Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21782 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Ayu Puspitasari; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Besral, Theresia Dyah Wirastri, Pribudi Nur Sitepu, Indra Murty Surbakti
Abstrak:
Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan. Kurangnya pemberdayaan perempuan dapat menyebabkan hasil negatif pada kesehatan dan kematian anak. Kesehatan anak menjadi bagian dari sustainable development goals (2030) yang dapat dilihat melalui penurunan angka kematian bayi dan balita. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh pemberdayaan perempuan terhadap kematian balita setelah di kontrol dengan variabel umur ibu, daerah tempat tinggal, pendidikan suami, jarak lahir, paritas, status imunisasi dasar, dan berat lahir. Sampel berjumlah 16.409 perempuan berusia 15-49 tahun yang terakhir melahirkan pada periode tahun 2012-2017 diambil dari SDKI 2017. Pemberdayaan perempuan diukur dengan menggunakan indeks komposit yang dibangun dari empat indikator yaitu tingkat pendidikan, status pekerjaan, partisipasi dalam pengambilan keputusan rumah tangga dan sikap istri terhadap pemukulan yang dilakukan suami dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Selanjutnya, estimasi pengaruh pemberdayaan perempuan terhadap kematian balita menggunakan model regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemberdayaan perempuan berpengaruh secara signifikan terhadap kematian balita setelah dikontrol dengan umur ibu saat melahirkan, jarak lahir, dan berat lahir. Komponen pemberdayaan perempuan yaitu status pekerjaan (p <0,001; AOR: 1,49 ; 95% CI: 1,21-1,83) memiliki pengaruh secara statistik dengan kematian balita, sedangkan faktor tingkat pendidikan (p 0,666; AOR: 0,93; 95% CI: 0,72-1,30), partisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga (p 0,732; AOR: 1,08; 95% CI: 0,68-1,72), dan sikap istri terhadap pemukulan yang dilakukan suami (p 0,806; AOR: 1,03; 95% CI: 0,83-1,26) tidak berpengaruh secara signifikan dengan kematian balita. Hal ini menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan untuk mengurangi kematian balita.

Women?s empowerment has generally been recognized as one of the most important factors for development. A lack of empowerment may lead to negative outcomes on child health and mortality. Child health being part of sustainable development goals (2030) can be traced through reduced infant and under five mortality rates. The present study is an attempt to examine the association between women?s empowerment and under five mortality. Sample of 16.409 women aged 15-49 years who had their last childbirth in period 2012-2017 were drawn from 2017 Indonesia Demographic and Health Survey. Composite index was considered to measure women?s empowerment. Principal Component Analysis (PCA) has been employed to measure women's empowerment using four indicators, namely education level, employment status, participation in household decision-making and attitude toward wife beating. Adjusted associations between women?s empowerment and under five mortality were examined using binary logistic regression by controlling the influence of socioeconomic and biodemographic variables as potential confounders. The findings from multivariate analysis indicated statistically significant associations between women empowerment and under five mortality after controlled by maternal age, birth interval, and birth weight. Working women were 1,49 times more likely to experienced under-five mortality (95% CI=1,21-1,83). However, education level, participation in household decision-making and attitude toward wife beating were not associated with under-five mortality. This highlights the importance of women?s empowerment by increasing women?s educational level, participation in labor force, and reducing women?s vulnerability to domestic violence in efforts to reduce infant mortality.
Read More
T-6486
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Nyoman Astri Artini; Pembimbing: Evi Martha, Sutiawan; Penguji: Rita Damayanti, Rahmadewi, Noel Sita Rukmi
Abstrak:
Program peningkatan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ini menjadi salah satu target pemerintah karena kontrasepsi jangka panjang memungkinkan kontinuitas penggunaan layanan Keluarga Berencana (KB) oleh pasangan usia subur (PUS). Beberapa faktor yang terkait dengan penggunaan MKJP tergantung pada lokasi penelitian, mulai dari faktor sosiodemografi, sosial ekonomi, sosial budaya sampai dengan pemberdayaan perempuan. Adapun komponen pemberdayaan perempuan adalah tingkat pendidikan, status pekerjaan, partisipasi dalam pengambilan keputusan Studi ini bertujuan untuk mengetahui tren MKJP dan pemberdayaan perempuan dari 2007-2017 serta menganalisis hubungan antara pemberdayaan perempuan dengan MKJP setelah mengontrol dengan variabel sosio demografis, seperti umur ibu, perbedaan usia istri dan suami, tingkat pendidikan suami, tingkat kesejahteraan rumah tangga, daerah tempat tinggal, dan regional tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan analisis bivariat dan multivariat dengan data sekunder SDKI 2007-2017. Hasil penelitian pemberdayaan perempuan di Indonesia dan MKJP memiliki tren yang cenderung meningkat selama periode 10 tahun menunjukkan tingkat pemberdayaan perempuan memiliki hubungan secara statistik dengan penggunaan MKJP. Komponen pemberdayaan perempuan yang mencakup tingkat pendidikan (p=<0,01; AOR=2,01; 95% CI=1,81 – 2,43), pekerjaan (p=0,02; AOR=1,10; 95%CI=1,03 – 1,17), dan sikap positif terhadap kekerasan (p≤0,01; AOR=0,91; 95% CI=0,86 – 0,97) memiliki hubungan secara statistik dengan penggunan MKJP. Sedangkan faktor partisipasi dalam pengambilan keputusan di rumah tangga (p=0,854; AOR=0.90; 95% CI=0,86–1,13) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan MKJP. Kata kunci: MKJP; SDKI; Pemberdayaan Perempuan; KB, Kontrasepsi; Indonesia

Background and Purpose: The use of long-acting and permanent methods (LAPMs) of contraception becomes one of the government’s efforts to ensure the continuity of family planning program. Factors associated with the LAPMs use can be contingent upon the study context or setting that includes socio-demographic, social and cultural norms, and women empowerment factors. This study aimed to examine the associations between women empowerment and the LAPMs use. Methods: This was a cross-sectional study involving 97,316 records of married women aged 15-49 years, retrieved from three rounds of the Indonesia Demographic and Health Survey (2007, 2012, and 2017). The dependent variable is the LAPMs use, whereas the main independent variables were women empowerment factors (i.e., educational level, occupational status, participation in household decision-making, attitude toward wife- beating). Adjusted associations between women empowerment and the LAMPs use were examined using binary logistic regression by controlling the influence of socio- demographic variables as potential confounders. Results: About half of women in this study were 35-49 years of age and completed primary education. The findings from multivariate analysis indicate statistically significant confounders-adjusted associations between some women empowerment factors and the LAPMs use. The increase of education level was found to be positively associated with the use of LAPMs. Working women increased the likelihood of using LAPMs by 1.10 (95%CI=1.03-1.17) times. In addition, those who approved for being beaten by their husband in any circumstance were less likely to use LAPMs (OR=0.91; 95%CI=0.86-0.97). However, participation in household decision-making was not associated with the LAMPs use. Conclusion: Women empowerment factors that included educational level, occupational status, and the attitude toward wife-beating were associated with the use of LAPMs among Indonesian married women. Therefore, improving women empowerment by increasing women’s educational level, participation in labor force, and reducing women’s vulnerability to domestic violence can increase the uptake of LAPMs. Key words: LAPMs; DHS; women empowerment; family planning; contraception; Indonesia
Read More
T-6180
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agustina Kurniasih; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Dumilah Ayuningtyas, Indah Nugraheni Mardhika, Pribudiarta Nur Sitepu
Abstrak:
Masalah kesehatan mental pada pekerja merupakan hal yang tidak boleh dianggap remeh karena dapat mengganggu produktivitas pekerja itu sendiri maupun instansi. Tesis ini membahas hubungan work-life balance, motivasi dan faktor demografi dengan kepuasan kerja pegawai yang bekerja di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross- sectional. Sampel sebesar 150 dari 338 pegawai diambil secara simple random sampling. Data dikumpulkan dengan cara responden mengisi kuesioner secara online karena Indonesia sedang mengalami pandemi COVID-19. Data dianalisis dengan uji chi square dan regresi logistik ganda menggunakan program SPSS. Hasil penelitian mendapatkan 59,3% pegawai merasa tidak puas bekerja, 56,7% pegawai memiliki work-life balance tidak seimbang dan 54,7% memiliki motivasi kerja tinggi. Work-life balance, umur dan lama bekerja tidak berhubungan dengan kepuasan kerja dalam penelitian ini sedangkan motivasi dan pendidikan berhubungan dengan kepuasan kerja. Pegawai dengan motivasi tinggi merasa lebih puas dengan pekerjaannya dibanding yang motivasinya rendah. Pegawai yang bependidikan rendah lebih merasa puas dengan pekerjaannya dibanding pegawai yang berpendidikan tinggi. Saran yang dapat diberikan adalah pemberian insentif, diklat secara berkala, pembagian tugas sesuai beban kerja secara proporsional dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang baik.

Mental health problems in workers are things that should not be underestimated because they can interfere with the productivity of workers themselves and agencies. This thesis discusses the relationship between work-life balance, motivation and demographic factors with job satisfaction of employees who work at the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection. This research is a quantitative study with cross-sectional design. 59.3% of employees were not satisfied working, 56.7% of employees had an unbalanced work-life balance and 54.7% had high work motivation. Work-life balance is not statistically related in this study while motivation is related to employee job satisfaction, employees who have high motivation feel more satisfied with their work than those with low motivation. Demographic factors related to employee job satisfaction are education. Low-educated employees are more satisfied with their work than highly educated employees after being controlled by work-life balance and motivation. Age and length of work are not related to employee job satisfaction. Suggestions that can be given based on the results of the study are the provision of incentives, regular training, division of tasks according to workload proportionally and the use of good information and communication technology to help employees achieve work-life balance and satisfaction.

Read More
T-5890
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suroto; Pembimbing: Iwan Ariawan
Abstrak:
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama baik untuk penduduk yang tinggal di desa maupun di kota. Sebagian besar kejadian diare, yaitu 60 - 80 % dialami oleh golongan anak dibawah lima tahun. Golongan ini setiap tahunnya mengalami 2 - 3 kali kejadian diare, dimana sekitar 1 - 2 % diantaranya akan jatuh kedalam keadaan dehidrasi, yang bila tidak segera ditolong, 50 - 60 % akan meninggal. Menghadapi persoalan masih tinginya angka kejadian diare, Depkes RI secara global mempunyai dua tujuan pokok program pemberantasan penyakit diare yaitu; mencegah kematian karena diare dan mencegah agar tidak terjadi diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh perilaku ibu terhadap kejadian diare pada anak balita. Dari analisis ini akan dilihat besar risiko perilaku kesehatan terhadap kejadian diare. Rancangan penelitian ini adalah kasus-kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 1498 kasus dan 1498 kontrol. Analisis data dilakukan dengan uji statistik regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor perilaku kesehatan ibu mempunyai pengaruh terhadap kejadian diare yaitu perilaku buang air besar dan membersihkan jamban (rasio odds = 1,21, selang kepercayaan 95 % = 1,03 - 1,42). Perilaku cuci tangan yang mempunyai efek yang berbeda menurut umur anak yaitu dengan umur anak < 24 bulan (rasio odds = 1,58, selang kepercayaan 95 % = 1,23 - 2,05). Perilaku cuci tangan pada umur anak ≥ 24 bulan (rasio odds 1, 11, selang kepercayaan 95 % = 0, 93 - 1, 33). Sedangkan variabel lain (Confounding) yang turut mempengaruhi kejadian diare adalah pendidikan ibu dan sumber air. Untuk menunjang keberhasilan program pemberantasan penyakit diare perlu penyuluhan yang penekanannya terutama pada aspek perbaikan perilaku cuci tangan dan perilaku buang air besar dan membersihkan jamban pada ibu balita.

The Role of Mother's Behavior to Diarrhea Diseases in Children Under Five Years Old in Central Sulawesi, Southeast Sulawesi and East Nusa Tenggara, 1998In Indonesia, diarrhea is still a major problem in rural and urban area. Most of diarrhea cases were in children under five years old (60 - 80 % of the cases). Among them, the episodes diarrhea was 2 - 3 time annually and 1 - 2 % of them went into dehydration condition. In response to high prevalent of diarrhea, in general Ministry of Health Republic of Indonesia has two main objective namely to prevent of diarrhea and prevention of death among diarrhea cases. The main objective of this study is to assess the role of mother's behavior to diarrhea diseases in children under five years old. The study design is case-control with a sample 1498 cases and 1489 control. Multiple logistic regressions were used to determine the relationship between independent variable with dependent variable. This study showed that factor of mother's behavior is associated with diarrhea. The specific behavior hygienic the defecation practice and cleaning toilet (odds ratio = 1.21, 95 % CI = 1.03 - 1,42), hand washing (odds ratio = 1.58, 95 % CI = 1.23 - 2.05) for children under 24 month and (odds ratio = 1.11, 95 % CI = 0.93 -- 1.33) for children ≥ 24 month. The confounder variable which had association to diarrhea was mother's education and source of water. In order to support the success of diarrhea control program, it is necessary to do health information to mother's behavior about hand washing and hygienic defecation practice and cleaning toilet.
Read More
T-1004
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erna Kurniawati; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Arman Nefi, Christina Rialine Titaley
Abstrak: Salah satu faktor risiko terjadinya berbagai penyakit tidak menular adalah perilaku merokok. Penyebab seseorang merokok antara lain kurangnya pengetahuan, pengaruh orangtua, teman dan juga iklan.
 
Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya gambaran dan hubungan antara pengetahuan, sikap, keluarga, teman dekat dan keterpaparan iklan rokok terhadap perilaku merokok pada mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2010.
 
Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan menggunakan data sekunder survei perilaku sehat 2010.
 
Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang mewakili 12 fakultas, sedangkan sampel yang digunakan adalah mahasiswa yang termasuk kedalam rentang umur remaja akhir (18-21 tahun) yang berjumlah 2.108 responden.
 
Penelitian menunjukkan bahwa ada 263 (12.5%) responden adalah merokok. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan antara jenis kelamin, rumpun, pengetahuan, sikap dan pengaruh keluarga terhadap perilaku merokok.
 

Smoking behavior is one of the factors that risk the infections diseases. The reason why someone smokes can be because of lacking of knowledge, family influence, friends and advertisement.
 
The objectives of this research are to know the description and connections among knowledge, attitude, family, close friends and exposition of cigarette advertisement toward smoking behavior of the students university of Indonesia year 2010.
 
Research design that is used is cutting across using secondary data survey of healthy behavior 2010.
 
Population of this research is from all student represent 12 faculties, while the sample that is used is from students within range of late teenages (18-21 years old) consist of 2108 respondents. The research shows that 263 (12.5%) respondents are smokers.
 
Result test statistically shows the connections among gender, faculty asociation, knowledge, attitude and family influence to wand smoking behavior.
Read More
S-7963
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salamah THomasita Batubara; Pembimbing: Tri Krianto, Rina A. Anggorodi; Penguji: Wisni Bantarti, Kurdi Martin, Firman Rachmatullah
Abstrak:

ABSTRAK Perempuan merupakan faktor utama penerus kelangsungan kehidupan suatu masyarakat. Kepercayaan, adat istiadat, kebiasaan dan aturan aturan yang berlaku tidak terlepas dari kehidupan perempuan yang menjalankan fungsinya dalam keluarga dan masyarakat. . Kesehatan di masa kehamilan dan kelahiran tidak terlepas dari berbagai aspek sosial dan kebudayaan. Persepsi tentang kesehatan dimasa ini penting karena bayak yang beranggapan bahwa kehamilan merupakan kondisi yang sehat dan tidak perlu dikhawatirkan. Karena itu dalm kondisi kesehatan seperti itu sering kurang mendapat perhatian. Tulisan ini menyajikan bagaimana aspek non medis yakni aspek sosial budaya dapat mempengaruhi terjadinya perdarahan pada perempuan Baduy dimasa kehamilan dan kelahiran yang selanjutnya dapat meningkatkan angka Kematian Ibu (AKI) Penelitian menggunakan metode kualitatif, dengan disain RAP (Rapid Assessment Procedures). Sampel penelitian diperoleh dengan cara Purposive random sampling. Informan terbagi atas perempuan, usia produktif, (15-35 tahun), menikah, punya anak dan atau tidak punya anak, suami, bidan senior, bidan Junior, kader kesehatan, ketua adat dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus Group Discussion , in-depth interview dan observasi partisipasi. Penellitian dilakukan pada awal bulan April sampai dengan bulan Juni 2012. Lokasi penelitian adalah Kampung Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain faktor medis, faktor non medis juga mempengaruhi kesehatan ibu dimasa kehamilan dan kelahiran. Faktor geografis dan faktor budaya merupakan faktor yang perlu diwaspadai sebagai salah satu faktor yang memicu terjadinya perdarahan. Faktor budaya tersebut antara lain adalah kuatnya kepercayaan akan pantangan dan anjuran, kepercayaan terhadap kekuatan magis dan spiritual, berlakunya hukum dan aturan adat yang sulit berubah, persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit, bahwa hamil dan melahirkan adalah peristiwa biasa dan dapat dialami oleh semua perempuan, karena itu itu ada hal yang istimewa. Sakit dan meninggal adalah ?sudah dari sananya? merupakan takdir yang tidak bisa dihindarkan. ada juga faktor orang orang yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan, seperti suami, ibu, paraji, tokoh adat dan kepala suku yang mempunyai otoritas begitu kuat dalam pengambilan keputusan , dan aspek sosial ekonomi. Peluang para pihak dapat terbuka lebar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemahaman kebudayaan, memformulasikan cara dan program yang tepat guna, dan memberdayakan potensi dan kearifan yang ada pada masyarakat setempat.


ABSTRACT Women are the main factor for the everlasting humanity in a society. Beliefs, custom, rules, norms and attitudes are bonded the women in their life as as a member of family and society. Health during pregnancy and delivery are related to the social and cultural aspects. Women;s perception of health and illness during those times are extremely important because some women thought that the moment of pregnancy and delivery are a common situation wich is nothing to be worriedl, thus make that moment missing the attention of the personal references. br> This article explained how the non medical factor such as the social and cultural aspects influenced the maternal morbility caused by pregnancy bleeding during the pregnancy and delivery moment. This study used the Rapid Assessment Procedure (RAP) designed of the Qualitative method. Samples of the study are women, marriage with or without child/childres, ages 15 to 35 years old, husbands, Midwifes, the chief of Public Health Care Centre, Traditional Birth Attendances, and traditional head of society. The study was held on beginning of April to June 2012, at the Baduy?s tribes, Kanekest village, Leuwidamar District of Banten Province. The study has shown us that beside the medical determinants , the non medical determinants such as geografi, cultural, are also influenced the maternal morbility of the pregnancy and delivery women caused pregnancy bleeding. Those social and cultural aspects are such as customs, peoples?s belief in taboo as awhole good practices and poor practices, belief in religious, magic and the supernatural, rules, norm, attitudes, perceptions of health and illness. Those perceptions drived the women of Baduy think that pregnancies and deliveries are a common situation that was given, which is nothing special on it. This situation brings them minus of attentions from the peoples around. The situations as told above gives opportunities to the government or a provider concerned to increase the health conditions of the Baduy?s women with a designed model of the right and proper kinds of education for the peple whose can not receive a formal educations. Programmes which is designed to increase their thought and potential local indigineous to achief the health performances.

Read More
T-3578
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Wulandari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Budi Haryanto, Maria Margaretha, Rusmala Dewi
Abstrak:

Perubahan iklim berdampak signifikan terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dengan disabilitas. Studi ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengetahuan, persepsi, dan sikap perempuan penyandang disabilitas terhadap risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim di wilayah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap anggota dan pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan telah memahami isu perubahan iklim, namun pengetahuan mengenai penyebab, dampak, serta strategi adaptasi yang ramah disabilitas terkait perubahan iklim masih terbatas. Persepsi risiko perempuan penyandnag disabilitas rungu dan netra dalam penelitian ini dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, pengalaman pribadi, serta norma sosial budaya di lingkungan mereka. Kurangnya informasi yang dapat diakses dan hambatan dalam komunikasi menjadi aspek-aspek yang menghambat pemahaman mereka terhadap perubahan iklim dan respon adaptif yang dapat dilakukan. Penelitian ini menegaskan perlunya keterlibatan langsung dan bermakna dari perempuan penyandang disabilitas untuk menyuarakan kebutuhan dan kepentingan mereka dalam penyusunan kebijakan dan program adaptasi perubahan iklim, serta pengembangan sistem informasi dan layanan yang inklusif dan mudah diakses.


 

Climate change has a significant impact on health, especially for vulnerable groups such as women with disabilities. This study aims to explore in depth the knowledge, perceptions, and attitudes of women with disabilities towards the health risks posed by climate change in the DKI Jakarta area. This research uses an exploratory qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews with members and administrators of the Indonesian Women with Disabilities Association, as well as representatives from the DKI Jakarta Provincial Government. The findings show that most informants understand the issue of climate change, but their knowledge of the causes, impacts, and disability-friendly adaptation strategies related to climate change is still limited. The risk perceptions of women with hearing and visual disabilities in this study are influenced by factors such as knowledge, personal experience, and social and cultural norms in their environment. The lack of accessible information and communication barriers are aspects that hinder their understanding of climate change and the adaptive responses that can be taken. This study underscores the need for the direct and meaningful involvement of women with disabilities in voicing their needs and interests in the formulation of climate change adaptation policies and programs, as well as in the development of inclusive and accessible information systems and services. 

 

Read More
T-7306
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wening Sukmawati; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Baby Jim Aditya
Abstrak: Latar Belakang: Di Indonesia, total populasi narapidana wanita meningkat dari tahun 2000 sebanyak 1.807 orang menjadi 6.876 orang pada tahun 2016 (Walmsey, 2016). Sebanyak 58% lapas di Indonesia mengalami overcrowded (Indana, 2016). Overcrowded tersebut menyebabkan persebaran penyakit menjadi lebih cepat, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan di Lapas (Ditjenpas, 2017). Tujuan penelitian : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi WBP terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Lapas Perempuan Klas IIA Bandung tahun 2017. Metode penelitian: Kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: Faktor internal yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan, yaitu: pengalaman pelayanan kesehatan (p=0,038, POR=2,430), pendidikan (p=0,016, POR=2,676), dan motivasi memperoleh pelayanan kesehatan (p=0,031, POR=2,396) dan faktor eksternal yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan yaitu pekerjaan (p=0,044, POR=2,380). Faktor paling dominan yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan adalah pendidikan. Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan antara lain: pengalaman, pendidikan,motivasi dan pekerjaan. Saran: Meningkatkan kerja sama lintas sektoral dengan melibatkan dinas kesehatan dan dinas sosial untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Kata kunci: Persepsi, Kualitas Pelayanan Kesehatan Background: In Indonesia, the number of female prisoners population increased from 2000 to 1.807 people to 6.876 in 2016 (Walmsey, 2016). 58% of prisons in Indonesia are over crowded (Indana, 2016). More density of the disease spread becomes faster, thus impacting the quality of health services in prisons (Ditjenpas, 2017). Objective: To know factors related to perception of prisoner to health service quality in Women Prison Class IIA Bandung 2017. Method : The type of this research was a quanitative. This study design was cross sectional study involving sample of 122 respondents, it was using simple random sampling. Data collection using questionnaires. Result: There are Internal factors related to perception of health service quality, that is: health service experience (p = 0,038, POR = 2,430), education (p = 0,016, POR = 2,676), and motivation to get health service (p = 0,031, = 2,396) and external factors related to the perception of health service quality that is work (p = 0,044, POR = 2,380). The most dominant factor related to the perception of quality of health service is education. Conclusion: Factors related to the perception of quality of health services: experience, education, motivation and work. Suggestion: Increase cross-sectoral cooperation by involving health offices and social services to improve the quality of health services. Keywords: Perception, Quality of Health Services
Read More
T-5085
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roji Suherman; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tri Krianto, Ahmad Syafiq, Dewi Syarifah, Dadang Wihana
T-2758
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hartini; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Rita Damayanti, Dian Ayubi, Nana Mulyana, Muh. Danial Umar
Abstrak: Kekambuhan skizofrenia merupakan masalah yang terjadi di Rumah Sakit JiwaProvinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang. Jumlah penderita skizofrenia yangkambuh terjadi peningkatan disetiap bulannya. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat tahun 2014 dari bulan Januari 48, Februari 55, Maret 60.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai gambaran kekambuhan pada penderita skizofrenia di Kota Singkawang Provinsi Kalimantan Barat tahun 2014.Desain penelitian yang dipakai yaitu metode kualitatif, penelitian ini dilakukan padabulan Mei-Juni 2014 teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam.Hasil penelitian, penderita kambuh dan tidak kambuh terlihat bahwa pada keluargapenderita skizofrenia yang kambuh dukungan keluarga (pengetahuan, sikap, budaya,stigma) dan kepatuhan minum obat. Variabel tersebut yang mempengaruhi terjadinya kekambuhan terlihat bahwa masih ada keluarga yang memperlakukan penderitadengan kasar dan hanya memperhatikan minum obatnya saja namun kenyataannyamasih ada penderita yang tidak teratur minum obat. Sedangkan pada kasuspembanding yaitu pada keluarga penderita yang kambuh justru sebaliknya. Sedangkan pada kedua kelompok ini budaya disetiap suku terlihat penanganan yang berbeda-beda.Di butuhkan program terapi keluarga pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang Kata Kunci : Kekambuhan skizofrenia, dukungan keluarga, keluarga penderita kambuh dan tidak kambuh
Schizophrenia relapses is a problem that occurs in SingkawangMental Hospital, WestKalimantan Province. The number of patients with schizophrenia who relapseincreased every month. Based on the data, there was an increase of cases fromJanuary (48 cases), February (55 cases), and March (60 cases).The aims of this study isto find out information about the relapse overview inschizophrenia patients at Singkawang West Kalimantan Province in the year of2014.The study design used is a qualitative method. The study was conducted inMay-June 2014.In-depth interviewstechniques was used for data collection.The results showed there are five variables that influence the occurrence of relapse,ie family support (knowledge, attitudes,culture, stigma)and drug compliance. Thereare families still treat the patients with rude and only pay attention to take hismedication alone but in fact there are still people who do not regularly takemedication. While in the case of the comparison which is to the patient's family, justthe opposite is happening. While in the both groups, the handling look the difrent inevery cultures.Family therapy program is needed at the SingkawangMental Hospital, WestKalimantan Province.Keywords :schizophrenia relapses, family support, families of relapse and not-relapse patients
Read More
T-4144
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive