Ditemukan 18292 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Siti Ayuningtyas Heriyadi; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Kholis Ernawati
Abstrak:
Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor risiko mobilitas terhadap penularan kasus COVID-19. Faktor risiko mobilitas yang dimaksud adalah tindakan mobilitas perjalanan darat (terdiri dari variabel berjalan kaki, berkendara, transit, dan transportasi publik) dan perjalanan udara (terdiri dari variabel domestik, internasional, dan domestik-internasional). Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review yang mengacu pada PRISMA Statement (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyse Statement) dengan sintesis hasil penelitian berupa narrative synthesis. Terdapat 10 studi yang terinklusi dalam penelitian, tercatat sebanyak 1 studi meneliti faktor risiko perjalanan darat dan perjalanan udara, 3 studi meneliti perjalanan darat, dan 6 studi meneliti perjalanan udara. Sintesis hasil studi menunjukkan hanya variabel domestik yang tidak memiliki hubungan bermakna dengan kasus COVID-19. Sedangkan, variabel lainnya memiliki hubungan bermakna dengan nilai p-value < 0,05. Tingkat risiko pada masing-masing variabel penelitian dipengaruhi oleh penerapan protokol kesehatan individu dan tindakan vaksinasi individu.
Read More
S-10799
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Isna Nur Aeni; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Suci Rochayati
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia berada di peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah angka kasus TBC terbanyak secara global. Berdasarkan laporan Puskesmas Cileungsi, angka kasus TBC pada tahun 2022 sebanyak 98 kasus dan meningkat pada tahun 2023 menjadi sebanyak 140 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel sebanyak 83 responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat (chi square). Angka prevalensi kejadian TBC pada penelitian ini sebesar 33,7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian TBC di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi yaitu, jenis kelamin (OR=4), status ekonomi (OR=3), riwayat penularan (OR=4,43), dan suhu (OR=6,94). Oleh karena itu, kepada pihak Puskesmas Cileungsi disarankan untuk memberikan edukasi terkait rumah sehat, meningkatkan investigasi kontak serumah, dan menjalankan bantuan program rumah sehat dengan pihak terkait. Masyarakat juga disarankan untuk rajin melakukan hidup bersih dan sehat, membuka jendela di pagi hari, dan memakai masker, khususnya bagi penderita TBC aktif untuk meminimalkan penularan.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Indonesia is ranked second in the world as the country with the highest number of TB cases globally. Based on the Cileungsi Health Center report, the number of TB cases in 2022 will be 98 cases and will increase in 2023 to 140 cases. This study aims to analyze factors related to the incidence of positive smear TB in the Cileungsi Community Health Center work area in 2024. This study used a cross-sectional study design with a sample of 83 respondents. The analysis carried out included univariate and bivariate analysis (chi square). The prevalence rate of TB in this study was 33.7%. The results of the study showed that the risk factors that had a significant relationship to the incidence of TB in the Cileungsi Community Health Center working area were, gender (OR=4), economic status (OR=3), history of transmission (OR=4.43), and temperature (OR =6.94). Therefore, it is recommended that the Cileungsi Community Health Center provide education regarding healthy homes, increase household contact investigations, and carry out healthy home program assistance with related parties. The public is also advised to diligently practice clean and healthy living, open windows in the morning, and wear masks, especially for active TB sufferers to minimize transmission
S-11837
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Markani; Pembimbing: Budi Haryanto, Haryoto Kusnoputranto
T-1997
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiyono; Pembimbing: Suyud Warno Utomo, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Margareta Maria Sintorini, Enny Wahyu Lestari
Abstrak:
Filariasis atau kaki gajah ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan berbagai jenis nyamuk. Penularan filariasis terjadi bila terdapat sumber penular yaitu manusia dan hewan (hospes), parasit (cacing filaria), vektor yaitu nyamuk yang infektif, manusia yang rentan, serta kondisi lingkungan yang sangat potensial untuk perkembang-biakan vektor, perilaku masyarakat yang berisiko lebih sering kontak dengan nyamuk. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian filariasis. Metode penelitian ini adalah penelitian Analitik observasional dengan desain case-control menggunakan pendekatan study retrospektif yaitu untuk menganalisis efek penyakit atau status kesehatan pada saat ini dan mengukur besar faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian filariasis pada masa yang lalu. Jumlah sampel sebanyak 126 responden, dengan perbandingan kasus : kontrol (1:2), dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan Keberadaan rawa (P:0,000;OR:5,200), Keberadaan sawah (P:0,041;OR:8,200), Keberadaan hutan semak (P:0,001;OR:6,460), Jenis Pekerjaan (P:0,000;OR:9,500), Tingkat Pengetahuan (P:0,000; OR:5,399), Kebiasaan keluar rumah malam hari (P:0,000;OR:7,300), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,004;OR:3,300), Kebiasaan menggunakan kelambu (P:0,000;OR:7,045), Keberadaan vektor (P:0,000;OR:7,263), dengan kejadian Filariasis, dan pada uji regresi logistic menunjukan faktor risiko paling signifikan Keberadaan hutan semak (P:0,002;OR:48,700), Jenis Pekerjaan (P:0,004;OR:39,919), Tingkat Pengetahuan (P:0,013;OR:11,206), Kebiasaan Keluar rumah malam hari (P:0,040;OR: 5,833), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,005;OR:10,680), dan Keberadaan vektor (P:0,005;OR:12,036) dengan kejadian Filariasis. Kesimpulan ada hubungan faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian Filariasis, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan mengurangi faktor risiko dan edukasi kepada masyarakat tentang upaya promosi dan pencegahan penularan filariasis. Kata kunci: Filariasis, faktor risiko lingkungan, sosial, budaya, dinamika penularan, Kabupaten Kubu Raya. Filariasis or elephantiasis is a chronic infectious disease caused by filarial worm infection and is transmitted through the bite of various types of mosquitoes. Transmission of filariasis occurs when there is a transmitting source of humans and animals (the host), parasites (filari worms), vectors of infective mosquitoes, vulnerable humans, and potential environmental conditions for vector breeding, risky behavior of peoples more frequent contacts With mosquitoes. The purpose of the study was to analyze the environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis incidence. This research method is observational analytic research with case-control design using retrospective study approach that is to analyze the effect of disease or health status at this time and measure big risk factor which have influence to filariasis incident in the past. The sample counted 126 respondents, with case comparison: control (1: 2), conducted by interview and observation. Chi-square test (P: 0,041, OR: 5,200), Presence of paddy field (P: 0,041, OR: 8,200), Presence of paddy field (P: 0,001, OR: 6,460), Type of Work (P: 0.000; OR: 9,500), Knowledge Level (P: 0,000; OR: 5,399), Nighttime out habits (P: 0,000; OR: 7,300), Habits of using anti-mosquito (P: 0,004; OR: 3,300), Habit (P: 0,000; OR: 7,045), presence of vector (P: 0,000; OR: 7,263), with occurrence of filariasis, and on logistic regression test showed the most significant risk factor Presence of bush forest (P: 0,002; OR: 48,700) (P: 0,004; OR: 39,919), Knowledge Level (P: 0,013; OR: 11,206), Night Out Habits (P: 0,040; OR: 5,833), Habits of using mosquito repellent (P: 0,005; OR: 10,680), and the presence of a vector (P: 0.005; OR: 12,036) with filariasis occurrence. Conclusion there is a relationship of environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis occurrence, so it is necessary to do prevention efforts by reducing risk factors and education to the public about the promotion and prevention of filariasis transmission. Keywords: filariasis, environmental risk factors, social, culture, dynamics of transmission,Kubu Raya West Kalimantan.
Read More
T-4891
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mustika Marwah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Meiliana Sari
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko keberadaan agen COVID-19 dalam bentuk aerosol serta bagaimana kontrol teknik udara dalam ruangan dapat berperan terhadap risiko penularan penyakit tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menilik bagaimana kebijakan eksisting sebagai kontrol administratif dalam mengatur risiko penularan COVID-19 dengan menilik kontrol teknik udara dalam ruangan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian sistematis dan kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan risiko keberadaan aerosol agen COVID-19 pada udara dalam ruangan. Selain itu, kontrol teknik udara dapat berperan dalam mereduksi risiko penularan COVID-19 via aerosol melalui (1) peningkatan pergantian udara dalam ruangan dengan udara luar ruangan, (2) penggunaan perangkat pembersih udara, serta (3) Memperhatikan tata letak perangkat ventilasi, arah dan distribusi alirah udara, serta alur udara bersih dan udara kotor pada suatu ruangan. Adapun kebijakan yang ada saat ini masih minim dalam mempertimbangkan risiko penularan COVID-19 via aerosol dalam ruangan sehingga masih dibutuhkan pengembangan kebijakan.
Read More
S-10811
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuyun Kurniawati; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, Gindo Mangara Simanjuntak; Penguji: Widarso HS, I Made Djaja, Dede Mulyadi
T-2154
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kharizqamir Dwitili Elipen; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Khadijah Azhar
Abstrak:
Read More
Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menyatakan wabah novel coronavirus (COVID-19) sebagai pandemi global. Memasuki bulan April tahun 2022, COVID-19 di Indonesia mulai mengalami penurunan angka kasus positif COVID-19. Seiring dengan penurunan angka kasus, pemerintah mulai memberi izin untuk perguruan tinggi dapat melakukan kegiatan secara campuran (hybrid learning) yang memiliki risiko meningkatkan penularan COVID-19 kembali yang dikarenakan faktor perilaku tiap individu dan lingkungan sekitarnya jika masyarakat mulai abai terhadap virus COVID-19. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko yang bersumber dari perilaku individu, lingkungan sosial masyarkat, dan lingkungan tempat tinggal yang mempengaruhi penularan virus COVID-19. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional yang dilakukan pada 216 mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia dipilih secara simple random sampling, menggunakan kuesioner secara online. Data dianalisis dengan uji chi-square dan analisis regresi logistik ganda. Didapatkan hasil sebanyak 48,1% mahasiwa pernah mengalami COVID-19 dan 51,9% mahasiswa tidak penah mengalami COVID-19. Pada variabel penerapan protokol kesehatan, sistem perkuliahan, dan penerapan protokol kesehatan di masyarakat memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian COVID-19. Sedangkan pada variabel keikutsertaan vaksinasi COVID-19, penggunaan transportasi umum, ketersediaan posko satgas COVID-19 di lingkungan tempat tinggal, jumlah penghuni dalam tempat tinggal, dan jenis kawasan tempat tinggal tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian COVID-19. Penerapan protokol kesehatan merupakan variabel yang paling dominan dalam terjadinya paparan COVID-19.
On 11 March 2020, WHO declared the outbreak of the novel coronavirus (COVID-19) a global pandemic. Entering April 2022, COVID-19 in Indonesia began to experience a decrease in the number of positive cases of COVID-19. Along with the decrease in the number of cases, the government has begun to give permission for tertiary institutions to carry out varied activities (hybrid learning), which has the risk of increasing the transmission of COVID-19 again due to the behavior of each individual and the surrounding environment if people start to ignore the COVID-19 virus. This study aimed to determine risk factors originating from individual behavior, the social environment, and the living environment that influence the transmission of the COVID-19 virus. This study used a cross-sectional study conducted on 216 University of Indonesia Health Sciences Cluster students selected by simple random sampling using an online questionnaire. Data were analyzed by chi-square test and multiple logistic regression analysis. The results were that 48.1% of students had experienced COVID-19 and 51.9% had never experienced COVID-19. In the variables of implementing health protocols, the lecture system, and the application of health protocols in the community has a significant relationship to the incidence of COVID-19. Meanwhile, the COVID-19 vaccination participation variable, use of public transportation, the availability of COVID-19 task force posts in the neighborhood, the number of residents in residence, and the type of residential area have no significant relationship with the incidence of COVID-19. Implementation of health protocols is the most dominant variable in exposure to COVID-19.
S-11203
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arrum Shafa Maulidiazmi Umar; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Alvina Widhani
Abstrak:
Penelaahan ini dilakukan guna mendapatkan informasi mengenai peran faktor stres terhadap kejadian Lupus Eritematosus Sistemik, khususnya pada aspek fisik dan aspek psikologis penyintas LES. Penelaahan kualitatif ini menggunakan desain literature review. Hasil penelaahan ditemukan 9 jurnal internasional yang meneliti peran faktor stres terhadap aspek fisik, dan 11 jurnal internasional yang meneliti peran faktor stres terhadap aspek psikologis penyintas Lupus LES. Sebagian jurnal internasional berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Hanya terdapat dua jurnal yang berasal dari Asia (Korea dan Jepang). Jurnal internasional terlama yang digunakan dalam penelaahan ini adalah jurnal oleh Wekking, et al yang dipublikasi pada tahun 1991. Sedangkan jurnal internasional terbaru yang digunakan dalam penelaahan ini adalah jurnal oleh Sumner, et al pada tahun 2019. Dampak dari faktor stres lebih mendominasi pada aspek psikologis dibandingan dengan dampak pada aspek fisik pasien LES. Kesimpulan dari penelaahan ini, yaitu stres dapat memicu flare dan memperburuk gejala LES. Jenis stres yang paling berpengaruh dalam munculnya flare dan perburukan gejalanya adalah daily stress (interpersonal dan stres dari lingkungan pekerjaan). Daily stress juga menimbulkan dampak pada emosional, kognitif, dan perilaku pasien. Hal tersebut didukung oleh persepsi pasien, dan penelitian perbandingan antara pasien LES dengan kontrol maupun pasien penyakit autoimun lain. Intervensi kognitif-perilaku dan psikologis dapat menjadi alternatif dalam penurunan tingkat stres pasien LES. Kata Kunci: Autoimun, Lupus Eritematosus Sistemik, Stres The focus of this study is to know about the role of stress in Systemic Lupus Erythematosus, especially on the physical aspects and psychological aspects of SLE patients. This qualitative study uses a literature review design. The study found 9 international journals that discussed the role of factors in physical aspects, and 11 international journals that discussed the role of factors in the psychological aspects of SLE patients. Most international journals were from the United States and Europe. There were only two journals from Asia (Korea and Japan). The oldest international journal used in this study was journal by Wekking, et al published in 1991. The latest international journal used in this study was journal by Sumner, et al in 2019. The conclusion from this review, that stress can trigger flares SLE symptoms. Source of stress that can trigger flares and worsen symptoms most is daily stress (interpersonal and stress from the work environment). Daily stress also affects the emotional, cognitive, and behavior of patients. These facts supported by patients' perceptions, and studies between SLE patients and controls as well as other autoimmune disease patients. Cognitive-behavioral and psychological interventions can be alternatives in reducing the stress level of SLE patients. Key words: Autoimmune disease, Stress, Systemic Lupus Erythematosus,
Read More
S-10482
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jemmima Fajarin Putri; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Zakianis; Alvina Widhani
S-10496
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulia Sayanthi; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Sintorini Moerdjoko, Aria Kusuma
Abstrak:
Leptospirosis telah dikenal sebagai penyakit yang ditularkan melalui lingkungan. Leptospira dari subclade P1 (patogenik) adalah penyebab utama Leptospirosis pada manusia dan hewan. Untuk mengetahui hubungan lingkungan dengan penyakit perlu dilakukan deteksi Leptospira patogen. Dengan mengetahui kelangsungan hidup Leptospira pada lingkungan (air dan tanah) dapat memberikan gambaran di mana dan bagaimana Leptospira dapat menular kepada manusia. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai kontaminasi Leptospira patogen pada lingkungan dan kemampuan bertahan hidup Leptospira pada sampel lingkungan menggunakan metode systematic review. Proses pencarian pada systematic review ini menggunakan empat database yaitu Pubmed, Science Direct, Scopus dan Proquest, artikel yang dicari merupakan artikel yang dipublikasi pada tahun 2000 sampai 2021. Total 36 artikel di analisis pada review ini. Leptospira patogen ditemukan pada semua tatanan masyarakat (kota atau desa) di wilayah dengan kasus tinggi, rendah maupun nonendemis, Leptospira patogen juga ditemukan pada sumber air minum rumah tangga. Spesies Leptospira dari semua kelompok ditemukan pada sampel air dan tanah, spesies dari kelompok patogen yang paling dominan adalah L. kmetyi, kelompok intermediate adalah L. wolffii dan kelompok saprophytic adalah L. meyeri. Leptospira patogen tidak dapat berkembangbiak di lingkungan, namun dapat bertahan selama lebih dari satu tahun pada air tawar dan 3 hari pada air laut. Leptospira patogen tetap mampu menginfeksi walau dalam keadaan kurang nutrisi. Sedangkan di dalam tanah Leptospira mampu bertahan pada kelembaban <20% kadar pH dalam tanah tidak berpengaruh terhadap distribusi dan kelangsungan hidup Leptospira di dalam tanah
Leptospirosis has been recognized as an environmental transmitted disease. Leptospira from subclade P1 (pathogenic) is the main cause of Leptospirosis in human and animal. To determine the relationship between environment and disease, it is necessary to detect pathogenic Leptospira in the environmental samples. Knowing the survival of Leptospira in the environment (water and soil) can provide an overview of where and how Leptospira can be transmitted to humans. Therefore, this study aims to provide an overview of the contamination of pathogenic Leptospira in the environment and the ability of Leptospira to survive in the environmental samples using a systematic review method. The search process in this Systematic Review used four databases, namely Pubmed, Science Direct, Scopus and Proquest, the articles sought are articles published from 2000 to July 2021. A total of 36 articles are analyzed in this review. Pathogenic leptospires are found in all community settings (urban or rural) in areas with high, low and non-endemic cases, pathogenic Leptospira are also found in household drinking water sources. Leptospira species from all groups were found in water and soil samples, the most dominant species of the pathogen group was L. kmetyi, the intermediate group was L. wolffii and the saprophytic group was L. meyeri. Pathogenic leptospires cannot reproduce in the environment, but can survive for more than one year in fresh water and 3 days in seawater. Leptospira pathogens are still able to infect even in a state of lack of nutrients. While in the soil Leptospira is able to survive at humidity <20% pH levels in the soil have no effect on the distribution and survival of Leptospira in the soil
Read More
Leptospirosis has been recognized as an environmental transmitted disease. Leptospira from subclade P1 (pathogenic) is the main cause of Leptospirosis in human and animal. To determine the relationship between environment and disease, it is necessary to detect pathogenic Leptospira in the environmental samples. Knowing the survival of Leptospira in the environment (water and soil) can provide an overview of where and how Leptospira can be transmitted to humans. Therefore, this study aims to provide an overview of the contamination of pathogenic Leptospira in the environment and the ability of Leptospira to survive in the environmental samples using a systematic review method. The search process in this Systematic Review used four databases, namely Pubmed, Science Direct, Scopus and Proquest, the articles sought are articles published from 2000 to July 2021. A total of 36 articles are analyzed in this review. Pathogenic leptospires are found in all community settings (urban or rural) in areas with high, low and non-endemic cases, pathogenic Leptospira are also found in household drinking water sources. Leptospira species from all groups were found in water and soil samples, the most dominant species of the pathogen group was L. kmetyi, the intermediate group was L. wolffii and the saprophytic group was L. meyeri. Pathogenic leptospires cannot reproduce in the environment, but can survive for more than one year in fresh water and 3 days in seawater. Leptospira pathogens are still able to infect even in a state of lack of nutrients. While in the soil Leptospira is able to survive at humidity <20% pH levels in the soil have no effect on the distribution and survival of Leptospira in the soil
T-6131
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
