Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32955 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anita Dwi Astuti; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Verry Adrian
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis spasial proporsi kejadian penyakit diare dengan kepadatan penduduk, pendidikan rendah, depot air minum, tempat pengelolaan pangan, fasilitas kesehatan (puskesmas), dan tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) di DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional karena penelitian dilakukan menggunakan data sekunder yang tersedia di website akses bebas yang meliputi variabel jumlah kejadian diare tahun 2019 untuk setiap kecamatan yang terdiri dari 36 kecamatan, kepadatan penduduk, pendidikan rendah, sumber air minum, tempat pengelolaan pangan, tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan), dan fasilitas kesehatan (puskesmas).
Read More
S-10712
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Sari Wanodya; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rico Kurniawan, Fresty Cahya Maulina
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara spasial kejadian diare balita di wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019. Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat open source dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dan BPS Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis spasial. Persentase diare balita tertinggi berada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan diikuti oleh Kabupaten Garut.
Read More
S-10859
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yohana Septianty Isabel; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Tris Eryando, Verry Adrian
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran kasus hipertensi berdasarkan faktor resiko faktor sosial,faktor fasilitas pelayanan kesehatan, serta faktor pola hidup. Pendekatan spasial dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya interaksi spasial antara faktor-faktor resiko hipertensi dengan kasus hipertensi di wilayah DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan variable program skrining memiliki pola sebaran yang menyebar dengan interaksi spasial yang bersifat negative dan terdapat interaksi spasial antara variable program skrining terhadap kasus hipertensi. Sedangkan variable jumlah puskesmas, jumlah dokter, jumlah ahli gizi, pendidikan rendah, konsumsi alcohol, merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan kurang serat memiliki pola sebaran yang mengelompok dan interaksi spasial yang bersifat positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi spasial antara variable-variabel tersebut terhadap kasus hipertensi. Peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatan Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) oleh puskesmas setempat yang menjadi garda terdepan dalam kegiatan preventif dan promotif diharapkan dapat menjadi kunci keberhasilam pengendalian kasus hipertensi di wilayah DKI Jakarta.
Read More
S-10813
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Rayhani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Renti Mahkota, Sulistyo, Refni Dumesty
Abstrak: Kematian akibat tuberkulosis (TB) secara global sebanyak lebih dari 95% terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia ikut menyumbang 60% dari keseluruhan kasus TB global (WHO, 2015). Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten termasuk ke dalam lima provinsi dengan estimasi prevalensi TB tertinggi di Indonesia (Riskesdas, 2007 dan 2013). Perlu dibuat model yang mempertimbangkan kondisi lokal spesifik dengan memperhatikan perbedaan lokasi dari aspek geografis, kependudukan, dan kondisi sosial (Eryando, 2007 dan Rahmaniati, 2015). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain potong lintang. Kajian faktor risiko kejadian TB sesuai konsep Model Perilaku Kesehatan oleh Green (1980) dan Kerangka Kerja Faktor Risiko TB oleh WHO (2010) dengan metode Geographically Weighted Regression (GWR) pada 13 kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Hasil penelitian memperlihatkan tiga kelompok faktor risiko dapat menjelaskan kontribusi parameter dalam pemodelan kejadian TB di kedua provinsi sebesar 6%. Model GWR mampu menggambarkan variasi tiga kelompok faktor risiko kejadian TB di kedua provinsi sebesar 96%. Estimasi rata-rata proporsi kejadian TB akan meningkat pada risiko pendidikan rendah, bekerja, dan tersedianya fasilitas kesehatan TB. Status pendidikan menjadi parameter yang bernilai signifikan pada setiap kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota menghasilkan nilai estimasi berbeda yang menunjukkan besaran koefisien kejadian TB yang dipengaruhi oleh setiap perubahan parameternya. Setiap kabupaten/kota di kedua provinsi melalui Dinas Kesehatan perlu menerapkan kebijakan dan intervensi dengan pertimbangan nilai estimasi parameter pada faktor risiko sesuai pemodelan GWR, terutama peningkatan pendidikan dan promosi kesehatan TB. Kata kunci: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberkulosis (TB), Faktor Risiko Deaths from tuberculosis (TB) globally by more than 95% occur in low- and middle-income countries. Indonesia contributes 60% of all global TB cases (WHO, 2015). DKI Jakarta Provinces and Banten Provinces are included in the five provinces with the highest estimated prevalence of TB in Indonesia (Riskesdas, 2007 and 2013). Its need some model to consider the specific local conditions, which is geographical, demographic, and social aspects for appropriate health system improvement by region (Eryando, 2007 and Rahmaniati, 2015). This research is an analytic quantitative research with cross sectional design. Assessment of risk factors for TB incidence according to the Health Behavior Model by Green (1980) and TB Risk Factors Framework by WHO (2010) using Geographically Weighted Regression (GWR) method in 13 districts/cities in DKI Jakarta Province and Banten Province. The results showed three groups of risk factors could explain the contribution of parameters in modeling TB incidence in both provinces by 6%. The GWR model was able to describe the variation of three groups of TB risk factors in both provinces by 96%. The average estimate of the proportion of TB incidence will increase in the risk of low education, work, and the availability of TB health facilities. Educational status becomes a significant parameter in every district/city. Each district/city produces a different estimation value indicating the magnitude of TB incidence coefficients that is affected by each parameter change. Each district/city in both provinces through the Department of Health needs to implement policies and interventions with consideration of parameter estimation values on risk factors according to GWR modeling, especially improving TB education and promotion. Keywords: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberculosis (TB), Risk Factor
Read More
T-4952
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pelegia Samira Pattdiana Sitompul; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Makful Rahmaniati, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis s dan bivariat dengan menggunakan analisis spasial serta uji korelasi pada variabel untuk mengetahui hubungan faktor yang ada terhadap jumlah kasus baru tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 135 yang merupakan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2015 hingga 2019. Hasil analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan terdapat jumlah keluarga miskin (p-value = 0,000), jumlah puskesmas (p-value = 0,003), jumlah desa siaga (p-value = 0,000), jumlah rumah sakit umum (p-value = 0,007), dan jumlah dokter umum (p-value = 0,038) dimana keenam variabel memiliki p-value dibawah 0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan menunjukkan variabel jumlah dokter umum (0,153) memiliki hubungan yang sangat rendah dan variabel jumlah keluarga miskin (0,306), jumlah puskesmas (-0,236), jumlah desa siaga (-0,283) dan jumlah RSU (-0,210) memiliki hubungan yang rendah terhadap insiden tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat.Program penanggulangan tuberkulosis di Jawa Barat penting untuk dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi jumlah penyakit tuberkulosis kedepannya.
Read More
S-10710
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Hasnanisa; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: HMartya Rahmaniati Makfuli, Arif Burhanudin
Abstrak:
Latar Belakang : Banyumas adalah Kabupaten dengan dengan jumlah kasus TB paru BTA + tertinggi di Jawa Tengah. Untuk melakukan upaya pengendalian TB perlu diketahui terlebih dahulu faktor risiko, sehingga pelaksanaan program dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan sumber dayanya. Tujuan : Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas. Metode : Deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi ekologi dan unit analisis kecamatan. Teknik analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan spasial. Hasil : Uji statistik menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada 2019 adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,005) dan jumlah rumah sehat (0,006). Sedangkan pada tahun 2021 variabel yang berhubungan adalah jumlah bayi diimunisasi BCG (0,000), jumlah rumah sehat (0,000), jumlah rumah tangga ber-PHBS (0,001), jumlah balita gizi buruk (0,011), dan jumlah kasus HIV/AIDS (0,050). Berdasarkan pemetaan secara spasial didapatkan hasil wilayah berisiko tinggi TB paru BTA + di Kabupaten Banyumas pada tahun 2019 terdiri dari 5 kecamatan. Sementara pada tahun 2021, seluruh kecamatan di Kabupaten Banyumas termasuk dalam wilayah berisiko sedang.

Background : Banyumas is a district with the highest number of smear + pulmonary TB cases in Central Java. To control TB, it is necessary to know the risk factors first, so that the program implementation can be adjusted to the region’s conditions and resources. Objective : To determine the risk factors associated with the incidence of smear + pulmonary TB in Banyumas. Methods : Quantitative descriptive with an ecological study approach and sub-district analysis units. The analysis techniques performed included univariate, bivariate, and spatial. Results : Statistical tests show that the variables associated with the incidence of smear + pulmonary TB in 2019 are the number of babies immunized with BCG (0.005) and the number of healthy homes (0.006). Whereas in 2021 the related variables are the number of babies immunized with BCG (0.000), the number of healthy homes (0.000), the number of households with PHBS (0.001), the number of malnourished children under five (0.011), and the number of HIV/AIDS cases (0.050) . Based on spatial mapping, the results show that the high-risk area for pulmonary TB BTA + in 2019 consists of 5 sub-districts. Meanwhile in 2021, all sub-districts in Banyumas is included in moderate risk areas.
Read More
S-11198
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Doni Lasut; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Tris Eryando, Martya Rahmaniati Makful, Roy Nusa, Beben Saiful Bahri
Abstrak: Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Di Propinsi Jawa Barat Kabupaten Cianjur merupakan 10 kabupaten yang masih tinggi kejadian diare pada penduduknya. Penelitian ini dengan rancangan cross-sectional dan sumber data sekunder dari Survey Cepat FKM-UI Tahun 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan diare menggunakan analisis regresi linear dan regresi spasial SGWR (Semiparametric Geographically Weigthed Regression). Hasil analisis regresi linear didapatkan kebiasaan BAB menjadi faktor utama dengan dikontrol proporsi SPAL, balita, pendidikan SD, akses air dan jarak ke pencemar. Hasil analisis SGWR didapatkan model GWR global (letak pencemar dan balita) dan model GWR lokal (Kebiasaan BAB dan SPAL). SGWR dengan pembobotan jarak optimal sebesar 3 Km sampai 15 Km mampu memprediksi dengan model yang lebih sesuai untuk tiap area. Kata Kunci : Diare, Regresi, SGWR, GWR
Read More
T-4307
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joyceline Esther; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak: Melihat karakteristik DKI Jakarta yang merupakan Ibukota Negara yang wilayahnya perkotaan, sebagai salah satu provinsi penyangga utama program KB nasional, banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas, dan cukupnya fasilitas kesehatan, angka tersebut perlu diturunkan. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB di DKI Jakarta, berdasarkan analisis data SDKI 2017. Disain studi dalam penelitian ini adalah potong lintang dengan sampelnya meliputi seluruh responden wanita usia subur (15-49 tahun) yang berstatus kawin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian unmet need KB adalah usia (OR=0,569), dukungan suami (OR=5,550), dan paparan tenaga kesehatan (OR=2,055). Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah dukungan suami (OR=5,550).
Read More
S-10745
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renata Philipa Plate; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati M., R. Sutiawan, Teti Tejayanti, Fajar Nugraha
Abstrak:
Di Jawa Timur, terdapat disparitas prevalensi hipertensi antarkabupaten/kota yang disebabkan oleh perbedaan determinan prevalensi hipertensi di setiap wilayah. Sejalan dengan itu, keterikatan sosial dan ekonomi antarwilayah dapat menyebabkan saling pengaruh mekanisme determinan hipertensi. Kondisi ini menimbulkan kendala dalam pelaksanaan program kesehatan dan alokasi sumber daya kesehatan, termasuk pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagai salah satu sumber dana program pencegahan dan pengendalian hipertensi. Di Jawa Timur, terdapat lima Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) yang bertugas membuat rekomendasi usulan DAK untuk kabupaten/kota dalam wilayah kerja masing-masing Bakorwil. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan spasial prevalensi hipertensi dan variasi determinan prevalensi hipertensi antarkabupaten/kota di Jawa Timur. Analisis spasial dengan menggunakan indeks Moran dan Geographically Weighted Regression (GWR) dilakukan terhadap 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Hasil analisis menunjukan bahwa prevalensi hipertensi di suatu kabupaten/kota dipengaruhi oleh kabupaten/kota tetangganya. Selain itu, 38 kabupaten/kota tersebut memiliki variasi determinan prevalensi hipertensi berupa proporsi bekerja, proporsi pengeluaran untuk minyak dan lemak, proporsi perokok, serta prevalensi diabetes. Adanya efek kewilayahan pada nilai prevalensi hipertensi dan determinannya menunjukan bahwa pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian hipertensi di tingkat daerah memerlukan koordinasi antardinas kabupaten/kota. Lebih lanjut, rekomendasi usulan DAK bidang kesehatan juga memerlukan koordinasi antar Bakorwil.

In East Java, there is a disparity in the prevalence of hypertension among districts/cities caused by differences in the determinants of hypertension prevalence in each region. Moreover, social and economic relationship between regions can lead to the mutual influence of the determinant mechanisms of hypertension. This condition creates obstacles in the implementation of health programs and the allocation of health resources, including the allocation of the Special Allocation Fund (Dana Alokasi Khusus or DAK) as a source of funds for the hypertension prevention and control program. In East Java, there are five Regional Coordinating Bodies (Badan Koordinasi Wilayah or Bakorwil) whose task is to make recommendations on DAK proposals for districts/cities within the working areas of each Bakorwil. This study aims to look at the spatial relationship between the prevalence of hypertension and the variation in the determinants of hypertension prevalence between districts/cities in East Java. Spatial analysis using the Moran index and Geographically Weighted Regression (GWR) was carried out for 38 districts/cities in East Java. The results of the analysis show that the prevalence of hypertension in a district/city is influenced by neighboring districts/cities. In addition, the 38 regencies/cities have variations in the determinants of the prevalence of hypertension, namely the proportion of working, the proportion of spending on oils and fats, the proportion of smokers, and the prevalence of diabetes. The existence of a spatial effect on the prevalence of hypertension and its determinants indicates that the implementation of hypertension prevention and control programs at the regional level requires coordination between district/city offices. Furthermore, DAK recommendations for the health sector also require coordination between Bakorwil.
Read More
T-6819
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadila Aurelia; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Anis Dyah Rahmawati
Abstrak:
Keluhan kesehatan kerap kali ditemui para pelaku komuter dan dapat menurunkan produktivitas para pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh moda transportasi utama dan lama perjalanan terhadap keluhan kesehatan pada pekerja komuter menuju DKI Jakarta. Desain studi yaitu potong lintang dengan instrumen Survei Komuter Jabodetabek 2019. Populasi penelitian ini adalah pekerja komuter Jabodetabek yang berkegiatan utama komuter menuju DKI Jakarta yang tercatat dalam Survei Komuter Jabodetabek 2019. Variabel yang dijadikan kandidat confounding adalah usia, jenis kelamin, penghasilan, pendidikan terakhir, serta frekuensi komuter dalam seminggu. Jumlah sampel penelitian yaitu 2112 sampel. Hasil analisis menunjukkan bahwa moda transportasi utama tidak berhubungan signifikan dengan keluhan kesehatan (OR = 1,080 (0,856–1,362)). Lama perjalanan berhubungan signifikan dengan keluhan kesehatan (OR = 1,746 (1,441–2,116)). Usia menjadi variabel lain yang berhubungan signififkan dengan keluhan kesehatan (OR = 1,268 (1,044–1,539)). Tidak ada confounding dalam penelitian ini. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah memisahkan jenis moda transportasi, mempertimbangkan kemacetan dan durasi di tempat kegiatan sebagai variabel, serta melakukan analisis tren.

Health complaints are commonly found in commuters and have a possibility to reduce workers’ productivity. The study aims to find the impact of main transportation mode and travel time on health complaints among workers commuting to DKI Jakarta. The study design is cross-sectional with Jabodetabek Commuter Survey 2019 as the instrument. The population is commuter workers in Jabodetabek commuting to DKI Jakarta based on the instrument. Confounding variables include age, gender, income, education, and weekly commuting frequency. The sample size is 2112 samples. The analysis shows that the main transportation mode is not significantly associated with health complaints (OR = 1.080 (0.856–1.362)), while travel duration (OR = 1.746 (1.441–2.116)) and age (OR = 1.268 (1.044–1.539)) are significantly associated with health complaints. There are no confounding variables identified in this study. Recommendations for future research include separating types of transportation modes, considering traffic congestion and duration at activity locations as variables, and conducting trend analysis.
Read More
S-11736
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive