Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36101 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Harun Al Rosyid; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Irwan Panca Wariaseno, Yovsyah
Abstrak: Remaja merupakan fase lanjutan dari fase kanak-kanak sebelum menuju dewasa dengan pertumbuhan dan perkembangan pada aspek biologis, kognitif, psikososial, dan emosional. Pada fase tersebut, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencoba hal-hal baru termasuk terkait perilaku seksual berisiko pada remaja. Berdasarkan laporan SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) tahun 2017 bahwa remaja pria maupun wanita mencoba melakukan hubungan seksual pranikah pertama kali di usia 15-19 tahun dengan proporsi sebesar 8 persen untuk pria dan 2 persen untuk wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara pendidikan kesehatan reproduksi yang diterima pertama kali di sekolah terhadap perilaku seksual pranikah para remaja pria 15-19 tahun di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data SDKI KRR tahun 2017 dengan jumlah total sampel sebanyak 7.345 remaja yang sudah disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Hasil dari penelitian ini adalah tercatat sebanyak 6.966 (94.8%) remaja laki-laki usia 15-19 tahun yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah sedangkan remaja yang tidak pernah melakukan hanya sebanyak 379 (5.2%) remaja. Berdasarkan hasil bivariat didapatkan bahwa variabel pendidikan kesehatan reproduksi tentang sistem reproduksi manusia (p = 0.000), keluarga berencana (p = 0.000) dan HIV/AIDS (p = 0.002) memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual pranikah remaja. Selain itu, variabel yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja adalah komunikasi dengan guru (p = 0.004) dan tingkat pendidikan (p = 0.000 dan 0.008). Sedangkan variabel tempat tinggal tidak memiliki hubungan yang signifikan (p = 0.095).
Adolescence is an advanced phase from childhood before heading to adulthood with growth and development in biological, cognitive, psychosocial, and emotional aspects. Within the phase, adolescents have a high curiosity to try or explore new things, including risky sexual behavior in adolescents. Therefore, based on the IDHS report of 2017 on Adolescent Reproductive Health (KRR) that male and female adolescents tried to have premarital sex for the first time at the age of 15-19 years with a percentage of 8 percent for men and 2 percent for women. This study aims to determine the relationship between reproductive health education that received for the first time at school to the premarital sexual behavior of male adolescents aged 15-19 years in Indonesia. The data used in this study is IDHS data for the 2017 KRR with a total sample of 7.345 adolescents who have been adjusted by both of the inclusion and exclusion criteria of the study. This study used a cross sectional study design. The results of this study are there were 6,966 (94.8%) teenage boys aged 15-19 years who had premarital sexual intercourse, while only 379 (5.2%) teenagers who had not. Based on bivariate analysis, It was found that the variables of reproductive health education about the human reproductive system (p=0.000), family planning (p=0.000) and HIV/AIDS (p=0.002) had a significant relationship with adolescent premarital sexual behavior. In addition, variables related to adolescent premarital sexual behavior are communication with teachers (p = 0.004) and education level (p = 0.000 and 0.008). While the variable of residence did not have a significant correlation (p = 0.095).
Read More
S-11107
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noerachma Indah Amalia; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Sopari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan denganperilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakanmerupakan data SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2017 dengan sampelsebanyak 22.986 remaja belum menikah usia 15-24 tahun yang sesuai dengan kriteriainklusi dan eksklusi penelitian. Sebanyak 6,5% remaja mengaku pernah melakukanhubungan seksual pranikah.

Hasil penelitian multivariat menggunakan uji regresi logistikmenunjukkan bahwa umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi keluarga,daerah tempat, sikap terhadap hubungan seksual pranikah, pengaruh teman, pengalamankonsumsi alkohol, perilaku pacaran berisiko, dan perilaku merokok berhubungansignifikan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia. Faktorpaling dominan adalah perilaku pacaran berisiko, yaitu dengan nilai p = 0,000 dan aOR= 27,236 (95% CI: 19,979-37,129).

Kata kunci:Perilaku seksual, hubungan seksual pranikah, remaja, Indonesia.
Read More
S-10312
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harneda Noviva; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyonol Penguji: Yovsyah, Toha Muhaimin, Rahmadewi, Weni Muniarti
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang perilaku seksual berisiko pada remaja pria umur 15-18 tahun di Indonesia Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan sumber data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitfatif desain dengan studi crosss sectional. Sampel penelitian ini adalah remaja pria umur 15-18 tahun yang dikumpulkan berupa data sekunder dari data SDKI-KRR tahun 2017. Hasil analisis didapatkan bahwa pengaruh teman sebaya merupakan variabel yang paling dominan dengan perilaku seksual berisiko. Hal ini dapat dilihat Odds Ratio (OR) yang paling besar diantara variabel independen yang lainnya 4,974 (95% CI: 3,503-7,062), yang artinya remaja pria yang terpengaruh teman sebaya berisiko 4,974 kali lebih besar memiliki perilaku seksual berisiko dibandingkan remaja yang tidak terpengaruh teman sebaya

This thesis discusses risky sexual behavior in young men aged 15-18 years in Indonesia in 2017. This study uses secondary data from the Indonesia Health Demographic Survey (IHDS) data source in 2017. The design of this study uses a quantitative design method with crosss sectional study. The sample of this study was young men aged 15-18 years collected in the form of secondary data from the IHDS-Adolescent Reproductive Health data in 2017. The results of the analysis found that the influence of peers was the most dominant variable with risky sexual behavior. It can be seen that the highest odds ratio (OR) among other independent variables is 4.974 (95% CI: 3.503-7.062), which means young men who are affected by peers at 4.974 times more risky sexual behavior than unaffected adolescents friends of the same age.

Read More
T-5880
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuris Putri Pertiwi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Rahmadewi
S-9050
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Nurkhotami; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Hany Lestary
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku seksual pranikah danfaktor-faktor yang mempengaruhinya pada remaja kelas XI SMA Budhi WarmanII Jakarta Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan disain studi cross-sectionaldengan menggunakan data primer pada 146 remaja kelas XI di SMA BudhiWarman II Jakarta tahun 2013. Hasil menunjukkan bahwa proporsi perilakuseksual berisiko tinggi pada remaja kelas XI SMA Budhi Warman II Jakartaadalah 17,12%. Berdasarkan analisis bivariat, dapat diketahui dari faktor individuyang mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku seksual remaja adalahjenis kelamin laki-laki (PR= 3,39; 95% CI= 1,35-8,55), sikap permisif tinggiterhadap seksualitas (PR= 4,00; 95% CI= 1,59-10,08), pubertas dini (PR= 2,20;95% CI= 1,08-4,50), merokok (PR= 4,17; 95% CI= 2,10-8,28), dan konsumsialkohol (PR= 2,52; 95% CI= 1,25-5,12). Kemudian, dari faktor luar keluarga,yang mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku seksual remaja adalah mempunyai teman yang pernah melakukan HUS (PR= 7,50; 95% CI= 1,06-53,19)dan dorongan untuk melakukan HUS dari teman (PR= 4,81; 95% CI= 2,41-9,60).
Kata kunci : Remaja, Perilaku Seksual Pranikah
This thesis aims - describe premarital sexual behavior and the factors thatinfluence adolescent class XI SMA Budhi Warman II Jakarta in 2013. This studyis a cross-sectional study, which using primary data on 146 adolescents in the highschool class XI Budhi Warman II Jakarta in 2013. Results showed that theproportion of high-risk sexual behavior in adolescents class XI SMA BudhiWarman II Jakarta is 17.12%. Based on bivariate analysis, it has known, for theindividual factors which have a significant relationship with adolescent sexualbehavior are male gender (PR = 3.39, 95% CI = 1.35 - 8.55), high permissiveattitude -ward sexuality (PR = 4.00, 95% CI = 1.59 - 10.08), early puberty (PR =2.20, 95% CI = 1.08 - 4.50), smoking (PR = 4.17, 95% CI = 2.10 - 8.28), andalcohol consumption (PR = 2.52, 95% CI = 1.25 - 5.12). Then, for extra familialfactors, which have a significant relationship with adolescent sexual behavior arehaving friends who've done sexual intercourse (PR = 7.50, 95% CI = 1.06 -53.19), and the encourage to doing sexual intercourse from friends (PR = 4.81,95% CI = 2.41 - 9.60).
Keywords : Adolescents, premarital sexual behavior.
Read More
S-7745
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alin Aun Adyana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah; Flourisa Juliaan Sudradjat
S-7016
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusti Ayu Sindy Prabayuni; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Farida Ekasari
S-8574
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rafiqa Ghaisani Mahdiyyah; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Syafirah Hardani
Abstrak:
Latar Belakang : Kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun tetap menjadi masalah kesehatan reproduksi di Indonesia, sementara penggunaan kontrasepsi belum menunjukkan peningkatan yang stabil. Tujuan : Mengetahui gambaran penggunaan alat kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15-19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia. Metode : Penelitian menggunakan data SDKI 2002/2003, 2007, 2012, dan 2017 dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 766 remaja (2002/2003), 679 remaja (2007), 708 remaja (2012), dan 574 remaja (2017) yang aktif secara seksual dalam 4 bulan terakhir. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan pembobotan. Hasil : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia selama periode 2002/2003–2017 menunjukkan pola fluktuatif, yaitu 51,7%, 48,6%, 52,3%, dan 48,9%. Remaja yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung memiliki penggunaan kontrasepsi lebih tinggi dibandingkan remaja perdesaan. Penggunaan kontrasepsi relatif stabil pada remaja berpendidikan SD hingga SMP dan lebih tinggi pada kelompok kesejahteraan sedang pada beberapa tahun pengamatan. Akses terhadap fasilitas kesehatan berkaitan dengan proporsi penggunaan kontrasepsi yang lebih tinggi, sementara tingginya tingkat pengetahuan tentang metode keluarga berencana (>97%) belum sepenuhnya tercermin dalam praktik penggunaan kontrasepsi. Kesimpulan : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia masih belum stabil selama periode 2002/2003–2017. Meskipun pengetahuan tentang keluarga berencana sudah sangat tinggi, pemanfaatan kontrasepsi belum meningkat secara konsisten, sehingga diperlukan penguatan akses dan layanan kesehatan reproduksi yang lebih responsif terhadap kebutuhan remaja.

Background: Pregnancy among adolescents aged 15–19 years remains a major reproductive health concern in Indonesia, while contraceptive use in this age group has not shown a consistent increase.  Objective: To describe the use of contraceptive methods among sexually active adolescent females aged 15–19 years in Indonesia.  Methods: This study utilized data from the Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) 2002/2003, 2007, 2012, and 2017 with a cross-sectional design. The samples consisted of 766 adolescents (2002/2003), 679 adolescents (2007), 708 adolescents (2012), and 574 adolescents (2017) who had been sexually active within the past four months. Data were analyzed descriptively using sampling weights.  Results: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia during the 2002/2003–2017 period showed a fluctuating pattern, namely 51.7%, 48.6%, 52.3%, and 48.9%. Adolescents living in urban areas tended to have higher contraceptive use than those in rural areas. Contraceptive use was relatively stable among adolescents with elementary to junior high school education and higher among those with moderate welfare across several observation years. Access to health facilities was associated with a higher proportion of contraceptive use, while high levels of knowledge about family planning methods (>97%) were not fully reflected in contraceptive use practices.  Conclusion: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia remained unstable during the period 2002/2003–2017. Despite high levels of family planning knowledge, contraceptive use has not consistently increased, necessitating stronger access to and more responsive reproductive health services to adolescents' needs.
Read More
S-12165
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Rana Hanifah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Maria Gayatri
Abstrak:
Penggunaan kontrasepsi di Indonesia masih cukup rendah, terutama pada remaja wanita usia 15-24 tahun akibat adanya miskonsepsi, stigmatisasi, kurangnya otonomi, tekanan dari komunitas, hingga sulitnya akses ke pelayanan KB. Jika tidak ditangani, maka dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi niat penggunaan kontrasepsi pada wanita usia 15-24 tahun. Penelitian dengan desain studi cross-sectional ini berfokus pada wanita yang tidak sedang menggunakan kontrasepsi dan memiliki data luaran yang lengkap di SDKI 2017. Kemudian, data dianalisis secara univariat, bivariat dengan chi-square, dan stratifikasi. Dari 11.121 responden, 89,3% memiliki niat penggunaan kontrasepsi. Faktor yang berhubungan dengan niat penggunaan kontrasepsi adalah status pernikahan, tingkat pendidikan, riwayat penggunaan kontrasepsi, jumlah anak hidup, sumber informasi KB, keterpaparan informasi KB dari media, diskusi KB, dan pengetahuan metode kontrasepsi. Namun, semua hubungan bersifat lemah atau hampir tidak ada perbedaan. Indonesia perlu menyediakan pendidikan seksual yang komprehensif dan terintegrasi dengan pelayanan KB yang lebih ramah remaja agar tumbuh motivasi sejak dini dan penggunaan kontrasepsi di masa mendatang meningkat. Penelitian mengenai kontrasepsi pada remaja juga tetap perlu dikembangkan dengan metode yang lebih baik.

Contraceptive use in Indonesia is still quite low, especially among young women aged 15-24, due to misconceptions, stigmatization, lack of autonomy, pressure from society, and difficulty accessing family planning services. If left untreated, it can increase the risk of unwanted pregnancy. This study aims to examine the factors that influence the intention to use contraceptives in women aged 15-24 years. This research with a cross-sectional study design focused on women who were not currently using contraception and had complete outcome data in the 2017 IDHS. Then, the data were analyzed univariately, bivariate with chi-square, and stratified. Of the 11,121 respondents, 89.3% had the intention to use contraception. Factors related to the intention to use contraception were marital status, education level, history of contraception use, number of living children, sources of family planning information, exposure to family planning information from the media, family planning discussions, and knowledge of contraceptive methods. However, all relationships are weak or almost no difference. Indonesia needs to provide comprehensive sexual education and integrated with family planning services that are more youth-friendly so the motivation grows from an early age and future use of contraception increases. Research on contraception in adolescents also still needs to be developed with better methods
Read More
S-11266
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive