Ditemukan 32802 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
The performance of the current Posyandu program is not optimal. One of the problems that it faced is the lack of skills the cadres possessed. This is further exacerbated by the condition of COVID-19 which stopped the activities of Posyandu. Guidance is one way that can be done to increase the performance of Posyandu. One of the guidances carried out during the pandemic is guidance through the New Normal Posyandu program. This research aims to describe the evaluation of the implementation in NNP-supported Posyandu at selected Posyandu in Cisalak Village in 2022. This research uses the qualitative-descriptive method to describe input (human resources, cadres training, organizational structure, facilities and infrastructures, funding, and schedules of implementation), process (preparation, application of health protocols, weighing, plotting, counselling, recording and reporting, evaluation discussion, and home visit), and output (D/S and N/D? indicator) in three Posyandus (with Posyandu X and Y as supported Posyandu, and Posyandu Z as control group). Data collection was done through in-depth interviews, focus group discussion, observation, and documents review. Key-informant in this research was one Public Health Center Nutritionist, one person from Village?s Family Welfare Education Program, and one NNP program representative. Main-informant was head from each Posyandu, fifteen cadres in three Posyandus, and the supporting informant were twelve mothers of toddlers in three Posyandus. Research was done in X, Y, and Z Posyandu in Cisalak Village. The results showed that Posyandu guidance program by NNP can help two supported Posyandus to increase quality of the counseling from cadres to the community through provided training program. Program can also help Posyandu to conduct monthly activities and increase the quality of facilities and infrastructures of Posyandu. However, the quality of counseling in supported Posyandus are considered not optimal for all Posyandus.
ABSTRAK Masa balita merupakan masa kritis terlebih pada periode dua tahun pertama, dimana masa tersebut merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Adanya gangguan pertumbuhan dapat memberikan dampak negatif bagi baduta. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat maupun dalam waktu cukup lama. Gangguan pertumbuhan dalam waktu singkat (akut) sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit (misalnya diare dan saluran pernafasan) atau karena tidak cukupnya makanan yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan yang berlangsung dalam waktu lama (kronis) dapat terlihat pada hambatan pertambahan tinggi badan Dari hasil analisis situasi status gizi balita sebelum dan selama krisis, menunjukan adanya peningkatan prevalensi gizi buruk pada anak usia 6-17 bulan setelah terjadinya krisis. Pada tahun 2000 prevalensi gizi buruk pada anak usia 12-23 bulan sebesar 9,8 %, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 10,9 %. Kecamatan Pariaman Tengah merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota Pariaman Propinsi Sumatera Barat dengan prevalensi kurang gizi dari indikator BB/TB pada balita yang cukup tinggi. Pada tahun 2006 prevalensi kurang gizi sebesar 8,9% dan meningkat menjadi 13,5% pada tahun 2007. Namun dari cakupan program yang telah dilaksanakan telah mencapai target yang ditetapkan. Untuk mengetahui penyebab tingginya prevalensi kurang gizi di Kota Pariaman perlu dilakukan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan karakteristik responden dan pemanfaatan program gizi di posyandu dengan status gizi baduta usia 6-24 bulan di Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman Tahun 2008. Jenis penelitian ini adalah penelitian dekriptif analitik dengan desain crosssectional (potong lintang). Sampel diambil dengan menggunakan cara survei cepat dengan rancangan klaster. Klaster adalah Posyandu diwilayah Kecamatan Pariaman Tengah. Dari 46 posyandu, yang menjadi sampel adalah sebanyak 30 posyandu yang dipilih secara acak. Pemilihan responden dilakukan di posyandu sampel yang juga dipilih secara acak sederhana. Jumlah sampel adalah 300 orang yang diambil 10 baduta dari masing-masing posyandu sampel. Hasil penelitian didapatkan baduta yang mengalami kurang gizi dari indikator BB/TB di Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman Tahun 2008 sebesar 18,7 %. Hasil uji bivariat dengan chi square terdapat hubungan yang bermakna antara penyakit infeksi (p=0,0019, OR=3,026), asupan energi (p=0,020, OR=2,816), asupan protein (p=0,038, OR=2,012) dan tingkat pengetahuan ibu (p=0,045, OR=1,899 ) dengan status gizi baduta. Dari hasil analisis multivariat didapati faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baduta adalah Penyakit infeksi pada baduta. Baduta yang mengalami sakit infeksi mempunyai resiko 2,838 kali mengalami kurang gizi dibanding baduta yang tidak mengalami sakit infeksi setelah dikontrol dengan penyakit infeksi, asupan energi, asupan protein, tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan ibu. Melihat faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baduta adalah penyakit infeksi disarankan, agar jajaran kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk hidup sehat serta memberikan penyuluhan secara individu maupun secara berkelompok, tentang kesehatan, kebersihan lingkungan dan gizi.
