Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30077 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yulinda; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Budi Andri, Jimmy Yul Ambarita
Abstrak: Pendahuluan: Rasio neutrofil-limfosit (RNL) adalah pemeriksaan laboratorium yang sederhana, murah, mudah, dan digunakan sebagai indikator adanya respon inflamasi sistemik dan penentu prognosis dari pasien dengan infeksi, termasuk virus. Peningkatan RNL diketahui berhubungan dengan keparahan dari suatu penyakit dan dapat dipertimbangkan sebagai biomarker independen untuk mengindikasikan prognosis yang buruk. Studi ini ingin membuktikan adanya hubungan RNL dengan tingkat keparahan gejala pasien COVID-19 di RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai (RSUD KKM).
Metode: Studi ini menggunakan desain kasus kontrol dengan jumlah kasus 56 pasien dan kontrol 168 pasien. Kriteria inklusi kasus adalah pasien COVID-19 berusia >18 tahun dengan gejala sedang-berat, kriteria inklusi untuk kontrol adalah pasien COVID-19 berusia >18 tahun tanpa gejala-gejala ringan. Kedua kelompok menjalani skrining/rawatan di RSUD KKM. Data ibu hamil dan data tidak lengkap tidak digunakan. Analisis data secara univariat, bivariat dengan chi square, dan multivariat dengan regresi logistik.
Hasil: Nilai RNL pasien COVID-19 dalam studi ini 0,38-7,08, dengan rata-rata RNL pada kasus 2,73 dan kontrol 1,95. Nilai cut-off RNL adalah 1,89 berdasarkan analisis ROC curve. Analisis bivariat menunjukkan RNL, usia, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler berhubungan signifikan dengan tingkat keparahan masing-masing dengan OR 3,29 (95% CI 1,65-6,71); 2,78 (95% CI 1,17-6,45); 3,41 (95% CI 1,56-7,35); dan 3,29 (95% CI 0,93-11,50). Analisis multivariat menunjukkan hubungan RNL dengan tingkat keparahan gejala pasien COVID-19 di RSUD KKM dengan OR 3,99 (95% CI 2,01-7,92) setelah dikontrol oleh variabel status vaksinasi dan penyakit kardiovaskuler.
Kesimpulan:Ada hubungan yang kuat antara RNL dengan tingkat keparahan gejala pasien COVID-19 di RSUD KKM. Semakin tinggi nilai RNL mengindikasikan semakin parah gejala pasien COVID-19

Background: Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is a simple, inexpensive, easy laboratory examination, and is used as an indicator of the presence of systemic inflammatory responses and determinants of prognosis of patients with infections, including viruses. Increased NLR is known to be associated with the severity of a disease and can be considered an independent biomarker to indicate a poor prognosis. This study wants to prove the relationship of NLR with the severity of symptoms of COVID-19 patients in Mentawai Islands District Hospital (RSUD KKM).
Method: This study used control case design with the number of cases of 56 patients and control of 168 patients. Case inclusion criteria are COVID-19 patients aged >18 years with moderate-severe symptoms, inclusion criteria for control are COVID-19 patients aged >18 years old with no and mild symptoms. Both groups underwent screening/treatment at RSUD KKM. Pregnant women's data and incomplete data are not used. Data analysis with univariate,, bivariate with chi square, and multivariate with logistic regression.
Results: NLR value of COVID-19 patients in this study were 0.38-7.08, with an average NLR in 2.73 cases and 1.95 controls. The NLR cut-off value is 1.89 based on ROC curve analysis. Bivariate analysis showed NLR, age, hypertension, and cardiovascular disease were significantly associated with severity each with OR 3.29 (95% CI 1.65-6.71); 2.78 (95% CI 1.17-6.45); 3.41 (95% CI 1.56-7.35); and 3.29 (95% CI 0.93-11.50). Multivariate analysis showed a relationship between NLR and the severity of symptoms of COVID-19 patients in RSUD KKM with OR 3.99 (95% CI 2.01-7.92) after being controlled by variable vaccination status and cardiovascular disease.
Conclusion: There is a strong relationship between NLR and the severity of symptoms of COVID-19 patients in RSUD KKM. The higher the NLR value indicates the worse the symptoms of COVID-19 patients
Read More
T-6152
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Winasis; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji:Tri Yunis Miko Wahyono, Suhara Manullang, Nikson Sitorus
Abstrak:
Latar belakang: Penyakit corona virus disease-19 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan pasien yang mempunyai komorbid berisiko mengalami keparahan berat. Tujuan: Mengetahui hubungan hipertensi dengan tingkat keparahan pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSU Kota Tangerang Selatan. Metode: Data diperoleh dari data sekunder berupa rekam medis pasien COVID-19 yang dirawat di RSU Kota Tangerang Selatan tahun 2021. Desain studi menggunakan cross sectional. Sampel sebanyak 146 pasien diperoleh secara random dan dianalisis menggunakan logistic regression. Hasil: Hipertensi pada pasien COVID-19 sebesar 47,3% (69 pasien). Diperoleh OR 1,6 (95% CI: 0,57 – 4,88) yang menunjukkan pasien dengan hipertensi mempunyai risiko terjadinya keparahan 1,6 kali dibandingkan dengan yang tidak hipertensi setelah dikontrol oleh variabel diabetes melitus dan penyakit ginjal. Kesimpulan: Pasien COVID-19 yang menderita hipertensi berisiko 1,6 kali lebih tinggi untuk mengalami keparahan dibandingkan pasien COVID-19 yang tidak hipertensi. Studi ini membuktikan risiko hipertensi pada keparahan pada pasien COVID-19.

Background: Corona virus disease-19 (COVID-19) is caused by the severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) virus and patients who have comorbidities are at risk of experiencing severe severity. Objective: To determine the relationship between hypertension and severity in COVID-19 patients treated at RSU Kota Tangerang Selatan . Methods: Data were obtained from secondary data in the form of medical records of COVID-19 patients who were treated at RSU Kota Tangerang Selatan in 2021. The study design used a cross sectional. A sample of 146 patients was obtained randomly and analyzed using logistic regression. Results: Hypertension in COVID-19 patients was 47.3% (69 patients). Obtained OR 1.6 (95% CI: 0.57 - 4.88) which shows patients with hypertension have a 1.6 times the risk of developing severity compared to those without hypertension after controlling for diabetes mellitus and kidney disease. Conclusion: COVID-19 patients who suffer from hypertension are at risk of 1.6 times higher for experiencing severity than COVID-19 patients who are not hypertensive. This study proves the risk of hypertension on severity in COVID-19 patients.
Read More
T-6829
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alek; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda; Inggar Wati
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu komorbid dari COVID-19 yang diduga dapat menyebabkan meningkatkan keparahan dan kematian pasien COVID-19. penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hipertensi terhadap tingkat keparahan Covid-19 pada pasien di RS Darurat Wisma Atlit Kemayoran.
Metode: Penelitian menggunakan desain studi Kohort Retrospektif, populasi dalam penelitian ini adalah pasien tekonfirmasi positif COVID-19 dengan Gejala di RS Darurat Wisma Atlit Kemayoran pada bulan Juli - Desember 2021.
Hasil: Pasien terkonfirmasi COVID-19 di RSDC Wisma Atlit Kemayoran dari bulan Juli sampai dengan 31 Desember 2021 jumlah pasien yang terkonfirmasi COVID-19 berjumlah sebanyak 20.006 pasien Setelah dilakukan eksklusi terhadap pasien dengan usia 0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara hipertensi terhadap tingkat keparahan Covid-19. Resiko pasien mengalami Covid-19 dengan kategori berat tidak berhubungan dengan adanya hipertensi (RR=1). Setelah dikontrol dengan jenis kelamin dan peran hipertensi terhadap keparahan Covid-19 masih sulit ditentukan karena convidence interval yang tidak presisi atau melewati null value yaitu RR=1,038

Background: Hypertension is one of the comorbidities of COVID-19 which is thought to increase the severity and death of COVID-19 patients. This study was to determine the relationship of hypertension to the severity of Covid-19 in patients at the Wisma Atlit Kemayoran Emergency Hospital.
Method: The study used a retrospective cohort study design, the population in this study were patients who were confirmed positive for COVID-19 with symptoms at the Wisma Atlit Kemayoran Emergency Hospital in July - December 2021.
Results: Patients with confirmed COVID-19 at the Wisma Atlit Kemayoran Hospital from July to December 31, 2021, the number of confirmed COVID-19 patients was 20,006 patients. After exclusion of patients 0.05) means that there is no significant relationship between hypertension and the severity of Covid-19. The risk of patients experiencing Covid-19 in the severe category was not related to the presence of hypertension (RR = 1). After controlling for gender and the role of hypertension on the severity of Covid-19, it is still difficult to determine because the confidence interval is not precise or passes the null value, namely RR = 1.038
Read More
T-6497
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soraya Hidayati; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Ririn Saptorini
Abstrak: Jumlah penderita dan kasus kematian akibat infeksi virus COVID -19 setiap harinya terus bertambah dan terus muncul varian virus COVID yang baru. Lebih dari 80% kematian karena COVID-19 terjadi pada penderita yang berusia di atas 65 tahun dan memiliki riwayat komorbid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktorfaktor yang dapat meningkatkan risiko kematian COVID-19 pada pasien lansia yang melakukan rawat inap di RSUD Karanganyar Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari file data base rekam medis pasien rawat inap di RSUD Karanganyar yaitu sebanyak 322 pasien lansia Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk menguji hubungan variabel independen jenis kelamin, TBC paru, diabetes mellitus, ginjal kronis, stroke, dan jantung dengan kematian pasien COVID-19 lansia sebagai variabel dependennya Sebanyak 61 (18,9%) pasien COVID-19 lansia meninggal dunia. Sebanyak 33 (54,1%) pasien lansia adalah perempuan
Read More
T-6404
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Disa Hijratul Muharramah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Irandi Putra Pratomo, Rakhmad Hidayat
Abstrak: Background: Penyakit Coronavirus (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-COV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) telah menyebar keseluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 180 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 3,9 juta kematian. Manifestasi klinis COVID-19 berkisar dari infeksi tanpa gejala atau infeksi ringan hingga bentuk penyakit parah yang mengancam jiwa. Laporan sebelumnya telah menemukan bahwa obesitas dikaitkan dengan kondisi seseorang yang terinfeksi COVID-19 menjadi parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan obesitas dengan keparahan COVID-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada pasien COVID19 yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Indonesia pada tahun 2020. Data diperoleh dari rekam medis, pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Dimana kriteria inklusi adalah pasien dengan informasi lengkap sedangkan untuk kriteria ekslusi adalah pasien yang berusia 18 tahun ke bawah dan hamil. Ada 725 COVID-19 yang disertakan untuk analisis. Kami menggunakan PR yang disesuaikan (dan 95% CI) untuk memperkirakan risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas Hasil: Dari 725 pasien COVID-19, 178 mengalami gejala berat. Pasien dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronis lebih mungkin menderita gejala COVID-19 yang parah. Obesitas dikaitkan dengan keparahan COVID19 (PR 1,68 dan 95% CI: 1,24-2,26) setelah dikontrol oleh sia, jenis kelamin, diabetes, dan penyakit jantung. Risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas berbeda berdasarkan jenis kelamin (PR adalah 1,64, 95% CI: 1,14-2,34 pada pria dan 1,69, 95% CI: 0,99-2,88 pada wanita) dan usia (PR adalah 1,77, 95% CI: 1,07-2,29 pada usia yang lebih muda dan 1,48, 95% CI: 1,01-2,17 pada kelompok usia yang lebih tua). Kesimpulan : Obesitas meningkatkan risiko keparahan COVID-19. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk olahraga rutin, memilih makanan sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dapat mengurangi risiko keparahan COVID-19
Background: Coronavirus disease (COVID-19) caused by SARS-CoV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) has spread worldwide and infected more than 180 million confirmed cases and 3,9 million deaths. The clinical manifestations of COVID-19 range from asymptomatic or mild infection to severe. Previous reports identified that obesity is associated with the condition of a person infected with COVID-19 develop into severe. This study aims at examining the risk of severity COVID-19 associated with obesity Methods: A cross sectional study was conducted among COVID-19 patients admitted at the University of Indonesia Hospital in 2020. Patients whose aged 18 or below or pregnant were excluded. Data were obtained from medical records. Cases were selected for the analysis only if the information was completed. There were 725 COVID-19 included for the analysis. We used adjusted PRs (and 95% CI) to estimate the risk of severity of COVID-19 associated with obesity. Results: Of 725 COVID-19 patients, 178 had severe symptoms. Patients with hypertension, diabetes, heart disease and Chronic Kidney Disease were more likely to suffer severe COVID-19 symptoms. After age, gender, diabetes and heart disease were taken into account, obesity was associated with severity of COVID-19 (PR 1.68 and 95% CI: 1,24-2.26). The severity risks COVID-19 associated with obesity were different based on gender (PRs were 1.64, 95% CI: 1,14-2,34 in men and 1.69, 95% CI: 0.99-2.88 in women) and age (PRs were 1.77, 95% CI: 1.07-2.29 among younger age and 1.48, 95% CI: 1.07-2.29 in older age group). Conclusion : Obesity increase the risk for severity of COVID-19. Maintain healthy life style, including routine exercise, choice of healthy food and routine medical checkup may reduce the risk of severity of COVID-19
Read More
T-6141
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikke Yuniherlina; Pembimbing: SSyahrizal yarif, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Endang Burni P., Herman Kosasih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Program Studi : Epidemiologi Komunitas Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD pada pasien studi demam akut di delapan rumah sakit di Indonesia Manifestasi klinis demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi permasalahan dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan derajat keparahan DBD menurut kritera WHO 2011 terbagi atas DBD derajat I, DBD derajat II, DBD derajat III, dan DBD derajat IV. Di Indonesia insiden DBD meningkat walaupun angka kematiannya menurun, untuk itu penelitian ini bertujuan meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD, dimana DBD derajat II, III, dan IV dikategorikan sebagai DBD parah. Penelitian cross-sectional yang menggunakan data sekunder dari studi etiologi demam akut dari delapan rumah sakit di Indonesia, didapatkan proporsi keparahan DBD sebesar 43,3%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD didapatkan faktor jenis serotipe virus DENV-2 (OR = 3,06 95%CI 1,43 – 6,55), DENV-3 (OR = 2,62 95% CI 1,33 – 5,15), faktor lama demam (OR = 1,91 95%CI 1,09 – 3,35), dan faktor jumlah leukosit (OR = 1,79 95%CI 1,02 – 3,16). Skoring didapatkan sebesar 67% kemampuan untuk memprediksi keparahan. Kata kunci: keparahan, demam berdarah dengue, faktor-faktor


ABSTRACT Name : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Study Program : Epidemiology Title : Prognostic factors associated with dengue hemorrhagic fever severity of the acute fibril illness study patients in eight hospitals in Indonesia Dengue hemorrhagic fever (DHF) as a clinical manifestasion of dengue infection remains a public health problem in Indonesia. According to WHO, DHF severity grade was divided into DHF I, DHF II, DHF III and DHF IV. In Indonesia, the incidence of DHF increased eventhough the mortality rate decreased. Therefore, the study aims to examine prognostic factors related to the severity of DHF, with the category of severe DHF is including DHF II, DHF III and DHF IV. This cross-sectional study using secondary data from the Acute Febrile Illness Etiology Study of eight Hospitals in Indonesia. The result as follow, the proportion of severe DHF category is 43.3%, the prognostic factors associated with DHF severity are DENV serotype (DENV-2, OR = 3.06 95% CI 1.43 - 6.55; DENV-3, OR = 2.62 95% CI 1.33 - 5.15), day of illness (OR = 1.91 95% CI 1.09 - 3.35), and leucocyte count (OR = 1.79 95% CI 1.02 - 3.16). The scoring with contributing of DENV serotype, day of illness, and leucocyte count as prognostic factors, has only 67% ability to predict DHF severity. Keywords: severity, dengue hemorrhagic fever, prognostic factors

Read More
T-5168
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Indah Palupi Nugrahari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal, Sherli Karolina, Hidayat Nuh Ghazali Djajauli
Abstrak: COVID-19 telah menginfeksi ratusan juta orang dan menyebabkan kematian jutaan orang di seluruh dunia. Vaksinasi diharapkan dapat mengurangi insiden penyakit, tingkat mortalitas, maupun keparahan penyakit. Sehingga peneliti ingin mengetahui seberapa besar efek vaksinasi dalam melindungi pasien COVID-19 terhadap penyakit COVID-19 yang berat dan kematian COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang menggunakan data dari database NAR COVID-19 dan Dashboard KPCPEN Dinkes Kota Depok mulai tanggal 8 Mei 2020 hingga 20 Februari 2023 yang dianalisis menggunakan regresi logistik. Peneliti menemukan bahwa kelompok usia terbesar adalah usia 31-45 tahun (26,54%) dan terkecil adalah usia ≥ 60 tahun (10,97%). Populasi perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki (53,36% vs 46,64%). Kemudian hanya 6.41% orang bekerja sebagai petugas kesehatan. Jumlah orang yang tidak divaksin lebih banyak dibandingkan orang yang divaksin (52,58% vs. 47,42%). Dibandingkan dengan pasien COVID-19 yang tidak divaksinasi, pasien yang divaksin mengalami penurunan risiko dirawat sebesar 45% (periode 1), 43,3% (periode 2), dan 24% (periode 3). Kemudian pasien COVID-19 yang divaksinasi mengalami penurunan risiko mortalitas sebesar 35% (periode 1), 90% (periode 2), dan 33% (periode 3). Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa vaksinasi COVID-19 menurunkan risiko dirawat di RS dan mortalitas pasien COVID-19 pada ketiga periode sakit.
COVID-19 has infected and caused the deaths of millions of people in the world. And vaccination is expected to reduce the incidence, mortality, and severity of the disease. The objective of this research is to discover the effects of COVID-19 vaccination against severe disease and death of COVID-19. This was a retrospective cohort research that utilized data from the COVID-19 NAR database and the Depok City Health Department KPCPEN Dashboard from Mei 8, 2020 to February 20, 2023, and was analysed using logistic regression. We discovered that the largest age group were patients between ages 31-45 years (26.54%) and the smallest was ≥ 60 years (10.97%). There were more female patients than men (53.36% vs. 46.64%). Only 6.41% of patients were healthcare workers, and more patients were unvaccinated than vaccinated (52.58% vs. 47.42%). Compared to the unvaccinated patients, the vaccinated patients experienced a risk reduction of 45% in period 1, 43.3% in period 2, and 24% in period 3. Vaccinated patients also experienced a risk reduction for mortality of 35% in period 1, 90% in period 2, and 33% in period 3. Therefore, we conclude that COVID-19 vaccination reduces the hospitalization and mortality risks for COVID-19 patients in all 3 periods.
Read More
T-6850
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melia Fatrani Rufaidah; Pembimbing: Helda, Ratna Djuwita; Penguji: Desty Wijayanti, Inggariwati
Abstrak: Pada pertengahan tahun 2021, Indonesia mengalami lonjakan kasus COVID-19 dengan infeksi berat yang berdampak pada peningkatan jumlah kematian. Hipertensi diketahui menjadi salah satu penyakit penyerta yang paling banyak dimiliki oleh pasien COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh hipertensi secara independen terhadap mortalitas COVID-19 di RSUD Pasar Minggu periode tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data yang digunakan berasal dari rekam medis pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Sampel terpilih dengan metode simple random sampling dan analisis yang digunakan adalah analisis survival Kaplan-meier dan analisis multivariat Cox proportional-hazards regression. Dengan demikian, seiring dengan perjalanan waktu pandemi COVID-19 ini diharapkan rumah sakit dapat tetap melakukan pemantauan yang lebih ketat terhadap pasien dengan komorbiditas terutama hipertensi sehingga dapat terus menurunkan angka kematian akibat COVID-19
Read More
T-6414
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karina Widyasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Muhammad Bal'an Kamali Rangkuti, Elvita Dwi Amelia
Abstrak: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 merupakan penyakit nomor satu dalam daftar kasus terbanyak dirawat inap sekaligus penyebab kematian tertinggi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan pada tahun 2022. Oleh karena itu, penting dilakukannya penelitian terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pasien COVID-19 di Layanan Rawat Inap RSUD Tarakan tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder dari laporan Electronic Health Records RSUD Tarakan. Variabel yang diteliti adalah karakterisik pasien, penyakit penyerta, komplikasi, dan tatalaksana kasus COVID-19. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis sebanyak 550. Hasil analisis multivariat dengan cox regression time constant menemukan faktor risiko dalam kejadian kematian pasien COVID-19 di Layanan Rawat Inap RSUD Tarakan tahun 2022 adalah derajat keparahan (aRR 2,95; 95%CI 1,61-5,39), penyakit ginjal kronik (aRR 3,19; 95%CI 1,62-6,31), serta penggunaan ventilasi mekanik invasif <96 jam (aRR 3,50; 95%CI 1,97-6,22) dan ≥96 jam (aRR 2,44; 95%CI 1,24-4,80). Sedangkan faktor protektifnya adalah penggunaan antivirus favipiravir (aRR 0,33; 95%CI 0,16-0,70). Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyarankan rumah sakit untuk memperbaiki clinical pathway dan standar operasional prosedur yang memperhatikan faktor risiko dan protektif kematian COVID-19.
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by the Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In 2022, COVID-19 was the leading cause of inpatient admissions and deaths at Tarakan Regional General Hospital (RSUD Tarakan). This highlights the importance of investigating factors related to mortality of COVID-19 inpatient at RSUD Tarakan in 2022. This study uses a retrospective cohort design with secondary data from the hospital's Electronic Health Records (EHR). The variables studied included patient’s characteristics, comorbid, complications, and the management of COVID-19 cases. A total of 550 samples met the criteria for analysis. Multivariate analysis using cox regression with time constant identified several risk factors for COVID-19-related deaths at RSUD Tarakan in 2022, including severity (aRR 2.95; 95%CI 1.61-5.39), chronic kidney disease (aRR 3.19; 95%CI 1.62-6.31), and the duration of invasive mechanical ventilation for <96 hours (aRR 3.50; 95%CI 1.97-6.22) and ≥96 hours (aRR 2.44; 95%CI 1.24-4.80). Meanwhile, protective factors include the use of favipiravir (aRR 0.33; 95%CI 0.16-0.70) and remdesivir (aRR 0.69; 95%CI 0.38-1.26). Based on these findings, the researchers recommend that hospital improve clinical pathways and standard operating procedures that take into account the risk and protective factors for COVID-19 mortality
Read More
T-7191
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Opyn Mananta; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah; Penguji: I Nyoman Kandun, Setiani Erliana
Abstrak:

Penelitian ini membahas tentang gambaran tingkat kesamaan diagnosis klinis kasus DBD oleh petugas medis di puskesmas dan RSUD Cilacap serta faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi penetapan diagnosis klinis kasus DBD di Kabupaten Cilacap Provinsi. Desain penelitian ini adalah studi potong lintang. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kesepakatan diagnosis klinis kasus DBD antara petugas medis di Puskesmas dan RSUD Cilacap tergolong sangat baik (nilai kappa 0,82), dimana pelatihan, pengetahuan, sikap dan motivasi merupakan faktor yang berhubungan dalam penetapan diagnosis klinis kasus DBD. Untuk itu perlu di lakukan sosialisasi, pelatihan dan supervisi serta penyediaan sarana untuk pemeriksaan diagnostik kasus DBD.


 This study about reliability of DHF diagnosis in PHC and Cilacap Hospital and determinant of DHF diagnosis in Cilacap District. The study was cross sectional study. This study found that the agreement of clinical diagnosis of dengue cases among the medical doctors in PHC and Cilacap hospital classified as verry good (kappa value 0.82). training, knowledge, attitude and motivation factor of the most were determinant of the agreement of clinical diagnosis of DHF cases. The study recommended to socialize the results of the study,conducting training on clinical diagnosis and condunting supervision regularly.

Read More
T-3602
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive