Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41274 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Paskalinda Maria Yosefa Bandur; Pembimbing: Milla Herdiyati; Penguji: Besral, Tris Eryando, Rahmadewi, Laily Hanifah
Abstrak: Preferensi jumlah anak ideal dan preferensi kontrasepsi remaja saat ini dapat mempengaruhi fertilitas dan pemakaian kontrasepsi dimasa yang akan datang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan preferensi jumlah anak ideal dan preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja usia 15-24 tahun, belum menikah di Indonesia tahun 2017 dengan menggunakan analisis data SDKI-KRR tahun 2017. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi jumlah anak ideal yaitu sebanyak 69,9% dan preferensi pemakaian kontrasepsi yaitu sebanyak 82,5%. Berdasarkan model multivariat preferensi jumlah anak ideal pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses intenet dan diskusi dengan teman sebaya. Pada preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses internet dan diskusi dengan tokoh masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kepada pemerintah dalam pelaksanaan program remaja dapat difokuskan pada faktor-faktor tersebut
Read More
T-5806
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Ekananda; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Rita Damayanti, Kemal N. Siregar, Dian Kristiani Irawaty, Wira Hartiti
Abstrak:
Data SDKI KRR 2017, mengungkap adanya penurunan keinginan menggunakan kontrasepsi yang terutama terjadi pada remaja pria. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan keinginan menggunakan kontrasepsi pada pria belum kawin usia 15-24 tahun di wilayah perkotaan dan pedesaan. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan design penelitian cross sectional. Data di analisis secara deskriptif dan analitik (menggunakan analisis regresi logistik). Hasil : Proporsi yang menyatakan keinginan menggunakan kontrasepsi dimasa depan sebesar 76% untuk remaja pria perkotaan dan 71,2% untuk perdesaan. Determinan keinginan menggunakan kontrasepsi pada remaja pria di perkotaan dipengaruhi oleh level pendidikan tertinggi, paparan informasi mencegah kehamilan dari sekolah, paparan informasi mencegah kehamilan dari televisi, pengetahuan terkait mencegah kehamilan, sikap terhadap kondom, persepsi usia ideal memiliki anak pertama, persepsi jumlah ideal anak, dan persepsi jarak antar kehamilan. Adapun untuk perdesaan dipengaruhi oleh level pendidikan tertinggi (responden yang lulus SMA), paparan informasi mencegah kehamilan dari televisi, pengetahuan terkait mencegah kehamilan, Sikap terhadap kondom, Persepsi jumlah anak ideal, dan persepsi jarak antar. Persepsi jumlah anak ideal menjadi faktor dominan keinginan menggunakan kontrasepsi di wilayah perkotaan adapun di perdesaan sikap terhadap kondom merupakan faktor dominan terhadap keinginan menggunakan kontrasepsi.

IDHS-ARH 2017 reveals a decrease in the intention to use contraception, which mainly occurs in youth men. This study aims to obtain a determinant of the intention to use contraception in unmarried men aged 15-24 years in urban and rural areas of Indonesia. Design of this research is a cross sectional. Data were analyzed using logistic regression. Results: The proportion that expressed a intention to use contraception in the future was 76% in urban and 71.2% in rural areas. Determinant of the intention to use contraception in urban areas are influenced by the highest level of education, exposure to information preventing pregnancy from school, exposure to information preventing pregnancy from television, knowledge related to preventing pregnancy, attitudes toward condoms, perception of the ideal age of having a first child, perception of the ideal number of children. As for rural areas, it is influenced by the highest level of education (respondents who graduated from high school), exposure to information to prevent pregnancy from television, knowledge related to preventing pregnancy, attitude to condoms, perception of the ideal number of children. The perception of the ideal number of children is the dominant factor for intention to use contraception in urban areas, while in rural areas attitudes toward condoms are the dominant factor for intention to use contraception.

Read More
T-5960
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Ma`rifah; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Nazarudin Kemal Siregar, Sudijanto Kamso, Flourisa Juliaan, Enny Zuliatie
Abstrak: Perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja merupakan permasalahan yang serius dan penting untuk di perhatikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh riwayat konsumsi alkohol terhadap perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja dengan menggunakan analisis data SDKI-KRR tahun 2017. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 5.680, sample diambil berdasarkan total samping data yang masuk dalam kriteria inklusi dan eklusi penelitian. Hasil penelitian ini menujukan bahwa distribusi frekuensi remaja yang telah melakukan hubungan seksual pranikah di Indonesia tahun 2017 sebesar 23,03% (1.308). Hasil analisis multivariat pengaruh riwayat konsumsi alkohol terhadap perilaku hubungan seksual pranikah memiliki p-value 0,000 dengan OR 2,965 CI 95% (2,329- 3,774) setelah dikontrol oleh variabel umur, sikap, dan variabel interaksi riwayat konsumsi dengan umur.
Read More
T-5570
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Permatasari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dadan Erwandi, Sandra Fikawati, Dian Kristiani Irawati, Wara Pertiwi Osing
Abstrak:
Berdasarkan data SDKI terjadi peningkatan prevalensi perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja umur 15-24 tahun. SDKI 2017 menyebutkan sebanyak 8% remaja pria dan 2% remaja perempuan telah melakukan hubungan seksual, lebih tinggi dibandingkan data SDKI 2012 yakni 7% remaja laki-laki dan 1% remaja perempuan melakukan hubungan seksual pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku hubungan seksual pranikah remaja umur 15-24 tahun di Indonesia dengan menggunakan data SDKI 2017 dengan disain cross sectional. Sampel sebesar 12.363 remaja yang memenuhi kriteria remaja pria dan WUS umur 15-24 tahun, pernah atau sedang berpacaran, memiliki teman sebaya, dan memiliki teman dengan pengalaman seksual pranikah. Data dianalisis menggunakan uji logistik regresi ganda menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan 8,4% remaja yang sedang atau pernah berpacaran pernah melakukan hubungan seksual pranikah dan 21,9% remaja mendapatkan pengaruh buruk perilaku seksual teman sebayanya. Hasil analisis mendapatkan adanya pengaruh teman sebaya terhadap perilaku hubungan seksual pranikah, remaja yang mendapatkan pengaruh buruk dari perilaku seksual teman sebayanya berisiko 4 kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang tidak terpengaruh teman sebaya setelah dikontrol oleh sikap terhadap perilaku seksual pranikah, gaya berpacaran dan riwayat konsumsi alkohol. Diperlukan upaya peningkatan keterlibatan remaja dalam kegiatan bermanfaat, sehingga dapat menciptakan lingkungan pergaulan yang baik serta dapat menghindarkan remaja dari pengaruh seksual pranikah teman sebaya

Based on IDHS 2017, there is an increase in the prevalence of premarital sexual intercourse among adolescents aged 15-24 years. IDHS 2017 as many as 8% of male adolescents and 2% of female adolescents have had sexual intercourse compared to the 2012 IDHS data as many as 7% of boys and 1% of female adolescents premarital sexual relations. This study aims to determine the effect of peers on premarital sexual relations behavior of adolescents aged 15-24 years in Indonesia using the IDHS 2017 with cross sectional design. Sample of 12,363 adolescents who meet the criteria for male adolescents and female aged 15-24 years, have currently dating, having peers, and having friends with premarital sexual experiences. Data were analyzed using multiple regression logistic tests using the SPSS program. The results showed that 8.4% of adolescents who are currently or have been dating have had premarital sexual intercourse and 21.9% of adolescents have had a bad influence on their peer sexual behavior. The results of the analysis show that there is peer influence on premarital sexual intercourse behavior, adolescents who get influence from their peer sexual behavior have 4 times the risk of having premarital sexual intercourse compared with adolescents who are not influenced by peers after being controlled by attitudes towards premarital sexual behavior, dating style and a history of alcohol consumption. Efforts are needed to increase youth involvement in more useful activities so that they can create a good social environment and can prevent adolescents from the sexual behavior of peers

Read More
T-5933
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mira Maryani Latifah; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Nia Erviani, Lovely Daisy
Abstrak: Angka Unmet need yang relatif tergolong tinggi yakni sebesar 11 % menunjukkan bahwa pelayanan Keluarga Berencana pada beberapa lapisan masyarakat tidak terpenuhi dan masih terdapat wus yang belum menggunakan kontrasepsi padahal sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Sikap seorang wanita untuk menginginkan, memilih, mempertimbangkan hingga menggunakan alat kontrasepsi atau menjangkau pelayanan keluarga berencana tidak hanya bergantung pada karakteristik individu semata namun juga terkait karakteristik suami atau pasangan. Data SDKI 2017 menyatakan bahwa sebanyak 23 persen pria menyatakan ingin menambah anak dalam waktu 2 tahun. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif desain penelitian potong lintang dengan menggunakan data sekunder survei demografi kesehatan Nasional (SDKI) 2017. Sampel pada penelitian ini sebanyak 32164 wanita usia subur yang berstatus menikah dan telah memiliki anak serta suami wanita usia subur setelah dilakukan pembobotan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square, analisis complex sample, analisis stratifikasi dan cox regressions. Hasil penelitian didapatkan bahwa Preferensi fertilitas suami yang ingin memiliki anak dan tidak memiliki pengetahuan berisiko 1,14 kali lebih besar (CI 95% 1,19-2,55) menyebabkan wanita usia subur tidak menggunakan kontrasepsi.
Unmet Need have relatively high number 11%, indicates that family planning services in several levels of society are not being met and there are still not using contraception even though they do not want to have children anymore. The attitude of a woman to want, choose, consider using contraception or reach out to a family planning service is not only based on individual characteristics but is also related to the characteristics of her husband or partner. The IDHS 2017 data stated that as many as 23 percent of men stated that they wanted to have more children within 2 years. This study is a cross-sectional quantitative study using secondary data from the 2017 National Health Demographic Surveillance (IDHS). The sample in this study were 32164 women of egible age who were married and had children and the husbands. Data analysis was performed by chi-square test, complex sample analysis and cox regression. The results showed that the fertility preference of husbands who wanted to have children and did not have knowledge had a risk of 1.14-1,86 times greater (95% CI 1.19-2.55) causing women of childbearing age not to use contraception
Read More
T-6161
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ismi Adzani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Mieke Savitri, Luknis Sabri
T-4420
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafda Ardhian Latansyadiena; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kemal Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Andi Sari Bunga Untung
Abstrak: Tesis ini membahas pengaruh media terhadap perilaku seksual pada remaja di Indonesia usia 15 - 24 tahun erilaku seksual tanpa adanya ikatan pernikahan merupakan perilaku seksual berisiko dan menjadi prediktor kuat kesehatan seksual buruk di masa depan. Pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, fenomena ini tidak sejalan dengan output yang diharapkan, yaitu berkurangnya perilaku seksual berisiko pada remaja. Media menjadi sumber informasi kesehatan yang kuat karena mampu memberikan gambaran yang menarik. Disisi lain, remaja merupakan pengguna utama media massa, terutama internet. entingnya pengoptimalan media internet, khususnya media sosial, sebagai sumber informasi edukasi kesehatan, serta memfasilitasi layanan interaktif agar meminimalkan persepsi berisiko atas informasi yang didapatkan oleh remaja
Read More
T-6011
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prila Khairunnisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal, Yovsyah, Weni Muniarti, Suparmi
Abstrak: Infeksi menular seksual merupakan pintu masuk terjadinya infeksi HIV. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu di tahun 2013 ditemukan (9%) kasus baru IMS pada remaja perempuan (10-19 tahun), Di Ambon terjadi peningkatan kejadian IMS pada remaja perempuan (15-24 tahun) dari (28,67%) di tahun 2011 menjadi (32,53%) di tahun 2013. Tahun 2018 ditemukan (15%) kasus IMS di RSCM terdiri dari anak berusia (12-22 tahun). Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor yang berhubungan dengan risiko terjadi infeksi menular seksual pada wanita usia subur (15-24 tahun) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel 4.240 wanita usia (15-24 tahun). Data diperoleh dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 dan dianalisis menggunakan analisis multivariat cox regression. Analisis multivariat cox regression menunjukkan bahwa remaja perempuan dengan pengetahuan yang kurang baik memprediksi risiko kejadian IMS pada remaja. Prediktor utama adalah pengetahuan remaja (PR 1,489; p: 0,000, CI 1,243-1,783) yang artinya wanita yang memiliki pengetahuan kurang baik tentang IMS berisiko terkena IMS sebesar 1,489 kali dibanding wanita yang memiliki pengetahuan baik. Menghilangkan stigma seksual adalah tabu dan terbatas pada pasangan sudah menikah serta promosi alat kontrasepsi kondom perlu ditingkatkan sehingga wanita memperoleh informasi tentang dampak dan pencegahan tertular IMS dengan lebih baik.
Sexually transmitted infections are the gateway to HIV infection. Based on the results of previous studies in 2013, new STI cases were found (9%) in adolescent girls (10-19 years). to (32.53%) in 2013. In 2018 it was found (15%) STI cases at RSCM consisted of children aged (12-22 years). This study aims to find factors associated with the risk of sexually transmitted infections in women of childbearing age (15-24 years) in Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of 4,240 women aged (15-24 years). Data were obtained from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey and analyzed using cox regression multivariate analysis. Multivariate cox regression analysis showed that female adolescents with poor knowledge predicted the risk of STIs in adolescents. The main predictor was knowledge of adolescents (PR 1.489; p: 0.000, CI 1.243-1.783) which means that women who have poor knowledge about STIs are at risk of getting STIs by 1.489 times compared to women who have good knowledge. Eliminating sexual stigma is taboo and limited to married couples and the promotion of condom contraception needs to be increased so that women get better information about the impact and prevention of contracting STIs.
Read More
T-6684
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neiza Rachma; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dien Anshari, Chandra Rudyanto, Maria Gayatri
Abstrak:
Remaja merupakan bagian dari generasi penerus bangsa yang memiliki peran besar dalam kemajuan suatu bangsa. Karakteristik remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ingin diperhatikan diakui eksistensinya dan emosi yang belum stabil, mudah dipengaruhi oleh teman, mengutamakan solidaritas kelompok menyebabkan remaja rentan terhadap perilaku seksual pranikah berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual pranikah pranikah remaja usia 15-24 tahun di Indonesia dengan menggunakan data SDKI 2017. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel sebesar 12.903 responden yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada responden yang sedang atau pernah berpacaran yang menyatakan pernah melakukan perilaku seksual pranikah pranikah sebesar 44% dan responden yang memeiliki pengetahuan rendah sebesar 40,9%. Hasil analisis multivariat pengaruh pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual pranikah pranikah didapatkan responden yang mendapatkan memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi rendah berisiko melakukan perilaku seksual pranikah pranikah sebesar 0,8kali dibandingkan yang memiliki pengetahuan tinggi seteah di konrol oleh pengaruh teman sebaya.

Adolescents are part of the nation's next generation who have a big role in the progress of a nation. Characteristics of adolescents tend to have high curiosity, want to be recognized for their existence and unstable emotions, easily influenced by friends, prioritizing group solidarity, causing adolescents to be vulnerable to risky sexual behavior. This study aims to determine the effect of reproductive health knowledge on premarital sexual behavior of adolescents aged 15-24 years in Indonesia using the 2017 IDHS data. The design used in this study was cross sectional with a sample of 12,903 respondents who met the study inclusion criteria. The results showed that 44% of respondents who are currently or have been dating who have ever engaged in premarital sexual behavior and respondents who have low knowledge are 40.9%. The results of the multivariate analysis of the effect of knowledge of reproductive health on premarital sexual behavior found that respondents who had knowledge of low reproductive health had a risk of engaging in premarital sexual behavior by 0.8 times compared to those who had high knowledge after being controlled by peer influence.

Read More
T-5906
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rista Yunanda; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Wahyu Septiono, Titeu Herawati, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Kekerasan seksual pada remaja usia 13–17 tahun adalah tindakan seksual terhadap remaja yang berusia dibawah usia hukum dan belum matang secara psikososial, yang terjadi akibat eksploitasi kerentanan, dan tanpa persetujuan yang sah. Pelaporan kekerasan seksual pada remaja semakin meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti determinan kekerasan seksual pada remaja di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori sosio-ekologi. Sumber data menggunakan data SNPHAR tahun 2021. Jumlah sampel sebanyak 4.903 remaja usia 13-17 tahun. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariabel. Temuan hasil penelitian ini menunjukan prevalensi kekerasan seksual di wilayah perkotaan sebesar 6,09% dan di pedesaan sebesar 5,84%. Determinan kekerasan seksual di perkotaan mencakup jenis kelamin (AOR: 2,57 95% CI: 1,69-3,90), sikap terhadap gender (AOR : 1,52 95%CI: 1,02-2,27), pekerjaan (AOR : 1,78 95% CI: 1,12-2,86) dan dukungan keluarga (AOR: 2,68 95%CI : 1,89-3,81). Kemudian, determinan kekerasan seksual di pedesaan mencakup disabilitas (AOR: 2,55 95%CI: 1,22-5,31), jenis kelamin (AOR: 2,35 95%CI: 1,39-3,97), dukungan keluarga (AOR: 2,56 95%CI: 1,78-3,68), pekerjaan (AOR : 1,85 95%CI : 1,13-3,01) dan paparan informasi kesehatan reproduksi (AOR: 0,54 95%CI: 0,31-0,94). Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperlukan pencegahan primer, sekunder dan tersier agar kekerasan seksual pada remaja di Indonesia dapat ditangani.

Sexual violence against adolescents aged 13–17 years is a sexual act against adolescents who are under the legal age and psychosocially immature, which occurs as a result of exploitation of vulnerability and without true consent. Reports of sexual violence against adolescents are increasing every year. This study aims to investigate the determinants of sexual violence against adolescents in urban and rural areas of Indonesia. The study employs a socio-ecological theory. Data sources utilize the 2021 SNPHAR data. The sample size comprises 4,903 adolescents aged 13–17 years. The analyses employed include univariate, bivariate, and multivariable analyses. The findings of this study show that the prevalence of sexual violence in urban areas is 6.09% and in rural areas is 5.84%. Determinants of sexual violence in urban areas include gender (AOR: 2.57, 95% CI: 1.69-3.90), attitudes toward gender (AOR: 1.52, 95% CI: 1.02–2.27), occupation (AOR: 1.78, 95% CI: 1.12–2.86), and family support (AOR: 2.68, 95% CI: 1.89–3.81). Furthermore, determinants of sexual violence in rural areas include disability (AOR: 2.55, 95% CI: 1.22–5.31), gender (AOR: 2.35, 95% CI: 1.39–3.97), family support (AOR: 2.56, 95% CI: 1.78–3.68), occupation (AOR: 1.85, 95% CI: 1.13–3.01), and exposure to reproductive health information (AOR: 0.54, 95% CI: 0.31–0.94). Based on the results of this study, primary, secondary, and tertiary prevention measures are needed to address sexual violence among adolescents in Indonesia.
Read More
T-7243
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive