Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35716 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hestia Chandranuringtyas; Pembimbing: Dian Ayubi
S-3110
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmawi; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningish; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Siti Arifah Pujonarti, Anis Abdul Muis, Bambang Setiaji
Abstrak:

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), merupakan masalah yang serius di Indonesia. Pada saat ini di Indonesia diperkirakan ada sekitar 10 juta orang menderita gondok, 750.000-900.000 menderita kretin endemik dan 3,5 juta menderita GAKY Iainnya. Dampak negatif dari GAKY berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia, anak-anak yang menderita kekurangan yodium mempunyai rata-rata IQ 13,5 point lebih rendah dibandingkan mereka yang cukup mendapat yodium.Pemerintah menempuh 2 macam upaya penanggulangan GAKY di Indonesia, yaitu melalui upaya pemberian kapsul minyak beryodium yang diprioritaskan pada wanita usia subur 15-49 tahun termasuk ibu hamil dan ibu nifas dan penggalakkan penggunaan garam beryodium di masyarakat. Untuk meningkatkan demand masyarakat terhadap penggunaan garam beryodium, Pusat Promosi Kesehatan telah melakukan kampanye penggunaan garam beryodium melalui media TV dan Radio pada tahun 1998/1999. Namun data yang telah dikumpulkan baru dianalisis secara univariat, sehingga dirasa perlu untuk dianalisis lebih lanjut melalui penulisan ini.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian garam beryodium rumah tangga di 10 propinsi daerah endemik Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia tahun 1999.Desain penelitian adalah cross sectional dengan memanfaatkan data sekunder hasil evaluasi kampanye garam beryodium melalui media TV dan Radio yang dilakukan Pusat Promosi Kesehatan pada tahun 1999 terhadap 600 responden wanita usia subur di 10 propinsi GAKY di Indonesia. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan bantuan program komputer.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 462 responden (77%) menggunakan garam beryodium, sedangkan sisanya menggunakan garam lain. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan garam beryodium antara lain: Pengetahuan, Pendidikan, Niat, Ketersediaan garam beryodium, dan Keterpaparan terhadap media. Dari ke-lima faktor tersebut, ketersediaan garam beryodium merupakan faktor yang mempunyai hubungan paling dominan dengan penggunaan garam beryodium dengan nilai Odds Ratio (OR)=l,36I (95% CI 1,30 - 1,43). Artinya responden dengan ketersediaan garam beryodium di sekitar tempat tinggalnya, kemungkinan akan menggunakan garam beryodium 1,361 kali dibandingkan dengan responden yang disekitar tempat tinggalnya tidak tersedia garam beryodium.Atas dasar hasil penelitian tersebut, kepada pengelola program GAKY disarankan untuk melakukan advokasi secara intensif kepada lintas sektor, terutama sektor yang berkaitan dengan distribusi garam beryodium untuk menjamin ketersediaan garam beryodium di seluruh Indonesia. Disamping itu, kampanye penggunaan garam beryodium perlu dijaga kesinambungannya, karena dari hasil penelitian juga terbukti bahwa keterpaparan media berhubungan dengan penggunaan garam beryodium.


 

Factor Related to Iodized Salt Usage in Ten Province Subjected to Iodine Deficiency Disorder (IDD) in Indonesia Year of 1999There are many people in Indonesia still suffer from goiter. 10 million from 42 million people which living in area with deficiency of iodine are suffering this disease. IDD has negative impact directly to quality of human resources, especially concerned to intelligence and productivity.In this study we looking for some factor related to iodized salt usage in ten IDD province in Indonesia. Independent factors in this study are predisposition factors (knowledge, willingness, and education), enabling factor (salt availability), and enforcing factor (media). We were looking for some relation of these three variables with iodized salt usage as dependent variable.This study using cross sectional design to secondary data of 600 respondents (women in fertile age) in ten IDD province (GAKY) in 1999, which collected by Health Promotion Center of Health Department of Republic of Indonesia. From 600 respondents which being studied, 462 respondents (77%) using iodized salt. Factor that related to iodized salt usage is availability of iodized salt, media exposure, knowledge, and level of education. The most dominant factor is iodized salt availability (OR 1,361; 95%CI 1,30-1,43), which means respondents which easy to find iodized salt have 1,361; possibility to use iodized salt compared to those who difficult to find iodized salt.We recommend to Department of Trade and Industry to ensure the availability of iodized salt in public, and to IDD program's management to improve campaign of benefits of iodized salt usage to public.

Read More
T-1398
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wenni Haristia; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Dian Ayubi, Roji Suherman
S-7264
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairunnisa; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Tri Krianto, Eti Rohati
Abstrak: Menurut Riskesdas Jawa Barat tahun 2007, Kota Depok merupakan kota dengan proporsi Rumah Tangga yang memiliki PHBS baik paling rendah di Jawa Barat yaitu 35,0%, dibanding 8 kota lainnya yang sudah memiliki proporsi di atas 45%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan Rumah Tangga di kota Depok tahun 2014 dan faktor-faktor yang berhubungan, dengan sumber data Survey Cepat PHBS kota Depok tahun 2014. Desain studi cross-sectional digunakan pada 295 responden dari 11 kecamatan di Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan 63,4% responden tingkat pendidikannya tinggi, 51,5% responden pendapatannya sudah di atas UMR Kota Depok, dan 68,1% responden cukup mendapat dukungan sosial. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan dukungan sosial memiliki hubungan yang bermakna dengan PHBS, dimana responden yang tingkat pendidikannya tinggi, berpeluang melakukan PHBS baik hampir 4 kali dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Demikian juga dengan responden dengan pendapatan tinggi berpeluang melakukan PHBS baik hampir 2 kali daripada responden dengan pendapatan rendah, dan responden yang mendapat cukup dukungan sosial berpeluang memiliki PHBS baik 2,2 x dibandingkan responden dengan dukungan sosial kurang. Kata Kunci : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan, Dukungan Sosial
Read More
S-8594
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inda Amalia Khoiriyah; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Triyanti, Luluk Ernawati
Abstrak:

Anemia pada ibu hamil dapat dicegah dengan melakukan perilaku pencegahan anemia yang meliputi makan-makanan bergizi, rutin konsumsi tablet tambah darah, dan rutin melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC). Cakupan ANC di Puskesmas Kedungkandang dibawah standar Provinsi Jawa Timur (Cakupan K1 98,2% dan pada K4 89,93%) dan Kota Malang (Cakupan K1 89,10% dan pada K4 84,41%) yaitu pada K1 sebesar 88% dan cakupan K4 sebesar 84%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan anemia pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungkandang Kota Malang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain cross sectional pada 115 ibu hamil yang diambil secara proportional random sampling dan dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2023. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor predisposisi: pengetahuan (P-value = 0,000) dan sikap (P-value = 0,000), faktor pemungkin: kelas ibu hamil (P-value = 0,012), dan faktor penguat: dukungan suami (P-value = 0,000) dengan perilaku pencegahan anemia pada ibu hamil. Untuk itu, diperlukan upaya peningkatan perilaku pencegahan anemia pada ibu hamil dengan peningkatan pengetahuan, sikap, keikutsertaan dalam kelas ibu hamil dan dukungan suami agar perilaku pencegahan anemia pada ibu hamil semakin baik.


 

Anemia in pregnant women can be prevented by carrying out anemia prevention behaviors which include eating nutritious foods, routinely consuming blood-boosting tablets, and carrying out routine antenatal care (ANC) visits. ANC coverage at the Kedungkandang Health Center is below the standard for East Java Province (Coverage of K1 98.2% and in K4 89.93%) and Malang City (Coverage of K1 89.10% and in K4 84.41%), namely in K1 it is 88% and K4 coverage of 84%. This study aims to determine the factors related to anemia prevention behavior in pregnant women in the Working Area of the Kedungkandang Health Center, Malang City in 2023. This research is a quantitative study, cross-sectional design on 115 pregnant women who were taken by proportional random sampling and carried out in the month June-July 2023. Data collection was carried out through interviews using a questionnaire. The results showed that there was a significant relationship between predisposing factors: knowledge (P-value = 0.000) and attitudes (P-value = 0.000), enabling factors: class of pregnant women (P-value = 0.012), and reinforcing factors: husband's support ( P-value = 0.000) with anemia prevention behavior in pregnant women. For this reason, efforts are needed to increase anemia prevention behavior in pregnant women by increasing knowledge, attitudes, participation in classes for pregnant women and husband's support so that anemia prevention behavior in pregnant women is getting better.

Read More
S-11451
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bagus Dwi Ordika; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji: Dien Anshari, Bayu Aji
S-5888
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harimat Hendrawan; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: Ella Nurlaela Hadi
T-1788
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septi Adhitya Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, R. Selly Harianti Kusumah
Abstrak: ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) telah menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia dan kelompok umur yang paling rentan terhadap ISPA adalah kelompok balita. Kasus ISPA pada balita di kelurahan Kampung Melayu Kec. Jatinegara Jakarta Timur menempati urutan pertama dengan angka kejadian setiap tahunnya hingga 3000 kasus pada balita Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dan sumber pencemar udara dalam ruangan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 102 yang terbatas pada kelompok balita. Pengambilan sampel dengan cara simple random sampling dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dan Regresi Logistik. Terdapat diperoleh 55 balita yang terkena ISPA. Variabel yang memiliki hubungan kejadian penyakit ISPA pada balita adalah Jenis dinding (p-value = 0.003), Jenis Atap (p- value = 0.025), Kelembaban (p- value = 0.001), Pencahayaan (p- value = 0.000), Kepadatan hunian (p- value = 0.001), dan perilaku merokok (p- value = 0.002). Faktor dominan yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kampung Melayu adalah Pencahaayan (p- value = 0.000; OR = 12.4) Kata kunci: ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Balita, Lingkungan Fisik Rumah Acute Respiratory Infections has been a major cause of infectious morbidity and mortality in the world and age groups most susceptible to ARIs are toddlers. ARI cases in toddlers in Kampung Melayu ranks first with the number of incidents is 3000 cases. The purpose of this study is to analyze the relationship between the quality of the physical environment of the house and the source of air pollutants indoor with the incidence of ARI in toddlers the work area of Puskesmas Kampung Melayu. The design study is cross sectional with 102 samples of toddlers. Using simple random sampling using questioner. The statistical test used is chi-square and Logistic Regression. There was 55 toddlers affected by ARI. The result showed that there was correlation of ARI disease in toddlers with type of wall (p-value = 0.003), type of roof (p-value = 0.025), Humidity (p-value = 0.001), Lighting (p- value = 0.000), density residential (p- value = 0.001), and smoking behavior (p-value = 0.002). The dominant factors that influence the incidence of ARI in toddlers the work area of Puskesmas Kampung Melayu, Kec. Jatinegara in 2018 are lighting (p-value = 0.000; OR = 12.4). Key words: ARI (Acute Respiratory Infections), Toddler, Home Physical Environment
Read More
S-9769
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shelly Shalihat; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Anhari Achadi, Dien Anshari, Evy Kurniawati, M. Mathla'il Fajri
Abstrak: Latar Belakang: Berdasarkan data per 20 September 2021 di 46.500 sekolah, ada 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan klaster COVID-19. Klaster COVID-19 paling banyak terjadi di SD/MI yaitu 2,78 persen. Per tanggal 18 Maret 2021 Angka kematian di Provinsi Lampung mencapai 5,32 persen atau berada di atas rata-rata nasional, yakni 2,71 persen. Berdasarkan SE Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bandar Lampung Nomor : 420/1254/IV.40/2022 tentang pembelajaran tatap muka pada masa pandemi COVID-19 dilaksanakan pada hari senin tanggal 14 Maret 2022. MIN 8 Bandar Lampung adalah MIN percontohan yang terletak sangat dekat dengan pemukiman padat penduduk, luas bangunan sekolah yang tidak terlalu besar memiliki jumlah siswa paling banyak serta memiliki interaksi dengan masyarakat luar yang sangat aktif. Berdasarkan dari studi pedahuluan yang sudah peneliti lakukan ternyata didapatkan hasil bahwa perilaku 3M siswa MIN 8 Bandar Lampung masih kurang disiplin.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan perilaku 3M pencegahan COVID-19 pada siswa MIN 8 Bandar Lampung Tahun 2022. Metode: Menggunakan desain penelitian cross sectional survey, subjek diukur dan diamati hanya satu kali dalam penelitian ini. Hasil: Siswa kelas 5 (62,9%) MIN 8 Bandar Lampung tahun 2022 menerapkan perilaku 3M. Variabel pengetahuan (56,7%), sikap (62,9%), pola asuh (58,8%), dukungan guru (70,1%), dukungan teman sebaya (62,9%), peraturan sekolah (50,5%) dan sarana prasarana (56,7). Variabel terpenting yang terkait dengan penggunaan perilaku 3M adalah kebiasaan orang tua, dengan OR 3.095 (95% CI: 1.315-7.284). Kesimpulan: Kebiasaan orang tua dan peraturan sekolah secara signifikan berhubungan dengan perilaku 3M. Variabel yang paling dominan terkait dengan perilaku 3M adalah kebiasaan orang tua dan peraturan sekolah setelah mengontrol dukungan teman sebaya.
Background: Based on data as of September 20, 2021 in 46,500 schools, there were 2.8 percent or 1,296 schools that reported COVID-19 clusters. Most of the COVID-19 clusters occurred in SD/MI, namely 2.78 percent. As of March 18, 2021, the death rate in Lampung Province reached 5.32 percent or was above the national average, which was 2.71 percent. Based on the SE Head of the Education and Culture Office of Bandar Lampung Number: 420/1254/IV.40/2022 regarding face-to-face learning during the COVID-19 pandemic, it was held on Monday, March 14, 2022. MIN 8 Bandar Lampung is a pilot MIN located very close to with densely populated settlements, the school building area is not too large and has the largest number of students and has very active interactions with the outside community. Based on the preliminary study that has been carried out by the researchers, it turns out that the 3M students of MIN 8 Bandar Lampung still lack discipline. Objective: To determine the factors related to the application of 3M behavior as a prevention of COVID-19 in students of MIN 8 Bandar Lampung in 2022. Methods: using a cross sectional study design where in this study the subject was only measured and observed once. Result: 5th grade students of MIN 8 Bandar Lampung in 2022 (62.9%) apply 3M behavior. Variables of knowledge (56.7%), attitudes (62.9%), parenting (58.8%), teacher support (70.1%), peer support (62.9%) school regulations (50.5%) and infrastructure (56.7). The most dominant variable related to the application of 3M behavior is the habituation of parents with OR 3,095 (95% CI: 1.315-7,284). Conclusion: There is a significant relationship between parental habits and school rules with 3M behavior. The most dominant variables related to 3M behavior are parental habits after controlling for peer support, and school rules.
Read More
T-6566
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pelangi; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Eka Viora, Yovsyah
Abstrak: Penelitian ini membahas salah satu masalah kesehatan mental di kalangan remaja yaitu fenomena bullying. Fenomena ini diteliti untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku menghadapi bullying di kalangan remaja Depok. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melakukan pengambilan data secara cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket pada seluruh siswa kelas X dan XI SMA 1 Muhammadiyah Pancoran Mas Depok dengan jumlah 71 responden berdasarkan metoda total sampling.
 
Berdasarkan hasil analisis univariat, 63,4% remaja berperilaku tepat dalam menghadapi bullying dan 36,6% remaja lainnya berperilaku tidak tepat. Selain itu, faktor yang berhubungan dengan perilaku menghadapi bullying adalah jenis kelamin (p=0,037), pengetahuan (p=0,046), dan peraturan di teman kelompok (p=0,044). Sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku menghadapi bullying adalah jenis kelamin (OR=3,495). Hasil ini menunjukkan perlunya penanganan khusus dalam penuntasan masalah bullying berdasarkan perbedaan karakteristik jenis kelamin.
 

 
This study addresses one of the mental health problems among teenager is the phenomenon of bullying. This phenomenon is examined to look at the factors that influence behavior of facing bullying among teenagers Depok. By using a quantitative approach, this study perform taking cross-sectional data. Data collected through questionnaires to all students of class X and XI SMA Muhammadiyah 1 Pancoran Mas, Depok with number of 71 respondents based on total sampling methods.
 
Based on the results of univariate analysis, 63,4% of teenagers behave appropriately in the face of bullying and 36,6% other teenagers behave inappropriately. In addition, factors related to facing bullying behavior is gender (p=0,037), knowledge (p=0,046) and the regulations in friends group (p=0,044). While the factors that influence the facing bullying based on gender differences in characteristics.
Read More
S-8185
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive