Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32295 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
BS Titi Haerana; Promotor: Ratna Djuwita; Ko Promotor: Nurhayati Adnan Prihartono, Pandu Riono; Penguji: Syahrizal Syarif, Ella Nurlaella Hadi, Nastiti Kaswandani, Ridwan Ammirudin
Abstrak: Anak yang kontak serumah dengan kasus indeks tuberkulosis berisiko tinggi tertular. Manajemen kontak merupakan kunci potensial menurunkan risiko kesakitan akibat tuberkulosis pada anak. Keluarga merupakan sasaran pendekatan yang tepat dimana tanggungjawab keluarga terhadap kesehatan anak. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh intervensi pencegahan keluarga (IPK) terhadap infeksi tuberkulosis anak dengan kontak serumah kasus indeks tuberkulosis di Kota Makassar. Desain penelitian quasi eksperimen dengan kelompok kontrol. Sampel menggunakan anak (≤ 5 tahun) dengan hasil uji tuberkulin negatif yang kontak serumah kasus indeks dewasa terkonfirmasi bakteriologis. Intervensi pencegahan keluarga dengan sasaran utama kasus indeks dan orangtua anak yang terdiri dari pendidikan kesehatan, pemberian masker, penerapan etiket batuk, dan peningkatan peran PMO keluarga diberikan selama 3 bulan kemudian outcome berupa infeksi tuberkulosis dinilai di akhir intervensi. Outcome dinilai berdasarkan hasil uji tuberkulin yakni penyuntikan uji mantoux/injeksi intradermal 0.1 ml larutan PPD RT-23 2 TU, interpretasi hasil dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Hasil penelitian menunjukkan intervensi mampu mencegah penularan infeksi tuberkulosis pada kontak balita dengan aRR = 0.576 95% CI 0.30-1.10 Artinya bila tidak mendapatkan intervensi maka risiko mengalami infeksi tuberkulosis pada kontak balita adalah (1/RR = 1/0.576) = 1.7 kali lipat. Intervensi mampu menurunkan risiko penularan tuberkulosis pada anak kontak serumah sebesar PF%=42.4% pada kelompok intervensi dan sebesar PFp%=28.4 % di populasi. Kesimpulan adalah intervensi pencegahan keluarga (IPK) berpengaruh terhadap infeksi tuberkulosis anak dengan kontak serumah kasus indeks tuberkulosis di Kota Makassar.
Read More
D-444
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Dewi Subandiyah; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ratna Djuwita, Nastiti Kaswandani; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Titis Prawitasari, Siti Nur Anisah, Nininig Mularsih
Abstrak:

Insidens kasus tuberkulosis (TBC) anak di Indonesia diperkirakan mencapai 11,7% dari total kasus TB. Tidak semua individu terpapar TBC akan menjadi sakit, namun kemungkinan reaktivasi lebih tinggi pada anak , terutama pada anak di bawah lima tahun. Kontak serumah lebih berisiko. Nutrisi baik makro maupun mikro mempengaruhi kejadian TBC pada anak. Studi menyatakan Vitamin D dan Seng berperan dalam peningkatan imunitas. Namun penelitian tentang pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta upaya perbaikan nutrisi dalam pencegahan infeksi TBC pada balita belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian suplementasi dan konseling diet dalam pencegahan infeksi TBC pada balita kontakserumah TBC paru terkonfirmasi bakteriologis di DKI Jakarta. Kami melakukan penelitian quasi eksperimen pada balita kontak serumah TBC paru bakteriologis di 25 kecamatan di DKI Jakarta. Kelompok intervensi diberikan vitamin D 400-600 IU/hari dan Seng 10-20mg/hari tergantung usia selama 3 bulan serta konseling diet pada orang tua. Balita yang masuk dalam sampel adalah balita yang tidak terinfeksi dan atau sakit TBC, tidak gizi buruk, HIV negative dan tidak menderita penyakit kronis lain. Setiap bulan  dilakukan recall diet 24 jam untuk mengukur nutrisi dan status gizi. Setelah 3 bulan akan dihitung balita yang terinfeksi dan tidak dengan menggunakan tes tuberculin. Analisa multivariat dilakukan dengan GEE. Berdasarkan hasil penelitian, insidenss kumulatif infeksi TBC pada kelompok intervensi 5% sedangkan pada kelompok kontrol 23%. Pemberian intervensi meningkatkan konsumsi vitamin D pada balita yakni dari 3 mcg menjadi 14,9 mcg dan Seng 3.8 mg menjadi 18.2 mg. Pada balita terinfeksi, konsumsi  vitamin D dan Seng lebih rendah. Besarnya risiko kejadian infeksi TBC dengan pemberian intervensi adalah 0.22 kali ( 95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta konseling diet  menurunkan kejadian infeksi TBC pada balita kontak serumah hingga 78%. Kata Kunci : Infeksi TBC pada balita kontak serumah, suplementasi vitamin D dan Seng, quasi eksperimen, tes tuberculin


 

The incidence of childhood tuberculosis (TB) in Indonesia is estimated to be 11.7% of total TB cases. Not all individuals exposed to TB will become ill, but the likelihood of reactivation is higher in children, especially children under five years old. Household contacts are more at risk. Both macro and mikro nutriens influence the incidence of TB in children. Studies suggest that vitamin D and zinc play a role in boosting immunity. However, research on vitamin D and zinc supplementation and nutritional improvement efforts in preventing tuberculosis infection in children under five years of age has not been conducted. This study aims to determine the effect of supplementation and dietary counseling in preventing TB infection in young children with bacteriologically confirmed pulmonary TB in DKI Jakarta. We conducted a quasi-experimental study among infants with bacteriologically confirmed pulmonary TB home contacts in 25 subdistricts in DKI Jakarta. The intervention group received vitamin D 400-600 IU/day and Zinc 10-20mg/day depending on age for 3 months, as well as nutritional counseling for parents. Included in the sample were infants who were not infected and/or sick with TB, not malnourished, HIV negative, and not suffering from any other chronic diseases. A 24-hour dietary recall to measure diet and nutritional status was conducted every month. After 3 months, infected and uninfected children were counted using the tuberculin test. Multivariate analysis was performed using GEE. Based on the results of the study, the cumulative incidence of TB infection was 5% in the intervention group and 23% in the control group. The intervention increased vitamin D consumption in toddlers from 3 mcg to 14.9 mcg and zinc from 3.8 mg to 18.2 mg. Vitamin D and zinc intake was lower among infected infants. The risk of TB infection with the intervention was 0.22 times (95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Provision of vitamin D and zinc supplementation and dietary advice reduced the risk of TB infection. Keywords: Infection of TB in Household contact children under five years age, Tuberculin Test, Suplementation of vitamin D and zinc, Quasi experimental studies

Read More
D-550
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwan Suwarsa; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Nuning Maria Kiptiyah, Tri Yunis Miko Wahyono, Nana Mulyana, Lucky Cahyono
Abstrak:
Penyakit tuberkulosis paru adalah merupakan penyakit menular yang bersifat kronis dan memiliki dampak sosial yang cukup besar. Penularannya melalui hubungan yang lama dan akrab, karena itu kontak serumah dengan penderita TB paru diduga merupakan risiko yang tinggi untuk terjadinya penularan. Walaupun demikian tidak semua kontak serumah tertular, oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit TB paru pada kontak serumah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten garut dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini diduga 552 kontak serumah dengan penderita TB paru BTA (+). Sampel sebanyak 155 yang terdiri dari 55 penderita TB paru BTA (+) dan 100 bukan penderita TB paru BTA (+) yang dipilih dengan metode stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 1 diantara 2,8 kontak serumah menderita TB paru. Beberapa faktor yang diduga berhubungan adalah: keeratan, lama kontak, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, status gizi dan hygiene sanitasi (p<0,05), dan variabel hygiene sanitasi memiliki hubungan yang paling kuat (POR= 12,30). Dari hasil analisis multivariat ternyata hanya ada 4 variabel utama yang berhubungan yaitu: sanitasi rumah, keeratan, status gizi dan pendidikan, sehingga dapat dikemukakan sebuah model dengan 4 variabel tersebut. Setelah dilakukan penilaian interaksi ditemukan ada 1 interaksi yang bermakna antara status gizi dan sanitasi rumah sehingga dapat dikemukakan sebuah model dengan 4 variabel utama dan 1 variabel interaksi.
