Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31552 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Widya; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Ermawati; Anferi Devitra
Abstrak: Pengulangan radiografi konvensional merupak salah satu indikator mutu instalasi radiologi Rumah Sakit Otak DR Drs M Hatta Bukittinggi. Sampai saat ini hasil penilaian pengulangan radiografi konvensional sangat fluktuatif, walaupun sudah ada perbaikan. Hasil yang fluktuatif ini cukup mendapatkan perhatian. Hal ini terjadi karena menjadi faktor pengurang dalam indikator kinerja Unit, indicator kinerja individu yang berpengaruh terhadap poin remunerasi staf. Selain itu pengulangan radiografi konvensional juga berakibat terhadap manajemen resiko. Pengulangan radiografi konvensional meningkatkan angka paparan radiasi kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi faktor yang memberikan pengaruh pada pengulangan radiografi konvensional. Penelitian menggunakan konsep mutu Donabedian. Metode penelitian kualitatif dengan analisis matriks dan konten. Informan penelitian berjumlah 19 orang mulai dari direksi hingga kepala ruangan terkait. Sedangkan data yang digunakan adalah data primer dengan wawancara langsung dan data sekunder menggunakan dokumen dan arsip. Dari komponen yang diteliti, maka maka dapat disimpulkan faktor penyebab pengulangan radiografi konvensional, yang sangat mungkin mempengaruhi satu sama lainnya antara lain kepatuhan SDM terhadap SOP, alat konvensional dan alat prosessing CR serta komponen administrasi pasien
Read More
B-2282
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Andriani; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wahyu Sulistiadi, Kemal Imran, Endang Adriyani
Abstrak: Pengelolaan obat adalah salah satu aspek manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam usaha pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukitinggi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan proses pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan selama ini belum berjalan dengan baik terlihat dari masih tingginya angka kekosongan obat pada tahun 2017 yaitu 7,6% dari 421 jenis obat setiap bulannya dan jumlah obat kadaluwarsa yaitu sebesar 10,45% yang seharusnya 0%. Perencanaan dengan memprioritaskan pembelian kelompok VA, EA dan NA perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kekosongan obat. Untuk mencegah tingginya jumlah obat kadaluwarsa adalah dengan penghitungan jumlah obat yang dipesan berdasarkan penghitungan ROP dan Safety Stock. Kelompok VA merupakan kelompok dengan prioritas utama dalam pengadaan terdiri dari 10 macam obat dengan NS 500cc infus sebagai obat terpenting dalam kelompok. NS 500 cc infus membutuhkan Safety Stock 23.400 sebesar dengan nilai ROP 34.860.
Kata Kunci : Penglolaan, pengendalian, farmasi, obat

Drug management is one important aspect of hospital management. This study is aiming at analysing drug management in pharmacy unit National Stroke Hospital Bukittinggi. This case study was using qualitative approach. The study revealed that drug management and monitoring controlling were not well performed. A high percentage of drug stock out in 2017 was found 7,6% out of 421 drugs item each month, while number of expired drugs was high, reaching 10,45% compared to 0% as target.. Planning to prioritize purchasing of drugs using VA, EA and NA drug need to implement in order to prevent stock out. To avoid expired drug, hospital need to purchased based on ROP and Safety Stock. VA group is the highest priority that include 10 drug item where NS 500 cc infusion fluid is the top one in the group. NS 500 cc infusion fluid would need Safety Stock as much as 23.400 number as Safety Stock and ROP 34.860.
Keywords : Management, control, pharmacy, drug
Read More
B-2036
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kulsum; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Adang Bachtiar, Andi Basuki Prima B., Ari Purwohandoyo
Abstrak: Konsep green hospital merupakan manajemen perubahan yang menjadi kebutuhan di rumah sakit yang dapat mengurangi konsumsi energi secara signifikan, meningkatkan kenyamanan dan produktivitas dan menjaga kelestarian sumber daya alam berkelanjutan Dalam memberikan pelayanan kesehatan, Rumah sakit menggunakan sejumlah energi baik listrik, air, bahan bakar, makanan pasien dan bahan bangunan. Selain itu, rumah sakit juga memproduksi limbah medis dan non medis. Hal tersebut dapat menjadi kontribusi terhadap perubahan iklim apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini menilai kesiapan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang mengacu pada standar nasional Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). Penelitian ini adalah sebuah studi kasus dengan menggunakan pendekatan metoda penelitian kualitatif dengan melakukan observasi untuk mengamati dan menelaah berbagai objek dalam penelitian, melakukan pengukuran dan mengisi ceklis pada instrumen/tools. Dari hasil penelitian diketahui bahwa RSPON baru dapat memenuhi total nilai nilai 58 atau 49,57% dari maksimal 117 nilai dari total kriteria yang dipersyaratkan dalam Greenship. Berdasarkan perolehan nilai tersebut maka sesuai dengan peringkat Greenship GBCI, gedung RSPON mendapatkan peringkat Silver (Perak). Untuk memperbaiki peringkat, masih dapat dengan cara menyediakan parkir sepeda, menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH), recommissioning, pemasangan sistem pemantauan energi, melakukan daur ulang sampah organic, melakukan daur ulang air olahan IPAL melakukan konservasi air bersih, mencoba menggunakan teknologi panel surya (solar cell) serta mengintegrasikan efisiensi energi ke dalam program pemeliharaan
The green hospital concept is a change management that is a necessity in hospitals that can significantly reduce energy consumption, increase comfort and productivity and preserve sustainable natural resources. In providing health services, hospitals use a number of energy, including electricity, water, fuel, patients food and building materials. In addition, hospitals also produce medical and non-medical waste. This can be a contribution to climate change if it is not managed properly. This study assesses the readiness of Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono National Brain Center Hospital Jakarta which refers to the national standard of Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). This research is a case study using a qualitative research method approach by making observations to observe and examine various objects in the study, take measurements and fill out checklists on the instruments/tools. From the research results, it is known that the new RSPON can meet the total value of 58 or 49,54% of the maximum 117 values of the total criteria required in Greenship. Based on the acquisition of these values, in accordance with the GBCI Greenship rating, the RSPON building received a Silver rating. To improve the ranking, it can still be done by providing bicycle parking, increasing the area of green open space (RTH), recommissioning, installing energy monitoring systems, recycling organic waste, recycling treated water from WWTPs, conserving clean water, trying to use solar panel technology. and integrating energy efficiency into maintenance programs
Read More
B-2220
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Rakhmawati; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Mursyid Bustami, Andi Basuki Prima Birawa
Abstrak:
Clinical Pathway (CP) merupakan perangkat alat multidisiplin ilmu yang digunakan untuk perawatan kesehatan berbasis bukti (evidence based). CP memiliki fungsi menyeragamkan terapi sehingga mampu meminimalkan komplikasi dan kesalahan pengobatan. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) merupakan rumah sakit rujukan otak dan persarafan nasional. Stroke perdarahan menjadi penyakit kedua tertinggi di RS.PON. Keberagaman keputusan dilakukannya operasi atau tidak, meskipun sudah masuk indikasi, menjadi poin penting untuk menganalisis implementasi pelaksanaan Clinical Pathway ini.  Tujuan penelitian: menilai implementasi CP stroke perdarahan yang telah dijalankan sehingga diharapkan mampu menjadi dasar penentu kebijakan rumah sakit jejaring maupun rumah sakit seluruh Indonesia. Menilai hubungan antara variabel-variabel dalam clinical pathway terhadap Length of Stay (LOS), morbiditas dan mortalitas Metode: Penelitian ini menggunakan metode mixed method, dengan pendekatan retrospektif. Dalam penelitian kuantitatif dilakukan analisis univariat dan multivariat, dimana menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien stroke perdarahan yang dirawat di RS PON pada januari 2020 - Desember 2021. Dari total populasi 1254 pasien setelah dilakukan kriteria inklusi dan inklusi didapatkan 1001 pasien. Penelitian kuantitatif, dilakukan dengan menganalisis pengaruh implementasi CP terhadap lama hari rawat, morbiditas (nilai NIHSS) dan mortalitas. Faktor risiko dan efek atau penyakit yang terjadi di masa lampau diukur melalui catatan historis. Sementara pengumpulan data secara kualitatif menggunakan kuisioner dan wawancara secara mendalam kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Komite Medis, Kepala Komite Keperawatan, Kepala Divisi Vaskular, Dokter Spesialis Neurologi, Dokter Spesialis Bedah Saraf, Dokter IGD, Perawat, Fisioterapi, Terapi wicara, Gizi dan Farmasi untuk mengetahui tahapan proses Clinical Pathway di RS PON. Total responden 129 orang. Penelitian kualitatif menilai pengetahuan tenaga medis dan paramedis terkait CP, implementasi, supervisi, monitoring dan evaluasi. Hasil: penelitian kuantitatif menemukan adanya hubungan antara beberapa variabel yang berada dalam CP, seperti pemeriksaan penunjang, terapi sesuai indikasi dan penyakit komorbid terhadap LOS, morbiditas dan mortalitas. Sementara pada penelitian kualitatif menilai implementasi CP di RS PON memerlukan perbaikan dari segi sosialisasi, implementasi, monitoring dan evaluasi.  Kesimpulan: Implementasi CP berhubungan dengan outcome klinis pasien stroke perdarahan.  Kata kunci: Clinical Pathway, Stroke Perdarahan

Clinical Pathway is a multidisciplinary toolkit used for evidence-based health care. The Clinical Pathway has the function to unify the therapy so as to minimize complications and medication errors. The National Brain Center Hospital (PON Hospital) is a national brain and nervous referral hospital. Hemorrhagic stroke is the second-highest disease in PON Hospital. The diversity of decisions to have surgery or not, even though it is indicated, is an important point to analyze the implementation of this Clinical Pathway. Objective: to evaluate the implementation of CP bleeding stroke that has been carried out so that it is expected to be the basis for determining policy for network hospitals and hospitals throughout Indonesia. Assessing the relationship between variables in clinical pathways on Length of Stay (LOS), morbidity, and mortality Methods: This study uses a mixed-method, with a retrospective approach. In this quantitative study, univariate and multivariate analyzes were carried out, which used secondary data from the medical records of hemorrhagic stroke patients treated at the PON Hospital in 2020-2021. From the total population of 1254 patients, after the inclusion and inclusion criteria were carried out, there were 1001 patients. Quantitative research was conducted by analyzing the effect of Clinical Pathway implementation on length of stay, morbidity (NIHSS value), and mortality. `Risk factors and effects or diseases that occurred in the past are measured through historical records. Meanwhile, qualitative data collection used in-depth interviews with the Head of Medical Services, Head of the Medical Committee, Head of Nursing, Head of the Vascular Division, Neurology Specialist, Neurosurgeon Specialist, Emergency Room Doctor, Nurse, Farmation, physiotherapist, speech therapist, nutritionist to find out the stages of the Clinical Pathway process at the PON Hospital. The total number of respondents are 129 people. Qualitative research assesses the knowledge of medical and paramedical personnel related to CP, implementation, supervision, monitoring, and evaluation. Result: Quantitative research found a relationship between several variables in CP, such as investigations, therapy, and comorbid with LOS, morbidity, and mortality. Meanwhile, qualitative research showed that the implementation of CP in the PON Hospital was still unsatisfactory in terms of socialization, implementation, monitoring and evaluation. Conclusion: Implementation of CP is associated with clinical outcomes of hemorrhagic stroke patients. Key words: Clinical Pathway, Haemorrhagic stroke
Read More
B-2583
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zubaedah; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Atik Nurwahyuni, Amal C. Sjaaf, Poppy Mariani Yuliati
B-1248
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syanti Puspitasari; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Hadijah
Abstrak: Peningkatan mutu dan keselmatan pasien merupakan dua hal yang tidak bisadipisaahkan dan harus berkesinambungan. Upaya peningkatan mutu dan keselamatanpasien di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. DR. dr. MaharMardjono digambarkan melalui capaian indicator pelayanan menurut Standar PelayananMinimal Rumah Sakit yang belum mencapai standar. Penelitian ini dilakukan untukmenganalisis waktu tunggu pelayanan obat jadi pasien JKN dan aktivitas risikoterjadinaya medication error dengan prinsip lean thinking dan swiss cheese model. Jenispenelitian ini adalah operational research dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.Data kualitatif diperoleh melalui proses observasi dan telaah dokumen, sedangkankuantitatif berdasarkan data waktu tunggu dari electronic health record dan waktutunggu hasil observasi. Hasil penelitian menunjukan waktu tunggu adalah 1 jam 3 menit11 detik, dengan waktu tunggu terlama adalah pada proses penerimaan resep (30 menit42 detik). Kegiatan VA (79%) yaitu 13 menit 13 detik. Aktivitas NVA (21%) denganwaktu 49 menit 21 detik. Waste terbanyak adalah pada kegiatan waiting denganpresentasi waktu 92% dari waktu NVA. Bottleneck pada penelitian ini diambil dariproses waktu tunggu terlama dan hasil analisis swiss chesse model pada tahapanpengkajian dan pemeriksaan sediaan obat.Usulan perbaikan berdasarkan hasil analisisproses pengkajian dan pelayanan resep obat jadi ini adalah perlu adanya penyusunanregulasi pengkajian dan pelayanan obat sesuai standar pelayanan kefarmasian, telaahprofil indicator waktu tunggu obat jadi sesuai SPM rumah sakit, perlu adanya analisisbeban kerja, dan monitoring supervise kajian pelayanan resep obat. Usulan perbaikandigambarkan dalam future state map dengan mereduksi aktivitas NVA yang dapatsecara langsung dihapuskan tanpa dilakukan intervensi.
Kata kunci: lean thinking, , medication error, swiss chesse model waktu tunggupelayanan
Quality improvement and patient safety are two things that cannot separated and mustbe continuous. Effort to improve quality and patient safety at Outpatient PharmacyPusat Otak Nasional Prof. DR.dr. Mahar Mardjono Hospital is described through theachievement of service indicators according to the hospital minimum service standardsthet have not resched the standard. This study was conducted to analyze the waitingtime for JKN patient medication services and risk activities of medication errors usingprinciples of lean thinking and the swiss cheese model. This type of research isoperational research with qualitative and quantitative approaches. Qualitative data isobtained through the process of observation and document review, while quantitativedata is based on waiting time data from electronic health records and waiting time forobservations. The result showed that the waiting time was 1 hour 3 minutes 11 seconds,with the longest waiting time was in the process of receiving the recipe (30 minutes 42seconds). Value_added activity (79%) was 13 minutes 13 seconds, non value addedactivity (21%) for 49 minutes 21 second. Most of waste is in waiting activities with apresentation time of 92% of the time for non value added. The bottleneck in this studywas taken from the longest waiting time process and the result of the swiss cheesemodel analysis at the assessment and examination stage of drug preparations.Reviewing the waiting time indicator profile for the finished medicine according to theSPM of the hospital. There is a need for workload analysis, and monitoring of thereview of prescription services. Proposed improvements are described in a future statemap by reducing non value added activity which can be directly eliminated withoutintervention.
Key words: lean thinking, medication error, swiss chesse model, medication error,service waiting time.
Read More
S-10439
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Junaidi; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Heriyadi Manan, Budiman Wijaya
Abstrak: Angka kejadian, kecacatan dan kematian stroke masih tinggi. Pelayanan stroke di rumah sakit belum standar, baik ruangan perawatan dan terapinya. Hal tersebut yang melatarbelakangi pembentukan pusat stroke di RSMH. Tesis ini membahas kesiapan faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan pusat stroke di Rumah Sakit M Hoesin. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain analitik. Hasil penelitian didapatkan faktor yang belum siap adalah SDM dan infratsruktur yang masih kurang dan kebijakan/protokol yang belum lengkap. Rekomendasi yang dihasilkan membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang untuk pembentukan pusat stroke di Rumah Sakit M Hoesin yang meliputi infrastruktur, sumber daya manusia dan kebijakan/standar yang dibutuhkan agar pusat stroke bisa berjalan optimal. Kata kunci : Kesiapan, pusat stroke, kualitatif, RSMH The incidence, disability and death of stroke is still high. Hospital stroke service is not up to standard, both the treatment room and the therapy. This is what lies behind the establishment of a stroke center at RSMH. This thesis discusses the readiness of the factors that play a role in the establishment of stroke center at M Hoesin Hospital. This research is a qualitative research with analytic design. The result of the research shows that the factors that are not ready are the human resources and some of the infratructure that is still lacking and the policy / protocol is not yet complete. The results suggest that short, medium and long term plans for the establishment of a stroke center at M Hoesin Hospital covering the infrastructure, human resources and policies / standards required for a stable stroke center. Key words ; Readiness, stroke center, qualitative, M Hoeisn hospital
Read More
B-1871
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vika Wahyudi Anggiri; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Septiara Putri, Iin Dewi Astuty, Hadijah Tahir
Abstrak: Resep elektronik merupakan salah satu sistem informasi berpusat kepada pelayanan dengan menghubungkan antara dokter dan apoteker yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien, mengurangi ketidakefisienan dan mengurangi kesalahan pemberian obat. Penyelenggaraan resep elektronik bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Namun, faktor kegunaan dan manfaat dari teknologi ini akan bergantung dari penerimaan pengguna dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh penerimaan penggunaan terhadap resep elektronik dengan pendekatan Technology Acceptance Model di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Juli tahun 2020 menggunakan desain penelitian studi cross sectional dengan pendekatan metode kuantitatif. Uji hipotesis menggunakan analisis Partial Least Square dengan probabilitas dua arah dimana nilai T-statistik lebih besar dari 1,96 maka hasil signifikan dengan memiliki pengaruh yang bermakna. Penerimaan teknologi resep elektronik di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Marjono dikategorikan cukup dengan nilai 69,6%. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi kemudahan penggunaan dipengaruhi oleh desain layar, terminologi dan pelatihan serta sikap terhadap penggunaan dan kecenderungan penggunaan dipengaruhi oleh persepsi kegunaan. Kondisi nyata penggunaan sistem terjadi penurunan jumlah penggunaan resep elektronik dan didapatkan nilai rata-rata penggunaan resep manual sebesar 5,4%. Implementasi resep elektronik di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono sudah berjalan cukup baik dan diperlukan peningkatan kemampuan sistem dengan tujuan meningkatkan kinerja dan kualitas layanan rumah sakit.
Electronic prescribing is one of the information systems focusing on automated service that connects doctors and pharmacists, which potentially improves safety care, reduces inefficiencies and prescription errors. Electronic prescribing assists users in delivering their daily works. However, the usefulness factor and benefits of electronic prescribing relies on the user acceptance to optimize the advantages of this technology. This research aims to find and to analyze the effect of user acceptance towards electronic prescribing by using Technology Acceptance Model approach at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital. The research was conducted in June to July 2020 by employing cross sectional research design and quantitative method approach. The hypothesis testing is developed by using Partial Least Square analysis with a twoway probability where if the value of T-Statistics is higher than 1,96, the effect is significant and meaningful. User acceptance towards electronic prescribing at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital is categorized as sufficient with a value of 69,6%. The research finds that perceived ease of use was influenced by screen design, terminology and training, while attitude towards using and behavioral intention were influenced by perceived usefulness. The actual system use signifies a decline in electronic prescribing usage and the average value of using manual prescribing was 5,4%. Implementation of electronic prescribing at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital has been running quite well and it is necessary to increase system capabilities with the aim of improving the performance and quality of hospital services.
Read More
B-2160
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Malahayati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Muhamad Nur Ihwan, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit di bawah sistem pembayaran INA-CBGs. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis capaian dan determinan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSPG Cisarua Bogor selama tahun 2017 – 2022. Penelitian akan dilakukan selama bulan Mei – Juni 2023 oleh peneliti langsung di RSPG Cisarua Bogor. Analisis capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi data pada elektronik klaim (e-klaim) Kementerian Kesehatan. Determinan yang berpengaruh terhadap ketiga indikator yang dihitung dalam penelitian ini akan dianalisis secara crossectional melalui pendekatan analitik kuantitatif dari data sekunder berupa e-klaim dan laporan rumah sakit. Uji statistik berupa uji korelasi dan regresi linier sederhana digunakan untuk melihat determinan yang berkaitan dengan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate. Hasil penelitian menunjukkan tren casemix rawat jalan dan rawat inap tahunan RSPG mengalami penurunan dari 2017 hingga 2021 seiring dengan penurunan jumlah kasus. Penurunan pada tahun 2020 dan 2021 diakibatkan adanya penurunan jumlah kasus yang signifikan selama pandemi Covid-19. Nilai casemix di tahun 2022 kembali naik seiring membaiknya kondisi pandemi di Indonesia. Capaian casemix index rawat jalan dan rawat inap RSPG Cisarua lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata capaian casemix index RS Pemerintah Kelas A di regional I. Terjadi kenaikan casemix index saat pandemi Covid-19 dikarenakan masyarakat berobat dalam keadaan lebih parah di saat pandemi. Hospital baserate rawat jalan RSPG tahun 2017 dan 2021 masih berada di bawah tarif nasional, sedangkan tahun 2018, 2019, 2020, dan 2022 hospital baserate lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Hospital baserate rawat inap RSPG secara konasisten lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Artinya biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih tinggi dibandingkan tarif yang dibayarkan oleh BPJS dalam menangani kasus dengan nilai cost weight=1. Terdapat 5 variabel yang bernilai signifikan dengan p<0,05 terhadap casemix rawat jalan, yakni jumlah kasus, jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Variabel yang berkorelasi secara statistik terhadap casemix rawat inap adalah jumlah kasus, severity level II dan III, lama hari perawatan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Jumlah klinik rawat jalan dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan dengan capaian casemix index rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, serta jumlah dokter spesialis yang praktek di rumah sakit secara statistik berpengaruh terhadap capaian casemix index rawat inap. Hospital baserate di rumah sakit dihitung dengan membagi total biaya dengan casemix. Jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan (p<0,05) terhadap hospital baserate rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, dan proporsi beban pegawai merupakan determinan yang teridentifikasi terhadap hospital baserate rawat inap.

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to evaluate hospital performance under the INA-CBGs payment system. These indicators are the basis for the INA-CBGs tariff rates, the instrument for assessing the performance of BPJS Kesehatan partner hospitals and the constructing instrument of mixed method global budget claim payments for INA-CBGs which has begun to be trialled. This research was conducted to analyze the achievements and determinants of casemix, casemix index and hospital baserate RSPG Cisarua Bogor from 2017 to 2022. The research conducted on May - June 2023 at RSPG Cisarua Bogor. Analysis of the achievement indicators for casemix, casemix index and hospital base rate uses secondary data obtained from Ministry of Health's electronic claims (e-claims). The determinants that affect the indicators will be analyzed cross-sectionally through a quantitative analytical approach from secondary data form e-claims and hospital reports. Correlation and simple linear regression were used to see whether the determinants related to the casemix, casemix index and hospital baserate indicators. The results showed that the casemix trend for outpatient and inpatient at RSPG had decreased from 2017 to 2021 along with the number of visits. The decline in 2020 and 2021 was due to a significant decrease in the number of visits during the Covid-19 pandemic. The casemix in 2022 increased as the pandemic conditions improved in Indonesia. The casemix index for outpatient and inpatient care at RSPG Cisarua were lower than the average casemix index for Class A Government Hospitals in regional I. RSPG outpatient hospital baserate in 2017 and 2021 is still below the national rate, while the other years are higher. RSPG's hospital base rate of inpatient care is consistently higher than the national rate. This means that the costs incurred by the hospital are higher than the rates paid by BPJS in handling cases with cost weight = 1. There are 5 variables that have significant value with p
Read More
B-2348
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Adina Zuhdi; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Jaslis Ilyas, Puput Oktamianti, Enny Mulyatsih, Sandry Tri Sumarni
Abstrak:
Penyakit saraf adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat menurunkan fungsi tubuh. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (2023), salah satu penyakit dengan prevalensi tertinggi adalah penyakit saraf, yaitu stroke yang memiliki biaya pengobatan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Akupunktur memiliki dampak yang signifikan pada pengobatan berbagai penyakit saraf. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menangani kasus neurologi (kesehatan otak dan saraf) yang semakin meningkat dan kompleks. Akupunktur medik menjadi salah satu layanan perawatan penunjang di RS PON yang sudah tersedia sejak tahun 2021. Berdasarkan laporan capaian layanan 3 tahun terakhir, tren jumlah pasien tahun 2021-2023 berturut-turut adalah sebagai berikut: 496 pasien, 727 pasien, dan penurunan pada tahun 2023 dengan jumlah 575 pasien. Penurunan angka kunjugan ini berbanding terbalik dengan jumlah kunjungan pasien secara total di RS PON pada periode 2020-2024 yang mengalami peningkatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keinginan pasien rawat jalan di RS PON terhadap layanan akupunktur medik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan uraian hasil penelitian deskriptif. Jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian cross sectional (potong lintang) yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Teori yang digunakan sebagai kerangka konsep pada penelitian ini adalah teori Capability, Opportunity, Motivation – Behavior (COM-B). Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, sejumlah 130 responden (58% dari total responden) memiliki keinginan terhadap layanan akupunktur medik, sisanya, taitu sejumlah 94 responden (42%) tidak memiliki keinginan terhadap layanan akupuntur medik. Persepsi layanan menjadi faktor yang paling mempengaruhi keinginan terhadap layanan akupunktur medik.


Neurological diseases are disorders of the nervous system that can reduce body function. Based on data from the Indonesian Health Survey (2023), one of the diseases with the highest prevalence is neurological disease, namely stroke which has the third highest medical cost after heart disease and cancer. Acupuncture has a significant impact on the treatment of various neurological diseases. The National Brain Center Hospital handles increasingly complex neurology (brain and nerve health) cases. Medical acupuncture is one of the supporting care services at the PON Hospital which has been available since 2021. Based on the service achievement report for the last 3 years, the trend in the number of patients in 2021-2023 is as follows: 496 patients, 727 patients, and a decrease in 2023 with a total of 575 patients. This decrease in the number of visits is inversely proportional to the total number of patient visits at the PON Hospital in the 2020-2024 period which has increased. The purpose of this study was to determine the factors related to the desires of outpatients at the PON Hospital for medical acupuncture services. This study is an observational study with a description of the results of descriptive research. The type of research chosen is cross-sectional research conducted using a questionnaire as a data collection instrument. The theory used as a conceptual framework in this study is the Capability, Opportunity, Motivation – Behavior (COM-B) theory. Based on the results of data analysis in this study, a number of 130 respondents (58% of total respondents) have a desire for medical acupuncture services, the rest, namely 94 respondents (42%) do not have a desire for medical acupuncture services. Perception of service is the factor that most influences the desire for medical acupuncture services.
Read More
B-2550
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive