Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30867 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tiopan Sipahutar; Ketua Tim Penguji: Endang L. Achadi; Promotor: Tris Eryando; Ko Promotor: Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Muhammad Nur Aidi, Minarto, Diah Mulyawati Utari, Martya Rahmaniati, Harimat Hendarwan
Abstrak: Prevalensi stunting di kabupaten/ kota di Indonesia masih banyak yang tinggi walaupun secara nasional sudah mengalami penurunan. Penelitian ini merupakan studi ekologi yang menggunakan data agregat dari Laporan Riset Kesehatan Dasar 2018 dengan tujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi stunting di Indonesia pada tingkatan kabupaten/ kota, menemukan daerah hotspot stunting yang akan menjadi area prioritas intervensi stunting, dan menentukan model prevalensi stunting dengan menggunakan analisis spasial. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan Spatial Autoregressive (SAR). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak R i386 3.6.1 untuk mengolah data spasial, Tableau Public 2020 untuk membuat grafik, serta SPSS 25 untuk membuat statistik deskriptif. Hasil analisis menemukan bahwa sebanyak 54,9% (282 kabupaten/ kota) kabupaten/ kota di Indonesia masih memiliki prevalensi stunting di atas angka nasional. Prevalensi stunting balita lebih dari 30% masih terlihat di 57,8% (297 kabupaten/ kota) kabupaten/ kota, dan prevalensi stunting balita lebih dari 40% masih ada sekitar 17,7% (91 kabupaten/kota). Ada autokorelasi antar wilayah berdasarkan prevalensi stunting di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Bali NTT NTB. Analisis spasial juga menemukan beberapa daerah hotspot yang kemudian akan diajukan sebagai daerah prioritas intervensi percepatan pencegahan stunting di Indonesia. Hasil pemodelan SAR menemukan faktor penentu stunting yang bermakna untuk Pulau Sumatera adalah BAB di jamban, cuci tangan, ANC-K4, dan kemiskinan; untuk Pulau Jawa adalah ANC-K4 dan kemiskinan; untuk Sulawesi adalah BAB di jamban dan ANC- K4; dan untuk Bali NTT NTB adalah cuci tangan, imunisasi, kemiskinan, dan PMT anak.
Read More
D-436
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Fentiana; Promotor: Trini Sudiarti; Kopromotor: Endang Laksminingsih, Besral; Penguji: Kusharisupeni, Diah M. Utari, Hardinsyah, Fasli Jalal, Arum Atmawikarta
Abstrak:
Stunting anak 0-23 bulan di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Penelitian menggunakan data Riset Kesehatan Dasar, Survey Sosial Ekonomi Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto per kapita tahun 2018 dengan pendekatan potong lintang bertujuan mengetahui model jalur hubungan langsung dan tidak langsung berbagai faktor risiko stunting dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota. Pengolahan data sekunder dilakukan pada Januari-April 2022. Sampel adalah 106 kabupaten/kota prevalensi stunting <20% dan 403 kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20% (20%-<30%, 30%-40% dan >40%) yang diagregratkan pada tingkat kabupaten/kota dari 32.095 data individu anak usia 0-23 bulan yang diukur panjang badannya. Pemodelan menggunakan analisis jalur. Model jalur pencegahan risiko stunting memperlihatkan akses terhadap makanan (r=-0,31) dan pemeriksaan kehamilan (r=-0,29) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting <20%. Keluarga Berencana (r=-0,15), pemeriksaan kehamilan (r=-0,13) dan cuci tangan pakai sabun (r=-0,11) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20%. Tablet tambah darah ibu hamil (r=-0,02) dan inisiasi menyusu dini (r=-0,03) berhubungan tidak langsung melalui ASI eksklusif dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. ASI eksklusif (r=-0,15) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. Cuci tangan pakai sabun berhubungan signifikan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 30%-40% (r=-0,22) dan >40% (r=-0,45). Model jalur menyimpulkan bahwa kabupaten/kota dapat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan risiko stunting dengan memodifikasi sejumlah faktor risiko terutama pada keluarga anak 0-23 bulan.

Stunting in children 0-23 months in Indonesia is a public health problem caused by various direct and indirect factors. This study uses data from Basic Health Research, National Socio-Economic Survey and Gross Regional Domestic Product per capita in 2018 with a cross-sectional approach. Secondary data processing was carried out in January-April 2022. The samples were 106 districts/cities with stunting prevalence <20% and 403 districts/cities with stunting prevalence 20% (20%-<30%, 30%-40% and >40%) Aggregated at the district/city level from 32,095 individual data for children aged 0-23 months, whose body length was measured. The modeling uses path analysis. The stunting risk prevention pathway model shows that access to food (r=-0.31) and prenatal care (r=-0.29) is directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities with stunting prevalence <20%. Family planning (r=-0.15), pregnancy check-ups (r=-0.13) and hand washing with soap (r=-0.11) were directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence 20 %. Blood supplement tablets for pregnant women (r=-0.02) and early initiation of breastfeeding (r=-0.03) were indirectly related through exclusive breastfeeding with the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence of 20%-<30% . Exclusive breastfeeding (r=-0.15) was directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in the district/city stunting prevalence of 20%-<30%. Hand washing with soap is directly related to stunting prevalence at district/city level in districts/cities, stunting prevalence is 30%-40% (r=-0.22) and >40% (r=-0.45). The pathway model concludes that districts/cities can play an important role in preventing stunting risk by modifying a number of risk factors, especially in families of children 0-23 months.
Read More
D-475
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Kharisa Aurora; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Reno Riyawan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu pada tahun 2018. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari Riskesdas tahun 2018. Penelitian dengan desain potong lintang ini menemukan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu adalah sebesar 25,3%. Pekerjaan ibu (PR: 2,26; 95% CI: 1,39-3,68), tinggi badan ibu (PR: 1,78; 95% CI: 1,27-2,51), umur anak (PR: 1,83 95% CI: 1,09-3,08), dan tempat tinggal (PR: 2,26; 95% CI:1,46-3,5) ditemukan berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu. Tempat tinggal ditemukan menjadi confounder dalam hubungan antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Bengkulu. Meningkatkan awareness masyarakat luas terhadap isu stunting, kerjasama lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting, serta pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan memberikan perhatian lebih pada kelompok-kelompok berisiko dapat mencegah dan menanggulangi stunting pada anak balita.
Read More
S-10756
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muldiasman; Promotor: Kusharisupeni; Kopromotor: Endang L. Achadi, Besral; Penguji: Ratna Djuwita, Diah Mulyawati Utari, Abas Basuni Jahari, Hartono Gunardi, Anies Irawati
Abstrak: Hasil Riset Kesehatan Dasar Riskesdas di Provinsi Jambi tahun 2013 menunjukkan tingginya prevalensi stunting sebesar 37,9 . Hal ini dapat mengindikasikan risiko rendahnya kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang. Dipihak lain kunjungan posyandu di Provinsi Jambi sangat rendah yaitu sebesar 25 . Kegiatan posyandu seharusnya merupakan kegiatan monitoring pertumbuhan anak, kegiatan promosi kesehatan, pencegahan dini penyakit infeksi seperti imunisasi, dan pemberian suplementasi vitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi kunjungan posyandu dengan stunting pada anak 6-59 bulan di Provinsi Jambi. Desain studi ini adalah cross sectional, sebanyak 2502 anak 6-59 bulan diambil sebagai sampel dari hasil pemantauan status gizi. Untuk mengetahui alasan rendahnya kunjungan posyandu maka dilakukan penelitian kualitatif di 2 kabupaten dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Hasil penelitian menunjukkan satu dari empat 27.5 anak 6-59 bulan adalah stunting. Hasil analisis logistik ganda menunjukkan bahwa frekuensi kunjungan posyandu tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Tidak bermaknanya frekuensi kunjungan posyandu dengan stunting mengindikasikan bahwa program yang dijalankan posyandu belum efektif dalam mencegah stunting. Perhatian terhadap pengetahuan kader, keterampilan kader, pengetahuan ibu, sarana dan prasarana serta dukungan stakeholder menjadi prioritas untuk meningkatkan jalannya fungsi pemantauan pertumbuhan, promosi dan rujukan di posyandu sehingga efektif mencegah stunting.
 

 
Research in Jambi Province at 2013 showed a high prevalence of stunting by 37.9 . This may indicate the risk of low quality of human resources. On the other hand, the visit of posyandu in Jambi Province was very low at 25 . Posyandu activities should be a monitoring activity of child growth, health promotion activities, early prevention of infectious diseases such as immunization, and supplementation of vitamin A. This study aims to determine the association of posyandu child visits 6-59 months frequency with stunting in Jambi Province. A total of 2502 children from 6 to 59 months eligible were sampled from nutritional status monitoring. To know the reason for the low of posyandu visit, qualitative research was conducted in 2 districts. The results showed one of four 27.5 children 6-59 months was stunting. The result of binary logistic analysis shows that the frequency of posyandu visit is not associated with stunting. Its indicates that programs run by posyandu have not been effective in preventing stunting. Attention to cadre knowledge, cadre skills, mother knowledge, facilities and infrastructure, stakeholder support is a priority to improve the function of growth monitoring, promotion and referral in posyandu so as to effectively prevent stunting.
Read More
D-387
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosni Lubis; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Atmarita; Yekti Widodo, Aryono Hendarto, Ahmad Syafiq, Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:

Prevalensi stunting pada balita di Indonesia, khususnya Kabupaten Bogor masih tergolong tinggi. Minimum Acceptable Diet (MAD), salah satu penilaian pada praktik pemberian makanan pendamping ASI, merupakan salah satu determinan utama dalam kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan MAD dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak umur 6-23 bulan. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kohor prospektif data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (TKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah anak umur 6-23 bulan pada studi kohor TKA yang dilakukan pengukuran berulang secara lengkap. Anak yang lahir pada pada tahun 2012-2017 dan diikuti hingga umur 23 bulan (pada tahun 2014-2019).

Variabel dependen pada penelitian ini ialah anak stunting yang diamati pada saaat usia 12, 18 dan 24 bulan. Variabel independen utama pada penelitian ini ialah MAD yang diamati pada rentang umur 6-11, 12-17 dan 18-23 bulan.

Hasil: Prevalensi stunting dalam penelitian ini masih cukup tinggi yaitu anak umur 12 bulan (23,8%), 18 bulan (33,2%) dan 24 bulan (24,6%). Capaian MAD tidak adekuat paling banyak terjadi pada anak umur 6-11 bulan (77,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa MAD umur 6-11, 12-17 dan 18-23 tidak berhubungan terhadap kejadian stunting pada anak umur 12,18 dan 24 bulan.. Analisis Multivariat Regresi Cox menunjukkan stunted usia sebelumnya dan asupan protein mempengaruhi terjadinya stunting.

Kesimpulan: Upaya lebih lanjut perlu dilakukan untuk capaian MAD yang direkomendasikan pada anak usia 6-23 bulan untuk mencegah stunting. Studi skala besar untuk mengeksplorasi peran MAD dalam mengurangi stunting dan studi kualitatif untuk mengidentifikasi kendala dan faktor yang mempengaruhi praktik pemberian makan bayi dan anak yang lebih baik sangat penting untuk perbaikan program.


 

The prevalence of stunting among children under-fives in Indonesia, particularly in Bogor, West Java, is still relatively high. Minimum Acceptable Diet (MAD), one of the  assesments on the practice of complementary feeding is one of the main determinants of stunting. This study aims to examine the relationship between MAD and other factors with the incidennce of stunting in children aged 6-23 months. Methods: This research method uses a prospective cohort study design from the Cohort of Growth and Development  of children (TKA) research data which has been carried out since 2012 in Bogor City.

The sample of this study was children aged 6-23 months in the TKA cohort study whio underwent complete repeated measurements. Children born in 2012-2017 and followed up to 23 months of age (in 2014-2019).

The dependent variables were stunted children at ages 6-11, 12-17. 18-23 and 24 months. The main independent variable was Minimum Acceptable Diet at the age interval of 6-11, 12-17, and 18-23 months. The data collection on the MDD, the MMF, and the MAD used twenty-four-hour dietary recall. Result: Prevalence of stunting was higher for child aged 12 months (41,7%) than for those in 18 months (8,1%) and 24 months (4,0%) category. Inadequate MAD achievement was most common in children aged 6-11 months (41.7%). Bivariate analysis showed that fulfilment MAD aged 6-11, 12-17 and 18-23 were not associated with stunting. Multivariate analysis Cox Regression indicated that stunted early age and protein intake were significantly associated with stunting.

Conclusion: More efforts need to be done to achieve the recommended MAD for all children aged between 6-23 months and to prevent stunting. Large scale studies to explore the role of MAD in reducing stunting and qualitative studies to identify the constraints and promoting factors to better infant and young child feeding practices are imperative for programme improvement.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
D-563
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutanto Priyo Hastono: Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Kusharisupeni, Rulina Suradi, Amal Chalik Sjaaf, Purwantyastuti, Kemal Nazaruddin Siregar, Minarto, Soewarta Kosen
Abstrak: Abstrak

Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dialami anak diseluruh dunia, terutama
dialami oleh negara berkembang.). Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang di kawasan
Asia juga mengalami masalah tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui determinan
stunting anak 1-2 tahun dan perubahan anak yang awalnya stunting menjadi tidak stunting
(tinggi badan normal) pada umur berikutnya Penelitian ini melakukan analisis data sekunder
dengan memanfaatkan ketersediaan data survei IFLS (Indonesian Family Life Survey). Populasi
dalam penelitian ini adalah anak usia balita yang ada dalam data IFLS 1993. Sampel dalam
penelitian ini adalah anak yang usia 1-2 tahun pada IFLS 1993. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan regresi logistic.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 47,1 % anak 1-2 tahun
mengalami stunting dan pada usia berikutnya 8-9 tahun 31,3 % tinggi badannya dapat menjadi
normal. .Hasil analisis multivariate ternyata ada 5 variabel yang berhubungan dengan kejadian
stunting anak 1-2 tahun yaitu variabel Tinggi badan ibu, tempat tinggal, Berat lahir, kondisi
ekonomi keluarga dan kondisi kesehatan lingkungan Selanjutnya dari hasil analisis multivariate
ternyata ada 5 variabel yang berhubungan dengan perubahan anak stunting umur 1-2 tahun
menjadi anak dengan tinggi badan normal (tidak stunting) pada umur 8-9 tahun yaitu variabel
tinggi badan ibu, tinggi badan bapak, tempat tinggal, jenis kelamin dan perubahan kondisi
ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Kementerian Kesehatan perlu merumuskan kebijakan
untuk program perbaikan gizi kronis (stunting) yang biasanya mulai terjadi selama periode seribu
hari kehidupan yaitu sejak masa janin dalam kandungan sampai usia anak 2 tahun. Intervensi gizi
difokuskan pada perbaikan status gizi sebelum kehamilan dan selama hamil, bahkan lebih baik
intervensi gizi dilakukan jauh sebelum menikah, yaitu pada usia sekolah dan usia remaja

Kata Kunci: stunting, perubahan tinggi badan normal

Read More
D-513
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musafah; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Martya Rahmaniati Makful, Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: Besral, Kemal Nazaruddin Siregar, Wendy Hartanto, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Unmet need KB di Indonesia belum mencapai target khususnya di Pulau Kalimantan. Penurunan unmet need KB dapat mencegah kematian ibu. Adanya desentralisasi menuntut pemerintah daerah membuat kebijakan kesehatan seperti program KB. Analisis spatio-temporal dibutuhkan untuk menyelidiki unmet need KB yang berguna untuk memantau program KB. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola spasial dan faktor-faktor yang mempengaruhi unmet need KB tahun 2018-2021 di tingkat Kabupaten/Kota di Pulau Kalimantan, Indonesia. Studi ekologi dilakukan pada 56 Kabupaten/kota di Pulau Kalimantan pada tahun 2018-2021. Data berbentuk agregat dan bersumber dari Laporan Pengendalian dan Pelayanan Kontrasepsi BKKBN, Buku Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Website Dewan Jaminan Sosial Sistem Informasi Terpadu. Analisis data dengan menggunakan Geographically Temporal Weighted Regression. Hasil penelitian menunjukkan Bulungan, Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Kota Tarakan, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur konsisten berada pada klaster I (High-high) pada tahun 2018-2021. Pemodelan unmet need KB yang didapatkan pada tingkat Kabupaten/kota di Pulau Kalimantan selama 2018-2021 adalah kemiskinan, pendapatan, non cakupan JKN, rasio praktik bidan mandiri, rasio faskes KB pemerintah, rasio faskes KB swasta, rasio penyuluh KB dengan nilai adjusted R square sebesar 46,06%. Kemiskinan berpengaruh dalam meningkatkan unmet need KB di 43 Kabupaten/Kota (76,8%) di Pulau Kalimantan, Indonesia selama 2018-2021. Non cakupan JKN berpengaruh dalam meningkatkan unmet need KB di 35 Kabupaten/kota (62,5%) di Pulau Kalimantan, Indonesia selama 2018-2021. Rasio praktik bidan mandiri, rasio faskes KB pemerintah dan rasio faskes KB swasta berpengaruh terhadap unmet need KB tetapi belum dapat menurunkan unmet need KB di Pulau Kalimantan, Indonesia selama 2018-2021. Rasio penyuluh KB berpengaruh dalam menurunkan unmet need KB di 22 Kabupaten/kota (39,3%) di Pulau Kalimantan, Indonesia selama 2018-2021. Berdasarkan hasil penelitian tersebut direkomendasikan kepada SKPD-KB di Kabupaten/kota untuk memprioritaskan program KB pada penduduk miskin dalam menurunkan unmet need KB dengan mendekatkan program KB seperti pelayanan KB dan penyuluhan KB khususnya pada Kabupaten/kota yang konsisten tergolong kemiskinan tertinggi selama 2018-2021, yaitu Kapuas Hulu, Melawi, Kayong Utara, Paser, Kutai Barat, Kutai Timur, Mahakam Ulu dan Bulungan.

Unmet need for family planning in Indonesia has not yet reached the target, especially on the island of Kalimantan. Reducing the unmet need for family planning can prevent maternal deaths. Decentralization requires local governments to create health policies such as family planning programs. Spatio-temporal analysis is needed to investigate unmet need for family planning which is useful for monitoring family planning programs. The aim of this research is to determine the spatial patterns and factors that influence the unmet need for family planning in 2018-2021 at the district/city level on the island of Kalimantan, Indonesia. Ecological studies were carried out in 56 districts/cities on Kalimantan Island in 2018-2021. Aggregate data is used and comes from the BKKBN Contraception Control and Services Report, the Central Statistics Agency (BPS) Publication Book and the Social Security Council's Integrated Information System Website. Data analysis using Geographically Temporal Weighted Regression. Poverty has an influence in increasing the unmet need for family planning in 43 districts/cities (76.8%) on Kalimantan Island, Indonesia during 2018-2021. Non-coverage of JKN has an influence in increasing the unmet need for family planning in 35 regencies/cities (62.5%) on Kalimantan Island, Indonesia during 2018-2021. The ratio of independent midwife practices, the ratio of government family planning health facilities and the ratio of private family planning health facilities have an influence on the unmet need for family planning but have not been able to reduce the unmet need for family planning on the island of Kalimantan, Indonesia during 2018-2021. The ratio of family planning instructors has an influence in reducing the unmet need for family planning in 22 districts/cities (39.3%) on Kalimantan Island, Indonesia during 2018-2021. Based on the results, it is recommended for SKPD-KB in districts/cities to prioritize family planning programs for the poor in reducing the unmet need for family planning by bringing family planning programs closer together such as family planning services and family planning counseling, especially in districts/cities which consistently have the highest poverty level during 2018-2021 namely Kapuas Hulu, Melawi, North Kayong, Paser, West Kutai, East Kutai, Mahakam Ulu and Bulungan.
Read More
D-510
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Semuel Piter Irab; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Besral, Kusharisupeni, Rita Damayanti, Sutanto Priyo Hastono, Abas Basuni Juhari, Trihono
Abstrak: Disertasi ini adalah menggambarkan perubahan prevalensi balita stunting pada Kabupaten/Kota kategori membaik dan Kabupaten/Kota kategori memburuk di Indonesia dari tahun 2007 ke tahun 2013. Metode cross sectional studi, sampel yaitu 163 Kabupaten/Kota, sumber data sekunder Balitbangkes dan Kementerian Keuangan. Uji statistik t-test dan diskriminan. Hasil: perubahan prevalensi balita stunting pada 49 Kabupaten/Kota kategori membaik 30,1%, dan 114 Kabupaten/kota kategori memburuk 69,9%. Sembilan cakupan program kesehatan dan sosial pada Kabupaten/Kota kategori membaik yang memiliki perubahan lebih besar dari Kabupaten/Kota kategori memburuk yaitu prevalensi BBLR, cakupan penimbangan balita ≥ 4 kali, cakupan vitamin A, cakupan imunisasi lengkap, persentase ketersediaan air bersih, persentase pengelolaan sampah diangkut petugas kebersihan, persentase ketersediaan jamban keluarga, persentase cuci tangan pakai sabun, dan persentase KK pegawai negeri sipil. Lima cakupan program kesehatan dan sosial pada Kabupaten/Kota ketegori memburuk yang perubahannya tidak jauh berbeda dari Kabupaten/Kota kategori membaik yaitu cakupan ANC-K4, prevalensi KEK ibu hamil, prevalensi TB-Paru balita, indeks kapasitas fiskal, dan persentase KK pendidikan tinggi. Delapan cakupan program kesehatan dan sosial dengan akurasi perubahan prevalensi balita stunting pada Kabupaten/Kota kategori membaik 83,7% dan Kabupaten kategori memburuk 92,1% yaitu cakupan timbangan balita ≥ 4 kali, cakupan imunisasi lengkap, cakupan ANC-K4, persentase sampah diangkut petugas kebersihan, persentase ketersediaan jamban keluarga, persentase cuci tangan pakai sabun, indeks kapasitas fiskal, dan persentase KK PNS
This dissertation is describing changes in the prevalence of stunting toddlers the Regencies/ Cities category improves and deteriorates in Indonesia, from 2007 to 2013. Cross sectional study method, samples are 163 Regencies/Cities, secondary data source Balitbangkes and Ministry of Finance. T-test and discriminant statistical test. Results: changes in the prevalence of stunting toddlers 49 Regencies/Cities category improved 30.1%, and 114 Regencies/Cities category deteriorated 69,9%. Nine coverage of health and social programs the Regencies/Cities category improved which has a change greater than Regencies/Cities category deteriorated namely the prevalence of LBW, toddler weighing coverage ≥ 4 times, vitamin A coverage, complete immunization coverage, percentage of availability of clean water, percentage of waste management carried by janitors, percentage of availability of family latrines, percentage of hand washing with soap, and the percentage of family heads of civil servants. Five coverage of health and social programs in the Regencies/Cities category deteriorated, whose changes are not much different from the Regencies/Cities category improved namely ANC-K4 coverage, prevalence of less chronic energy in pregnant women, prevalence of toddler pulmonary TB, fiscal capacity index, and the percentage of family heads of higher education. Eight coverage of health and social programs with accuracy changes in the prevalence of stunting toddlers at the Regencies/ Cities category improved 83,7% and Regencies/Cities category deteriorated 92.1% namely toddler weighing coverage ≥ 4 times, complete immunization coverage, ANC-K4 coverage, percentage of waste management carried by janitors, percentage of availability of family latrines, percentage of hand washing with soap, fiscal capacity index, and the percentage of family heads of civil servants
Read More
D-408
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devie Fitri Octaviani; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Dadan Erwandi, Indang Trihandini; Penguji: Baiduri Widanarko, Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Asnawi Abdullah, Avianto Amri, Suparni
Abstrak:
Kejadian jatuh merupakan penyebab utama cedera tidak disengaja pada anak usia taman kanak-kanak, dan sebagian besar terjadi di lingkungan rumah. Cedera akibat jatuh pada usia dini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan fungsi neurologis pada anak. Penelitian sebelumnya lebih berfokus pada identifikasi faktor risiko dan kejadian cedera, sementara penelitian ini bertujuan memodelkan keberhasilan pencegahan jatuh anak berdasarkan kerangka manajemen risiko berbasis rumah tangga. Pendekatan ini mengintegrasikan Safety I–III dan juga teori Graceful Extensibility (TGE) untuk mengevaluasi kapasitas protektif dan adaptif sistem keluarga dalam mempertahankan keselamatan anak secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 167 pendamping utama anak usia TK di Depok, yang mendampingi anak di lingkungan rumah tangga. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan berdasarkan empat faktor utama: anak, rumah, agen, dan pengetahuan pendamping. Analisis dilakukan secara bertahap melalui Rasch measurement untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, Principal Component Analysis (PCA) untuk menentukan skor faktor, Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menetapkan batas (cut-off point) kategori protektif, serta Bayesian Network dan Bayesian Logistic Regression untuk memetakan hubungan probabilistik antar faktor. Hasil menunjukkan bahwa 65,3% anak mengalami setidaknya satu kejadian jatuh dalam enam bulan terakhir. Instrumen yang dikembangkan terbukti valid dan reliabel dalam mengukur kapasitas protektif keluarga terhadap pencegahan jatuh pada anak. Berdasarkan hasil pemodelan, baseline probabilitas keberhasilan pencegahan jatuh anak sebesar 42% mencerminkan keterbatasan kapasitas protektif sistem keluarga dalam kondisi aktual. Melalui analisis sensitivitas, faktor rumah dan faktor anak diidentifikasi sebagai faktor protektif utama terhadap keberhasilan pencegahan jatuh. Kondisi rumah dan anak yang protektif meningkatkan peluang keberhasilan sistem sebesar tiga kali lipat (OR = 3,14). Selanjutnya, simulasi skenario what-if menunjukkan bahwa penguatan faktor rumah dan faktor anak merupakan titik pengungkit utama sistem yang dapat meningkatkan probabilitas keberhasilan pencegahan masing-masing 53% dan 52%. Faktor pengetahuan pendamping dan faktor agen berperan sebagai penguat adaptif pada lapisan proteksi berikutnya. Implikasi temuan ini adalah perlunya penyusunan program pencegahan jatuh berbasis rumah tangga dalam bentuk sistem proteksi berlapis (barrier-based approach). Barier pertama memprioritaskan penguatan faktor rumah dan faktor anak secara paralel dan interaktif melalui perbaikan lingkungan fisik rumah serta peningkatan pengetahuan dan pembentukan perilaku dasar keselamatan anak sesuai tahap perkembangan. Barier kedua menitikberatkan pada penguatan pengetahuan pendamping, sedangkan barier ketiga berfokus pada pengendalian faktor agen melalui penataan furnitur dan permainan anak. Keberhasilan pencegahan jatuh pada anak usia taman kanak-kanak di rumah merupakan hasil kinerja sistem keluarga yang adaptif dan dinamis. Integrasi manajemen risiko, Safety I–III, dan Theory of Graceful Extensibility memungkinkan pencegahan jatuh dipahami sebagai positive safety outcome yang dihasilkan melalui kapasitas sistem keluarga. Kata kunci: Pencegahan jatuh anak, keselamatan rumah tangga, manajemen risiko, Safety I–III, Bayesian Network

Falls are the leading cause of unintentional injuries in preschool-aged children, and prinarily occur in the home environment. Injuries from falls at an early age have the potential to cause long-term effects on a child's physical, cognitive, and neurological development. Previous research has focused more on identifying risk factors and the occurrence of injuries, while this study aims to model the success of fall prevention in children based on a household-based risk management framework. This approach integrates the Safety I–III and the Theory of Graceful Extensibility (TGE) to evaluate the protective and adaptive capacity of family systems in sustaining child safety. The study used a cross-sectional design with 167 primary caregivers of preschool-aged children in Depok, who care for children in household settings. Data was collected through a questionnaire developed based on four main factors: the child, the home, the agent, and the companion's knowledge. The analysis was conducted in stages using Rasch measurement to test the validity and reliability of the instrument, Principal Component Analysis (PCA) to determine factor scores, Receiver Operating Characteristic (ROC) to establish the cut-off point for protective categories, and Bayesian Network and Bayesian Logistic Regression to map the probabilistic relationships between factors.
The results show that 65.3% of children experienced at least one fall in the past six months. The developed instrument proved to be valid and reliable in measuring the protective capacity of families against falls in children. Based on modeling results, the baseline probability of successful fall prevention for children, at 42%, reflects the limitations of the family system's protective capacity in actual conditions. Through sensitivity analysis, home factors and child factors were identified as the main protective factors against the success of fall prevention. Protective home and child conditions triple the system's chances of success (OR = 3.14). Furthermore, the what-if scenario simulation shows that strengthening home and child factors are the main leverage points in the system that can increase the probability of success in prevention by 53% and 52% respectively. Companion knowledge and agent factors play a role as adaptive enhancers in the next layer of protection.
The implication of these findings is the need to develop a household-based fall prevention program in the form of a layered protection system (barrier-based approach). The first barrier prioritizes strengthening home and child factors in parallel and interactively through improving the physical environment of the home and increasing knowledge and shaping basic child safety behaviors according to the developmental stage. The second barrier focuses on strengthening caregivers' knowledge, while the third barrier concentrates on controlling agent factors through arranging furniture and children's toys.
The success of fall prevention in preschool-aged children at home is the result of the adaptive and dynamic performance of the family system. Integrating risk management, Safety I–III, and the Theory of Graceful Extensibility allows fall prevention to be understood as a positive safety outcome resulting from the family system's capacity.

Read More
D-613
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Santy; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Besral, Narila Mutia Nasir; Penguji: Anhari Achadi, Artha Prabawa, Tris Eryando, Indrajani, Eka Budiarto
Abstrak:
Latar Belakang: Adverse Pregnancy Outcomes (APO) diantarannya Berat Bayi Lahir rendah (BBLR), kelahiran preterm dan lahir mati merupakan penyebab utama kematian neonatal.  Indonesia menduduki posisi tertinggi di ASEAN dan ke tujuh di dunia terkait kematian bayi baru lahir. Rumusan Masalah: Belum terdeteksi secara dini faktor risiko APO dengan cepat dan tepat di FKTP yang berdampak pada tingginya kematian bayi baru lahir, stunting dan kecerdasan yang rendah, sehingga perlu adanya pengembangan program pencegahan. Tujuan Penelitian: Menemukan model prediksi APO berbasis machine learning untuk pengembangan ePHR sebagai upaya deteksi dini di FKTP. Metode: Penelitian ini menggunakan Mixed Methods: Sequential Explanatory design melalui empat (4) tahap yaitu: (1) Studi Literatur; (2) Pembuatan model prediksi APO berbasis Machine Learning, (3) Membangun Prototipe ePHR Sebagai Deteksi Dini di FKTP dan (4) Uji penerimaan bidan dan Uji Efikasi terhadap penggunaan ePHR. Hasil: Ditemukan 22 Variabel penelitian dari 51 variabel yang dibutuhkan, ditemukan 3 indikator kritis dan 8 fitur esensial yang menjadi predictor utama kejadian APO diantaranya: Kesehatan ibu (komplikasi kehamilan dan atau persalinan, paritas lebih dari 4); Ketersediaan dan kualitas pelayanan (fasilitas pertolongan persalinan); Profile ibu (pendidikan rendah, status sosial ekonomi rendah, usia terlalu tua atau terlalu muda dan ibu bekerja). Analisis menunjukkan algoritma terbaik adalah random forest dengan target multiclass: AUC 98,4%; Sensitivity 95,1%; F1 Score 94,3%, Diimplementasikan kedalam prototipe ePHR  ‘'e-bayiKusehAt” dengan 10 fitur untuk mendukung proses bisnis baru Deteksi dini APO terintegrasi dalam layanan antenatal di FKTP yang digunakan oleh bidan dan ibu hamil; Uji efikasi: Penggunaan Prototipe ePHR ‘'e-bayiKusehAt” meningkatkan kinerja bidan terutama deteksi dini terintegrasi dalam pelayanan Antenatal Diff-in-Diff tertinggi 1,571 (p<0,001); Kemampuan prediksi APO Diff-in-Diff 0,079 (p = 0,002); Mempercepat keputusan rujukan Diff-in-Diff 0,324 (p = 0,001); dan pengetahuan bidan tentang faktor risiko APO Diff-in-Diff: 0,388 ( p=0,031); Ibu hamil meningkatkan Akses edukasi Diff-in-Diff: 1,680 (p < 0,001) dan Pengetahuan Tanda Bahaya: Diff-in-Diff: 1,443 (p < 0,001). Kesimpulan: Telah diperoleh suatu model untuk prediksi APO, yang didasari dari 22 variabel penting. Model tersebut digunakan untuk membangun prototipe e PHR ‘'e-bayiKusehAt”, dimana hasil uji coba penggunaan prototipe berdampak pada peningkatan kinerja bidan dalam Deteksi Dini APO. Penggunaan prototipe ini ternyata juga efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapan ibu hamil terhadap potensi risiko kehamilan yang berdampak pada kejadian APO.

Background: Adverse Pregnancy Outcomes (APO) including low birth weight (LBW), preterm birth and stillbirth are the leading causes of neonatal mortality.  Indonesia has the highest position in ASEAN and seventh in the world regarding newborn mortality. Problem Formulation: APO risk factors have not been detected early and quickly at primary health care facilities, which has an impact on high newborn mortality, stunting and low intelligence, so it is necessary to develop a prevention program. Research Objective: Finding a machine learning-based APO prediction model for the development of ePHR as an effort to early detection in primary care. Methods: This research uses Mixed Methods: Sequential Explanatory design through four (4) stages, namely: (1) Literature Study; (2) Machine Learning-based APO prediction modeling, (3) Building ePHR Prototype as Early Detection in FKTP and (4) Midwife acceptance test and Efficacy Test for the use of ePHR. Results: 22 research variables were found from the 51 variables needed, 3 critical indicators and 8 essential features were found to be the main predictors of APO events including: Maternal health (complications of pregnancy and or childbirth, parity more than 4); Availability and quality of services (delivery assistance facilities); Maternal profile (low education, low socioeconomic status, too old or too young and working mothers). Analysis shows the best algorithm is random forest with multiclass target: AUC 98.4%; Sensitivity 95.1%; F1 Score 94.3%, Implemented into the ePHR prototype “e-bayiKusehAt” with 10 features to support new business processes Early detection of APO integrated in antenatal services at FKTP used by midwives and pregnant women; Efficacy test: The use of the ePHR Prototype “e-bayiKusehAt” improves midwives' performance, especially integrated early detection in antenatal services Diff-in-Diff highest 1.571 (p<0.001); APO Diff-in-Diff prediction ability 0.079 (p = 0.002); Accelerating Diff-in-Diff referral decisions 0.324 (p = 0.001); and midwives' knowledge of APO Diff-in-Diff risk factors: 0.388 (p = 0.031); Pregnant women increase Diff-in-Diff education access: 1.680 (p < 0.001) and knowledge of danger signs: Diff-in-Diff: 1,443 (p < 0,001). Conclusion: A model for APO prediction was obtained, based on 22 important variables. The model was used to build the e PHR prototype “e-babyKusehAt”, where the results of the trial use of the prototype had an impact on improving the performance of midwives in Early Detection of APO. The use of this prototype was also effective in increasing the awareness and readiness of pregnant women to potential pregnancy risks that have an impact on the incidence of APO.
Read More
D-594
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive