menunjukkan bahwa rlpt merupakan pengukuran dengan koefisien korelasi paling tinggi pada laki-laki dan lingkar pinggang pada perempuan. pada laki-laki nilai koefisien korelasi rlpt terhadap tekanan darah yang didapatkan adalah (r=0.378) untuk tekanan sistolik dan (r=0.452) untuk tekanan diastolik dengan cut-off point 0.57, sedangkan pada perempuan koefisien korelasi lingkar pinggang terhadap tekanan darah yang didapatkan adalah (r=0.467) untuk tekanan sistolik dan (r=0.335) untuk tekanan diastolik dengan cut-off point 86.6 cm. berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa rlpt pada laki-laki dan lingkar pinggang pada perempuan merupakan pengukuran alternatif terbaik untuk mendeteksi hipertensi pada dewasa. namun demikian, masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat hasil validasi pengukuran antropometri terhadap tekanan darah dengan menggunakan ukuran antropometri lainnya, dan pada kategori usia yang berbeda.
kata kunci: hipertensi, tekanan darah, imt, lingkar pinggang, rlpt, roc, sensitivitas, spesifisitas, cut-off point.
Read More
kata kunci: hipertensi, tekanan darah, imt, lingkar pinggang, rlpt, roc, sensitivitas, spesifisitas, cut-off point.
S-9484
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diah Ayu Asmarani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Ida Ruslita Amir
Abstrak:
Pengukuran persen lemak tubuh yang akurat seperti Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA), hydrostatic weighing, Magnetic Resonance Imaging (MRI), ultrasound, dan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) mahal dan sulit digunakan oleh masyarakat, sehingga dibutuhkan pengukuran yang lebih sederhana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengukuran antropometri yang akurat untuk menentukan gizi lebih dengan menggunakan golden standard BIA. Penelitian ini merupakan studi validasi yang dilakukan pada anak kelas 4 dan 5 (9-11 tahun) SDIT Nurul Fikri Depok dengan jumlah sampel 115 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IMT/U memiliki koefisien korelasi paling tinggi (r=0,934) dibandingkan dengan pengukuran lainnya. Selain itu, IMT/U juga memiliki validitas paling baik (AUC 0,849; Se 82.69%; Sp 69.84%; NPP 69.35%; NPN 83.02%; LR+ 2.7; LR- 0.2) dengan cut off +0,5 SD.
Kata kunci : Antropometri, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), Gizi lebih, IMT/U, Persen lemak tubuh n
Accurate measurement of body fat percentage as Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA), hydrostatic weighing, Magnetic Resonance Imaging (MRI), ultrasound, and Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) is expensive and difficult to used by society. Anthropometric measurement is more simple and easy to use for evaluation of nutritional status. This study aims to obtaine an accurate anthropometric measurement to determine overnutrition with BIA as a golden standard. This study is a validation study conducted on elementary school children grades 4 and 5 (9-11 years old) in Elementary School Nurul Fikri Depok. The results showed that the BMI for age has the highest correlation coefficient (r=0.934) compared with other measurements. In addition, BMI for age also has the best validity (AUC 0.849; Se 82.69%; Sp 69.84%; 69.35% PPV; NPV 83.02%; LR + 2.7; LR- 0.2) with a cut-off +0.5 SD.
Keywords: Anthropometry, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), BMI for age, overnutrition, percentage body fat
Read More
Kata kunci : Antropometri, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), Gizi lebih, IMT/U, Persen lemak tubuh n
Accurate measurement of body fat percentage as Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA), hydrostatic weighing, Magnetic Resonance Imaging (MRI), ultrasound, and Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) is expensive and difficult to used by society. Anthropometric measurement is more simple and easy to use for evaluation of nutritional status. This study aims to obtaine an accurate anthropometric measurement to determine overnutrition with BIA as a golden standard. This study is a validation study conducted on elementary school children grades 4 and 5 (9-11 years old) in Elementary School Nurul Fikri Depok. The results showed that the BMI for age has the highest correlation coefficient (r=0.934) compared with other measurements. In addition, BMI for age also has the best validity (AUC 0.849; Se 82.69%; Sp 69.84%; 69.35% PPV; NPV 83.02%; LR + 2.7; LR- 0.2) with a cut-off +0.5 SD.
Keywords: Anthropometry, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), BMI for age, overnutrition, percentage body fat
S-9151
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hannah Silvia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, ingrid S. Surono
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan konsumsi pangan probiotik pada mahasiswi Program Studi Gizi FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2011. Penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional danpengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel jenuh pada mahasiswiProgram Studi Gizi seluruh angkatan. Hasil penelitian menunjukkan konsumsiterakhir pangan probiotik pada > 4 minggu lalu sebesar 37,4%, disusul olehresponden yang mengonsumsi pangan probiotik pada < 2 minggu lalu yakni34,6%, konsumsi 2-4 minggu lalu sebesar 27,9%. Pihak yang menganjurkankonsumsi adalah inisiatif sendiri yakni 86,3%, sebagian besar mengakumerasakan manfaat dari konsumsi probiotik yakni 56,9%, tidak melihatsaran/petunjuk pemakaian produk yakni sebesar 72,1%, dan respondenmengkonsumsi dua merek produk pangan probiotik sebesar 50,3%. Rata-rata skorpengetahuan responden mengenai probiotik adalah 38,84 poin dari skor maksimal80 poin. Sebanyak 44,7% memiliki uang saku Rp.0-Rp 500.000, memiliki skoraktivitas fisik 0,7184, tidak memiliki riwayat konstipasi dalam satu bulan terakhirsebesar 83,1%, dan memiliki rata-rata frekuensi keterpaparan media promosimengenai probiotik sebanyak 29,15 kali dalam satu bulan.Hubungan yang bermakna hanya ditemui pada variabel aktivitas fisik(p=0,016), sedangkan variabel lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikanyakni hubungan konsumsi pangan probiotik sebagai variabel dependent denganpengetahuan (p=0,173), besar uang saku (p=0,695), riwayat konstipasi dalam satubulan terakhir (p=0,915), dan media promosi probiotik (p=0,833) sebagai variabelindependen. Dibutuhkan penelitian lanjutan pada kelompok usia yang berbedadengan penambahan variabel penelitian seperti kebiasaan makan.Kata kunci: pangan probiotik
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
Read More
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
S-7664
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gadis Rizky Zakiyah; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Mury Kuswari
Abstrak:
Alat ukur persen lemak tubuh yang akurat dinilai mahal dan memiliki rosedur yang sulit, sehingga dibutuhkan alternatif lain untuk menilai persen Lemak tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengukuran Antropometri yang paling akurat dalam mendeteksi kasus overweight dengan Menggunakan bia sebagai golden standard. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-mei 2017 pada remaja di sma al-azhar 3 jakarta usia 14-17 tahun dengan Jumlah sampel sebesar 107 laki-laki dan 71 perempuan. Desain studi yang Digunakan adalah cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan imt/u memiliki Nilai koefisien korelasi paling tinggi pada kedua jenis kelamin (r=0,88). Validitas Yang paling baik dalam mendeteksi kasus overweight juga ditunjukkan oleh Pengukuran imt/u pada kedua jenis kelamin, dengan cut-off points pada laki-laki Sebesar +0,77 sd (se:86,6%; sp:85,0%; npp:89%; npn: 81%; lr+:5,77; lr-:0,16). Pada perempuan memiliki cut-off points imt/u sebesar +0,09 sd (se:93,1%; sp:95,0%; npp:95%; npn:96%; lr+:13,80; lr-:0,05).
Kata kunci: Persen lemak tubuh, bia, overweight, remaja, imt/u
Accurate instruments to measure percent body fat are expensive and haved ifficult procedures, so another alternative to measure percent body fat are Needed. This study aims to obtain the most accurate anthropometric measurement in evaluating overweight with bia as a golden standard. This study was conducted in april-may 2017 and the respondents are adolescent in senior high school student of al-azhar 3 jakarta (14-17 years old) with a total number of respondents were 107 boys and 71 girls. This study is a cross sectional design. The results showed that bmi/age had the highest coefficient correlation value in both sexes (r=0,88). In addition, bmi/age also had the best validity in detecting overweight in both sexes, with a cut-off points +0,77 sd (se:86,6%; sp:85,0%; Ppv:89%; npv: 81%; lr+:5,77; lr-:0,16) in boys and +0,09 sd (se:93,1%; Sp:95,0%; ppv:95%; npv:96%; lr+:13,80; lr-:0,05) in girls.
Keywords: Percent body fat, bia, overweight, adolescent, bmi/age
Read More
Kata kunci: Persen lemak tubuh, bia, overweight, remaja, imt/u
Accurate instruments to measure percent body fat are expensive and haved ifficult procedures, so another alternative to measure percent body fat are Needed. This study aims to obtain the most accurate anthropometric measurement in evaluating overweight with bia as a golden standard. This study was conducted in april-may 2017 and the respondents are adolescent in senior high school student of al-azhar 3 jakarta (14-17 years old) with a total number of respondents were 107 boys and 71 girls. This study is a cross sectional design. The results showed that bmi/age had the highest coefficient correlation value in both sexes (r=0,88). In addition, bmi/age also had the best validity in detecting overweight in both sexes, with a cut-off points +0,77 sd (se:86,6%; sp:85,0%; Ppv:89%; npv: 81%; lr+:5,77; lr-:0,16) in boys and +0,09 sd (se:93,1%; Sp:95,0%; ppv:95%; npv:96%; lr+:13,80; lr-:0,05) in girls.
Keywords: Percent body fat, bia, overweight, adolescent, bmi/age
S-9496
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Nurokhmah; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Anies Irawati
S-7824
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firlia Ayu Arini; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Asih Setiarini, Besral, Sandjaja, Sugeng Wiyono
T-3221
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arizta Primadiyanti; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Wahyu Kurnia, Mury Kuswari
Abstrak:
Kebugaran muskuloskeletal merupakan salah satu komponen kebugaran yang penting bagi kesehatan. Penelitian kebugaran muskuloskeletal di Indonesia masih jarang dilakukan, padahal kebugaran muskuloskeletal sangat erat kaitannya dengan pencegahan kejadian osteoporosis, sindrom metabolik, penyakit kardiovaskuler, penyakit gagal jantung, diabetes mellitus, dan obesitas yang masih menjadi masalah kesehatan. Untuk mengukur kebugaran muskuloskeletal pada remaja dilakukan dengan metode Standing Long Jump (SLJ) yang merupakan cara yang mudah, valid, reliabel, dan telah banyak dipraktekan dalam pengukuran kebugaran di dunia. Penelitian dilakukan untuk menilai kebugaran muskuloskeletal dan faktor-faktor yang berhubungan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain studi cross-sectional dengan sampel 133 orang. Rata-rata kebugaran muskuloskeletal dengan metode SLJ pada sampel penelitian sebesar 154,11 ± 37,33 cm. Pada laki-laki sebesar 184,76± 27,4 cm sedangkan pada perempuan sebesar 126,53± 19,03 cm. Rata-rata kebugaran muskuloskeletal pada siswa-siswi tergolong kategori baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik, asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat dengan kebugaran muskuloskeletal. Selain itu, terdapat hubungan negatif antara IMT/U dan persen lemak tubuh dengan kebugaran muskuloskeletal
Kata kunci : kebugaran muskuloskeletal, standing long jump, remaja
Read More
Kata kunci : kebugaran muskuloskeletal, standing long jump, remaja
S-9565
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vania Febrina; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Nazhif Gifari
Abstrak:
Kebugaran kardiorespiratori yang rendah dapat mempengaruhi terjadinya penurunan performa kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status kebugaran kardiorespiratori berdasarkan persen lemak tubuh, aktivitas fisik, status merokok, tingkat stres, asupan zat gizi makro, dan asupan zat gizi mikro pada Pamasis STHM Ditkumad tahun 2017. Desain studi yang digunakan untuk penelitian ini adalah cross sectional dengan total sampel 70 responden. Nilai VO2max yang menentukan status kebugaran kardiorespiratori diukur dengan two- mile run test. Dengan menggunakan tes tersebut didapatkan sebanyak 60% Pamasis STHM memiliki status tidak bugar. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi square didapatkan adanya perbedaan status kebugaran kardiorespiratori berdasarkan persen lemak tubuh (p-value < 0,05).
Kata kunci: Kebugaran kardiorespiratori; persen lemak tubuh; perwira mahasiswa; two-mile run test; VO2max
Low cardiorespiratory fitness related to decreased work performance. This study aims to examine the differences of cardiorespiratory fitness based on body fat percentage, physical activity, smoking status, stress level, macronutrients and micronutrients intake among military students of SHTM Ditkumad. This study used cross sectional design and participated in 70 samples. VO2max was used to determine cardiorespiratory fitness using two-mile run test. The result of this study shows that 60% military students are unfit. Chi square result is showing that cardiorespiratory fitness statistically different based on body fat percentage (p- value < 0,05).
Key words: Cardiorespiratory fitness; military student; percent body fat; two-mile run test; VO2max
Read More
Kata kunci: Kebugaran kardiorespiratori; persen lemak tubuh; perwira mahasiswa; two-mile run test; VO2max
Low cardiorespiratory fitness related to decreased work performance. This study aims to examine the differences of cardiorespiratory fitness based on body fat percentage, physical activity, smoking status, stress level, macronutrients and micronutrients intake among military students of SHTM Ditkumad. This study used cross sectional design and participated in 70 samples. VO2max was used to determine cardiorespiratory fitness using two-mile run test. The result of this study shows that 60% military students are unfit. Chi square result is showing that cardiorespiratory fitness statistically different based on body fat percentage (p- value < 0,05).
Key words: Cardiorespiratory fitness; military student; percent body fat; two-mile run test; VO2max
S-9383
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
