Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34932 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lutfiani Fajrin; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Nurhayati Adnan, Helmi; Ahmad Hidayat
Abstrak:
Reinfeksi Covid-19 didefinisikan sebagai telah sembuh dari infeksi COVID-19 kemudian terinfeksi kembali. Banyaknya laporan kejadian reinfeksi dibeberapa negara seperti Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, dan negara lainnya menunjukkan besaran masalah reinfeksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang beresiko terhadap kejadian reinfeksi COVID-19. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dalam mengetahui faktor resiko reinfeksi COVID-19. Subjek penelitian ini adalah pasien dengan riwayat reinfeksi yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi dari data surveilans epidemiologi di RSDC Wisma Atlet, Jakarta pada bulan Juli – Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 variabel yang berhubungan dengan reinfeksi COVID-19 pada pasien RSDC WAK: usia 30-39 tahun (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), usia ≥40 tahun (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), variabel pekerjaan; non-nakes (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), nakes (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), riwayat kontak erat (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), penggunaan transportasi umum (POR: 1.36, 95% CI:1.02-1.79), perjalanan ke luar daerah (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), bepergian ke fasilitas umum (POR: 2.01, 95% CI: 1.45-2.78), status vaksin; vaksin dosis 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), dan belum vaksinasi (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Determinan atau faktor prediktor dominan reinfeksi COVID-19 pada pasien rawat inap RSDC WAK adalah variabel bepergian ke fasilitas umum.

COVID-19 reinfection defined as a person who has recovered from infection with COVID-19 then re-infected. The number of reinfection report in several countries such as Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, and the other country shows the magnitude of the reinfection problem. Therefore, this study was conducted to determine risk factor of COVID-19 reinfection. This study is an analytical study with a cross-sectional to determine the risk factors of COVID-19 reinfection. The subjects of this study were patients with a history of reinfection who met the inclusion and exclusion criteria from secondary data (epidemiological surveillance data) at the RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (RSDC WAK) in July – December 2021. The results showed that there were 7 variables related to the incidence of reinfection of COVID-19 in RSDC WAK patients, including: age; age 30-39 years old (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), age ≥40 years old (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), occupation; non-health workers occupation (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), health worker occupation (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), history of close contact (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), public transportation uses (POR: 1.36, 95% CI: 1.02-1.79), travel outside the region (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), visit public facilities (POR: 2.01, 95% CI: 1.45 -2.78), vaccine status; vaccinated doses 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), and unvaccinated (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Predictor of COVID-19 reinfection in inpatients at RSDC WAK is visit public facilities.
Read More
T-6560
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alek; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda; Inggar Wati
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu komorbid dari COVID-19 yang diduga dapat menyebabkan meningkatkan keparahan dan kematian pasien COVID-19. penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hipertensi terhadap tingkat keparahan Covid-19 pada pasien di RS Darurat Wisma Atlit Kemayoran.
Metode: Penelitian menggunakan desain studi Kohort Retrospektif, populasi dalam penelitian ini adalah pasien tekonfirmasi positif COVID-19 dengan Gejala di RS Darurat Wisma Atlit Kemayoran pada bulan Juli - Desember 2021.
Hasil: Pasien terkonfirmasi COVID-19 di RSDC Wisma Atlit Kemayoran dari bulan Juli sampai dengan 31 Desember 2021 jumlah pasien yang terkonfirmasi COVID-19 berjumlah sebanyak 20.006 pasien Setelah dilakukan eksklusi terhadap pasien dengan usia 0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara hipertensi terhadap tingkat keparahan Covid-19. Resiko pasien mengalami Covid-19 dengan kategori berat tidak berhubungan dengan adanya hipertensi (RR=1). Setelah dikontrol dengan jenis kelamin dan peran hipertensi terhadap keparahan Covid-19 masih sulit ditentukan karena convidence interval yang tidak presisi atau melewati null value yaitu RR=1,038

Background: Hypertension is one of the comorbidities of COVID-19 which is thought to increase the severity and death of COVID-19 patients. This study was to determine the relationship of hypertension to the severity of Covid-19 in patients at the Wisma Atlit Kemayoran Emergency Hospital.
Method: The study used a retrospective cohort study design, the population in this study were patients who were confirmed positive for COVID-19 with symptoms at the Wisma Atlit Kemayoran Emergency Hospital in July - December 2021.
Results: Patients with confirmed COVID-19 at the Wisma Atlit Kemayoran Hospital from July to December 31, 2021, the number of confirmed COVID-19 patients was 20,006 patients. After exclusion of patients 0.05) means that there is no significant relationship between hypertension and the severity of Covid-19. The risk of patients experiencing Covid-19 in the severe category was not related to the presence of hypertension (RR = 1). After controlling for gender and the role of hypertension on the severity of Covid-19, it is still difficult to determine because the confidence interval is not precise or passes the null value, namely RR = 1.038
Read More
T-6497
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Prnguji: Mondastri Korib Sudaryo, Yulismar, Dra Deksa Presiana
T-4662
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Asy`ari; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah; Krishna Adi Wibisana
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kelurahan Jatisampurna Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitia cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 308 responden, dengan proporsi perempuan 64% dan laki-laki 36%. Hasil penelitian ini menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 80,2%. Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah kelelahan (64%), brain fog (30.5%), dan batuk kering (21.8%). Analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dan pekerjaan dengan kejadian Long COVID. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian Long COVID (p= 0,011 OR=2,157) dan komorbid dengan kejadian Long COVID (p= 0,006 OR= 2,652).
Read More
S-10798
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Ayu Lanniari Harahap; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Chita Septiawati, Mohammad Fahdhy
Abstrak: Peningkatan jumlah kasus COVID-19 dan penyebarannya di berbagai negara terjadi berlangsung cukup cepat dan dalam waktu singkat. Hingga 4 Mei 2021, total kasus konfirmasi COVID-19 global adalah 152.534.452 dengan 3.198.528 kematian. Pemerintah Indonesia telah melaporkan 1.682.004 orang dengan COVID-19 yang dikonfirmasi, tertinggi di Asia Tenggara. Sebanyak 45.949 kematian terkait COVID-19 yang dilaporkan, dengan CFR sebesar 2,7%. Kematian akibat COVID-19 di Indonesia berada pada peringkat ke-2 di Asia dan ke-17 di dunia. Studi kasus-kontrol dilakukan menggunakan data rekam medis pasien COVID-19 di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Maret 2020-Desember 2020. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien COVID-19. Hasil penelitian melalui analisis multivariat logistik regresi menunjukkan bahwa, adanya peningkatan risiko terhadap kematian pada usia ≥ 60 tahun (OR=5.495, 95% CI: 2.398-12.591), demam (OR=4.441, 95% CI: 1.401-14.077), sesak napas (OR=8.310, 95% CI: 3.415-20.220), riwayat hipertensi (OR=2.454, 95% CI: 1.159-5.196), riwayat penyakit ginjal kronik (OR=10.460 kali, 95% CI: 3.282-33.331), riwayat penyakit kanker (OR=16.137, 95% CI: 2.798-96.147) pada pasien COVID-19 yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2020
The increase in the number of cases of COVID-19 and its spread in various countries occurred quite quickly and in a short time. As of May 4, 2021, the total global confirmed cases of COVID-19 were 152,534,452 with 3,198,528 deaths. The Indonesian government has reported 1,682,004 people with confirmed COVID-19, the highest in Southeast Asia. A total of 45,949 COVID-19-related deaths were reported, with a CFR of 2.7%. Deaths from COVID-19 in Indonesia are ranked 2nd in Asia and 17th in the world. A case-control study was conducted using medical records of COVID-19 patients at Haji Adam Malik General Hospital in Medan for the period March 2020-December 2020. This study describes the characteristics and identifies factors associated with death in COVID-19 patients. The results of the study through multivariate logistic regression analysis showed that there was an increased risk of death at age 60 years (OR = 5,495, 95% CI: 2,398-12,591), fever (OR = 4,441, 95% CI: 1,401-14,077), shortness of breath. breath (OR=8,310, 95% CI: 3,415-20,220), history of hypertension (OR=2,454, 95% CI: 1.159-5,196), history of chronic kidney disease (OR=10,460 times, 95% CI: 3.282-33,331) history of cancer (OR=16,137, 95% CI: 2,798-96,147) in COVID-19 patients who were hospitalized at Haji Adam Malik General Hospital Medan in 2020
Read More
T-6315
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.A. Della Patrisia Pramesti; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Andri Mursita
Abstrak: latar belakang: prevalensi stunting di provinsi dki jakarta dan beberapa kabupaten/kota di dalamnya masih berada di atas 20% berdasarkan beberapa riset berbeda di tahun 2013, 2015, dan 2016. stunting masih menjadi masalah gizi di wilayah tersebut.
tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita 6-59 bulan di provinsi dki jakarta tahun 2016.
metode: penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder yaitu data pemantauan status gizi 2016. penelitian ini menggunakan sampel sejumlah 1562 balita untuk menganalisis 10 faktor risiko stunting.
hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting dalam penelitian ini sebesar 21.1%. hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stunting diantaranya adalah usia balita (por = 1.62, 95% ci = 1.23-2.12), jumlah balita dalam rumah tangga (por = 3.24, 95% ci = 1.08-9.71), dan pendidikan ibu (por = 1.52, 95% ci = 1.18-1.95).
kesimpulan: prevalensi stunting di provinsi dki jakarta dalam penelitian ini masih diatas 20% dan hanya ada tiga faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting.
kata kunci : stunting, gizi, balita.
Read More
S-9604
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soraya Hidayati; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Ririn Saptorini
Abstrak: Jumlah penderita dan kasus kematian akibat infeksi virus COVID -19 setiap harinya terus bertambah dan terus muncul varian virus COVID yang baru. Lebih dari 80% kematian karena COVID-19 terjadi pada penderita yang berusia di atas 65 tahun dan memiliki riwayat komorbid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktorfaktor yang dapat meningkatkan risiko kematian COVID-19 pada pasien lansia yang melakukan rawat inap di RSUD Karanganyar Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari file data base rekam medis pasien rawat inap di RSUD Karanganyar yaitu sebanyak 322 pasien lansia Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk menguji hubungan variabel independen jenis kelamin, TBC paru, diabetes mellitus, ginjal kronis, stroke, dan jantung dengan kematian pasien COVID-19 lansia sebagai variabel dependennya Sebanyak 61 (18,9%) pasien COVID-19 lansia meninggal dunia. Sebanyak 33 (54,1%) pasien lansia adalah perempuan
Read More
T-6404
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Marisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Nining Mularsih
Abstrak:
Laki-laki Seks laki-laki (LSL) memiliki risiko yang lebih tinggi tertular HIV 26 kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Prevalensi HIV usia dewasa antara 15-49 tahun di Indonesia adalah 0,7% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada kelompok LSL di puskesmas yang memberikan layanan PrEP di Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari aplikasi App.prepid.org, SIHA dan rekam medis pasien di Puskesmas yang memberikan layanan PrEP di Jakarta. Populasi penelitian adalah semua LSL yang dilayani di puskesmas yang memberikan layanan PrEP di Jakarta, sampel 408 orang adalah seseorang LSL, berusia >17 tahun yang diperiksa data di aplikasi App.prepid.org, SIHA dan rekam medis nya lengkap. Variabel yang diteliti antara lain penggunaan PrEP, usia, tingkat pendidikan, penggunaan kondom, status HIV pasangan tetap, status HIV pasangan lainnya, riwayat IMS dalam 6 bulan terakhir. Hasil penelitian berdasarkan analisis multivariat menggunakan SPSS, untuk uji statistic p-value < 0,05 menunjukkan faktor Pendidikan perguruan tinggi (HR 0,028 CI 95% 0,002-0,486) dan penggunaan kondom (HR 0,205 CI 95% 0,026-1,624) menurunkan risiko infeksi HIV sedangkan status pasangan tetap ODHIV (HR 2,990 CI 95% 0,829-10,792) dan riwayat IMS dalam 6 bulan terakhir (HR 4,872 CI 95% 1,681-14,119) dapat mengingkatkan risiko terinfeksi HIV.

Men sex men (MSM) have a 26 times higher risk of HIV infection than the general population. The prevalence of HIV among adults aged 15-49 in Indonesia is 0,7% by 2022. This research aims to identify factors associated with the incidence of HIV infection in the MSM group in the puskesmas that provide PrEP services in Jakarta. The study uses a retrospective cohort design using secondary data from the App.prepid.org application, SIHA and medical records of patients in Puskesmas who provide PrEP services in Jakarta. The population of the study is all MSMs served in the PrEP service in Jakarta, the sample of 408 people is someone MSM, aged >17 years who examined the data in the app.preped.org, SIHA and his complete medical records. The variables studied include PrEP use, age, education level, condom use, history of a spouse staying with PLHIV, other spouse status unknown, history of STIs in the last 6 months. Research results based on multivariate analysis using SPSS, for a statistical test p-value < 0,05 showed that college education level (HR 0.028 CI 95% 0.002-0.486) and condom use (HR 0.205 CI 95% 0.026-1.624) reduced the risk of HIV infection while permanent partner status of PLHIV (HR 2.990 CI 95% 0.829-10.792) and history of STIs in the last 6 months (HR 4.872 CI 95% 1.681-14.119) can increase the risk of HIV infection.
Read More
T-7100
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henik Saefulmilah; Pembimbing: Tri Yunis Miko; Penguji: Putri Bungsu, Budi Rahayu
Abstrak: Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh bakteri, iritasi kimiamaupun mekanik, kejadian phlebitis di RSPG Cisarua Bogor merupakan angkainfeksi rumah sakit yang tertinggi selama tahun 2015 yaitu sebesar 18,5%.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan faktor-faktor yangberhubungan dengan kejadian phlebitis pada pasien rawat inap di RSPG CisaruaBogor tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain case control, sampelpenelitian 100 kelompok kasus dan 200 kelompok kontrol, lokasi penelitian diRSPG Cisarua Bogor.Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadianphlebitis di RSPG Cisarua Bogor tahun 2015 adalah usia (P value 0,001; OR12,86; 95% CI 1,7-98,2), status gizi (P value 0,001; OR 0,4; 95% CI 0,2-0,7),lama hari rawat (P value 0,001; OR 2,24; 95% CI 1,36-3,70), dan proses masukrawat (P value 0,052; OR 0,43; 95% CI 0,19-0,95). Dengan demikian diharapkanperawat diberikan pelatihan khusus untuk dapat melakukan perawatan lebih baikdalam pemasangan dan pemeliharan intravena line (IVL) terutama pada pasien-pasien yang berisiko tersebut.Kata Kunci : Phlebitis, faktor-faktor, pasien.
Phlebitis is an inflammation of a vein caused by bacteria, chemical or mechanicalirritants, the incidence of phlebitis in RSPG Cisarua Bogor a hospital infectionrates are highest during the year 2015 with numbers cumulatif incidence of18.5%. This study aims to determine the distribution and factors related to theincidence of phlebitis in patients hospitalized in RSPG Cisarua Bogor in 2015.This study used case control design, sample 100 in the case group and 200 in thecontrol group, with research sites in RSPG Cisarua Bogor.The results of this study indicate that factors that influence the incidence ofphlebitis in RSPG Cisarua Bogor in 2015 were age (P value 0.001; OR 12.86;95% CI 1.7 to 98.2), nutritional status (P value 0.001; OR 0.4; 95% CI 0.2 to 0.7),length of stay (P value 0.001; OR 2.24; 95% CI 1.36 to 3.70), and the process ofadmission (P value 0.052 ; OR 0.43; 95% CI 0.19 to 0.95). Nurses are expected tobe given specialized training to be able to do better care in the installation andmaintenance of intra venous line (IVL), especially in patients who are at risk.Keywords: phlebitis, factors, patient.
Read More
S-9037
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive