Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36524 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ulfa, Laila; Pembimbing: Kusharisupeni; Ratu Ayu Dewi S; Tri Budi W Rahardjo/ Penguji: Hatma, Ratna Djuwita; Soedijanto Kamso; Diah Mulyawati Utari; Purwita Wijaya Laksmi; Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Menurunnya kemampuan fungsional merupakan salah satu masalah utama pada lansia dan menjadi problem kesehatan masyarakat yang serius. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perubahan status gizi terhadap status fungsional pada lansia di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kohort menggunakan data IFLS 2007-2014. Populasi target adalah individu usia ≥60 tahun (baseline) dengan jumlah sampel 511 orang yang memenuhi kriteria mandiri dan status gizi normal pada baseline dan diikuti sampai tahun 2014. Cox Regeression analysis digunakan pada penelitian ini. Hasil penelitian menemukan 6,1 % lansia dengan status fungsional yang menurun setelah tujuh tahun follow-up, dan lebih banyak ditemukan pada perempuan dan usia ≥ 70 tahun. Hasil studi ini membuktikan bahwa proporsi perubahan lansia dengan perubahan status gizi dari normal menjadi underweight dan overweight dengan status fungsional menurun lebih besar dibandingkan dengan status gizi yang tetap normal. Perubahan status gizi dari normal menjadi overweight berisiko 2,5 kali terhadap status fungsional yang menurun setelah dikendalikan oleh usia, penyakit arthritis dan riwayat jatuh. Mempertahankan status gizi tetap normal pada lansia dapat mencegah risiko menurunnya kemampuan dalam melakukan aktifitas dasar sehari-hari

A decrease in functional ability is one of major problems in the elderly and becomes a serious public health problem. The ability in activities of daily living is an important behavior that proves one's ability to live independently. This study aimed to analyze changes in nutritional status on functional status in the elderly in Indonesia. This study was a cohort study using 2007-2014 IFLS data. The target population was individuals aged ≥60 years (baseline) with a total sample of 511 people who met the independent criteria and normal nutritional status at the baseline and were followed until 2014. Cox regression analysis was used in this study. The results found that 6.1% of the elderly had decreased functional status after seven years of follow-up, and were more common in women and those aged ≥ 70 years. The results of this study proved that the proportion of the elderly with changes in nutritional status to underweight and overweight with functional status decreased was greater than the normal nutritional status. Changes in nutritional status from normal to overweight had 2.5 times the risk of decreased functional status after being controlled by age, arthritis and history of falls. Maintaining normal nutritional status in the elderly can prevent the risk of decreased ability to perform basic daily activities
Read More
D-421
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kandita Iman Khairina; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono, Fajrinayanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan factor kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat menggunakan data sekunder Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan desain cross-sectional. Sampel merupakan balita berusia 6-59 bulan di Jawa Barat dalam data SSGI 2021 dengan kriteria eksklusi balita mengalami gangguan mental, cacat fisik, dan penyakit kongenital. Variabel dependen dari studi ini adalah kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat dan independen adalah karakteristik keluarga (usia ibu, pendidikan ibu, dan status bekerja ibu), karakteristik balita (usia balita, status gizi, dan jenis kelamin), faktor perilaku (IMD, ASI eksklusif, dan imunisasi dasar), dan faktor lingkungan (jamban, sumber air minum, dan tempat tinggal). Hasil penelitian menunjukkan diare pada balita 6-59 bulan di Jawa Barat berdasarkan data SSGI 2021 sebesar 9,1%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian diare yaitu usia balita, usia ibu, pendidikan ibu, sumber air, jamban, dan tempat tinggal

This study aims to determine the determinants of diarrhea incidence in infants aged 6-59 months in West Java Province using secondary data from Indonesia Nutritional Study Data 2021. This study is a descriptive study using cross-sectional design. Sample in this study is toddler aged 6-59 months in West Java Province in Indonesia Nutritional Study Data 2021 with inclusive criteria was toddler aged 6-59 months and exclusive criteria was mental disorder, physical disability, and congenital diseases. Dependent variable in this study is diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables are children age, children gender, children nutritional status, mother's age, mother's education, mother's working status, exclusively breastfeeding, early initiation of breastfeeding, vaccination status, latrines, water source, and type of residence.This study shows diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables that were shown to have significant relationship with diarrhea in this study are children's age, mother's age, mother's education, water source, latrines, and type of residence
Read More
T-6786
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kendrick; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Maya Fernandya Siahaan
Abstrak:
Stunting adalah salah satu bentuk malnutrisi yang diidentifikasi melalui nilai-z panjang atau tinggi badan anak di bawah -2 standar deviasi berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting dapat disebabkan oleh defisiensi zat gizi dan gangguan pertumbuhan anak selama 1000 Hari Pertama Kelahiran. Stunting dapat menyebabkan risiko morbiditas dan mortalitas, infeksi, dan perkembangan penyakit tidak menular. Pada tahun 2024, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki prevalensi stunting sebesar 37%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT berdasarkan data SSGI 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dan melibatkan 1.939 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2024. Variabel independen yang dilibatkan dibagi ke dalam faktor ibu, anak, dan rumah tangga. Data dianalisis secara bivariat dengan metode chi-square dan secara multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 41.8% pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT 2024. Variabel usia ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pengetahuan stunting, riwayat PBLR, riwayat ISPA, riwayat pneumonia, riwayat imunisasi dasar, indeks kekayaan, kepemilikan fasilitas sanitasi, sumber air minum, dan daerah tempat tinggal berhubungan signifikan dengan stunting. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT adalah tinggi badan ibu (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).

Stunting is a form of malnutrition identifiable through length- or height-for-age z-score below -2 standard deviation according to the WHO Child Growth Standards. Stunting can be caused by nutritional deficiencies and growth faltering throughout the First 1000 Days of Life. Stunting may increase risk of morbidity and mortality, infection, and non-communicable disease development. Eastern Nusa Tenggara has a 37% stunting rate in 2024. This research aims to identify risk factors correlated to stunting in children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara Province. The design of this study is cross-sectional and involves 1.939 amount of samples filtered with inclusion and exclusion criterias. Data involved in this study are from the 2024 SSGI. Independent variables involved are categorised into maternal, child, and household factors. Data were analysed bivariately through chi-square test and multivariately through multiple logistic regression. Results show that 41.8% children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara are stunted. Maternal age, maternal stature, antenatal care visits, knowledge on stunting, short birth length, URTI, pneumonia, immunisation history, wealth index, sanitation facility, drinking water source, and place of residence are found to be significantly associated with stunting. The dominant factor identified in this study is maternal stature (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).
Read More
S-12286
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurillah Amaliah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Engkus Kusnidar Achmad, Kusharisupeni, Abas Basuni Jahari, Eman Sumarna
Abstrak:

Menarche adalah menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang remaja putri. Menarche yang semakin dini memungkinkan remaja lebih cepat bersentuhan dengan kehidupan seksual sehingga kemungkinan untuk hamil dan menjadi ibu semakin besar. Menarche dini memberikan dampak terjadinya obesitas pada saat dewasa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran variabel yang berhubungan dengan status menarche, mengetahui hubungan status gizi dengan status menarche dan juga hubungan status gizi dengan status menarche pada remaja (usia 10-15 tahun) di Indonesia apakah dipengaruhi oleh asupan energi, keadaan sosial ekonomi keluarga, wilayah tempat tinggal dan usia menarche ibu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah remaja usia 10–15 tahun. Data dalam penelitian ini adalah data sekunder hasil Riskesdas tahun 2010 yang dilakukan oleh Balitbangkes, KemKes RI.  Penelitian dilakukan bulan Mei – Juni 2011 di FKM - UI. Analisis data dilakukan untuk semua variabel, bivariat dan stratifikasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 6802 responden (usia 10-15 tahun) di Indonesia sebesar 20,8% (1418 responden) sudah mengalami menarche dengan rata-rata usia menarche adalah 12,74±1,19 tahun. Ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan status menarche dengan nilai OR 1,940. Berdasarkan hasil analisis stratifikasi, tidak ada variabel confounder dalam hubungan antara status gizi dengan status menarche. Uji efek modifikasi juga menghasilkan tidak ada variabel yang berinteraksi pada hubungan antara status gizi dengan status menarche. Status gizi merupakan faktor utama yang berhubungan dengan status menarche, maka yang berkaitan dengan status gizi adalah konsumsi makanan sebagai asupan gizi remaja putri yang perlu mendapat perhatian utama. Oleh karena itu disarankan untuk memasyarakatkan dan menerapkan PUGS melalui sekolah dan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja diberikan sedini mungkin. Daftar bacaan : 51 (1985-2011) Kata kunci : menarche, status gizi, remaja


 Menarche is the first time menstruation experienced by girl. Early menarche allows a faster teenager in touch with her sex lives so the chances of teens to get pregnant and become a mother getting bigger. Early menarche impact obesity in adult. The study aims to know the description of variables related to menarche status, to know the association between nutritional status and menarche status and also the association between nutritional status and menarche in adolescent (aged 10-15 years) in Indonesia whether influenced by energy intake, family socio-economic situation, area of residence, and maternal age of menarche. This study was conducted with a quantitative approach and cross sectional design. The sample of study was girls aged 10-15 years. The data in this study is secondary data of Riskesdas in 2010 conducted by the National in Health Research and Development, Ministry of Health. The study was conducted in MayJune 2011 in the Faculty of Public Health – University of Indonesia, Depok – West Java. Data analysis are performed univariate, bivariate, and stratification. The study found that from 6802 respondents (aged 10-15 years) in Indonesia, 20,8% (1418 respondents) had experienced menarche with an average of menarche was 12,74±1,19 years. There is a significant association between nutritional status and menarche status with OR value 1,940. Based on stratification analysis, there is no confounder variables in association between nutritional status and menarche status. Modification effect test also shows there is no variable interact in association nutritional status and menarche status. Nutritional status is the major factor associated with menarche status, so that factor associated to nutritional status that is consumption of food as girl nutrient intake should receive primary attention. It is therefore advisible to promote and implement General Guidelines of Balance Nutrition through school and adolescent reproductive health knowledge should be given as early as possible. Reference : 51 (1985-2011) Key words : menarche, nutritional status, adolescents

Read More
T-3326
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rachmawany; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nur Pangroso
S-5021
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Isnaini Arifianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Asih Setiarini, Triyanti, Nurya Gustina, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan disebabkan oleh kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang memiliki dampak jangka panjang. Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita yang didapat dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2021 milik BKPK Kementerian Kesehatan RI. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, keragaman pangan), faktor ibu (pendidikan ibu dan pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban); faktor penyakit infeksi (ISPA, diare, pneumonia, TBC) dan faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A dan pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Data dianalisis menggunakan analisis data kompleks. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada balita 6-59 bulan adalah 22,7%. Berdasarkan analisis multivariat, determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah jenis kelamin (p-value 0,021; AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (p-value 0,009; AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang badan lahir (p-value 0,001; AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (p-value 0,009; AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347). Faktor dominan kejadian stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah panjang badan lahir pendek (AOR 2,09). Bayi panjang lahir pendek perlu mendapatkan intervensi KIE gizi dan kesehatan untuk ibu balita; mendapat makanan tambahan balita dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas serta pemantauan rutin setiap bulan di Posyandu agar tidak tumbuh menjadi balita stunting.
Stunting is a condition of growth failure caused by chronic nutritional deficiencies and repeated infections that have long-term effects. Stunting is still a public health problem in Banten Province because the prevalence is still high. This study aims to determine the determinants of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province. The research design used was cross sectional with a total sample of 1,643 toddlers obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used is the SSGI 2021 data belonging to the Indonesian Ministry of Health's BKPK. The independent variables in this study were child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity), maternal factors (mother's education and mother's occupation); food insecurity factor; environmental health factors (latrine ownership); infection disease factors (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis) and health service factors (giving vitamin A and treating sick toddlers in health facilities). Data were analyzed using complex data analysis. Bivariate analysis used the chi-square test and multivariate analysis used multiple logistic regression. The results showed that the proportion of stunting among toddlers aged 6-59 months was 22.7%. Based on multivariate analysis, the determinant of stunting for children aged 6-59 months in Banten Province is gender (p-value 0.021; AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); mother's education (p-value 0.009; AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); birth length (p-value 0.001; AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); food insecurity (p-value 0.009; AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347). The dominant factor in the incidence of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province is short birth length (AOR 2.09). Short-born babies need to receive health and nutrition communication, information, education interventions for mothers under five and get supplementary food for toddlers from the District/City Health Office and Community Health Centers as well as routine monitoring every month at the Posyandu so they don't grow into stunted toddlers.
Read More
T-6692
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Pratiwi; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Diah M. Utari, Yani Haryani
S-6566
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Anggraini Puspitasari; pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Yvone M. Indrawani, Salimar
S-7005
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Halasan Napitupulu; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Syaftri Guricci, Siti Hariani, Ranida
Abstrak:
Salah satu upaya apabila seseorang berhasil mencapai usia lanjut adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang bersangkutan pada kondisi optimal agar kualitas hidup yang bersangkutan tetap baik, gangguan gizi yang umumnya muncul pada lansia selain gizi kurang juga gizi lebih yang apabila dilihat dari sudut kesehatan, sama-sama merugikan dan dapat menyebabkan kematian dengan penyebab yang berbeda. Gangguan gizi pada lansia diduga berkaitan dengan perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran status gizi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lansia di kota Bengkulu. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel sebanyak 207 orang lansia yang berumur > 60 tahun dan dipilih dengan menggunakan systematic random sampling.Pengumpulan data variabel bebas seperti jenis kelamin, status perkawinan, status tempat tinggal, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, status ekonomi dan aktifitas fisik dilakukan dengan wawancara terstruktur sedangkan untuk konsumsi makanan (total energi, karbohidrat, protein dan lemak) dengan menggunakan dua pendekatan yaitu food recall dan food frequencies. Hasil penelitian melaporkan proporsi lansia yang mengalami gizi lebih sebesar 18,4% dan gizi kurang sebesar 19,3%. Hasil uji t menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (P>0,05) rata-rata IMT menurut jenis kelamin, status perkawinan dan status tempat tinggal serta tidak ada hubungan yang bermakna (p>0,05) antara pengetahuan gizi dengan IMT lansia. Akan tetapi, ada perbedaan yang bermakna (p<-0,05) rata-rata IMT antara lansia yang melakukan olah raga dengan yang tidak melakukan olah raga dan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05) rata-rata IMT menurut frekuensi, lama dan jenis olah raga. Selanjutnya ada hubungan yang bermakna (p<0,05) antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan IMT lansia. Ada hubungan yang bermakna (p<0,05) antara total energi dengan IMT serta ada hubungan yang bermakna (p<0,05) antara asupan karbohidrat, protein dan lemak dengan IMT setelah di adjusted dengan total energi. Hasil analisis multivariat regresi linier juga menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan dengan IMT lansia adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan dan asupan karbohidrat dengan koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,10 yang artinya variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan dan asupan karbohidrat hanya dapat menjelaskan IMT lansia sebesar 10%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lansia di kota Bengkulu mengalami masalah gizi ganda yaitu masalah gizi lebih sudah mulai timbul akan tetapi masalah gizi kurang masih terjadi. Untuk itu, perlu digalakkan promosi gizi melalui pendekatan keluarga dirnana lansia tinggal serta bila memungkinkan memberikan makanan tambahan kepada lansia yang kurang gizi terutama lansia dengan kondisi ekonomi yang kurang.

Factors Related to Nutritional Status among Elderlies Bengkulu City,2001When reaches elderly age, one should maintain an optimal nutritional status to ensure a good quality of life. Nutritional problems that occur during old ages may take two forms, that is, under nutrition or over nutrition, both are health devastating and might cause death due to different reasons. Nutritional problems among elderly relate to changes in both environment and health conditions in general. Thus, this study aims to describe the nutritional status and its related factors among elderly in Bengkulu city. The study design is cross-sectional with 207 subjects aged > 60 years of old and were selected using systematic random sampling. Structured interview was used to collect data such as gender, marital status, residential status, educational level, nutrition knowledge, economic status, and physical activity level. While for food consumption (to predict macronutrients consumption such as total energy, carbohydrate, protein, and fat), two methods, that is, food recall and food frequency questionnaires were employed. The study showed that the proportion of elderlies with over nutrition was 18,4% and elderlies with under nutrition was 19,3%. T-test showed no significant difference (p>O,05) in BMI for gender, marital status, and residential status. Moreover, there was no significant difference (p>O,45) in BM[ for nutrition knowledge. Significant difference (p< 0,05) was found in BMI for elderlies who perform sport activities and those who do not. However, no significant differences were found for frequency, duration, and type of sport activities. Significant differences in BMI (p<0,05) were found for different level of education, economic status, total energy intake, carbohydrate, protein, and fat intakes (after being adjusted for total energy intake). The multivariate tinier regression analysis showed that the dominant factors determining the BMI of elderlies in this study were gender, educational level, and carbohydrate intake (adjusted) with coefficient of determination (R2) of 0,10, meaning that these variables could only explain 10% of the BMI among elderlies in this study. The results of the study lead to conclusion that elderlies in Bengkulu city faced a double burden of nutritional problems, that is over nutrition and under nutrition at the same time. Therefore, an adequate nutrition promotion is to be embarked through family approach where most of elderlies stay. If possible, for elderlies with low economic status, a supplementary food should be provided.
Read More
T-1237
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fithri Nur Shobah; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Ida Ruslita
S-5971
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive