Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32372 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Adi Riza Darma; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Baiduri Widjanarko, Dewi Rahayu
S-4244
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rima Muliani; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Penguji: Dadan Erwandi, Neneng Churaeroh
Abstrak:

Di perkantoran, karyawan dituntut untuk meneyelesaikan tuntutan pekerjaannnya masing-masing. Biasanya karyawan duduk statis dikursi dengan dimensi tubuh yang bervariasi. Dimensi tubuh manusia terdiri dari bemacam-macam variasi seperti pada dimensi kerangka tubuh, lengan dan kaki. Oleh karena itu kursi kantor harus disesuaikan dengan dimensi tubuh karyawan pada umumnya, agar tidak terjadi kejenuhan kerja yang disebabkan karena dimensi kursi kantor yang tidak sesuai dan menyebabkan rasa sakit dan kelelahan pada tulang-tulang dan otot tubuh. Untuk itu, diperlukan ilmu ergonomi yang berkaitan juga dengan dimensi tubuh manusia yang dikenal sebagai antropometri dengan tujuan apakah kursi kantor yang digunakan oleh karyawan sudah sesuai atau belum. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data antropometri statis duduk dan dimensi kursi yang digunakan serta mengetahui apakah kursi kantor yang digunakan sekarang sudah sesuai dengan data antropometri karyawan di PT. X. Data antropometri statis duduk dan dimensi yang diambil adalah 7 variabel. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan, dengan objek penelitian 35 orang pria dan 30 orang wanita. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sama dengan total populasi. Disain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan melakukan studi perbandingan. Sedangkan analisa data yang digunakan adalah analisa univariat. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara mengukur langsung sampel dan dimensi kursi. Instrumen pengumpulan data adalah 1 buah meteran gulung, 1 buah penggaris siku-siku. Sebagai alat bantu, digunakan kursi kayu tanpa sandaran dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm. Sedangkan proses pengolahan data secara komputerisasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Hasil pengukuran 7 variabel antropometri dengan menggunakan 95%ile adalah tinggi bahu duduk, lebar bahu atas, lebar pinggul, panjang dari siku ke ujung jari dan 5%ile terdiri dari panjang dari pantat sampai lutut bagian belakang, tinggi lutut bagian belakang, sedangkan rata-rata yaitu tinggi siku duduk. 2. Ada dua variabel dimensi kursi yang sesuai dengan antropometri tubuh karyawan yaitu: tinggi sandaran lengan, panjang alas tempat duduk. Sedangkan variabeln dimensi kursi yang tidak sesuai dengan dimensi antropometri tubuh karyawan yaitu: tinggi sandaranb punggung, tinggi tempat duduk, lebar sandaran punggung, lebar alas tempat duduk, panjang snadaran lengan. Dari hasil penelitian ini diharapkan bagi pihak manjemen perusahaan dapat menjadi bahan evaluasi bagi PT. X terhadap kursi kantor yang digunakan pada saat ini.

Read More
S-5299
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Joko Susanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaedi; Penguji: Soehatman Ramli, Karel Piet
T-2134
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M.Yuzar Virza; Pembimbing: Chandra Satrya
S-2654
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.M. Yodan Amaral Panindrus; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Soehatman Ramli
T-2385
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neni Julyatri Sagala; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mufti Wirawan, Dadan Erwandi, Erdiana Muliawaty, Dina Ramadhani
Abstrak: Covid-19 merupakan penyakit infeksius dengan tingkat penularan yang tinggi dan sebagian besarnya menyerang sistem organ pernapasan. Pemerintah Indonesia menghimbau pekerja untuk bekerja dari rumah dan pembatasan ketat aktivitas perkantoran sebagai salah satu upaya dalam rangka pengendalian Covid-19. Sebelumnya, sistem kerja work from home atau telework belum diadopsi secara luas di Indonesia. Perubahan sistem kerja ini berdampak pada perubahan konteks pekerjaan yang menyebabkan bahaya psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor psikososial (karakteristik individu, content of work, dan context to work) dan stres kerja di masa pandemi Covid-19 pada pekerja perkantoran di Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Penelitian dilakukan pada pekerja perkantoran yang bekerja dengan sistem telework di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Desember 2020 sampai Februari 2021. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 110 responden yang diambil dengan teknik pengambilan snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah Copenhagen Psychosocial Questionnaire versi III. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square .Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor psikososial context to work konflik peran (nilai p 0,014; OR 2,095), job insecurity (nilai p 0,023; OR 2,714), dan work life balance (nilai p 0,003; OR 3,715). Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik individu (umur dan jenis kelamin), content of work (beban kerja, durasi kerja WFH, Pola WFH), dan context to work (ketidakjelasan peran) dengan stres kerja
Covid-19 is an infectious disease with high transmission rate and mostly attacks the respiratory organ system. Indonesian government urges people to work from home and and strict restrictions on office activities an effort to control Covid-19. Previously, the work from home or telework system had not been widely adopted in Indonesia. This change of work system has an impact on transformation of work context that cause psychosocial hazards. This study aims to analyze psychosocial factors (individual characteristics, content of work, and context to work) and work related stress during Covid-19 pandemic among office workers in Jakarta. This research is quantitative research with cross-sectional design. The study was conducted on office workers who work with the telework system in DKI Jakarta Province from December 2020 to February 2021. The number of samples in this study was 110 respondents taken by snowball sampling technique. Data collection is done by online. The questionnaire used in this study was Copenhagen Psychosocial Questionnaire version III. Data analysis was carried out using the chi square statistical test. The results showed that there was a significant relationship between psychosocial factors in the work context of role conflict (p-value 0.014; OR 2.095), job insecurity (p-value 0.023; OR 2.714), and work life balance. (p value 0.003; OR 3.715). There was no significant relationship between individual characteristics (age and gender), content of work (workload, WFH work duration, WFH pattern), and context to work (unclear role) with work related stress.
Read More
T-6199
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvina Winners Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Nur Fatayani
Abstrak:
Postur tubuh yang kurang nyaman saat melakukan pekerjaan dengan durasi yang lama dapat menyebabkan gangguan otot rangka akibat kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang hubungan dengan terjadinya gejala gangguan otot rangka akibat kerja pada pekerja perkantoran di Instansi X tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan metode penilaian postur tubuh pekerjan menggunakan metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Kemudian untuk penilaian keluhan gangguan otot rangka secara subjektif menggunakan NBM (Nordic Body Map). Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko keluhan gangguan otot rangka akibat kerja pada tingkat menengah maka perlu investigasi lebih lanjut untuk melakukan perbaikan. Penilaian menggunakan Nordic Body Map menghasilkan nilai sebesar 91,40% pekerja yang mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja. Bagian tubuh yang sering mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja seperti: leher bagian atas, leher bagian bawah, punggung dan pinggang. Distribusi keluhan yang dirasakan pekerja umur

An uncomfortable posture when doing work for a long duration can cause work-related musculoskeletal disorders. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the occurrence of symptoms of work-related musculoskeletal disorders in office workers at Institution X in 2023. This study used a cross-sectional design and the occupational posture assessment Rapid Office Strain Assessment (ROSA) method then to assess complaints of musculoskeletal disorders as a whole subjectively using the NBM (Nordic Body Map). The results showed that the level of risk of complaints of musculoskeletal disorders due to work at the intermediate level requires further investigation to make improvements. Assessment using the Nordic Body Map yielded a value of 91.40% of workers who experienced complaints of musculoskeletal the skeleton due to work The parts of the body that often experience complaints of musculoskeletal disorders due to work such as: upper neck, lower neck, back and waist Distribution of complaints felt by workers aged
Read More
S-11401
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran

Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
Read More
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selamat Riyadi; Pembimbing: Hendra. Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Rakhmat Soebekti. Rosdja Purnama
T-2081
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Tarmedi Praja; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono; Penguji: Robiana Modjo, Lukman Hakim Siregar
T-2159
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive