Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33860 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Annisa Sayyidatul Ulfa; Pembimbing: Rita Damayanti, Evi Martha; Penguji: Hanny Handiyani, Sakri Sabatmadja, Pribudiarta Nur Sitepu
Abstrak: Indonesia merupakan peringkat ketiga negara dengan angka perokok tertinggi setelah China dan India. Indonesia juga mengalami kenaikan prevalensi perokok anak dari 7,2% (Riskesdas, 2013) menjadi 9,1% (Riskesdas, 2018) yang secara spesifik ditemukan pula adanya fenomena perokok balita. Munculnya fenomena perokok balita di Indonesia menunjukan adanya pola asuh pembiaran yang dilakukan oleh orang tua terhadap balita yang merokok. Hal tersebut terjadi karena perilaku merokok mendapat penerimaan sosial yang positif, dianggap sebuah kebiasaan yang lumrah di masyarakat, dan juga merupakan bagian dari warisan budaya serta daily life di Indonesia. Pengabaian menjadi bentuk pola asuh orang tua yang menyebabkan kejadian perilaku merokok balita, yang mana balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sulit mengontrol diri, serta peniru yang baik. Lingkungan sosial yang memberikan rokok, mengolok-olok, dan menganggap lucu juga mendukung terhadap perilaku dan normalisasi merokok balita menjadikan balita dibiarkan merokok, mudah untuk memulai dan mencandu rokok. Diharapkan hal tersebut dapat menjadi landasan bagi pemerintah untuk dapat memperkuat kebijakan pengendalian tembakau khususnya menekan normalisasi perilaku merokok, juga agar melindungi balita dari ancaman adiksi rokok.
Read More
T-6429
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reza Dara Pertiwi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Ella N. Hadi, Nurwirah Verliyanti, Sri Dewi Hayani
Abstrak: Anak-anak termasuk dalam kategori rentan terinfeksi COVID-19. Keputusan orang tua untuk memberikan izin kepada anaknya untuk divaksinasi atau tidak, bergantung pada kesediaan orang tua untuk menerima vaksin tersebut. IDAI menetapkan capaian vaksinasi sebesar 100% untuk PTM yang aman, sedangkan WHO menetapkan sebesar 70%. Cakupan vaksinasi COVID-19 untuk anak umur 6-11 tahun di Kecamatan Cakung hanya 65.57% untuk dosis pertama dan 33.59% untuk dosis kedua, angka cakupan ini merupakan yang paling rendah jika dibandingkan dengan kecamatan lain yang ada di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penerimaan orang tua terhadap pemberian vaksin COVID-19 pada anak sekolah dasar di Kecamatan Cakung Kota Jakarta Timur. Penelitian menggunakan desain cross sectional, pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuisioner secara online. Responden penelitian berjumlah 394 orang tua dari murid sekolah dasar yang berada di Kecamatan Cakung. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda model faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan 87.3% orang tua menerima pemberian vaksin COVID-19 untuk anak mereka. Persepsi manfaat (pValue: 0.018), persepsi hambatan (pValue: 0.018), dan pemicu bertindak (pValue: 0.001) merupakan variabel yang berhubungan signifikan dengan penerimaan orang tua terhadap pemberian vaksin COVID-19. Pemicu bertindak menjadi variabel dominan yang berhubungan dengan penerimaan orang tua. Orang tua dengan pemicu bertindak yang tinggi cenderung menerima vaksin COVID-19 3,1 kali lebih besar dibanding dengan orang tua dengan pemicu bertindak rendah setelah dikontrol persepsi manfaat dan persepsi hambatan.
Children are in the vulnerable category of COVID-19 infection. Parent’s decision to grant permission for their children to be vaccinated or not, depends on the parental acceptance of COVID-19 vaccination itself. Indonesian Pediatric Association set the vaccination coverage rate at 100% for safe face-to-face learning, while WHO set it at 70%. COVID-19 vaccination coverage for children aged 6-11 years in Cakung district is only 65.57% for the first dose and 33.59% for the second dose, this rate is the lowest compared to other sub-districts in DKI Jakarta. This study aims to find out the determinants of parental acceptance of COVID-19 vaccination in elementary school children in Cakung district, East Jakarta City. The Study used a cross sectional design, data collection was done through filling out online questionnaires. The research respondents were 394 parents of elementary school students in Cakung district. Multivariate analysis using multiple logistic regression risk factor model. The result has shown that 87.3% of parents received the COVID-19 vaccination for their children. Perceived benefits (pValue: 0.018), perceived barriers (pValue: 0.018), and cues to action (pValue: 0.001) were variables that were significantly associated with parental acceptance of the COVID-19 vaccination. Cues to action became the dominant variable in this study. Parents with high-cues to action tend to receive the COVID-19 vaccination 3.1 times more than those with low-cues to action after being controlled by perceived benefits and perceived barriers.
Read More
T-6579
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verlina Yohana Kawangung; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Helda, Rusmawati Silaban
S-5477
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Permata Br Karo; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Nesya Rivka Qurrotun Aini
Abstrak:
Stunting sering kali dikaitkan dengan ketidakmampuan daya beli karena kondisi ekonomi yang kurang mampu. Namun menurut data yang ditemukan oleh peneliti, sebesar 46 balita dari 50 balita yang mengalami stunting di Kelurahan Depok Jaya berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Tujuan penelitian yakni mengetahui gambaran pola asuh ibu berstatus ekonomi menengah ke atas pada balita stunting di Puskesmas Depok Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada informan utama, yakni 10 ibu balita, informan kunci yakni TPG, bidan, ketua kader dan kader, informan keluarga yakni 10 pengasuh/keluarga terdekat ibu balita. Pengambilan data secara luring. Hasil penelitian yaitu beberapa tidak IMD dan ASI eksklusif 6 bulan. Beberapa memberikan MPASI pertama kepada anak dalam bentuk bubur instan pabrikan, frekuensi pemberian sumber protein hewani hanya sebanyak 1-2 kali seminggu dengan porsi yang tidak sesuai dengan anjuran WHO, belum memperkenalkan karbohidrat atau protein hewani pada balita saat pertama kali MPASI, anak tidak menyukai sayuran berwarna hijau, dan jadwal pemberian MPASI yang tidak teratur setiap harinya. Beberapa balita diberikan cemilan tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisi dan bahaya gula. Beberapa kondisi yang mengalihkan perhatian anak saat makan adalah ajakan main dari kakaknya atau diajak main oleh anak tetangga secara tiba-tiba, suara gawai, dan kedatangan tamu atau kehadiran orang asing. Beberapa tidak mengukur berat dan tinggi badan anak ke posyandu saat masa pandemi Covid-19, hingga dengan sengaja tidak datang ke posyandu secara rutin karena malas dan denial dengan kondisi anaknya yang dinyatakan stunting. Beberapa jarang berinteraksi dengan anak karena sibuk bekerja dan merawat anaknya paling kecil, jarang membawa anak main dan bersosialisasi keluar rumah, dan jarang membelikan mainan. Saran yaitu puskesmas dapat membuat sasaran promosi yang difokuskan kepada keluarga terdekat ibu balita agar dapat berperan aktif dalam mendukung pemberian makan dan pemeliharaan kesehatan balita, meningkatkan pengetahuan kader posyandu dengan recall info stunting untuk mencegah pemberian informasi yang kurang tepat pada ibu balita saat kegiatan posyandu selanjutnya, merancang penyuluhan rutin stunting pada ibu balita tanpa memandang status kesehatan balita.


Stunting is often associated with a lack of purchasing power due to poor economic conditions. However, according to data found by researchers, 46 of the 50 toddlers who experienced stunting in Depok Jaya Village came from families with a middle to upper economic level. The aim of the research is to find out the description of the parenting patterns of mothers with middle to upper economic status for stunted toddlers at the Depok Jaya Community Health Center. This research uses a qualitative approach. Data collection techniques were in-depth interviews with main informants, namely 10 mothers of toddlers, key informants namely TPG, midwives, cadre heads and cadres, family informants namely 10 caregivers/closest family of mothers of toddlers. Offline data collection. The results of the study were that some did not have IMD and exclusive breastfeeding for 6 months. Some give their first MPASI to children in the form of manufactured instant porridge, the frequency of giving animal protein sources is only 1-2 times a week with portions that are not in accordance with WHO recommendations, they have not introduced carbohydrates or animal protein to toddlers when they first give MPASI, children do not like vegetables green, and an irregular MPASI feeding schedule every day. Some toddlers are given snacks without considering the nutritional content and dangers of sugar. Some conditions that divert a child's attention while eating are an invitation to play from an older sibling or a neighbor's child suddenly inviting him to play, the sound of a device, and the arrival of guests or the presence of strangers. Some did not measure their children's weight and height at the posyandu during the Covid-19 pandemic, and deliberately did not come to the posyandu regularly because they were lazy and in denial about their child's condition being declared stunted. Some rarely interact with their children because they are busy working and looking after their youngest children, rarely take their children to play and socialize outside the house, and rarely buy them toys. Suggestions are that community health centers can create promotional targets that are focused on the closest families of mothers of toddlers so that they can play an active role in supporting the feeding and health care of toddlers, increase the knowledge of posyandu cadres by recalling stunting information to prevent providing inappropriate information to mothers of toddlers at the next posyandu, design routine stunting education for mothers of toddlers regardless of the toddler's health status.
Read More
S-11499
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ineu Isnaeni; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Nita Ita Hernita, Retno Wijayanti
Abstrak: Sebanyak 45% orang tua yang memiliki anak disabilitas di Kota Depok masih malu, menelantarkan anaknya, dan tidak memberikan kasih sayang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan orang tua yang memiliki anak disabilitas dan determinannya di Kota Depok Jawa Barat tahun 2022. Penelitian menggunakan desain cross sectional, pengumpulan data melalui pengisian kuesioner online pada 120 orang tua yang memiliki anak disabilitas yang tinggal di Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua menerima anak disabilitas di Kota Depok Jawa Barat Tahun 2022 sudah baik dengan nilai rata-rata 86,79 (skala 100). Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan, sikap, nilai religiusitas, dukungan tenaga kesehatan, dan pendapatan memiliki hubungan bermakna dengan penerimaan orang tua yang memiliki anak disabilitas. Dukungan tenaga kesehatan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan penerimaan orang tua yang memiliki anak disabilitas di Kota Depok Jawa Barat. Orang tua yang cukup mendapat dukungan dari tenaga kesehatan berpeluang menerima anaknya yang mengalami disabilitas 5,6 kali dibanding dengan orang tua yang kurang mendapat dukungan tenaga kesehatan setelah dikontrol oleh pengetahuan, sikap, nilai religiusitas dan pendapatan
Read More
T-6384
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Terania Alfarisa; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Triani Posma Rohana
Abstrak:

Latar Belakang. Wilayah Depok menduduki posisi lokasi fokus stunting, salah satunya di Kelurahan Sawangan. Berdasarkan pengolahan data awal, diketahui prevalensi stunting meningkat dari 6,29% menjadi 7,29% dan menduduki peringkat ke-2 se kota Depok.
Tujuan. Mengetahui Gambaran Pola Asuh Ibu balita stunting (0-59 bulan) di Wilayah kerja UPTD Puskesmas Sawangan Depok Tahun 2024.
Metode. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam secara tatap muka dan observasi. Sampel dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan 6 informan utama yang memiliki balita stunting 0-59 bulan, informan keluarga, serta informan kunci terdiri dari, Tenaga Pelaksana Gizi, Bidan, Ketua kader dan kader posyandu.
Hasil. Hasil penelitian terhadap informan utama dengan balita stunting menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya, memberikan makan dengan frekuensi yang kurang, variasi makanan tidak beragam karena anak banyak diberikan camilan. Selain itu, ibu dengan anak stunting juga mendapatkan dukungan psikososial yang rendah serta rendahnya partisipasi ke Posyandu.
Kesimpulan. Terdapat faktor pola asuh yang mempengaruhi naiknya prevalesi stunting di wilayah Puskesmas Sawangan .


Background. The Depok area occupies a stunting focus location, one of which is Sawangan Village. Based on preliminary data collection, it is known that the prevalence of stunting has increased from 6.29% to 7.29% and is ranked 2nd in Depok City. Objective. Find out the description of parenting patterns for mothers of stunted toddlers (0-59 months) in the UPTD work area of the Sawangan Community Health Center, Depok in 2024. Method. Qualitative research with a case study approach through in-depth face-to-face interviews and observations. The sample was selected using purposive sampling according to the inclusion and exclusion criteria with 6 main informants who had stunted toddlers aged 0-59 months, family informants, and key informants consisting of nutrition workers, midwives, cadre heads and posyandu cadres. Results. The results of research on key informants with stunted toddlers show that the majority of mothers do not give exclusive breast milk to their children, provide food with less frequency, the variety of food is not diverse because the children are given lots of snacks. Apart from that, mothers with stunted children also receive low psychosocial support and low participation in Posyandu. Conclusion. There are parenting style factors that influence the increase in stunting prevalence in the Sawangan Community Health Center area.

Read More
S-11808
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunia Nur Fadhillah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Iwan Ariawan, Evi Martha, Dezi Syukrawati, Sarah Handayani
Abstrak: andemi COVID-19 yang melanda dunia, dinyatakan sebagai status kedaruratan bencana wabah di Indonesia. COVID-19 mengganggu layanan imunisasi, hal ini memungkinkan jutaan anak berpotensi terjangkit wabah penyakit seperti difteri, campak, polio dan komplikasinya. Berdasarkan teori Health Belief Model (HBM) dimana persepsi berpengaruh terhadap respon, pandemi COVID-19 diasumsikan dapat mempengaruhi persepsi orang tua dan pola pencarian imunisasi dasar. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif untuk melihat kaitan antara persepsi dan pola pencarian imunisasi dasar oleh orang tua saat pandemi COVID-19 di Kelurahan Bojong Menteng dan Kelurahan Margajaya Kota Bekasi. Hasil penelitian ini menunjukkan status ekonomi saat pandemi melatarbelakangi penundaan imunisasi anak, walau bukan menjadi faktor tunggal. Dukungan kader dan petugas kesehatan terhadap imunisasi berperan dalam keputusan untuk mengimunisasi anaknya. Penerapan strategi yang disesuaikan dengan karakter sosial budaya di tiap wilayah menjadi sangat penting. Saran: meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai COVID-19 dan informasi mengenai sistem layanan kesehatan yang aman saat situasi kedaruratan khusus seperti pandemi perlu disampaikan secara utuh untuk memberikan kepercayaan layanan imunisasi yang aman.
COVID-19 has hit the world, has been declared an emergency status for the outbreak in Indonesia. COVID-19 disrupts immunization services, this allows millions of children to potentially contract outbreaks such as diphtheria, measles, polio and its complications. The theory of the Health Belief Model (HBM) about perception can influences response, the COVID-19 pandemic is assumed to be able to influence parents' perceptions and basic immunization search patterns. This study used a qualitative analysis to see the pattern of basic immunization search for parents during the COVID-19 pandemic in Bojong Menteng and Margajaya, Kota Bekasi. The results of this study indicate that the economic status during the pandemic is behind the delay in immunization of children, although it is not a single factor. Support of cadres and health workers for immunization plays a role in the decision to immunize their children. The implementation of strategies that are adapted to the socio-cultural characteristics in each region is very important. The implementation of strategies that are adapted to the socio-cultural characteristics in each region is very important. Suggestion: increase public understanding of COVID-19 and information about a safe health service system when special emergencies such as a pandemic need to be conveyed in full to provide confidence in safe immunization services.
Read More
T-6024
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hira Fitriani Aisyah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Sandra Fikawati, Erma Sarwati
Abstrak: Latar Belakang. Stunting adalah deficit pertumbuhan pada anak yang bisa diperkecil dengan melakukan usaha intervensi pada lingkungannya sebelum usia anak melebihi dua tahun, jika melebihi usia tersebut kegagalan pertumbuhan linier tidak bisa diubah. Konsekuensi dari kejadian stunting adalah kematian, rendahnya kemampuan kognitif, rendahnya tinggi badan saat dewasa, meningkatkan resiko penyakit kronis, menurunkan kesehatan reproduksi, menurunkan produktivitas kerja. Pola asuh merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di bawah lima tahun. Perilaku ibu dalam mengasuh balitanya memiliki kaitan yang erat dengan kejadian stunting pada balita. Salah satu penyebab ibu tidak dapat mengasuh balitanya dengan baik adalah ketika ibu memiliki pekerjaan, dan meningkatnya peran sosial ekonomi wanita pada saat ini. Wilayah Jakarta Timur menduduki posisi lokai fokus stunting, salah satunya di Kelurahan Tengah. Diketahui sebagian besar pekerjaan ibu di Kelurahan Tengah sebagai pengupas bawang. Berdasarkan operasi timbang dan pengolahan data pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada Februari 2019 di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, diketahui prevalensi stunting pada enam posyandu di dua RW terpilih mencapai angka 25,9%. Tujuan. Mengetahui Perbandingan Pola Asuh Ibu Pekerja Pengupas Bawang Dengan Balita Stunting Dan Tidak Stunting Di Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati Tahun 2020. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam secara daring. Penelitian di lakukan di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati. Sampel dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan informan utama yang memiliki balita stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan, informan keluarga dan informan kunci terdiri dari, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Tengah dan kader posyandu. Hasil. Hasil penelitian terhadap informan utama dengan balita stunting menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan rendah, memiliki suami dengan pekerjaan nonformal, tidak memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya, memberikan makan dengan frekuensi yang kurang, variasi makanan tidak beragam karena anak banyak diberikan jajanan, dukungan psikososial yang rendah serta rendahnya partisipasi ke posyandu. Kesimpulan. Terdapat perbedaan antara pola asuh ibu pekerja pengupas bawang dengan balita stunting dan ibu pekerja pengupas bawang dengan balita tidak stunting. Kata kunci: Pola asuh ibu, stunting, balita
Read More
S-10350
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Mia Wiyarsih; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Anwar Hassan, Robiatul Adawiyah
Abstrak: Skripsi ini membahas gambaran stress pada orang tua yang memiliki anak cerebral palsy di YPAC Jakarta dan bagaimana strategi coping dalam menghadapi stressor tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan stres yang terjadi pada orang tua yang memiliki anak cerebral palsy, mengetahui strategi coping yang digunakan oleh orang tua, bagaimana bentuk perilaku coping yang digunakan, dan apa dampak perilaku coping tersebut bagi orang tua. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 18 orang, 9 informan orang tua, 7 informan guru pendamping, dan 2 informan pengasuh. Hasil penelitian mendapatkan orang tua mengalami gejala stress secara fisik dan psikologis, strategi coping berorientasi pada penyelesaian masalah yang dihadapi (Problem focused coping), sedangkan bentuk perilaku coping yang muncul yaitu Planfull Problem Soving, assistance Seeking, dan suppression of competing activities yang termasuk dalam Problem focused coping dan turning to religion, mental disengangement, positive reinterpretation and growth, acceptance, dan denial yang termasuk dalam Emotion focused coping. Dampak dari perilaku coping yang dilakukan orang tua yaitu Exercised Caution.
Kata kunci : stres, strategi coping, cerebral palsy
Read More
S-9189
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dadang Rosmana; Pembimbing: Zulazmi Mamdy; Penguji: Endang L. Achadi
Abstrak:
Prevalensi gizi kurang di Kabupaten Serang mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini dapat berdampak pada tingginya angka kematian bayi. Banyak faktor yang berhubungan dengan terjadinya Kekurangan Energi dan Protein, Pola asuh gizi terhadap seorang anak merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian ini disamping banyak faktor lainnya seperti karakteristik keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang gambaran status gizi anak, pola asuh gizi dan karakteristik keluarga yang memiliki anak usia 6 - 24 bulan, serta hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak usia 6 - 24 bulan di Kabupaten Serang Propinsi Banten tahun 2003, dan faktor - faktor lain terhadap hubungan tersebut . Desain yang digunakan adalah Crossecfional, besar sampel yang diteliti adalah sebanyak 125 sampel. Pengumpiilan data mengenai status gizi dilakukan dengan penimbangan Berat Badan anak kemudian membandingkan dengan indeks BBIU (Z-skor < -2 SD untuk kelompok gizi kurang dan Z-skor
The Relationship between Nutritional Care and Nutritional Status of Children 6 - 24 Months of Age in Serang District, Banten Province, 2003The prevalence of under nutrition in Serang District has increased as compared with the previous years. This circumstancy can increase the risk of death of infants in that region. Many factors are related to the incidence of Protein Energy Malnutrition such as children nutritional care and family characteristics. Therefore, this study attempted to get some information about the nutritional care and nutritional status among children aged 6 - 24 months including the characteristics of their families, and to find the relationship between nutritional care or family characteristics and nutritional status among children aged 6 - 24 months. Cross sectional study has been carried out in 125 subjects. Nutritional status data were collected using weight for age index ( Z- score < -2 SD for under nutritional status, and Z-score
Read More
T-1797
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive