Ditemukan 31176 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Program JPKMM (Askeskin) yang dimulai awal tahun 2005 belum ada yang mengevaluasi, padahal program sebelumrrya banyak menimbulkan masalah. Semcntara itu banyak isu ncgatif terhadap peran serta rumah sakit swasta dalam hal pelayanan' masyarakat miskin. Salah satu cara untuk mengevaluasi adalah dengan meiakukan review utilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum pemanfaatan perawatan kelas Ill oleh masyarakat miskin di RSUD dan RS. Krakatau medika. Review juga untuk mengetahui komponen kegiatan pelayanan serta biaya perawatan yang timbul sehubungan dcngan perawatan masyarakat miskin di kelas lil. Komponen tersebut adalah Iama hari rawat, pemeriksaan radiologi, iaboratorium, tindakan operasi, pemberian resep. Penelitian ini bersifat deskriptif , dan didukung oleh wawancara dengan pejabat terkait di dua rumah sakit dengan tujuan untuk memperjclas dalam pembahasan.Waktu penelitian adalah bulan Februari sampai April 2006, data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer dari hasil wawancara. Populasi dan sampel adalah semua pasien rawat inap kelas I Il di kedua rumah sakit. HasiI penelitian yang didapat adalah pemanfaatan pelayanan rawat inap kelas lil di dua rumah sakit masih rendah untuk masyarakat miskin , rata -rata kurang dari 30% dibandingkan dengan total rumah sakit. Biaya perawatan pasien .IPKMM 55% dari total biaya perawatan kelaa Ill, sedangkan pasien umum 44%. Alcan tetapi jumlah pasien JPKMM 40,7% sedangkan pasien umum 58,6% dari total pasien kelas lIl.Hal ini membuktikan bahwa pclayanan RSUD Cilegon tidak efisien. Hari rawat pasien JPKMM 6 hari per pasien sedangkan untuk pasien umum 3 hari per pasien. Di RS. Krakatau Medika untuk pasien umum 5 hari per pasien, sedangkan untuk pasien miskin 7 hari pcr pasien. Biaya obat non DPI-[O dua kali lebih besar dibandingkan dengan biaya obat DPHO. Terdapat perbedaan penyakit terhanyak di kedua rumah sakit, RSUD terbanyak adalah TBC Paru sedangkan di RS. Krakatau medika adalah Demam Tifeid. Disarankan kepada rumah sakit agar mampu mengevaluasi pelaksanaan program JPKMM ini sehingga lebih efektif dan efisien, untuk PT- Askes agar lebih fleksibel dalam dalam penghitungan biaya rawat inap dan pembenahan dalam sistem infbnnasi untuk mempercepat proses klaim.
JPKMM program which started on 2005 has not been evaluated yet, eventhough it has caused a lot of problems. At the same time, there are a lot of negative responds to private hospital involvement in services to the poor. One way to evaluate it is by reviewing it?s utilization. This research is aimed to capture general picture of class Ill serivice utilization by the poor at RS. Krakatau Medika and RSUD. lt also reviews service activity and cost components of class Ill sen/iees for the poor. These components are hospital stay, radiology observation, laboratorium, surgeries and recipes. This research is descriptive and supported by interviews with related officers on two hospitals for clarification. This research is conducted on February through April 2006, and data being used are secondary and primary data from interviews. Population and sampling are from all patients staying at class III ofboth hospitals. The result of this research is that utilization of class III for the poor in both hospitals is still very low, less than 30% on average compare to all patient. Cost of the JPKMM patient service is 55% of total cost for Class lll, while for general patient is 44%. On the other hand total quantity of' .IPKMM patient is 40.7% and for general patient is 58% from all class Ill patient. These prove that RSUD Cilegon services is not efficent. Staying period for JPKMM patient is 6 day per patient and for general patient is 3 day per patient. ln RS Krakatau Medika it is 5 day per person, and for the poor it is 7 day per patient. Non-DPHO Medication cost twice as much as DPI-IO medication. There is also difference: in the most disease being treated in both hospitals. In RSUD it is Lung TBC while in RS Krakatau Media it is Typhoid fever. It is advisable that hospitals have to be able to evaluate their JPKMM programs so that it could be more effective and efhcient. lt is also advisable for P'I` Askes to be more flexible in calculating the cost of medical stay and to improve their infomration system for claim system.
SBAR is a communication technique to improve team communication andcollaboration in patient safety. This study was conducted using quantitative cross-sectional comparative .The results showed there were significant differences in theaspects of knowledge about the elements of effective communication, theimportance of basic knowledge about the other person, the open question, theimportance of being a good listener, the importance of collaboration among healthprofessionals to create good teamwork in patient safety and improvementsignificant in terms of the action using the SBAR communication method to thenurse who had been trained. Needs further evaluation on delivering the trainingand monitoring its implementation in hospitals in order to be useful for a qualityservice to patients in an effort to Patient Safety.Keywords: Communication, Collaboration, Patient Safety, Training, SBAR
Akibat kurang puas pada pelayanan dokter dan rumah sakit di dalam negeri, saat ini cukup banyak pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri. Dari survey awal diketahui bahwa pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia dan Singapura merupakan pasien yang loyal terhadap rumah sakit di kedua negara tersebut. Hal ini patut menjadi perhatian pihak rumah sakit di Indonesia. Tetapi sampai saat ini penelitian tentang kesetiaan pasien di rumah sakit masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan kesetiaan pasien Indonesia terhadap Hospital Pantai Ayer Keroh Melaka karena Melaka merupakan salah satu kota di Malaysia yang cukup banyak menerima pasien Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu memahami alasan pasien dan faktor penentu kesetiaan pasien sehingga rumah sakit di Indonesia dapat memperbaiki pelayanan untuk mengurangi jumlah pasien yang berobat ke luar negeri. Penelitian ini merupakan penelitian survey kuantitatif dengan disain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berpanduan kuesioner terhadap 89 responden yang diambil secara convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik mayoritas pasien Indonesia yang berobat ke Hospital Pantai adalah antara usia 25-44 tahun, dengan pendidikan menengah dan berasal dari kota-kota kecil di Indonesia yang tidak jauh dari Melaka. Alasan terbanyak untuk berobat ke Melaka adalah karena kurang puas dengan pelayanan dokter di kota asal responden di Indonesia. Tingkat kesetiaan pasien Indonesia terhadap Hospital Pantai Ayer Keroh tertinggi untuk face konatif dimana pasien menyatakan berniat untuk berobat kembali ke Hospital Pantai. Tetapi niat untuk berobat kembali ini ternyata kurang diikuti keinginan yang tinggi untuk merekomendasikan Hospital Pantai pada teman atau kerabat. Dengan bantuan analisis bivariat menggunakan korelasi dan analisis multivariat menggunakan analisis jalur dibuktikan bahwa kesetiaan pasien dipengaruhi oleh kepuasan pasien terhadap rumah sakit dan persepsi pasien tentang kualitas layanan rumah sakit. Dengan hasil penelitian ini diharapkan rumah sakit Indonesia dapat memperhatikan kualitas penyampaian layanan rumah sakit dan secara berkala melakukan survey kepuasan untuk memahami harapan dan keinginan pasien. Peningkatan kualitas layanan rumah sakit di dalam negeri diharapkan dapat menekan jumlah pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri.
Due to dissatisfaction of patients concerning service of local doctors and hospitals, many Indonesia patients go abroad for medical care. The preliminary survey on patients going to Malaysia and Singapore reveals that this group of patients is quite loyal to the hospitals in both countries. This could be beneficial to the neighboring countries but alarming to Indonesia. However, there is only very limited number of research on patient loyalty toward a hospital. The study aims to analyze factors that determine Indonesian patient loyalty toward Hospital Pantai Ayer Keroh Melaka since Melaka receives quite large amount of Indonesian patients. It is expected. that this study can help understanding the reasons of going abroad for medical care and the factors that determine patient loyalty so that local hospitals can make improvement to reduce the number of Indonesian patients doing abroad for medical care. The study is a cross-sectional survey using questionnaires as data collection tools. 89 respondents were collected using convenience sampling method. Majority of Indonesian patients seeking medical care in Hospital Pantai are between 25-44 years of age, with secondary education, and living in small towns in Riau which is not far from Melaka. The important reason of going abroad is dissatisfaction of local doctors? service. The highest rate of loyalty is in conative phase where Indonesian patients have strong intention to return to and repurchase the service of Hospital Pantai in the future. Nevertheless this strong intention to repurchase is not followed by strong will to recommend the hospital to friends and relatives. Bivariate analysis using correlation method and multivariate analysis using path analysis prove that patient loyalty is significantly influenced by patient perception of hospital service quality and by patient satisfaction. By understanding the result of this study, Indonesian hospitals should take good care of service quality delivery to the patients and regularly carry out satisfaction survey to understand patients? needs and expectation. Improvements in service quality are expected to reduce the numbers of Indonesian patients seeking medical care abroad.
Rendahnya motivasi karyawan menunjukan adanya masalah kepemimpinan dan kepuasan kerja. Tingginya turnover pegawai di RS Yadika Pondok Bambu mengindikasi permasalahan kepuasan kerja dan komitmen. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja karyawan dan hubungan kepuasan kerja dengan komitmen organisasi di RS Yadika Pondok Bambu. Besar sampel 193 orang. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner.Gaya kepemimpinan transformasional dialami 58% karyawan dan transaksional 42%. Karyawan yang puas 50.28%, yang tidak puas 49.7%. Komitmen afektif&normatif didapatkan pada 67% karyawan dan kontinu 33%. Terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja karyawan. Terdapat hubungan antara kepuasan kerja dengan komitmen organisasi.
Low motivation of employees indicates the issue of leadership and job satisfaction. The high turnover of employees in RS Yadika Pondok Bambu indicates job satisfaction and commitment issues. The purpose of this study was to determine the association between leadership style and job satisfaction and association between employee job satisfaction and organizational commitment in RS Yadika Pondok Bambu. Sample size was 193 people. Research carried out by spreading questionnaire. Transformational leadership style was experienced by 58% of employees and transactional style was 42%. 50.28% of employees were satisfied, 49.7% dissatisfied. Affective and normative commitment was found in 67% of employees and 33% continuous commitment. There is an association between leadership style and job satisfaction of employees. There is an association between job satisfaction and organizational commitment.
