Ditemukan 19691 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Magdalena Gultom; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Didi Supriyono
Abstrak:
Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi penyebab utama banyaknya angka kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun diantara penyakit lainnya seperti AIDS, malaria dan campak disebut juga. Pneumonia pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor karakteristik balita, ibu responden dan lingkungan tempat tinggal di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian menggunakan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017 Provinsi Jawa Barat dengan populasi penelitian sebanyak 196 balita yang mengalami pneumonia. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 69,9% persen balita mengalami pneumonia di Provinsi Jawa Barat. Riwayat berat lahir balita dan bahan bakar tidak memenuhi syarat yang digunakan untuk memasak berhubungan secara signifikan terhadap pneumonia pada balita dengan nilai OR 95%CI masing-masing 1,105 (1,0471,166), 9,915 (1,298-75,708). Bahan bakar tidak memenuhi syarat yang digunakan untuk memasak merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat
Pneumonia is a disease that is the main cause of the number of deaths in children under the age of five years among other diseases such as AIDS, malaria and measles are also mentioned. Pneumonia in children under five is influenced by several factors such as the characteristics of children under five, the respondent's mother and the environment in which they live in West Java Province. The research method used is cross-sectional using secondary data from the Indonesian Demographic and Health Survey, 2017 West Java Province with populatiof 196 children who had pneumonia. The analysis showed that 69.9% percent of children under five had pneumonia in West Java Province. History of birth weight, where children live and fuel used for cooking were significantly associated with pneumonia in children under five with OR 95% CI values of 1.105 (1.047-1.166), 0.557 (0.212-1.464), 9.915 (1.298-75.708), respectively. ). Age children, exclusive breastfeeding, history of vitamin A administration, completeness of vitamin DPT, and maternal knowledge had no significant relationship. Fuel used for cooking is the most dominant variable on the incidence of pneumonia in children under five in West Java Province.
Read More
Pneumonia is a disease that is the main cause of the number of deaths in children under the age of five years among other diseases such as AIDS, malaria and measles are also mentioned. Pneumonia in children under five is influenced by several factors such as the characteristics of children under five, the respondent's mother and the environment in which they live in West Java Province. The research method used is cross-sectional using secondary data from the Indonesian Demographic and Health Survey, 2017 West Java Province with populatiof 196 children who had pneumonia. The analysis showed that 69.9% percent of children under five had pneumonia in West Java Province. History of birth weight, where children live and fuel used for cooking were significantly associated with pneumonia in children under five with OR 95% CI values of 1.105 (1.047-1.166), 0.557 (0.212-1.464), 9.915 (1.298-75.708), respectively. ). Age children, exclusive breastfeeding, history of vitamin A administration, completeness of vitamin DPT, and maternal knowledge had no significant relationship. Fuel used for cooking is the most dominant variable on the incidence of pneumonia in children under five in West Java Province.
T-6047
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rinda Tri Nugraheni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Tutut Indra Wahyuni
Abstrak:
Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian anak balita terbanyak di Indonesia. Prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia lima tahun terakhir mengalami peningkatan yaitu 1,6% pada tahun 2013 menjadi 2% pada tahun 2018. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan prevalensi pneumonia pada balita tertinggi keempat di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pneumonia pada balita usia 12-59 bulan. Sedangkan, variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan rumah, faktor karakteristik balita dan faktor ekonomi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara indeks kepemilikan rendah (OR = 4,23; 95% CI: 1,72-10,41), tempat tinggal (OR = 3,70; 95% CI: 1,71-8,02) dan jenis dinding (OR = 4,84; 95% CI: 1,55-15,14) dengan pneumonia pada balita. Kata kunci: pneumonia balita, faktor lingkungan rumah, SDKI
Read More
S-10032
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Balqis Ramandha Dewi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup karakteristik balita, karakteristik keluarga, dan kondisi lingkungan rumah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 2.969 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian ISPA pada balita dengan status imunisasi dasar (p=0,02; OR=0,55; 95% CI=0,33–0,93) dan pendidikan terakhir ibu (p=0,04; OR=0,62; 95% CI=0,39–0,98). Sementara variabel usia balita, jenis kelamin, riwayat BBLR, pemberian vitamin A, perilaku merokok anggota keluarga, jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian ISPA. Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian ISPA pada balita adalah status imunisasi dasar.
Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern and a leading cause of morbidity among children under five in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), the prevalence of ARI among children under five in West Java Province was 4,9%, approaching the national prevalence of 5,8%. This study aimed to analyze the determinants of ARI incidence in children aged 0–59 months in West Java Province using 2023 SKI data, focusing on child characteristics, family characteristics, and household environmental conditions. A cross-sectional design was employed involving 2,969 children who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using chi-square tests, and multivariate analysis through multiple logistic regression. Results revealed significant relationships between ARI incidence and basic immunization status (p=0.02; OR=0.55; 95% CI=0.33–0.93) and maternal education level (p=0.04; OR=0.62; 95% CI=0.39–0.98). Meanwhile, child’s age, gender, history of low birth weight, vitamin A supplementation, household smoking behavior, roof type, wall type, and floor type did not show significant associations with ARI incidence. Basic immunization status was identified as the most dominant determinant of ARI incidence in under-five children.
S-11947
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadia Arini; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Haryoto Kusnoputranto, Didi Purnama, Randy Novirsa
Abstrak:
Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Prov. Jawa Barat dan menjadi sentral berbagai aktivitas masyarakat. Sejak berkembangnya industri dan bertambahnya jumlah penduduk, sungai Citarum telah tercemar oleh berbagai zat pencemar diantaranya merkuri (Hg), kadmium (Cd) dan timbal (Pb). Penelitian ini dilakukan di sekitar aliran sungai Citarum, yaitu Desa Majasetra Kec. Majalaya Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat. Responden penelitian ini sebanyak 100 orang, sedangkan sampel lingkungan yaitu air, ikan dan sayur. Data penelitian dari responden dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan kandungan logam berat dalam sampel lingkungan dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Hg dalam sampel air sungai Citarum dan air sumur sebesar < 0,0002 mg/l. Konsentrasi Hg dalam 4 sampel ikan sebesar 0,31 mg/kg, 0,41 mg/kg, 0,17 mg/kg, 0,78 mg/kg. Konsentrasi Hg dari 4 sampel sayuran, 1 sampel sebesar 0,042 mg/kg dan 3 sampel lainnya sebesar < 0,02 mg/kg. Konsentrasi Pb dalam sampel air sungai Citarum dan sampel air sumur sebesar < 0,005 mg/l. Konsentrasi Pb dalam 4 sampel ikan sebesar 0,10 mg/kg, 0,18 mg/kg, 0,18 mg/kg, 0,28 mg/kg. Konsentrasi Pb dalam 4 sampel sayuran seluruhnya sebesar < 0,10 mg/kg. Konsentrasi Cd dalam sampel air sungai Citarum dan sampel air sumur sebesar < 0,002 mg/l. Analisis risiko merkuri (Hg) dalam seluruh sampel penelitian yaitu sampel air sungai Citarum, air sumur, ikan dan sayuran seluruhnya menunjukkan RQ > 1 artinya tidak aman dan berisiko. Analisis risiko timbal (Pb) dalam 3 sampel air sungai Citarum dan 3 sampel air sumur seluruhnya menunjukkan RQ < 1 artinya aman dan tidak berisiko. Analisis risiko Pb dalam 4 sampel ikan, 1 sampel menunjukkan RQ < 1 artinya aman dan tidak berisiko, sedangkan 3 sampel lainnya menunjukkan nilai RQ > 1 artinya tidak aman dan berisiko. Analisis risiko Pb dalam 4 sampel sayuran seluruhnya menunjukkan RQ < 1 artinya aman dan tidak berisiko. Analisis risiko kadmium (Cd) dalam 3 sampel air sungai Citarum dan 3 sampel air sumur seluruhnya menunjukkan RQ < 1 artinya aman dan tidak berisiko. Analisis risiko Cd dalam 4 sampel ikan seluruhnya menunjukkan nilai RQ < 1 artinya aman dan dan berisiko. Analisis risiko Cd dalam 4 sampel sayuran seluruhnya menunjukkan RQ < 1 artinya aman dan tidak berisiko
Read More
T-6157
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fathimi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Didik Supriyono, Iman Surahman
Abstrak:
Pendahuluan: ISPA sering disalahartikan sebagai infeksi saluran pernafasan atas, padahal ISPA tidak hanya menyerang saluran pernafasan atas namun juga mencakup saluran pernafasan bawah. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak hingga menimbulkan penyakit saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli beserta adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor karakteristik individu dan lingkungan terhadap kejadian ISPA pada balita. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study (studi potong lintang), jumlah sampel 163 balita, lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Pancasan, waktu penelitian dari tgl 27 April-30 Mei 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 41,1% balita menderita ISPA, secara statistik variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah jenis kelamin (OR:2,89) dan umur (OR:2,04). Kesimpulan: Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada balita baik dari karakteristik balita, karakteristik orangtua, karakteristik lingkungan fisik rumah dan sarana pelayanan kesehatan itu sendiri. Saran: Pentingnya peran petugas kesehatan terutama meningkatkan kesadaran orangtua dalam memelihara dan menjaga kesehatan anak, memelihara kesehatan lingkungan serta adanya kerja sama lintas program serta lintas sektor
Read More
T-5604
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sischa Andriani Alimin Sihe; Pembmimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Sofwan, Didi Purnama
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai analisis kebijakan berbasis fakta lingkungan (suhu, curah hujan, rumah sehat, transportasi/kemacetan, dan kepadatan penduduk) terhadap kasus pneumonia pada balita di Kota Bekasi tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain studi ekologi dan menggunakan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus pneumonia yang tertinggi berada di Kecamatan Bekasi Utara, Bekasi Barat, dan Jati Asih, suhu rata-rata yang tertinggi berada di bulan oktober yaitu 330C, curah hujan yang paling sering terjadi berada di bulan desember yaitu 3.484mm, cakupan rumah sehat yang tinggi berada di kecamatan Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Rawa Lumbu, Jati Asih, dan Pondok Gede, wilayah kecamatan yang dikategorikan tidak macet adalah Jati Asih, Mustika Jaya, dan Bantar Gebang, dan kepadatan penduduk di Kota Bekasi semuanya masuk dalam kategori padat yaitu >200 jiwa/km2. Kebijakan pengendalian pneumonia pada balita di Kota Bekasi dilakukan melalui pendekatan kesehatan masyarakat. Pelaksanaan program dimulai dengan mendefinisikan sasaran masyarakat yang beresiko,beroriantasi pencegahan tanpa melupakan pengobatan, ada unsur keterlibatan masyarakat menyebabkan kerja sama lintas sektor serta pengorganisasian kegiatan Kata kunci: Analisis Spsial, Faktor Lingkungan, Pneumonia Balita, dan Kebijakan Berbasis Fakta Lingkungan Kota Bekasi This study discusses the impact of changes in pneumonia conditions in toddlers in the city of Bekasi in 2016. This research is a descriptive study with ecological study design and using spatial analysis. The results showed that the highest cases of pneumonia were in Bekasi Utara, West Bekasi, and Jati Asih sub-districts, the highest average temperature was in October at 330C, the most frequent rainfall was in December of 3,484mm, healthy people are located in Bekasi Utara, West Bekasi, Bekasi Selatan, Rawa Lumbu, Jati Asih, and Pondok Gede subdistricts which are categorized as nonjammed are Jati Asih, Mustika Jaya, and Bantar Gebang, and population density in Kota Bekasi all fall into the solid category that is> 200 soul / km2. The policy of controlling pneumonia in toddlers in Kota Bekasi is done through a public health approach. Implementation of the program begins by defining the target community at risk, beroriantasi prevention without forgetting treatment, there is an element of community involvement led to cross-sector cooperation and organizing activities Key words: Spatial Analysis, Environmental Factors, Toddler Pneumonia, and Environment-Based Policy Bekasi City
Read More
T-5108
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arifanissa Maramis; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Satria Pratama, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Read More
Pneumonia menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada kelompok balita di Indonesia. Kota Padang merupakan wilayah dengan jumlah penemuan kasus pneumonia balita terbanyak di Provinsi Sumatera Barat selama periode tiga tahun terakhir. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian pneumonia adalah kualitas udara yang buruk akibat peningkatan emisi polutan, terutama yang bersumber dari kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang meningkat setiap tahunnya. Balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap dampak buruk pencemaran udara, mengingat sistem pernapasan mereka yang masih berkembang dan imunitas tubuh yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara indeks standar pencemar udara (ISPU) berdasarkan parameter (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) dengan jumlah kasus pneumonia pada balita di Kota Padang selama periode tahun 2020-2024. Desain studi yang digunakan adalah studi ekologi dengan unit analisis tahunan, dan analisis dilakukan dengan uji korelasi pearson. Kejadian pneumonia pada balita menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak terjadi di tahun 2023 sebanyak 2.598 kasus. Kualitas udara di Kota Padang berdasarkan rata-rata nilai ISPU, menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil, indeks O3 tertinggi terjadi di tahun 2021, indeks PM10, PM2,5, dan SO2 tertinggi terjadi pada tahun 2023, dan indeks NO2 dan CO tertinggi terjadi di tahun 2024. Hasil penelitian mendapatkan adanya korelasi kuat dan positif antara indeks PM2,5 dan CO dengan kasus pneumonia pada balita. Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan indeks PM2,5 dan indeks CO di udara ambien Kota Padang berkaitan dengan peningkatan kejadian pneumonia pada balita.
Pneumonia is one of the leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Padang city has the highest number of pneumonia cases among toddlers in West Sumatera Province over the past three years. One of the factor suspected to contributing the high incidence of pneumonia is poor air quality due to increasing pollutant emissions, particularly from motor vehicles and industrial activities, which increase annually. Toddlers are vulnerable age group that is vulnerable to the adverse effects of air pollution, given their still developing respiratory systems and immature immune systems. This study aims to analyze the correlation between the air pollutant standard index based on parameters (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) and the number of pneumonia cases among toddlers in Padang city during the period of 2020-2024. The study design used was an ecological study with an annual unit of analysis, and the analysisis was conducted using pearson correlation test. The incidence of pneumonia in toddlers shows an increasing trend every year, with the highest number of pneumonia cases occurring in 2023, amounting to 2.598 cases. Air quality in Padang city, based on the average of ISPU, shows unstable fluctuations, with the highest O3 index occurring in 2021, the highest PM10, PM2,5, and SO2 indices occurring in 2023, and the highest of NO2 and CO indices occurring in 2024. The study results revealed a strong and positive correlation between PM2,5 and CO indices and pneumonia cases among toddlers. These findings indicate that an increase of PM2,5 and CO indices in the ambient air in Padang city is associated with an increase in pneumonia cases in toddlers.
T-7455
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Desy Safitri; Pembimbing: Haryoto K; Penguji: Suyud Warno Utomo, Inswiasari
Abstrak:
Pneumonia pada balita masih merupakan masalah kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia. Di Indonesia, Pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua pada bayi dan anak balita. Kecamatan Cakung merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus pneumonia pada balita yang cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Penelitian ini menggunakan desain studi case control. Populasi penelitian adalah balita usia 12-59 bulan yang berada di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara paparan asap rokok dalam rumah (OR=4,67; 1,19-18,33); tingkat konsumsi rokok (OR=2,77; 1,12-6,86), pencahayaan alami dalam rumah (OR=5,16; 1,94-13,70); pengetahuan ibu (OR=3,85; 1,12-13,25), status gizi (OR=9,14; 1,90-43,89), riwayat imunisasi (OR=3,85; 1,12-13,25) dan riwayat ASI ekslusif (OR=3,11; 1,24-7,78) terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Faktor yang diprediksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia adalah status gizi (OR=5,607; 1,082-29,058).
Kata Kunci: Pneumonia, Balita, Fakto Risiko
Pneumonia in children under five is still major public health problem in the world or in Indonesia. In Indonesia, Pneumonia is the number two cause of death in infants and children under five. Cakung sub-district is one of the areas that have quite a lot cases of pneumonia in children under five. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in the region of Cakung sub-district health center. This study uses a case control study design. The population in this study are all of children aged 12 month until 59 months who lived in the region of Cakung sub-district health center. The results of this study indicate that there was a significant correlation between exposure to secondhand smoke in the home (OR = 4.67; 1.19 to 18.33); the number of ciggarates smoked per day (OR=2,77; 1,12-6,86), lighting in the home (OR = 5.16; 1.94 to 13.70), knowledge of mothers (OR = 3.85; 1.12 to 13.25), nutritional status (OR = 9.14; 1.90 to 43.89), immunization history (OR = 3.85; 1.12 to 13 , 25) and a history of exclusive breastfeeding (OR = 3.11; 1.24 to 7.78) with the incidence of pneumonia among children under five in the region of Cakung sub-district health center. The variable that predicted the most dominant cause of pneumonia is the nutritional status (OR = 5.607; 1.082 to 29.058).
Keywords: Pneumonia, Children under five, Risk factors
Read More
Kata Kunci: Pneumonia, Balita, Fakto Risiko
Pneumonia in children under five is still major public health problem in the world or in Indonesia. In Indonesia, Pneumonia is the number two cause of death in infants and children under five. Cakung sub-district is one of the areas that have quite a lot cases of pneumonia in children under five. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in the region of Cakung sub-district health center. This study uses a case control study design. The population in this study are all of children aged 12 month until 59 months who lived in the region of Cakung sub-district health center. The results of this study indicate that there was a significant correlation between exposure to secondhand smoke in the home (OR = 4.67; 1.19 to 18.33); the number of ciggarates smoked per day (OR=2,77; 1,12-6,86), lighting in the home (OR = 5.16; 1.94 to 13.70), knowledge of mothers (OR = 3.85; 1.12 to 13.25), nutritional status (OR = 9.14; 1.90 to 43.89), immunization history (OR = 3.85; 1.12 to 13 , 25) and a history of exclusive breastfeeding (OR = 3.11; 1.24 to 7.78) with the incidence of pneumonia among children under five in the region of Cakung sub-district health center. The variable that predicted the most dominant cause of pneumonia is the nutritional status (OR = 5.607; 1.082 to 29.058).
Keywords: Pneumonia, Children under five, Risk factors
S-8655
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Martanto; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Enny Wahyu Lestari
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat dominan di kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Komoditas utamanya yaitu cabai, kol, wortel, tomat dan kentang. Kegiatan pertanian tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Petani biasa mengkonsumi Sayuran dari hasil pertaniannya sehingga dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko kesehatan akibat konsumsi sayuran yang mengandung residu pestisida di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Metode penelitian adalah observasional study dengan rancangan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Survei sosial-demografi dan diet dengan wawancara 99 petani dilakukan dari bulan Maret-Mei 2017. Sampel cabai diekstraksi dengan menggunakan teknik QuechERS dan dihitung dengan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor fotometrik nyala (FPD). Bahwa hasil penelitian menunjukkan sayuran yang mengandung residu pestisida adalah Cabai dengan Konsentrasi profenofos tertinggi yaitu sampel III yaitu 11,193 mg/kg, dan konsentrasi rata-rata yaitu 5,235 mg/kg, sedangkan untuk kubis dan wortel tidak ditemukan residu pestisida. Intake Profenofos melalui sayuran cabai pada petani di kecamatan Cikajang sebesar 0,05867 mg/kg/hari, dengan durasi pajanan sebesar 33,4 tahun, berat badan sebesar 57,37 kg. Laju asupan sebesar 0,3571 gr/hari dan frekuensi pajanan sebesar 52 hari/tahun. Konsentrasi profenofos dalam sayur Cabai telah melewati batas normal menurut EPA (2006) yaitu 0,00005 mg/kg/h. Hasil menunjukkan untuk RQ non karsinogenik memiliki risiko untuk terkena penyakit. Sehingga manajemen pengurangan risiko kesehatan perlu dilakukan. Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Sayuran, Kubis, Wortel Cabai, Residu pestisida, Profenofos. The agricultural sector is a very dominant sector in Cikajang subdistrict, Garut regency, West Java Province. The main commodities are chili, cabbage, carrots, tomatoes and potatoes. Agricultural activities cannot be separated from the use of pesticides. In general, farmers who consume vegetables from their agricultural product are at risk of health problems. This study aims to determine the health risks due to consumption of vegetables containing pesticide residues in District Cikajang Garut. The research method is observational study with the design of Environmental Health Risk Analysis. Socio-demographic and dietary survey were completed by face-to-face questionnaire among 99 0f horticulture Farmers from March-May 2017. The results showed that vegetables containing pesticide residue were Chili with the highest Profenofos concentration ie III sample that is 11,193 mg / kg, and the mean concentration of 5,235 mg / kg, while for cabbage and carrots not found pesticide residue. Intake Profenofos through chili vegetables at farmers in sub-district Cikajang 0.0587 mg / kg / day, with the duration of exposure of 33.4 years, weight of 57.37 kg. Intake rate of 0,3571 g / day and exposure frequency of 52 days / year. The profenofos concentration in Chili Vegetables has exceeded the normal limit according to EPA (2006) that is 0.00005 mg/kg/h. The results showed for non-carcinogenic RQ have a risk for exposure to the disease. So that health risk reduction management needs to be done. Keywords: Environmental Health Risk Analysis, Chili, Pesticide Residues, Profenofos.
Read More
S-9376
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luthfiah; Pembimbing: Suyud Widarno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Didi Purnama
Abstrak:
Kegiatan produksi tomat tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko kesehatan akibat konsumsi tomat yang mengandung residu profenofos di Desa Cikandang Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Metode penelitian adalah observasional study dengan rancangan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Konsentrasi profenofos tertinggi yaitu sampel II yaitu 0,189 mg/kg, dan konsentrasi rata-rata yaitu 0,129 mg/kg. Berdasarkan hasil tersebut maka konsentrasi profenofos dalam sayur tomat masih dibawah BMR yang ditetapkan SNI tahun 2009 yaitu 2,0 mg/kg. Hasil menunjukkan untuk RQ non karsinogenik dari kelima dusun yang diteliti semuanya memiliki risiko untuk terkena penyakit. Sehingga manajemen pengurangan risiko kesehatan perlu dilakukan. Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Profenofos, Tomat, Desa Cikandang. Tomato production is inseparable from the use of pesticides. This research aims to know the health risks resulting from the consumption of tomatoes containing residues of profenofos in Cikandang village of Cikajang sub-district of Garut. The research method is the observational study with the draft Environmental Health Risk Analysis. The highest concentration of profenofos i.e. sample II IE 0.189 mg/kg, and average concentrations i.e. 0.129 mg/kg. Based on those results then the concentration of profenofos in vegetable tomato still under the BMR assigned SNI in 2009 i.e. 2.0 mg/kg. The results show for the non carcinogenic RQ of Hillbilly who examined all have the risk to be exposed to the disease. Health risk reduction management so that needs to be done. Key words: Environmental Health Risk Analysis, Profenofos, Tomato, Cikandang Village.
Read More
S-9166
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