Read More
T-1171
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mufti As Siddiq M. Irzal; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Sulistyo, Sierli Natar
Abstrak:
Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat merupakan dua dimensi kepatuhan yang krusial dalam menentukan keberhasilan pengobatan tuberkulosis, namun bukti epidemiologis mengenai pengaruhnya terhadap waktu pencapaian kesembuhan bakteriologis di fasilitas kesehatan primer masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat terhadap kesembuhan pasien TB paru sensitif obat di klinik pratama Kota Makassar tahun 2024. Studi kohort retrospektif berbasis data SITB Dinas Kesehatan Kota Makassar dengan 448 sampel. Analisis time-to-event menggunakan Kaplan-Meier dan uji Log-Rank. Analisis multivariat menggunakan Cox proportional hazards regression dengan koreksi bias Firth dan analisis sensitivitas menggunakan composite outcome. Angka keberhasilan pengobatan mencapai 90,4% dengan proporsi sembuh bakteriologis 17,9%. Hampir seluruh pasien tidak patuh minum obat (98%) dan tidak patuh mengambil obat (95,5%) tidak mencapai kesembuhan. Uji Log-Rank menunjukkan perbedaan waktu kesembuhan yang signifikan antara kelompok patuh dan tidak patuh (p=0,031 dan p=0,025). Pada analisis multivariat, kepatuhan minum obat (aHR=5,66; 95% CI: 0,76–40,80; p=0,085) dan kepatuhan pengambilan obat (aHR=2,58; 95% CI: 0,81–8,23; p=0,109) keduanya menunjukkan kecenderungan pengaruh bermakna terhadap kesembuhan setelah dikontrol confounder, dikonfirmasi oleh koreksi Firth's dan diperkuat dengan hasil signifikan dengan arah asosiasi yang konsisten oleh analisis sensitivitas. Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat menunjukkan kecenderungan pengaruh yang bermakna secara klinis terhadap kesembuhan TB paru sensitif obat di klinik pratama Kota Makassar. Penguatan sistem pemantauan kepatuhan yang aktif dan responsif di fasilitas kesehatan primer sangat diperlukan untuk meningkatkan angka kesembuhan TB.

Medication adherence and drug-refill adherence are two critical dimensions of adherence that determine treatment success in drug-susceptible pulmonary tuberculosis. However, epidemiological evidence on its effect on time-to-bacteriological cure in primary care settings remains limited. This study analyzed the effect of medication adherence and drug-refill adherence on cure among drug-susceptible pulmonary TB patients at primary care clinics in Makassar City in 2024. A retrospective cohort study was conducted using secondary data from the National TB Information System (SITB) of Makassar City Health Office, involving 448 participants. Time-to-event analysis employed Kaplan-Meier estimation and Log-Rank test. Multivariate analysis used Cox proportional hazards regression with Firth's bias correction and sensitivity analysis using a composite outcome. Treatment success rate was 90.4%, with bacteriological cure achieved by 17.9% of patients. Nearly all medication non-adherent patients (98%) and drug refill non-adherent patients (95.5%) failed to achieve cure. Log-Rank tests demonstrated significant differences in time-to-cure between adherent and non-adherent groups (p=0.031 and p=0.025). Multivariable analysis revealed significant effects of medication adherence (aHR=5,66; 95% CI: 0,76–40,80; p=0,085) and drug refill adherence (aHR=2,58; 95% CI: 0,81–8,23; p=0,109) on cure after controlling for confounders, confirmed by Firth's correction and reinforced by significant results with a consistent direction of association in the sensitivity analysis. Medication adherence and drug-refill adherence demonstrate a clinically meaningful tendency toward influencing bacteriological cure among drug-susceptible pulmonary tuberculosis patients at Primary Clinics in Makassar City. Strengthening active and responsive adherence monitoring at primary healthcare facilities is essential to improving TB cure rates.
Read More
T-7494
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faisal; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ella Nurlaella Hadi, Rino Alvani Gani; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Hanifah Oswari, Agus Handito
Abstrak: Latar Belakang: Program nasional Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) untuk ibu hamil merupakan strategi utama untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak/ mother-to-child transmission (MTCT). Sekitar 90% bayi yang tertular dari ibu dengan HBsAg reaktif akan berkembang mengalami hepatitis B kronik. Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan, namun belum bisa sepenuhnya mencegah penularan Hepatitis B pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan terhadap hepatitis B pada anak, membuat model probabilitas kejadian hepatitis B pada anak, dan menelaah penerapan program DDHB sebagai tindakan pencegahan dan pengendalian MTCT. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan concurrent mixed method, penelitian kuantitatif dengan desain studi kohort retrospektif dilakukan dengan melibatkan 166 pasangan ibu-anak, ibu dipastikan memiliki infeksi hepatitis B (HBsAg-positif) berdasarkan skrining saat melakukan ANC. Sedangkan penelitian kualitatif menggunakan desain studi kasus melalui indepth-interview kepada 23 informan. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil: Analisis multivariat menggunakan GLM binomial link log dilakukan untuk menghitung risk rasio (aRR) dari faktor risiko yang berhubungan dengan hepatitis B pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan kadar HBV-DNA tinggi (>106 copies/mL) memiliki risiko lebih tinggi untuk menularkan HBV kepada anaknya (aRR=2,9; 95%CI=1,37-6,20). Anak yang tidak mendapat HBIg (aRR=5,6; 95%CI=2,28-13,76), tidak vaksin HB-0 (aRR=2,9; 95%CI=1,37-6,20), tidak vaksin HB-1 (aRR=10,4; 95%CI=5,23-20,87), dan tidak vaksin HB-2 (aRR=12,1; 95%CI=5,21-28,35) memiliki risiko infeksi HBV yang lebih tinggi. Adapun anak dengan kadar HBV-DNA ibunya yang tinggi (>106 copies/mL), tidak mendapat HBIg, tidak vaksin HB-0, tidak vaksin HB-1, dan tidak vaksin HB-2 memiliki probabilitas kejadian hepatitis B sebesar 94%. Kesimpulan: Temuan ini menekankan pentingnya program DDHB bagi ibu hamil dalam mengidentifikasi kadar HBV-DNA untuk memfasilitasi terapi antivirus sesuai kebutuhan. Begitupun pemberian HBIg dan vaksin hepatitis B (HB-0, HB-1, dan HB-2) kepada anak sangat efektif dalam mengurangi risiko penularan hepatitis B pada anak, menjadikannya sebagai strategi penting dalam mencegah infeksi hepatitis B pada anak. Saran: Program DDHB perlu dioptimalkan secara komprehensif, sejak tindakan skrining pada ibu hamil, melaksanakan pemeriksaan HBV-DNA pada ibu hamil yang HBsAg reaktif, serta meningkatkan cakupan pemberian HBIg dan vaksinasi hepatitis B (HB-0, HB-1, dan HB-2) pada anak.
Background: The national Early Detection of Hepatitis B (DDHB) program for pregnant women is a key strategy to prevent mother-to-child transmission (MTCT) of hepatitis B. With approximately 90% of infants born to HBsAg-positive mothers developing chronic hepatitis B, immunization remains crucial but does not fully eliminate the risk of transmission. This study aimed to analyze risk factors contributing to hepatitis B in children, develop a probability model for its occurrence, and evaluate the implementation of the DDHB program as a preventive and control measure for MTCT. Methods: This study employed an explanatory mixed-methods approach. The quantitative component used a retrospective cohort design involving 166 mother-child pairs, where mothers were confirmed to have hepatitis B infection (HBsAg-positive) through antenatal care (ANC) screening. The qualitative component utilized a case study design with in-depth interviews conducted with 23 informants. The research was carried out in Makassar City and Gowa Regency, South Sulawesi Province. Result: A multivariate analysis using a binomial GLM with a log link was conducted to calculate the adjusted risk ratio (aRR) for factors associated with hepatitis B in children. The results indicated that mothers with high HBV-DNA levels (>106 copies/mL) had a significantly increased risk of transmitting HBV to their children (aRR=2.9, 95%CI=1,37-6,20). Children who did not receive hepatitis B immunoglobulin (HBIg) (aRR = 5.6, 95%CI=2,28-13,76), did not vaccinate HB-0 (aRR = 2.9, 95%CI=1,37-6,20), did not vaccinate HB-1 (aRR = 10.44, 95%CI=5,23-20,87), or did not vaccinate HB-2 (aRR = 12.11, 95%CI=5,21-28,35) were at significantly higher risk of HBV infection. Additionally, children born to mothers with high HBV-DNA levels (>106 copies/mL) who did not receive HBIg, HB-0, HB-1, and HB-2 vaccines had a 94% probability of hepatitis B occurrence. Conclusion: These findings emphasize the importance of the DDHB program for pregnant women in identifying HBV-DNA levels to facilitate antiviral therapy as needed. Furthermore, the administration of HBIg and hepatitis B vaccines (HB-0, HB-1, and HB-2) to infants is highly effective in reducing the risk of MTCT, making it a vital strategy in preventing hepatitis B infections in children. Recommendation: The DDHB program should be comprehensively optimized, starting with screening for pregnant women, conducting HBV-DNA testing on pregnant women who are HBsAg reactive, and enhancing the coverage of HBIg administration and implementation of the hepatitis B vaccination (HB-0, HB-1, and HB-2) for children.
Read More
D-555
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Rosida; Pembimbing: Agustin Kusumayati, Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: I Made Djaja, Iman Suhendar, Elly Setyawati
Abstrak:

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia di samping sandang dan pangan, sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Konstruksi rumah dan lingkungannya yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko terjadinya penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan. Penularan tuberkulosis dalarn rumah dipengaruhi oleh kepadatan hunian, kualitas udara yang terkait dengan sistim perhawaan dan pencahayaan, perilaku dan higiene perorangan dan masuknya sinar matahari pagi. Mengingat sebagian besar penduduk di Indonesia termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah yang kurang mampu membuat/membeli rumah yang memenuhi syarat kesehatan, maka penularan penyakit pernapasan mudah terjadi dalam rumah yang terlalu padat penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan fisik rumah terhadap terjadinya penularan tuberkulosis serumah di Kelurahan Petamburan Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat setelah dikontrol dengan pengaruh faktor-faktor lain seperti karakteristik individu penular dan karakteristik individu tertulariberpotensi tertular. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Yang menjadi sampel kasus adalah semua anggota populasi kasus sebesar 75 rumah tangga. Sampel kontrol dipilih secara acak dari daftar rumah tangga yang tidak mengalami penularan tuberkulosis serumah sebesar 75 nunah tangga. Daftar dibuat berdasarkan data dari register TB 01 dan 03. Uji statistik yang digunakan adalah chi square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada 8 variabel yang berhubungan dengan kejadian penularan tuberkulosis serumah yaitu pencahayaan kamar dengan OR sebesar 40,040, pengetahuan penular OR sebesar 9,318, status gizi penular OR sebesar 5,413, umur tertular OR sebesar 4,946, kepadatan hunian OR sebesar 4,781, lama kontak dengan penular OR sebesar 4,743, pendidikan tertular OR sebesar 4,655 dan umur penular dengan OR sebesar 3,966, Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel lingkungan fisik rumah yang paling berpengaruh terhadap kejadian penularan tuberkulosis serumah setelah dikontrol karakteristik individu penular tuberkulosis dan karakteristik individu tertulariberpotemi tertular tuberkulosis adalah pencahayaan kamar, pengetahuan penular, status gizi penular, umur tertular, kepadatan hunian, lama kontak dengan penular, pendidikan tertular dan umur penular. Adapun probabilitas untuk terjadinya penularan tuberkulosis serumah sebesar 99,8%. Mencermati kondisi tersebut di atas disarankan kepada pemerintah agar meningkatkan program perbaikan perumahan dengan mengerahkan swadaya masyarakat .melalui pendekatan-pendekatan kepada tokoh masyarakat atau orang yang disegani/dipercaya dapat mempengaruhi masyarakat, penggunaan atap kaca sehingga cahaya matahari dapat langsung masuk ke dalam rumah, peningkatan status gizi masyarakat meliputi program PMT-ASI bagi ibu hamil/menyusui, PMT-AS bagi anak sekolah dan pemberian vitamin A path anak balita. Bagi masyarakat diharapkan untuk lebih ditingkatkan lagi kesadaran tentang pentingriya peningkatan gin keluarga, perilaku hidup bersih dan sehat serta berperilaku tidak merokok, tidak tidur sekamar dengan penderita tuberkulosis, membiasakan din untuk tidak meludah di sembarang tempat, membiasakan untuk menutup mulut bila battik atau bersin dalam rangka mencegah penularan tuberkulosis senimah dan menurunkan kasus tuberkulosis.


House is one of fundamental human need beside clothing and food, so house must be healthy in order family member can work productively. House and environment construction which do not fulfill a health requirement are risk factors of happening infection of various illness, especially illness based on environment. Tuberculosis infection at house is effected of dwelling density, air quality related to atmosphere system and illumination, behavior and individual hygiene and coming of morning sunshine. Regarding most of population in Indonesia are at middle economics to lower level which do not have much money to build a health standard house, hence infection of respiration illness is easy to happen at house which many dwellers. This research purpose to know the effect of house physic environment by happening of tuberculosis infection at the same house of Petamburan, Tanah Abang in Center of Jakarta after it is controlled by effect of other factors such as contagion individual characteristic and contagious individual characteristic or infected potentially. This research used control case design. Case samples are all case population of 75 households. Control sample is selected by random sampling of household list which does not experience of tuberculosis infection at the same house of 75 households. List is made based on data of register TB 01 and 03. Statistic test which is used is chi square test. Bivariate analysis result indicated that there were 8 variables related to tuberculosis infection case at the same house including room illumination OR = 40,040, contagion knowledge OR = 9,318, nutrition status of contagion OR = 5,413, contagion age OR= 4,946, dwelling density OR = 4,781, contact period of contagion OR = 4,743, contagion education OR = 4,655 and contagion age OR =3,966. Multivariate analysis result indicated variable of house physic environment which is most effect of tuberculosis contagious occurrence at the same house after controlling individual characteristic of contagion tuberculosis and individual characteristic of tuberculosis contagious or potential infected including room illumination, dwelling density, contagion age, nutrition status of contagion, contact period of contagion, contagion education, contagion age and contagion knowledge. Probability of happening tuberculosis infection at the same house was 99,8%. Observing condition above, it was suggested to government to improve house repair program including giving self-supporting of public through approach to elite figure for repairing house, usage of glass roof so sunlight can come into house directly, improvement of public nutrition status including PMT-ASI program for suckle mother or mother, PMT-AS for schoolchild and giving of vitellarium at child of balita. For public is expected to be more is improved again awareness about the importance of improvement of gizi family, behavior of healthy and clean life and per me doesn't smoke, doesn't sleep as of room with tuberculosis patient, familiarizes not to spit on any place, accustoms to shut mouth if coughing or sneezing for the agenda of preventing infection of tuberculosis in the same house and reduces

Read More
T-2955
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyadi; Pembimbing: Budi Haryanto, Pretty Multihartina
T-1737
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratono; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Agus Handito
Abstrak: Pendahuluan: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Secara global, pada tahun 2015, diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi HBV kronis (WHO, 2015). Dan selanjutnya menyebabkan (720.000 kematian karena sirosis) dan kanker hati primer (470.000 kematian karena karsinoma hepatoseluler) ( WHO, 2015). Prevalensi Hepatitis B wilayah Asia Tenggara adalah 2,0%. Untuk prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil di Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 2,7% (Berita Subdit HISP 2017). Hal ini didapatkan dari kegiatan program deteksi dini Hepatitis B yang dilakukan sejak tahun 2016 yang baru dilaksanakan di beberapa propinsi (Berita Subdit HISP, 2017). Metode: Penelitian ini adalah analitik observasional yang menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel untuk penelitian ini sebanyak 12.475 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas-puskesmas di wilayah Jakarta Utara. Data diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan dianalisis menggunakan Uji Regresi Logistik. Hasil: Prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil pada penelitian ini sebesar 2,3%, Risiko ibu hamil yang serumah dengan penderita Hepatitis B 6,46 kali (95% CI 3,68-11,35) untuk terinfeksi Hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak pernah serumah dengan penderita Hepatitis B setelah dikontrol dengan status pekerjaan, umur kehamilan, riwayat transfusi, riwayat penasun. Kesimpulan: Serumah dengan penderita Hepatitis B merupakan faktor risiko terhadap penularan Hepatitis pada Ibu Hamil. Sehingga kegiatan Deteksi Dini Hepatitis Ibu Hamil tetap dilanjutkan dengan diintegrasikan dengan program vaksinasi Hepatitis B pada ibu hamil hepatitis B negatif dan program pengobatan Hepatitis B bagi yang sudah terinfeksi.
Read More
T-5643
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ali Amran; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Krisnawati Bantas, Sri Tjahjani Budi Utami, Dartini, H. Bambang Sukana
T-2365
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudarto; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: I Made Djaja, Tri Yunis Miko, Achmad Darajat, Dedi Kusnadi
Abstrak:

ABSTRAK Kondlsl lingklungan pemukiman jika tidak dnkelola dengan baik akan berdampak buruk terhadap derajat kesehatan masyaxakat, Salah satu jenis penyakit yang erat kaitanya dengan kondlsi lingkungan adalan infeksi cacingan. Penyakit cacingan yang proses penularanya melalui perantara tanah masih mempakan masalah kesehatan masyarakat khususnya pada anak-anal: ban-L di daerah pedesaan maupun pcrkotaan. Anak sebagal calon generasi penerus bangsa merupakan aset yang perlu mendapatkan perhatian, karcna mereka akan menentukan nasib suatu bangsa/negara. Dilain pihak_ anak dengan segala keterbatasanya masih rentan terhadap suatu penyakit yang dapat menggangu pcrtumbuhan dan perlcembanganya. Penyakit infcksi casing dalam tubuh manusia dapat menghisap darah dan unsur gizi yang diperlukan tubuh. Sehingga dapat memuunkan daya tahan tubuh dan produktivitas. Walaupun tidak berakibat fatal nam\m penyakit ini berdarnpak cukup Iuas pada anak-anak seperu; Anemia, malnuuisi, gangguan tungsl kognitip dan menurunkan prcstasi bciajar Sena produktifitas. Penelltian mi bertujuan untuk mengetahui hublmgan antara kontammasx telur cacing di lingkungan pemukiman dengan kejadian infeksi cacingan pada anak usia 5-12 tahun di Kecamatan Baros Kabupatcn Serang, selain itu diteliti juga taktor nslko lamnya yang dapat rnempengaxuhi tcxjadinya infeksi cacing pada anak seperti sanitasi lingkungan yang terdiri dan jamban keiuarga, sarana air bcrsih, SEAL, pembuangan sampah dan jenis Iantai rumah. Faktor lainya dari kardkteristik keluarga yaitu pcrilaku sehat anak, tingkat pengetahuan 1bu dan anak, kondisi ekonomi kcluarga dan jenis kelamin anak. Penelitian ini merupakan studi epidemiologi kesehatan lingkungan yang bersifat ODSCFVQSI dengan menggunalcan desam crossectional (potong lintang). Sampcl azialah anak usia 5-12 tahun yang ada di Kecamatzm Baros Kabupaten Serang, dengan jumlah sampel masing-masmg untuk anak 125 dan sampel linglnmgan (lanan) sebanyak 125. Pengumpulan data dilakukan dcngan pemcriksaan sampel tanah dan tinja anak serta dengan wawancara. Untuk uji hipotesis menggunakan chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa prevalensi kasus infeksi cacingan pada anak usia 5-12 tahun dl kecamatan Baros Rabupatcn Serang sebcsar 40,8%. 1-lasil anaiisis menunjukan adanya hubungan yang bermakna antam tanah tcrkontarninasi telur cacing, Jamban Keluarga., sarana an bersih, sarana pembuangan an' limbah, tempat pembuangan sampah, jcnis Iautai, tingkat pengtahuan anak dan perilaku sehat anak dengan kejadian mieksi cacmgan pacia anak usla 5-12 tahun dengan tangkat kemaknaan P < U,U5. Hasnl analisis multivaxiat dengan negresi logistik ganda diperoleh model bahwa kejadian infeksi cacingan pada anak usia 5-12 tahun terbuktj bcrhubungan cral dengan kondisi jamban kcluarga, tanah yang terkontaminasi telur cacing, faktor perilaku anak, tingkat pengetahuan anak, tcmpat pcmbuangan sampah dan _|en1s lantal rumah. Adanya pengamh variabel jamban terhadap tanah yang tcrccmar telur cacing dan pengetahuan anak serta taktor perllaku, menunjukan bahwa tezjadinya pencemaran tanah oleh telur cacing karena faktor kebemdaan jamban yang masih rninirn dan tidak saniter, dengan tingkat pengelahuan anak yang rendah sehingga penlakunya turut mendukung terjadinya kontaminasi telur cacing di tanah dengan cara defekasi/buang kotoranya tidak cn jamban, maka tanah terkontaminasi oleh telur cacing yang ada dalam unja sclungga menimbulkan kejadian infcksi cacingan. 1-1 ini terbutku dengan kondisi jamban yang tidal( samter bensxko 13,2 kah xmtuk tezjadinya infeksi cacingan, perilaku yang buruk berisiko 9,8 kali untuk anak mcndcrita cacmgan, tanah yang terkontaminasi telur cacing berisiko 9,9 kali, tingkat pengetahuan anak rendah berisiko 7,5 kali, tempat pembuangan sampah berisiko 6,5 kali untuk Ieqadinya inicksl cacingan dan _|en1s lantai rumah yang tidak saniter bensnko 5,9 Kali untuk terjadinya infeksi cacing. Peneliti menyaranlcan adanya upaya-upaya yang lebih kongkmt untuk mencegah dan menycbamya kasus infeksi caoingan melalui pcnyediaan sarana sanitasi Iingkungan yang baik khususnya. dalarn penyediaan jamban Kcluarga atau MCR, dengan mehbatkan semua unsnr yang terkait untuk menciptakan kondisi lingkungan yang sehat. Sena dilakukan penyuluhan kepada anak-anak dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang kesehainn, sehingga mereka dapal rnenjaga dan meningkatkzm kondisi demjat kesehatanya dengan cara hidup di lmgkungan perumahan yang sehat dan menerapkan perilalcu hidup bcrsih dan sehat. Disamping itu harus dilakukan perneriksaan kebexsihan pribadi anak baik di sekolah maupun dirumah secara rutin oleh guru dan orang tua anak.


ABSTRACT Settlement environment condition if not managed carefully will giving had impact toward public health level, one of diseases that related closely with environment condition is worrny infection. Wormy disease infecting nom soil was still become public health problems especially in children whether villages or urban. Children as next generation of the nation are assets that need a focus, because they will define destiny of a nation. On the other hand children with all of their limitation is still susceptible toward a disease that disturbing development and growth. Wormy infection disease in human body can absorb blood and nutrition substances that needed by body, thus decreasing body endurance and productivity. Although not fatal but this disease impact is quite wide on children such as anemia, malnutrition, cognitive iimction disturbance and decreasing studying performance and productivity. This research purpose is to identify relation of worm egg in settlement environment with worrny infection cases on children years of 5 - 12 old ages at Baros Sub-district Serang Regency, besides also researched other risk factors that affecting womry infection on children as environment sanitation that consist of family toilet, sanitation, hygiene water, SPAL, trash can and house tile. Other factors from family characteristic are children healthy behavior, mother and her children education level, family economy condition and children gender. This research is epidemiology study of environment health that has the character of observation with cross sectional design. Samples are children ages of 5 - 12 years old at Baros Sub-district Serang Regency, with total samples each for children 125 and environment samples (soil) 125. Data gathering performed by soil samples and children feces also interview. For hypothesis test is using chi-square. This research shows that prevalence of wormy infection cases on children ages of 5 - 12 years old at Baros Sub-district Serang Regency is 40.8%. Analysis result shows significant relation between soil contaminated with worm egg, family toilet, tile style, children knowledge level and -children healthy behavior with wormy infection cases on children ages 5 - 12 years old with P value < 0.05. Multivariate analysis result with double logistic regression obtained model that wormy infection cases on children ages of 5 - 12 years old proved closely related with family toilet condition, contaminated soil with worm egg, children behavioral factor, children knowledge level, trash can and house tile style. Toilet variable effect toward contaminated soil with worm egg and children knowledge as well as behavioral factors, shows that contaminated soil caused by minimal toilet and unsanitary, and low children knowledge level. So that their behavior supporting contamination of worm egg in soil by defaces not in toilet, then soil contaminated with worm egg that available in feces and causing wormy infection. In proved with toilet condition that unsanitary has risk 13.2 times of worrny infection, bad behavior has risk 9.8 times of children infected wormy, contaminated soil with worm egg risk 9.9 times, children low knowledge level risk 7.5 times, trash can risk 6.5 times of wonny disease and house tile style that unsan'ry risk 5.9 times of wormy infection. Researcher suggested performing more solid efforts to prevent and spreading of wormy infection cases through supplying good environment sanitation medium especially in supplying family toilet or MCK, by entangling all related element to create healthy environment condition. Moreover, perfonned counseling toward children and public to increase health degree condition by living in healthy settlement and implementing hygienic and healthy behavior. Besides, performed children individual checkup, whether in schools or houses routinely, with teachers and parents.

Read More
T-2560
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive