Ditemukan 32623 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Gea Pandhita S; Promotor: Bambang Sutrisna; Kopromotor: Samekto Wibowo, Asrti C. Adisasmita; Penguji: Tri Budi Wahyuni Rahardjo, Syahrizal Syarif, Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Nurmiati Amir, Soewarta Kosen, Rustika
Abstrak:
Indonesia mengalami lonjakan tinggi populasi penduduk lansia. Hendaya kognitif ringan (pre-demensia) dan hendaya kognitif berat (demensia) diprediksi menjadi penyakit yang umum ditemui di pelayanan kesehatan primer. Deteksi dini dan penanganan Hendaya kognitif ringan (HKR) secara tepat dan seawal mungkin dapat memperlambat hendaya kognitif menjadi lebih buruk. Penelitian ini bermaksud mengembangkan pohon keputusan algoritma klinis berdasarkan pemeriksaan neurologi dan neuropsikologi yang mudah, cepat, akurat, dan reliabel, untuk deteksi dini HKR pada lansia di pelayanan kesehatan primer. Pohon keputusan algoritma klinis yang merupakan kombinasi dari variabel gangguan subjektif daya ingat, riwayat latihan fisik, verbal semantic fluency test, dan gangguan keseimbangan motorik memiliki akurasi yang cukup baik dalam membedakan antara lansia normal dan lansia dengan HKR di pelayanan kesehatan primer (Akurasi = 89,62%). Pohon keputusan algoritma klinis tersebut juga memiliki nilai rasio yang cukup berimbang antara lamanya waktu pemeriksaan dibandingkan tingkat akurasinya (Rasio efektivitas waktu = 3,03).
Read More
D-403
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadia Nur Ghania; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Mauliate Duarta C.
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan masalah kesehatan yang menempati peringkat ketiga penyebab kematian di seluruh dunia. PPOK secara umum dapat terjadi karena adanya paparan zat/partikel secara terus menerus sehingga memicu adanya penyempitan saluran napas. Kabupaten Karawang dan Kota Bogor sebagai wilayah industri dapat memicu peningkatan kejadian PPOK. Selain itu, prevalensi perokok ≥ 35 tahun di Kabupaten Karawang sebesar 63,05% dan Kota Bogor sebesar 56,83% juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PPOK. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian PPOK pada penduduk usia ≥ 40 tahun di Kabupaten Karawang dan Kota Bogor tahun 2022. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang menggunakan data deteksi dini PPOK pada tahun 2022. Hasil: Penelitian ini memperlihatkan adanya faktor yang berhubungan dengan kejadian PPOK yaitu usia (POR 1,83; 95% CI 0,69 – 4,86; dan POR 17,6; 95% CI 3,60-85,9), riwayat asma (POR 4,84; 95% CI 1,05-22,21), derajat merokok (POR 5,8; 95% CI 2,17-15,50; dan POR 16,61; 95% CI 4,40-62,69), pekerjaan (POR 1,49; 95% CI 0,20-10,68; POR 0,10; 95% CI 0,02-0,46; POR 1,14; 95% CI 0,19-6,91; dan POR 0,03; 95% CI 0,004-0,25) serta konsumsi sayur/buah (POR 8,36; 95% CI 1,93-36,21). Kesimpulan: Angka kejadian PPOK yang diketahui sebesar 2,1% memperlihatkan adanya hubungan antara usia, riwayat asma, derajat merokok, pekerjaan, dan konsumsi sayur/buah dengan kejadian PPOK pada penduduk usia ≥ 40 tahun di Kabupaten Karawang dan Kota Bogor tahun 2022.
Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a health problem that ranks third as the cause of death worldwide. COPD can generally occur due to continuous exposure to substances/particles that trigger narrowing of the airways. Karawang Regency and Bogor City as industrial areas can trigger an increase in the incidence of COPD. In addition, the prevalence of smokers ≥ 35 years in Karawang Regency is 63.05% and in Bogor City is 56.83%, which can also increase the likelihood of COPD. Objective: This study aims to determine the factors associated with the incidence of COPD in residents aged ≥ 40 years in Karawang Regency and Bogor City in 2022. Methods: The method used in this study is a quantitative method with a cross-sectional study design that uses early detection data for COPD in 2022. Results: This study shows the factors associated with the incidence of COPD, namely age (POR 1,83; 95% CI 0,69 – 4,86; and POR 17,6; 95% CI 3,60-85,9), history of asthma (POR 4.84; 95% CI 1.05-22.21), smoking status (POR 5,8; 95% CI 2,17-15,50; dan POR 16,61; 95% CI 4,40-62,69), occupation (POR 1.49; 95% CI 0.20- 10.68; POR 0.10; 95% CI 0.02-0.46; POR 1.14; 95% CI 0.19-6.91; and POR 0.03; 95% CI 0.004- 0.25), and consumption of vegetables/fruits (POR 8,36; 95% CI 1,93-36,21). Conclusion: The incidence rate of COPD is known to be 2.1%, which shows the relationship between age, history of asthma, smoking degree, occupation, and consumption of vegetables/fruits with the incidence of COPD in residents aged ≥ 40 years in Karawang Regency and Bogor City in 2022.
S-11256
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rini Mutahar; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Denni Joko Purwanto, Ratna Djuwita; Penguji: Mardiati Nadjib, Mondastri Korib Sudaryo, Noorwati Sutandyo, Fachmi Idris, Misnaniarti
Abstrak:
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti riwayat medis dan billing pasien penderita kanker payudara saat berobat ke Rumah Sakit Darmais pada periode tahun 2011 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik, survival dan evaluasi ekonomi dengan ICER (incremental cost effectiveness ratio) .
Hasil penelitian menunjukkan Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal di RSK Dharmais yang menerima kemoterapi berbasis taksan memiliki risiko 1,516 kali lebih besar untuk mendapatkan respons klinis positif dibandingkan dengan pasien yang menerima kemoterapi berbasis antrasiklin. (RR adjusted 1,516; 95% CI: 0,601–3,826). Pasien dengan respon klinis yang negatif memiliki risiko kematian 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menunjukkan respon positif tstelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu, jenis histopatologis dan stadium ( ajusted hazard ratio 1,729;95% CI: 1,031–2,902). Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL) yang melakukan kemoterapi neadjuvan berbasis antrasiklin memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar dibandingkan berbasis taksan untuk mengalami kematian setelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu respon klinis, jenis istopatologis, stadium dan Subtipe molekular Luminal (adjusted hazard ratio 2,128 :95%CI:1,097-4,128). Nilai ICER (incremental cost effectiveness ratio) menunjukkan bahwa membutuhkan biaya sebesar Rp 3,1 juta untuk meningkatkan satu unit efektivitas (persentase jumlah pasien dengan respon klinis positif) dengan pemakaian regimen berbasis taksan dibandingkan dengan antrasiklin.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan Penilaian Teknologi Kesehatan dengan evaluasi ekonomi yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai intervensi kesehatan untuk penyakit kronis seperti kanker. Penelitian lanjutan diperlukan untuk lebih mendalami faktor-faktor perancu yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, riwayat terapi sebelumnya, dan status sosial ekonomi
Neoadjuvant chemotherapy is the standard treatment for locally advanced breast cancer (LABC). Contradictory findings exist regarding the effectiveness of two main types of neoadjuvant chemotherapy regimens, anthracycline and taxane, for treating LABC. At RSK Dharmais, anthracycline-based regimens are commonly used for LABC treatment. However, there is a lack of research on the clinical effectiveness and economic evaluation of anthracycline-based and taxane-based neoadjuvant chemotherapy regimens in patients with LABC at RSK Dharmais, Jakarta.
This study aims to assess the clinical effectiveness and economic evaluation of neoadjuvant chemotherapy for LABC at RSK Dharmais Jakarta from 2011 to 2016.
This study employed an observational analytic method with a retrospective cohort study design. Data collection was conducted by reviewing the medical records and billing data of breast cancer patients treated at RSK Dharmais during the 2011–2016 period. Logistic regression analysis, survival analysis, and economic evaluation using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) were performed.
Read More
Kemoterapi neoadjuvan, merupakan standar perawatan untuk kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL). Terdapat hasil yang kontradiktif terhadap efektivitas kedua golongan rejimen kemoterapi neoadjuvan yaitu antrasiklin dan taksan pada pengoabatan KPSLL. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RKS Dharmais menggunakan regimen berbasis antrasiklin. Namun belum ada penelitian lebih lanjut studi efektivitas klinis dan evaluasi ekonomi penggunaaan kemoterapi neoadjuvan berbasis antrasiklin dan taksan pada pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais, Jakarta.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi Pengobatan Kemoterapi Neoadjuvan pada Pengobatan Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais Jakarta 2011 – 2016.Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti riwayat medis dan billing pasien penderita kanker payudara saat berobat ke Rumah Sakit Darmais pada periode tahun 2011 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik, survival dan evaluasi ekonomi dengan ICER (incremental cost effectiveness ratio) .
Hasil penelitian menunjukkan Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal di RSK Dharmais yang menerima kemoterapi berbasis taksan memiliki risiko 1,516 kali lebih besar untuk mendapatkan respons klinis positif dibandingkan dengan pasien yang menerima kemoterapi berbasis antrasiklin. (RR adjusted 1,516; 95% CI: 0,601–3,826). Pasien dengan respon klinis yang negatif memiliki risiko kematian 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menunjukkan respon positif tstelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu, jenis histopatologis dan stadium ( ajusted hazard ratio 1,729;95% CI: 1,031–2,902). Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL) yang melakukan kemoterapi neadjuvan berbasis antrasiklin memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar dibandingkan berbasis taksan untuk mengalami kematian setelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu respon klinis, jenis istopatologis, stadium dan Subtipe molekular Luminal (adjusted hazard ratio 2,128 :95%CI:1,097-4,128). Nilai ICER (incremental cost effectiveness ratio) menunjukkan bahwa membutuhkan biaya sebesar Rp 3,1 juta untuk meningkatkan satu unit efektivitas (persentase jumlah pasien dengan respon klinis positif) dengan pemakaian regimen berbasis taksan dibandingkan dengan antrasiklin.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan Penilaian Teknologi Kesehatan dengan evaluasi ekonomi yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai intervensi kesehatan untuk penyakit kronis seperti kanker. Penelitian lanjutan diperlukan untuk lebih mendalami faktor-faktor perancu yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, riwayat terapi sebelumnya, dan status sosial ekonomi
Neoadjuvant chemotherapy is the standard treatment for locally advanced breast cancer (LABC). Contradictory findings exist regarding the effectiveness of two main types of neoadjuvant chemotherapy regimens, anthracycline and taxane, for treating LABC. At RSK Dharmais, anthracycline-based regimens are commonly used for LABC treatment. However, there is a lack of research on the clinical effectiveness and economic evaluation of anthracycline-based and taxane-based neoadjuvant chemotherapy regimens in patients with LABC at RSK Dharmais, Jakarta.
This study aims to assess the clinical effectiveness and economic evaluation of neoadjuvant chemotherapy for LABC at RSK Dharmais Jakarta from 2011 to 2016.
This study employed an observational analytic method with a retrospective cohort study design. Data collection was conducted by reviewing the medical records and billing data of breast cancer patients treated at RSK Dharmais during the 2011–2016 period. Logistic regression analysis, survival analysis, and economic evaluation using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) were performed.
The results showed that patients with LABC at RSK Dharmais who received taxane-based chemotherapy had a 1.516-fold higher likelihood of achieving a positive clinical response compared to those receiving anthracycline-based chemotherapy (RR adjusted 1.516; 95% CI: 0.601–3.826). Patients with a negative clinical response had a 1.7-fold higher risk of death compared to those with a positive response after adjusting for confounding factors, such as histopathological type and cancer stage (adjusted hazard ratio 1.729; 95% CI: 1.031–2.902). Patients undergoing anthracycline-based neoadjuvant chemotherapy had a two-fold higher risk of death compared to those on taxane-based regimens, after controlling for confounding factors including clinical response, histopathological type, stage, and Luminal molecular subtype (adjusted hazard ratio 2.128; 95% CI: 1.097–4.128). The ICER analysis showed that it costs IDR 3.1 million to achieve one additional unit of effectiveness (percentage of patients with a positive clinical response) using taxane-based regimens compared to anthracycline-based regimens.
This study provides a basis for conducting a more comprehensive Health Technology Assessment, particularly in evaluating healthcare interventions for chronic diseases like cancer. Further research is needed to explore confounding factors that may influence outcomes, such as delays in diagnosis and treatment, prior therapy history, and socioeconomic status.D-568
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadindra Ramadhina Hakim; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Maliki
Abstrak:
Read More
Gangguan kognitif menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lansia akibat bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada penduduk usia ≥ 45 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder gelombang pertama Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023. Status gangguan kognitif diukur menggunakan instrumen Six-Item Screener (SIS). Analisis hubungan antara gangguan kognitif dan faktor risiko dilakukan menggunakan uji chi-square dan perhitungan Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 3.708 responden, prevalensi gangguan kognitif sebesar 26.2%. Faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah kelompok lanjut usia ≥60 tahun (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), tingkat pendidikan rendah (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), status perkawinan tanpa pasangan hidup (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), tidak bekerja (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), pernah bekerja namun tidak lagi bekerja (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), status ADL ketergantungan (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), dan merokok (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran untuk mencegah gangguan kognitif, terutama pada kelompok lanjut usia, tingkat pendidikan rendah, dan individu dengan keterbatasan aktivitas sehari-hari.
Cognitive impairment is becoming an increasingly critical public health issue as the elderly population grows due to rising life expectancy. This study aims to identify factors associated with cognitive impairment among individuals aged 45 years and older in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the first wave of the 2023 Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS). Cognitive impairment status was measured using the Six-Item Screener (SIS). The relationship between cognitive impairment and risk factors was analyzed using the chi-square test and Prevalence Ratio (PR) calculations. The results showed that among 3,708 respondents, the prevalence of cognitive impairment was 26.2%. Factors significantly associated with cognitive impairment included being aged 60 years or older (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), having a low level of education (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), being unmarried /without a spouse (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), being unemployed (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), having previously worked but no longer working (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), and dependence in Activities of Daily Living (ADL) (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), and smoking (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). The results of this study are expected to serve as a basis for developing targeted public health interventions to prevent cognitive impairment, particularly among the elderly, those with low educational levels, and individuals with limitations in activities of daily living.
S-12422
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diraya Adani Kiasatina; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Misti, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Read More
Sebanyak 26%-50% orang dengan prediabetes berkembang menjadi diabetes melitus (DM) tipe 2 dalam waktu 5 tahun, namun kondisinya reversibel sehingga dianggap golden period untuk melakukan intervensi agar tidak berkembang menjadi DM tipe 2. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko signifikan dari prediabetes. Sebesar 81,1% penderita hipertensi memiliki tekanan darah tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status kendali hipertensi dengan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah hipertensi berdasarkan diagnosis dokter dan memiliki data yang lengkap untuk minimal dua kali pengukuran tekanan darah, glukosa darah puasa (GDP), dan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan/postprandial (G2PP). Sedangkan kriteria eksklusinya adalah diabetes berdasarkan diagnosis dokter dan pemeriksaan kadar gula darah (GDP dan G2PP) serta sedang hamil. Sampel sebanyak 1.384 responden dianalisis dalam penelitian ini. Prevalensi prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun yang hipertensi di Indonesia sebesar 67,3% dan proporsi hipertensi tidak terkendali sebesar 80,8%. Analisis menggunakan Poisson regression menunjukkan prevalence ratio (PR) = 1,16 (95% CI: 1,04−1,29) setelah mengontrol usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengobatan hipertensi, dan obesitas sentral. Sebesar 14% kasus prediabetes terjadi karena tekanan darah yang tidak terkendali dan 11,5% kasus prediabetes dapat dicegah apabila tekanan darah sepenuhnya dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi untuk mencegah prediabetes atau perkembangan prediabetes menjadi DM tipe 2.
Between 26% and 50% of people with prediabetes develop type 2 diabetes mellitus (T2DM) within 5 years, but the condition is reversible, making it a golden period for intervention to prevent progression to T2DM. Hypertension is a significant risk factor for prediabetes. As many as 81.1% of hypertensive patients have uncontrolled blood pressure. This study aims to analyze the relationship between hypertension control status and the incidence of prediabetes among individuals aged ≥18 years in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023). The inclusion criteria for this study were hypertension based on a doctor's diagnosis and having complete data for at least two blood pressure measurements, fasting blood glucose (FBG), and 2-hour postprandial blood glucose (2hPPG). Exclusion criteria included diabetes diagnosed by a doctor and blood glucose level tests (FBG and 2hPPG), as well as being pregnant. A sample of 1,384 respondents was analyzed in this study. The prevalence of prediabetes among hypertensive individuals aged ≥ 18 years in Indonesia was 67.3%, and the proportion of uncontrolled hypertension was 80.8%. Analysis using Poisson regression showed a prevalence ratio (PR) = 1.16 (95% CI: 1.04–1.29) after controlling for age, gender, education level, hypertension treatment, and central obesity. Approximately 14% of prediabetes cases occur due to uncontrolled blood pressure, and 11.5% of prediabetes cases could be prevented if blood pressure were fully controlled. Therefore, efforts to control blood pressure in hypertensive patients are necessary to prevent prediabetes or the progression of prediabetes to T2DM.
T-7453
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prihandriyo Sri Hijranti; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Yovsyah, Pukovisa Prawiroharjo, Tristiyenny Pubianturi
T-4907
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Naila Karima; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Yetty Ramli, Punto Dewo
Abstrak:
Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Mild Cognitive Impairment (MCI). MCI adalah gangguan fungsi kognitif ringan yang mengacu pada keadaan transisi penuaan normal dan demensia dan tidak mengganggu aktivitas harian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan kejadian gangguan kognitif ringan pada lansia di wilayah kerja puskesmas kecamatan Cipayung kota Depok. desain studi yang digunakan adalah cross sectional menggunakan data primer dengan instrument MoCa-Ina tervalidasi. Sampel berjumlah 272 pasien lanjut usia. Analisis data dilakukan menggunakan cox regression. Hasil analisis data diperoleh prevalensi MCI sebesar 47,1% dan lansia dengan DM sebesar 17,3%. Pada analisis multivariat didapatkan MCI berisiko 2,4 kali lebih besar pada lansia yang memiliki DM dibandingkan dengan lansia yang tidak memiliki DM setelah dikontrol variabel hipertensi dan variabel interaksi DM dengan hipertensi (PR=2,436 95%CI: 1,191-4,983). Skrining deteksi dini MCI pada lansia dengan DM merupakan intervensi awal untuk mencegah terjadinya demensia.
Kata kunci: Diabetes mellitus (DM), Mild Cognitive Impairment (MCI), Lansia
Diabetes mellitus is a risk factors of Mild Cognitive Impairment (MCI). MCI is a transition phase between healthy cognitive aging and dementia. The purpose of this study is to determaine the association between diabetes mellitus in elderly with the incidence of MCI in Cipayung Health Center, Depok city. Study design was cross sectional using primary data with validated Montreal cognitive test for Indonesia (MoCa-Ina). Total sample of 272 elderly people age more than 60 years-old. cox regression analysis were applied in the research. The result of study showed the prevalence of MCI is 47,1% and elderly with DM is 17,3%. The result of multivariate analysis showed the elderly people with diabetes mellitus probably had 2,4 risk to get MCI (PR = 2,436 95% CI: 1,191-4,983) than elderly with no diabetes after adjusted with hypertention and interaction diabetes with hypertention variable. Screaning early detection of MCI in elderly with diabetes mellitus is early intervention to prevent to dementia.
Key words: Diabetes mellitus (DM), Mild Cognitive Impairment (MCI), Elderly
Read More
Kata kunci: Diabetes mellitus (DM), Mild Cognitive Impairment (MCI), Lansia
Diabetes mellitus is a risk factors of Mild Cognitive Impairment (MCI). MCI is a transition phase between healthy cognitive aging and dementia. The purpose of this study is to determaine the association between diabetes mellitus in elderly with the incidence of MCI in Cipayung Health Center, Depok city. Study design was cross sectional using primary data with validated Montreal cognitive test for Indonesia (MoCa-Ina). Total sample of 272 elderly people age more than 60 years-old. cox regression analysis were applied in the research. The result of study showed the prevalence of MCI is 47,1% and elderly with DM is 17,3%. The result of multivariate analysis showed the elderly people with diabetes mellitus probably had 2,4 risk to get MCI (PR = 2,436 95% CI: 1,191-4,983) than elderly with no diabetes after adjusted with hypertention and interaction diabetes with hypertention variable. Screaning early detection of MCI in elderly with diabetes mellitus is early intervention to prevent to dementia.
Key words: Diabetes mellitus (DM), Mild Cognitive Impairment (MCI), Elderly
T-5091
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Megawati Adhitama Putri; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Budiarti Setiyanigsih
S-8877
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zahra Syahrani; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Menarche dini, atau menstruasi pertama pada usia sebelum 12 tahun, merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting karena memengaruhi berbagai luaran kesehatan reproduksi seperti meningkatkan risiko kanker payudara dan endometrium. Terjadi tren penurunan rata-rata usia menarche di Indonesia, dari 13,0 tahun pada Riskesdas 2013 menjadi 12,8 tahun pada Riskesdas 2018. Menyikapi tren penurunan tersebut, penelitian berskala nasional yang secara khusus menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian menarche dini di Indonesia sangat diperlukan, mengingat ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Sebanyak 17.765 remaja perempuan usia 15–19 tahun yang telah mengalami menarche dan memiliki data usia menarche yang valid. Menarche dini yang didefinisikan sebagai menarche pada usia < 12 tahun memiliki beberapa variabel independen yang memengaruhinya, yakni status gizi, wilayah tempat tinggal, gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, pajanan asap rokok. Analisis data dilakukan secara univariat, lalu bivariat menggunakan Chi-square dan dilanjutkan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan desain survei kompleks SKI 2023. Hasil: Prevalensi menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia adalah 12,2%. Status gizi lebih meningkatkan odds menarche dini (aOR = 1,72; 95% CI: 1,44 – 2,07), sebaliknya, status gizi kurang menurunkan odds menarche dini (aOR = 0,58; 95% CI: 0,38 – 0,89) dibandingkan status gizi normal. Remaja yang berada di Kepulauan Maluku memiliki odds lebih rendah mengalami menarche dini (aOR = 0,38; 95% CI: 0,24 – 0,61), sedangkan tidak ada perbedaan odds yang signifikan pada Kalimantan (aOR = 0,84; 95% CI: 0,67 – 1,07) dan Papua (aOR = 0,82; 95% CI: 0,43 – 1,53). Remaja dari kuintil terendah (aOR = 0,71; 95% CI: 0,54 – 0,92) dan kuintil menengah bawah (aOR = 0,72; 95% CI: 0,57 – 0,91) memiliki odds menarche dini lebih rendah dibandingkan kuintil menengah. Remaja dengan ibu berpendidikan tinggi memiliki nilai odds menarche dini yang lebih tinggi (aOR = 1,30; 95% CI: 1,09 – 1,55). Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa menarche dini pada remaja Indonesia usia 15–19 tahun dipengaruhi oleh gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, dan status gizi remaja, dengan status gizi sebagai faktor dengan asosiasi paling kuat. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program intervensi kesehatan remaja yang komprehensif dan berbasis bukti, menyasar pengendalian status gizi anak hingga remaja, sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja di tingkat nasional.
Background: Early Age at Menarche (AAM), defined as the first menstruation occurring before age 12, is an important public health issue because it affects various reproductive health outcomes, including an increased risk of breast and endometrial cancer. Indonesia has seen a declining trend in average menarche age, from 13.0 years in Riskesdas 2013 to 12.8 years in Riskesdas 2018. In response to this trend, a national-scale study specifically analyzing the factors associated with AAM in Indonesia is greatly needed, given the still limited availability of such research. Objective: This study aims to analyze the factors associated with AAM among adolescents aged 15–19 years in Indonesia using 2023 Indonesian Health Survey (SKI) data. Methods: This is a quantitative, analytical observational study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. A total of 17,765 female adolescents aged 15–19 years who had experienced menarche and had valid menarche age data were included. AAM, defined as menarche occurring before age 12, was examined in relation to nutritional status, area of residence, island group, wealth quintile, maternal education, maternal occupation, physical activity, sugary beverage consumption, fatty food consumption, and secondhand smoke exposure. Data were analyzed univariately, followed by bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using logistic regression, accounting for the complex survey design of SKI 2023. Results: The prevalence of Early Age at Menarche (AAM) among adolescents (15–19 years) was 12.2%. AAM odds were significantly higher in those with overweight (aOR 1.72; 95% CI 1.44–2.07) and lower in those with underweight (aOR 0.58; 95% CI 0.38–0.89) compared to normal weight. Geographically, adolescents in the Maluku Islands had lower odds of AAM (aOR 0.38; 95% CI 0.24–0.61), while no significant differences were observed in Kalimantan (aOR 0.84; 95% CI 0.67–1.07) and Papua (aOR 0.82; 95% CI 0.43–1.53). Adolescents in the lowest (aOR 0.71; 95% CI 0.54–0.92) and lower-middle (aOR 0.72; 95% CI 0.57–0.91) wealth quintiles also showed lower odds of AAM compared to the middle quintile. Finally, higher maternal education was associated with increased odds of AAM (aOR 1.30; 95% CI 1.09–1.55). Conclusion: This study shows that AAM among Indonesian adolescents aged 15–19 years is influenced by island group, wealth quintile, maternal education, and nutritional status, with nutritional status as the factor most strongly associated with AAM. These findings underscore the need for comprehensive, evidence-based adolescent health intervention programs targeting nutritional status control from childhood through adolescence, as part of promotive and preventive efforts for adolescent reproductive health at the national level.
S-12324
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahwa Elae Azzahra; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dewi Kristanti
Abstrak:
Read More
Stroke menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut riskesdas 2018 bahwa prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,09%. Provinsi Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi stroke yang melebihi angka nasional dan urutan ketujuh tertinggi dari hasil Riskesdas pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kondisi kesehatan dan perilaku terhadap kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data yang digunakan dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung sebesar 1,6%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stroke antara lain diabetes melitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hipertensi (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesitas (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), dan aktivitas fisik (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Menerapkan perilaku hidup sehat dan cek rutin kesehatan terutama yang memilki risiko seperti diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas. Kata kunci: Stroke, kondisi kesehatan, perilaku, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
Stroke is a health problem in the world including in Indonesia. According to Riskesdas 2018, the prevalence of stroke in Indonesia based on a doctor's diagnosis is 1,09%. Bangka Belitung Province is one of the provinces with a prevalence of stroke that exceeds the national rate and ranks seventh highest from the results of Riskesdas 2018. This study aims to determine the relationship between health conditions and behavioral factors with stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province. The method used in this study was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The data in this study are secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province was 1.6%. Statistical tests that have a significant relationship with stroke include diabetes mellitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hypertension (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesity (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), and physical activity (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Healthy lifestyle behaviors and regular health checks, especially for those who have risks such as diabetes mellitus, hypertension, and obesity. Keywords: Stroke, health condition, behavior, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
S-11234
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
