Ditemukan 38600 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Saskia Almaida; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Suyud Warno Utomo, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Kejadian BBLR juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang berasal dari ibu hamil dan janin. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melihat keterkaitan antara faktor pajanan polutan udara (PM2,5) faktor ibu hamil (ibu dengan kurang energi kronis/KEK dan anemia), dan faktor bayi (jenis kelamin) dengan kejadian BBLR di Jakarta Pusat tahun 2017-2019. Penelitian ini menggunakan desain studi studi ekologi dengan jenis time trend. Data yang digunakan berupa data sekunder yang berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Hubungan antara variabel data dianalisis secara statistik (uji korelasi Pearson) dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara konsentrasi PM2,5 dengan BBLR (p = 0,001; r = 0,514); dan jenis kelamin baik laki-laki (p = 0,000; r = 0,861) maupun perempuan (p = 0,000; r = 0,838) dengan BBLR.
Read More
S-10624
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bunga Oktora; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Tris Eryando, Laila Fitria, Didik Supriyono, Edwan
Abstrak:
Abstrak
Telah dilakukan analisis temporal-spasial untuk mengetahui asosiasi konsentrasi polutan di udara ambien dengan kelahiran. Analisis mencakup ANOVA, korelasi, regresi, dan regresi linier ganda dengan prevalensi kasus BBLR sebagai variabel dependen dan konsentrasi NO2 sebagai variabel independen. Hasil analisis menunjukkan konsentrasi NO2di udara ambien pada bulan pertama (R = 0.464, Sig = 0,000) dan kedua (R = 0,243, Sig = 0,013) kehamilan secara signifikan berkorelasi dengan BBLR. Analisis regresi linier ganda menunjukkan konsentrasi NO2 pada bulan pertama dan kedua kehamilan serta tempat tinggal memprediksi 25% kasus BBLR (R = 0,5, R square = 0,25; Sig. Model fix (uji Anova) = 0,000). Faktor yang paling berkaitan dengan BBLR adalah pajanan NO2 bulan pertama kehamilan (B = 259).
Read More
Telah dilakukan analisis temporal-spasial untuk mengetahui asosiasi konsentrasi polutan di udara ambien dengan kelahiran. Analisis mencakup ANOVA, korelasi, regresi, dan regresi linier ganda dengan prevalensi kasus BBLR sebagai variabel dependen dan konsentrasi NO2 sebagai variabel independen. Hasil analisis menunjukkan konsentrasi NO2di udara ambien pada bulan pertama (R = 0.464, Sig = 0,000) dan kedua (R = 0,243, Sig = 0,013) kehamilan secara signifikan berkorelasi dengan BBLR. Analisis regresi linier ganda menunjukkan konsentrasi NO2 pada bulan pertama dan kedua kehamilan serta tempat tinggal memprediksi 25% kasus BBLR (R = 0,5, R square = 0,25; Sig. Model fix (uji Anova) = 0,000). Faktor yang paling berkaitan dengan BBLR adalah pajanan NO2 bulan pertama kehamilan (B = 259).
A spatial-temporal analysis has been done to find out the linkage between the concentration of NO2 in the ambient air during pregnancyand the incidence of LBW in Jakarta. It included ANOVA analysis, correlation, regression, and multiple linear regression with the prevalence of LBW as the dependent variable and the concentration of NO2 as an independent variable. The results shows NO2 concentrations in the ambient air in the first (R = 0464, Sig = 0.000) and second (R = 0.243, Sig = 0.013) month of gestation were significantly correlated with the LBW. Multiple linear regression analysis showed the concentration of NO2 in the first and second month of pregnancy and where the mother lived predict 25% of cases of LBW (R = 0.5, R square = 0.25; Sig. Models fix (Anova test) = 0.000). The most influence on LBW is exposure to NO2 in the first month of gestation (B = 259).
T-3710
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Septiawati; Pembimbing: Laila Fitria, Ririn Arminsih; Penguji: Zakianis, Sony :riajaya Warouw, Diah Wati Soetojo
T-4315
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kania Melisa Davina Putri; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Fitri Kurniasari, Debbie Valonda
Abstrak:
Read More
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab kematian neonatal yang dipengaruhi berbagai interaksi faktor, salah satunya faktor lingkungan yaitu pencemaran udara PM2.5. Daerah Khusus Jakarta merupakan wilayah urban dengan tingkat pencemaran udara yang tinggi mencapai 49,9 μg/m3 dan telah melebihi baku mutu nasional, menjadikan wilayah ini berpotensi meningkatkan risiko BBLR. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial pada 42 kecamatan di Daerah Khusus Jakarta (tidak termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu). Data yang digunakan merupakan data sekunder kejadian BBLR, konsentrasi PM2.5, kepadatan penduduk, kepadatan lalu lintas, serta kepadatan industri pada tahun 2025. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan Quantum GIS (QGIS) melalui peta tematik dan overlay spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa wilayah dengan prevalensi BBLR tinggi cenderung berada pada wilayah dengan konsentrasi PM2.5 sedang hingga tinggi, namun pola tersebut tidak ditemukan secara konsisten pada seluruh kecamatan. Sementara itu, distribusi kepadatan penduduk, kepadatan lalu lintas, dan kepadatan industri juga tidak selalu sejalan dengan distribusi kejadian BBLR. Oleh karena itu, distribusi kejadian BBLR di Daerah Khusus Jakarta menunjukkan pola spasial yang bervariasi dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor lingkungan.
Low Birth Weight (LBW) is one of the causes of neonatal mortality influenced by various interacting factors, including environmental factors such as PM2.5 air pollution. The Special Capital Region of Jakarta is an urban area with a high level of air pollution reaching 49,9 μg/m3, exceeding the national air quality standard, thereby potentially increasing the risk of LBW. This study used a quantitative descriptive design with a spatial approach across 42 sub-districts in the Special Capital Region of Jakarta (excluding the Kepulauan Seribu Regency). The data used were secondary data on LBW incidence, PM2.5 concentration, population density, traffic density, and industrial density in 2025. Spatial analysis was conducted using Quantum GIS (QGIS) through thematic mapping and spatial overlay analysis. The results showed that several areas with high LBW prevalence tended to be located in areas with moderate to high PM2.5 concentrations; however, this pattern was not consistently observed across all sub-districts. Meanwhile, the distributions of population density, traffic density, and industrial density were also not consistently aligned with the distribution of LBW incidence. Therefore, the distribution of LBW incidence in the Special Capital Region of Jakarta showed varying spatial patterns and could not be explained solely by a single environmental factor.
S-12238
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan korelasi antara tingkat polusi udara dan factor lingkungan dengan kejadian hipertensi esensial di Jakarta Pusat pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan data konsentrasi polutan udara dan kejadian hipertensi esensial setiap minggunya pada tahun 2019 di Jakarta Pusat. Hasil studi menunjukkan hubungan yang signifikan antara variabel konsentrasi SO2 dengan kejadian hipertensi dengan korelasi yang cukup kuat (P-value = 0,005; r = 0,421).
Read More
S-10868
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suhayla Rania Nurfahmi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Dinda Shabrina
Abstrak:
Read More
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan serius di perkotaan, termasuk di Jakarta Selatan yang memiliki tingkat pajanan polusi udara Particulate Matter (PM 2,5) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsentrasi PM 2,5 dengan kejadian hipertensi, serta hubungannya berdasarkan faktor individu (usia, jenis kelamin, dan obesitas) di Jakarta Selatan selama tahun 2024. Penelitian menggunakan desain studi ekologi tipe by place dengan unit analisis 10 kecamatan. Data sekunder diperoleh dari jaringan pemantauan kualitas udara Nafas dan data surveilans Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan periode Januari–Desember 2024. Analisis korelasi Spearman dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan jumlah kunjungan hipertensi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi PM 2,5 di seluruh kecamatan melampaui baku mutu udara ambien tahunan. Secara statistik, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM 2,5 dengan total kejadian hipertensi (p > 0,05), maupun pada pengelompokan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan status obesitas. Namun, terdapat variasi spasial di mana Kecamatan Jagakarsa menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, meskipun hubungan statistik pada tingkat agregat tidak signifikan, strategi pengendalian kualitas udara dan deteksi dini hipertensi tetap diperlukan, serta disarankan penelitian lanjutan dengan desain studi kohort menggunakan data individu untuk menangkap dampak pajanan jangka panjang secara lebih akurat.
Hypertension is a non-communicable disease posing a serious health issue in urban areas, including South Jakarta, which experiences high exposure to Particulate Matter (PM 2.5) air pollution. This study aims to analyze the relationship between PM 2.5 concentration and hypertension incidence, as well as its relationship based on individual factors (age, gender, and obesity) in South Jakarta during 2024. The study employed an ecological study design (by place) with 10 districts as the unit of analysis. Secondary data were obtained from the Nafas air quality monitoring network and the South Jakarta Health Office surveillance data for the period of January–December 2024. Spearman correlation analysis was conducted to examine the relationship between independent variables and hypertension visit counts. Bivariate analysis results indicated that the average PM 2.5 concentration in all districts exceeded the annual ambient air quality standards. Statistically, no significant relationship was found between PM 2.5 concentration and total hypertension incidence (p > 0.05), nor in groupings based on age, gender, and obesity status. However, spatial variation was observed, with the Jagakarsa district showing a strong and significant relationship. Based on these results, although the statistical relationship at the aggregate level was not significant, air quality control strategies and early hypertension detection remain necessary, and future research using a cohort study design with individual data is recommended to more accurately capture the effects of long-term exposure.
S-12204
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Porman Tiurmaida Simbolon; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Laila Fitria, Margareta Maria Sintorini, Didi Purnama
Abstrak:
Read More
Dampak pencemaran udara telah menyebabkan menurunnya kualitas udara yang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018, Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi 10 tertinggi dengan prevalensi ISPA sebesar 13,2%. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai korelasi antara kualitas udara ambien dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018-2022. Desain penelitian ini adalah studi ekologi dengan analisis time series. Data yang digunakan adalah data bulanan jumlah kasus ISPA balita dan data kualitas udara ambien diperoleh dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang kemudian dikonversi menjadi nilai konsentrasi per bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata jumlah kasus ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018-2022 sebesar 6.048 kasus dengan jumlah kasus tertinggi sebesar 65.972 kasus. Konsentrasi parameter kualitas udara ambien yang melebihi baku mutu adalah parameter O3 dengan konsentrasi rata-rata sebesar 126 ug/m3. Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa O3 memiliki hubungan yang signifikan dan korelasi arah positif dengan nilai p=<0,001; r=0,307). Kesimpulan dari penelitian ini adalah parameter kualitas udara ambien yang memiliki hubungan dengan kejadian ISPA pada balita ialah O3, sedangkan PM10, PM2.5,NO2 dan SO2 tidak berhubungan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018-2022. Dari hasil temuan ini perlu dilakukan upaya dalam pengendalian pencemaran udara terkait parameter tersebut. Untuk peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian dengan rentang waktu yang lebih lama untuk melihat kekuatan hubungan antara kualitas udara ambien dan kejadian ISPA pada balita.
The impact of air pollution has caused a decrease in air quality which can cause various health problems, especially Acute Respiratory Infections (ARI). Based on the results of the 2018 Basic Health Research, DKI Jakarta Province is the 10th highest province with an ARI prevalence of 13.2%. Therefore, it is necessary to conduct a more in-depth study of the correlation between ambient air quality and the incidence of ARI in toddlers in DKI Jakarta Province in 2018-2022. The design of this research is an ecological study with time series analysis. The data used are monthly data on the number of cases of ARI under five and ambient air quality data obtained from Air Pollution Standard Index (ISPU) data which is then converted into concentration values per month. The results of this study show that the average number of ARI cases in toddlers in DKI Jakarta Province in 2018-2022 was 6,048 cases with the highest number of cases of 65,972 cases. The concentration of ambient air quality parameters that exceed quality standards is the O3 parameter with an average concentration of 126 ug/m3. The results of the Spearman Rank correlation test show that O3 has a significant relationship and a positive directional correlation with a value of p = <0.001; r=0.307). The conclusion of this study is that ambient air quality parameters that have a relationship with the incidence of ARI in toddlers are O3, while PM10, PM2.5, NO2 and SO2 are not related to the incidence of ARI in under five in DKI Jakarta Province in 2018-2022. From these findings, efforts need to be made in controlling air pollution related to these parameters. For further researchers, it is necessary to conduct a study with a longer time span to see the strength of the relationship between ambient air quality and the incidence of ARI in toddlers.
T-6737
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Indah Fajarini; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan bayi yang memiliki berat badan kurang dari 2500 gram saat lahir. Masalah ini terus menjadi perhatian utama dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan terkait dengan sejumlah konsekuensi yang berpengaruh dalam jangka pendek maupun jangka panjang. BBLR bukan hanya merupakan indikator utama kematian dan penyakit pada bayi baru lahir, tetapi juga meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular di masa depan. Menurut data SDKI, prevalensi BBLR di Indonesia pada tahun 2017 masih relatif tinggi yaitu sebesar 7,1%. Terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi BBLR ditinjau dari faktor ibu, janin dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor ibu, faktor janin, dan faktor lingkungan dengan kejadian BBLR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel pendidikan ibu, jarak kehamilan, kehamilan kembar dan bahan bakar memasak. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian BBLR adalah ibu dengan kehamilan kembar dengan OR = 17,552.
Low birth weight infants (LBW) are babies who weigh less than 2500 grams at birth. This issue continues to be a major public health concern worldwide and is associated with a number of short- and long-term consequences. LBW is not only a leading indicator of mortality and disease in newborns, but also increases the risk of developing non-communicable diseases in the future. According to IDHS data, the prevalence of LBW in Indonesia in 2017 was still relatively high at 7.1%. There are several risk factors that affect LBW in terms of maternal, fetal and environmental factors. This study uses a cross-sectional study that aims to see the relationship between maternal factors, fetal factors, and environmental factors with the incidence of LBW. The results of this study showed that there was an association between the variables of maternal education, gestational distance, multiple pregnancies and cooking fuel. The most dominant variable associated with LBW was mothers with multiple pregnancies with OR = 17.552.
S-11301
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fakhrur Raziy; Pembimbing: Helda; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Eti Rohati
Abstrak:
Read More
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan indikator penting kesehatan ibu dan bayi yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kematian neonatal dan stunting. Kejadian BBLR dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sosial-ekonomi, dan kondisi maternal selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konsentrasi PM2.5, akses sanitasi layak, akses air minum bersih, tingkat kemiskinan, serta faktor maternal dengan kejadian BBLR di Indonesia tahun 2024. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif agregat pada 35 provinsi di Indonesia. Data diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia 2024, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Analisis dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji korelasi Pearson atau Spearman sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kejadian BBLR di Indonesia sebesar 4,43%. Analisis bivariat menemukan hubungan signifikan antara konsentrasi PM2.5 (r=-0,369; p=0,029), persentase ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK) (r=0,546; p=0,001), dan persentase ibu hamil usia35 tahun, usia kehamilan
Low Birth Weight (LBW) is an important indicator of maternal and infant health that contributes to an increased risk of neonatal mortality and stunting. The incidence of LBW is influenced by various environmental, socioeconomic, and maternal factors during pregnancy. This study aims to analyze the relationship between PM2.5 concentration, access to proper sanitation, access to clean drinking water, poverty levels, and maternal factors with the incidence of LBW in Indonesia in 2024. The study used an ecological study design with an aggregate quantitative approach in 35 provinces in Indonesia. Data were obtained from the 2024 Indonesian Health Profile, the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the Central Statistics Agency (BPS), and the Ministry of Environment and Forestry (KLHK). The analysis was conducted descriptively and bivariately using Pearson or Spearman correlation tests according to data distribution. The results showed an average incidence of LBW in Indonesia of 4.43%. Bivariate analysis found a significant association between PM2.5 concentration (r=-0.369; p=0.029), the percentage of pregnant women with Chronic Energy Deficiency (CED) (r=0.546; p=0.001), and the percentage of pregnant women aged 35 years, gestational age
S-12306
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyu Danil; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Zakianis, Bety, Setyorini
S-5574
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
