Ditemukan 33439 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Anisah Rahmah; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Yovsyah, Rani Handayani
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan kader Posyandu dengan aktivitas pemantauan tumbuh kembang anak selama masa pandemi di kelurahan tengah, kecamatan kramat jati, Jakarta timur. Desain studi cross-sectional dari data primer dengan jumlah sampel 115 orang kader Posyandu di kelurahan tengah. Penelitian kami menunjukkan 57,6% kader Posyandu menjalankan pemantauan tumbuh kembang anak.
Read More
S-10576
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwitya Dian Pratiwi; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Hidayat Nur Gazali Djajuli
Abstrak:
Gizi kurang adalah salah satu penyebab kematian pada balita sekitar 45% dari kasus kematian balita di dunia. Pola asuh merupakan sikap dan perilaku orang tua terhadap anaknya, rencana penjadwalan pemberian makan serta penyajianya kepada anak adalah merupakan salah satu dari pola asuh. Pola asuh orang tua yang kurang merupakan faktor ekternal terjadinya gizi kurang pada balita. Di RSUD Kramat Jati status gizi kurang pada balita memiliki presentase 35%. Studi cross sectional bertujuan untuk melihat hubungan pola asuh orang tua terhadap status gizi kurang pada balita. Pengambilan data dilakukan secara langsung pada bulan April-Juni 2023 pada seluruh balita yang berkunjung ke poliklinik RSUD Kramat Jati dengan jumlah sampel 374 responden. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan status gizi kurang. Pola asuh kurang baik pada balita yang memiliki gizi kurang baik mempunyai resiko 2,031 kali dibandingkan pada balita dengan status gizi normal (PR;2,031; CI 95%:1,338–3,083;nilai-p 0.018). Hasil analisis regresi logistik hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi kurang pada balita setelah dikontrol oleh variabel kovariat: usia ibu, pendidikan terakhir ibu, pekerjaan ibu, pekerjaan ayah, pendapatan keluarga, sanitasi lingkungan, jenis kelamin, dan penyakit infeksi pada balita menunjukan balita dengan pola asuh kurang baik mempunyai risiko 2,080 kali mengalami status gizi kurang dibandingkan dengan balita yang mempunyai status gizi normal (PR:2,080;CI 95%:1,359 – 3,182; nilai-p:0,001).
Malnutrition is one of the causes of death in toddlers, around 45% of under-five deaths in the world. Parenting patterns are the attitudes and behavior of parents towards their children, the plan for scheduling feeding and serving it to children is one of the parenting patterns. Poor parenting patterns are an external factor in the occurrence of malnutrition in toddlers. At Kramat Jati Regional Hospital, the percentage of malnutrition among toddlers is 35%. This cross-sectional study aims to see the relationship between parental parenting patterns and malnutrition status in toddlers. Data collection was carried out directly in April-June 2023 on all toddlers who visited the Kramat Jati Regional Hospital polyclinic with a sample size of 374 respondents. The results of statistical tests show that there is a relationship between parenting patterns and malnutrition status. Poor parenting patterns for toddlers who have poor nutrition have a risk of 2.031 times compared to toddlers with normal nutritional status (PR; 2.031; 95% CI: 1.338–3.083; p-value 0.018). The results of the logistic regression analysis of the relationship between parenting patterns and malnutrition status in toddlers after being controlled by covariate variables: mother's age, mother's last education, mother's job, father's job, family income, environmental sanitation, gender, and infectious diseases in toddlers show that those with poor parenting patterns have a 2.080 times risk of experiencing malnutrition compared to toddlers who have normal nutritional status (PR: 2.080; 95% CI: 1.359 – 3.182; p-value: 0.001).
Read More
Malnutrition is one of the causes of death in toddlers, around 45% of under-five deaths in the world. Parenting patterns are the attitudes and behavior of parents towards their children, the plan for scheduling feeding and serving it to children is one of the parenting patterns. Poor parenting patterns are an external factor in the occurrence of malnutrition in toddlers. At Kramat Jati Regional Hospital, the percentage of malnutrition among toddlers is 35%. This cross-sectional study aims to see the relationship between parental parenting patterns and malnutrition status in toddlers. Data collection was carried out directly in April-June 2023 on all toddlers who visited the Kramat Jati Regional Hospital polyclinic with a sample size of 374 respondents. The results of statistical tests show that there is a relationship between parenting patterns and malnutrition status. Poor parenting patterns for toddlers who have poor nutrition have a risk of 2.031 times compared to toddlers with normal nutritional status (PR; 2.031; 95% CI: 1.338–3.083; p-value 0.018). The results of the logistic regression analysis of the relationship between parenting patterns and malnutrition status in toddlers after being controlled by covariate variables: mother's age, mother's last education, mother's job, father's job, family income, environmental sanitation, gender, and infectious diseases in toddlers show that those with poor parenting patterns have a 2.080 times risk of experiencing malnutrition compared to toddlers who have normal nutritional status (PR: 2.080; 95% CI: 1.359 – 3.182; p-value: 0.001).
T-6905
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Henny Kurniati; Pembimbing: Ratna Djuwita Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Sumiati
Abstrak:
Demam berdarah dengue merupakan penyakit tular vektor yang dapat menimbulkan wabah dan kematian. Angka insiden demam berdarah dengue di Indonesia pernah meningkat signifikan pada tahun 2016 sebesar 78,85 per 100.000 penduduk. Sementara angka insidens demam berdarah dengue di Jakarta Timur pada tahun 2018 sebesar 31.17 per 100.000 penduduk. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah peningkatan kasus demam berdarah dengue ini adalah dibentuknya juru pemantau jentik yang bertugas melakukan pemantauan jentik rutin pada tempat penampungan air di wilayah kerja masing-masing. Keberhasilan dan kegagalan dari program ini juga ditentukan dari pengetahuan dan kinerja jumantik mengenai demam berdarah dan cara pencegahannya. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan kinerja jumantik sebagai indikator daerah bebas jentik di Kelurahan Kalisari, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur Tahun 2019. Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi dari penelitian sebelumnya. Desain penelitian adalah cross sectional. Besar sampel yang diambil adalah total sampel berjumlah 103 jumantik yang mewakili masing-masing satu RT di Kelurahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan antara pengetahuan penyebab dengan kinerja jumantik (p=0.02) dengan OR sebesar 2.85. Artinya, masih banyak jumantik di Kelurahan Kalisari yang belum paham mengenai penyebab dan cara pencegahan demam berdarah sehingga dapat mempengaruhi kinerjanya dalam bertugas. Maka dari itu diperlukan workshop dan seminar serta simulasi terkait cara pencegahan demam berdarah untuk para jumantik. Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, Jumantik, Kinerja, Pengetahuan
Read More
S-9999
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irlina Raswanti Irawan; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Asri C. Adisasmita, Kusharisupeni Djokosoetono, Hartono Gunardi Arnelia
Abstrak:
Perkembangan kognitif merupakan kunci utama yang memberikan sumbangan padakemampuan belajar di masa depan, kualitas sumber daya tenaga kerja, dan kemampuanseseorang secara keseluruhan. Umumnya anak dengan BBLR (berat badan lahir rendah)memiliki tingkat perkembangan yang lebih rendah dibandingkan anak dengan berat lahirnormal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara berat lahir denganperkembangan kognitif pada anak usia dibawah dua tahun (3-23 bulan). Penelitian inimenggunakan desain studi kohor prospektif. Populasi penelitian ini adalah anak badutabeserta ibunya yang menjadi sampel penelitian kohor tumbuh kembang anak. Pengambilansampel dilakukan dengan mengambil keseluruhan sampel yang memenuhi kriteria inklusidan eksklusi sehingga didapatkan 278 responden. Sebagian besar baduta (51,8%) memilikiperkembangan kognitif yang optimal dan sebagian besar juga memiliki berat lahir ≥ 3100gram (58,6%). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antaraberat lahir dengan perkembangan kognitif pada baduta 3-23 bulan dengan nilai p= 0,01(RR 1,36; 95% CI: 1,06-1,73). Berdasarkan hasil analisis stratifikasi, variabel lain yangdiduga turut memberikan pengaruh dalam hubungan antara berat lahir denganperkembangan kognitif adalah pertumbuhan baduta berdasarkan kurva PB/U dengan nilaip=0,05 (RR 1,36; 95% CI: 1,05-1,75) dan status gizi ibu sebelum hamil p<0,05 (RR 1,42;95% CI: 1,1-1,83). Berdasarkan hal ini, disarankan kepada para orangtua terutama ibuuntuk memperhatikan tumbuh kembang anak antara lain dengan cara mengunjungiposyandu atau fasilitas kesehatan agar dapat mendeteksi adanya gangguan pada tumbuhkembang anak secara dini. Selain itu juga, dengan mempersiapkan kondisi tubuh denganbaik terutama bila merencanakan kehamilan dengan berkonsultasi tenaga kesehatan yangberkompeten.Kata Kunci :Perkembangan Kognitif, Berat Lahir, Baduta
Cognitive development is a key factor contributing to the ability to learn in the future, thequality of labor resources, and the ability of a person as a whole. Generally, children withlow birth weight (LBW) have a lower level of development than children with normalbirth weight. The purpose of this study was to determine the relationship between birthweight with cognitive development in children under two years of age (3-23 months). Thisstudy used a prospective cohort study design. The study population was under two yearsold children and their mother which is the sample of child development cohort study.Sampling was done by taking the overall sample who meet the inclusion and exclusioncriteria to obtain 278 respondents. Most under two year child (51.8%) had optimalcognitive development, and most also have a birth weight ≥ 3100 g (58.6%). The resultsshowed a significant relationship between birth weight with cognitive development inunder two years child (3-23 months) with a value of p = 0.01 (RR 1.36; 95% CI: 1.06 to1.73). Based on the analysis of stratification, another variable that is thought to contributeto give effect in the relationship between birth weight with cognitive development is thegrowth curve of under two years child based on length/age with p = 0.05 (RR 1.36; 95%CI: 1.05 to 1 , 75) and the nutritional status of the mother before pregnancy p <0.05 (RR1.42; 95% CI: 1.1 to 1.83). Based on this, it is suggested to parents, especially mothers topay attention to child growth and development, among others by visiting the neighborhoodhealth center or health facilities in order to detect any disturbance in early childdevelopment. In addition, by preparing with good body condition, especially whenplanning a pregnancy to consult a competent health personnel.Keywords :Cognitive Development, Birth Weight, Under Two Years Children.
Read More
Cognitive development is a key factor contributing to the ability to learn in the future, thequality of labor resources, and the ability of a person as a whole. Generally, children withlow birth weight (LBW) have a lower level of development than children with normalbirth weight. The purpose of this study was to determine the relationship between birthweight with cognitive development in children under two years of age (3-23 months). Thisstudy used a prospective cohort study design. The study population was under two yearsold children and their mother which is the sample of child development cohort study.Sampling was done by taking the overall sample who meet the inclusion and exclusioncriteria to obtain 278 respondents. Most under two year child (51.8%) had optimalcognitive development, and most also have a birth weight ≥ 3100 g (58.6%). The resultsshowed a significant relationship between birth weight with cognitive development inunder two years child (3-23 months) with a value of p = 0.01 (RR 1.36; 95% CI: 1.06 to1.73). Based on the analysis of stratification, another variable that is thought to contributeto give effect in the relationship between birth weight with cognitive development is thegrowth curve of under two years child based on length/age with p = 0.05 (RR 1.36; 95%CI: 1.05 to 1 , 75) and the nutritional status of the mother before pregnancy p <0.05 (RR1.42; 95% CI: 1.1 to 1.83). Based on this, it is suggested to parents, especially mothers topay attention to child growth and development, among others by visiting the neighborhoodhealth center or health facilities in order to detect any disturbance in early childdevelopment. In addition, by preparing with good body condition, especially whenplanning a pregnancy to consult a competent health personnel.Keywords :Cognitive Development, Birth Weight, Under Two Years Children.
T-4566
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ainun Jariah; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Siane Nursianti, Sholah Imari
T3399
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Esti Sri Ananingsih; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hardiono Pusponegoro; Penguji: Budi Utomo, Rini Sekartini, Anies Irawati, Besral, Yekti Widodo
Abstrak:
Read More
Ukuran lingkar kepala digunakan sebagai indikator antropometri non-invasif dan murah untuk menilai status gizi dan perkembangan otak dan gambaran pertumbuhan otak yang kemudian hari dapat menentukan perkembangan fungsi kognitif. Penelitian, mengkaji hubungan antara ukuran lingkar kepala anak usia 0 ? 12 bulan dengan perkembangan kognitif anak usia 24 bulan di 5 Kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan desain longitudinal, menggunakan data riset Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor yang dimiliki oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sampel penelitian diambil dari seluruh bayi baru lahir yang memiliki data ukuran lingkar kepala 0 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan serta memiliki data perkembangan kognitif saat usia 24 bulan. Jumlah sampel yang dilakukan analisis berjumlah 271. Ukuran lingkar kepala anak menggunakan data ukuran lingkar kepala usia 0 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan pertambahan ukuran lingkar kepala anak usia 0 ? 6 bulan dan anak usia 6 ? 12 bulan. Perkembangan kognitif dijelaskan dengan data skor kognitif anak usia 24 bulan. Analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan dan uji regresi linier untuk menganalisis hubungan antara ukuran lingkar kepala anak usia 0 ? 6 bulan dan usia 6 ? 12 bulan dengan perkembangan kognitif anak usia 24 bulan. Pertambahan ukuran lingkar kepala merupakan refleksi dari pertumbuhan otak anak dan berhubungan dengan perkembangan kognitif anak usia 24 bulan. Ada hubungan positif antara pertambahan ukuran lingkar kepala usia 0 ? 6 bulan dengan perkembangan kognitif anak usia 24 bulan. Anak yang memiliki rata-rata pertambahan ukuran lingkar kepala usia 0 ? 6 bulan sebesar 7,5 cm dan mendapatkan ASI Ekslusif 6 bulan kemungkinan skor kognitif anak pada usia 24 bulan sebesar 91,82 poin, termasuk cukup berkembang kognitifnya dibandingkan anak-anak lain seusianya. Hasil studi menyarankan, pengukuran lingkar kepala menjadi perhatian dalam proses pengukuran antropometri dan interpretasi yang bermanfaat untuk pemantauan perkembangan anak.
Head circumference (HC) measurement is performed as a non-invasive and inexpensive anthropometric indicator to assess nutritional status and brain development. It is also utilized as an overview of brain growth which can later determine a cognitive function development. This study examines the association between HC at 0-12 months of age and cognitive development at 24 months in 5 subdistricts in Bogor Tengah district, Bogor city. This research was a longitudinal study using data from the Bogor cohort study on child growth and development held by National Health Research and Development. The sample size was 271 recruited from all newborns who had HC at 0 months, 6 months, and 12 months and had cognitive development at 24 months. The HC measurement was collected from data of HC at the age of 0 months, 6 months, and 12 months and the children?s HC increments aged 0-6 months and 6-12 months. Meanwhile, cognitive development was reported based on children?s cognitive scores aged 24 months. The analysis used was an unpaired t-test and linear regression test to analyze the association between HC of children aged 0-6 months and 6-12 months and cognitive development of children aged 24 months. This study showed that the HC increment was a reflection of children?s brain growth and was associated with cognitive development at 24 months of age. There was a positive association between the increase of HC at 0-6 months and the children?s cognitive development aged 24 months. Children having an average HC increment of 0-6 months of 7.5 cm and experience exclusive breastfeeding for 6 months may have a cognitive score of 91.82 points at 24 months and can be categorized as having adequate cognitive development compared to other children at their age. It is recommended that HC measurement can be a concern in the process of anthropometric measurements and a useful interpretation for monitoring child growth and development.
D-467
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Lestari; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Nasrin Kodim, Rustika, Djarot Harsono
T-4161
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Femmy Imelia Pical; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Helda, Suprono
S-6677
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Novianti; Pemb. Budi Haryanto, Sri Tjahjani Utami; Penguji: Ririn Arminsih, Sri Endah Suwarni, Warmo Sudrajat
T-2858
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Revonita Priandini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Rebekka
Abstrak:
Tujuan: Mengetahui hubungan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan kejadian penyakit jantung koroner pada penduduk usia 15-59 tahun di Jakarta Timur tahun 2020. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan menggunakan data skrining faktor risiko PTM di Jakarta Timur tahun 2020. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.Kesimpulan: Hipertensi, diabetes melitus, obesitas, perilaku merokok, dan konsumsi alkohol menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian PJK. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan upaya preventif dan promotif untuk menurunkan prevalensi dan kematian akibat PJK.
Read More
S-10705
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
