Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36070 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hanisa Purwantari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Linda Lia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan VCT pada LSL di Bogor tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan secara daring dengan jumlah responden 108 orang. Pemanfaatan VCT sebagai variabel dependen, sedangkan faktor modifikasi (umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pengetahuan), persepsi individu (persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan) serta isyarat untuk bertindak sebagai variabel independen. Data dianalisis dengan uji chi-square.
Read More
S-10829
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridia Nindi Zahra Nadiva; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Arip Prianto
Abstrak:
Latar Belakang: Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) merupakan salah satu strategi pencegahan HIV yang efektif apabila digunakan secara konsisten sesuai anjuran. Namun, tingkat kepatuhan penggunaan PrEP pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi tantangan yang dapat memengaruhi efektivitas pencegahan HIV. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada LSL berusia 18–24 tahun di Kabupaten Bogor tahun 2026. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah LifeWindows Information–Motivation–Behavioral Skills ART Adherence Questionnaire (LW-IMB-AAQ) dan Simplified Medication Adherence Questionnaire (SMAQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Sebagian besar responden (70,9%) termasuk dalam kategori tidak patuh dalam mengonsumsi PrEP, sedangkan 29,1% termasuk dalam kategori patuh. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jumlah pasangan seksual (p=0,011), riwayat penggunaan PrEP sebelumnya (p=0,043), dan keterampilan berperilaku (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum PrEP. Kesimpulan: Intervensi untuk meningkatkan keterampilan berperilaku dan pendampingan penggunaan PrEP perlu diperkuat guna meningkatkan kepatuhan minum PrEP pada kelompok LSL. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian serupa pada kelompok LSL di kota atau kabupaten lain untuk mengetahui konsistensi faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum PrEP pada berbagai konteks dan populasi.

Background: Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) is an effective HIV prevention strategy when used consistently as recommended. However, adherence to PrEP among men who have sex with men (MSM) remains a challenge that may affect the effectiveness of HIV prevention efforts. Methods: This study employed a cross-sectional design conducted among MSM aged 18–24 years in Bogor Regency in 2026. A total of 86 respondents were selected using a total sampling technique. The instruments used were the LifeWindows Information–Motivation–Behavioral Skills ART Adherence Questionnaire (LW-IMB-AAQ) and the Simplified Medication Adherence Questionnaire (SMAQ). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The majority of respondents (70.9%) were categorized as non-adherent to PrEP, while 29.1% were categorized as adherent. Bivariate analysis showed that the number of sexual partners (p=0.011), previous PrEP use history (p=0.043), and behavioral skills (p<0.001) were significantly associated with PrEP adherence. Conclusion: Interventions to improve behavioral skills and strengthen support for PrEP use should be enhanced to increase PrEP adherence among MSM. Future research is recommended to be conducted among MSM populations in other cities or districts to examine the consistency of factors associated with PrEP adherence across different contexts and populations.
Read More
S-12307
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Zaki Ronaldy; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Arif Rianto
Abstrak:
Kelompok Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) menghadapi hambatan struktural dan stigma yang memengaruhi kemampuan mereka mengakses dan memanfaatkan informasi kesehatan. Literasi kesehatan yang memadai menjadi kunci bagi kelompok ini dalam mengelola pencegahan HIV, termasuk penggunaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) secara konsisten. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran literasi kesehatan dan faktor-faktor yang berasosiasi dengan literasi kesehatan pada kelompok LSL usia 18-24 tahun yang mengakses layanan PrEP melalui Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) di Kabupaten Bogor, dengan mengacu pada model determinan literasi kesehatan Pawlak (2005) dan model literasi kesehatan Sørensen (2012) sebagai kerangka teori. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan total sampling 86 responden. Literasi kesehatan diukur menggunakan HLS-EU-Q16, sementara pengetahuan HIV diukur menggunakan HIV-KQ-18. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk usia serta Mann-Whitney untuk variabel lainnya. Hasil menunjukkan rata-rata skor literasi kesehatan responden sebesar 3,04 (SD = 0,687), berada pada kategori mencukupi. Berdasarkan dimensi, skor tertinggi terdapat pada dimensi fungsional, diikuti interaktif dan kritis. Berdasarkan domain, skor tertinggi pada domain pelayanan kesehatan, diikuti pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Analisis bivariat menunjukkan jumlah sumber informasi kesehatan (p-value = 0,017) dan pengetahuan HIV (p-value = 0,009) berhubungan bermakna secara statistik dengan literasi kesehatan, sementara usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan tidak menunjukkan hubungan bermakna (p-value > 0,05). Peningkatan literasi kesehatan pada LSL muda perlu difokuskan pada perluasan akses terhadap sumber informasi kesehatan yang berkualitas dan beragam, serta penguatan edukasi HIV yang akurat, inklusif, dan bebas stigma melalui program berbasis komunitas.

Men who have sex with men (MSM) face structural barriers and stigma that affect their ability to access and utilize health information. Adequate health literacy is essential for this group in managing HIV prevention, including the consistent use of Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). This study aimed to describe health literacy and identify factors associated with health literacy among MSM aged 18-24 years accessing PrEP services through Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) in Kabupaten Bogor, drawing on Pawlak's (2005) health literacy determinants model and Sørensen's (2012) health literacy model as the theoretical framework. This study employed a cross-sectional design with total sampling of 86 respondents. Health literacy was measured using the HLS-EU-Q16, while HIV knowledge was measured using the HIV-KQ-18. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, applying Spearman Rank correlation for age and the Mann-Whitney test for the remaining variables. Results showed a mean health literacy score of 3.04 (SD = 0.687), categorized as sufficient. By dimension, the highest score was found in the functional dimension, followed by the interactive and critical dimensions. By domain, the highest score was found in the healthcare domain, followed by disease prevention and health promotion. Bivariate analysis showed that the number of health information sources accessed (p-value = 0.017) and HIV knowledge (p-value = 0.009) were statistically significantly associated with health literacy, while age, education level, employment status, and income showed no significant association (p-value > 0.05). Efforts to improve health literacy among young MSM should focus on expanding access to quality and diverse health information sources, as well as strengthening accurate, inclusive, and stigma-free HIV education through community-based programs.
Read More
S-12297
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roslina Susilawati; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Besral, Anwar Hassan, Sri Pinantari, Eli Winardi
Abstrak:

Angka HIV meningkat di Indonesia terutama di kalangan LSL, salah satu cara efektif menurunkan infeksi HIV adalah melalui perubahan perilaku dengan meningkatkan pengetahuan tentang HIV-AIDS. Pada data tahun 2007 persentase LSL yang pernah melakukan tes HIV sebanyak 37 % di Jakarta, Medan, Batam, Bandung, Malang dan Surabaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya testing HIV pada LSL dan setelah dianalisis, variabel-variabel yang berhubungan dengan testing HIV pada LSL adalah umur, starus pernikahan, pendidikan, persepsi, pengetahuan, dukungan petugas, keterpaparan informasi. Hasil analisis 34,9% LSL yang melakukan praktik Testing HIV, faktor yang paling berhubungan dengan testing HIV adalah keterpaparan informasi dengan p value 0,000 dan OR= 13,8.


The HIV rates increasing in Indonesia, especially among MSM. One effective way of lowering HIV infection is through a change in behavior by increasing knowledge about HIV-AIDS. In the 2007, the percentage of MSM who had an HIV test as much as 37% in Jakarta, Medan, Batam, Bandung, Malang and Surabaya. The purpose of this study was to determine the factors associated with low HIV testing in MSM and after analysis, the variables associated with HIV testing in MSM were age, infection status of marriage, education, perception, knowledge, support personnel, exposure information. Results of analysis MSM who practice HIV Testing is 34.9% , the most associated factor with HIV testing is exposure information with p value of 0.000 and OR = 13.8.

Read More
T-3784
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radyan Rifka Pramanik; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Inggrid Pudyaningrum T
Abstrak:
Majelis Kesehatan Dunia ke-49 menyatakan kekerasan sebagai masalah utama bagi kesehatan masyarakat di dunia. Sekolah menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan. kekerasan yang paling umum terjadi di sekolah adalah Bullying. Bullying merupakan perilaku agresif yang melibatkan tindakan negatif, tidak diinginkan yang dilakukan secara berulang dan tidak adanya kekuatan yang seimbang antara pelaku dan korban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja di SMP Negeri 3 Kota Bogor tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 213 sampel.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 51,8% siswa memiliki perilaku bullying. Uji statistik didapatkan bahwa jenis kelamin (p-value 0,02), lingkungan keluarga (p-value 0,017), lingkungan teman (p-value 0,001) dan penggunaan sosial media (p-value 0,000) memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Sedangkan, usia (p-value 0,227) tidak memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Maka dari itu, disarankan untuk melakukan edukasi dan komunikasi pada siswa dan keluarga tentang bullying dengan bekerja sama antara sekolah, keluarga dan tenaga kesehatan untuk membentuk lingkungan yang aman dan nyaman, Meningkatkan fungsi UKS (Unit Kesehatan Siswa) dengan bekerja sama bersama tenaga kesehatan, Menjalankan Program Roots sebaik mungkin, dengan membentuk agen perubahan ke arah positif, Membuat hotline pelaporan kasus bullying untuk masyarakat sekolah.

The 49th World Health Assembly declared violence as a major issue for the health of the world’s public. Schools are one of the places of violence. The most common violence in schools is bullying. Bullying is an aggressive behavior involving negative, unwanted actions that are repeatedly performed and the absence of a balanced force between the perpetrator and the victim. The purpose of this study is to find out factors related to bullying behavior in adolescents at Bogor City 3 State Junior High School in 2023. The research uses quantitative methods with cross-sectional study design. The sample in this study was 213 samples. The results of the study found that 51.8% of students had bullying behavior. Statistical tests found that gender (p-value 0.02), family environment (p-value 0.017), friend environment (p-value 0.001) and social media use (p-value 0.000) have a relationship with bullying behavior. Age (p-value 0.227) has no connection with bullying behavior. Therefore, it is advisable to conduct education and communication in students and families about bullying by working together between schools, families and health workers to form a safe and comfortable environment, Improve the function of UKS (Student Health Unit) by working with health workers, Running Roots Programs as best as possible, by forming change agents towards positive, Create a hotline reporting case bullying for school communities.
Read More
S-11488
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Wahyuni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih, Anwar Hassan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratu Nur`aini Solihah, Lilis Qouliyah
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor (faktorpredisposisi yaitu umur, pengetahuan tentang HIV AIDS, sikap terhadappenggunaan kondom, faktor pendukung yaitu keterpaparan program HIV AIDSdan ketersediaan kondom, faktor penguat yaitu adanya kelompok dukungansebaya yang berhubungan dengan praktek penggunaan kondom pada kelompokwaria di Kota Tangerang tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan sampel berjumlah 151 waria yang diambil dari seluruh totalsampel dan kuesioner sebagai alat ukur penelitian. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa 55,6% responden selalu menggunakan kondom, 56,3%berumur sama dengan 30 tahun, 57,6% berpengetahuan baik, 51,7% bersikapnegatif terhadap penggunaan kondom, 53,6% terpapar program HIV AIDS, 62,3%tersedia kondom, 76,2% ada Kelompok dukungan sebaya. Menurut uji chi squareterdapat 4 variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap praktekpenggunaan kondom pada waria yaitu pengetahuan mengenai HIV AIDS,keterpaparan program HIV AIDS, ketersediaan kondom, dan dukungan kelompoksebaya. Faktor yang paling dominan adalah keterpaparan program HIV AIDSterhadap praktek penggunaan kondom pada waria.Kata kunci : waria, kondom, HIV AIDS
The purpose of this study was to determine the factors (predisposing factors suchas age, knowledge about HIV AIDS, attitudes towards condom use, enablingfactors are exposure to HIV AIDS program and the availability of condoms,reinforcing factor is the existence of peer support groups associated with thepractice of the use of condoms on transsexuals in Tangerang city in 2015. Thisstudy used cross sectional design with a sample totaling 151 transvestites taken ofthe total sample and questionnaire as a measuring tool of the study. The results ofthis study showed that 55.6% of respondents always use a condom, 56.3 % of thesame age to 30 years, 57.6% good knowledge, 51.7% negative attitudes towardcondom use, 53.6% are exposed to HIV AIDS program, 62.3% providedcondoms, 76.2% no peer support groups. According to chi square test there arefour variables that have a significant relation to the practice of condom use ontranssexuals that knowledge about HIV AIDS, exposure to HIV AIDS program,the availability of condoms, and peer support. The most dominant factor is theexposure of HIV-AIDS program to the practice of the use of condoms on atranssexual.Keywords: transvestites, condoms, HIV AIDS
Read More
T-4343
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zia Arnum Fachrunisa; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Mukheri
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan protokol kesehatan COVID-19 pada siswa SMAN Z Jakarta tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 166 siswa dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan protokol kesehatan COVID-19 pada siswa dapat dikatakan sudah baik, dengan nilai rata-rata sebesar 76.6 (skala 100).
Read More
S-10700
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zamzimiyati Rohma; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Yuni Astuti
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada masyarakat di Kecamatan Ciracas, Kota Jakarta Timur tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain studi cross- sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian ini berjumlah 176 sampel yang merupakan masyarakat usia >18 tahun dan berdomisili di Kecamatan Ciracas yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku pencegahan responden terhadap COVID-19 cukup baik yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 77,59 dari skala 100. Sebesar 52,8% responden memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik dan sebesar 47,2% responden memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang kurang baik.
Read More
S-10686
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inayah Mahanani Nanda Sulistiyono; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Siti Muhimatul Munawaroh
Abstrak:
Perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kehamilah tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga HIV/AIDS.  Terdapat tiga kematian bayi di Puskesmas Depok Utara sepanjang tahun 2025 akibat kehamilan tidak diinginkan yang merupakan dampak dari perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku yang mengarah kapada seks pranikah pada remaja usia 15-19 tahun di wilayah kerja Puskesmas Depok Utara berdasarkan Theory of Planned Behaviour. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross-sectional dengan jumlah sampel 140 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diisi secara mandiri oleh responden dan data dianalisis menggunajan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku (rs = 0,183; p = 0,03), norma subjektif (rs = 0,343; p = 0,001), dan intensi (rs = 0,187; p = 0,027) dengan perilaku yang mengarah kepada seks pranikah. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel persepsi kontrol perilaku terhadap perilaku yang mengarah kepada seks pranikah (p >0,05). Upaya yang dapat dilakukan adalah intervensi yang melibatkan lingkungan sosial remaja, seperti teman sebaya, orang tua dan guru.

Behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents may have serious adverse consequences, including unintended pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and HIV/AIDS. Three infant deaths were reported in 2025 in the Puskesmas Depok Utara as a consequence of unintended pregnancies associated with adolescents' behaviors leading to premarital sexual activity. This study aimed to examine the factors associated with behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents aged 15–19 years in the catchment area of the North Depok Community Health Center based on the Theory of Planned Behaviour (TPB). This study employed a cross-sectional design involving 140 adolescents selected through convenience sampling. Data were collected using a self-administered questionnaire and analyzed using Spearman's rank correlation test. The findings demonstrated significant positive correlations between attitude toward the behavior (rs = 0.183, p = 0.030), subjective norm (rs = 0.343, p = 0.001), and intention (rs = 0.187, p = 0.027) with behaviors leading to premarital sexual activity. However, no significant association was found between perceived behavioral control and behaviors leading to premarital sexual activity (p > 0.05). These findings suggest that adolescents' social environment, particularly peers, parents, and teachers, plays an important role in shaping behaviors related to premarital sexual activity. Therefore, interventions aimed at preventing premarital sexual behavior among adolescents should actively involve these key social influences.
Read More
S-12417
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agnes Butet Hanis; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Dewi Damayanti
Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik masyarakat dewasa Kecamatan Cinere. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. 196 masyarakat dewasa Kecamatan Cinere berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner daring yang disebarkan lewat media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa 75% masyarakat dewasa Kecamatan Cinere masih kurang beraktivitas fisik. Persepsi manfaat dan hambatan aktivitas fisik, jenis kelamin, IMT, dukungan keluarga dan teman merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik.
Read More
S-10716
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive