Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34557 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hamas Musyaddad Abdul Aziz; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Indri Hapsari Susilowati, Yan Fuadi, M. Hadi Rachman
Abstrak: Secara global, industri pertambangan telah lama dianggap sebagai salah satu industri paling berbahaya dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang besar bagi para pekerjanya. Frekuensi kejadian kecelakaan kerja dapat di cegah dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja sekaligus perilaku perilaku tenaga kerja pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yang mulai menyadari pentingnya penerapan norma K3 di tempat kerja. Kematangan tingkat budaya keselamatan (safety maturity level) sangat penting untuk pencegahan perilaku tidak aman, terutama berbagai sector industry dengan tingkat cedera dan kematian yang tinggi. Konsep ini bertujuan untuk membantu organisasi dalam menetapkan tingkat kematangan budaya keselamatan mereka saat ini dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan budaya keselamatan mereka, sehingga diketahui dimensi dan aspek budaya keselamatan yang perlu diperbaiki . Tujuan dari penelitian ini mendesain instrumen pengukuran budaya yang sesuai dengan kondisi di lingkungan PT. XYZ dengan 10 variabel penelitian commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication dan safety performance, melakukan pengukuran budaya keselamatan pada PT. XYZ berdasarkan model tingkatan kematangan budaya keselamatan, dan melihat hubungan antar dimensi budaya keselamatan . Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mix methode, kuantitatif dan studi literature untuk memilih dimensi budaya keselamatan yang dijadikan variable penelitian dengan jumlah sampel penelitian 123 orang. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) . Hasil penelitian menunjukan penilaian terhadap safety maturity level dengan 10 (sepuluh) dimensi budaya keselamatan di PT.XYZ berada pada poin 3.56 (Compliant to Proactive), terdapat 9 (sembilan) hipotesis yang dapat diterima, terdapat hubungan yang bermakna antara Leadership (L) dengan Policy & Strategy (PS), dimensi Policy & Strategy (PS) dengan Safety Cost (SC), dimensi Commitment & Support (CS) dengan Process (P), dimensi Leadership (L) dengan Engagement & Involvement (EI), dimensi Safety Cost (SC) dengan Competency & Training (CT), dimensi Process (P) dengan Information & Communication (IC), dimensi Engagement & Involvement (EI) dengan Value (V), dimensi Competency & Training (CT) dengan Safety Performance (SP), Value (V) dengan Safety Performance (SP) dan 1 hipotesis yang tidak diterima, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dimensi Information & Communication (IC) dengan Safety Performance (SP).
Globally, the mining industry has long been considered one of the most dangerous industries with great health and safety risks to its workers. The frequency of work accidents can be prevented by planning, implementing and monitoring Occupational Safety and Health (K3) in the workplace as well as the behavior of workers in particular and the community in general, who are starting to realize the importance of implementing OSH norms in the workplace. Maturity level of safety culture (safety maturity level) is very important for the prevention of unsafe behavior, especially various industrial sectors with high rates of injury and death. This concept aims to assist organizations in determining the maturity level of their current safety culture and identify the actions needed to improve their safety culture, so that the dimensions and aspects of safety culture need to be improved . The purpose of this study is to design a cultural measurement instrument that is appropriate to the conditions in the PT. XYZ with 10 research variables commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication and safety performance, measured safety culture at PT. XYZ is based on a safety culture maturity level model, and looks at the relationship between safety culture dimensions. The method used in this study is a mix method, quantitative and literature study to select the dimensions of safety culture which are used as research variables with research sample of 123 people. The results were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results of the study show that the assessment of the safety maturity level with 10 (ten) dimensions of safety culture at PT. XYZ is at point 3.56 (Compliant to Proactive), there are 9 (nine) hypotheses that can be accepted, there is a significant relationship between Leadership (L) and Policy & Strategy (PS), Policy & Strategy (PS) dimension with Safety Cost (SC), Commitment & Support (CS) dimension with Process (P), Leadership dimension (L) with Engagement & Involvement (EI), Safety Cost dimension (SC) with Competency & Training (CT), Process dimension (P) with Information & Communication (IC), Engagement & Involvement (EI) dimension with Value (V), Competency & Training (CT) dimension with Safety Performance (SP) , Value (V) with Safety Performance (SP) and 1 hypothesis which is not accepted, there is no significant relationship between Information & Communication (IC) and Safety Performance (SP) dimensions.
Read More
T-6466
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dio Wiratama Indrafahrudi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhammad Sunarno, Muhammad Irwansyah, Propana Okionomus Ali
Abstrak:

Kecelakaan tambang di Indonesia menunjukkan beban yang perlu dikendalikan secara sistemik, melalui efektivitas pengukuran awal Safety Maturity Level (SML). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara SML dan kinerja keselamatan pertambangan yaitu indikator kecelakaan (Frequency Rate dan Severity Rate), sekaligus menjelaskan faktor konteks yang memengaruhi kekuatan hubungan tersebut. Penelitian menggunakan desain mixed methods - explanatory sequential. Fase kuantitatif memanfaatkan data sekunder dari Kementerian ESDM (KESDM) tahun 2024 di 52 perusahaan tambang batubara tahap operasi produksi sesuai kriteria inklusi, yaitu skor SML berbasis KepDirjen Minerba nomor 10.K/MB.01/DJB.T/2023 dan data statistik kecelakaan tambang 2024. Uji normalitas data menunjukkan tidak terdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan pendekatan nonparametrik Spearman rho (ρ) dan GLM gamma. Hasil kuantitatif mengindikasikan bahwa SML secara total (agregat) berkorelasi negatif dan signifikan dengan kinerja keselamatan (indeks kecelakaan tambang), namun kontribusi tiap dimensi SML tidak seragam. “Upaya Pengendalian” merupakan indikator yang paling konsisten bersifat protektif terhadap indeks kecelakaan, sedangkan “Partisipasi Pekerja” tidak menunjukkan hubungan yang signifikan namun korelasi negatif; sementara itu, “Tanggung Jawab Pimpinan” dan “Analisis Statistik”
menunjukkan hubungan negatif (bivariat) dan positif (multivariat), serta signifikan terhadap indeks kecelakaan tambang. Selanjutnya, temuan kualitatif dari data sekunder KESDM terhadap sub-sampling perusahaan menegaskan bahwa SML tinggi tidak selalu diikuti penurunan kecelakaan ketika terdapat kesenjangan implementasi pengendalian, terutama pada tata kelola kontraktor, kompetensi, dan konsistensi eksekusi di lapangan. Penelitian menyimpulkan bahwa SML berdampak pada penurunan kecelakaan terutama jika diwujudkan dalam pengendalian risiko yang nyata dan pembelajaran berbasis data yang ditutup dengan tindakan (closed-loop learning), bukan sekadar pemenuhan administratif.


Mining accidents in Indonesia indicate a burden that must be controlled systemically through the effectiveness of early measurement of the Safety Maturity Level (SML). This study aims to analysis the relationship between SML and mining safety performance represented by accident indicators (Frequency Rate and Severity Rate) while also explaining contextual factors that influence the strength of this relationship. The research employs a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative phase utilizes secondary data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (KESDM) for 2024, covering 52 coal mining companies at the production  operation stage that met the inclusion criteria, namely SML scores based on the Director  General of Mineral and Coal Decree No. 10.K/MB.01/DJB.T/2023 and 2024 mine accident statistics. Data normality tests showed non-normal distributions; therefore, analysis was conducted using nonparametric Spearman’s rho (ρ) and a gamma Generalized Linear Model (GLM). Quantitative results indicate that overall (aggregate) SML is negatively and significantly correlated with safety performance (the mining accident index), but the contribution of each SML dimension is not uniform. “Control Measures” emerged as the most consistently protective indicator against the accident index, whereas “Worker Participation” showed no significant relationship, although the correlation direction was negative. Meanwhile, “Leadership Responsibility” and “Statistical Analysis” demonstrated negative (bivariate) and positive (multivariate) relationships, and both were significant with respect to the mining accident index. Furthermore, qualitative findings derived from secondary KESDM data on a subsample of companies confirm that a high SML does not always translate into reduced accidents when gaps in the implementation of controls persist—particularly in contractor governance, competency, and consistency of execution in the field. This study concludes that SML contributes to accident reduction primarily when it is translated into tangible risk controls and data-driven learning that is closed with corrective action (closed-loop learning), rather than merely fulfilling administrative requirements.

Read More
T-7491
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Osaegi Restu Amrulloh; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Supandi, Rozzaq Alhanif Islamudin
Abstrak:
Partisipasi pekerja merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Tingkat partisipasi pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah safety leadership yang diterapkan oleh pimpinan unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya safety leadership terhadap partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan di PT XYZ. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods. Tahap kuantitatif dilakukan dengan rancangan cross-sectional terhadap 699 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear berganda. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, focus group discussion, dan telaah dokumen untuk menjelaskan dan memperdalam hasil kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi safety leadership memiliki hubungan positif dan signifikan dengan partisipasi pekerja, dengan hubungan terkuat pada task-centred leadership (r=0,673; p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa democratic leadership dan task-centred leadership merupakan dua dimensi yang paling berpengaruh terhadap partisipasi pekerja (masing-masing β=0,318 dan β=0,292; p<0,001), diikuti relationship-centred leadership (β=0,187; p=0,004), sedangkan authoritarian leadership tidak berpengaruh signifikan (p=0,168). Model penelitian mampu menjelaskan 48,7% variasi partisipasi pekerja (Adjusted R²=0,487). Hasil pendalaman kualitatif menunjukkan bahwa kejelasan arahan kerja, konsistensi pengawasan keselamatan, komunikasi dua arah, keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan, dan tindak lanjut terhadap masukan pekerja merupakan faktor yang mendukung peningkatan partisipasi pekerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa safety leadership berperan penting dalam meningkatkan partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan, dengan democratic dan task-centred leadership sebagai dua dimensi yang paling dominan memengaruhi partisipasi pekerja.

Worker participation is a critical factor in the successful implementation of the Mining Safety Management System. The level of worker participation is influenced by various factors, one of which is the safety leadership practiced by supervisors and managers. This study aimed to analyze the influence of safety leadership styles on worker participation in the implementation of mining safety at PT XYZ. An explanatory sequential mixed-methods design was employed. The quantitative phase used a cross-sectional approach involving 699 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using Spearman correlation and multiple linear regression. The qualitative phase was conducted through in-depth interviews, observations, focus group discussions, and document review to explain and enrich the quantitative findings. The results showed that all dimensions of safety leadership were positively and significantly associated with worker participation, with the strongest relationship observed in task-centred leadership (r = 0.673; p < 0.001). Multivariate analysis revealed that democratic leadership and task-centred leadership were the two most influential dimensions affecting worker participation (β = 0.318 and β = 0.292, respectively; p < 0.001), followed by relationship-centred leadership (β = 0.187; p = 0.004), while authoritarian leadership was not significantly associated with worker participation (p = 0.168). The regression model explained 48.7% of the variance in worker participation (Adjusted R² = 0.487). Qualitative findings indicated that clear work instructions, consistent safety supervision, two-way communication, worker involvement in decision-making, and follow-up on worker feedback were key factors supporting increased worker participation. This study concludes that safety leadership plays an important role in enhancing worker participation in mining safety implementation, with democratic and task-centred leadership being the two most dominant dimensions influencing worker participation.
Read More
T-7666
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhika Stevianingrum; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Chandra Satrya, Astrid Wina Lestari, Siti Rahmatia Pratiwi
Abstrak: Tesis ini membahas terkait gambaran tingkat kematangan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (Safety Culture Maturity Level) serta kinerja keselamatan di PT. X, sebuah perusahaan jasa pertambangan batubara. Penelitian dilakukan dengan pendekatan semi-kuantitatif dengan desain studi cross-sectional pada pekerja di jobsite A,B,C,D pada bulan April - Juni 2022. Variabel kematangan budaya K3 nantinya dilihat keterkaitannya terhadap kinerja keselamatan di PT.X. Hasil penelitian menunjukkan hasil tingkat kematangan budaya keselamatan di PT X pada level Proaktif dengan kinerja keselamatan berdasarkan tingkat kejadian kecelakaan yang dinilai baik, sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kematangan budaya keselamatan dengan kinerja keselamatan di PT.X
Read More
T-6395
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atta Rizky Suharto; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Zulkifli Djunaidi, Estu Subagyo, Wenny Ipmawan
Abstrak: Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan dapat diukur dengan berapa banyak kecelakaan yang terjadi setiap tahun dan banyak profesional telah mengembangkan indikator utama sebagai budaya keselamatan untuk mencegahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang migas juga memiliki potensi risiko kebakaran, ledakan, pencemaran lingkungan dan kecelakaan kerja lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang penerapan budaya keselamatan di tempat kerja, khususnya perusahaan pengolahan minyak dan gas bumi dan akan digunakan sebagai perilaku keselamatan untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Studi penelitian melibatkan 356 pekerja di kantor dan lapangan PT XYZ melalui survei online yang menanyakan item demografis dan dimensi iklim keselamatan. Analisis statistik dilakukan dengan uji T sampel independen yang membandingkan item iklim keselamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan dalam dimensi organsisasi, pekerjaan dan individu memperolah nilai masing-masing 4,23, 3,98 dan 4,36. Dilihat dari faktor keselamatannya, Personal Priorities and Need for Safety (PPNS) secara umum memiliki persepsi skor tertinggi di antara yang lainnya, sedangkan lingkungan kerja adalah yang paling rendah. Rata-rata perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara iklim keselamatan berdasarkan lokasi kerja dan pendidikan. Sedangkan variabel posisi manajemen menunjukkan perbedaan rata-rata yang meliputi komitmen manajemen, komunikasi, lingkungan yang mendukung, keterlibatan, prioritas pribadi dan kebutuhan akan keselamatan, dan lingkungan kerja. Selain itu, terdapat tiga kategori temuan paling sering dari PEKA (Safety Observation) yaitu peralatan dan perlengkapan sekitar 61,29%, kondisi lingkungan 25,32%, dan Alat Pelindung Diri 5,34%. Dari hasil pengukuran Tingkat Kematengan Budaya K3 pada PT XYZ terlihat bahwa PT XYZ berada pada level kalkulatif dengan nilai 3,04. Ditinjau dari Level jabatannya yaitu manajemen 3,1 dan pekerja level bawah 2,98
The implementation of Occupational Health and Safety (OHS) in the company can be measured with how many accidents happened each year and many professionals have developed leading indicators as safety culture to prevent these. The company focused on oil and gas sector has also potential risk to fires, explosions, environmental poollution and other work accidents. This study aims to provide comprehensive overview of safety culture implementation in the workplace, in particular oil and gas refining company and will be utilized as safety behaviour to achieve target set by the company. The research study included 356 workers in both office and field through online survey asking for demographic items and safety climate dimensions. The statistical analysis was performed with independent-samples T test comparing safety climate items. The study resulted the safety climate in the dimensions of the organization, work and individual earned values of 4.23, 3.98 and 4.36, respectively. Based on the safety factor, Personal Priorities and Need for Safety (PPNS) in general having highest score perception among others, while work environment has lowest score. The mean comparison showed there was no significant among safety climates based on work location and education. Meanwhile the variable of management position indicated mean difference including management commitment, communication, supportive environment, involvement, personal priorities and need for safety, and work environment. In addition, Three categories of common finding from Safety Observation (PEKA): equipment and supplies around 61.29%, environmental conditions 25.32%, and Personal Protective Equipment 5.34%. From the measurement results of the Safety Culture Maturity Level at PT XYZ, it can be seen that PT XYZ is at a calculative level with a value of 3.04. In terms of position level: upper management 3.1 and lower management 2.98.
Read More
T-6213
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nisa Fanegi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Izzatu Milla, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Industri manufaktur kimia merupakan salah satu sektor industri yang memiliki potensi bahaya tinggi dan kompleksitas proses kerja yang menuntut implementasi sistem keselamatan kerja yang kuat. Salah satu aspek yang perlu dikaji secara mendalam adalah tingkat kematangan budaya keselamatan (safety culture maturity) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. XYZ serta mengidentifikasi perbedaan persepsi dan keterlibatan karyawan. Pengukuran dilakukan dengan instrument kuesioner yang terdiri dari berbagai dimensi dan elemen budaya keselamatan, serta didukung dengan data wawancara , diskusi kelompok dan tinjauan dokumen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ berada pada level 3 atau Calculative. Hasil ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah memiliki sistem K3 yang terstruktur dan terdokumentasi, namun nilai – nilai keselamatan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku kerja sehari – hari. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan persepsi antar jabatan dan unit kerja, di mana keterlibatan pekerja lapangan dalam evaluasi dan pembelajaran keselamatan masih terbatas. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan antara lain efektivitas komunikasi keselamatan, partisipasi pekerja dalam analisis insiden kecelakaan, serta konsistensi pelaksanaan tindak lanjut dari temuan dan evaluasi risiko. 
The chemical manufacturing industry is one of the industrial sectors with high hazard potential and complex work processes, requiring the implementation of a strong occupational safety system. One critical aspect that must be explored in depth is the level of safety culture maturity within a company. This study aims to analyze the maturity level of safety culture at PT. XYZ and identify the differences in perception and engagement among employees. The assessment was conducted using a questionnaire instrument consisting of various safety culture dimensions and elements, supported by data from interviews, focus group discussions, and document reviews. Based on the analysis results, the overall safety culture maturity level at PT. XYZ was found to be at level 3 or Calculative. This indicates that while the company has a structured and well-documented safety management system, safety values have not yet been fully internalized into daily work behaviors. In addition, the study found significant differences in perceptions across job levels and departments, where workers in operational roles had limited involvement in safety evaluation and organizational learning. Areas that require improvement include safety communication effectiveness, employee participation in incident analysis, and consistency in follow-up actions from findings and risk evaluations.
Read More
B-2546
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanny Dimasruhin; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Sugiarto, Haryanto
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Safety Management System (SMS) dengan pendekatan ERA Management Maturity Model (ERA MMM) pada PT X—sebuah badan usaha niaga migas nasional yang beroperasi di delapan regional. Kajian ini juga menganalisis penerapan SMS dengan Sistem Manajemen Keselamatan Migas (SMKM), SUPREME, lalu menganalisis komparasi ketiganya. Selain itu, dilakukan Analisis Siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act) dan dilakukan evaluasi Leading–Lagging Indicator untuk memotret efektifitas ketiganya Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa hasil survei ERA MMM dan data sekunder dari hasil penilaian SMKM & SUPREME serta Lagging Indicator (Atlas Keselamatan Migas dan data kecelakaan hilir migas 2024–2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ERA MMM di PT X dengan hasil Maturity berada pada level Anticipating  . Dalam penerapan SMKM, PT X terkoreksi dengan nilai akhir 89% atau baik sedangkan penerapan SUPREME, PT X memperoleh nilai 81%, atau Acceptable, yang bermakna PT X menjalankan operasi dengan risiko yang telah dikelola dengan baik dan seluruh proses dan implementasi SMS memenuhi syarat minimum. Dengan membandingkan ketiganya ERA MMM menunjukkan Tingkat maturity PT X, sedangkan SMKM menunjukkan pemenuhan regulasi minimun di Industri Migas dan SUPREME menunjukkan operasional organisasi telah mengelola risiko dengan baik atau belum. Analisis Siklus PDCA menunjukkan bahwa ketiga sistem telah mengikuti siklus PDCA namun secara proporsional, setiap aspek memiliki jumlah elemen/substansi yang beragam.  Dengan mengevaluasi Leading–Lagging Indicator dalam konteks Safety Performance, SUPREME dan ERA MMM secara relatif lebih efektif menggambarkan kondisi manajemen keselamatan PT X dengan outcome kejadian kecelakaan di masing-masing regional.

This study aims to analyze the implementation of the Safety Management System (SMS) with the ERA Management Maturity Model (ERA MMM) approach at PT X—a national oil and gas trading company operating in eight regions. This study also analyzes the implementation of SMS with the Oil and Gas Safety Management System (SMKM), SUPREME, and then analyzes the comparison of the three. In addition, a PDCA cycle analysis and Leading–Lagging Indicator evaluation were conducted to capture the effectiveness of the three. This study uses a quantitative descriptive method with primary data in the form of ERA MMM survey results and secondary data from SMKM & SUPREME assessment results and Lagging Indicators (Atlas Migas and downstream oil and gas accident data 2024–2025). The results of the study indicate that the implementation of ERA MMM at PT X with Maturity results is at the Anticipating   level. In the implementation of SMKM, PT X was corrected with a final value of 89% or good while the implementation of SUPREME, PT X obtained a value of 81%, or Acceptable, which means PT X carries out operations with risks that have been well managed and all processes and implementation of SMS meet the minimum requirements. By comparing the three ERA MMM shows the maturity level of PT X, while SMKM shows the fulfillment of minimum regulations in the Oil and Gas Industry and SUPREME shows whether the organization's operations have managed risks well or not. The PDCA (Plan–Do–Check–Act) Cycle Analysis shows that the three systems have followed the PDCA cycle but proportionally, each aspect has a varying number of elements/substances. By evaluating the Leading–Lagging Indicator in the context of Safety Performance, SUPREME and ERA MMM are relatively more effective in describing the condition of PT X's safety management with the outcome of accidents in each region.
Read More
T-7480
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meddy Harjanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Kevin Gerhana Angga, Nur Hudha
Abstrak: Seiring dengan perkembangan jaman sebagaimana kegiatan di industry Minyak dan Gas (Migas) yang memiliki risiko tinggi sehingga diperlukan pengelolaan operasi yang sangat baik, tertata dan terencana dengan matang. Hal ini berkaitan dengan kecelakaan yang diakibatkan oleh prilaku tidak aman (un-safe act) sebagai penyebab dominan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tentang analisis budaya keselamatan dengan mengukur Safety Climate Level (SCL) dan Safety Culture Maturity Level (SCML), sebagai upaya peningkatan buadaya keselamatan untuk mengurangi kecelakaan. Populasi pada penelitian ini berjumlah 2.568 pekerja, kemudian pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran keusioner dan Focus Group Discussion (FGD) untuk di Site A dengan jumlah 245 pekerja. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui skor SCL 7,82 (>7,5 ref. Norma SCL) dimana safety climate sudah tercermin dengan baik pada individu dan kelompok. Sedangkan safety culture sudah berada pada level 4 (proactive) dengan skor SCML 4,17 dari total skor 5. Hal ini menunjukkan peran pekerja dalam program K3 telah meningkat dimana pendekatan bottom-up perlu ditingkatkan dengan menyerap dan menindaklanjuti spirasi dan masukkan dari pekerja.
Read More
T-5655
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marina Kartikawati; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Syaaf, Wawan Irawan, L. Kukuh Prabowo
Abstrak: Latar Belakang : Budaya keselamatan tidak hanya berpengaruh kepada produktivitas namun juga persaingan antar usaha yang sejenis. Konsep budaya keselamatan merupakan sebuah konsep baru di sektor konstruksi yang memiliki karakteristik tenggang waktu penyelesaian yang sempit serta tingginya angka pergantian pekerja. PT. MK. Departemen Gedung memenangkan tender atas Proyek Renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan jangka waktu proyek selama 14 bulan (Choudhry et al. 2007) (Cooper 2002). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan budaya di PT. MK pada proyek Renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU-GBK). Metode : Metode pengambilan data secara kualitatif (FGD, observasi dan wawancara mendalam) dan diolah dengan metode kuantitatif untuk kemudian dilakukan analisis secara mendalam(indepth analysis) pada bulan Mei-Juli 2017. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan stratified random sampling yang ditentukan berdasarkan representasi di dalam populasi. Hasil : PT. MK Proyek Renovasi SU-GBK menitik beratkan perhatian kepada perencanaan sistem, namun persepsi dalam implementasi dan evaluasi sistem manajemen keselamatan masih memiliki nilai yang rendah. Manajemen dalam proyek telah menyadari pentingnya manusia dalam sebuah pekerjaan. Manusia / pekerja adalah aset penting bagi perusahaan. Namun hal ini belum dirasakan oleh sebagian besar pekerja karena nilai yang tinggi terdapat pada level manajemen dan pengawas. Kesadaran akan keselamatan yang dibangun oleh para pemimpin proyek (manajemen dan pengawas) masih dalam tahapan awal namun keselamatan kerja belum tercermin dalam keseharian / daily activities di proyek ini karena masih dalam tahapan menata organisasi. Kesimpulan : Tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. MK Proyek Renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU-GBK) dapat dikategorikan ke dalam tingkat kalkulatif dengan rata-rata nilai adalah 3,19. Sistem manajemen keselamatan berjalan didasarkan data yang ada dengan kendali penuh pada manajemen tanpa partisipasi aktif dari pekerja. Organisasi dengan level kalkulatif merupakan organisasi yang belum siap dalam menjalankan budaya keselamatan. Kata Kunci : Budaya Keselamatan, Konstruksi, Keselamatan Kerja.
Read More
T-4947
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frandy Sinatra Surbakti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Benyamin Argubie, Muhammad Ginanjar Noor
Abstrak: Penelitian tesis ini menganalisis iklim K3 pada PT.XYZ yang merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak bumi dan gas alam. Data perusahaan menunjukkan terjadi 16 kasus recordable injury (RI) pada tahun 2019, 9 kasus RI pada tahun 2020 dan 2 kasus RI sampai dengan 31 Agustus 2021 yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran, kewaspadaan serta kelalaian. Survei iklim budaya K3 pada PT. XYZ dilakukan untuk mendapatkan potret terkini, menganalisis kelemahan dan memberikan rekomendasi perbaikan untuk meminimalisir angka kecelakaan kerja. Studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif serta metode penelitian Iklim K3 dipergunakan dengan menyebar survei kuisioner melalui Google Form dengan pemilihan sampel bersifat proporsional cluster random sampling yang melibatkan 322 responden. Hasil survei menunjukkan nilai rata-rata iklim K3 perusahaan adalah 4.12 pada skala 1-5 dengan nilai rata-rata pada masing-masing variabel >3.75 menunjukkan bahwa pekerja mempersepsikan bahwa nilai keselamatan sudah terinternalisasi dengan optimal baiik sebagai individu, kelompok dan organisasi. Fokus perbaikan pada variabel kelompok yang memiliki 2 subvariabel dibawah nilai rata-rata. Terdapat perbedaan signifikan pada kelompok status pekerja (Supportive Environment p-value 0.048, Involvement p-value 0.001) dan kelompok lokasi kerja (Management Commitment p-value 0.018).
This thesis research analyzes the OHS climate at PT. XYZ, an oil and natural gas exploration and production company. Company data shows that there were 16 recordable injury (RI) cases in 2019, 9 RI cases in 2020 and 2 RI cases up to 31 August 2021 which were caused by lack of awareness, vigilance and complacency. OHS climate survey at PT. XYZ is carried out to get the latest OHS climate portrait, analyze weaknesses and provide recommendations for improvement to decrease the accidents. A cross-sectional study with a quantitative approach and research methods on OHS Climate was used by distributing questionnaires survey via Google Form and sample selection by proportional cluster random sampling involving 322 respondents. The survey results show that the average value of the company's OHS climate is 4.12 on a scale of 1-5 and average value for each variable >3.75 indicating that workers perceive that safety values have been optimally internalized as individuals, groups and organizations. The focus of improvement is on group variables which have 2 sub-variables below the average value. There was a significant difference in worker status group (Supportive Environment p-value 0.048, Involvement p-value 0.001) and work location group (Management Commitment p-value 0.018).
Read More
T-6313
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive