Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32862 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siska Maytasari; Pembimbing: Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dian Ayubi, Wahyu Sulistiadi, Fera Dewiyani, Dian Elco Nora
Abstrak: Latar Belakang: Masyarakat yang menerima pelayanan secara langsung merasakan bagaimana tingkat kepuasan pelayanan yang diberikan instansi pemerintah. Tingkat kepuasan masyarakat tersebut diukur dengan menggunakan instrument seperti Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Hasil pengukuran kepuasan pelanggan yang obyektif dan akurat dapat membantu puskesmas dalam merumuskan bentuk pelayanan yang lebih baik. Rata-rata Indeks Kepuasan Masyarakat di 36 Puskesmas pada Tahun 2019 sebesar 84,28. Target IKM pada Tahun 2019 adalah 82.8 sedangkan Puskesmas X tidak mencapai target dan memiliki skor IKM terendah yaitu sebesar 77.75. Dari hasil IKM di Puskesmas X Tahun 2019 diketahui terdapat 3 unsur pelayanan dengan nilai mutu layanan kurang baik (<3,06) yaitu unsur kecepatan pelayanan dengan nilai 2.89, unsur kejelasan dan kepastian pelayanan dengan nilai 2.95, dan dan unsur kewajaran biaya 2.98. Tujuan: Mengetahui informasi mendalam mengenai kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan rawat jalan di Puskesmas X Tahun 2020. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu studi kasus, instrument yang digunakan pedoman wawancara mendalam dan telaah dokumen, informan dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang kepala puskesmas, 6 orang petugas puskesmas dan 5 orang pasien. Hasil: Kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan rawat jalan di puskesmas X sudah baik, seluruh informan pasien merasa puas untuk dimensi jaminan, kehandalan, ketanggapan dan empati, namun seluruh informan pasien merasa tidak puas pada dimensi bukti fisik. Kualitas pelayanan pada dimensi bukti fisik cukup baik dalam kelengkapan sarana dan prasarana, namun masih kurang memadai kondisi gedung dan penempatan media informasi kurang optimal karena tidak semua pasien melihat media tersebut. Pada dimensi jaminan pasien merasa aman dan percaya terhadap petugas, kemampuan petugas cukup baik dan sopan santun. Pada dimensi daya tanggap petugas selalu memberitahukan kapan pelayanan akan diberikan, petugas memberikan pelayanan dengan cepat. Pada dimensi kehandalan jadwal pelayanan sesuai dengan waktu yang ditetapkan dan sudah memberikan pelayanan maksimal sesuai SOP, untuk penanganan keluhan pasien disediakan kotak saran, namun ada informan pasien yang tidak tahu adanya kotak saran. Pada dimensi empati, informan merasakan petugas sudah cukup baik dalam berempati dengan memberikan perhatian dan memberikan bantuan kepada pasien. Kesimpulan: Kualitas pelayanan pada dimensi bukti fisik, jaminan, kehandalan, ketanggapan dan empati sudah cukup baik, sehingga pasien merasa puas namun pasien menyatakan kurang puas pada dimensi bukti fisik khususnya terkendala dengan gedung puskesmas yang kecil, sempit dan panas
Background: People who receive services directly feel the level of satisfaction of services provided by government agencies. The level of public satisfaction is measured using instruments such as the Community Satisfaction Index (IKM). The results of measuring customer satisfaction that are objective and accurate can help health community service in formulating a better form of service. The average Community Satisfaction Index at 36 health community service in 2019 was 84.28. The IKM target in 2019 is 82.8, while health community service X does not reach the target and has the lowest IKM score, namely 77.75. From the results of the IKM at health community service X in 2019, it is known that there are 3 elements of service with poor service quality values (<3.06), namely elements of service speed with a value of 2.89, elements of clarity and certainty of service with a value of 2.95, and elements of fairness of costs 2.98. Objective: To find in-depth information about patient satisfaction with the quality of outpatient services at health community service X in 2020. Methods: This research is descriptive using qualitative research methods, namely case studies, the instruments used are in-depth interview guidelines and document review, the informants in this study consisted of 1 head health community service, 6 health community service officers and 5 patients. Results: Patient satisfaction with the quality of outpatient services was good, all patient informants were satisfied with the dimensions of assurance, reliability, responsiveness and empathy, but all patient informants were dissatisfied with the dimensions of physical evidence. The quality of service in the physical evidence dimension is quite good in terms of the completeness of facilities and infrastructure, but the building conditions are still inadequate and the placement of information media is not optimal because not all patients see the media. In the assurance dimension, the patient feels safe and trusts the officer, the ability of the officer is quite good and polite. In the dimension of responsiveness, officers always tell when services will be provided, officers provide services quickly. On the reliability dimension, the service schedule is in accordance with the time set and has provided maximum service according to the SOP, for handling patient complaints a suggestion box is provided, but there are patient informants who do not know there is a suggestion box. In the dimension of empathy, the informant felt that the staff was good enough at empathizing by giving attention and providing assistance to patients. Conclusion: The quality of service in the dimensions of physical evidence, assurance, reliability, responsiveness and empathy is good enough, so that the patient feels satisfied, but the patient states that he is not satisfied with the dimensions of physical evidence, especially constrained by the small, narrow and hot health community service building
Read More
T-6069
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henry Diatmo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti, Emma Rachmawati, Endang Lukitosari
Abstrak: Rendahnya angka pasien TBC resistan obat yang memulai pengobatan serta tingginya angka putus pengobatan menjadi tantangan besar untuk meningkatkan kualitas dari pelayanan TBC RO, khususnya di puskesmas sebagai satelit TBC RO. Hal ini mungkin berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien TBC resistan obat sebagai konsumen dari layanan kesehatan, yang mengakibatkan keengganan pasien untuk mengakses pengobatan atau tidak melanjutkan pengobatan. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi yang berkontribusi paling tinggi dalam penemuan kasus TBC RO, juga paling tinggi dalam angka pasien yang tidak memulai pengobatan dan putus pengobatan TBC RO. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kepuasan pasien TBC RO terhadap pelayanan di puskesmas yang merupakan satelit pengobatan TBC RO di DKI Jakarta tahun 2020 berdasarkan 5 dimensi Servqual dengan desain metode kombinasi secara cross sectional. Populasi dan sampel penelitian untuk kuantitatif adalah pasien TBC RO yang sedang menjalani pengobatan di puskesmas satelit TBC RO di DKI Jakarta dengan jumlah 70 orang, sedangkan kualitatif adalah pasien suporter yang mendampingi pengobatan pasien sebanyak 6 orang. Hasil analisis diperoleh 50% dari responden tidak puas akan pelayanan puskesmas satelit TBC RO di DKI Jakarta, berdasarkan 5 dimensi servqual diperoleh kesenjangan dimana nilai kenyataan lebih rendah dari harapan antara lain tangible (-0,39), reliable (-0,31), responsiveness (-0,31), assurance (-0,32) dan empathy (-0,23). Jika tidak dilakukan upaya peningkatan kualitas dari puskesmas satelit TBC RO akan menurunkan keteraturan berobat yang mengakibatkan putus pengobatan. Kualitas pelayanan fasyankes satelit TBC RO penting untuk ditingkatkan mempersiapkan ketersediaan fasilitas, sarana, SDM, sistem pelayanan yang berpihak kepada kebutuhan pasien, serta memastikan pelayanan dijalankan sesuai prosedur.

The low number of drug-resistant TB patients starting treatment and the high dropout rates are a major challenge to improve the quality of DR TB services, especially in puskesmas as DR TB satellites. This may be related to the level of satisfaction of drug-resistant tuberculosis patients as consumers of health services, which results in the patient's reluctance to access treatment or discontinue treatment. DKI Jakarta is one of the provinces that has the highest contribution in cases finding of DR TB, also the highest in the number of patients who do not start treatment and drop out of DR TB  treatment. The purpose of this study was to analyze the satisfaction of DR TB patients with services at the puskesmas which is the treatment of DR TB in DKI Jakarta in 2020 based on 5 dimensions of Servqual with a cross sectional combination method design. The population and research sample for quantitative are DR TB patients who are undergoing treatment at DR TB satellite health centers in DKI Jakarta with a total of 70 people, while qualitative are 6 patient supporters who accompany the  treatment of patients. The results of the analysis obtained 50% of respondents were dissatisfied with the service of DR TB satellite health centers in DKI Jakarta, based on 5 dimensions of servqual  obtained a gap where the reality value was lower than expectations, among others tangible (-0.39), reliable (-0.31), responsiveness (-0.31), assurance (-0.32) and empathy (-0.23). If no effort is made to improve the quality of the DR TB satellite health centers will reduce the regularity of treatment which results in treatment interruption. The quality of service of the DR TB satellite health centers is important to be improved in preparing the availability of facilities, human resources, service systems that are in line with the needs of patients, as well as ensuring services are carried out according to procedures.
Read More
T-5870
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhie Susetyo; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika, Agustin Kusumayanti; Penguji: Adang Bachtiar, Yeti Sugasriani, Lucia B. Siregar
Abstrak:

ABSTRAK Mutu pelayanan kesehatan yang baik di puskesmas akan memberikan kepuasan kepada pasien sebagai pelanggan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pelayanan rawat jalan poli umum puskesmas di Kota Sabang tahun 2008, dengan desain penelitian cross sectional melalui pendekatan kuantitatif yang kemudian dianalisa secara univariat, bivariat dan multivariate, serta pendekatan kualitatif yang dianalisa dengan menggunakan matrik. Sampelnya adalah pasien yang berkunjung rawat jalan poli umum puskesmas di Kota Sabang pada bulan Februari 2008 berjumlah 110 pasien. Hasil penelitian menunjukkan pasien yang merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan sebesar 50,9%. Hasil analisis bivariat didapatkan yang berhubungan adalah status pekerjaan (nilai p = 0,037). Faktor yang dominan  berhubungan dengan kepuasan pasien adalah sumber biaya askeskin (nilai p = 0,035). Faktor yang tidak berhubungan dengan kepuasan pasien adalah: umur, jenis kelamin, pendidikan. Hasil pemetaan dimensi mutu didapatkan pernyataan yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah alat periksa tersedia dan lengkap, petugas memberi informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita pasien, pasien selalu mendapatkan pelayanan dari dokter, dan petugas memberi kesempatan pasien untuk bertanya dan menyampaikan keluhan. Perlu adanya alur pelayanan, petunjuk ruangan, pembatas ruangan, SOP, standarisasi tugas, uraian tugas, bimbingan teknis yang baik dan benar, dokter yang selalu melakukan pemeriksaan di poli umum sesuai jadwal piket dan ilmu yang telah didapatkan sesuai profesinya, sehingga memberi kesempatan pasien untuk bertanya dan menyampaikan keluhan, serta memberi informasi penyakit yang diderita pasien. Kata kunci: mutu layanan kesehatan, kepuasan pasien Daftar bacaan: 44 buah (1967 - 2007)


ABSTRACT The good quality of health care on public health centre will give satisfaction to patient as the external customer. The purpose of this research want to find out characteristic of outpatient service satisfaction of poly public health centre in Sabang city in 2008, this research was done by a cross sectional method with quantitative approach and univariate, bivariate, multivariate analyzed, and qualitative approach that analysed by using matrix. The sample in this research was taken from outpatient public poly in Public Health Centre in Sabang City on Februari 2008 amount 110 patient. Result of research shows of patients feel satisfied with service that give as high as 50,9%. Result of bivariate analysis is got corelated is job status (value p = 0,037). Dominant factor which relation with patient satisfaction is expense source askeskin (p-value = 0,035). Factor is not relation with patient satisfaction is age, gender, education. Whereas statement that become main priority for repaired is tool checks available and complete, officer gives clear information about patient’s diseases, patient always gets service from doctor, and officers gives patient opportunity to enquire and submit sigh. Must existence of service path, room guideline, room constrictor, SOP, duty standardization, duty description, good technical supervision and correctness, docter always serve in public poly on schedule care of service and knowledge that has been got according its profession. Keywords: health service quality, patient satisfaction Reference: 44 books (1967 - 2007)

Read More
T-2862
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salahuddin; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Anwar Hassan, Soetanto, Ernawati S.
T-3029
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Fauzia Rahmat; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Adang Bachtiar, Wachyu Sulistiadi, Jusuf Kristanto, Syifa Silvianan
Abstrak:
Loyalitas pasien adalah salah satu topik yang berkembang dalam literatur layanan kesehatan karena telah terbukti dapat memberikan banyak manfaat, seperti peningkatan keuntungan dan komunikasi mulut ke mulut (word of mouth) yang positif. RSU HGA merupakan rumah sakit swasta yang berada di Kota Depok dan berdampingan dengan beberapa rumah sakit lain sebagai kompetitor. Jumlah pasien rawat jalan di RSU HGA mengalami penurunan dari tahun 2019 dan mulai meningkat pada tahun 2023 tetapi belum seperti tahun 2018. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 200 responden dari populasi di unit rawat jalan RSU HGA. Ada beberapa variabel yang diteliti yaitu aksesibilitas, kepuasan, switching cost, kualitas, sikap relatif pasien yang dihubungkan dengan minat memberikan rekomendasi word of mouth pada masyarakat. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat (deskriptif) dan multivariat dengan SEM PLS. Dari analisis data didapatkan seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel sesuai dengan perhitungan loading factor, AVE dan cronbach alpha. Uji hipotesis menunjukkan variabel switching cost dan kualitas pelayanan berhubungan sikap relatif, serta sikap relatif berhubungan terhadap word of mouth. Sedangkan variabel lainya ditolak yaitu aksesibilitas, kepuasan dan faktor situasional tidak berhubungan terhadap sikap relatif. Dengan mediasi sikap relatif, aksesibilitas, kepuasan dan faktor situasional tidak berhubungan terhadap word of mouth sedangkan kualitas pelayanan dan switching cost berhubungan. Dengan adanya penelitian ini, maka sebaiknya RSU HGA melakukan peningkatan program loyalitas pasien yang sesuai dengan kebutuhan dan keefektifan pelayanan kesehatan.

Patient loyalty is one of the growing topics in healthcare literature as it has been shown to provide many benefits, such as increased profits and positive word of mouth. RSU HGA is a private hospital located in Depok City and adjoins several other hospitals as competitors. The number of outpatients at HGA Hospital has decreased from 2019 and began to increase in 2023 but not yet like 2018. Cross sectional research design with a sample size of 200 respondents from the population in the outpatient unit of HGA Hospital. There are several variables studied, namely accessibility, satisfaction, switching costs, quality, relative patient attitudes related to interest in providing word of mouth recommendations in the community. Data analysis was carried out by univariate (descriptive) and multivariate analysis with SEM PLS. From the data analysis, it was found that all constructs were declared valid and reliable according to the calculation of the loading factor, AVE and Cronbach alpha. Hypothesis testing shows that switching cost and service quality variables are related to relative attitudes, and relative attitudes are related to word of mouth. While other variables are rejected, namely accessibility, satisfaction and situational factors are not related to relative attitudes. With the mediation of relative attitudes, accessibility, satisfaction and situational factors are not related to word of mouth while service quality and switching costs are related. With this research, HGA Hospital should improve patient loyalty programmes that are in accordance with the needs and effectiveness of health services.
Read More
T-7036
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Itsna Widita; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Dian Ayubi, Wahyu Sulistiadi, Wayan Sri Agustini, Mochammad Hidayat
Abstrak:
Komunikasi dokter gigi-pasien merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh dokter gigi dalam memberikan pelayanan yang berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Komunikasi yang tidak optimal dapat menyebabkan pelayanan medik gigi dan mulut yang tidak optimal. Permasalahan sebagaimana yang dijumpai di poli gigi Puskesmas Gandoang yakni besarnya gap antara jumlah diagnosis dan jumlah pelayanan kesehatan gigi yang diberikan, serta penurunan jumlah kunjungan pasien poli gigi, salah satunya dapat disebabkan oleh ketidakoptimalan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel kualitas komunikasi dokter gigi dan karakteristik pasien terhadap kepuasan pasien poli gigi. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan desain mixed method dengan pendekatan sequential explanatory, diawali dengan penelitian kuantitatif yang kemudian hasilnya diperdalam melalui penelitian kualitatif. Populasi adalah pasien rawat jalan poli gigi, yang sampelnya dihitung berdasar rumus beda dua proporsi, sehingga didapatkan 100 sampel melalui tekhnik Quota sampling, sementara informan penelitian kualitatif terdiri dari 4 informan, meliputi 2 pasien poli gigi, 1 dokter gigi, dan 1 kepala puskesmas Gandoang melalui metode wawancara mendalam. Sebagian besar responden (52%) menyatakan kualitas komunikasi dokter gigi baik, di mana bagi sebagian besar responden aspek introduce (59%) dan shows respect (78%) dinyatakan memenuhi kriteria baik, sementara aspek explanation (53%) dan listen carefully (55%) tidak memenuhi kriteria baik. Untuk kepuasan pasien, sebagian besar responden (54%) menunjukan ketidakpuasan. Di mana dimensi yang dirasa tidak memuaskan bagi sebagian besar responden adalah open-endedness (58%) dan dimensi empati (54%). Hasil analisis multivariate menunjukan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kepuasan pasien poli gigi adalah kualitas komunikasi dokter gigi p value=0,001, OR= 4.829 (CI 95 % 1.984-11.752), artinya kualitas komunikasi dokter gigi yang buruk akan memiliki peluang sebesar 4.829 kali menyebabkan ketidakpuasan pasien dibandingkan kualitas komunikasi dokter gigi yang baik

Problems in the dental clinic of Gandoang health center are the large gap between the number of diagnoses and the number of dental health services provided, and also reduction in the number of patient visits in dental clinic, these can be caused by unuptimal communication. This study aims to determine the relationship between dentist communication quality variables and patient characteristics with dental patient satisfaction. Research with a mixed method design with a sequential explanatory approach, begins with quantitative research and then deepened through qualitative research. The population was dental clinic’s outpatients, with a sample size of 100, while the qualitative research informants consisted of 2 patients, 1 dentist, and 1 head of the Gandoang helat center, through in-depth interviews. Most respondents (52%) stated that the quality of dentist communication was good, the aspect of introduce (59%) and shows respect (78%) were good, while the aspects of explanation (53%) and listen carefully (55%) were poor criteria. Most of respondents (54%) showed dissatisfaction. Most respondents were disappointed with open-endedness (58%) and empathy dimensions (54%). Multivariate analysis showed that the most dominant variable related to patient satisfaction with dental dentists was ciommunication quality, p value = 0.001, OR = 4,8 (95% CI 1,984-11,752), that means poor communication quality of dentists would have an opportunity of 4,8 times causing dissatisfaction patients compared to the quality of good dentist communication.

Read More
T-5889
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yanuarti; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Anwar Hasan, Hadhisantoso, Sri Indrawaty
Abstrak:
Salah satu indikator untuk mengetahui mutu layanan ialah dengan mengukur kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Kepuasan pasien dapat dipergunakan sebagai umpan balik bagi manajemen dan diperlukan untuk menilai kualitas pelayanan. Kepuasan pasien yang rendah menggambarkan kualitas layanan yang berada dibawah standar dan akan berdampak terhadap citra apotik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kepuasan pasien Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) peserta Askes terhadap mutu pelayanan di Apotik Arwana Pontianak. Diketahui gambaran kepuasan pasien yang berhubungan dengan karakteristik pasien dan dimensi mutu layanan yang telah diberikan. Kepuasan pasien diperoleh dan tingkat kesesuaianlnilai puas yang merupakan rasio persepsi dengan harapan pasien terhadap pelayanan di Apotik Arwana Pontianak. Pengukuran kepuasan pasien dilakukan terhadap 341 responden yang sudah pernah berkunjung ke apotik dan merupakan kunjungan pertama pada waktu penelitian dengan mengisi sendiri kuesioner yang diberikan. Jenis penelitian merupakan diskriptif analitik yang dilakukan dengan pendekalan cross sectional secara kuantitatif Dimensi mutu pelayanan yang digunakan untuk mengukur kepuasan pasien adalah sarana fisik/bukti langsung (tangibles), keandalan (reliability), ketanggapan petugas (responsiveness), jaminan/keyakinan (assurance) dan dimensi kepedulian (empathy). Faktor karakteristik pasien yang ingin diketahui hubungannya dengan tingkat kepuasan pasien adalah variabel Jenis kelamin, umur, pendidikan, status kepeserlaan, dan golongan peserta. Analisa data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Analisa terhadap dimensi mutu pelayanan dengan self scale survey menggunakan Diagram Kartesius. Hasil didapat menunjukkan bahwa proporsi pasien yang puas sebesar 50,1 % dan pasien yang tidak puas sebesar 49,9 % dengan tingkat kesesuaian/nilai puas 95,4 %. Uji bivariat dengan Chi- square didapat variabel yang berhubungan dengan kepuasan pasien adalah variabel jenis kelamin, umur dan golongan. Uji multivariat dengan regresi logistik didapat variabel yang dominan adalah variabel golongan peserta, dimana pasien peserta Askes dengan golongan rendah berisiko untuk puas 3 kali dibandingkan dengan pasien golongan tinggi. Analisa terhadap dimensi mutu pelayanan yang digunakan diketahui bahwa dimensi keandalan (reliability) merupakan dimensi yang penting dan prioritas bagi pasien. Dimensi jaminanikeyakinan (assurance) merupakan dimensi mutu pelayanan yang harus dipertahankan dan pasien merasa puas. Sarana Fisik/bukti langsung (tangibles), ketanggapan petugas (responsiveness) dan kepedulian (empathy) merupakan dimensi mutu pelayanan yang dianggap tidak panting oleh pasien tetapi pasien tidak puas pada dimensi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada pihak apotik untuk memperhatikan karakteristik pasien khususnya jenis kelamin, umur dan golongan peserta dalam upaya untuk meningkatkan kepuasan pasien. Selain itu pihak apotik harus memperlahankan dimensi mutu pelayanan assurance yang telah dapat memuaskan pasien dan segera memperbaiki serta mengoreksi dimensi mutu reliability. Kepustakaan 37 (1980 - 2000)

Satisfaction of Askes Member Patients of Advance Out Patient Program toward the Quality of Service at Arwana Drugstore Pontianak Year 2000One of the indicators of the quality of service is by measuring patients' level of satisfaction toward the service provided. The patients' satisfaction serves as feedback for the management and is required to assess the quality of the service. Low patients' satisfaction may indicate a below-standard service. This low satisfaction may impact the drugstore' image. This study was aimed at investigating the level of satisfaction of Askes Member Patients of Advance Out Patient Program, or Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) Peserta Askes, toward the service provided by Arwana drugstore. It was expected that this study would reveal description of patients' satisfaction that related to their characteristics and the dimension of the service provided Patients' satisfaction was measured by compliance scale that included perception ratio with the patients' expectation toward the service provided by Arwana drugstore Pontianak. Measurement of patients' level of satisfaction was conducted over 341 respondents that consisted of those who had ever visited the drugstore and those who visited the drugstore for their first time. The respondents were required to complete the provided self-scale survey. This study employed a descriptive analytical by using a quantitative cross sectional approach. Dimensions of the quality of the service used to measure the patients' level of satisfaction included tangibles items, reliability, drugstore workers' responsiveness, assurance and empathy. The characteristics of the patients that this study investigated to reveal their correlation with the patients' level of satisfaction covered the following variables: gender, age, education, status of membership, and occupation of the patients. Data analysis was conducted by using univariat, bivariat, and multivariat techniques. Analysis of the quality of the service obtained from the self-scale survey was conducted by referring to Kartesius diagram. The study results show that the proportion of satisfied patients reach to 50.1% and unsatisfied patients reach to 49.9% with level of compliance of 95.4%. The bivariat test by using Chi-square reveals that variables that correlate with patients' satisfaction were gender, age and occupation. The multivariat test by using logistic regression shows that the most dominant variable was occupation where Askes patients who occupied lower structural positions or lower occupation in their office were likely to be satisfied 3 times compared to patients who occupied higher structural positions or higher occupation. Analysis of the dimensions of the service quality indicates that the reliability dimension is the significant dimension and a priority for the patients. The assurance dimension is one of the service quality dimensions that should be maintained for it proved to satisfy the patients. Tangibles items, drugstore workers' responsiveness and empathy were not considered much of significance by the patients and the patients were not satisfied with these dimensions. This study recommends the drugstore to put emphasis on patients' characteristics particularly on their gender, age and occupation in order to increase their level of satisfaction. It is also recommended that the drugstore maintain its assurance that proved to satisfy the patients and that it immediately improve and review its reliability. Reference List: 37 (1980-2000)
Read More
T-889
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sayyidatul Munawaroh; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Adang Bachtiar, Fajar Arianti, Amila Megraini
Abstrak:
erjadinya konflik diberbagai negara sehingga sebagian warga negaranya memutuskan untuk meninggalkan negaranya dan mengungsi, pada tahun 2019 sebesar 13.657 pengungsi yang ada Indonesia. Sehingga keadaan mereka tidak beruntung ini dengan berbagai kesulitan namun pengungsi tetap memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terstandar sebagai bagian dari hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix methods) dengan mengambil data metode kuantitatif terlebih dahulu setelah itu memperkuat dengan melakukan metode kualitatif kepada stakeholder yang langsung memberikan pelayanan kesehatan.Hasil analisis univariat, menunjukkan bahwa dimensi pengungsi yang merasa puas 36% dan tidak puas 35%, sedangkan dimensi emphaty sebesar 51% tidak puas dan dimensi assurance 52%. Berbeda dengan hasil kualitatif kepada stakeholder dapat disimpulkan bahwa seluruh dimensi sudah terpenuhi sesuai dengan harapan para pengungsi. Secara stimultan provider dapat meninjau efektif dan efisien pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan para pengungsi sehingga mampu melaksanakan pelayanan yang prima.

Conflicts in some countries cause their citizens to leave the country to seek asylum. In 2019, the number of overseas refugees in Indonesia was 13,657 people. In conditions that are full of disadvantages and difficulties, refugees still have the right to fulfil their basic needs, including access to health cares. This study used a mixed method, consisting of quantitative and qualitative methods. The qualitative method was used to confirm the results of quantitative analysis, which was done by interviewing the health service providers. The results of the analysis showed that 36% of refugees were satisfied with health services in the X health center (Puskesmas), while 35% were not satisfied. On the other hand, the percentage of refugees who were not satisfied with health services based on the dimension of empathy and assurance was 51% and 52%, respectively. However, the results of qualitative approach demonstrated otherwise, where the health care providers stated that all dimensions of service quality have met the standard and were in accordance with the expectations of refugees. The Puskesmas are advised to evaluate and improve the effectiveness and efficiency of the health services by considering the needs of refugees.

Read More
T-5886
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Kartinah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Ekowati Retnoningsih, Hari Suharsa
Abstrak:
Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dari tingkat permintaan pasien. Karakteristik pasien yang merupakan faktor internal pasien itu sendiri terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Asumsi ketidakpuasan sering muncul pada pasien yang berbayar umum atau menggunaan asuransi kesehatan mandiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dan jenis pembayaran dengan kepuasan pasien dengan menggunakan data sekunder, berdasarkan hasil survey Indeks Kepuasan Masyarakat Puskesmas Serang Kota pada akhir tahun 2019, bersifat deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil Univariat menunjukan sebagian besar responden menyatakan tidak puas (55,6%), berumur 17-45tahun (78,1%), berjenis kelamin perempuan (63,6%), berpendidikan lanjut (62,5%), memiliki perkerjaan (58,6%), merupakan pasien lama (77,5%), menggunakan asuransi kesehatan (53,9%) dan pengguna layanan khusus (61,1%). Berdasarkan analisis multivariat diketahui bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepuasan pasien adalah unit layanan.

Measuring the level of customer satisfaction is an important element of the level of patient demand. Patient characteristics which are internal factors of the patient consist of age, gender, education level and occupation. The assumption of dissatisfaction often arises in patients who pay for public use or use independent health insurance. The purpose of this study was to determine the relationship and type of payment with patient satisfaction using secondary data, based on the results of the Serang Kota Community Health Center Community Satisfaction Index survey at the end of 2019, quantitative descriptive with a cross sectional design. Univariate results showed that most respondents expressed dissatisfaction (55.6%), aged 17- 45 years (78.1%), female (63.6%), advanced education (62.5%), had a job (58 , 6%), are old patients (77.5%), use health insurance (53.9%) and special service users (61.1%). Based on multivariate analysis, it is known that the most dominant factor related to patient satisfaction is the service unit.

Read More
T-5961
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
C. Monica P HUtabarat; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Jan Andries Tangkilisan, Felly Senewe
Abstrak:

ABSTRAK

Tesis ini membahas hubungan faktor sosial budaya, pribadi dan psikologis dengan kepuasan pasien pengguna Kartu Jakarta Sehat (KJS) pada 110 responden di Unit Rawat Jalan RSU UKI. Rancangan penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan kepuasan pasien KJS sebesar 40,9%. Akses ke rumah sakit, motivasi, informasi baik dan informasi tidak baik berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien KJS, namun motivasi adalah hal yang paling dominan berhubungan. Selain itu kepuasan pasien KJS juga berhubungan signifikan dengan pemanfaatan kembali layanan dan minat merekomendasikan layanan pada orang lain.


ABSTRACT

The focus of this study is the relation among socio-culture, characteristics, and psychology factors to Jakarta Health Card (JHC) Patient Satisfaction in 110 outpatient UKI Hospital. The study design is descriptive quantitative with cross sectional approach. The result shows that only 40,9% of the patients are satisfied with the hospital service. Access to the hospital, motivation, good information and bad information are significantly associated with JHC patient satisfaction, but motivation is the dominant factor. Besides, JHC patient satisfaction also has significant correlation with reuse and recommendation of the hospital service to others.

Read More
T-3987
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive