Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38029 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siti Masitoh; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Soewarta Kosen
Abstrak:
Penyakit infeksi pada balita merupakan masalah kesehatan yang perlu ditangani karena menjadi penyebab langsung kematian balita dan stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari penyakit infeksi balita adalah kerawanan pangan. Meskipun beberapa bukti saat ini menunjukkan ada hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita tetapi masih sedikit bukti yang meneliti hubungan ini di negara berpenghasilan sedang dan rendah seperti di Indonesia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang menggunakan data SSGI Tahun 2021. Hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi dikontrol oleh variabel kovariat. Analisis multivariat dilakukan menggunakan uji multiple multinomial logistic untuk memperoleh nilai OR adjusted. Hasil penelitian menunjukkan balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,367 kali, rawan pangan sedang berisiko 1,490 dan pada rawan pangan berat 1,500 kali. Begitu juga risiko untuk menderita lebih dari satu penyakit infeksi. Balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,685 kali, pada rawan pangan sedang 2,418 kali dan rawan pangan berat 2,596 kali. Dapat disimpulkan risiko balita untuk menderita satu penyakit infeksi maupun lebih dari satu penyakit infeksi semakin meningkat seiring dengan level kerawanan pangan rumah tangga.

Infectious diseases in toddlers are a health problem that needs to be addressed because they are a direct cause of toddlers deaths and stunting. One of the indirect causes of infant infection is food insecurity. Although some current evidence shows that there is a relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers, there is still little evidence examining this relationship in middle and low income countries such as Indonesia. Therefore this study aims to determine the relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers in Indonesia. The research was conducted with a cross-sectional design using SSGI data for 2021. The relationship between food insecurity and infectious diseases was controlled by covariate variables. Multivariate analysis was performed using the multiple multinomial logistic test to obtain an adjusted OR value. The results showed that toddlers from households with mild food insecurity had a risk of 1,367 times, moderate food insecurity had a risk of 1,490 and in severe food insecurity 1.500 times. Likewise, the risk of children suffering from more than one infectious disease. Toddlers from households with mild food insecurity have a risk of 1,685 times, in moderate food insecurity 2,418 times and severe food insecurity 2,596 times. It can be concluded that the risk of toddlers suffering from one infectious disease or more than one infectious disease increases along with the level of household food insecurity.
Read More
T-6641
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiandhari Esa Gautami; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Malnutrisi merupakan penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia, malnutrisi pada balita menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan motorik, gangguan perkembangan kognitif, kecerdasan intelektual yang rendah, keterampilan sosial yang buruk, dan rentan terhadap penyakit menular. Menurut WHO sebanyak 6% kematian balita di dunia disebabkan karena penyakit infeksi, infeksi spesifik yang mempunyai dampak tinggi terhadap status gizi adalah tuberkulosis. Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) adalah indikator pengukuran status gizi balita yang menggabungkan antara indikator antropometri yang dapat menunjukan besaran kasus kekurangan gizi secara lebih komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan TB paru dengan malnutrisi pada balita di Indonesia tahun 2021 menggunakan indikator CIAF. Desain studi ini adalah cross-sectional dan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 95.911 balita. Uji statistik yang digunakan adalah cox-regression. Hasil penelitian menunjukan proporsi balita malnutrisi sebanyak 29,29% (28.093), dan balita yang terinfeksi TB paru sebanyak 0,44% (422). Hasil analisis multivariat menunjukan prevalensi balita malnutrisi dengan TB pari 1,68 kali lebih tinggi dibanding dengan balita yang tidak terinfeksi TB paru setelah dikontrol variabel kovariat jenis kelamin dan hygine sanitasi dengan nilai PR (Prevalance Ratio) 1,68 (95%CI: 1,36 - 2,07) dengan p-value 0,000.

adolescents throughout the world. Malnutrition in toddlers causes long-term health problems including impaired physical and motoric growth, impaired cognitive development, low intellectual intelligence, poor social skills, and vulnerable against infectious diseases. According to WHO, 6% of under-five deaths in the world are caused by infectious diseases, a specific infection that has a high impact on nutritional status is tuberculosis. The Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is an indicator for measuring the nutritional status of children under five which combines anthropometric indicators which can show the magnitude of cases of malnutrition more comprehensively. The aim of this research is to determine the relationship between pulmonary TB and malnutrition among children under five in Indonesia in 2021 using the CIAF indicator. The design of this study is cross-sectional and uses data from the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) with a sample size of 95,911 children under five. The statistical test used is cox-regression. The research results showed that the proportion of malnourished toddlers was 29.29% (28,093), and toddlers infected with pulmonary TB were 0.44% (422). Multivariate analysis results show that the prevalence of malnourished toddlers with pulmonary TB is 1.68 times higher than toddlers who are not infected with pulmonary TB after controlling for the covariate variables of gender and sanitation hygiene with a PR (Prevalance Ratio) value of 1.68 (95% CI: 1, 36 - 2.07) with p-value of 0.000.
Read More
T-6855
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desyana Endarti Hendraswari; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Agus Triwinarto, Sudikno
Abstrak:
Anak usia 0-23 tahun merupakan masa golden period namun sangat rentan mengalami kurang gizi yang akan mengganggu pertumbuhan baik fisik maupun otak anak. Gangguan pertumbuhan pada masa ini bersifat irreversible. Penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab langsung anak mengalami kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan penyakit infeksi (ISPA, diare, kecacingan, campak, TB paru, Pnemonia) dengan wasting dan underweight pada anak usia 0-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan design studi cross sectional dengan menggunakan data SSGI 2021 dengan jumlah sampel 32.084 balita. Pada hasil penelitian proporsi underweight 14,32%, wasting 9,56% dan penyakit infeksi 31,54%. Anak dengan riwayat infeksi memiliki risiko 1,03 kali lebih tinggi untuk wasting dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel berat badan saat lahir serta IMD dan tidak bermakna secara statistik. Sedangkan anak dengan penyakit infeksi berisiko 1,1 kali (95% CI:1,00-1,14) lebih tinggi untuk underweight dibandingkan anak tanpa riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol dengan variabel usia anak serta berat badan saat lahir dan bermakna secara statistik.

Children aged 0-23 years are the golden period but are very vulnerable to malnutrition which will interfere with the growth of both the physical and brain of the child. Growth disturbance at this time is irreversible. Infectious diseases are one of the direct causes of children experiencing malnutrition. The purpose of this study was to determine the relationship between infectious diseases (ARI, diarrhea, helminthiasis, measles, pulmonary tuberculosis, pneumonia) with wasting and underweight in children aged 0-23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using SSGI 2021 data with a total sample of 32,084 toddlers. In the results of the study the proportion of underweight was 14.32%, wasting was 9.56% and infectious disease was 31.54%. Children with a history of infection had a 1.03 times higher risk of wasting than children without a history of infectious disease after controlling for birth weight and IMD variables and were not statistically significant. Meanwhile, children with infectious diseases had a 1.1 times (95% CI: 1.00-1.14) higher risk of being underweight than children without a history of infectious diseases after controlling for the variables of child's age and birth weight and statistically significant.
Read More
T-6785
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.

Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
Read More
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Ayu Nurranti Ramadhani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Nurwirah Verliyanti
Abstrak:
Berdasarkan data Riskesdas (2018), prevalensi balita stunting di Provinsi DKI Jakarta sebesar 17,7%. Sedangkan prevalensi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi DKI Jakarta sebesar 6,08%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara riwayat BBLR terhadap kejadian stunting pada balita di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel 3075 dan analisis data menggunakan Cox-regression. Dari hasil analisis didapatkan proporsi BBLR sebesar 6,6% dan proporsi balita stunting sebesar 17,6%. Hasil analisis multivariat hubungan BBLR dengan kejadian stunting setelah dikontrol oleh variabel potensial confounder yaitu PR 0,938 (95%CI: 0,655-1,345). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data SSGI tahun 2021 setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, konsumsi protein hewani, keragaman pangan, keikutsertaan KB, kelas ibu hamil dan kelas ibu balita.

Based on Riskesdas data (2018), the prevalence of stunting under five in DKI Jakarta Province is 17.7%. While the prevalence of Low Birth Weight Babies (LBW) in DKI Jakarta Province is 6.08%. The purpose of this study was to determine the relationship between LBW history and the incidence of stunting in toddlers in DKI Jakarta Province. This study used secondary data taken from the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) with a sample size of 3075 and data analysis using Cox-regression. From the results of the analysis, it was found that the proportion of LBW was 6.6% and the proportion of stunted toddlers was 17.6%. The results of multivariate analysis of the relationship between low birth weight and stunting after being controlled by the potential confounder variable, namely PR 0.938 (95% CI: 0.655-1.345). The conclusion of this study is that there is no significant relationship between LBW and the incidence of stunting in DKI Jakarta Province based on the 2021 SSGI data after controlling for the variables age, sex, birth length, consumption of protein, food diversity, family planning participation, class of pregnant women and mother toddler class.
Read More
T-6622
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melly Wulandari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Tria Astika Endah Permatasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Ketidakseimbangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak atau malnutrisi dapat menyebabkan terganggunya perkembangan dan pertumbuhan anak. Infeksi penyakit, wilayah tempat tinggal, sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses air minum merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam meningkatkan malnutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis malnutrisi dengan pendekatan spasial (by place) dan statistik dengan menggunakan data sekunder SKI 2023. Variabel dependen meliputi malnutrisi balita (stunting, wasting dan underweight). Variabel independen yaitu penyakit infeksi balita (ISPA, pneumonia, dan diare) dan faktor lingkungan rumah tangga (akses air minum, sumber air minum, sanitasi rumah tangga, higiene dasar, rumah layak huni). Analisis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi spearman/pearson dan pemetaan menggunakan Quantum GIS versi 3.38.2. Diare berkorelasi sedang dengan malnutrisi. Akses air minum (lama waktu >30 menit), sanitasi belum layak, tidak ada higiene dasar, dan rumah layak huni berkorelasi kuat dengan stunting. Sumber air minum air permukaan berkorelasi kuat dengan stunting, wasting, dan underweight. Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan malnutrisi tertinggi. Perlu adanya intervensi multisektoral untuk menangani malnutrisi di Indonesia.


Nutritional imbalance during the first 1,000 days of life has been shown to significantly  impair a child’s growth and development. Various factors such as infectious diseases,  geographic location, inadequate sanitation, and limited access to safe drinking water  contribute to the prevalence of malnutrition among children. This study aimed to analyze  child malnutrition in Indonesia using a spatial and statistical approach, based on  secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). The dependent variables  were the three main indicators of child malnutrition: stunting, wasting, and underweight.  Independent variables included infectious diseases in children (acute respiratory  infections, pneumonia, and diarrhea) and household environmental factors (access to  drinking water, water source, household sanitation, basic hygiene, and adequacy of  housing conditions). Analytical methods included Spearman’s or Pearson’s correlation  tests and spatial mapping using Quantum GIS version 3.38.2. The results indicated that  diarrhea was moderately correlated with malnutrition, while prolonged access to drinking  water (>30 minutes), unimproved sanitation, absence of basic hygiene facilities, and  inadequate housing showed strong correlations with stunting. Furthermore, the use of  surface water sources was strongly associated with all three malnutrition indicators:  stunting, wasting, and underweight. The most vulnerable regions identified were  Highland Papua, Central Papua, South Papua, East Nusa Tenggara, and Southwest Papua.  These findings underscore the urgent need for integrated, multisectoral interventions  targeting nutrition, infectious disease prevention, and improvements in basic household  infrastructure. 

Read More
T-7364
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsu Alam; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Kusharisupeni, Julitasari, Imam Subekti
T-3216
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jack Lesmana; Pembimbing: Yovsyah
S-3189
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Andriani Alimy; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Soewarta Kosen, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar di udara saat penderita TB batuk. Penyakit ini biasanya mempengaruhi organ paru dan dapat juga mengenai organ yang lain. Sampai saat ini TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian telah diterapkan lama. Anak merupakan salah satu kelompok risiko yang berdampak dalam penularan TB. Dari seluruh penderita TB di dunia, sekitar 11% terjadi pada anak usia <15 tahun. Dari data Riskesdas 2018, prevalensi TB paru pada anak berkisar 0,1-0,3%. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian TB pada anak adalah malnutrisi yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh anak dan memudahkan anak terserang penyakit TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan dari Mei-Juli 2023 dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpapar adalah anak dengan status gizi kurang sebesar 19.821 responden dan anak dengan status gizi buruk sebesar 7.307 responden. Kelompok tidak terpapar adalah anak dengan status gizi baik sebesar 170.934 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tuberkulosis anak usia 0-14 tahun di Indonesia sebesar 0,19%. Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun setelah dikontrol dengan variabel umur dan status pekerjaan ibu. Anak dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 1,82 (95% CI 1,38-2,40)). Anak dengan status gizi buruk memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 2,19 (95% CI 1,47-3,25)). Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya pemantauan status gizi pada anak dalam peningkatan kekebalan tubuh anak sehingga terhindar dari penularan dan perkembangan penyakit tuberkulosis.  


 

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis, which can spread through the air when people with TB cough. The disease usually affects the lungs and can also affect other organs. TB is still a public health problem worldwide despite long-standing control efforts. Children are one of the risk groups for TB transmission. Of all TB patients in the world, about 11% occur in children aged <15 years. From the 2018 Riskesdas data, the prevalence of pulmonary TB in children ranged from 0.1-0.3%. One of the risk factors that can cause the incidence of TB in children is malnutrition, which can cause a decrease in children's immunity and make it easier for children to get TB disease. This study aims to determine the relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years. The research design was cross sectional, conducted from May-July 2023 using the 2018 Riskesdas data. The exposed group was children with a nutritional status of 19,821 respondents and children with a nutritional status of 7,307 respondents. The unexposed group was children with a good nutritional status of 170,934 respondents. The results showed that the proportion of tuberculosis among children aged 0-14 years in Indonesia was 0.19%. There was a significant relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years after controlling for the variables of age and maternal employment status. Children with undernutrition had a 1.8 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 1.82 (95% CI 1.38-2.40)). Children with malnutrition had a 2.2 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 2.19 (95% CI 1.47-3.25)). This is expected to illustrate the importance of monitoring children's nutritional status in improving children's immunity so as to avoid the transmission and development of tuberculosis.

Read More
T-6831
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive