Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34041 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eunike Bunga Putriani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Salimar
Abstrak: Stunting atau pendek untuk anak seusianya, didefinisikan sebagai PB/U <-2 SD darimedian standar pertumbuhan anak milik WHO. Stunting memiliki dampak jangkapendek dan jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktordominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madangtahun 2019. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Gizi dan Kesehatan BalitaBabakan Madang dengan jumlah sampel 283 anak yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, serta memiliki data yang lengkap. Variabel dependen yang digunakan yaitustunting, sementara variabel independennya adalah pendapatan keluarga, tingkatpendidikan ibu, usia ibu saat hamil, tinggi badan ibu, pemberian kolostrum, usia mulaipemberian MPASI, dan kerutinan kunjungan ke posyandu. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 6-23 bulan mencapai 33,2persen, yang termasuk dalam kategori tinggi menurut klasifikasi WHO pada tahun1995. Hasil analisis bivariat dengan uji chi square menunjukkan bahwa terdapathubungan antara kerutinan kunjungan ke posyandu dengan kejadian stunting. Hasilanalisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa kerutinankunjungan ke posyandu merupakan faktor dominan kejadian stunting (OR= 2,102; 95%CI 1,268-3,486). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi posyandu, yaitu menetapkanwaktu teratur untuk pelaksanaan posyandu, rutin memberikan penyuluhan terkait gizidan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita, serta melakukan kunjungan rumah pada ibuatau pengasuh bayi dan balita yang tidak rutin ke posyandu. Saran bagi masyarakat,yaitu untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu. Kemudian, saran untukpeneliti lain, yaitu melakukan penelitian dengan cakupan yang lebih luas danmendalam.Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; kerutinan kunjungan ke posyandu; stunting.
Read More
S-10268
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitratur Rahmah Agustina; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Kusharisupeni Djokosujono, Salimar, Sugiatmi
Abstrak: Kekurangan gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik, intelektual dan juga dianggap sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian underweight pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian payung Hibah PITTA B tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17,3% anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang mengalami underweight, dan 6,1% di antaranya mengalami severly underweight. Dari 214 anak, 63,6% anak berusia 12-23 bulan, 50,5% laki-laki, 7% mengalami BBLR, 75,7% lahir dari ibu berpendidikan rendah, 47,7% memiliki ibu dengan pengetahuan kurang, 68,7% tidak memperoleh ASI eksklusif, 25,2% mengalami diare, 46,7 % mengalami defisit energi, dan 46,7% defisit protein. Hasil analisis chisquare menunjukkan bahwa tidak satupun variabel berhubungan dengan kejadian underweight. Namun, hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa usia anak (p value = 0,014), pendidikan ibu (p value =0,029) berhubungan signifikan dengan kejadian underweight. Adapun pengetahuan ibu (p value = 0,004) berhubungan terbalik dengan kejadian underweight. Pendidikan ibu merupakan faktor dominan kejadian underweight pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019 (OR= 3,259, 95% CI ; 1,132-9,382). Peneliti menyarankan Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki anak usia 6-23 bulan tentang gizi bayi dan balita, gejala dan dampak dari kekurangan gizi, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, beserta faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak
Read More
T-6110
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Nur Laili Mayang; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Maya Adiyanti
Abstrak: ABSTRAK Stunting merupakan pertumbuhan tidak normal karena kekurangan zat gizi kronis selama masa kehamilan sampai 2 tahun pertama kehidupan. Anak yang stunting memiliki metabolisme yang rendah dan menghambat oksidasi lemak sehingga berisiko tinggi mengalami kegemukan di usia 3-5 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian stunting pada anak usia 0-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang Tahun 2018. Penelitian dilakukan menggunakan desain cross sectional, menggunakan data sekunder Gizi dan Kesehatan Balita dengan jumlah sampel 279 yang didapatkan setelah melakukan teknik purposive sampling dengan kriteria eksklusi anak lahir tidak cukup bulan. Pengambilan data sekunder dilakukan dengan cara membuat kaji etik dan surat permohonan kepada pemilik data. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 0-23 bulan mencapai 21,1%. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukan perbedaan bermakna kejadian stunting berdasarkan asupan energi (OR= 2,059; 95%CI 1,145-3,705), asupan zink (OR= 2,987; 95%CI 1,641-5,435), dan asupan zat besi (OR= 4,246; 95%CI 2,172-8,301) pada anak usia 0-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa asupan zat besi sebagai faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 0-23 bulan setelah dikontrol oleh variabel jumlah balita, asupan zink, keberagaman makanan, ASI eksklusif, asupan energi, praktik BAB keluarga, pendidikan ibu, jumlah keluarga, asupan protein. (OR= 3,392; 95%CI 1,373-8,376). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi suku dinas yaitu mengkampanyekan peningkatan asupan zat besi selama 1000 HPK, bagi puskesmas dan posyandu untuk melakukan pengukuran panjang badan dan penyuluhan ke masyarakat tentang pentingnya asupan zat besi bagi anak dan ibu hamil. Selanjutnya, saran untuk peneliti lain adalah melakukan penelitian lebih luas serta membandingkan antara pedesaan dan perkotaan serta melakukan 3 kali food re-call untuk mengetahui asupan makan anak secara keseluruhan. Kata kunci: Stunting, asupan zat besi, anak usia 0-23 bulan Stunting is an abnormal growth due to chronic malnutrition during pregnancy until the first two years of life. Stunting children have a low metabolism and inhibit the oxidation of fat so that high risk of obesity children age 3-5 years. The objective of this research is to determine the dominant factor related with stunting occurrence among children aged 0-23 months in Babakan Madang district in 2018. The research was descriptive study with cross sectional design that using secondary data of Nutrition and Health of toddler and include 279 children taken after doing purposive technique sampling with the exclusion criteria of pre-term birth. Secondary data collection is done by making ethical clearance and application letter to data owner. The results showed prevalence of stunting in children aged 0-23 months was 21.1%. The results of bivariate analysis with chi-square test found significant differences stunting incidence based on energy intake (OR = 2.059; 95% CI 1.145-3,705), zinc intake (OR = 2,987; 95% CI 1,641-5.435), and iron intake (OR = 4,246 ; 95% CI 2.172-8.301). Furthemore, multivariate analysis with binominal logistic regression showed iron intake as a dominant factor of stunting occurrence among children aged 0-23 months after controlled by other variable of number of toddler, zinc intake, food diversity, exclusive breastfeeding, energy intake, family laterine, mother education, number of family, and protein intake (OR = 3,392; 95% CI 1.373-8.376). Based on this research, the recommendations for Suku Dinas Kesehatan are to appeal for increase iron intake during 1000 HPK, for puskesmas and posyandu to measurement body length and counseling to the community about importand iron intake for child and pregnant mother. And then, the advice for researchers are more extensive research and compare between rural and urban and use 3 times food re-call to know the overall intake of children. Key words: stunting, iron intake, aged 0-23 months old
Read More
S-9841
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Yuliastini; Pembimbing: Raden Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Sandra Fikawati, Nurhayati, Armein Sjuhary Rowi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan faktor kejadian diare pada balita 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Desain penelitian adalah cross sectional. Metode pengambilan sampel yaitu cluster random sampling, diperoleh 612 balita. Pengumpulan data dilakukan bulan Mei-Agustus 2019, dengan mengukur berat badan dan panjang badan balita serta wawancara terstruktur kepada ibu balita menggunakan kuesioner. Hasil penelitian diketahui 22,5% balita mengalami diare pada 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan dan 3 bulan terakhir sebelum wawancara dilakukan. Faktor dominan terjadinya diare pada balita 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019 adalah sumber air bersih untuk minum setelah dikontrol variabel usia ibu, menyimpan MP-ASI sisa, potong kuku balita, air bersih untuk masak dan mencuci peralatan makan balita. Perlu diupayakan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah, penyehatan lingkungan dengan penyuluhan tentang bahaya diare dan cara pencegahannya.

This study aims to determine the determinants incidence of diarrhea in infants 6-59 months in Babakan Madang District in 2019. Study design was cross sectional. Sampling method was purposive sampling, obtained 612 toddlers. Data collection in May August 2019, by measuring the weight and length of infants, structured interviews with toddler mothers using questionnaire. The results of the study found that 22,5% of children under five had diarrhea at 1 week, 2 weeks, 1 month and the last 3 months before the interview. Dominant factor in the occurrence of diarrhea in infants 6-59 months in Babakan Madang Sub-district in 2019 was the source of clean water for drinking after being controlled by the mother's age variable, storing leftover complementary feeding, cutting toddler's nails, clean water for cooking and washing toddler's tableware. Infrastructure needs to be sought to meet drinking water needs for low-income people, environmental health through counseling about the dangers of diarrhea and how to prevent it.

Read More
T-5882
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primasti Nuryandari Putri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Armein Sjuhary, Sulistyowati, Budi Haryanto
Abstrak: Tesis ini membahas determinan lingkungan yang ada pada kejadian stunting balita usia 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat fenomena masalah kesehatan dalam hal ini kejadian stunting beserta determinan lingkungan yang mempengaruhinya. arak kandang dengan rumah balita stunting, dan keterkaitannya dengan hubungan gejala ISPA selama 3 bulan dan interaksinya dengan pengaruh iklim (suhu, temperature, kecepatan dan arah angin) terhadap stunting digambarkan secara representative melalui pemetaan. Beberapa variabel dapat dijelaskan dengan lebih baik melalui deskriptif spasial yaitu jarak kandang dengan rumah balita
This thesis discusses the environmental determinants that occur in stunting toddlers aged 6-59 months in Babakan Madang District in 2019. The purpose of this study is to look at the phenomenon of health problems in this case the incidence of stunting with the environmental determinants that influence it. This research is an wise team study with funds from the research directorate and community service at Universitas Indonesia. Using cross-sectional design to take primary data with multi stages sampling method and the way of taking respondents in Posyandu using purposive cluster sampling The distance of the poultry cages with a stunting children's house, and its relationship to the ARI symptoms for 3 months and their interactions with the influence of climate (temperature, wind speed and direction) to stunting are representative through mapping. Some variables can be explained better through spatial descriptive, namely the distance of the cage with a toddler's house. The influence of the distance of the poultry cage with the children's house and there is an interrelated relationship with the temperature, wind direction and wind speed on the incidence of recurrent infectious
Read More
T-6005
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kelvin Halim; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dewi Damayanti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan melihat hubungan keragaman konsumsi pangan dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 149 anak usia 6-35 bulan di Kecamatan Babakan Madang selama bulan April-Juni 2019. Skor keragaman konsumsi pangan diambil dari 1x24hr food recall berdasarkan 7 kelompok pangan dan dikategorikan berdasarkan beragam (<4 kelompok pangan) dan tidak beragam (≥4 kelompok). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada anak sebesar 32.2%. Selain itu, 31.5% anak mengonsumsi pangan tidak beragam, dan 79,5% anak belum mencapai minimum acceptable diet. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan bermakna antara keragaman konsumsi pangan (p=0.033), minimum acceptable diet (p=0.013), dan konsumsi sayur dan buah sumber vitamin A (p=0.015). Namun, belum ditemukan adanya hubungan bermakna antara frekuensi pemberian makan dengan kejadian stunting (p=0.995). Maka dari itu, upaya intervensi perlu dilakukan dengan meningkatkan keragaman pangan dan kualitas makan bayi dan anak dalam menurunkan risiko kejadian stunting di tingkat keluarga dan masyarakat.
Read More
S-9980
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Dhani Yustika; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Salimar
Abstrak: Anak dengan kondisi stunting mengalami pertumbuhan yang tidak optimal, daya tahan tubuh rendah dan rentan terhadap penyakit, dan kemampuan kognitif yang rendah, meningkatkan risiko kegemukan dan penyakit degeneratif sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan hubungan asupan zat gizi, riwayat ASI eksklusif, riwayat infeksi penyakit, berat lahir, panjang lahir, pendidikan ayah dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data sekunder Gizi dan Kesehatan Balita di Kecamatan Babakan Madang Tahun 2018 dengan jumlah sampel 134 responden yang didapatkan dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis bivariat dengan uji chisquare menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan pendidikan ibu terhadap kejadian stunting (p= 0,040; OR= 2,986; 95%, CI: 1,128-7,903). Diperlukan peran aktif Dinas Kesehatan untuk mensosialisasikan pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak serta puskesmas dan posyandu untuk melakukan pengukuran tinggi badan minimal 6 bulan sekali.
 

 
Stunting causing non-optimal growth, low endurance, susceptibility to disease and low cognitive abilities and increase the risk of obesity and degenerative diseases which affected human resources quality. This study aims to determine the relationship between nutrient intake, history of exclusive breastfeeding, history of disease infection, birth weight, length of birth, paternal education and maternal education with stunting. This cross-sectional study using secondary data in Babakan Madang District, Bogor in 2018 with a sample of total 134 children obtained by purposive sampling technique. Bivariate analysis with the chi-squared test showed that there was significant relationship between maternal education and the incidence of stunting (p = 0.04; OR = 2.986; 95%, CI: 1,128-7,903). This study gives us empirical evidence for Ministry of Health to increasing campaign and promotion regarding the importance of balanced nutrition for children under five and Puskesmas and Posyandu should be used to measure height for age at least once in six months.
Read More
S-9915
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiddlin Nurani Qomara Putri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Kusharisupeni
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan nilai tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) berada di bawah -2 standar deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Kejadian stunting bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor anak, pola asuh dan pemberian makan, kondisi kesehatan, karakteristik ibu, serta faktor lingkungan dan sanitasi. Dampak stunting tidak hanya berupa hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, peningkatan risiko PTM pada usia dewasa, serta menurunnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2024 mencapai 35,4%, jauh di atas prevalensi nasional (19,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional yang meneliti data sekunder SSGI 2024 dengan jumlah sampel 713 anak serta metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda dengan analisis bivariat menghasilkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pola konsumsi susu, sumber air minum rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan/sikap ibu terkait stunting dengan kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di Sulawesi Barat. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat IMD, ASI eksklusif, konsumsi protein hewani, Minimum Acceptable Diet (MAD), riwayat penyakit infeksi, kepemilikan jamban, dan status pekerjaan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah berat badan lahir (aOR = 3,05) yang berarti anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang 3,05 kali lebih besar untuk mengalami stunting.

Stunting is a condition of growth failure characterized by a height-for-age (HAZ) or length-for-age (LAZ) below -2 standard deviations of the WHO Child Growth Standards. Stunting is a multifactorial condition influenced by child characteristics, feeding practices, health status, maternal factors, as well as environmental and sanitation conditions. The impact of stunting includes not only impaired physical growth but also cognitive developmental delays, an increased risk of non-communicable diseases (NCDs) in adulthood, and reduced productivity. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Sulawesi Province in 2024 was 35.4%, which is considerably higher than the national prevalence (19.8%). This study aimed to identify the dominant factors associated with stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi in 2024. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. A total of 713 children were included through total sampling. Data were analyzed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between child sex, birth weight, birth length, milk consumption pattern, household drinking water source, maternal education level, and maternal knowledge and attitudes regarding stunting with the occurrence of stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi. However, no significant associations were found between early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, animal-source protein consumption, Minimum Acceptable Diet (MAD), history of infectious diseases, household latrine ownership, maternal employment status, and stunting. Multivariate analysis identified low birth weight as the dominant factor associated with stunting (aOR = 3.05), indicating that children with low birth weight were 3.05 times more likely to experience stunting than those with normal birth weight.
Read More
S-12348
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriela Sanjaya; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Rahmawati
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yangterjadi sebagai akibat dari buruknya asupan makan anak, kejadian infeksi yangberulang, dan tidak adekuatnya stimulasi psikosoial. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadianstunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017. Penelitiandilakukan dengan desain cross sectional, menggunakan data primer denganjumlah sampel sebanyak 210 anak yang diambil dengan teknik multistage randomsampling dari 12 Posyandu pada 6 kelurahan dari 3 kecamatan di Jakarta Barat.Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengukuran panjang badananak dan melakukan wawancara dengan responden. Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa sebanyak 16,2% anak usia 6-23 bulan di Jakarta Baratmengalami stunting. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukanbahwa faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stuntingpada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat adalah suplementasi vitamin A(OR=3,62; 90% CI 1,144-8,939) dan tingkat pendidikan ibu (OR=2,40; 90% CI1,167-4,885). Hasil analisis multivariat dengan analisis regresi logistik gandamenemukan bahwa suplementasi vitamin A merupakan faktor dominan darikejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017 setelahdikontrol oleh variabel capaian MAD, praktik pemberian kolostrum, dan tingkatpendidikan ibu (OR=4,00; 90% CI 1,402-11,436). Berdasarkan hasil penelitian,saran untuk pihak Suku Dinas Kota Administrasi Jakarta Barat adalah perludilakukan assessment untuk mengetahui mengapa anak yang masih berusia kurangdari 6 bulan sudah diberikan susu formula, cakupan mendapatkan suplementasivitamin A harus ditingkatkan hingga mencapai 100%, perlu dilakukan penyediaanalat antropometri panjang badan yang baku untuk setiap Puskesmas danPosyandu, dan perlu dilakukan pelatihan mengenai prosedur yang baik dan benardalam mengukur panjang badan anak; saran untuk pihak Puskesmas dan Posyanduadalah perlu dilakukan pemantauan status gizi berdasarkan indeks PB/U setiap 3bulan sekali, perlu dilakukan pelatihan prosedur panjang badan kepada kader,perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai praktik pemberian makanyang tepat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan bagi anak; saran untuk penelitilain adalah penelitian perlu dilakukan pada skala yang lebih besar (baik dari sisijumlah sampel maupun wilayah), penggunaan variabel capaian minimum dietarydiversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet sebaiknyadigunakan secara berhati-hati dan pengukurannya dilakukan 2-3 kali pada hariyang berbeda, serta perlu dilakukan 24-hour dietary recall untuk mengetahuikeadekuatan asupan makan anak.Kata kunci: stunting, suplementasi vitamin A, usia 6-23 bulan.
Read More
S-9444
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Desinta Purnamasari; Pembimbing:; Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiati, Anies Irawati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran prevalensi stunting dan membuktikan hubungan antara riwayat penyakit TB paru serta faktor lainnya dengan kejadian stunting pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 194 balita yang didapat dengan cara cluster sampling. Pengambilan data dilakukan selama bulan Mei 2019. Proses pengambilan data meliputi pengukuran antropometri menggunakan microtoise dan digital length board yang telah divalidasi, wawancara food recall 1x 24 jam, dan pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan independent-t. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 35,6% balita stunting (Z-score PB/U atau TB/U ≤ -2,00). Faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting adalah riwayat penyakit TB paru. Peneliti merekomendasikan kepada puskesmas dan posyandu untuk melakukan upaya pencegahan penyakit TB paru pada anak, monitoring terhadap terapi TB paru pada anak hingga tuntas, dan peningkatan edukasi gizi kepada masyarakat Babakan Madang
Read More
S-10165
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive