Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29314 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Shela Rachmayanti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sukwan Handali, Sukamto Koesnoe, Ngabila Salama
Abstrak: Latar Belakang: COVID-19 merupakan penyakit yang dinamis dan mudah bermutasi, varian Delta yang menyebabkan lonjakan kasus dan mortalitas signifikan di Indonesia pada Mei ? September 2021. Berdampak pada tingginya beban fasilitas kesehatan dan isolasi mandiri. Studi ini spesifik mempelajari dampak komorbid terhadap mortalitas pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri pada periode tersebut. Metode: Desain studi kohort retrospektif menggunakan data surveilans Dinkes DKI Jakarta, dengan total sampling pada eligible population. Dilakukan analisis kesintasan menggunakan kurva Kaplan Meier dan dilakukan evaluasi proportional hazard. Analisis multivariat dilakukan menggunakan Cox-Extended jika ditemukan pelanggaran proportional hazard Hasil: Analisis melibatkan 15.088 kasus konfirmasi dengan tingkat kesintasan keseluruhan 96,31%. Kesintasan lebih rendah pada kelompok dengan komorbid, ≥60 tahun, laki laki dan memiliki gejala (p<0.00). Cox-extended menunjukan risiko kematian pada kelompok yang memiliki komorbid pada <7hari sebesar aHR3,78(IK95%2,94-4,87) dan pada ≥7hari sebesar aHR1,78(IK95%1,412-2,954). Gangguan imunologi [aHR13,13(IK95%2,79-91,76)] merupakan komorbid yang paling berperan meningkatkan mortalitas. Kesimpulan: Risiko mortalitas selama masa pengamatan (30 hari) lebih tinggi pada kelompok yang memiliki komorbid, variabel lain yang berperan diantaranya usia lanjut, laki laki dan bergejala.
Background: COVID-19 is a very dynamic disease. Recently, a new Delta variant caused a significant spike in morbidity and mortality in Indonesia from May to September 2021, inflicting a high burden on healthcare facilities and self-isolation services. This study aims to analyze the impact of comorbidities on the mortality of COVID-19 patients who underwent self-isolation during the stipulated period. Methods: The study was a retrospective cohort, using surveillance data from the DKI Jakarta Health Office. The data was sampled through a total sampling method for the eligible population. A survival analysis was performed using the Kaplan Meier curve and a proportional hazard evaluation was carried out. Multivariate analysis was assessed using Cox-Extended, if violation of proportional hazard assumption is found. Results: The analysis included 15,088 confirmed cases with overall survival of 96.31%. Survival was lower in the group with comorbid, aged ≥60 years, male, and symptomatic (p<0.00). Cox-extended showed a higher risk of mortality in the group with comorbidities at <7th days [aHR3.78(95% CI 2.94-4.87)] and at ≥7th days aHR1,78(IK95%1,412-2,954). Immunological disorder [aHR13,13(IK95%2,79-91,76)] was the most impactful comorbid towards mortality. Conclusion: This study concludes that the risk of mortality during the observational period (30 days) was higher in the comorbid group. Other contributing variables include old age, male gender, and exhibiting symptoms.
Read More
T-6457
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.

Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
Read More
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.

Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
Read More
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadiya Eka Suci; ;Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis meningkat secara global maupun nasional, namun studi terkait mortalitas akibat penyakit ginjal kronis terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren dan distribusi kematian akibat penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta berdasarkan umur, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan selama 2020-2025 dengan desain potong lintang menggunakan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan total sample berjumlah 11.495, dengan minimal 384 sampel per tahun, berupa kematian dengan penyebab dasar penyakit ginjal kronis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian berdasarkan perhitungan Crude-Specific Death Rate dengan Confidence Interval 95% menunjukkan angka kematian populasi cenderung meningkat selama periode penelitian, puncak tren terjadi tahun 2024 CSDR 215,8 (CI 95%:207,8-224,8) dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama. Kelompok usia ≥60 tahun mendominasi dengan puncak di tahun 2025 CSDR 1014,4 (CI 95%:959,9-1071,2). Angka kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan puncak tren di 2025 CSDR 233,7 (CI 95%:221,0-247,0). Wilayah Jakarta Timur menyumbang jumlah kematian absolut tertinggi, dengan puncak di tahun 2024 CSDR 251,5 (CI 95%:234,1-269,8). Ditemukan 317 data anomali kode menunjukkan inkonsistensi pengkodean diagnosis, dengan puskesmas menyumbang laporan anomali terbanyak. Tren mortalitas penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta yang meningkat, terutama pasca-pandemi, serta laporan kasus tidak valid menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perbaikan kualitas data untuk mendukung efektivitas pengendalian penyakit.

Chronic kidney disease is rising both globally and nationally, yet studies on mortality due to chronic kidney disease remain limited. This study aims to analyse trends and the distribution of mortality rates due to chronic kidney disease in Jakarta, based on age, sex, region, and source of reporting, for the period 2020-2025, using a cross-sectional design and data from the Jakarta Provincial Health Office. The study used a total sample of 11.495, with a minimum 384 cases per year, comprising deaths with chronic kidney disease as the underlying cause, in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the mortality rate for the entire population tended to increase during the study period, peaking in 2024 at a CSDR of 215.8 (95% CI: 207.8–224.8), with hospitals as the primary source of reporting. The age group ≥60 years dominated, with a peak in 2025 at a CSDR of 1014.4 (95% CI: 959.9–1071.2). Men had a higher mortality rate than women, with the trend peaking in 2025 at a CSDR of 233.7 (95% CI: 221.0–247.0). The East Jakarta region contributed the highest absolute number of deaths, with a peak in 2024 at 251.5 CSDR (95% CI: 234.1–269.8). A total of 317 cases of coding anomalies were identified, indicating inconsistencies in diagnosis coding, with the community health centre accounting for the highest number of anomalous reports. The rising trend in chronic kidney disease mortality in Jakarta, particularly post-pandemic, along with reports of invalid cases, highlights the need for preventive measures and improvements in data quality to support the effectiveness of disease control.
Read More
S-12228
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aditya Wahid Zatmiko; Pembimnbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, termasuk di Provinsi DKI Jakarta, namun kajian tren mortalitas berbasis data surveilans rutin di tingkat provinsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tren mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018, 2020, 2022, dan 2024 berdasarkan jenis penyakit, kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah administrasi. Desain studi potong lintang digunakan dengan data surveilans kematian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, mencakup 61.435 kasus kematian kardiovaskular (ICD-10: I10–I99) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis univariat dilakukan menggunakan indikator Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), dan Sex-Specific Death Rate (SSDR) serta 95% (CI). Hasil menunjukkan pergeseran dominasi penyebab kematian dari Penyakit Serebrovaskular (CSDR 249,77 per 1.000.000 penduduk; 95% CI: 240,45–259,35) ke Gangguan Irama dan Konduksi Jantung yang meningkat dari CSDR 188,09 (95% CI: 180,01–196,43) pada 2018 menjadi 750,03 (95% CI: 733,96–766,36) pada 2024, dengan lonjakan tajam sejak fase pandemi akut. Kelompok lansia (≥60 tahun) menanggung beban kematian terbesar (62,1%–64,8%), dengan ASDR Gangguan Irama dan Konduksi Jantung mencapai 4.736,59 (95% CI: 4.607,69–4.868,18) per 1.000.000 lansia pada 2024. Laki-laki secara konsisten memiliki ASDR lebih tinggi dibanding perempuan pada seluruh periode studi. Jakarta Selatan mencatat CSDR tertinggi antarwilayah untuk kematian akibat Gangguan Irama dan Konduksi Jantung pada 2024 sebesar 1.210,13 (95% CI: 1.165,91–1.255,60) per 1.000.000 penduduk.

Cardiovascular disease is the leading cause of death in Indonesia, including in Jakarta Province, yet trend analyses using routine provincial mortality surveillance data remain scarce. This study aimed to describe cardiovascular disease mortality trends in Jakarta Province for 2018, 2020, 2022, and 2024 based on disease type, age group, sex, and administrative region. A cross-sectional design was employed using mortality surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office, comprising 61,435 cardiovascular deaths (ICD-10: I10–I99) meeting the inclusion and exclusion criteria. Univariate analysis was conducted using the Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), Sex-Specific Death Rate (SSDR), and 95% confidence intervals (CI). Results showed a shift in dominant cause of death from Cerebrovascular Disease (CSDR 249.77 per 1,000,000 population; 95% CI: 240.45–259.35) to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders, which increased from CSDR 188.09 (95% CI: 180.01–196.43) in 2018 to 750.03 (95% CI: 733.96–766.36) in 2024, with a sharp surge during the acute pandemic phase. The elderly (≥60 years) consistently bore the greatest mortality burden (62.1%–64.8%), with an ASDR for Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders of 4,736.59 (95% CI: 4,607.69–4,868.18) per 1,000,000 elderly in 2024. Males consistently exhibited higher ASDR than females throughout the entire study period. South Jakarta recorded the highest inter-district CSDR for deaths attributable to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders in 2024, at 1,210.13 (95% CI: 1,165.91–1,255.60) per 1,000,000 population.
Read More
S-12338
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esther Juliana Praysi; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Ngabila Salama
Abstrak: Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kasus Covid-19 bergejala di DKI Jakarta pada Januari-Mei 2021. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan data sekunder dari surveilans Covid-19 DKI Jakarta Januari-Mei 2021. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kelompok umur (PR = 2,169; 95% CI = 1,970-2,387), jenis kelamin (PR = 1,044; 95% CI = 1,023-1,066) dan komorbid (PR = 3,825; 95% CI = 3.435-4.258) merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kasus Covid- 19 bergejala di DKI Jakarta pada Januari-Mei 2021.
Read More
S-10849
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melia Fatrani Rufaidah; Pembimbing: Helda, Ratna Djuwita; Penguji: Desty Wijayanti, Inggariwati
Abstrak: Pada pertengahan tahun 2021, Indonesia mengalami lonjakan kasus COVID-19 dengan infeksi berat yang berdampak pada peningkatan jumlah kematian. Hipertensi diketahui menjadi salah satu penyakit penyerta yang paling banyak dimiliki oleh pasien COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh hipertensi secara independen terhadap mortalitas COVID-19 di RSUD Pasar Minggu periode tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data yang digunakan berasal dari rekam medis pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Sampel terpilih dengan metode simple random sampling dan analisis yang digunakan adalah analisis survival Kaplan-meier dan analisis multivariat Cox proportional-hazards regression. Dengan demikian, seiring dengan perjalanan waktu pandemi COVID-19 ini diharapkan rumah sakit dapat tetap melakukan pemantauan yang lebih ketat terhadap pasien dengan komorbiditas terutama hipertensi sehingga dapat terus menurunkan angka kematian akibat COVID-19
Read More
T-6414
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Ayu Nurranti Ramadhani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Nurwirah Verliyanti
Abstrak:
Berdasarkan data Riskesdas (2018), prevalensi balita stunting di Provinsi DKI Jakarta sebesar 17,7%. Sedangkan prevalensi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi DKI Jakarta sebesar 6,08%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara riwayat BBLR terhadap kejadian stunting pada balita di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel 3075 dan analisis data menggunakan Cox-regression. Dari hasil analisis didapatkan proporsi BBLR sebesar 6,6% dan proporsi balita stunting sebesar 17,6%. Hasil analisis multivariat hubungan BBLR dengan kejadian stunting setelah dikontrol oleh variabel potensial confounder yaitu PR 0,938 (95%CI: 0,655-1,345). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data SSGI tahun 2021 setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, konsumsi protein hewani, keragaman pangan, keikutsertaan KB, kelas ibu hamil dan kelas ibu balita.

Based on Riskesdas data (2018), the prevalence of stunting under five in DKI Jakarta Province is 17.7%. While the prevalence of Low Birth Weight Babies (LBW) in DKI Jakarta Province is 6.08%. The purpose of this study was to determine the relationship between LBW history and the incidence of stunting in toddlers in DKI Jakarta Province. This study used secondary data taken from the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) with a sample size of 3075 and data analysis using Cox-regression. From the results of the analysis, it was found that the proportion of LBW was 6.6% and the proportion of stunted toddlers was 17.6%. The results of multivariate analysis of the relationship between low birth weight and stunting after being controlled by the potential confounder variable, namely PR 0.938 (95% CI: 0.655-1.345). The conclusion of this study is that there is no significant relationship between LBW and the incidence of stunting in DKI Jakarta Province based on the 2021 SSGI data after controlling for the variables age, sex, birth length, consumption of protein, food diversity, family planning participation, class of pregnant women and mother toddler class.
Read More
T-6622
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asiyah Khoirunnisaa; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko, Inggarwati
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran efek samping vaksinasi COVID-19 dosis pertama berdasarkan orang, tempat, dan waktu di DKI Jakarta pada Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 117 responden, dengan proporsi perempuan 72,6% dan laki-laki 27,4%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KIPI dialami oleh 66,7% responden, jenis kelamin yang paling adapun kelompok umur 36-45 tahun adalah yang paling banyak mengalami KIPI.
Read More
S-10846
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nessa Novarisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Gertrudis Tandy, Retno Henderiawati
Abstrak:
Setelah dicabutnya PPKM, terjadi peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat, yang dapat menyebabkan peningkatan kasus konfirmasi dan mortalitas COVID-19. Pemerintah telah melakukan vaksinasi COVID-19 untuk menurunkan mortalitas COVID-19 di Indonesia. DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, menyumbangkan 16-17% perekonomian nasional, memiliki cakupan dosis boosternya masih rendah (53,9%). Penelitian ini menilai pengaruh status, homogenitas dan jenis vaksin booster secara kohort retrospektif menggunakan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta 2023. Jumlah sampel 1069 partisipan dengan proporsi 17-45 tahun (44,62%), perempuan (56,03%), domisili DKI Jakarta (97,01%), tanpa komorbid (73,26%), mendapatkan booster (60,80%) booster heterolog (49,67%), luaran penelitian hidup (68,94%). Resiko kematian dipengaruhi oleh interaksi komorbiditas dengan status maupun jenis vaksin booster secara sinergisme. Proporsi kematian karena interaksi adalah 4,76%. Risiko kematian vaksin booster homolog 1,33 dibandingkan heterolog (0,83-2,13 p value 0,232). Pasien dengan komorbiditas dan tidak vaksin booster memiliki risiko kematian tertinggi ditinjau dari status vaksin booster (reference mendapat vaksin booster, RR 6,93 95% CI 5,07-9,48 dan p value = 0,000) maupun jenis vaksin booster (reference mendapat vaksin booster heterolog, RR 6,97 95% CI 4,98-9,76 dan p value = 0,000). Peneliti merekomendasikan pemberian vaksin booster, terutama heterolog booster, pada kelompok komorbid untuk mencegah kematian COVID-19.

After revocation of PPKM, socioeconomic activity increased, lead to escalation of confirmed cases and mortality COVID-19. The government conducted vaccination to reduce COVID-19 mortality in Indonesia. DKI Jakarta the nation's capital, contributing 16-17% of national economy, has only 53,9% booster dose coverage. This study assessed the influence of status, homogeneity and type of booster vaccine in retrospective cohort using DKI Jakarta Health Service 2023 data. The sample was 1069 with 17-45 years (44.62%), female (56.03%), domiciled in DKI Jakarta (97.01%), without comorbidities (73.26%), received booster (60.80%), heterologous booster (49.67%) and alive (68.94%). The mortality risk is influenced by interaction of comorbidities with status and type of booster vaccine synergistically. The proportion of deaths due to interactions was 4.76%. The mortality risk of homologous booster was 1.33 compared to heterologous (0.83-2.13 p value 0.232). Patients with comorbidities and no booster have the highest risk in terms of booster status (reference received booster, RR 6.93 95% CI 5.07-9.48 and p value = 0.000) and type (reference received vaccine heterologous booster, RR 6.97 95% CI 4.98-9.76 and p value = 0.000). Researchers recommend giving booster, especially heterologous, to comorbid groups to prevent COVID-19 deaths.
Read More
T-7031
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive