Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34643 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Liliek Sulistyowardani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dian Ayubi, Dumilah Ayuningtyas, Ns Jumiati, Sarto
Abstrak: Tesis ini membahas faktor manusia yang berperan dalam insiden keselamatan pasien di rumah sakit. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian ini terdapat 3 variabel yang berhubungan signifikan dengan insiden keselamatan pasien yaitu: pengawasan kurang memadai (P value 0,012 dengan OR 0,28), manajemen sumber daya (P value 0,004 dengan OR 3,85) dan proses operasional (P value 0,019 dengan OR 3,29). Peran organisasi sangat penting dalam mengurangi insiden keselamatan pasien agar tercapai peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Hasil penelitian menyarankan bahwa pentingnya faktor manusia dalam insiden keselamatan pasien di rumah sakit maka perlu ditingkatkan pelatihan kepada tenaga kesehatan tentang insiden keselamatan pasien sesuai dengan kebutuhan rumah sakit yang dilakukan secara berkesinambungan serta diperlukan peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam membina rumah sakit di wilayahnya.
Read More
T-5595
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Nurhayatiningsih; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Heidy Agustin, Irna Lidiawati
Abstrak: Rumah sakit sebagai suatu organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dituntut untuk selalu meningkatkan mutu pelayanannya. Salah satu parameter untuk menilai mutu rumah sakit adalah penilaian akreditasi oleh lembaga yang telah tersertifikasi nasional maupun internasional. Fokus penilaian pada proses akreditasi adalah peningkatan mutu berkelanjutan yang mengutamakan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa gambaran perilaku tenaga kesehatan dalam mematuhi standar pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien sehingga risiko insiden yang dapat membahayakan keselamatan pasien menjadi berkurang dan berdampak terhadap mutu pelayanan yang lebih baik. Penelitian ini dilakukan dengan mix method observasi lapangan dan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 161 responden. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui observasi lapangan dan telaah dokumen sedangkan data primer dilakukan melalui pengisian kuesioner. Hasil penelitian diketahui perilaku petugas yang mendukung keselamatan pasien pada tingkat kepatuhan 90% sebanyak 64%. Faktor yang mempunyai hubungan dengan perilaku petugas mendukung keselamatan pasien adalah pendidikan (p value 0,001), profesi (p value 0,047), pengetahuan (p value 0,029), sikap (p value 0,001), supervise (p value 0,001) dan kerjasama tim (p value 0,001) dengan variabel dominan dari hasil analisis multivariate adalah sikap (OR 12,382) dan confounding factor umur, pendidikan, profesi pengetahuan, supervise dan kerjasama tim, namun tidak didapatkan adanya interaksi antar variabel tersebut. Butir permasalahan yang masih rendah pada perilaku adalah terkait beban kerja dimana masih ada yang memaksakan bekerja saat kondisi lelah dan konsentrasi berkurang serta mengerjakan yang diluar kewenangannya. Upaya yang perlu dilakukan untuk memperbaiki perilaku terkait keselamatan pasien adalah dengan melakukan pemetaan dan penghitungan beban kerja pegawai khususnya unit pelayanan pasien, membuat materi edukasi terkait keselamatan pasien melalui media audio visual, memasukan perilaku terkait keselamatan pasien ke dalam penilaian kinerja pegawai, membuat program yang dapat memacu pegawai untuk berupaya menjadikan perilaku keselamatan menjadi budaya kerja. Upaya perbaikan keselamatan pasien harus dikelola dengan pendekatan sistemik. Sistem ini dapat dilihat sebagai suatu sistem terbuka, di mana sistem terkecil akan dipengaruhi, bahkan tergantung pada sistem yang lebih besar
The hospital as an organization engaged in the field of health services is required to always improve the quality of the services. A parameter for assessing the quality of hospitals is the assessment of accreditation by institutions that have been national and international certified. The focus of assessment on the accreditation process is continuous quality improvement that prioritizes patient safety. This study aims to analysis description of the behavior of health workers to adhere the service standards that prioritize patient safety so that the risk of patient safety incidents had been reduced and have impact on better service quality. This research was conducted with a mix method study of field observation and quantitative study with a cross sectional design. The study sample used simple random sampling with a total sample of 161 respondents. Secondary data collection was carried out through field observations and document studies while the primary data was carried out through filling in questionnaires. The results of the study revealed that the behavior of officers who supported patient safety at 90% compliance that amount of 64%. Factors that have a relationship with the behavior of supporting patient safety are education (p value 0.001), profession (p value 0.047), knowledge (p value 0.029), attitude (p value 0.001), supervision (p value 0.001) and teamwork (p value 0.001) with the dominant variable from the results of multivariate analysis is attitude (OR 12,382) and confounding factor are age, education, profession, knowledege, supervision and team work, in the otherside not found interaction of that varaible. The problems that are still low on behavior are related to workloads there are still who force work when conditions are tired and the concentration is reduced, the other who work that is beyond their authority. To improve behavior related to patient safety is to mapping and calculate employee workload, especially the unit of patient services, make educational materials related to patient safety through audio visual media, incorporate behaviors related to patient safety into employee performance indicator, create programs that can support employees to try make safety behavior to be a work culture
Read More
T-5772
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galuh Meifika Fathiyani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Robiana Modjo, Wahyu Sulistiadi, Mulyawati, Eka Agustina
Abstrak: Rumah sakit merupakan tempat layanan kesehatan yang memiliki karakteristik multi profesi dan multi faktor risiko. Sehingga diperlukannya sistem yang dapat melindungi keselamatan pasien di RS. Salah satu sistem yang digunakan adalah pelaporan insiden keselamatan pasien. Pelaporan insiden dibutuhkan untuk melakukan evaluasi dalam mencapai keselamatan pasien, sehingga perbaikan sistem dan pembuatan desain ulang pelayanan kesehatan dapat dilakukan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan pelaporan insiden keselamatan pasien di RSUD Kota Serang tahun 2021. Penelitian menggunakan mix methode embedded design. Sampel berjumlah 110 responden untuk penelitian kuantitatif dan 7 responden untuk penelitian kualitatif. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan, persepsi, motivasi, teamwork, team leadership, budaya organisasi, pelatihan dan kepemimpinan dengan pelaporan insiden keselamatan pasien (p-value>0,05). Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa pelaporan insiden tidak terjadi karena masih kurangnya pengetahuan responden mengenai insiden yang harus dilaporkan, dan dibutuhkannnya dukungan teamwork, dan team leadership dalam unit, serta adanya respon yang menghukum membuat responden enggan melapor. Proporsi responden yang tidak pernah melakukan pelaporan IKP 79,2% memiliki pengetahuan rendah, 83,6% memiliki persepsi rendah, 83,3% memiliki motivasi rendah, 82,8% memiliki teamwork rendah, 85,5% belum mendapatkan pelatihan pelaporan IKP dan 81,0% memiliki kepemimpinan rendah. Berdasarkan data tersebut, kegiatan yang dapat meningkatkan pengetahuan pegawai perlu dilaksanakan secara rutin dan continue, serta dibutuhkan sistem yang dapat mengawasi dan melakukan kontrol di setiap uni agar insiden dapat termonitor dan dilaporkan.
The hospital is a place of health service that has multi-professional characteristics and multi-risk factors. So we need a system that can protect patient safety in hospitals. One of the systems used is patient safety incident reporting. Incident reporting is needed to evaluate in achieving patient safety, so that system improvements and redesign of health services can be carried out. This study aims to analyze the factors related to the reporting of patient safety incidents at the Serang City Hospital in 2021. The study uses a mix method embedded design. The sample is 110 respondents for quantitative research and 7 respondents for qualitative research. Thetest Chi-Square showed that there was no relationship between knowledge, perception, motivation, teamwork, team leadership, safety culture and leadership with patient safety incident reporting (p-value> 0.05). Qualitative research shows that incident reporting does not occur due to the respondent's lack of knowledge about incidents that must be reported, and the need forsupport teamwork, and team leadership within the unit, as well as a punitive response that makes respondents reluctant to report. The proportion of respondents who have never reported IKP 79.2% have low knowledge, 83.6% have low perception, 83.3% have low motivation, 82.8% have teamwork low, 85.5% have not received training on IKP reporting and 81.0% have low leadership. Based on these data, activities that can increase employee knowledge need to be carried out regularly and continuously, and a system that can monitor and control each unit is needed so that incidents can be monitored and reported
Read More
T-6308
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Baikhati Cesariastevia Basuki; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dian Ayubi, Robiana Modjo, Beben Saiful Bahri, Jeffri Agustinus Tobing
Abstrak: Rumah sakit adalah sebuah institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan tersebut rumah sakit dituntut untuk menjaga keselamatan pasiennya. Dalam proses ini peran perawat dirasa sangat penting karena memiliki waktu yang lebih lama dalam perawatan pasien dibandingkan tenaga kesehatan lainnya. Pada tahun 2018 masih ada indikator keselamatan pasien yang belum mencapai standar meliputi ketepatan memasang gelas identitas pasien, verifikasi terhadap pelaporan melalui telepon dalam waktu 24 jam, penandaan sisi operasi, kepatuhan cuci tangan dan kejadian pasien jatuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kinerja perawat dalam upaya keselamatan pasien rawat inap di Rumah Sakit Imanuel Bandar Lampung Tahun 2019. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan data dikumpulkan dari pengisian kuesioner terhadap 143 perawat ruang rawat inap. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel motivasi (p-value = 0.001) dan status kepegawaian (p-value = 0.047) memiliki hubungan paling dominan dengan kinerja perawat. Motivasi yang baik mempunyai peluang 3.210 kali lebih besar memengaruhi kinerja perawat dibandingkan motivasi yang kurang baik dan status pegawai tetap mempunyai peluang 0.311 kali lebih besar memengaruhi kinerja perawat dibandingkan pegawai tidak tetap
Read More
T-5810
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Komalasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Robiana Modjo, Yunita Asima Fenny Silvana S
Abstrak:
Tesis ini membahas mengenai budaya keselamatan pasien dan hubungannya dengan pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP) di RSUP Fatmawati tahun 2024. Penelitian ini adalah penelitian mixed method dengan Embedded Design dimana penelitian kuantiatif dan kualitataif dilakukan bersamaan. Penelitian kuantitatif sebagai penelitian utama dan kualitatif sebagai penelitian penunjang. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, masa kerja, tingkat pendidikan, budaya keselamatan pasien dalam dimensi budaya keterbukaan, budaya keadilan dan budaya pembelajaran terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien di RSUP Fatmawati. Tetapi masa kerja, profesi, kontak dengan pasien dan budaya pelaporan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien setelah dikontrol dengan variabel lain. Penelitian ini menyarankan rumah sakit untuk meningkatkan pemahaman karyawan mengenai keselamatan pasien dan budaya keselamatan pasien, melakukan upaya meningkatkan keberanian karyawan untuk melapor dengan tidak memberlakukan hukuman, memperbaiki sistem, memberikan umpan balik, dan melakukan evaluasi sistem penugasan atau staffing.

The focus of this study is the patient safety culture and its relationship with patient safety incident (PSI) reporting at Fatmawati Central General Hospital in 2024. This research adopts a mixed-method approach with an Embedded Design, where quantitative and qualitative research are conducted simultaneously. Quantitative research serves as the primary investigation, while qualitative research supports the main inquiry. The findings reveal no significant correlation between age, gender, length of service, educational level, patient safety culture in terms of open culture, just culture and learning culture, and PSI reporting at Fatmawati Central General Hospital. However, lenght of service, profession, patient contact, and report culture exhibit a significant relationship with PSI reporting after controlling for other variables. This study suggests hospitals enhance employee understanding of patient safety and patient safety culture, encourage employees to report incidents without fear of punishment, improve systems, provide feedback, and evaluate assignment or staffing systems.
Read More
T-6934
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esty Wahyuningsih; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Dian Ayubi, Robiana Modjo, Taufiq; Dezi Syukrawati
Abstrak: Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan primer di Indonesia dituntut untuk menerapkan keselamatan pasien dalam pelayanan yang diberikan. Langkah awal penerapan keselamatan pasien di puskesmas, adalah dengan mengukur budaya keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keselamatan pasien pada petugas yang bekerja di Puskesmas Kota Bekasi yang telah diakreditasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur budaya keselamatan pasien dengan menggunakan instrumen MOSPSC (Medical Office Survey on Patient Safety Culture) dari AHRQ (Agency of Health Research and Quality), kemudian dilanjutkan metode kualitatif untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat budaya keselamatan pasien di puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan budaya keselamatan pasien pada petugas puskesmas dalam kategori budaya sedang. Tidak ada perbedaan budaya keselamatan pasien pada kelompok petugas yang kesemuanya termasuk kategori budaya sedang. Kerja sama tim merupakan komponen budaya keselamatan dengan presentase tertinggi dan termasuk kategori baik (84,2%). Presentase terendah budaya keselamatan pasien di puskesmas adalah pada komponan tekanan dan kesibukan kerja (36,3%). Pemerintah baik pusat maupun daerah perlu mempertimbangkan kembali kesesuaian antara program yang dibebankan kepada puskesmas dengan jumlah tenaga yang tersedia di puskesmas. Hal ini diperlukan agar puskesmas dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal termasuk penerapan budaya keselamatan pasien di Puskesmas
Puskesmas is the leading of primary health services in Indonesia and required to implement patient safety in the services provided. The initial step in implementing patient safety at the puskesmas is to measure the patient's safety culture. This study aims to determine the description of patient safety in officers whose working at accredited Puskesmas in Bekasi. This study used a quantitative method to measure the patient safety culture using the MOSPSC (Medical Office Survey on Patient Safety Culture) instruments from AHRQ (Agency of Health Research and Quality), then followed by qualitative methods to determine the supporting factors and inhibiting factors of patient safety implementation in puskesmas. The results of the study showed a patient safety culture in puskesmas officers in the medium culture category. There is no difference in patient safety culture in the group of workers based on the profession, all of which are in the moderate category. Team work was a component of safety culture with the highest score and including good categories (84,2%). The lowest score of patient safety culture at the puskesmas was in the component of work pressure and pace (36,3%). The central and regional governments need to reconsider the compatibility between the programs charged to the puskesmas and the number of staff available at the puskesmas. This is needed so that the puskesmas can carry out its duties and functions optimally including the application of a patient safety culture at the Puskesmas
Read More
T-5762
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumarsih; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Dian Ayubi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Helly Octaviani, Matilda Marpaung
Abstrak: Rumah sakit berkembang melalui pasien yang puas di mana pasien tidak hanya akan kembali untuk membeli pelayanan tetapi juga dapat menjadi marketer yang dapat membawa keluarga atau teman-teman lainnya. Minat konsumen untuk membeli atau memakai jasa dari pemberi jasa yang sama sangat dipengaruhi oleh pengalaman kepuasanya terhadap pelayanan yang telah diperoleh sebelumnya. Kepuasan pasien merupakan nilai subyektif terhadap mutu pelayanan yang diberikan dan diterima oleh pasien, meskipun nilai subjektif ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, keadaan emosional dan lingkungan pasien, kepuasaan pasien tetap akan didasari oleh kebenaran dan kenyataan objektif yang dialami oleh pasien pada saat menerima pelayanan rumah sakit. Pelayanan rawat jalan sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan citra rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk melihat variabel karakteristik dan kepuasan pasien yang paling dominan berhubungan dengan minat kunjungan ulang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan data primer, pendekatan cross sectional, populasi adalah pasien rawat jalan, sampel dihitung berdasar beda dua proporsi didapatkan 150 sampel pengambilan sampel dengan tekhnik Quota sampling. Di analisis komputer menggunakan regresi multivariat. Hasil tidak ada hubungan antara karakteritik pasien dengan minat kunjungan ulang nilai P value >0,05 : jenis kelamin (p value=0,169), usia (p value= 0,539) pendidikan (p value=0,622), pekerjaan (p value=0,319), pengalaman berkunjung sebelumnya (p value=0,352), ada hubungan antara kepuasan pasien dengan minat kunjungan ulang (p value=0,0001). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan minat kunjungan ulang adalah kepuasan pasien dengan p value=0,0001, OR= 16,626. Artinya pasien yang memiliki kepuasan baik akan mempunyai peluang sebesar 16,626 lebih tinggi melakukan kunjungan ulang dibandingkan pasien yang memiliki kepuasan kurang baik, setelah di kontrol oleh variabel jenis kelamin, variabel umur dan variabel pekerjaan
Read More
T-5681
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Sabrina Dwipayanti; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Hervita Diatri, Fajar Ariyanti
Abstrak:
Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan elemen penting dalam upaya mitigasi risiko yang dapat dicegah dalam layanan kesehatan. RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan pelaporan insiden melalui metode manual dan elektronik (e-Report), namun implementasinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi sistem pelaporan insiden di RSCM dengan pendekatan kualitatif, menggunakan kerangka Donabedian (struktur–proses–hasil) dan strategi perbaikan berbasis Plan–Do–Study–Act (PDSA). Hasil menunjukkan bahwa sistem e-Report belum memenuhi kebutuhan pengguna karena antarmuka tidak intuitif dan tidak tersedianya fitur pelacakan, notifikasi, serta umpan balik. Fragmentasi kanal pelaporan, dominasi laporan manual, serta persepsi bahwa pelaporan adalah beban administratif turut memperlemah budaya pelaporan. Di samping itu, proses tindak lanjut insiden dinilai tidak transparan dan jarang dikomunikasikan kepada pelapor, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap efektivitas sistem. Temuan ini menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengembangan sistem pelaporan yang terpusat, mudah digunakan, dan didukung pelatihan berbasis unit serta kebijakan pelaporan satu pintu. Pendekatan PDSA digunakan untuk merancang strategi perbaikan sistem yang lebih responsif dan berkelanjutan dalam rangka mendukung peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.


The patient safety incident reporting system is a critical component in mitigating preventable risks within healthcare services. Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital (RSCM) has implemented both manual and electronic (e-Report) methods for reporting incidents. However, its implementation remains suboptimal. This study aims to evaluate the implementation of the incident reporting system at RSCM using a qualitative approach, guided by the Donabedian framework (structure–process–outcome) and the Plan–Do–Study–Act (PDSA) improvement cycle. The findings reveal that the current e-Report system does not sufficiently meet user needs due to an unintuitive interface and the absence of key functionalities such as report tracking, automated notifications, and feedback mechanisms. Additionally, fragmented reporting channels, a predominance of manual submissions, and the perception of reporting as a bureaucratic burden have contributed to a weakened safety culture. The follow-up process is also perceived as lacking transparency and is rarely communicated back to reporters, further reducing trust in the system. These challenges form the basis for recommendations to develop a centralized, user-friendly, and integrated reporting system, supported by unit-based training and a single-channel reporting policy. The PDSA cycle is applied as a strategic framework to design a more responsive and sustainable system that enhances both service quality and patient safety at RSCM.
Read More
T-7401
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rame Manurita Verysanti Siahaan; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Robiana Modjo, Gafar Hartatiyanto, Beben Saiful Bahri
Abstrak: Waktu tunggu merupakan bagian dari dimensi mutu pelayanan kesehatan yang akan menunjukkan kesan terhadap rumah sakit akan ketanggapan dan kinerja pelayanan yang ada di rumah sakit tersebut sehingga lamanya waktu tunggu secara tidak langsung menunjukkan rendahnya kinerja pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan upaya perbaikan waktu tunggu rawat jalan di Poli Kebidanan dan Kandungan RSUD Mampang Prapatan. Metode penelitian yang dilakukan adalah riset operasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui enam tahap penelitian yaitu identifikasi input, identifikasi proses, pengamatan output, identifikasi penyebab masalah, identifikasi alternatif solusi dan perancangan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah SDM di bagian Rekam Medis belum mencukupi, hanya ada 1 orang runner yang mendistribusikan dokumen rekam medis ke semua poli; jam mulai pelayanan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Dokter sering tidak tepat waktu dalam memulai pelayanan; jarak ruangan Rekam Medis berada di gedung terpisah sedangkan bagian pendaftaran di lantai 1 dan Poli ada di Lantai 2, pasien datang terlalu cepat merupakan masalah utama yang berkontribusi terhadap lamanya waktu tunggu. Rata-rata total waktu tunggu di Poli Kebidanan dan Kandungan adalah 117.66 menit dan belum sesuai dengan SPM RS yaitu ≤60 menit. Rancangan intervensi yang disepakati adalah membuat SPO dan SK tentang pendaftaran pasien dilakukan 30 menit sebelum jadwal pelayanan dokter. Disaranan melakukan penjadwalan ulang jadwal praktek Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan sesuai dengan kesepakatan bersama sehingga ada kejelasan jam mulai pelayanan, membuat sistem reservasi yang optimal secara bertahap mulai dari offline sampai dengan online, menambah 2 orang petugas di bagian Rekam Medis dan menerapkan rekam medis elektronik
Read More
T-5800
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latifah hanum Aini; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dian Ayubi, Ratu Ayu Dewi Sartika, Anisya Ulfah Hanum, H. Ali Isha Wardhana
Abstrak: Abstrak

Keselamatan pasien merupakan hal yang harus ada dalam suatu jasa pelayanan kesehatan rumah sakit dan TKPRS (Tim Keselamatan Pasien) merupakan standar yang ada di rumah sakit di Indonesia sebagai syarat untuk akreditasi rumah sakit.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara pendidikan dan pengetahuan dengan perilaku tenaga kesehatan dalam mendukung keselamatan pasien. Penelitian ini menggunakan disain potong lintang (cross sectional).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tenaga kesehatan mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku dengan p value = 0.0001 dengan OR=45.250 artinya tenaga kesehatan berpendidikan tinggi mempunyai peluang 45.250 kali untuk mendukung perilaku keselamatan pasien dibandingkan pendidikan dibawah SLTA. Pengetahuan tenaga kesehatan mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku p value= 0.0001 dengan OR= 75.417 artinya tenaga kesehatan berpengetahuan baik mempunyai peluang 75.471 kali untuk mendukung perilaku keselamatan pasien dibandingkan yang kurang. Dengan diketahuinya hubungan antara pendidikan dan pengetahuan tenaga kesehatan dalam mendukung perilaku keselamatan pasien, peneliti menyarankan : Rumah Sakit hendaknya menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi tenaga ksehatan serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam mendukung program keselamatan pasien.


Patient safety is something that must exist in a health service hospital and TKPRS (Patient Safety Team) is a standard that is in the hospital in Indonesia as a requirement for hospital accreditation.

The purpose of this study was to determine the relationship between education and knowledge of the behavior of health personnel in support of patient safety. This study uses cross-sectional design (cross-sectional).

The results showed that health education has a significant correlation with the behavior of the p value = 0.0001 OR = 45 250 health workers educated means having opportunities 45 250 times to support patient safety behavior than education below high school. Knowledge of health workers has a significant relationship with p value = 0.0001 behavior with OR = 75 417 means knowledgeable health professionals 75 471 times better to have the opportunity to support patient safety behavior than less. By knowing the relationship between education and knowledge of health professionals in support of patient safety behavior, researchers advise: Hospitals should provide education and training programs to improve and maintain the competency of ksehatan and support interdisciplinary approaches to support patient safety program.

Read More
T-3873
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive