Ditemukan 27619 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Meigasari; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Kartika Anggun Dimar Setio, Devi Sumarno, Anjar Yusdinar
Abstrak:
Read More
Kehamilan tidak diinginkan (KTD) diistilahkan dengan unintended pregnancy, unplanned pregnancy, unwanted pregnancy. Kehamilan yang tidak diinginkan menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak terjadi di dunia dan merupakan masalah kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi yang utama yang membawa risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi bagi perempuan (sering kali karena praktik aborsi yang tidak aman). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam kepada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan atas dasar suka sama suka atau konsensual, perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan karena paksaan atau kekerasan seksual, tidak dalam status pernikahan. Penelitian dilakukan di Yayasan RUTH. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengetahui perilaku pencarian bantuan (help seeking behavior) pada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan yang meliputi pengenalan masalah, keputusan untuk mencari bantuan dan pemilihan layanan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semua informan meneruskan kehamilannya, memutuskan mengasuh bayinya dengan dibantu ibu dan saudaranya, satu informan belum menentukan apakah bayinya akan dibawa pulang atau ditinggal untuk nantinya diadopsi. Dua informan belum memberitahukan kehamilannya kepada orang tua, satu informan memberitahu ibunya namun ibunya cuek tidak membantu, satu informan memberi tahu ibunya. Semua mengakses dukungan informal juga dari teman dan saudara kemudian mengakses layanan formal berupa rumah singgah atau penampungan bagi perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan. Semua informan mengetahui layanan rumah singgah melalui penelusuran lewat internet.
Unintended pregnancy is termed as unplanned pregnancy, unwanted pregnancy. Unintended pregnancy is one of the most prevalent health problems in the world and is a major sexual and reproductive health problem that carries a higher risk of morbidity and mortality for women (often due to unsafe abortion practices). This research is qualitative research with a case study approach conducted by in-depth interviews with women who experience unwanted pregnancies on a consensual basis, women who experience unwanted pregnancies due to coercion or sexual violence, not in marital status. The research was conducted at the RUTH Foundation. The purpose of this study is to determine help seeking behavior in women who experience unwanted pregnancy which includes problem recognition, decision to seek help and service selection. From the results of the study, it was found that all informants continued their pregnancy, decided to take care of their babies with the help of their mothers and siblings, one informant had not yet determined whether the baby would be taken home or left for later adoption. Two informants have not told their parents about their pregnancy, one informant told her mother but her mother was indifferent and did not help, one informant told her mother. All accessed informal support also from friends and relatives and then accessed formal services in the form of halfway houses or shelters for women who experienced unwanted pregnancies. All informants found out about the halfway house service through internet searches.
T-6778
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Janitra Hapsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Dien Anshari, Mohammad Rezasyah Hasan, Astriani Dwi Aryaningtyas
Abstrak:
Read More
Norma maskulinitas tradisional sering kali ditemukan sebagai penghambat perilaku mencari bantuan, mendorong munculnya stigma, dan merupakan bentuk maskulinitas yang tidak sehat atau “toxic masculinity”. Namun, beberapa studi kualitatif menunjukkan bahwa sebagian laki-laki mau mencari bantuan kesehatan mental untuk menjadi lebih sehat, mampu melawan stigma, dan tindakan tersebut dilihat sebagai cara yang rasional untuk lebih maskulin sehingga disebut sebagai maskulinitas positif atau “positive masculinity”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis di Platform Layanan Inspirasien. Desain penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada delapan informan yang terdiri dari pasien laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis, pendamping pasien, dan professional kesehatan mental. Hasil penelitian menemukan adanya perubahan makna maskulinitas dari tradisional menjadi positif pada laki-laki yang telah mendapatkan bantuan dari layanan professional kesehatan mental. Perilaku mencari bantuan kesehatan mental dilihat sebagai upaya untuk pulih dan menjadi lebih sehat. Ketika laki-laki lebih sehat, maka Ia mendapatkan kembali kendali atas hidupnya, merupakan wujud tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya, keberanian untuk meminta bantuan, dan kebijaksanaan dalam cara penyelesaian masalah dengan ahlinya (professional kesehatan mental). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan makna maskulinitas positif pada perilaku mencari bantuan laki-laki sebagai strategi dalam membentuk upaya promosi kesehatan mental dan peningkatan layanan kesehatan mental secara khusus untuk laki-laki.
Traditional masculinity norms are often found to inhibit help-seeking behavior, encourage the emergence of stigma, and are a form of unhealthy masculinity or "toxic masculinity". However, several qualitative studies show that some men are willing to seek mental health help to become healthier, able to fight stigma, and this action is seen as a rational way to become more masculine so it is called “positive masculinity”. This study aims to determine the role of masculinity on the help-seeking behavior of men who experience depression due to chronic physical illness in the Inspirasien Service Platform. Descriptive qualitative research design with a case study approach is being used. Data was collected through in-depth interviews with eight informants consisting of male patients who experienced depression due to chronic physical illness, their caregiver, and mental health professionals. The results of the study found a change in the meaning of masculinity from traditional to positive in men who had received help from professional mental health services. Mental health help-seeking behavior is seen as an effort to recover and become healthier. When a man is healthier, he regains control of his life, which is a manifestation of a man's responsibility and leadership to solve his problems, the courage to ask for help, and wisdom in solving problems with the experts (mental health professionals). This research recommends utilizing the meaning of positive masculinity in men's help-seeking behavior as a strategy in shaping mental health promotion efforts and improving mental health services specifically for men.
T-6887
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hangestiya Dyah Utami; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Siti Nurliah
Abstrak:
Penanganan kasus diare pada balita di Kota Bekasi baru mencapai 28,5%. Padahal menurut KEPMENKES RI NOMOR 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Standar Pelayanan Minimal untuk kasus balita dengan diare ditangani yaitu sebesar 100%. Untuk itu adanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan pada balita diare di Kota Bekasi tahun 2020. Penelitian ini yaitu merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Total sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 163 ibu yang memiliki anak balita di Kota Bekasi. Dengan hasil penelitian bahwa sebanyak 83,4% ibu telah melakukan pencarian pengobatan ke fasilitas kesehaan dengan persentase terbanyak melakukan pengobatan ke klinik dan rumah sakit. Adapun beberapa faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencarian pengobatan seperti umur balita didapatkan nilai p sebesar 0,025, pengetahuan ibu didapatkan nilai p sebesar 0,036, dan persepsi keseriusan penyakit didapatkan nilai p sebesar 0,035. Perlunya adanya peningkatan edukasi mengenai diare, hal ini bertujuan agar dapat meningkatkan perilaku pencarian pengobatan ke fasilitas kesehatan pada ibu yang memiliki anak balita.
Kata kunci: Perilaku, Perilaku Pencarian Pengobatan, Diare, Balita
Handling of diarrhea cases in infants in Bekasi City has only reached 28.5%. In fact, according to the Republic of Indonesia Ministry of Health Regulation No. 1457/MENKES/SK/X/2003 concerning Minimum Service Standards for Health in Districts/Cities, it is stated that the Minimum Service Standards for cases of toddlers with diarrhea are handled at 100%. For this reason, this study aims to determine what factors are associated with treatment seeking behavior in diarrhea infants in Bekasi City in 2020. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The total sample used in this study is as many as 163 mothers who have children under five in the city of Bekasi. With the results of the study that as much as 83.4% of mothers have sought treatment to health facilities with the highest percentage doing treatment to clinics and hospitals. As for several factors that have a significant relationship with treatment seeking behavior such as the age of toddlers, a p value of 0.025, maternal knowledge of a p value of 0.036, and perception of the seriousness of the disease obtained a p value of 0.035. The need for increased education about diarrhea, it aims to improve the behavior of seeking treatment to health facilities in mothers who have children under five.
Keywords: Behavior, Health Care Seeking Behavior, Diarrhea, Children Under Five
Read More
Kata kunci: Perilaku, Perilaku Pencarian Pengobatan, Diare, Balita
Handling of diarrhea cases in infants in Bekasi City has only reached 28.5%. In fact, according to the Republic of Indonesia Ministry of Health Regulation No. 1457/MENKES/SK/X/2003 concerning Minimum Service Standards for Health in Districts/Cities, it is stated that the Minimum Service Standards for cases of toddlers with diarrhea are handled at 100%. For this reason, this study aims to determine what factors are associated with treatment seeking behavior in diarrhea infants in Bekasi City in 2020. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The total sample used in this study is as many as 163 mothers who have children under five in the city of Bekasi. With the results of the study that as much as 83.4% of mothers have sought treatment to health facilities with the highest percentage doing treatment to clinics and hospitals. As for several factors that have a significant relationship with treatment seeking behavior such as the age of toddlers, a p value of 0.025, maternal knowledge of a p value of 0.036, and perception of the seriousness of the disease obtained a p value of 0.035. The need for increased education about diarrhea, it aims to improve the behavior of seeking treatment to health facilities in mothers who have children under five.
Keywords: Behavior, Health Care Seeking Behavior, Diarrhea, Children Under Five
S-10322
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maureen Syahailatua; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Dini Dachlia
Abstrak:
Pada penelitian ini bagaimana pola penundaan pencarian pengobatan (Appraisal Delay, Illness Delay, Utilization Delay) pada masyarakat tidak mampu, yang tidak tercover BPJS PBI di Kampung Sela Eurih Desa Sumur Batu Tahun 2020. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melaluipendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah in-depth interview (wawancara mendalam) dengan jumlah sampel 7 orang warga Kampung Sela Eurih.
Read More
S-10574
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tengku Khairunnisa; Pembimbing: Tengku Khairunnisa; Penguji: Evi Martha, Dini Dachlia
Abstrak:
Read More
Secara global, kehamilan tidak direncanakan (KTD) masih menjadi isu kesehatan reproduksi yang signifikan, dengan sekitar 121 juta kasus setiap tahun yang mencapai 300 juta kejadian dan 15-17% di Indonesia berdasarkan SDKI 2017. Dalam situasi ini, perempuan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan yang kompleks untuk melanjutkan atau menghentikan kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pengambilan keputusan pada perempuan dalam situasi kehamilan tidak direncanakan menggunakan perspektif rasionalitas terbatas. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan analisis tematik terhadap data sekunder dari penelitian Center for Health Research (CHR) Universitas Indonesia tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran awal kehamilan umumnya ditandai dengan keterlambatan menstruasi dan dikonfirmasi melalui test pack, dengan penyebab utama kehamilan didominasi oleh kegagalan atau ketidakteraturan penggunaan kontrasepsi. Respon awal yang muncul cenderung berupa emosi negatif, seperti kaget, takut, dan bingung. Proses pengambilan keputusan bersifat dinamis, dengan alternatif yang dipertimbangkan mulai dari melanjutkan kehamilan, melakukan percobaan penghentian kehamilan secara non-medis, hingga aborsi. Keputusan tersebut dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kondisi kesehatan, relasi dengan pasangan, serta norma sosial, dengan peran penting pasangan dan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dalam situasi kehamilan tidak direncanakan tidak bersifat individual, sehingga diperlukan penguatan edukasi kontrasepsi, peningkatan akses layanan kesehatan reproduksi, serta penyediaan konseling yang komprehensif dan tidak menghakimi.
Unintended pregnancy remains a significant global reproductive health issue, with approximately 121 million cases occurring each year, and around 15-17% of pregnancies in Indonesia categorized as unintended based on the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS). In such situations, women face a complex decision-making process regarding whether to continue or terminate the pregnancy. This study aims to analyze the decision-making process among women experiencing unintended pregnancy using a bounded rationality perspective. This research employs a qualitative approach through thematic analysis of secondary data derived from a 2019 study conducted by the Center for Health Research (CHR), Universitas Indonesia. The findings indicate that early awareness of pregnancy is generally marked by delayed menstruation and confirmed through the use of a pregnancy test. The primary cause of unintended pregnancy is dominated by contraceptive failure or inconsistent use. Initial responses tend to involve negative emotions such as shock, fear, and confusion. The decision-making process is dynamic, involving various alternatives, including continuing the pregnancy, attempting non-medical termination, or undergoing abortion. These decisions are influenced by economic factors, health conditions, partner relationships, and social norms, with significant roles played by partners and family. The findings suggest that decision-making in unintended pregnancy is not solely individual, highlighting the need for strengthened contraceptive education, improved access to reproductive health services, and the provision of comprehensive and non-judgmental counseling.
S-12325
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fajar Nurul Fadhilla; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Mario Ekoriano
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan tidak diinginkan pada wanita usia subur di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan data hasil Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP KKBPK) Tahun 2019 yang menggunakan desain potong lintang. Data dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan persentase kehamilan tidak diinginkan di Indonesia tahun 2019 adalah 17,5%.
Read More
S-10695
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhita Yoana; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Fidiansjah
S-10323
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erni Saptiani; Pembimbing: Anwar Hassan, Besral/ Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Kondang Maryutika Sirait, Nia Nurkania
Abstrak:
Meningkatnya jumlah penderita IMS dan banyaknya penderita IMS yang tidak di obati dari tahun ke tahun di Kota Bandar Lampung, dapat menimbulkan permasalahan kesehatan yang sangat serius dan berdampak besar pada masa yang akan datang apabila tidak mendapatkan perhatian dan penanganan yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian pengobatan infeksi menular seksual pada wanita penjaja seks di Kecamatan Panjang Bandar Lampung.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectionaldengan sampel penelitian sebanyak 114 wanita penjaja seks yang diambil secara acak sederhana(simple random sampling). Sebagian besar (60,5%) responden telah mencari pengobatan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan dan 39,5% mencari pengobatan sendiri untuk mengatasi keluhannya. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan bermakna antara faktor hambatan dalam pencarian pengobatan dengan perilaku pencarian pengobatan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan adalah faktor tersedianya fasilitas kesehatan di lokalisasi dengan nilai OR=3,08 yang berarti responden yang terdapat fasilitas kesehatan di lokalisasi mencari pengobatan IMS 3 kali lebih tinggi dibandingkan responden yang tidak mempunyai fasilitas kesehatan di lokalisasi. Kata Kunci : Infeksi menular seksual, wanita penjaja seks, perilaku pencarian pengobatan
Read More
T-4330
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Ma'shum; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Ika Malika
Abstrak:
Read More
Mahasiswa sarjana bertransisi dari remaja menuju dewasa dengan menghadapi berbagai tantangan, sehingga mereka rentan terhadap masalah kesehatan mental. Terdapat rata-rata masalah depresi tingkat ringan dan kecemasan tingkat sedang di kalangan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Perilaku mencari bantuan kesehatan mental penting untuk dipromosikan dalam rangka mencegah memburuknya masalah tersebut. Menurut theory of planned behavior (TPB), intensi untuk melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh faktor sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketiga faktor tersebut, dengan intensi mencari bantuan kesehatan mental pada mahasiswa sarjana reguler FKM UI. Penelitian kuantitatif cross-sectional menggunakan instrumen kuesioner daring, dilakukan pada Maret 2025 dengan melibatkan 108 responden mahasiswa. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata intensi responden berada pada tingkat moderat cenderung positif, sikap terhadap perilaku pada tingkat positif, serta norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku pada tingkat cukup positif. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku dan persepsi kontrol perilaku berhubungan signifikan dengan intensi, sedangkan norma subjektif tidak berhubungan signifikan dengan intensi. Berdasarkan temuan tersebut, upaya promosi kesehatan untuk meningkatkan intensi mencari bantuan kesehatan mental pada mahasiswa sarjana reguler FKM UI, dapat lebih ditekankan pada aspek sikap terhadap perilaku dan aspek persepsi kontrol perilaku.
Undergraduate students transition from adolescence to adulthood while facing various challenges, making them vulnerable to mental health problems. Among students at the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI), mild depression and moderate anxiety have been reported. Promoting mental health help-seeking behavior is important to prevent the escalation of these problems. According to the Theory of Planned Behavior (TPB), intention to perform a behavior is influenced by attitude toward the behavior, subjective norm, and perceived behavioral control. This study aims to determine the association between these three factors and mental health help-seeking intention among FKM UI regular undergraduate students. A quantitative cross-sectional study was conducted using an online questionnaire in March 2025, involving 108 respondents. Descriptive results showed that the average intention level was moderate with a slight positive tendency, attitude was positive, and both subjective norm and perceived behavioral control were fairly positive. Spearman correlation analysis showed that attitude toward behavior and perceived behavioral control were significantly associated with intention, while subjective norm was not significantly associated with intention. These findings suggest that health promotion efforts to increase help-seeking intention among FKM UI undergraduate students, should place greater emphasis on attitude toward the behavior and perceived behavioral control.
S-11966
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kartika Setyaningsih Sunardi; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Hadi Pratomo, Joko Hastaryo, Mafilinda Nuraini
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang analisis perilaku pemberian makanan, perilaku pengasuhan, perilaku kebersihan, dan perilaku perawatan kesehatan sebagai perilaku PD pada keluarga status ekonomi rendah dengan kejadian tidak stunting di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan phenomenology. Hasil dari penelitian ini yaitu Perilaku Positive Deviance pada keluarga status ekonomi rendah dengan kejadian tidak stunting adalah 1) perilaku pemberian makanan atau MPASI dengan frekuensi tiga kali sehari masing-masing untuk makan utama maupun makanan selingan, (2) bahan-bahan makanan yang dikonsumsi anak bernilai gizi baik dengan makanan utama menu empat bintang yang terdiri dari nasi, protein nabati, protein hewani, dan sayuran serta makanan selingan seperti kacang hijau serta buah seperti pisang dan pepaya, (3) kuantitas waktu orang tua bersama dengan anak dimana orang tua yang anaknya tidak stunting memiliki waktu 24 jam bersama anak, (4) peran orang tua ketika bersama anak yaitu mengajak anak aktif berinteraksi tidak hanya menonton TV dan bermain handphone saja, (5) kegiatan bersama yang dilakukan sebelum tidur seperti memijat, bercerita kegiatan sehari-hari dan bernyanyi, serta (6) perilaku menjaga kebersihan tubuh anak seperti sikat gigi sebelum tidur
his thesis discusses the analysis of feeding behavior, parenting behavior, hygiene behavior, and health care behavior as Positive Deviance behavior in families of low economic status with non-stunting in Sleman Regency, Yogyakarta. This research is a qualitative research using the phenomenology approach. The results of this study are Positive Deviance Behavior in families of low economic status with non-stunting are 1) feeding behavior or MPASI with a frequency of three times a day each for main meals and snack foods, (2) the food ingredients consumed by children with good nutritional value with the main meal of the four-star menu and snacks such as green beans and fruit such as bananas and papayas, (3) the quantity of time parents spend together with children where parents whose children are not stunted have 24 hours with the child, (4) the role of parents when with the child is to invite children to actively interact, not only watch TV and play on handphones, (5) joint activities carried out before bedtime such as massaging , telling stories about daily activities and singing, and (6) the behavior of keeping the child's body clean such as brushing their teeth before bed.
Read More
his thesis discusses the analysis of feeding behavior, parenting behavior, hygiene behavior, and health care behavior as Positive Deviance behavior in families of low economic status with non-stunting in Sleman Regency, Yogyakarta. This research is a qualitative research using the phenomenology approach. The results of this study are Positive Deviance Behavior in families of low economic status with non-stunting are 1) feeding behavior or MPASI with a frequency of three times a day each for main meals and snack foods, (2) the food ingredients consumed by children with good nutritional value with the main meal of the four-star menu and snacks such as green beans and fruit such as bananas and papayas, (3) the quantity of time parents spend together with children where parents whose children are not stunted have 24 hours with the child, (4) the role of parents when with the child is to invite children to actively interact, not only watch TV and play on handphones, (5) joint activities carried out before bedtime such as massaging , telling stories about daily activities and singing, and (6) the behavior of keeping the child's body clean such as brushing their teeth before bed.
T-5990
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
