Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38813 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Astari Nola Margaretha; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Ika Saptarini
S-10152
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Ayunisari; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Artha Prabawa, Mugia Bayu Raharja
S-9921
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devinita Ayu Nurcahyani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: R. Sutiawan, Milla Herdayati, Edi Priyono
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan besar risiko kehamilan tidak diinginkan untuk melahirkan berat bayi lahir rendah berdasarkan persepsi ibu di Indonesia tahun 2010 beserta faktor-faktor perancunya. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 dengan menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Berdasarkan hasil analisis multivariat ditemukan bahwa ibu yang mengalami kehamilan tidak diinginkan mempunyai odds melahirkan bayi BBLR berdasarkan persepsi ibu sebesar 1,27 kali dibandingkan dengan ibu yang mengalami kehamilan diinginkan setelah dikontrol oleh umur ibu, umur kehamilan, frekuensi periksa hamil (ANC) dan jumlah pil zat besi. Dan pada model probabilitas didapatkan risiko ibu dalam melahirkan bayi BBLR pada kelompok kehamilan tidak diinginkan lebih tinggi dibandingkan kelompok kehamilan diinginkan, masing-masing kelompok dengan asumsi umur ibu tidak berisiko (20-34 tahun), umur kehamilan cukup bulan, frekuensi ANC adekuat minimal 4 kali dan pil zat besi minimal 90 hari.


This study aims to describe and the risk of unwanted pregnancies to delivering low birth weight by mother's perceived in Indonesia and by its confounders. This study is a secondary data analytic Health Research Association (Riskesdas 2010) in 2010 by using a retrospective cohort study design. Based on the results of multivariate analysis found that women with unwanted pregnancies have odds of LBW babies by mother's perception is 1,27 times compared to women with wanted pregnancies after controlled by age, gestation's age, frequency of antenatal care (ANC) and number of iron pills. And the probability model obtained maternal risk in low birth weight babies in the group of unwanted pregnancies is higher than the wanted pregnancies with assumptions age, gestation's enough month, an adequate frequency of antenatal care (ANC) and number of iron pills minimal 90 days.

Read More
T-3718
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eska Riyanti Kariman; Pembimbing: Budi Utomo, Besral; Penguji: Sabarinah B Prasetyo, Murtiningsih, Indra Supradewi
Abstrak:

Tingkat pemakaian kontrasepsi pil di kalangan wanita PUS cukup tinggi, hal itu terlihat dari data pemakaian kontrasepsi pil hasil SDKI 2002103 sebesar 13,2 % . Tingginya prevalensi pemakaian kontrasepsi pil tersebut tidak dibarengi dengan tingginya tingkat kelangsungan pemakaian, hasil SDKI 1997 tercatat 34 % pemakai pit tidak menggunakan lagi setelah sate tahun_ Angka putus pakai (drop out) pil ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kondom. Tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil arnat dipengaruhi oleh kedisiplinan dan kepatuhan akseptor dalam memakainya. Hal tersebut dimungkinkan bila akseptor memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup yang dapat diperoleh melalui konseling yang dilakukan oleh petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konseling kontrasepsi dengan tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002103. Disain penelitian adalah crossectional dengan kajian statistik analisis survival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah 31 bulan dengan median survivalnya 37 bulan. Probabilitas kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 adalah 62 % dan probabilitas kelangsungan setelah bulan ke-60 adalah 31 %. Probabilitas kelangsungan pernakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 pads kelompok yang mendapat konseling kontrasepsi adalah 66%, sedangkan pada kelompok yang tidak mendapatkan konseling kontrasepsi 56 %. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak mendapatkan konseling adalah 1.6 kali bila bertempat tinggal dikota dan 1.5 kali bila tinggal didesa. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak konseling adalah 1.6 kali bila tidak ada efek camping dan menjadi 2 kali bila ada efek samping. Tingginya risiko putus pemakaian kontrasepsi pil di wilayah perkotaan perlu mendapatkan perhatian dari pengelola program Keluarga Berencana. Dugaan sementara hal ini dijumpai didaerah kota pinggiran atau daerah kumuh, untuk itu kegiatan konseling kontrasepsi yang lebih intensif terkait dengan akseptor di daerah tersebut hares ditingkatkan misalnya melalui kunjungan petugas yang lebih sering ke rumah diharapkan dapat menurunkan risiko putus pakai. Kegiatan konseling pada prinsipnya dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akseptor akan efek sarnping yang ditimbulkan kontrasepsi selama pemakaiannya.


Prevalence of pill contraception used among reproductive woman are high, it can seen at SDKI 2002/03 which is about 13,2 %. This height prevalence is not followed with the-continuity rate, only 34 % of women still used pill contraception within 12th month recorded in SDKI 1997. This rate as highest secondly after condom. The pill contraception continuity rate is influenced by discipline and compliance of acceptor in using it.That things is possible when acceptor have enough knowledge and information about contraception usage which they can get it from councelling by family planning officer. This study is aimed to gain information on relationship of contraception counselling with the period of time pills uses. This study uses secondary data SDKI 2002/03. Study design used is crossectional with statistical survival analysis. The result study shows that mean of pill contraception continuity rate are 31 month with median survival are 37 month. The Probabilities of pills continuity rate after 12th month are 62 percent and probabilities of pills continuity rate after 60th month are 31 percents. Probabilities of pills continuity rate after 12'h month in whom that receive counsellings are 66 percents, men while the group whom that not receive counselling only 56 percent. The risk of drop out among the pills acceptbr whom that not receive counsellings are 1,6 times if they lives at the city and 1,5 times if they lives at the village. The risk of drop out pills among acceptor whom that not receive counsellings are 1,6 times if they not have side effect and it can be 2 times if they have side effects. The height risk of drop out pills among acceptors in urban region need to get more attentions from the organizer of family planning program. Momentary, assumption whereas this matter is met in marginal town area or slum region, for that more intensive program of counselling contraception related to acceptor in the are, for example more regular follow up to the acceptors whom lives at this area and had side effect. The principle of counseling is to lessen the worried feeling of the acceptor with the side effects generated by contraception during its usage.

Read More
T-2280
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Valya Puspita Aryatri; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral; Rahmadewi
Abstrak:
Pemerintah menganjurkan pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), karena dianggap secara aktif mampu mengurangi laju pertumbuhan penduduk, serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Namun di Indonesia sering terjadi kehamilan yang tidak diinginkan pada wanita yang yang sudah tidak ingin memiliki anak lagi yang disebabkan oleh kegagalan kontrasepsi.akan tetapi penggunaan MKJP pada wanita usia subur di Indonesia masih sangat rendah yang baru mencapai 13%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan penggunaan MKJP pada akseptor KB yang tidak lagi menginginkan anak di Indonesia tahun 2017. Metode penelitian ini menggunakan desain Cross sectional atau potong lintang dengan data yang dianalisis adalah data sekunder dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Akseptor KB penelitian ini adalah wanita usia 15-49 tahun yang tidak menginginkan anak lagi, berstatus kawin, dan menggunakan kontrasepsi. Data yang didapat akan diolah secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistic. Hasil analisis Multivariat menunjukan bahwa faktor yang berhubungan dengan penggunaan MKJP adalah Usia, Jumlah anak hidup, tingkat pendidikan, status ekonomi, Wilayah tempat tinggal, pengetahuan, Tempat pelayanan KB, keterpaparan informasi KB, serta Informasi KB dari petugas kesehatan. Faktor yang paling dominan berperan dalam penggunaan MKJP adalah tempat pelayanan KB, dimana akseptor KB yang memperoleh pelayanan KB di fasilitas kesehatan pemerintah cenderung 3,8 (CI;3.318-4.490) kali lebih tinggi untuk memilih MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang mendapat fasilitas kesehatan di fasilitas kesehatan swasta

The government recommends the use of the Long-Term Contraceptive Method (LAPMs), because it is considered actively able to reduce the rate of population growth, and reduce maternal and infant mortality. However, in Indonesia, unwanted pregnancies often occur in women who don't want to have any more children due to contraceptive failure. However, the use of LAPMs in women of childbearing age in Indonesia is still very low at only 13%. The purpose of this study was to determine the determinants of the use of LAPMs on family planning acceptors who no longer wanted children in Indonesia in 2017. This research method used a cross sectional or cross-sectional design with the data analyzed were secondary data from the Indonesia Demographic Health Survey (IDHS) 2017. Family planning acceptors in this study were women aged 15-49 years who did not want any more children, were married, and used contraception. The data obtained will be processed univariate, bivariate, and multivariate using logistic regression. The results of the multivariate analysis showed that the factors related to the use of LAPMs were age, number of living children, education level, economic status, area of residence, knowledge, place of family planning services, exposure to family planning information, and family planning information from health workers. The most dominant factor that plays a role in the use of LAPMs is the place of family planning services, where family planning acceptors who receive family planning services at government health facilities tend to be 3.8 (CI; 3,318-4,490) times higher for choosing LAPMs compared to family planning acceptors who receive health facilities in private health facilities.
Read More
S-11163
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anita Meisita; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan metode yang efektif bagi responden yang ingin memiliki anak lagi dalam kurun waktu lebih dari 2 tahun atau bagi responden yang sudah tidak ingin punya anak lagi. Namun, persentase pemakaian MKJP berdasarkan SDKI 2017 masih cukup rendah jika dibandingkan dengan pemakaian kontrasepsi Non-MKJP. Hal tersebut mengindikasikan bahwa berdasarkan preferensi fertilitasnya, masih terdapat wanita yang seharusnya memakai MKJP, namun ternyata daya tarik pemakaian kontrasepsi jangka pendek masih cukup memikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh preferensi fertilitas sebagai penentu pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang pada akseptor KB modern serta mengetahui faktor yang paling berpengaruh pada setiap kelompok preferensi fertilitas. Penelitian ini memakai data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah wanita berusia 15-49 tahun yang pada saat dilakukan wawancara berstatus menikah atau hidup bersama dan memakai metode kontrasepsi modern. Hasil penelitian ini adalah akseptor KB modern yang ingin mempunyai anak lagi sebanyak 33,8%, sedangkan yang tidak ingin anak lagi ada sebanyak 62,9%. Akseptor KB modern yang memakai MKJP ada sebanyak 23,3%. Pada responden yang ingin anak lagi, potensi pemakaian MKJP terdapat pada responden dengan karakteristik tidak bekerja dan mengambil keputusannya sendiri. Sementara itu, pada responden yang tidak ingin anak lagi, potensi pemakaian MKJP terdapat pada semua responden yang masih menggunakan Non MKJP dan responden dengan karakteristik telah memiliki anak ≤ 2 dan tidak terpapar sumber informasi dari media. Kata Kunci: keluarga berencana, MKJP, menjarangkan, membatasi
Read More
S-9899
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulandara Seplianda; Pembimbing: Tris Eryando, Iwan Ariawan; Penguji: Agus Triwinarto
Abstrak: Skripsi ini membahas praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) usia 6-23 bulan di Indonesia untuk melihat pengaruh faktor sosio-demografi dan post natal dalam pemberian makan pada bayi dan anak yang sesuai dengan standar WHO. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Gambaran praktik pemberian makan, faktor sosio-demografi dan post natal didapatkan melalui pengisian kuesioner SDKI 2017 (n = 4957). Hasil penelitian menunjukkan pendidikan ibu yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu dengan pendidikan SD/SMP (43,23%). Ibu yang paling banyak memberikan praktik pemberian makan yang sesuai dengan standar WHO adalah ibu yang tidak bekerja (31,98%). Hasil penelitian menyarankan bahwa faktor sosio-demografi berpengaruh terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak; pendidikan ibu menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap praktik pemberian makan pada bayi dan anak; pendidikan ibu juga harus harus ditingkatkan baik secara formal dan nonformal untuk mendukung peningkatan praktik pemberian makan pada bayi dan anak usia 6-23 bulan.
Read More
S-10114
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andina Widyastuty; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Toha Muhaimin, Anggia Ermarini
S-4173
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayasha Naila Ismunandar; Pembimbing: Besral; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Rahmadewi
Abstrak:
Latar Belakang: Pertumbuhan penduduk tinggi dapat menghambat kesejahteraan masyarakat apabila tidak dikendalikan. Melihat laju pertumbuhan penduduk Indonesia terdapat kecenderungan untuk mengalami kenaikan namun penggunaan KB MKJP sebagai salah satu upaya pengendalian pertumbuhan penduduk secara luas masih rendah. Kelompok wanita yang tidak menggunakan KB MKJP pun pada akhirnya menjadi multipara. Metode: Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder SDKI 2017 dataset WUS dengan desain studi cross sectional. Dilakukan uji chi-square dan regresi logistik dengan interval kepercayaan 95% untuk menggambarkan kekuatan hubungan antar variabel. Hasil: Ditemukan cakupan penggunaan MKJP pada wanita multipara yang tidak ingin memiliki anak lagi di Indonesia baru mencapai 28,9% dengan hasil analisis multivariabel menemukan variabel yang berkorelasi secara statistik adalah: (a) umur 36-49 tahun [aOR: 1,36; CI: 1,20-1,55], (b) pendidikan tinggi [aOR: 2,99; CI: 1,76-5,06], (c) jumlah anak hidup >2 orang [aOR: 1,67; CI: 1,49-1,88], (d) pengambilan keputusan ber-KB bersumber dari suami/pasangan [aOR: 1,95; CI: 1,59-2,39], (e) memiliki jaminan kesehatan [aOR: 1,39; CI: 1,23-1,56], (f) pengetahuan tinggi [aOR: 1,39; CI: 1,23-1,56]. Kesimpulan: Pendidikan tinggi menjadi faktor dominan penggunaan MKJP pada wanita multipara yang tidak ingin memiliki anak lagi di Indonesia dikarenakan mereka cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi KB MKJP. Dengan demikian, diharapkan peningkatan pendidikan dapat dilakukan melalui edukasi menyeluruh dengan dibantu oleh petugas KB.

Backgrounds: In the absence of regulation, rapid population expansion can negatively impact community welfare. Indonesia's population is likely to continue growing at its current rate. In despite this, LARC is still not widely used to slow down population increase. Eventually, the women in the group who did not use LARC became multiparous. Method: This research uses secondary data sources from the 2017 IDHS WUS dataset with a cross sectional study design. To describe the strength of the association between the variables, 95% confidence intervals were used for both logistic regression and chi-square tests. Results: It was found that the usage of LARC use among multiparous women who didn’t want more child in Indonesia had only reached 28.9%, with the results of multivariable analysis finding variables that were statistically correlated were: (a) age 36-49 years [aOR: 1.36; CI: 1.20-1.55], (b) higher education [aOR: 2.99; CI: 1.76-5.06], (c) number of living children >2 [aOR: 1.67; CI: 1.49-1.88], (d) family planning decision making comes from husband/partner [aOR: 1.95; CI: 1.59-2.39], (e) have health insurance [aOR: 1.39; CI: 1.23-1.56], (f) high knowledge [aOR: 1.39; CI: 1.23-1.56]. Conclusion: Higher education is the dominant factor in using LARC among multiparous women who don’t want more child in Indonesia because they tend to have better access to LARC family planning information. Thus, it is hoped that educational improvements can be carried out through comprehensive education assisted by family planning officers.
Read More
S-11527
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Yusriyah; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Popy Yuniar, Rahmadewi
Abstrak:

Kehamilan tidak diinginkan di Indonesia belum menunjukkan perubahan yang konsisten dari 2002 hingga 2019 (BKKBN, 2019). Dominasi kehamilan tidak diinginkan terjadi pada kelompok usia berisiko tinggi (56% kasus) (BKKBN, 2012, 2017) dan cenderung lebih banyak ditemukan di perkotaan Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kehamilan tidak diinginkan yaitu penggunaan kontrasepsi modern. Penelitian ini dilakukan untuk melihat besar hubungan yang terjadi antara penggunaan kontrasepsi modern dengan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada wanita kelompok usia berisiko tinggi di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Desain studi pada penelitian ini merupakan cross sectional dengan analisis menggunakan chi square dan regresi logistik. Data yang digunakan merupakan data SDKI 2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa wanita usia risiko tinggi di wilayah perkotaan Indonesia yang tidak menggunakan kontrasepsi memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami kehamilan tidak diinginkan (OR: 0.76; 95% CI: 0.588-0.977). Sedangkan wanita usia risiko tinggi di wilayah pedesaan Indonesia yang tidak menggunakan kontrasepsi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kehamilan tidak diinginkan (OR: 1.66 95% CI: 1.035-2.648).


 

Unintended pregnancies in Indonesia have not shown consistent changes from 2002 to 2019 (BKKBN, 2019). In addition, unintended pregnancies mostly occur in the high-risk age group (56% of cases) (BKKBN, 2012, 2017). One of the factor that can influence incident of unintended pregnancy is the use of modern contraception. In Indonesia unintended pregnancies tend to be more common in urban areas. This research was conducted to see the relationship between modern contraception use and the incidence of unintended pregnancies in women in high-risk age groups in urban and rural areas of Indonesia. The study design in this research is cross sectional and data will be conducted with chi square and logistic regression. The data used in this research is the 2017 IDHS. The results show that women of high risk age in urban areas of Indonesia who do not use contraception have a lower risk of experiencing unwanted pregnancy (OR: 0.76; 95% CI: 0.588-0.977). Meanwhile, women of high risk age in rural areas of Indonesia who do not use contraception have a higher risk of experiencing unwanted pregnancy (OR: 1.66 95% CI: 1.035-2.648).

Read More
S-11660
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive