Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27433 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dela Riadi; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ratna Djuwita, Abdul Razak Thaha, Yati Afiyanti
Abstrak:
Hasil studi penggunaan RPM pada pasien COVID-19 beragam dan hasil bervariasi tergantung kondisi dan implementasi. Sintesis bukti efek penggunaan RPM terhadap penurunan risiko rawat inap kembali pasien COVID-19 menggunakan meta-analisis diperlukan. Tujuan penelitian ini mengetahui efektivitas program RPM dalam penurunan risiko rawat inap kembali pada pasien COVID-19 dengan meta-analisis. Pencarian literature menggunakan database online yaitu PubMed, Science Direct, Scopus, ProQuest, Embase dan tambahan data dari sumber lain (2019-2022). Ukuran statistik menggunakan odds ratio (OR), interval kepercayaan 95% (CI), dan heterogenitas dengan uji I2. Lima studi pada pasien COVID-19 dengan sampel 2685 peserta (intervensi=1060, kontrol=1625), menunjukkan penggunaan RPM dapat mengurangi rawat inap kembali 0.56 kali pengurangan risiko dibanding tidak menggunakan RPM dan ada perbedaan signifikan secara statistik dengan variasi studi rendah (homogen) (I2 = 9%; n=2.685; OR 0.56 [95% CI 0.39–0.82]; p=0.003). Jenis kelamin, komorbid hipertensi, gagal jantung, obesitas, paru-paru kronis, dan penyakit ginjal kronis tidak ada efek signifikan, sedangkan komorbid diabetes menunjukkan efek signifikan. Durasi intervensi RPM, pemantauan jangka panjang (>14 hari) efektif untuk menurunkan rawat inap kembali. Kepatuhan dari pasien & dokter maupun perawat dalam menyelesaikan program pemantauan, sangat penting untuk efektifitas RPM.

The results of studies on the use of RPM in COVID-19 patients vary and results vary depending on conditions and implementation. Synthesis of evidence the effect of the use of RPM on reducing the risk of readmission of COVID-19 patients using meta-analysis is required. Purpose this study to determine the effectiveness of the remote patient monitoring (RPM) program in reducing the risk of re-hospitalization in COVID-19 patients using a meta-analysis. Literature search of this study is through online databases, namely PubMed, Science Direct, Scopus, ProQuest, Embase, and additional other sources (2019-2022). Statistical measures used odds ratio (OR), 95% confidence interval (CI), and heterogeneity with the I2 test. Five studies on COVID-19 patients with a sample of 2685 participants (intervention=1060, control=1625), showed that the use of RPM can reduce re-hospitalization by 0.56 times the risk reduction compared to not using RPM and there is a statistically significant difference with low (homogeneous) study variation (I2 = 9%; n=2.685; OR 0.56 [95% CI 0.39–0.82]; p=0.003). Gender, comorbid hypertension, heart failure, obesity, chronic lung, and chronic kidney disease had no significant effect, while diabetes comorbidity showed a significant effect. Duration of RPM intervention, long-term monitoring is effective in reducing re-hospitalization (>14 days). Compliance from patients & doctors and nurses in completing the monitoring program is critical to the effectiveness of RPM.
Read More
T-6636
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Setiowati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Popy Yuniar, Toha Muhaimin, Rizka Andalusia
T-3946
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desy M. Gusmali; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Besral, Sutanto Priyo Hastono, Anny Victor Purba, Dwi Hapsari Tjandrarini
Abstrak:

Salah satu indikator untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan adalah kepuasan responden. Kepuasan responden yang rendah bisa menggambarkan kualitas layanan yang belum standar dan masih perlu perbaikan. Kepuasan responden yang rendah berdampak terhadap citra fasilitas pelayanan kesehatan. Kepuasan responden itu dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah karakteristik responden itu sendiri. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kepuasan responden dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan responden tersebut. Disain penelitian adalah cross-sectional pada 710 responden yang pernah menjaiani rawat map di fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia tahun 2004. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik ganda. Dari data yang diperoleh, didapatkan 322 (45,35%) responden merasa puas dengan pelayanan kesehatan, hal ini masih dikategorikan rendah. Responden perempuan lebih merasa puas 201 (47,45%) dibandingkan responden laki-laki (44,3I%). Usia tidak berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan. Tingkat pendidikan responden tidak berpengaruh pada tingkat kepuasan. Responden yang tidak bekerja lebih merasa puas dibandingkan yang bekerja. Sumber biaya perawatan tidak mempengaruhi tingkat kepuasan responden. Responden yang dirawat difasilitas pelayanan kesehatan milik swasta cenderung merasa lebih puas 53,21% dibandingkan dengan responden yang dirawat difasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah. Faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat kepuasan responden adalah tempat menjalani rawat inap. Dari penelitian ini disarankan bagi petugas kesehatan untuk memperhatikan pelayanan kesehatan yang diberikan pada rnasyarakat. Bagi Departemen Kesehatan hasil penelitian ini sebagai bahan masukan bagi perbaikan kinerja di fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah.


 

One of the indicators to measure quality of health service is respondent satisfaction. The low satisfaction can describe of health unit under standard and needs recovery. The low satisfaction will give image to unit health facility. A satisfaction respondent is influent by multifactor like a characteristic factor of the subject. The purpose of this analysis to find a describe of a satisfaction respondent and factors that influence the satisfaction. Design of analysis is cross sectional and 710 respondents be participated which ever stay in hospital in Indonesia at 2004. The method of analysis is multiple logistic regressions. From reached of the data, founded 322 (45, 35%) of respondents had satisfied to health service, but that result still low in category. Female respondents has satisfied 47,45%, compare than male respondent 44,31%. Age does not influence to health service, education level respondent too, group not working respondent, more satisfaction compare group of working. Sources of nursing cost did not influence the satisfied respondent. Respondent who get nursing in private facility 53,21% more satisfied compare respondent who get nursing in government facility. The dominant factor which related to satisfied is the place of nursing care. From this research, we recommended for health service officer, to make attention about services to people. To Health Department become an input for improving government facility.

Read More
T-2326
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riris Dian Hardiani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Iwan Ariawan, Besral, Elsa Novelia, Doni Arianto
Abstrak:
Beban penyakit dan kematian akibat PGK di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya prevalensi faktor risiko PGK seperti diabetes, hipertensi dan obesitas. Sejak diluncurkannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), jumlah renal unit di Indonesia berkembang sangat pesat diikuti dengan peningkatan jumlah pasien karena meningkatnya akses masyarakat. Namun peningkatan akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tidak diiringi dengan pemerataan akses pelayanan kesehatan antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Untuk mengetahui hubungan wilayah tempat tinggal pasien (kabupaten/kota) dan peran variabel kontekstual di tingkat provinsi terhadap mortalitas pasien PGK rawat inap peserta JKN dilakukan penelitian potong lintang menggunakan data sampel BPJS Kesehatan 2015-2016. Analisis multivariat dilakukan dengan Generalized Estimating Equations dan dilanjutkan dengan analisis multilevel. Dari penelitian ini didapatkan proporsi kematian pasien PGK rawat inap JKN tahun 2015-2016 sebesar 19,95%. Pasien PGK rawat inap JKN yang tinggal di kabupaten dan dirawat di rumah sakit regional 1 memiliki risiko kematian lebih tinggi OR 1,37 (95% CI 1,33-1,4; p<0,05) dibandingkan dengan pasien yang tinggal di kota setelah dikontrol oleh variabel kovariat lain. Sedangkan pasien yang tinggal di kabupaten dibandingkan dengan tinggal di kota dan dirawat di rumah sakit regional 3, 4 dan 5 secara berurutan memiliki risiko kematian OR 1,82 (95% CI 1,72-1,92), OR 0,51 (95% CI 0,45-0,59), OR 5,90 (95% CI 4,28-8,12) dan bermakna secara statistik. (p<0,05). Tidak ada perbedaan kematian yang bermakna secara statistik untuk pasien yang tinggal di kabupaten dibandingkan kota dan dirawat di rumah sakit regional 2 dengan OR 1,03 ( 95% CI 0,96-1,12; p>0,05). Terdapat variasi mortalitas di tingkat provinsi dan variasi yang disebabkan oleh variabel kontekstual dari dimensi ketersedian yakni rasio rumah sakit, rasio unit hemodialisis, rasio dokter konsultan hipertensi, rasio dokter umum, rasio perawat bersertifikat dan rasio mesin hemodialisis sebanyak 8,98%. Untuk analisis multilevel lebih lanjut dapat digunakan variabel kontekstual lain dari dimensi aksesibilitas geografis, aksesibilitas keuangan dan akseptabilitas

Background: The burden of disease and mortality caused by Chronic Kidney Disease (CKD) has increased with the increasing prevalence of CKD risk factors. The National Health Insurance (JKN) program has increased healthcare access. However, the access in urban population is not the same as in rural. Objectives: To find out the relationship between the patients’ residential area (urban or rural) and the role of the contextual variables at the provincial level on the mortality of hospitalized JKN patients with CKD. Methods: A cross-sectional study was conducted using BPJS Kesehatan 2015-2016 sample data. Multivariate analysis was performed with Generalized Estimating Equations and continued with multilevel analysis. Results: The study showed the proportion of deaths was 19.95%. Respectively, rural residents compared to urban and treated in hospitals at Regional 1, 3 and 5 had higher mortality risk OR 1.37 (95%CI 1.33-1.41), 1.82 (95%CI 1.72-1.92), 5.90 (95%CI 4.28-8.12) with p<0.01. However, rural residents compared to urban and treated in hospitals at Regional 4 had reduced risk of death, OR 0.51 (95%CI 0.45-0.59;p<0.01) and those whom treated in hospitals at regional 2 had OR 1.03 (95%CI 0.96-1.12; p>0.05). The contextual variables of the study caused 8.98% mortality variance at provincial level. Conclusions: Rural residents had higher risk of death than those in urban and there was small variation in mortality between provinces.

Read More
T-5981
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nita Dwi Octavianie; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Besral, Yenni Risniati
S-7726
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Virginia Sandra Dewi; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: R. Sutiawan, Yulia
Abstrak: Latar belakang: Diabetes Melitus tipe 2 tidak dapat disembuhkan. Edukasimerupakan salah satu penanganan DM tipe 2. Edukasi atau Diabetes SelfManagement Education (DSME) di rumah sakit tidak optimal berdampak padalama hari rawat yang panjang.
Tujuan: untuk mengetahui karakteristik pasienDM tipe 2 di RSUP NTB tahun 2012-2013, serta mengukur asosiasi sederhana DSME terhadap lama hari rawat pasien di RSUP NTB. Desain dan
Metode: Tinjauan secara retrospektif terhadap 199 rekam medis pasien DM tipe 2.
Hasil: DSME disampaikan oleh perawat dan ahli gizi. Akan tetapi, tidak seluruh pasien mendapat edukasi. Di RSUP NTB, yang tercatat edukasi tentang: diet (53%),aktivitas fisik (33%), tentang obat (8%), komplikasi (1%), edukasi lainnya (6%),dan 27% pasien yang tidak mendapat edukasi apapun oleh perawat. Sebanyak 43.7% pasien yang mendapat konseling gizi oleh ahli gizi. Pasien yang mendapatDSME memiliki lama hari rawat yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak mendapat edukasi.
Kesimpulan: berdasarkan catatan rekam medis DSMEdi RSUP NTB belum optimal dan DSME berperan mempersingkat lama harirawat pasien.
Kata kunci: Diabetes Self Management Education, DM tipe 2, lama hari rawat,rawat inap, RSUP NTB.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (type 2 DM) is a disease that can not becured. An adequate education is one of way management of type 2 DM. DiabetesSelf Management Education (DSME) in hospitals not adequate and impact onlength of stay.
Purpose: this study to describe characteristics of patients withtype 2 DM at General Hospital West Nusa Tenggara 2012-2013, and measuredassociation of DSME to length of stay.
Design and Method: Descriptiveresearch method with retrospective design. Number of samples involved in thisstudy is 199 medical records of patients with type 2 DM.
Result: DSMEdelivered by nurses and nutritionists. But, not all patients get DSME. DSMErecorded was about: diet (53%), exercises (33%), medicines (8%),complications of type 2 DM (1%), other education (6%), and 27% of patients donot get any DSME. Patients with DSME has shorter length of stay than patientwithout DSME.
Conclusion: according to medical records, DSME at GeneralHospital West Nusa Tenggara 2012-2013 is not optimal and DSME role inlength of stay of patients with type 2 Diabetes Mellitus.
Keywords: Diabetes Self Management Education; type 2 DM; length of stay,inpatient, RSUP NTB.
Read More
S-8468
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haris Kadarusman; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Sutanto Priyo Hastono, Rosadi Nazir, Suyono
Abstrak:
Dari penelitian terdahulu diketahui cascade yang terbaik dalarn menurunkan Fe adalah berbentuk anak tangga dengan aliran air yang baik adalah menggunakan selang/pipa berdiameter 4 mm, namun penelitian-penelitian tersebut tidak sampai memperoleh model prediksi penurunan Fe daiam air menggunakan metode cascade. Selain itu dalam penelitian terdahulu menggunakan bahan cascade yang mengandung unsur logam karena itu perlu adanya penelitian lanjutan yang dapat menghasilkan model prediksi penurunan Fe dalam air menggunakan cascade dengan bahan kayu berlapis plastik/karet dengan diameter aliran air menggunakan selanypipa 3/ 16 inchi, 5/ I6 inchi dan 7/?16inchi. Penelitian yang dilakukan merupakan eksperiman dengan menggunakan 75 buah sampel air yang berasal dari sumiir gali atau sumur pompa tangan kemudian dialirkan melalui cascade yang memiliki kriteria tertentu dengan variabel penelitian meliputi Variabel Dependen yaitu Penurunan Fe dan Variabel Independen yaitu Debit air, Derajat Keasaman Air, Suhu Air, Oksigen Terlarut dan Kandungan Fe dalam Air sebelum aerasi kemudian dianalisa dengan menggunakan rnetode statistik Regresi Linier Ganda. Didalam penelitian ini tidak melakukan pengukuran! pengamatan terhadap kelembaban, suhu udara dan kandungan oksigen di udara. Seleksi variabel dilakukan dengan analisa bivaiiat dengan korelasi (pearson) dan regresi linier sederhana serta metode Forward untuk memperoleh kandidat model. Unluk variabel Debit Air dilakuklan Dummy Variabel yang terdiri dari Variabel Debit 1 dan Debit 2. Dari hasil penelitian diperoleh kandidat model yang berisi empat variabel dasar yaitu variabel Debit I dan debit 2, Derajat Keasaman, Oksigen Terlarut dan Fe Awal serta dua variabel intraksi yaitu interaksi anlara Debit Air dan Fe Dalam Air serta lnteraksi antara Oksi gen Terlarut dengan Fe Dalam Air. Hasil diagnostik pemenuhan asumsi menyatakan bahwa kandidat model dapat memenuhi asumsi-asumsi regresi linier ganda namun dari diagnostik kolinearitas diketahui terdapat gejala kolinearitas dalam model, tetapi karena model bertujuan untuk prediksi maka masalah kolineraitas bukan merupakan masalah serius. Uji reliabilitas Model memberikan hasil nilai Shrinkage = 0,21 atau = 21 %, dengan demikian kandidat model cukup reliabel untuk ditetapkan sebagai model prediksi penurunan Fe Dalam Air menggunakan Metode cascade. Persamaan fungsi matematis Penurunan Fe yang diperoleh sebagai hasil akhir dari penelitian adalah: Penurunan Fe = - 695 + (- 0,166(debit 3,7 L/menit)) + (- 0,334(Debit 1,06 L/'menit)) + 0,329 (pH Air) + (-0,108 (Oksigen Ter1an1t)) + (-0,664 (Fe Awal)) 4 0,I42(Debit1*Fe Awal) + 0,5S8(Debit 2 * Fe Awal) + 0,134 (Oksigen Terlarut * Fe Awal). Persamaan fungsi matematis tersebut hendaknya digunakan dimasyarakat Iuas dalam upaya menurunkan kandungan Fe dalam air menggunakan metode cascade agar penggunaan cascade dapat efektif dan efisien.

Previous researchs showed that the stairs shape is the best cascade for Water Fe reduction which used of 4 mm pipe will give good water flowing. But the researches did not meet the prediction model of Water Fe reduction. Because the previous researches metal cascade was used, it is necessary to perform further research which able to produce prediction model of water Fe reduction by applying rubber coated wood cascade with 3/16 inches ,5/16 inches and 7/16 inches of flowing pipe. This is an experiment study using 75 of water sample derived from dig well or pump well flowed through certain cascade. Research variables are : Water debit, Water Acidity, Water temperature, Dissolved Oxygen, Water Fe water before aeration, then analyzed by using Linear Regression Statistic- This Research did not put humidity, temperature and air contained oxygen in the measurement. Variable is selected through bivariate analysis with correlation (Pearson) and simply linear regression, used forward method as well to obtain candidate model. Dummy variable was given in the form of 1st and 2nd debit variable. This research resulted candidate model containing four basic variable of 1st variable, 2nd variable and initial Fe also two interaction variable that is water debit and water Fe interaction and interaction between Dissolved Oxygen and Water Fe. Diagnostic assumption stated that model candidate was able to fulhll the Multiple Linear Regression, meanwhile from co-linearity diagnostic is found the co-linearity indication within model. However, because the purpose of the model is a prediction, then co-linearity did not become a serious problem. Model reliability test resulted the Shrinkage of 0.21 or 21 %, it might be said that the candidate is reliable enough to be assessed as the prediction model of water Fe reduction, using the cascade method.
Read More
T-1472
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maritsa Putriniandi Az-Zahra; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Popy Yuniar, Uswatun Hasanah
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit tidak menular yang dapat diobati dan konsekuensinya dapat dihindari atau ditunda dengan pola makan, aktivitas fisik, pengobatan, serta skrining dan pengobatan komplikasi secara teratur. Namun, penyakit ini didiagnosis beberapa tahun setelah timbul sehingga komplikasi dan komorbid telah muncul dan menjadi kasus penyakit yang sering sekali masuk dalam daftar 10 besar penyakit yang menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan dan komorbiditas terhadap lama rawat inap pasien diabetes melitus tipe 2 di FKRTL pada peserta BPJS Kesehatan tahun 2023, dengan dikontrol oleh variabel tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, segmentasi, kelas rawat, usia, dan jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan 2023 dengan studi potong-lintang. Analisis yang dilakukan mencangkup analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan terhadap lama rawat inap (p-value= 0,001) dan hasil yang tidak signifikan untuk komorbiditas dengan lama rawat inap (p-value= 0,285). Tingkat keparahan sedang dan berat dan komorbiditas dengan skor CCI lebih dari sama dengan 1 beresiko lebih tinggi untuk menjalani lama rawat inap panjang dan beresiko lebih rendah untuk menjalani rawat inap pendek daripada ideal (RRR=4,95; 95%CI=0,82–29,85; RRR=0,46; 95%CI=0,29–0,72 | RRR=1,11; 95%CI= 0,25–4,92; RRR=0,67; 95%CI=0,41–1,10). Analisis multivariat untuk mengontrol variabel tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, segmentasi, kelas rawat, usia, dan jenis kelamin didapatkan hasil yang tetap signifikan antara tingkat keparahan dengan lama rawat inap setelah dikontrol oleh variabel tipe FKRTL dan kepemilikan FKRTL dan komorbiditas tetap tidak signifikan walaupun setelah dikontrol oleh variabel kontrol. Upaya peningkatan program deteksi dini klinis derajat tingkat keparahan dan komorbid DM tipe 2 agar tidak memperpanjang durasi rawat inap akibat komplikasi dan keparahan yang menimbulkan beban kesehatan yang berarti.


Type 2 diabetes mellitus is a non-communicable disease that can be treated, and its consequences can be prevented or delayed through proper diet, physical activity, medication, as well as regular screening and treatment of complications. However, this disease is often diagnosed several years after onset, by which time complications and comorbidities may have developed, making it one of the top 10 causes of hospitalizations. This study aims to determine the effect of severity and comorbidity on the length of hospital stay among patients with type 2 diabetes mellitus in advanced referral health facilities (FKRTL) among BPJS Kesehatan participants in 2023, controlled for variables such as FKRTL type, FKRTL ownership, segmentation, care class, age, and gender. This research used 2023 BPJS Kesehatan sample data with a cross-sectional study design. The analysis included univariate, bivariate, and multivariate methods. Bivariate analysis showed a significant relationship between severity and length of stay (p-value = 0.001), while comorbidities were not significantly associated with length of stay (p-value = 0.285). Moderate to severe severity and comorbidities with a CCI score of ≥1 were associated with a higher risk of prolonged hospitalization and a lower risk of short hospitalization compared to the ideal length of stay (RRR = 4.95; 95% CI = 0.82–29.85; RRR = 0.46; 95% CI = 0.29–0.72 | RRR = 1.11; 95% CI = 0.25–4.92; RRR = 0.67; 95% CI = 0.41–1.10). Multivariate analysis controlling for FKRTL type, FKRTL ownership, segmentation, care class, age, and gender showed that the association between severity and length of stay remained significant after controlling for FKRTL type and FKRTL ownership, while the association between comorbidity and length of stay remained insignificant even after adjusting for control variables. Efforts to enhance clinical early detection programs for the severity level and comorbidities of type 2 diabetes mellitus are necessary to prevent prolonged hospital stays due to complications and disease severity, which contribute to a significant healthcare burden.
Read More
S-12078
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Dwi Kartika; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Besral, Vinny Sutriyani
Abstrak: Lelaki yang Seks dengan Lelaki (LSL) merupakan salah satu kelompok populasi yang paling berisiko terinfeksi HIV. Promosi penggunaan kondom konsisten adalah strategi kunci untuk pencegahan HIV pada LSL. Skripsi ini membahas faktor-faktor yang berasosiasi dengan penggunaan kondom konsisten pada LSL yang memiliki pasangan tetap, pasangan tidak tetap, pasangan membeli seks, dan pasangan menjual seks. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dari data Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) untuk LSL di Pulau Jawa tahun 2011. Analisis regresi logistik digunakan untuk melihat determinan penggunaan kondom konsisten dari faktor sosiodemografi, persepsi, isyarat untukbertindak, dan penggunaan kondom pada seks terakhir. Penggunaan kondom konsisten pada pasangan laki-laki berkisar 37%-49% dan 28% pada pasanganperempuan dalam sebulan terakhir. Analisis multivariat menghasilkan statusbelum menikah, pengetahuan komprehensif, tidak ada gejala IMS, dan penggunaan kondom pada seks terakhir berasosiasi meningkatkan penggunaan kondom konsisten. Intervensi kepada LSL harus dapat meningkatkan pengetahuan komprehensif dan mempromosikan penggunaan kondom konsisten pada semua jenis pasangan seksnya.
Kata Kunci : LSL, Penggunaan Kondom Konsisten, Pulau Jawa, Indonesia
Men Who Have Sex with Men (MSM) are population at high risk for HIVinfection. Promoting consistent condom use (CCU) is a key risk reduction strategyfor HIV prevention among MSM. This thesis reports the factors associated withCCU among MSM with their regular, casual, client, and sex worker partners. Thisthesis used cross-sectional design from Integrated Biological and BehaviourSurveillance for MSM in Java Island in 2011. Binary logistic regression analyseswere conducted to assess the determinants of CCU with socio-demographic,perceived, cues to action, and past condom use factors. CCU ranged from 37 to49% with male partners and 28% with female partner. Multivariate analysesshowed that MSM who had a single status, comprehensive knowledge, no STDsymptoms, and past condom use were likely to be consistent condom users. HIVinterventions among MSM need to increase comprehensive knowledge of HIVand promote CCU with all types of sex partners.
Keywords : MSM, Consistent condom use, Java Island, Indonesia
Read More
S-8444
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Khusna Sifa Azizah; Pembimbing: Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: R. Sutiawan, Masfuri
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.Beban ekonomi akibat stroke terutama karena biaya perawatan di rumah sakit semakin meningkat seiring meningkatnya kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.


 

ABSTRACT The economic burden of stroke due primarily because of the cost of hospital care are increasing with the increasing incidence of stroke. This study aims to determine the estimated length of stay of hospitalization and the total hospitalization billings of hemorrhagic stroke patients in Stroke Unit "X" Hospital, Yogyakarta, 2011-2012. The research design used was cross-sectional. The sample in this study were all patients at the Stroke Unit with a primary diagnosis of hemorrhagic stroke who meet the inclusion criteria. The results got the regression equation for estimating length of stay is; Length of Stay = 7,046 + 0,023 (age) + 0,935 (sex) + 0,118 (secondary diagnose) + 8,024 (history in ICU) + 1,744 (day of discharge). The regression equation for estimating Inpatient Total Billings = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (age) + Rp 162.803 (secondary diagnose) + Rp 3.738.001 (history in ICU) + Rp 364.164 (length of stay) – Rp 384.543 (day of admission) + Rp 854.197 (class I) Rp 1.971.282 (VIP).

Read More
S-8134
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive