Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40698 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Henny Kurniati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Dwi Gayatri; Endang L. Achadi , Mahmud Fauzi
Abstrak:
Obesitas merupakan permasalahan global yang semakin sering ditemukan diberbagai negara. Obesitas berkaitan erat dengan permasalahan penyakit tidak menular lainnya dan menyebabkan kematian pada 2,80 juta orang dewasa setiap tahunnya. Beberapa penelitian menemukan bahwa obesitas dapat disebabkan oleh status pertumbuhan individu pada usia dini. Sementara itu prevalensi obesitas saat dewasa di negara berkembang juga meningkat bersamaan dengan tingginya prevalensi kekurangan gizi pada masa anak-anak. Beberapa studi menunjukkan adanya fenomena catch up growth atau mengejar ketertinggalan pertumbuhan yang berdampak pada kelebihan gizi di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan status gizi stunting saat balita terhadap risiko obesitas saat dewasa di Indonesia berdasarkan analisis data Indonesia Family Life Survey tahun 1993 dan 2014. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Besar sampel yang digunakan adalah 588 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi stunting saat balita terhadap risiko obesitas saat dewasa (p=0,003). Hasil analisis multivariat juga menunjukkan bahwa responden dengan status gizi stunting saat balita cenderung 1,63 (95% CI 1,18-2,27) kali berisiko mengalami obesitas saat dewasa setelah dikontrol variabel riwayat obesitas ibu, jenis kelamin, berat badan lahir, dan daerah tempat tinggal. Perlu penguatan program gizi spesifik, seperti pemeriksaan antenatal care (ANC) pada ibu hamil dan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK). Selain itu adanya upaya penguatan edukasi pada remaja perempuan saat mulai memasuki masa pubertas, dengan cara mengkonsumsi makanan yang tinggi protein seperti telur, susu, daging, ikan, keju, kerang dan udang. Protein nabati juga dianjurkan untuk dikonsumsi seperti tempe, tahu dan kacang- kacangan.

Obesity is a global problem that is increasingly found in various countries. Obesity is closely related to other non-communicable disease problems and causes death in 2,80 million adults each year. Several studies have found that obesity is also caused by an individual growth status in early age. Meanwhile, the prevalence of obesity as adults in developing countries has also increased, the prevalence of malnutrition in childhood was high. Several studies have shown that there is a catch- up growth phenomenon that results in excess nutrition in the future. The purpose of this study was to determine the relationship between stunting in childhood to the risk of obesity in adulthood in Indonesia based on analysis of Indonesia Family Life Survey data in 1993 and 2014. We used a retrospective cohort study. The sample size was 588 respondents based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that the nutritional status of stunting in children associated with the risk of obesity in adolescent (p=0,003). The results of the multivariate analysis also showed that respondents with stunting nutritional status in children tended to be 1,63 (95% CI 1,18-2,27) times at risk of developing obesity in adolescent after controlling for the variables of history of maternal obesity, sex, birth weight, and area of residence. It is necessary to strengthen specific nutrition programs, such as antenatal care examinations for pregnant women and provision of additional food for pregnant women with chronic energy deficiency. In addition, there are efforts to strengthen education for teenager when they start entering puberty, by consuming foods that consist of high protein such as eggs, milk, meat, fish, cheese, shellfish, and shrimp. Plant-based or nabati protein is also recommended for consumption such as tempe, tofu, and nuts.
Read More
T-6626
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuliana Zahra; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Ratna Djuwita, Telly Purnamasari Agus
Abstrak:
Stunting saat balita dapat memiliki dampak jangka panjang berupa perubahan permanen dalam metabolisme tubuh, termasuk dalam cara tubuh mengelola glukosa dan insulin, yang berakibat pada risiko diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stunting saat balita terhadap kejadian diabetes melitus saat dewasa muda di Indonesia berdasarkan analisis data Indonesia Family Life Survey tahun 1993 dan 2014. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Terdapat 239 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression. Hasil penelitian menunjukkan proporsi kejadian diabetes melitus saat dewasa muda usia 23-26 tahun di Indonesia tahun 2014 adalah sebesar 3,35% dan proporsi kejadian stunting saat balita usia 2-5 tahun di Indonesia tahun 1993 adalah sebesar 47,28%. Pada analisis multivariat didapatkan stunting saat balita berisiko 1,17 (95% CI 0,29-4,71) kali lebih besar mengalami diabetes melitus saat dewasa muda dibandingkan dengan yang tidak stunting saat balita setelah dikontrol oleh variabel obesitas dan aktivitas fisik. Akan tetapi, hubungan ini tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Perlu adanya peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif dengan fokus pada pemenuhan gizi ibu hamil dan balita selama 1000 hari pertama kehidupan serta peningkatan skrining aktif penyakit tidak menular sejak dini.

Stunting in early childhood can have long-term effects, including permanent changes in body metabolism, particularly in glucose and insulin regulation, which may increase the risk of diabetes mellitus. This study aimed to examine the association between stunting in early childhood and the incidence of diabetes mellitus in young adulthood in Indonesia, using data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 1993 and 2014. A retrospective cohort design was used, involving 239 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using Cox regression. The results showed that the proportion of diabetes mellitus among young adults aged 23-26 in 2014 was 3,35%, while the proportion of stunting among children aged 2-5 in 1993 was 47,28%. Multivariate analysis indicated that those who were stunted in early childhood had a 1,17 times higher risk (95% CI : 0,29-4,71) of developing diabetes mellitus in young adulthood, after adjusting for obesity and physical activity. However, this association was not statistically significant (p>0,05). Strengthening both specific and sensitive interventions focused on maternal and child nutrition during the first 1,000 days of life and enhancing early screening for non-communicable diseases is recommended.

Read More
T-7381
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debri Rizki Faisal; Pembimbing: Syahrizal Syarif, Ratna Djuwita; Penguji: Nurhayati Adnan Prihartono, Abas Basuni Jahari, Rusli
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Debri Rizki Faisal Program Studi : Epidemiologi (Field Epidemiology Training Program) Judul : Pengaruh Status Gizi Stunting Saat Balita dan Obesitas Ketika   Dewasa Terhadap Risiko Hipertensi (Studi Longitudinal IFLS 1993 – 2014) Pembimbing : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia kurang dari -2 SD (standar deviasi). Kondisi stunting pada usia balita berdampak jangka panjang terhadap dewasa yang pendek dan rentan terhadap penyakit tidak menular ketika dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek gabungan kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa terhadap risiko hipertensi. Desain penelitian cohort retrospective menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) periode 1-5. Populasi target adalah balita usia 2-5 tahun pada tahun 1993 sebanyak 2.642 orang, kemudian di follow up hingga dewasa pada tahun 2014. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 588 orang. Analisis data menggunakan uji cox regression dengan 95%CI. Standar pengukuran sebagai berikut stunting (TB/U < -2 SD), obesitas (IMT ≥ 27 kg/m 2 ) dan hipertensi (≥ 140/90 mmHg). Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 588 orang dimana 13.27% mengalami hipertensi dengan proporsi orang yang stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa 27.27%. Analisis multivariate ditemukan bahwa responden dengan status gizi stunting dan obesitas berisiko 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) kali; obesitas dan tidak stunting 2.25 (95% CI; 1.12 – 4.50) kali; stunting dan tidak obesitas berisiko 0.95 (95% CI; 0.55 – 1.62) kali, mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami stunting saat balita dan tidak obesitas ketika dewasa. Risiko kejadian hipertensi meningkat 10.56% akibat interaksi antara kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa. Pentingnya pencegahan stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan mengoptimalkan Posbindu PTM dalam melakukan skrining obesitas dan hipertensi serta pengendalian faktor risiko PTM untuk menurunkan prevalensi penyakit tidak menular terutama obesitas dan hipertensi. Kata kunci: Stunting, Obesitas, Hipertensi, Kohort, Efek Gabungan.


ABSTRACT Name : Debri Rizki Faisal Study Program : Epidemiology (Field Epidemiology Training Program) Title : The Effect Of Early Stunting And Adult Obesity To Increase Risk Of Hypertension (Longitudinal Study IFLS 1993 – 2014) Counsellor : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting due to chronic malnutrition condition that is characterized by Height for Age Z score less than -2 SD (standard deviation). The early stunting in children under five years has a long-term impact on adults are short stature and vulnerable to risk non-communicable diseases in later life. This study aims to determine the joint effect of early stunting conditions and adult obesity to risk for hypertension. This study design was a cohort retrospective using secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) period 1-5. The target population was children aged 2-5 years in 1993 with numbers of 2,642 people and then follow up until adulthood in 2014. The number of samples that met the inclusion and exclusion criteria were 588 people. Data analysis used Cox regression test with 95% CI. Standard of measurements was stunting (HAZ <-2 SD), obesity (IMT ≥ 27 kg / m 2 ) and hypertension (≥ 140/90 mmHg). The results showed that of 588 people where 13.27% had hypertension where the proportion of respondent with early stunting and adult obese was 27.27%. Multivariate analysis found that respondents with nutritional status both early stunting and adult obesity have a risk of 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) times; obese and not stunting 2.25 (95% CI; 1.12 - 4.50) times; stunting and not obese 0.95 (95% CI; 0.55 - 1.62) times, for having risk of hypertension compared to respondents neither experience stunting and obese. The risk of hypertension increases 10.56% due to the interaction between early stunting and obesity adults. The importance prevention of stunting in The First 1000 Days of Life and optimize Posbindu PTM in screening obesity, hypertension and controlling risk factors NCD to reduce the prevalence of non-communicable diseases, especially obesity and hypertension. Key words: Stunting, Obesity, Hypertension, Cohort, Joint Effects.

Read More
T-5732
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsi Novitasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10301
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewiyana; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Asri C Adisasmita, Siti Nurul Qomariyah, Bambang Dwipoyono
Abstrak:

Komplikasi kehamilan adalah masalah kesehatan yang sering terjadi selama hamil dan berdampak pada mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi baru lahir. Peneliti tidak menemukan studi di Indonesia yang membahas komplikasi kehamilan secara umum pada kelompok usia <20 tahun dan ≥35 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia ibu saat hamil dengan kejadian komplikasi kehamilan di Indonesia menggunakan data IFLS V 2014/2015. Sampel yang di analisis pada penelitian ini berjumlah 1.325 setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis multivariat menggunakan uji multiple cox regression digunakan untuk mengetahui pengaruh usia ibu yang berisiko dalam menyebabkan komplikasi kehamilan pada populasi ibu yang pernah melahirkan pada tahun 2013-2015. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada sub populasi untuk jenis komplikasi tertentu. Hasil studi menunjukkan prevalensi komplikasi kehamilan sebesar 24%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik. Hasil akhir analisis multivariat, komplikasi kehamilan secara umum pada usia ibu saat hamil <20 tahun (aPR 0,98, 95% CI 0,60–1,57), sedangkan usia ibu saat hamil ≥35 tahun memiliki risiko 1,16 kali mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan kelompok usia ibu saat hamil 20-34 tahun setelah dikontrol kovariat (aPR 1,16, 95% CI 0,85–1,57). Terdapat peningkatan risiko pada sub populasi komplikasi kehamilan dan sub populasi komplikasi perdarahan antepartum baik pada usia ibu saat hamil <20 tahun atau ≥35 tahun.


Pregnancy complications are common health issues during pregnancy and impact maternal and neonatal mortality and morbidity. Author did not find studies in Indonesia that analyze pregnancy complications in general, particularly for maternal age of <20 years and ≥35 years. This study aims to analyze the relationship between maternal age and the occurrence of pregnancy complications in Indonesia using IFLS V data. The samples analyzed in this study was 1,325 after fulfilling the inclusion and exclusion criteria. Multivariate analysis with multiple cox regression was used to determine the effect of maternal age at risk in causing pregnancy complications in a population of mothers who gave birth in 2013-2015. This study also analyzed subpopulations was performed for specific types of complications. The results showed that prevalence of pregnancy complications was 24%. There was no statistically significant relationship. The final results of the multivariate analysis showed that pregnancy complications in general occurred in maternal age <20 years (aPR 0.98, 95% CI 0.60–1.57), while maternal age ≥35 years had a 1.16 times higher risk of experiencing pregnancy complications compared to maternal age 20-34 years after controlling covariates (aPR 1.16, 95% CI 0.85–1.57). There is an increased risk in the subpopulation of pregnancy complications and antepartum hemorrhage among maternal age <20 years or ≥35 years during pregnancy.

Read More
T-7021
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jahiroh; Pemb. Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Rusli
T-3889
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wira Hartiti; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Lukas C. Hermawan, Yuslely Usman
Abstrak: Preeklamsia/eklamsia merupakan salah satu penyebab utama penyumbangkematian ibu di Indonesia.Angka kematian ibu di Indonesia saat ini tergolongmasih tinggi di negara Asia.Salah satu penyebab terjadinya preeklamsia/eklamsiadiduga adalah adanya obesitas pada ibu. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui distribusi dan prevalensi faktor-faktor yang dapat mempengaruhiterjadinya preeklamsia/eklamsia serta mengetahui hubungan antara obesitasdengan kejadian preeklamsia/eklamsia pada ibu saat hamil atau bersalin diIndonesia tahun 2010 setelah dikendalikan oleh variabel usia ibu, jumlah paritas,pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu, status ekonomi, berat badan lahir bayi,riwayat merokok, riwayat abortus, kunjungan pelayanan antenatal dan kualitaspelayanan antenatal. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalahcross sectional menggunakan analisis multivariat dengan uji regresi logisticganda. Sampel penelitian dengan mengambil semua sampel Riset KesehatanDasar tahun 2010 yang eligible dari 33 provinsi yaitu sebanyak 5.112 responden(obesitas sebanyak 680 responden dan tidak obesitas sebanyak 4.432 responden),yang diambil dengan metode stratified two stagecluster design. Hasil penelitianterlihat prevalensi obesitas sebesar 13,30% dan preeklamsia/eklamsia sebesar3,91%. Terdapat hubungan obesitas dengan kejadian preeklamsia/eklamsia dengan Odd Ratio (OR) sebesar 1,88 (95% CI 1,33-2,66) setelah dikontrol olehvariabel usia ibu, berat badan lahir dan riwayat merokok. Jadi obesitas merupakansalah satu faktor yang cukup penting dalam menyebabkan terjadinya preeklamsia/eklamsia.Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat perlu berperanaktif dalam upaya pencegahan terjadinya preeklamsia/eklamsia dengan menjaga berat badan ideal sejak usia remaja sehingga tidak mengalami obesitas pada saathamil. Kata kunci : Preeklamsia/eklamsia, obesitas, Riset Kesehatan Dasar 2010
Preeclampsia/eclampsia is one of the major causes of maternal mortality inIndonesia. The maternal mortality rate in Indonesia is still relatively high in Asiancountries. One of the causes of preeclampsia/eclampsia is maternal obesity. Theaim of this studyis to know the distribution and prevalence of the factors thatcould affect the occurrence of preeclampsia/eclampsia and to know theassociation of the obesity and preeclampsia/eclampsia in the mother duringpregnancy or delivery in Indonesiain 2010,after controlled by maternal age,parity, mother's occupation, mother's education level, economic status, birthweight, history of smoking, history of abortion, antenatal visits and quality ofantenatal care variable. Study design is cross-sectional using multivariate analysiswith multiple logistic regression. The study sample by taking all sampled thateligible in 2010 Basic Health Survey are 5,112 respondents (680 respondentsobese and 4,432 respondents non-obese). Study result is shown the prevalence ofobesity was 13.30% and preeclampsia/eclampsia was 3.91%. There is arelationship of obesity and preeclampsia/eclampsia with Odds Ratios (OR) of1,88 (95% CI1,33 to 2,66) after controlled by maternal age, birth weight andsmoking history variable. So, obesity is a significant factor in the cause ofpreeclampsia/eclampsia. Therefore, the government and community should playan active role in the prevention of preeclampsia/eclampsia with maintaining ahealthy weight since their teens so not obese during pregnancy.Key word : Preeclampsia/eclampsia, obesity, 2010 Basic Health Survey
Read More
T-4154
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusnilawati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Felly Philipus Senewe
T-2344
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dara Puspita Dewi; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal Syarif, Hario Baskoro
Abstrak: Covid-19 telah mewabah ke hampir seluruh negara di dunia selama lebih dari satu tahun. Case Fatality Rate (CFR) dan Recovery Rate (RR) penyakit digunakan untuk menilai tingkat keparahan, risiko pada populasi dan mengevaluasi mutu fasilitas pelayanan kesehatan. Status gizi dapat memperburuk prognosis penyakit, ketahanan hidup, dan memperpanjang lama rawat inap. Obesitas menyebabkan morbiditas yang lebih tinggi saat perawatan di rumah sakit seperti kegagalan sistem pernafasan, pemindahan tempat rawat ke ICU dan meningkatkan tingkat kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit berdasarkan status gizi. Penelitian menggunakan desain studi kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien rawat inap terkonfirmasi Covid-19 tahun 2021 di RS Universitas Indonesia dan dianalisis menggunakan Cox Proportional Hazard Model. Hasil menunjukkan perbedaan probabilitas kesintasan antara pasien dewasa terkonfirmasi Covid-19 yang dirawat di RS Universitas Indonesia dengan status gizi normoweight, underweight dan obesitas (15,41% vs 71,11% vs 7,43%). Pasien dengan underweight meningkatkan risiko kematian sebesar 1,19 kali dibandingkan pasien dengan normoweight (95% CI 0,471-3,049) setelah dikontrol dengan usia, tingkat keparahan, dan ARDS. Sedangkan pasien dengan overweight/obesitas meningkatkan risiko kematian sebesar 1,03 kali dibandingkan pasien dengan normoweight (95% CI 0,714-1,487)
Read More
T-6415
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive