Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35274 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Betania Ilhami Wahida Hera Wati; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Sri Lestari
S-10084
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfahira Hernovirianti; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Galuh Budi Leksono Adhi
Abstrak: Tuberkulosis merupakan 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2013 prevalensi kejadian tuberkulosis paru di Indonesia berdasarkan terdiagnosis dokter sebesar 0,4% dan berdasarkan gejala sebesar 3,9%. Saat ini diabetes melitus diketahui sebagai faktor risiko tuberkulosis. Prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 2,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus dengan kejadian tuberkulosis paru di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Indonesia Family Life Survey dengan desain studi Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Indonesia usia ≥ 15 tahun yang memiliki data variabel penelitian lengkap. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa responden yang menderita diabetes melitus memiliki peluang 3,80 kali lebih besar untuk menderita tuberkulosis paru dibandingkan dengan responden yang tidak menderita diabetes melitus setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, status gizi, dan riwayat merokok.
Read More
S-10056
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurellia Fadia Fathullah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyah Baros
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan proporsi 90% dibandingkan diabetes melitus yang lain. Di Indonesia prevalensi DMT2 terus meningkat pada umur ≥15 tahun sebesar 2% pada tahun 2018 dan menjadi 2,2% pada tahun 2023. Berbagai faktor berperan terhadap tingginya prevalensi DMT2 Tingginya prevalensi berperan dalam tingginya biaya pelayanan DMT2. Oleh karena itu diperlukan penelitian dalam mengetahui tren dan prediksi di tahun 2025 serta melihat faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan biaya pelayanan DMT2. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020-2024. Analisis dilakukan dengan menghitung total biaya per tahun, Compound Annual Growth Rate (CAGR), serta proyeksi sederhana dengan pendekatan CAGR dan analisis hubungan menggunakan Mann-Whitney dan Uji Korelasi Spearman. Hasil: Total biaya pelayanan DMT2 di FKRTL meningkat dari Rp1,25 Triliun (2020) menjadi Rp3,12 Triliun (2024), dengan CAGR 25,69%. Jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p = 0,909; ρ = 0,007). Sementara itu, usia menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p < 0,001), namun dengan kekuatan hubungan yang sangat lemah (ρ = 0,037), wilayah regional menunjukan adanya hubungan signifikan dengan effect size lemah (p < 0,001;ε²= 0,011). Faktor diagnosis yang meliputi komorbiditas, komplikasi, dan tingkat keparahan berhubungan signifikan dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p < 0,001), dengan tingkat keparahan menunjukkan hubungan paling kuat (ρ = 0,893). Pada faktor proses pelayanan, kelas perawatan (ρ = 0,569) dan lama rawat inap (ρ = 0,830) juga menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,001). Kesimpulan: Biaya pelayanan DMT2 dipengaruhi secara signifikan oleh komorbiditas, komplikasi, tingkat keparahan, kelas perawatan, dan lama rawat inap. Tingkat keparahan dan lama rawat inap merupakan faktor dengan hubungan terkuat terhadap biaya. Kelompok kasus berat dan pasien dengan rawat inap panjang memerlukan perhatian khusus dalam pengendalian biaya melalui penguatan program pencegahan dan pemantauan kasus.

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a noncommunicable disease that accounts for 90% of all diabetes cases. In Indonesia, the prevalence of T2DM among individuals aged 15 years and older continued to rise, from 2% in 2018 to 2.2% in 2023. Various factors contribute to the high prevalence of T2DM. This high prevalence contributes to the high cost of T2DM care. Therefore, research is needed to identify trends and projections for 2025 and to examine the factors contributing to the rise in T2DM care costs. Methods: This study is a quantitative cross-sectional study using BPJS Kesehatan sample data from 2020 to 2024. The analysis was conducted by calculating the total annual costs, the Compound Annual Growth Rate (CAGR), and simple projections using the CAGR approach, along with relationship analysis using the Mann-Whitney and Spearman’s correlation tests. Results: Total costs for T2DM care at FKRTL increased from Rp1.25 trillion (2020) to Rp3.12 trillion (2024), with a CAGR of 25.69%. Gender did not show a significant association with the cost of DMT2 healthcare services (p = 0.909; ρ = 0.007). Meanwhile, age showed a statistically significant association (p < 0.001), but with a very weak strength of association (ρ = 0.037), The regional area shows a significant relationship with a weak effect size (p < 0.001; ε² = 0.011).. Diagnostic factors, including comorbidities, complications, and severity, were significantly associated with healthcare costs for T2DM (p < 0.001), with severity showing the strongest association (ρ = 0.893). Among the service process factors, care class (ρ = 0.569) and length of hospital stay (ρ = 0.830) also showed significant associations (p < 0.001). Conclusion: The costs of T2DM care are significantly influenced by comorbidities, complications, severity, care class, and length of hospital stay. Severity and length of hospital stay are the factors with the strongest association with costs. Severe cases and patients with prolonged hospital stays require special attention in cost control through the strengthening of prevention programs and case monitoring.
Read More
S-12354
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clarissa Tertia Firjatullah; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:

Prevalensi diabetes melitus mengalami tren meningkat, baik di tingkat global maupun di
Indonesia. Prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah di Indonesia meningkat dari tahun 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), hingga 2023 (11,7%). DM adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup, salah satunya adalah aktivitas fisik, yang menjadi kunci dalam pencegahan dan pengurangan beban PTM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia pada tahun 2023, dengan distratifikasi oleh variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, tempat tinggal, status pekerjaan, dan status ekonomi. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain studi potong lintang. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Berdasarkan analisis bivariat, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan DM, dengan aktivitas fisik kurang lebih berpeluang (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) untuk memiliki DM. Variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan DM dan digunakan untuk stratifikasi. Setelah distratifikasi, hubungan aktivitas fisik dengan DM tetap signifikan, tetapi nilai OR berbeda berdasarkan modifikasi efek dari variabel usia dan jenis kelamin. Penduduk usia 40 tahun ke atas (OR=1,52; 95% CI= 1,35 – 1,71) lebih berpeluang untuk memiliki DM jika kurang melakukan aktivitas fisik. Upaya intervensi pengelola program kesehatan perlu difokuskan untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan aktivitas fisik dan skrining DM yang komprehensif dengan bekerja sama dengan sektor luar kesehatan dan fokus untuk meningkatkan partisipasi aktivitas fisik pada penduduk berusia 40 tahun ke atas.


There is an upward trend of diabetes mellitus prevalency, both globally and in Indonesia.  DM prevalency based on blood glucose examination in Indonesia shows an upward trend,  from 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), up to 2023 (11,7%). DM is a noncommunicable disease  (NCD) that could be prevented by lifestyle change, which one of them is physical activity,  a key in NCD prevention and burden reduction.  This study aims to identify the  association between physical activity and DM in Indonesia’s population aged 15 years  and over in 2023, with stratification based on confounding variable age, sex, obesity  status, residential area, employment status, and economic status. This study utilizes  Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 data with cross-sectional study design.  Univariate, bivariate, and stratification analysis were conducted. Based on bivariate  analysis, physical activity is significantly associated with DM, with the less active group  having higher odds (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) for developing DM. Confounding  variables age, sex, obesity status, and employment status significantly associated with  DM and will be used in stratification. After stratification, the association between  physical activity and DM hold its significance, but the OR differs based on effect  modification by age and sex variables. Population aged 40 years and over (OR=1,52; 95%  CI= 1,35 – 1,71) higher odds to develop DM if they’re physically inactive. Interventions  effort made by health program organizer needs to be focused on designing and  implementing comprehensive physical activity and DM screening policy with partners  outside the health sectors and focusing on increasing participation in physical activity  among population aged 40 years and over. 

Read More
S-11872
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuanita Rizky Inggarputri; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Iwan Ariawan, Pujiyanto, Saudatina Aum Maujudah, Triwidhi Hastuti Puspitasari
Abstrak:
Penyakit jantung masih menjadi masalah kesehatan global di seluruh dunia termasuk Indonesia dan menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018 prevalensi penyakit jantung mencapai 1,5%. Salah satu faktor resiko utama dari penyakit jantung adalah diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan akurasi model prediksi kejadian penyakit jantung pada penderita DM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2021 dengan pendekatan berbasis machine learning dan menggunakan metode random survival forest. Hasil penelitian pada kelompok penderita DM tipe 1, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,645 dengan nilai AUC sebesar 0,8. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 64,5% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 1 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung. Sedangkan pada kelompok penderita DM tipe 2, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,631 dengan nilai AUC sebesar 0,657. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 63,1% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 2 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung.

Heart disease is still a global health problem throughout the world including Indonesia and is the highest cause of death. Based on Riskesdas 2018 data, the prevalence of heart disease reached 1,5%. One of the main risk factors for heart disease is diabetes mellitus (DM). This study aims to obtain the accuracy of the prediction model of heart disease incidence in DM patients in Indonesia. This study used BPJS Kesehatan sample data for 2015-2021 with a machine learning-based approach and using the random survival forest method. The results of the study in the group of patients with T1D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,645 with an AUC value of 0,8. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 64,5% to correctly predict T1D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events. While in the group of patients with T2D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,631 with an AUC value of 0,657. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 63,1% to correctly predict T2D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events.
Read More
T-6910
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurrahma Fitria Ramadhani; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Laily Hanifah
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas tidak membuat cukup insulin atau insulin yang dibuat tidak dapat digunakan secara efektif. Diabetes melitus sendiri dalam 20 tahun terakhir menunjukan angka kejadian yang terus meningkat. Faktor risiko diabetes seperti kelebihan berat badan (obesitas), diet yang tidak sehat, aktivitas fisik kurang yang menyumbang sekitar 80% dari peningkatan prevalensi diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan sedentari dengan diabetes melitus di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey 5 tahun 2014/2015 dengan desain potong lintang dan didapatkan 3985 responden terbobot. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI: 95%) dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Dari 3985 responden didapatkan 291 (7,8%) responden diabetes dan 583 (14,04%) responden sedentari. Hasil analisis multivariat didapatkan hubungan sedentari dengan diabetes melitus setelah dikontrol dengan variabel konfounding (OR 1,5 95%CI: 1,07-2,11). Maka disimpulkan mengurangi kebiasaan sedenter baik dilakukan guna mencegah terjadinya diabetes melitus, dan diperlukannya perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mencegah terjadinya diabetes melitus.
Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas does not make enough insulin or the insulin that is made cannot be used effectively. Diabetes mellitus itself in the last 20 years shows an increasing incidence. Diabetes risk factors such as being overweight (obesity), unhealthy diet, lack of physical activity account for about 80% of the increase in diabetes prevalence. The purpose of this study was to examine the relationship between sedentary and diabetes mellitus in Indonesia. This study uses data from the Indonesia Family Life Survey 5 in 2014/2015 with a cross-sectional design and obtained 3985 weighted respondents. Univariate statistical analysis, bivariate using chi-square (CI: 95%) and multivariate analysis using multiple logistic regression test. From 3985 respondents, 291 (7.8%) diabetic respondents and 583 (14.04%) sedentary respondents. The results of multivariate analysis showed a sedentary relationship with diabetes mellitus after controlling for confounding variables (OR 1.5 95% CI: 1.07-2.11). It is concluded that reducing sedentary habits is good to do to prevent the occurrence of diabetes mellitus, and the need for changes in lifestyle to be healthier to prevent diabetes mellitus.
Read More
S-11000
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabilla Sicillia Arya Putri; Pembimbing: Rico Kurniawan; Penguji: Popy Yuniar, Devi Mayori
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan tren peningkatan kasus yang signifikan di tingkat global. Indonesia berada di urutan ke-5 negara dengan kejadian DM tertinggi. Tingginya angka kejadian didominasi oleh DM tipe 2 yang berkaitan erat dengan gaya hidup seseorang. Penyandang disabilitas merupakan salah satu kelompok rentan karena adanya keterbatasan mobilitas, hambatan informasi, dan kesenjangan aksesibilitas layanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dengan kejadian diabetes melitus pada kelompok disabilitas di Indonesia tahun 2023. Metode: penelitian menggunakan data sekunder  dengan desain studi cross sectional. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistik berganda. Besar sampel yang didapatkan sebesar 13.451. Hasil: Prevalensi diabetes melitus pada penyandang disabilitas sebesar 3,7%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, didapatkan hubungan yang signifikan antara usia, tempat tinggal, status ekonomi, hipertensi, obesitas, jenis disabilitas, depresi, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, perilaku pemeriksaan kadar gluksoa darah berkala, dan gangguan tidur. Berdasarkan hasil analisis multivariabel, faktor dominan kejadian diabetes melitus pada penyandang disabilitas adalah status ekonomi pada kuintil IV (aOR = 3,020; 95% CI = 1,628 – 5,601)  setelah dikontrol oleh usia, tempat tinggal, hipertensi, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, dan perilaku pemeriksaan glukosa darah berkala. Kesimpulan:  Adanya posyandu integrasi layanan primer (ILP) yang disertai layanan dan fasilitas penunjang untuk disabilitas membantu pencegahan diabetes melitus pada penyandang disabilitas sehingga dapat menurunkan angka kejadian diabetes melitus pada populasi tersebut.

Background: Diabetes mellitus is noncommunicable disease with a significantly increasing trend globally. Indonesia is on fifth among countries with the highest incidence of diabetes mellitus. This high incidence is dominated by type 2 diabetes mellitus, which is linked to individual’s lifestyle.  Disability people represent a highly vulnerable group due to mobility limitations, information barriers. Objective: This study aims to determine the factors associated with the incidence of diabetes mellitus among disability people in Indonesia in 2023. Methods: This study utilized secondary data with cross-sectional design. Data analysis was performed using multiple logistic regression, yielding a total sample size of 13,451 respondents. Results: The prevalence of diabetes mellitus among people with disabilities was 3.7%. Based on the results of the bivariate analysis, significant associations were found between age, residency, economic status, hypertension, obesity, type of disability, depression, consumption of sugary foods, consumption of sugary beverages, regular blood glucose monitoring behavior, and sleep disorders. On multivariable analysis, the dominant factor was found that economic status in quintile IV was the dominant factor for diabetes mellitus incidence among disability people (aOR = 3.020; 95% CI = 1.629 – 5.601) after adjusting for age, residency, hypertension, consumption of sweet foods, consumption of sugary beverages, and regular blood glucose monitoring behavior. Conclusion: The implementation of Integrated Primary Care Health Posts (Posyandu Integrasi Layanan Primer/ILP), equipped with services and facilities that support with disabilities, could support the prevention of diabetes mellitus among disability people, thereby reducing its incidence within this population.
Read More
S-12339
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Irawan; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Ratna Djuwita, Laurentia, Muhammad NoorFarid
Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi prevalensi, faktor-faktor risiko dan model prediksi kejadian diabetes melitus tipe 2 di daerah urban Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Riset Kesehatan Dasar 2007. Kriteria diagnostik menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) menurut World Health Organization (WHO) 1999 dan American Diabetes Association (ADA) 2003. Dari 19.960 responden berusia 15 tahun keatas hanya 18.746 responden yang dianalisis. Analisis data menggunakan regresi logistik dengan desain sampel dua tahap.
 
Dari analisis data didapatkan prevalensi diabetes melitus sebesar 5,98% (95%CI 5,40% - 6,62%), prevalensi diabetes melitus tertinggi pada kelompok umur diatas 45 tahun sebesar 12,41% (95%CI 11,13% - 13,81%). Dengan mengontrol tingkat pendidikan, pekrjaan dan umur didapatkan odds ratio kegemukan sebesar 1,52 (OR = 1,52; 95%CI 1,27 - 1,82), odds ratio obesitas sebesar 2,40 (OR = 2,40; 95%CI 1,80 - 3,19) dan odds ratio obesitas sentral sebesar 1,92 (OR = 1,92; 95%CI 1,62 - 2,26). Dengan menghindari kejadian obesitas sentral dapat mencegah 22,6% (95% CI 18,2% - 26,5%) kejadian diabetes melitus tipe 2 di populasi, atau sekitar 474.922 kasus diabetes melitus dapat dicegah jika obesitas sentral diintervensi.
 

Diabetes mellitus type 2 is a serious public health problem in the world. Diabetes mellitus is also the main cause of morbidity, mortality, disability, and economic loss all over the world include development countries. The research objective is to estimate the diabetes mellitus prevalence, risk factors, and prediction model in urban areas of Indonesia. By analyzed The Indonesia Basic Health Research Survey 2007 that consist of 19,960 respondents aged above 15 years old who had Oral Glucose Tolerance Test (OGTT). Only 18,746 respondents had been analyzed. Logistic regression with two stage design sampling was used to analyze the data.
 
The result showed that diabetes mellitus prevalence was 5.98% (95%CI 5.40% - 6.62%), and the highest prevalence was 12.41% (95%CI 11.13% - 13.81%) in an above 45 year-old age group. We estimate odds ratio by adjusted education level, occupation and age. The odds ratio of overweight is 1.52 (OR = 1.52; 95%CI 1.27 - 1.82), the odds ratio of general obesity is 2.40 (OR = 2.40; 95%CI 1.80 - 3.19) and the odds ratio of central obesity is 1.92 (OR = 1.92; 95%CI 1.62 - 2.26). By prevent central obesity we could prevent 22.6% (95% CI 18.2% - 26.5%) the expected diabetes mellitus cases in the population, or above 474,922 diabetes mellitus cases could prevent.
Read More
T-3220
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Marsini; Pembimbing: Besral; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Nurhayati
Abstrak: Penyakit jantung koroner dan asma masih menjadi beban bagi kesehatan masyarakatglobal. Pada penderita asma diketahui terjadi peningkatan penanda inflamasi yangberperan dalam patogenesis terjadinya aterosklerosis hingga menimbulkan sakit jantungkoroner. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara asma dengan kejadianpenyakit jantung koroner dengan menggunakan desain studi cross sectional danmenggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2013. Sampel penelitian adalah individuberusia > 19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi yakni tidak memiliki riwayat diabetesmelitus, hipertensi, dislipidemmia dan obesitas berdasarkan hasil wawancara. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung koroner pada penderita asmaadalah 0,9% (95% CI 0,7-1,1). Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antaraasma dengan penyakit jantung koroner dan berbeda menurut kelompok umur. Penderitaasma pada kelompok umur ≤45 tahun memiliki OR sebesar 2,7 (95% CI 2,0-3,7)sedangkan pada penderita asma yang berusia >45 tahun memiliki OR sebesar 7,9 (95%CI 5,8-10,9) untuk menderita penyakit jantung koroner dibandingkan dengan bukanpenderita asma. Oleh karena itu, penderita asma diharapkan dapat meningkatkan aktivitasfisiknya seperti berolahraga secara teratur serta menerapkan pola hidup sehat dengantidak merokok dan pengaturan pola makan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakitjantung koroner.Kata kunci:Penyakit jantung koroner, Asma.
Read More
S-9856
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Lathifa Zahra; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Umi Zakiati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, terutama pada pasien dengan kondisi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan stroke pada pasien hipertensi di Indonesia tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrespektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2017-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa survival probability stroke pada pasien hipertensi secara keseluruhan adalah 90,7% (95% CI, 90,0% - 99,14%) pada tahun keenam setelah tercatat sebagai pasien hipertensi. Pasien hipertensi yang mengidap diabetes, mengidap dislipidemia, dan tidak mengidap penyakit jantung memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dan memiliki risiko terkena stroke yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengalami diabetes (0,900), mengalami dislipidemia (0,897), tidak mengalami penyakut jantung (0,905), berusia 45-65 tahun (0,896), berjenis kelamin laki-laki (0,897), memiliki status cerai (0,901), bertempat tinggal di Jawa-Bali (0,902), dan memiliki kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah (0,899) memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dibandingkan dengan kategori lainnya. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pasien hipertensi yang mengidap penyakit jantung (AHR=0,8; 95% CI 0,624-0,992) memilliki risiko yang elbih rendah untuk mengalami stroke daripada pasien hipertensi yang tidak mengidap penyakit janutng setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, dan kondisi sosial ekonomi.

Stroke is one of the leading causes of death and disability in Indonesia, particularly among patients with hypertension. This study aims to determine the stroke survival rates among hypertensive patients in Indonesia from 2017 to 2022. A retrospective cohort design was used, utilizing the BPJS Health Sample Data from 2017-2022. The study results indicate that the overall stroke survival probability among hypertensive patients is 90.7% (95% CI, 90.0% - 99.14%) in the sixth year after being recorded as hypertensive patients. Hypertensive patients who have diabetes, dyslipidemia, and no heart disease have lower cumulative survival probabilities and higher risks of stroke compared to those who do not have these conditions. Specifically, the cumulative survival probabilities were 0.900 for diabetes, 0.897 for dyslipidemia, 0.905 for those without heart disease, 0.896 for those aged 45-65 years, 0.897 for males, 0.901 for divorced individuals, 0.902 for residents of Java-Bali, and 0.899 for those with lower socioeconomic status. The multivariate analysis showed that hypertensive patients with heart disease (AHR=0.8; 95% CI 0.624-0.992) had a lower risk of stroke compared to hypertensive patients without heart disease, after controlling for age, gender, marital status, residence, and socioeconomic conditions.
Read More
S-11788
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive