Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42108 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gelora Jelang Takbira Mulia; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Anna Rozaliani, Meliana Sari
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan antara pajanan polusi udara yakni particulate matter (PM)2,5 dan jumlah koloni bakteri udara dalam ruang kelas terhadap gangguan fungsi paru pada siswa tiga sekolah dasar yang ada di Jakarta Barat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang berdesain cross-sectional, dengan variabel lainnya yakni umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, status gizi, kepadatan siswa, ventilasi, suhu dan kelembaban ruang kelas. Metode penelitian menggunakan alat ukur Haz-Dust EPAM 5000 untuk pengukuran PM2,5, MAS 100 NT untuk pengukuran total koloni bakteri, dan spirometri untuk pengukuran fungsi paru, serta kuesioner untuk pengukuran variabel lainnya . Hasil penelitian yakni ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 terhadap gangguan fungsi paru namun tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah koloni bakteri udara dalam ruang dengan gangguan fungsi paru. Berdasarkan hasil dari penelitian menyarankan kepada sekolah agar dapat memperbaiki kualitas kesehatan siswa dengan cara memantau dan mengimplementasikan gerakan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah, kemudian diharapkan agar program sekolah sehat dapat ditingkatkan dengan memberikan promosi kesehatan kepada siswa di lingkungan sekolah, dapat bekerja sama dengan badan lingkungan hidup terkait pengendalian pencemaran udara di sekolah dengan cara melakukan pengukuran polusi udara di sekolah untuk mengetahui tingkat risiko dari pajanan yang dihasilkan di area sekolah
Read More
T-5687
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Rachmadianty; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Bambang Sutoyo
Abstrak: BANYAKNYA WAKTU YANG DIGUNAKAN MASYARAKAT PERKOTAAN UNTUK BERAKTIVITAS DI DALAM RUANGAN DAPAT MENIMBULKAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT KUALITAS UDARA DI DALAM RUANGAN, SEPERTI SICK BUILDING SYNDROME (SBS). TIDAK HANYA PADA PEKERJA DI PERKANTORAN, SISWA SEKOLAH JUGA BERISIKO TERHADAP SBS. PENELITIAN INI BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA JUMLAH KOLONI BAKTERI DI UDARA DALAM RUANG KELAS DENGAN KEJADIAN SBS PADA SISWA DI SMAN 2 KOTA TANGERANG SELATAN. DIGUNAKAN DESAIN STUDI CROSS-SECTIONAL DENGAN VARIABEL INDEPENDEN ADALAH JUMLAH KOLONI BAKTERI; VARIABEL INDEPENDEN ADALAH KEJADIAN SBS; DAN SUHU, KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, JENIS KELAMIN, STATUS GIZI, RIWAYAT ALERGI, RIWAYAT ASTHMA, HEWAN PELIHARAAN, KEBIASAAN MELEWATKAN SARAPAN, KEBIASAAN BEROLAHRAGA, KEBIASAAN MENGONSUMSI CAMILAN, SERTA KEBIASAAN MEROKOK ADALAH VARIABEL KOVARIAT. ANALISIS STATISTIK MENUNJUKKAN PROPORSI KEJADIAN SBS SEBESAR 59,8% DAN JUMLAH KOLONI BAKTERI TIDAK BERHUBUNGAN SIGNIFIKAN DENGAN KEJADIAN SBS. RIWAYAT ASTHMA, KEBIASAAN MELEWATKAN SARAPAN, DAN KEBIASAAN BEROLAHRAGA BERHUBUNGAN SIGNIFIKAN DENGAN KEJADIAN SBS. SISWA YANG BERADA DI KELAS DENGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI DI UDARA< 135 KOLONI BERISIKO MENGALAMI KEJADIAN SBS 1,677 KALI LEBIH TINGGI, SETELAH DIKONTROL OLEH VARIABEL KEBIASAAN SARAPAN, KEBIASAAN BEROLAHRAGA, DAN PENCAHAYAAN. KATA KUNCI: SICK BUILDING SYNDROME, JUMLAH KOLONI BAKTERI, KUALITAS UDARA DALAM KELAS, SISWA SEKOLAH T HAS BEEN ESTIMATED THAT PEOPLE SPEND ALMOST 90% OF THEIR TIME INDOORS, MAINLY IN URBAN AREAS. THIS COULD LEAD TO HEALTH PROBLEMS CAUSED BY THE INDOOR AIR QUALITY, SUCH AS SICK BUILDING SYNDROME (SBS). BESIDES THE OFFICE WORKERS POPULATION, THERE IS ALSO INCREASING CONCERN ABOUT SBS PROBLEM IN SCHOOL STUDENT. USING CROSS-SECTIONAL STUDY DESIGN, THE ASSOCIATIONS BETWEEN TOTAL INDOOR AIR BACTERIAL COUNT IN THE CLASSROOM AND SBS IN STUDENTS OF 2 TANGERANG SELATAN HIGH SCHOOL WAS INVESTIGATED. WE DETERMINED THE TOTAL BACTERIAL COUNT AS DEPENDENT VARIABLE; SBS INCIDENCE AS INDEPENDENT VARIABEL; CLASSROOM TEMPERATURE, HUMIDITY, AND LIGHTING INTENSITY AS ENVIRONMENTAL COVARIATE VARIABLES; AND GENDER, NUTRITIONAL STATUS, HISTORY OF ALLERGY AND ASTHMA; PET OWNERSHIP; SKIPPING BREAKFAST; SNACKING HABIT; EXERCISING HABIT; AND SMOKING HABIT AS INDIVIDUAL COVARIATE VARIABLES. STATISTICAL ANALYSIS RESULTS SHOWED A HIGH PROPORTION OF SBS (59,8%) AND THE TOTAL INDOOR AIR BACTERIAL COUNT IS NOT SIGNIFICANTLY ASSOCIATED WITH SBS. HISTORY OF ASTHMA, SKIPPING BREAKFAST, AND EXERCISING HABIT ARE SIGNIFICANTLY ASSOCIATED WITH SBS. STUDENTS WHO ARE STUDYING IN CLASSROOM WITH TOTAL BACTERIAL COUNT < 135 COLONY HAVE 1,677 TIMES HIGHER RISK OF EXPERIENCING SBS THAN THE NON- RISK GROUP. KEYWORDS: SICK BUILDING SYNDROME, TOTAL INDOOR AIR BACTERIAL COUNT, CLASSROOM AIR QUALITY, SCHOOL STUDENTS
Read More
S-9502
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Mairani; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Satria Pratama, Diah Wati Soetojo
Abstrak: ABSTRAK Polusi udara dikaitkan dengan jutaan kematian prematur di seluruh dunia dan 20% di antaranya bersifat pernafasan berasal dari polusi udara outdoor dan indoor dalam bentuk partikel serta gas. Pajanan PM2,5 dan formaldehid yang berasal dari dalam ruang memiliki efek kesehatan sejak dini pada anak-anak, karena anak-anak merupakan kelompok rentan dan selama anak dalam proses pengembangan paru-paru dapat menyebabkan dampak jangka panjang pada fungsi paru. Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi hubungan pajanan Particulate Matter 2,5 (PM2,5) dan formaldehid terhadap gangguan fungsi paru pada siswa Sekolah Menegah Pertama Kota Depok. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang dilaksanakan pada Maret-Mei 2018. Jumlah sampel sebanyak 160 siswa dengan metode simpel random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berumur 13-15 tahun berisiko mengalami gangguan fungsi paru 2,9 kali dengan IMT tidak normal dan mayoritas perokok pasif serta dengan aktifitas fisik yang kurang atau jarang dilakukan siswa. Pajanan PM2,5 >NAB 35μg/m3 berisiko 7.2 kali mengalami gangguan fungsi paru pada siswa di sekolah yang berada dekat jalan raya dan konsentrasi formaldehid tinggi berisiko 1,6 kali mengalami gangguan fungsi paru pada siswa di sekolah dekat jalan raya dengan kondisi ventilasi yang tidak memenuhi syarat, suhu dan kelembaban tidak normal di sekolah. Perlu dilakukan pengendalian risiko pencemaran udara dilingkungan sekolah dengan menjauhi atau membatasi diri dari sumber polusi udara. Kata kunci: PM2,5, Formaldehid, Gangguan fungsi paru Air pollution is associated with millions of premature deaths worldwide and 20% of them are respiratory from outdoor and indoor air pollution in the form of particles and gases. Exposure to PM2.5 and formaldehyde derived from space has an early health effect on children, as children are a vulnerable group and during childhood in the lung development process can cause long-term effects on lung function. This study aims to identify the exposure relationship of Particulate Matter 2.5 (PM2,5) and formaldehyde to lung function impairment in Depok State Junior High School students. This study uses a cross-sectional study conducted in March-May 2018. The number of samples as many as 160 students with a simple random sampling method. The results showed that students aged 13-15 years are at risk of impaired lung function 2.9 times with abnormal BMI and the majority of passive smokers and with less physical activity or rarely do students. Exposure of PM2.5> NAB 35μg / m3 at risk 7.2 times impaired lung function in students at schools located near the highway and high formaldehyde concentrations at risk of 1.6 times impaired lung function in students at schools near highway with no ventilation conditions Eligible, temperature and humidity are not normal at school. It is necessary to control the risks of air pollution within the school environment by avoiding or restricting themselves from sources of air pollution. Key words: Particulate Matter2,5, Formaldehyde, Lung Function
Read More
T-5243
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deanie Afifah Utami; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kejadian Gejala Gangguan Pernapasan adalah salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh pekerja di gedung perkantoran. Gejala Gangguan Pernapasan dapat disebabkan oleh kualitas udara dalam ruang yang buruk dan karakteristik individu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui hubungan antara jumlah total koloni bakteri dan kapang dengan kejadian Gejala Gangguan Pernapasan pada teanag akependidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan desain cross sectional. Variabel independennya adalah jumlah total koloni bakteri dan kapang dalam ruang, variable confounding berupa suhu, kelembaban relatif, intensitas cahaya usia, jenis kelamin, masa bakti kerja, kebiasaan merokok, dan riwayat alergi. Hasil proporsi kejadian Gejala Gangguan Pernapasan dari analisis statistik yang dilakukan pada tenaga kependidikan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sebesar 32,4% (47 responden). Dari 10 variabel yang diuji, hanya usia dan masa bakti kerja yang menunjukkan hubungan signifikan.

Respiratory Distress Symptoms is one of the health problems often experienced by workers in office buildings. Respiratory Distress Symptoms can be caused by poor indoor air quality and individual characteristics. This study was conducted with the aim of determining the relationship between the total number of bacterial and mold colonies and the occurrence of Respiratory Disturbance Symptoms in educational staff at the Faculty of Public Health, University of Indonesia with a cross sectional design. The independent variable is the total number of bacterial and mold colonies in the room, the confounding variables include temperature, relative humidity, light intensity, age, gender, length of service, smoking habits, and allergy history. The proportion of the occurrence of Respiratory Disturbance Symptoms from the statistical analysis carried out on the educational staff of the Faculty of Public Health, University of Indonesia is 32.4% (47 respondents). Of the 10 variables tested, only age and length of service showed a significant relationship.
Read More
S-11765
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Putri Calista; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Pencemaran udara menjadi ancaman besar bagi masyarakat dunia. Salah satu indikator yang umum adalah Particulate Matter 2.5 atau PM 2.5. PM 2.5 merupakan polutan yang dapat masuk ke paru-paru bahkan sampai pada alveolus dan dapat berdifusi ke pembuluh darah. PM 2.5 juga dapat mengandung ataupun mengadsorpsi logam berat, gas beracun, virus, bakteri, dan zat berbahaya lainnya. Tingginya konsentrasi PM 2.5 dapat menimbulkan berbagai efek kesehatan pada manusia. Salah satu sumber PM 2.5 adalah transportasi. Sekolah yang lokasinya dekat dengan jalan raya berisiko terhadap pajanan PM 2.5 yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi risiko kesehatan terhadap pajanan PM 2.5 pada siswa dan guru yang bekerja di SDN Cisalak 1 Tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dari Bulan Maret-Mei 2024. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 23 guru dan 63 siswa kelas 4 dan kelas 5. Pengukuran konsentrasi PM 2.5 dilakukan di 5 titik menggunakan alat DustTrak DRX 8533 selama 1 jam di tiap titiknya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi PM 2.5 di SDN Cisalak 1 adalah 0,208 mg/m3 atau 0,121 mg/m3 setelah dikonversi menjadi konsentrasi 24 jam. Konsentrasi tersebut masih berada di atas baku mutu Permenkes RI No. 2 Tahun 2023. Besar risiko secara realtime dan lifespan, baik pada siswa maupun guru secara keseluruhan menyatakan nilai RQ ≤ 1 yang artinya secara keseluruhan, siswa dan guru masih aman dari pajanan PM 2.5 dengan konsentrasi tidak lebih dari 0,208 mg/m3. Namun, jika dilakukan perhitungan secara individu, didapatkan sebanyak 4,48% dan 55,5% siswa berisiko terhadap pajanan PM 2.5 secara realtime dan lifespan. Sdangkan pada guru sebanyak 72,7% guru berisiko terhadap pajanan PM 2.5 secara lifespan selama 30 tahun. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut adalah dengan melakukan pembatasan pajanan melalui pembersihan ruang kelas secara rutin, penyortiran barang atau berkas, dan melakukan penghijauan di area sekolah.

Air pollution is a major threat to world society. One common indicator is Particulate Matter 2.5 or PM 2.5. PM 2.5 is a pollutant that can enter the lungs and even reach the alveoli and can diffuse into the blood vessels. PM 2.5 can also contain or adsorb heavy metals, toxic gases, viruses, bacteria and other dangerous substances. High concentrations of PM 2.5 can cause various health effects in humans. One source of PM 2.5 is transportation. Schools that located close to highways have a high risk of PM 2.5 exposure. This study aims to estimate the health risk of exposure to PM 2.5 in students and teachers working at SDN Cisalak 1 in 2024. This research was conducted using the Environmental Health Risk Analysis (ARKL) method from March-May 2024. The sample in this study consisted of 23 teachers and 63 students in grades 4 and 5. PM 2.5 concentrations were measured at 5 points using a DustTrak DRX 8533 for 1 hour at each point. The results of this study show that the average PM 2.5 concentration at SDN Cisalak 1 is 0.208 mg/m3 or 0.121 mg/m3 after being converted to a 24 hour concentration. This concentration is still above the quality standards of Permenkes RI No. 2 Tahun 2023. The overall RQ value, for both students and teachers, is RQ ≤ 1, which means that overall, students and teachers are still safe from exposure to PM 2.5 with a concentration of no more than 0.208 mg/m3. From individual calculations, the results showed that 4.48% and 55.5% of students were at risk of exposure to PM 2.5 in realtime and lifespan. Meanwhile, 72.7% of teachers are at risk of exposure to PM 2.5 over a lifespan of 30 years. To reduce exposure can be done by cleaning up the classrooms, sorting items or files, and planting trees in school area.
Read More
S-11615
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dany Widiyo Putro; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Satria Pratama
Abstrak: PM 2.5 adalah salah satu zat pencemar yang ada di udara dan dapat menurunkankualitas fungsi paru manusia. Greenpeace menyatakan bahwa Jakarta dengan pajanan PM2.5 sebesar 45,3 μm/m3 melebihi batas WHO sebesar 10 μm/m3 setahun. Penelitian iniditujukan untuk mengetahui konsentrasi PM 2.5 dan kejadian gangguan fungsi paru padasiswa di SMA Negeri 73 Jakarta tahun 2019, serta hubungan antara kedua variabeltersebut dan konfoundingnya. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2019 denganmengambil data konsentrasi PM 2.5 menggunakan DustTrak II, data gangguan fungsiparu dengan menggunakan spirometer, dan kuesioner yang memuat usia, jenis kelamin,status merokok, kondisi paru selama hidup, dan jenjang kelas. Hasil analisis menunjukkanbahwa rata-rata konsentrasi PM 2.5 adalah sebesar 96,47 μg/m3 dan melebihi baku mutuPP No. 41 Tahun 1999 sebesar 65 μg/m3 per 24 jam dan 15 μg/m3 per 1 tahun, serta olehWHO sebesar 10 μg/m3 per 1 tahun. Terdapat 20,4% siswa yang mengalami gangguanobstruksi fungsi paru berdasarkan pengukuran spirometer. Tidak terdapat hubungansignifikan antara konsentrasi PM 2.5 dan gangguan fungsi paru, dan tidak ada kandidatkonfounding yang memenuhi signifikansi hubungan konsentrasi PM 2.5 dan gangguanfungsi paru.Kata kunci:pm 2.5, gangguan fungsi paru, siswa, jakarta,, obstruksi.
Read More
S-10230
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Harfiani; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Budi Hartono, Susilo
Abstrak: PM2,5 merupakan indikator penting untuk mengetahui risiko kesehatan akibat partikulat. Pajanan PM2,5 di udara dalam ruang telah banyak dikaitkan dengan kejadian gangguan fungsi paru Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam ruang lingkungan kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pabrik katup baja X Kabupaten Serang Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional untuk melihat berapa tinggi atau berapa banyak exposure dan juga outcome serta melihat hubungan antara besarnya exposure dan juga outcome. Penelitian ini dilakukan pada bulan mei sampai dengan juni 2016. Total sampel udara pada penelitian ini adalah sebanyak 7 titik yang mewakili keseluruhan area kerja dan total sampel pekerja pada penelitian ini adalah 60 pekerja. Konsentrasi PM2,5 diukur menggunakan alat Haz-Dust EPAM-5000 menggunakan bantuan operator balai HIPERKES Jakarta. Pengukuran fungsi paru pekerja dilakukan menggunakan spirometri chest-graph HI-101. Analisis data dilukan dengan menggunakan uji kai kuadrat untuk melihat hubungan konsentrasi PM2,5 di udara dalam ruang lingkungan kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja. Prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pabrik katup baja X adalah sebesar 53.3%. Hasil analisis menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam ruang lingkungan kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja (OR = 2,8; p-value = 0.121).
Kata kunci : Fungsi Paru; PM2,5; Polusi Udara Dalam Ruang; Katup Baja
Read More
S-9116
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lailatul Qomariyah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Abdur Rahman, Sari Meliana
Abstrak: Partikulat (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan benzo(a)pyrene diketahui sebagai polutan yang sering ditemukan di udara dari sisa/hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor yang dapat mempengaruhi kualitas udara terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dimana sebagian waktunya dihabsikan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk adalah mengestimasi risiko pajanan partikulat (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan benzo(a)pyrene pada siswa di tiga sekolah dasar negeri Jakarta Barat. Penelitian ini menghasilkan konsentrasi PM2.5 terkecil dan terbesar di SDN Cengkareng Barat. Sedangkan konsentrasi NO2 terkecil di SDN Cengkareng Barat dan terbesar di SDN Cengkareng Timur. Sementara konsentrasi benzo(a)pyrene terkecil di SDN Cengkareng Barat dan terbesar di SDN Cengkareng Timur. Kesimpulan dari penelitian ini, risiko non karsinogen pajanan PM2.5, NO2, dan benzo(a)pyrene dari ketiga sekolah memiliki nilai RQ ≤ 1 atau dikatakan aman sedangkan risiko kesehatan karsinogenik pajanan benzo(a)pyrene memiliki nilai E > 4 yang berarti siswa di sekolah berisiko
Read More
T-5742
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikha Purwandari; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Suyud Warno Utomo, Laila Fitria, Sonny Priajaya Warrow, Anna Rozaliyani
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan pajanan polusi udara (PM2,5 dan NO2) dengan kadar Malondialdehyde pada siswa sekolah dasar negeri yang terletak di sekitar ruas jalan raya di Jakarta Barat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pajanan polusi udara dalam ruangan dengan kadar MDA urin pada siswa sekolah dasar. Penelitian yang menggunakan desain studi cross sectional dilakukan pada bulan April - Mei tahun 2019. Hasil penelitian menujukkan konsentrasi PM2,5 dan NO2 di dalam ruangan melebihi baku mutu yang ditentukan yakni nilai rata-rata di dalam kelas PM2.5 sebesar 86,37 µg/m 3 , sedangkan rata-rata NO2 di dalam kelas sebesar adalah 76,18 µg/m 3 . Kadar MDA dalam urin pada siswa yang digunakan untuk melihat penanda stress oksidatif dalam tubuh anak yang dikaitkan dengan polusi udara dan karakteristik individu. Adanya hubungan dengan korelasi positif antara PM2,5 indoor dengan p value = 0,016 pada sekolah yang berada jauh dari jalan raya. Karakteristik individu pada anak yang digunakan untuk melihat hubungan dengan mengkontrol faktor yang lainnya terhadap MDA pada urin sanak adalah sesuai jenis kelamin, aktivitas fisik, anggota keluarga yang merokok di rumah, konsumsi vitamin dan suplemen, dan IMT
This thesis discusses the relations between air pollution exposure (PM2,5 and NO2) and Malondialdehyde urinary levels in schollchildren located around the highway in West Jakarta. This study aims to look at the relation between indoor air pollution exposure and urinary MDA levels in school students. The study using a cross sectional study design on April - May of 2019. The results of the study showed that PM2,5 and NO2 concentrations in the room exceeded the specified quality standard. PM2.5 indoor concentration was 86.37 µg / m3, and NO2 indoor concentration was 76.18 µg / m3. MDA urinary levels in students are used to see markers of oxidative stress in a child's body that are associated with air pollution and individual characteristics. There is a relationship with a positive correlation between PM2.5 indoor and p value = 0.016 in schools that are far from the highway. The individual characteristics of the children used to see the relationship with other factors controlling MDA in the urine of the relatives were according to gender, physical activity, smoker in family, vitamins and supplements consumption, and BMI
Read More
T-5775
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astrid Salome Evelina; Pembimbing: Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Agustin Kusumayati, Cucu Cakrawati Kosim, Astuti Burhan
Abstrak: Sentra industri keramik Plered berbentuk home industry yang mana proses dan teknologi yang digunakan masih sederhana sehingga emisi yang dihasilkan pun belum terlalu menjadi perhatian. Dengan demikian, jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran udara yang dapat berisiko pada kesehatan manusia. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan risiko kesehatan dan gangguan fungsi paru pada pekerja akibat pajanan PM10 di udara pada lingkungan sentra industri keramik Plered. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional serta dengan pendekatan metode campuran (mix method) Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dan Epidemiologi Kesehatan Lingkungan (EKL). Pengukuran mencakup pengukuran konsentrasi PM10 menggunakan High Volume Air Sampling (HVAS) dengan metode gravimetri sesuai pedoman SNI 7119.15:2016, pengukuran berat badan dengan timbangan, pengukuran tinggi badan dengan mikrotoa, wawancara dengan kuesioner dan tes spirometri/pengukuran fungsi paru dengan spirometer. Jumlah sampel pekerja sebanyak 107 orang dan pada 30 orang sampel pekerja dilakukan tes spirometri dengan kriteria masa kerja yang terlama. Konsentrasi PM10 sebesar 0,2 mg/m 3 telah melebihi NAB sebesar 0,1 mg/m 3 sehingga terdapat risiko yang perlu dikendalikan. Namun tingkat risiko kesehatan pekerja (risk quotient/RQ) (0,008) masih rendah (RQ<1) yang mana dipengaruhi oleh rata-rata asupan pada pekerja/intake (I) yang juga masih rendah (0,02 mg/kg/hari) masih jauh dari nilai default RfC (2,42 mg/kg/hari). Hal tersebut dipengaruhi rata-rata berat badan/IMT pekerja dalam kategori normal dan walaupun konsentrasi PM10 sudah di atas NAB ternyata baru pada konsentrasi PM10 sebesar 23 mg/m 3 menghasilkan rata-rata asupan pada pekerja/intake (I) sebesar 2,46 mg/kg/hari yang mana melebihi nilai RfC sebesar 2,42 mg/kg/hari sehingga menghasilkan tingkat risiko kesehatan pekerja (risk quotient/RQ) sebesar 1,01 (RQ>1). Sementara kejadian gangguan fungsi paru (fungsi paru tidak normal) pada pekerja cukup tinggi dimana sebanyak 27 orang dari 30 orang sampel pekerja (90 %) menderita gangguan fungsi paru (fungsi paru tidak normal). Ditemukan tidak ada hubungan antara tingkat risiko kesehatan pekerja (risk quotient/RQ) dengan gangguan fungsi paru (fungsi paru tidak normal) pada pekerja (p=1,000). Kemungkinan karena RQ masih rendah, sumber pajanan lain dan faktor di luar tempat kerja. Terdapat perilaku pekerja yang sebagian besar (88 orang (82.24%) pekerja) belum menggunakan masker saat bekerja yang mana secara statistik berhubungan dengan tingkat risiko kesehatan pekerja (risk quotient/RQ) (p=0,028). Nilai RQ yang masih rendah, adanya sumber pajanan lain dan faktor di luar tempat kerja serta perilaku pekerja yang belum menggunakan masker selama bekerja mendorong perlu adanya pemantauan kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja secara rutin serta penyuluhan dalam menumbuhkan kesadaran pribadi pekerja untuk menggunakan masker selama bekerja
Traditional ceramic industry Plered is a home industry in which the process and technology used are still simple, so the emissions produced are not yet a concern. Thus, if not managed properly it can cause air pollution which can pose a risk to human health. This study is to analyze the relationship between health risks and lung function disorder in workers due to particulate matter 10 µm (PM10) exposure in the air in Traditional Ceramic Industry Plered. This is a quantitative study with a cross sectional research design and a mixed method approach to Environmental Health Risk Analysis (ARKL) and Environmental Health Epidemiology (EKL). Measurements include measurements of PM10 concentrations using High Volume Air Sampling (HVAS) using gravimetric method according to the guidelines of SNI 7119.15:2016, measurement of body weight with scales, height measurement with microtoa, interviews with questionnaires and spirometry tests with spirometer. The number of sample workers was 107 people and the sample of 30 workers was subjected to a spirometric test with the longest working period criteria. PM10 concentration of 0.2 mg/m 3 has exceeded the NAV of 0.1 mg/m 3 so there are risks that need to be controlled. But the level of health risks of workers (risk quotient/RQ) (0.008) is still low (RQ <1) which is influenced by the average intake of workers/intake (I) which is also still low (0.02 mg/kg/day) is far from the default value of RfC (2.42 mg/kg/day). This is influenced by the average body weight/BMI of workers in the normal category and even though the PM10 concentration was above the NAV, it was found that the PM10 concentration was 23 mg/m 3 resulting in an intake (I) of 2.46 mg/kg /day which exceeds the value an RfC of 2.42 mg/kg/day, resulting in a worker's health risk level (risk quotient / RQ) of 1.01 (RQ> 1). While the incidence of lung function disorder in workers is quite high where as many as 27 people from 30 workers sample (90%) suffer from lung function disorder. There was no relationship between the level of health risks of workers (risk quotient/ RQ) with lung function disorder in workers (p = 1.000). This may be due to the low RQ, other sources of exposure and factors outside the workplace. There is the behavior of workers who most (88 people (82.24%) workers) have not used a mask when working which is statistically related to the level of health risks of workers (risk quotient/RQ) (p = 0.028). The low RQ value, the existence of other sources of exposure and factors outside the workplace as well as the behavior of workers who have not used masks while working encourage the need for regular environmental health and occupational health monitoring and counseling in fostering personal awareness of workers to use masks while working
Read More
T-5993
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive