Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40506 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ronel Raders Sitompul; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Chandra Satrya, L. Meily Kurniawidjaja, Samy Awaluddin, Agus Mulyana
Abstrak:
Tesis ini membahas gambaran keluhan musculoskeletal symptoms yang terjadi pada 41 pengemudi professional light vehicle toyota hiace di PT ACD Indonesia Riau selama tahun 2020 untuk mencari penyebab terjadinya keluhan musculoskeletal symptoms yang terjadi dengan menggunakan metode REBA serta NBM tools, penelitian ini juga mencari bagaimana cara mencegah dan mengatasi keluhan yang terjadi kepada pengemudinya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif observasional deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menyarankan perusahaan untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan resiko ergonomi mengemudi kepada seluruh pengemudinya untuk meningkatkan tingkat awareness mereka terkait dengan keluhan yang dialami serta cara mengatasi nya; kegiatan olahraga rutin sebelum memulai pekerjaan; pertukaran pola kerja; serta perbaikan persyaratan saat melakukan prakualifikasi tender/lelang alat transportasi khusus nya persyaratan untuk kursi pengemudi yang dapat di adjustable naik dan turun serta roda kemudi yang bisa berfungsi tilt steering dan telescopic.

Driving requires high concentration for quick and accurate coordination between eyes, hands, feet and brain; therefore, driving is a job with high risk to experience exhaustion and other health disorders. The aim of this research is to illustrate the effects Musculoskeletal Symptoms (MSS) on drivers, their specific factors, as well as environmental factors towards 41 light vehicles professional drivers in 2020. This research is also a measure of risk levels of posture with REBA method on light vehicle drivers of toyota hiace at PT ACD Indonesia. The research method used is descriptive, qualitative, and observational with quantitative approach which applied to team SMO transportation at PT ACD Indonesia, especially in district of Duri. With this method, the researcher wants to get images of muscles and bones complaints also to figure ergonomic risk level using REBA method. Employee data is analyzed based on age, driving experiences, IMT, workout habit, smoking habits, driving duration, period of employment, work posture, physical and non- physical factors. The results of this research is drivers within the age group of 24-34 years old and period of employment less than 10 years never experience injuries and musculoskeletal complaints. Work pattern 5:2 with driving durations of 3 hours or more work responsibilities show 100% respondents experience musculoskeletal complaints on some of their body parts such as necks, backs, and calves. Drivers who of heights of 161 to 170 cm experience some complaints on their necks. Meanwhile those who work out a minimum three times a week for a minimum of 30 minutes per day dominantly experience musculoskeletal complaints on necks, the bottom of their backs, buttocks/thighs and calves. Based on this study, it is concluded that driving demands with high concentration can cause muscles constraints on their body parts, this can be seen on 90.2% respondents who experience musculoskeletal complaints on their body parts, meanwhile 9.8% do not experience any complaints, with 51.2% experience complaints on necks, 51.2% on the bottom of the backs, 56.1% on buttocks/thighs and 61.0% on calves. whereas, the biggest ergonomic risk level using REBA method while driving is when one has to turn steering wheel and also the dominant posture.

Read More
T-6025
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wilda Prasetyo Utomo; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, irma Setiawati
S-8752
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristin Indriyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Sumaryanto, Muhammad Fertiaz
Abstrak: Penelitian ini melakukan investigasi terhadap faktor-faktor ergonomi yang berhubungan dengan Indoor Health and Comfort/IHC (dengan indikator keluhan gejala SBS dan kenyamanan kerja) dan keluhan MSS yang dialami oleh pegawai fungsional dan staf di Kantor X. Penelitian ini dilakukan di Kantor X dengan objek penelitian yaitu pegawai fungsional dan staf yang bekerja menggunakan komputer/laptop dan berada di ruangan staf bertipe cubicle (ruangan A, B, C, D, dan E). Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan, wawancara, pengukuran kualitas lingkungan kerja di dalam ruangan serta pengisian kuesioner kenyamanan kerja, keluhan gejala SBS dan keluhan MSS. 53,85% pegawai memiliki tingkat kenyamanan kerja tinggi dan 46,15% pegawai memiliki tingkat kenyamanan kerja rendah. 53,85% pegawai merasakan keluhan gejala SBS dengan keluhan paling banyak ditemui 33,85% mata lelah dan 33,85% lelah atau mengantuk. 78,57% pegawai mengalami keluhan MSS. Faktor-faktor ergonomi yang tidak sesuai dengan standar meliputi : dimensi kursi, dimensi meja, penggunaan perangkat komputer, postur kerja, dimensi ruangan, layout ruangan, warna ruangan, serta faktor lingkungan berupa kebisingan, pencahayaan, temperatur, kelembaban, karbondioksida, formaldehyde, dan VOCs. Ditemukan adanya hubungan signifikan antara faktor level aktivitas dengan kenyamanan kerja; serta faktor konsentrasi VOCs dengan keluhan gejala SBS. Tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor-faktor ergonomi yang diteliti dengan keluhan MSS.

This study presents our investigations of ergonomic factors that related to Indoor Health and Comfort/IHC (with indicators Sick Building Syndrome (SBS) symptoms and work comfort) and Musculaskeletal Symptoms (MSS) suffered by functional and staff workers in Office X year 2017. Conducted in X Office in Indonesia, with the object study are functional and staff workers who work using computer or laptop in staff room which cubicle type (room A, B, C, D, and E). This study perform via walktrought observation, interview, measure indoor air quality/environment factors and fill indoor comfort quesionaire, SBS symptoms quesionaire and Nordic Body Map (NBM) quesionaire . 53,85% of workers have a high level of work comfort and 46,15% of workers have a low level of work comfort. 53,85% of workers suffered complaint of SBS symptoms with at most complaint of SBS symptoms be found are 33,85% tired or strained eyes and 33,85% fatigue or drowsiness. 78,57% of workers suffered MSS complaint. Ergonomic factors that not comform to standard include seat dimensions, table dimensions, computer used, work posture, room dimensions, room layout, room colors, and noise, lighting, temperature, humidity, carbon dioxide , formaldehyde, and VOCs. There is significant relationship between activity level factors and work comfort; VOCs concentration and complaint of SBS symptoms. There is no significant relationship between ergonomic factors are studied and MSS complaint.
Read More
T-5019
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Kurniati; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Chandra Satrya, Rusbani Kurniawan, Priyo Djatmiko
Abstrak: PT X adalah perusahaan yang bergerak di bidang ground handling penerbangan, yang memiliki karyawan office yang cukup sibuk. Banyak karyawan office berpostur janggal yang ditemukan ketika survei awalan. Kondisi ini meningkatkan risiko keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS) pada karyawan office PT X. Selain itu, belum pernah dilakukan analisis mengenai keluhan muskuloskeletal. Pada penelitian ini menggunakan studi cross sectional, yang bertujuan untuk mengalisis faktor yang berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS). Analisis dilakukan dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil pada penelitian ini, dari analisis univariat, diketahui bahwa keluhan MSS pada karyawan office PT X yang dirasakan dari 12 bulan terakhir hingga 7 hari terakhir sebanyak 55 orang (53,4 %), sedangkan yang diperoleh dengan analisis bivariat menunjukkan bahwa masa kerja, postur, stress, umur, dan jenis kelamin berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS). Sementara itu, dari analisis multivariat, variable yang dominan berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS) adalah postur, stress dan jenis kelamin
Read More
T-5585
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tanaya Angantari Paramitha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Chandra Satrya, Een Saputra Aprian
Abstrak: Skripsi ini berisi tentang hubungan faktor risiko manual material handling (MMH) dengan keluhan subjekif musculoskeletal symptoms (MSS) pada pekerja di Departemen Produksi Textile Chemical PT. X tahun 2020. Pada penelitian ini, observasi faktor risiko manual material handling (MMH) menggunakan kuesioner dan metode Quick Exposure Checklist (QEC). Selain itu, untuk mengetahui keluhan terhadap musculokeletal symptoms (MSS) peneliti menggunakan Nordic Body Map (NBM) Questionnaire. Desain studi merupakan studi cross sectional dengan pendekatan observasional. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk memberikan gambaran dari masing-masing faktor risiko manual material handling. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara faktor risiko individu (usia, masa kerja, indeks massa tubuh, kebiasaan olahraga, dan stress) dan faktor risiko pekerjaan (berat objek, durasi kerja, dan postur kerja) dengan keluhan musculoskeletal symptoms (MSS) yang dirasakan oleh pekerja di Departemen Produksi Textile Chemical PT. X Tahun 2020. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan keluhan musculoskeletal symptoms (MSS) yang dirasakan pekerja (p value = 0,040). Selain itu, terdapat hubungan antara stress kerja dengan keluhan musculoskeletal symptoms (MSS) yang dirasakan pekerja (p value = 0,044).

This thesis contains the relationship of risk factors for manual material handling (MMH) with complaints of subjective musculoskeletal symptoms (MSS) to workers in the Department of Textile Chemical Production of PT. X in 2020. In this study, observation of manual risk handling (MMH) risk factors is using questionnaires and the Quick Exposure Checklist (QEC) method. Besides, to find out complaints about musculoskeletal symptoms (MSS) researcher used the Nordic Body Map (NBM) Questionnaire. The study design is a cross-sectional study with an observational approach. The analysis used in this study is univariate and bivariate analysis. Univariate analysis is used to provide an overview of each risk factor for manual material handling. While bivariate analysis is used to see the relationship between individual risk factors (age, years of service, body mass index, exercise habits, and stress) and work risk factors (object weight, work duration, and work posture) with musculoskeletal symptoms (MSS) complaints that felt by workers in the Textile Chemical Production Department of PT. X in 2020. The results of this study found that there is a relationship between body mass index (BMI) with complaints of musculoskeletal symptoms (MSS) felt by workers (pvalue = 0.040). In addition, there is a relationship between work stress and musculoskeletal symptoms (MSS) complaints felt by workers (p-value = 0.044).
Read More
S-10284
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noviaji Joko Priono; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna, Marina Kartikawati
Abstrak: Musculoskeletal Symptoms (MSS) merupakan salah satu gangguan yang sangat umum terjadi dan menjadi masalah kesehatan para pekerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko individu, organisasi, lingkungan, fisik dan psikososial dengan MSS pada pekerja pabrik di Karawang, Indonesia. Metode: Desain study yang digunakan adalah cross sectional. Data dikumpulkan dari Januari- Juni 2019 melalui survey online pada 288 pekerja secara acak. Data dianalisis dengan menggunakan regresi logistik. Hasil: Prevalensi MSS pada leher, bahu, punggung atas dan punggung bawah lebih dari 60%. Jumlah rata-rata keluhan pada periode 7 hari terakhir adalah 4,3 keluhan dan periode 12 bulan terakhir adalah 4,8 keluhan dari total 9 bagian tubuh. Pekerja yang mengalami stress dapat meningkatkan risiko MSS pada leher 4,25 kali. Berat beban angkat >10kg meningkatkan risiko terjadinya MSS pada bahu sebesar 2,33 kali, punggung atas 3,25 kali, dan punggung bawah 3,52 kali. Kesimpulan: Kami menyimpulkan bahwa perlu ada perhatian khusus pada pekerja yang mengangkat beban berat dan juga manajemen stress karena kedua hal tersebut adalah faktor dominan yang dapat meningkatkan MSS
Read More
T-5715
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Astuti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
Abstrak: Pekerja forklift merupakan salah satu jenis pekerjaan yang memiliki risiko terkenamusculoskeletal disorders karena faktor individu, lingkungan, dan pekerjaan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pekerjaan forklift, faktor individu dan lingkungan yang berhubungan dengan musculoskeletal disorderspada pekerja forklift di PT X tahun 2013 dan melihat gambaran risiko pekerjaan.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi potonglintang dengan kuesioner dan tools REBA.
Hasil penelitian menyatakan bahwalama kerja mempengaruhi keluhan subyektif musculoskeletal disorders dantingkat risiko ergonomi pekerja forklift termasuk ringan hingga sedang. Sarannya,perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian postur kerja pekerja forklift,pengaturan durasi kerja, sosialisasi terkait musculoskeletal disorders, gejala,faktor risiko, tindakan pencegahan, dan penanganan. Kata kunci : risiko, ergonomi, forklift, musculoskeletal disorders.
Read More
S-7784
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refianto Setyawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Lana Saria, Selamat Riyadi
Abstrak:
Sindrom metabolik memiliki dampak yang besar terhadap kondisi kesehatan pekerja, hal ini dapat meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan serta mengakibatkan hilangnya produktifitas maka perlu dilakukan penelitian faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja kantor di PT X yang diharapkan dapat mencegah dan mengendalikan prevalensi sindrom metabolik demi menurunkan risiko sindrom metabolik dikemudian hari. Penelitian ini dilakukan pada pekerja kantor di PT X dengan responden penelitian sejumlah 106 orang selama bulan Februari - Agustus 2020 di Jakarta. PT X merupakan perusahaan enjineering penyedia produk dan jasa dibidang industri otomatis yang memiliki klien beberapa industri proses yang keseharian aktivitasnya lebih banyak di dalam ruangan. Desain studi penelitian ini menggunakan metode cross sectional (potong lintang). Adapun bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen (Faktor risiko individu dan faktor risiko pekerjaan) dengan variabel independen sindrom metabolik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebesar proporsi sindrom metabolik sebesar 4,97% yang memiliki komponen kriteria sindrom metabolik tertinggi terdapat pada trigliserida tinggi 20,4%, yang memiliki kadar HDL rendah 14,9% dan memiliki obesitas perut sebesar 14,4%.. yang terdapat 1 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 25,4% dan yang terdapat 2 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 8,3%. Meskipun pada analisis didapat hasil yang tidak signifikan terhadap hubungan faktor individu dan pekerjaan terhadap sindrom metabolik akan tetapi pada beberapa faktor risiko individu seperti Merokok memiliki risiko 3,35 kali lebih besar dibanding tidak merokok, dan Tingkat pendidikan lebih tinggi beresiko 2,44 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lebih rendah

Metabolic syndrome has a large impact on the health condition of workers, this can increase costs incurred by the company and lead to loss of productivity it is necessary to research the risk factors for metabolic syndrome in office workers at PT X which is expected to prevent and control the prevalence of metabolic syndrome in order to reduce risk factor of metabolic syndrome in future. This research was conducted on office workers at PT X with 106 research respondents during February - August 2020 in Jakarta. PT X is an engineering service provider of the Indusrial Automation that has clients in several process industries whose daily activities are sedentary. The design of this research study uses cross sectional method. The aim is to determine the relationship between the dependent variable (individual risk factors and occupational risk factors) with the independent variable Metabolic Syndrome. The results showed that the proportion of metabolic syndrome is 4,97% which the highest metabolic syndrome component was found in high triglycerides 20,4%, low HDL levels is 14,9% and had abdominal obesity is 14,4%. Which had 1 symptom of metabolic syndrome criteria is 25,4% and which had 2 symptoms of metabolic syndrome criteria are 8,3%. Although the analysis found no significant results on the relationship of individual factors and occupation of the metabolic syndrome, but on some individual risk factors such as smoking have a risk of 3,35 times greater than not smoking, and higher education levels 2,44 times higher risk compared to lower education levels.

Read More
T-5971
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julia Kusumawardani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Muhammad Soffiudin
Abstrak: Skripsi ini membahas analisis faktor risiko ergonomi dan keluhan musculoskeletal disorder di PT X tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan disain cross sectional. Dari penilaian risiko ergonomi dengan mengunakan metode Quick Exposure Checklist (QEC) didapatkan pekerjaan menggunakan komputer di office termasuk ke dalam level 3 atau risiko tinggi dan pekerjaan manual di workshop dan di warehouse termasuk ke dalam level 4 atau risiko sangat tinggi. Postur janggal yang terbentuk saat melakukan pekerjaan dipengaruhi oleh disain workstation dimana dari hasil pengukuran diketahui beberapa workstation pada masing-masing area kerja belum sesuai. Hasil survey Nordic Body Map (NBM) menunjukan sebanyak 88,4% responden memiliki keluhan MSDs dengan persentase area kerja yang mengalami keluhan tertinggi pada area warehouse 100%, area workshop 94,4%, dan area office 83,7%. Bagian tubuh yang paling banyak mengalami keluhan MSDs pada area office adalah pada bagian pinggang 48,8%, leher bagian atas 46,5%, bahu kanan 30,2%, dan bahu kiri 27,9%, pada area workshop adalah pada bagian pinggang 50%, leher atas 50%, punggung 38,8% dan pinggul 38,8%, dan pada area warehouse adalah pada bagian pinggang 50%, leher atas 50%, punggung 38,8% dan pinggul 38,8%. Disarankan adanya perbaikan disain workstation dan program edukasi kesehatan kerja terkait ergonomi.
Kata Kunci : Faktor risiko ergonomi, musculoskeletal disorder, workstation, QEC
This study discuss the analysis of ergonomic risk factors and musculoskeletal disorder complaints in X company at the year of 2016. this research is a quantitative research with cross sectional design method. From the ergonomic risk assessment using Quick Exposure Checklist (QEC) the result is indicate that works in the office that uses computers is included in level 3 or high risk category and manual work at the workshop is included to a level 4 or very high risk category. Awkward working posture that adopted by the worker is influenced by the design of the workstation that the result of workstation measurement shows several workstation in each working area is not appropriate. The survey result of Nordic Body Map (NBM) shows that 88.4% respondent have a complaint about MSDs which the highest percentage of complaints lies at the warehouse area with 100% complaints rate, while in the workshop the percentage of complaint is 94.4% and office area 83.7%. The part of body with the highest complaint of MSDs of office worker is waist (48.8%), upper neck (46.5%), right shoulder (30.4%), and left shoulder (27.9%), and for the workshop worker the highest complaint of MSDs is on waist (50%), upper neck (50%), upper back (38.8%), and hip (38.8%), and for the werehouse worker the highest complaint of MSDs is on waist (50%), upper neck (50%), upper back (38.8%), and hip (38.8%). Suggested of improvement in workstation design and education regarding occupational health in ergonomics.
Keywords : Ergonomic risk factor , musculoskeletal disorder, workstation, QEC
Read More
S-9244
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiah Khoiriah; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, David Rosyada Abdurachman
S-8024
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive